Happy Sunday, guys….
Terima kasih buat semua yang sudah baca prolog cerita ini dan menyukainya. Aku harap waktu kalian menunggu cerita ini setara dengan kepuasan kalian membaca chapter ini.
Okay, tidak perlu panjang lebar.
Enjoy!
Chapter 1
The Brown Eye
"Bro, cepat sedikit!" Suara Emmett menggelegar di apartemen kami.
Aku mendesah dan mengambil dompet serta kunci mobil sebelum turun kelantai satu, Emmett sedang mondar-mandir di ruang tivi.
Emmett adalah saudara tiriku. Dia anak Carlisle dari pernikahan pertamanya. Meski kami tidak ada hubungan darah sama sekali, tapi hubungan kami lebih dekat dari saudara kandung. Meski kadang-kadang Emmett benar-benar menjadi orang yang super duper menjengkelkan, dia tetaplah saudaraku. Emmett dan aku hanya berjarak enam bulan, dia lahir lebih dulu dariku.
Duduk diam sambil melihat tivi adalah Jasper, salah satu teman kami dari High School. Sangat berbeda dari Emmett yang hobinya berteriak-teriak, Jasper mempunyai bawaan tenang. Siapapun yang berada didekatnya akan merasa nyaman.
Kami sedang sama-sama kuliah, ini tahun ketiga kami. Kami memutuskan untuk menyewa apartemen bersama-sama. Sebenarnya kami ingin tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh pihak kampus, tapi Esme mewanti-wanti kami untuk mencari apartemen saja. Dia bilang itu akan membuat pikirannya sedikit tenang.
Dan disinilah kami. Universitas Of Washington. Orang tua kami tinggal di Chicago. Setelah lulus High School aku memutuskan untuk berganti suasana dan aku memilih Seattle. Emmett dan Jasper memilih untuk bersama denganku.
Melihatku turun, Emmett berhenti mondar-mandir. "Akhirnya! Apa saja yang kau lakukan, bersolek dulu?" Aku hanya memutar bola mataku menanggapi perkataan Emmett.
"Ayo berangkat." Kataku sembari berjalan keluar.
"Hell yeah! Aku sudah sangat lapar." Emmett berjalan tepat dibelakangku. Suaranya langsung masuk ke telingaku.
"Kau selalu lapar, Emmett." Timpal Jasper.
"Well, bukan salahku. Aku hanya sedang bertumbuh."
Kulirik Emmett sambil membuka pintu mobilku. "Kalau seperti ini bertumbuh, aku ragu apakah kau ini anak manusia atau bukan."
Itu benar. Tubuh Emmett besar—sangat besar. Jika kau melihatnya kau pasti berpikir kalau Emmett adalah orang yang menakutkan. Tapi kenyataannya, dia seperti Brother Bear. Diluar terlihat garang, tapi didalamnya, dia memiliki hati yang lembut dan penyayang.
Kami sampai di The Dinner sepuluh menit kemudian. Biasanya kalau jalanan sedang padat, perjalanan ke The dinner bisa memakan waktu sampai dua puluh menit. Tapi karena ini bukan Weekend jadi jalanan tidak terlalu padat. Selain itu dengan cara mengemudiku—yang ibuku bilang mirip seperti kucing dikejar anjing—yang sangat cepat, kami tidak perlu berkendara lama-lama.
Setelah kuparkirkan mobilku di tempat parkir yang biasa kugunakan, kumatikan mesin mobilku dan segera keluar dari mobil. Emmett dan Jasper pun sudah keluar dari mobil.
Pertama keluar dari mobil tatapanku bertemu dengan suatu benda—mobil? Oh, Tuhan, masihkah ada yang mengemudi barang rongsokan ini? Umur truk ini pasti lebih tua dari kakekku. Jika aku punya benda seperti ini, sudah lama akan ku musiumkan. Bahkan aku tidak akan berani menyentuhnya, apalagi mengemudikannya.
"Ya Tuhan, benda macam apa ini?" Teriak Emmett. Tampaknya bukan cuma aku saja yang memperhatikan truk ini.
"Pelankan sedikit suaramu, Emmett!" Desisku. Jasper hanya menggelengkan kepalanya.
Tatapan Emmett langsung beralih padaku. Raut wajahnya bingung. "Kenapa?"
"Bagaimana juga ada yang memiliki truk ini."
