Warning : ALL NATION! Gender ngaco sangat buat OC (Kecuali fem!Indonesia & Fem!Malaysia), OOC untuk yang masih OC, IC untuk karakter yang sudah ada (moga ga gagal), Sedikit kemunculan makhluk gaib (Narator). AU, Humor, family, friendship.

Summary : Indonesia kesal dengan kecepatan booming film Hetalia yang menurutnya agak enggak masuk akal. Akhirnya dia memaksa pacarnya, Netherlands untuk membantunya mengalahkan pamor Hetalia.

xxx

Semua bermula dari sejarah, masa lalu, zaman terdahulu. Masa sekarang takkan ada tanpa masa lalu. Dengan begitu telah ditetapkan, tema episode 1 adalah tentang sejarah.

"Oke, tema kita untuk episode 1, sejarah!" Teriak Indonesia semangat.

"Apa itu artinya akan ada film, amoeba?" Poland girang karena dari dulu ia selalu berpikir hewan yang dapat membelah diri itu cool!

"Amoeba bukan artis! Bahkan tidak bisa disebut manusia!" omel Peru. Oh, rupanya dia sudah kebelet ingin disebut artis.

Latino menyeruak diantara kerumunan, "Kalau membicarakan tentang sejarah manusia, sudah pasti kita bicara tentang Australopithecus Africanus, Paranthropus Robustus, Paranthropus Transvaalensis dan teman-teman lainnya." Yang sayangnya terdengar seperti, "Austrablablabla blablabla dan lalalalala—" di telinga nation lain.

France mengangkat tangannya, "Err, bisa pake bahasa manusia…." memperlihatkan tampang bodohnya, "… plis?" Ia mengerti semua bahasa romantis di dunia, kecuali bahasa alien.

Mari kita lewatkan saja perdebatan soal sejarah mana yang akan diangkat ke dalam film. Indonesia dan Netherlands telah membuat undian dan yang mendapatkan kehormatan untuk diceritakan kembali adalah sejarah tentang sekumpulan nation berikut ini.

Camera, rolling! and…. ACTION!

EPISODE 1

"Kalian semua akan bergabung denganku, da~" Russia mengucapkan dialognya dengan sangat lancar dan tak terdengar seperti dibuat-buat.

"Memang tidak."

Hei! Jangan bicara dengan narator! Kau membuatku takut, tau!

"Hei sudahlah aru, jangan menakut-nakuti orang seperti itu. Kalau kau begitu makin tidak ada yang mau bergabung dengan kelompok komunis keren seperti kita, aru."

Mengabaikan trio Baltic yang belum berhenti bergetar dan Cuba yang dengan santainya malah menyeruput Es Kelapa dengan nikmat, Russia memanggil satu orang lagi yang termasuk ke dalam kelompuk komunis, "Hei Indonesia, harusnya kau ikut bergabung, da."

Indonesia mendongak dan berhenti sejenak dari kegiatannya menyorot para pemain. "Hah? Oh.. enggak deh makasih, aku bukan komunis."

"Tapi tadinya kan kamu termasuk komunis, in…do…NE…SIA!" ancam Belarus dengan nada yang semakin tinggi seraya mencengkram leher baju yang dikenakan Indonesia.

"I..itu…cuma salah paham…" jawab Indonesia sedikit ngeri dengan tatapan Belarus yang siap menerkam.

"Jadi," 'boing' "Indonesia-chan tidak mau bergabung dengan kami?" 'boing' Ukraine berkata dengan tampang sedih.

"Eh… uh… bukan begitu, tapi…err. Ah sudahlah, kalian kan sudah sangat akrab tanpaku. Lihat saja Russia dan China yang hanya terpisah oleh garis perbatasan tipis dalam peta."

"Ahem…"

Semua menoleh kebelakang, penasaran.

"Melupakan seseorang?"

Dan dari belakang, muncullah sosok yang tak terlalu tinggi jika dibandingkan Russia. Berwajah oriental dengan kulit putih, dan yang paling mencolok dari dirinya adalah, pipinya yang berwarna merah—sangat kontras dengan warna kulitnya.

"Mongol?"

"Diatas China masih ada aku, tau!"

"Ahhahahaha" China tertawa, "Maaf, aru." Kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "kau…pendek sih."

