-YOUR SMILE = MY SUNSHINE-
Story by Charlotte.d'Cauchemar
Naruto by Masashi Kishimoto
Warning:
AU. OOC. Yaoi
Chapter 2: Tell Him, Itachi!
Summary:
"Itachi tidak pernah berlaku selembut itu kepada orang lain. Hanya di depan Deidara saja dia jadi seperti itu," ujar Zetsu.
"Tapi bodohnya, Itachi nggak pernah sadar sama perasaannya sendiri…" lanjut Pein.
Pernah dengar pepatah ini: Seorang Namikaze tidak pernah marah lebih dari sehari? Belum? Yah… paling tidak semua orang tahu sekarang.
Walaupun begitu, sekarang Itachi sangat bersyukur bahwa pepatah itu benar adanya.
Sehari setelah dia bertemu lagi dengan Deidara –tepatnya setelah insiden pencubitan pipi Naru-, Itachi dibuat bingung bagaimana caranya dia akan minta maaf pada pemuda pirang itu. Bukan apa-apa, sebagai seorang Uchiha, sudah sifat dasarnya tidak pernah ada kata 'maaf' dalam kamusnya.
Untungnya –sekali lagi Itachi bersyukur- seorang Namikaze adalah tipe 'pemaaf' sejati. Sungguh berkebalikan dengan dirinya. Tapi dia tidak ambil pusing. Yang penting, hubungan pertemanannya dengan Dei bisa diselamatkan.
Atau seperti itulah yang ada di pikirannya…
XxXxX
Uchiha Itachi. 18 tahun. Tercatat sebagai siswa kelas 3 di Konoha Senior High School. Mantan ketua OSIS yang bahkan sampai masa lengsernya masih tetap dihormati oleh kebanyakan siswa –yang sebagian besar adalah wanita- dan juga sebagian guru-guru –yang juga kebanyakan adalah wanita-. Bisa ambil kesimpulan? Ya, Uchiha Itachi adalah satu dari para Uchiha yang dianugerahi kemampuan alami untuk menaklukan wanita. Namun tak ada seorang wanita pun yang bisa menaklukan pemuda dingin itu.
Yah… kebanyakan orang sih berpikir seperti itu. Tapi tidak dengan sekumpulan siswa yang berkumpul di pagi hari sebelum ada banyak yang datang ke sekolah. Sepertinya, mereka sibuk membicarakan sesuatu…
… atau seseorang lebih tepatnya.
"Sumpah. Itachi tuh bego banget!" ujar Kisame dengan semangat berapi-api. Sebuah pukulan dihadiahkan kepadanya dari seorang pemuda berambut orange yang duduk di atas meja.
"Kedengeran Itachi, jadi ikan bakar kamu…" katanya yang diiringi derai tawa dari dua pemuda lainnya yang turut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tapi, bener juga apa kata Kisame. Si jenius itu nggak sadar kalau ada sisi dalam dirinya yang sebenarnya sangat bodoh untuk menyadari beberapa hal," tambah Zetsu.
Perkataan Zetsu diiringi oleh dua anggukan kepala.
"Um… guys… kalian ngomongin apa sih?" seorang pemuda bercadar yang sepertinya tidak mengerti arah pembicaraan itu.
Pein menepuk jidatnya sendiri. "Dan aku lupa kalau kita masih punya satu idiot di sini…"
"Siapa yang idiot?" tanyanya lagi.
Serentak 3 buah telunjuk diarahkan kepadanya. Dan sepertinya dia baru sadar bahwa dialah si 'idiot' yang mereka maksud.
"Enak aja! Aku bukan idiot tahu, cuman…"
"Cuman apa?"
"… sedikit lemot?"
Pein, Kisame, dan Zetsu sweatdrop.
"Ok, whatever," Pein melempar tatapan sebal kepada Kakuzu sebelum melanjutkan kalimatnya, "… yang penting sekarang masalah si Uchiha itu…"
"Makanya aku tanya, emang apa masalahnya Itachi?" Lagi, tanya Kakuzu dengan wajah sok innocent.