"Bagus kalau begitu," Tunggu, apa? "aku jadi bisa bertanya padanya secara langsung.
Kutatap Emmett dengan pandangan apa-kau-bercanda. Kadang-kadang aku berpikir apakah sewaktu kecil Carlisle terlalu sering menjatuhkan Emmett sehingga otaknya menjadi aneh seperti ini.
Aku masih berjalan sambil menatap Emmett, tidak terlalu memperhatikan yang ada di depanku sampai aku menabrak sesuatu. Sestuatu yang mungil dan lembut. Seseorang.
Begitu kerasnya kami bertabrakan, aku sampai tersentak kebelakang, melihat dengan ngeri orang yang bertabrakan denganku yang terlihat akan terjatuh.
Dengan tangkas kuulurkan tanganku kepinggangnya dan menariknya kearahku dengan lembut, paling tidak pikirku itu lembut. Tapi untuknya, sentakanku terlalu keras dan hasilnya, dia malamh jatuh kedalam pelukanku
Tinggi gadis ini hanya sampai daguku. Rambut cokelat panjangnya menggelitik hidungku dan bisa aku rasakan aroma strowberi disana. Sejenak aku melupakan semuanya kecuali gadis yang ada di hadapanku. Aku memang belum melihat wajahnya, tapi aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dengannya.
Lalu kepalanya mendongak dan matanya terbuka. Dia memang tidak menatapku, tapi aku bisa melihat warna cokelat matanya yang hangat dan dalam. Seolah menyimpan sejuta misteri di dalamnya. Entah bagaimana, aku kehilangan semua kemampuanku selain untuk memandang gadis ini. Aku melihat mulutnya bergerak—dia berbicara—tapi aku tidak bisa mendengar apa yang Ia katakan. Kemudian Ia menarik diri dari pelukanku dan segera pergi.
Melihatnya pergi membuatku bangun dari entah apa yang terjadi padaku. "Tunggu!" Aku berteriak dan berusaha mengejarnya tapi Ia sudah masuk ke…Truk? Dan mengendarainya keluar dari tempat parkir.
Ia yang punya truk tua itu?
"Oh, wow. Jadi dia pemilik benda itu?" Bisa kurasakan suara Emmett dari sampingku, tapi aku tidak berbalik. Aku hanya melihat truk merah itu semakin menjauh. Ada semacam perasaan aneh yang kurasakan. Dan aku sama sekali tidak tahu kenapa aku merasakannya, aku bahkan tidak mengenalnya. Kami hanya kebetulan bertemu.
"Dude, kau baik-baik saja?" Tanya Jasper yang ternyata juga berdiri disisiku berseberangan dengan Emmett.
Suaraku masih belum keluar, jadi aku hanya menganggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan Jasper.
"Huh, kau aneh. Ayo kita masuk saja, aku sudah sangat lapar." Bisa kurasakan Emmett dan Jasper berbalik dan berjalan menuju The Dinner.
Setelah truk itu benar-benar hilang dari pandangan, aku mendesah dan berbalik untuk menyusul mereka. Bahuku terkulai lemas dan kepalaku tertunduk. Aku duduk di sebelah Jasper dengan Emmett didepanku. Kupesan makanan seperti biasa dan kembali terdiam. Aku tidak tahu berapa lama aku hanya diam sampai Jasper menyikutku.
"Hei, kau yakin tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja." Sebenarnya tidak, aku tidak baik-baik saja. Tapi kalau aku beritahu mereka, mereka pasti akan bertanya macam-macam. Dan aku tidak bisa memberikan jawaban yang aku sendiri tidak tahu apa itu.
"Kau sedang memkirkan kencanmu dengan Jessica besok, bro?" Tanya Emmett. Sial, aku lupa kalau besok aku ada kencan. Aku mendesah dan bersandar pada punggung kursiku sebelum menjawab Emmett.
"Terima kasih untuk mengingatkan."
"Aku heran bagaimana kau bisa setuju untuk keluar dengannya." Gumam Jasper.
"Aku sendiri juga heran."
"Dude, paling tidak kau bisa 'menikmatinya'." Emmett bicara sambil memperagakan tanda kutip dengan jari-jarinya di kata menikmatinya.
Kugelengkan kepalaku. "Kau tahu aku tidak seperti itu."
"Well, tapi semua orang berpikir seperti itu." Jawabnya sebelum menyuapkan suapan terakir ke dalam mulutnya.