Mongol—yang memang tidak terlalu tumbuh keatas tetapi agak melebar kesamping—mendelik marah pada China. Ia mengasah golok panjangnya dan berteriak—siap memulai perang. "HIAARRRGGGGG! JANGAN LARIIII CHINAAAA!"

Perang antara si jago kung-fu dan manusia super kejam berpipi blush on—

"NARATORR! KAU MAU MATI?"

Eh, iya…enggak, anu…em…sori pipimu keren kok, ehe.

Jadi perang antara mereka berdua membuat nation lain cukup takut. Nation macam Sealand yang lemah tapi sok kuat sih enggak masuk hitungan.

"Mongol itu lucu ya, da~"

"SEBELAH MANANYA?" Sebenarnya semua nation ingin berteriak seperti itu, namun hanya berani di dalam hati—mereka belum mau mengakhiri hidup karena harus bergabung dengan Russia.

Kejadian setelah itu lebih mengerikan, Russia menghampiri trio gemetar dan menarik kedua pipi mereka masing-masing dengan keras. "Villa villaaaa…. Villa villaaaa…."

Yang menebak kalau Russia ingin membuat ketiga orang itu berpipi merah seperti Mongol, anda benar. Harap dimaklumi, cara orang komunis memang 'agak' ekstrim.

Indonesia menepuk jidat, dan Netherlands menyobek naskah dengan brutal.

Kesimpulan : episode 1, GAGAL!

Kini kedua panitia sekaligus penyelenggara itu sibuk memutar otak untuk episode kedua. Indonesia melihat ke sekelilingnya, mencari ide. Netherlands menikmati segelas susu dingin, lagi. Para nation lain yang bosan, hanya duduk-duduk sambil menikmati sepiring siomay dan segelas es campur. Abang siomay dan tukang es campur yang kebetulan lewat di depan rumah Indonesia kebanjiran rejeki—sadar akan situasi di rumah Indonesia, mereka merubah harga siomay menjadi 20.000 per porsi dan es campur 15.000 per porsi.

"Ndon!"

"WUAAAA!" Indonesia terlonjak kaget ketika wajah Malaysia tiba-tiba berada tepat di depan wajahnya. "Ap..apaan sih Lay?"

"Gue kapan main? Keburu make-up luntur nih."

TING! Tiba-tiba satu ide brillian muncul di kepala Indonesia.

"Oke kawan-kawan! Episode 2 temanya, DUNIA BINATANG!"

"Anjriit! Maksud lo apaan Ndon? Lo kira gue Monyet?" Malaysia kesal karena ide itu diutarakan persis ketika wajah Indonesia berhadapan dengannya.

Indonesia menjawab dengan santai, "Bukan, Nyet. Liat muka lo gue keinget sama Kancil kok."

Malaysia hanya ber-ooh ria mendengar jawaban kakaknya.

'Yah, seenggaknya Kancil masih lucu.'

"Dan yang akan menjadi pemeran utama di episode ini adalah…. Siapa Ned?" Tanya Indonesia berlagak seperti presenter TV.

"Hah? Ooh… itu si…." Netherlands bersiap menunjuk seseorang, namun ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Indonesia, "Siapa apanya, Nes?"

"Ya Tuhan… Netherlands. Makanya jangan minum susu terus! Kamu nanti jadi SAPI!"

Netherlands sebenarnya tidak terlalu mengerti apa hubungan antara minum susu dan jadi Sapi. Memangnya Sapi minum susu? Sapi kan minum air.

Yah dia cukup maklum sih, pacarnya ini Indonesia. Iya, Indonesia. Otaknya koplak.

xxx

Pemeran utama untuk episode kedua adalah nation-nation yang seluruh masa hidupnya didedikasikan untuk membawa pawang. Entah kebetulan dari mana, Australia membawa kontingen peliharaannya, begitu juga dengan Thailand yang membawa sekelompok Gajah. Karena dirasa rumah Indonesia tidak memadai untuk syuting episode kedua ini, mereka segera pindah lokasi ke Taman Safari.

"Jadi gimana filmnya?" Tanya France yang berperan sebagai kameraman. "Apa aku harus merekam hewan-hewan itu sedang ber-piiip sampai mereka menghasilkan keturunan?"

"Diam France! Terkesan menjijikan kalau kau yang mengatakannya!"

"Oh My dear Seychelles…. piiip itu sesuatu yang indah. Kau tidak perlu malu-malu seperti itu sayang."

"Itu menjijikan France! Buktinya kata-katamu tidak lulus sensor di fic ini, kau tau?"

France mendekati Seychelles dan mengangkat dagu gadis berkuncir dua itu, "Itu karena kamu belum pernah merasakannya, sayang. Mau mencoba? Malam ini? Tak usah pikirkan soal tempat, Diatas bumi dibawah langit pun terasa cukup roman—"

'bruk!'

Seychelles menghembuskan napas lega, "Terimakasih, Hungary."

"Sama-sama." Jawab Hungary sembari tersenyum, memanggul teflon kesayangannya.

Indonesia hanya geleng-geleng melihat kejadian itu, kameramannya pingsan. Kini Hungary yang harus bertanggungjawab menggantikan posisi France.

Semua telah siap. Australia sudah berada di depan kamera, dan…

Take 1. Camera, rolling! and…. ACTION!

Australia tersenyum di depan kamera. Melambai-lambaikan tangan, dan senyumnya semakin lebar. Kemudian tangannyakembali ke pinggangnya. Lalu melambai-lambai lagi.

Indonesia menjambak-jambak rambutnya. Ternyata Australia termasuk kategori makhluk banci kamera.

Dari samping kamera, Indonesia memberi isyarat. . BE. GO! AK. TING. BU. KAN. DA. DAH. DA. DAH.

Australia membalas pesan tersebut dengan mengangkat bahu dan kedua tangannya. AK. TING. A. PA?

A. PA. AN. KEK! A. KRO. BAT. JU. GA. OKE! PE. NON. TON. SU. KA. YANG. EKS. TRIM.

TA. PI. KO. A. LA. KU. LE. BIH. SU. KA. TI. DUR.

Daripada menunggu adegan ekstrim dari para hewan yang tidak kunjung tiba, Hungary malah asyik menyorot Indonesia dan Australia yang sedang perang isyarat.

"SETOP! JANGAN NGABISIN PITA KAMERA! KAT! KAAATTT!" teriak Indonesia frustasi.

Ia menghampiri Australia sambil berkacak pinggang, "Aussie, kalo hewan-hewanmu enggak bisa diajak akting, mending pulang aja sana."

"Ini Koala," Indonesia menepuk-nepuk kepala Koala yang bertengger di tangan Australia, "Lucu tapi kerjaannya molor ter—AAWW!" Sontak ia menjauhkan tangannya. "Anjrit! Gue baru tau kalo Koala bisa nggigit!"

Indonesia langsung tutup mulut. Sebenarnya ia ingin protes soal hewan-hewan lain yang dibawa Australia hanya untuk menuh-menuhin tempat dan numpang makan—terutama kumpulan Alligator yang hanya bermalas-malasan di kubangan. Tapi tentu saja nation kita ini sangat sadar akan resikonya.

Netherlands menoleh ke arah calon aktor yang satunya—pria berkacamata dan berwajah teduh. "Dia gimana?"

Indonesia pun menoleh ke arah Thailand, "Ah, iya! Thailand, gajah-gajahmu bisa akrobat, kan?"

"Hmm… asal ada imbalannya." Jawab Thailand tenang.

Gadis berkuncir kuda itu memandang kakak sepupunya dengan pandangan tak percaya.

Zoom in.

"Thai…land… aku…."

Zoom in lagi.

"aku…." Indonesia menggelengkan kepalanya perlahan.

"AKU ENGGAK NYANGKA GAJAHMU SE-MATRE ITUUU! " teriak Indonesia dengan lebaynya.

Thailand mengangkat tangannya, mencoba menyela, "Tapi Nesia…"

"Batalin aja episot ini! BATALIN! HUHUHUHUHU! Udah tau gue miskin masih aja minta imbalan!" Indonesia berlari ke arah saudara tua-nya, China.

"Tapi kan gajah-gajahku cuma minta kacang…" sahut Thailand pelan, tak terdengar oleh siapapun.

"Sudahlah, aru. Gimana kalau peliharaanku saja yang main?" bujuk China sambil menepuk kepala Indonesia, berusaha menenangkan.

Indonesia mengangkat kepalanya, "Yang bener?"

China mengangguk mantap. Dengan gerakan bola matanya, ia mengisyaratkan pada Indonesia untuk melihat peliharaannya di belakang. Indonesia melirik kesana dan terpaku di tempat.

Shinatty sedang menggaruk-garuk perutnya yang gatal.