~oOo~
Keesokan harinya—Friday night—aku sedang pulas-pulasnya tertidur saat Jasper membangunkanku.
"Edward, ada telfon untukmu."
Kuraba-raba kasur disekitarku sampai aku menemukan handphoneku. "Ponselku tidak berbunyi." Jawabku dan akan kembali tidur saat Jasper menarik selimut di bawahku.
"Itu karena ponselmu mati. Maksudku di telfon rumah."
Huh, telfon rumah? Jarang sekali ada yang menelfonku menggunakan telfon rumah.
Aku langsung turun ke lantai satu dan menyambar gagang telfon yang terletak diantara dapur dan ruang tivi.
"Halo?"
"Eddie!" Aku mengernyit mendengar panggilan terbodoh itu. Dan ini suara Jessica, apa maunya? "Aku sudah berusaha menelfon ke ponselmu tapi tidak ada jawaban. Apa kau baik-baik saja? Kita jadi kencankan, malam ini?"
"Jess…" Aku berusaha untuk menyela ucapanya yang terlalu panjang tapi Jessica masih saja bicara.
"…aku sudah bersiap-siap, tinggal menunggu kau menjemputku saja. Dan gaunku untuk malam ini sangat cantik. Aku yakin kau pasti akan menyukainya. Dan aku beritahu, pakaianku itu sangat mudah untuk dilepaskan."
Aku hampir muntah mendengar kalimat terakhir Jessica. Ya Tuhan, apakah wanita ini seterbuka itu. Kugelengkan kepalaku, berusaha mengeluarkan gambaran mengerikan dari kepalaku.
"Pertama, berhenti memanggilku Eddie."
"Tapi aku menyukainya." Jessica mengeluh dengan nada suara yang dibuat-buat.
"Dan aku sangat membencinya. Kedua, aku sudah berjanji bahwa malam ini kita akan keluar dan kita pasti akan keluar."
"Bagus!" Ow, suara jeritannya benar-benar membuat telingaku sakit. "Kalau begitu aku akan menunggumu Edd..Edward. Sampai nanti, sayang."
Aku buru-buru menutup telfon sebelum aku benar-benar muntah. Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana aku bisa setuju keluar dengannya.
"Kau terlihat seperti akan muntah." Emmett mengamatiku dari depan tivi.
"Mungkin aku memang akan muntah." Jawabku lalu berjalan untuk bergabung dengan Emmett di depan tivi.
"Apa yang salah?" Tanyanya lagi. "Sebenarnya," Emmett melanjutkan perkataannya sendiri sebelum aku menjawab pertanyaannya. "aku bingung denganmu."
"Aku juga bingung dengan diriku sendiri."
"Well, kau rumit, bro. Kau yakin kau sedang tidak PMS, kan?"
"Sialan kau!" Dan akupun kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Semakin cepat kencan kami mulai, semakin cepat berakhir.
Satu jam kemudian kami sudah sampai di Apolo. Tempat restoran yang dipilih Jessica. Aku tidak terlalu banyak melakukan atau berbicara malam ini. Aku hanya mendengarkan Jessica mengoceh sambil lalu. Berkali-kali aku melarikan jari-jariku dirambutku. Frustrasi karena aku terjebak disini.
Jessica memakai gaun yang benar-benar membuatnya seperti wanita panggilan. Bukan bermaksud kasar atau apa, tapi gaunnya benar-benar tidak cocok untuk acara makan malam.
Bagian punggungnya terbuka. Sama halnya dengan bagian depannya. Memamerkan buah dadanya yang well, bisa dibilang 'terlalu'. Gaunnya panjang, tapi belahannya sampai ke pahanya yang besar, melebihi belahan-belahan gaun yang pernah aku lihat.
Pertama melihatnya aku bergidik ngeri. Rasanya aku ingin kembali masuk ke mobilku dan lari sejauh mungkin. Tapi aku sudah berjanji. Dan satu hal yang perlu kau ketahui tentang keluarga Cullen. Kami tidak pernah mengingkari janji kami.
Lalu seolah malamku belum buruk, ada seseorang masuk ke Apolo.
Well, Fuck me!
Ops! *hiding behind Edward* Sorry karena memotong disini. Hehee,
Anw, jangan lupa untuk klik review dan beri aku sedikit cinta.
Until then, laters..
Love,
B