Tak perlu ada adegan berteriak dan menyobek kertas naskah untuk menyatakan, EPISODE 2 : GAGAL.

Hari sudah beranjak gelap, dan rencananya, syuting akan dilanjutkan besok.

"Jadi, malam ini kita tidur dimana?" Tanya Mexico yang sudah menguap berkali-kali menahan kantuk—menunggu gilirannya main film yang tak kunjung datang.

Indonesia memberi isyarat agar tetap tenang, ia meyakinkan semuanya kalau ia telah mempersiapkan hal itu sebelumnya. Sang personifikasi negara kepulauan terbesar di dunia itu tidak memberitahu tempatnya secara spesifik, karena percuma. Tak akan ada yang tahu.

"Naik apa kesana?" celetuk Cameroon.

"Jalan kaki." Jawab Indonesia singkat.

Wajah para nation sebanyak 195 minus si tuan rumah—atau minus dua, ditambah Netherlands yang hafal betul sifat Indonesia—berubah shock. Venezuela memandang kaki jenjang dan eksotisnya dengan tatapan 'sabar ya kakiku yang malang, pulang nanti pasti aku minta pijet.'

Tanpa banyak membantah—melihat Indonesia yang siap dengan clurit-nya tentu—semua nation mengikuti Indonesia dan Netherlands berjalan. Kalau dilihat, mereka benar-benar seperti iringan pengantin ala Jawa dengan dua pasangan itu sebagai pengantinnya. Hanya saja mereka berjalan seperti iringan tentara, bukan lemah-gemulai. Bayangkan saja sekumpulan Germany berkumpul jadi satu.

Sebagian dari mereka tetap ada yang berpikiran positif, lihat saja apa katanya.

"Mungkin tempatnya memang dekat dari sini, jadi lebih baik jalan daripada boros." Kata Lithuania dengan penuh senyum. Ada yang mengiyakan, tapi tampaknya lebih banyak yang tidak yakin, dan sisanya berwajah amat-sangat-tidak-yakin.

Setelah setengah jam berjalan, Indonesia berbalik ke belakang.

"Kawan-kawan! Karena cuaca yang sangat euh.. panas. Dan supaya kulit gue…eh! Kalian… tidak tambah hitam terkena sengatan matahari, bagaimana kalau kita naik kendaraan saja?"

Mimik muka para nation berubah kembali, kening berkerut 5 lapis dan bentuk mulut yang bagaikan perahu terbalik seraya membatin, 'DARITADI KEK!'

"Asyik! Kita naik apa?" tanya Sealand semangat.

"Itu. " tunjuk Indonesia pada kendaraan berwarna oranye cerah dengan garis biru tua.

"Bis mini?" gumam si Austria bingung.

"Kopaja." jawab Netherlands tanpa disuruh.

Malaysia yang notabennya sering ngelayap ke tempat kakaknya itu hanya bisa memandang Indonesia dengan bingung 'Seriusan lo, Ndon?' benar-benar mirip gaya ABG antagonis di sinetron dengan bibir yang sengaja agak dimajukan seraya berkacak pinggang.

xxx

Indonesia pun bernegosiasi dengan para supir kopaja untuk mencarter beberapa kopaja. Beberapa?

1 kopaja muat kurang lebih 15 orang—40 orang kalau ada yang bersedia duduk di atas—untuk 200 orang berarti butuh…. Uhh… banyak! Aah! Sebodo! Ongkosnya nanti minta sama pak bos aja, kayaknya anggaran pembangunan jalan masih nyangkut banyak di kantong bos.

"Kasih murah dong bang! Yang naek banyak loh!" tawar Indonesia.

Si abang kopaja mengelap peluhnya dengan kain lap yang entah sudah tak dicuci berapa lama, "Waduh, enggak bisa neng. Kita kan harus setoran. Harga tadi udah mentok."

"Turun dikit deh bang… nanti saya cium deh…" Netherlands langsung mendelik mendengar Indonesia yang segitu mudahnya mengobral cium. Uuhh… andaikan aku ini supir kopaja!

"Hmm…kalo sama mbak yang itu," sang supir menunjuk seorang wanita berambut pirang jauh di belakang Indonesia, "boleh deh neng." Oke, tak perlu pendidikan tinggi untuk mengetahui mana yang cantik dan mana yang jel…

DUAGH!

[Indonesia : NGAKU! SIAPA YANG SEKARANG JADI NARATOR! GUE POTONG GAJINYA!]

xxx

Indonesia melihat wanita yang ditunjuk oleh si abang supir kopaja, dan tersenyum licik. "Boleh deh bang, tapi kalo mau samperin sendiri aja."

Dengan tampang polos dan sumringah, si abang supir pun berlari kecil menghampiri wanita yang ia tunjuk. Dan siapa sangka supir kopaja yang 99% berwajah beringas bisa juga bertampang polos?

'cup'

Tanpa aba-aba, si abang supir langsung mencium pipi wanita berambut pirang itu. Tak sampai beberapa detik, sang supir pun tergeletak tak bernyawa dengan wajah penuh cakaran. Tanpa pernah mengetahui bahwa perempuan yang diciumnya bernama Belarus.

Dari kejauhan, Indonesia ber-high five dengan Netherlands atas misinya yang sukses besar. Netherlands membalas cengiran Indonesia dengan senyum garing, antara senang dan takut karena Indonesia mempelajari kelicikannya dengan kecepatan yang sulit dipercaya.

"Nii-saaaann! Bersihkan pipiku dengan bibirmuuuuu!" teriak Belarus sambil mengejar Russia yang sudah lari ketakutan.

xxx

Setelah mencarter banyak kopaja, kebut-kebutan di jalan raya—hobi lama para supir, para nation berteriak-teriak layaknya menaiki wahana tornado, beberapa nation seperti Arab dan Vatican khusuk membaca doa memohon keselamatan, berpegangan erat supaya tak terlempar keluar kopaja, dan beberapa deskripsi yang berlebihan… sebagian besar nation akhirnya sampai di tempat tujuan.

Monaco, Seborga, Qatar dan beberapa nation lainnya menyingkir ke semak-semak untuk mengeluarkan isi lambungnya yang terkocok rata bagai milkshake.

Rombongan Indonesia dan Netherlands—yang menjadi supir dadakan menggantikan supir bermuka polos yang tak bernasib baik—tiba paling akhir.

Entah berpura-pura tak melihat keadaan makhluk-makhluk mengenaskan di hadapannya atau memang tak sadar, Indonesia langsung menunjukkan tempat menginap untuk para nation dengan semangat berlebihan.

"Nah, disinilah tempat kalian menginap!"

Semua nation memandang bangunan dihadapan mereka yang sangat unik…mirip kue.

"Itu bukannya gedung DPR?" celetuk Brunei.

Indonesia mengangguk. "Nanti kalian bisa tidur di ruang rapatnya."

"HAH? "

"Coba diulang, kayaknya butuh korek kuping nih."

"Ruang rapat?"

"Iya, bangkunya banyak kok. Empuk dan nyaman, ada AC nya lagi. Hotel banget deh pokoknya!"

"Tapi…. Itu ruang rapat! Untuk rapat! Membicarakan sesuatu yang penting!" terang Vietnam yang tampaknya agak tidak berguna karena semua nation sudah pasti tau apa itu 'rapat'.

"Tenang aja, rapat sama tidur enggak beda jauh kok."

Ya, semua nation tau benar apa itu 'rapat', kecuali Indonesia.

See you in the next episode…

xxx

A/N : fuh, sori lama… tinggal 2 chapter lagi (semoga). Semoga semuanya menikmati, sori kalo ada yang garing dan krik krik. Oh iya, ini fic terakhir yang saya tulis sebelum hiatus beneran :3

Fic-fic lain & rikues baru bisa dilanjut setelah lebaran, hehe [Dadah-dadah ala Aussie]

Review selalu dinantikan :D


Reply for anon :

Aisu, Missy & Mokakoshi : udah di apdet, baca dan review lagi yaaa :D thanks udah review :D

Kevin Natasha : Enggak mungkin Malaysia nggak keluar, kan saya sendiri yang jadi Malaysia~ wahahaha~ di chapter ini beliau muncul kok :3

Ratatouille Rosmary : Nggak semua orang yang pake mawar doang bisa dibilang sekseh XD saya nggak napsu sama abang France dan mawarnya kok~ malah pengen ngakak liatnya, lol. Pair lain? hem... kemungkinan nggak ada karena ini genre nya bukan romance XD itu nedernesia juga pair rusak gitu, wahahaha (sama sekali ga niat bikin romens)