Kisame menarik napas panjang sebelum menjawab, "Aku turut berduka cita atas kelemotan kamu."
"Kamu tahu anak kelas 2 itu? Yang pirang?" Zetsu menengahi sebelum Kakuzu sempat mencerna perkataan Kisame tadi.
Kakuzu terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. "Namikaze itu kan?"
"Yap, kemajuan buat otak kamu," kata Kisame, "dan dia itu masalahnya Itachi…"
"Apa hubungannya?" tanyanya bingung.
"Masalahnya, Itachi tu nggak pernah sadar sama perasaannya sendiri!" jawab Pein yang lama-lama kesal dengan lambatnya kemampuan Kakuzu untuk mencerna segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan masalah uang. "Kalau udah ada yang ngambil, baru dia nyesel…"
"Eh? Emangnya mereka punya masalah apa? Perasaan baik-baik aja kok…"
Ketiga orang yang lain berusaha menahan kesal yang mulai naik ke ubun-ubun. Apalagi para penghuni kelas itu sudah mulai berdatangan.
"Udah, kita lanjutin aja nanti. Kepala aku udah sakit nih…" Pein beranjak dari meja dan berjalan menuju kelasnya yang berjarak dua ruang kelas dari kelas Zetsu dan Kakuzu itu.
"Wah… Leader-sama sakit kepala tu, Su… Masalahnya Itachi berat ya?" kata Kakuzu sambil memperhatikan Pein dan Kisame yang menghilang di pintu kelas.
"Itu kan gara-gara kamu juga…" gumam Zetsu sambil geleng-geleng kepala.
XxXxX
"Truth or dare?"
Pein menatap Kisame yang sedang menyeringai, yang membuatnya jadi tambah menyeramkan, sambil menelan ludah. Dia menyesal karena dialah yang memutuskan untuk memainkan permainan ini pada saat jam istirahat siang. Tapi begitu diingatnya lagi kalau mereka punya rencana terselubung untuk Itachi, mau tidak mau dia harus melakukannya.
"Dare," ucapnya setelah sekian menit.
Dan seringaian kisame bertambah lebar.
"Sekarang juga, pergi ke ruang siaran, terus baca ini lewat speaker." Kisame menyerahkan selembar kertas yang barusan ditulisnya. Mata Pein melebar begitu membaca apa yang tertulis di sana.
"Gila! Nggak, aku nggak mau!" tolaknya keras.
"Ya nggak bisa. Tadi kamu juga dengan teganya udah nyuruh aku 'nembak' ikan yang ada di ruang guru sampai ditawarin istirahat di UKS buat meriksa siapa tahu kepala aku udah kebentur!"
Pein tidak bisa mengelak lagi. Dengan berat hati diambilnya kertas itu. Dalam hati dia belajar satu hal, Kisame kalau balas dendam nggak kira-kira!
Setelah Pein menghilang dari pandangan, Zetsu melayangkan pandangannya pada Kisame yang masih nyengir sendiri.
"Kamu nulis apa di situ?" tanyanya.
"Tunggu bentar deh, kalian bakal tahu…"
Zetsu dan Kakuzu bertukar pandang, sedangkan Itachi dengan cueknya hanya meneruskan untuk membaca buku yang ada di pangkuannya. Mereka berlima sedang berkumpul di kelas Itachi, Pein, dan Kisame.
Beberapa menit kemudian, muncul suara 'kresek-kresek' dari speaker yang dipasang di atas papan tulis.
"TES TES… SATU DUA TIGA…" suara Pein terdengar dari speaker hitam itu.
Beberapa pasang telinga milik siswa yang tersisa di kelas menajamkan pendengarannya.
"KEPADA KONAN, SISWI KELAS 3-2. SEKALI LAGI KEPADA KONAN SISWI KELAS 3-2, SAYA NAGATO PEIN KELAS 3-1 DENGAN INI MENYATAKAN BAHWA SAYA MENYUKAI KONAN. DAN SAYA DENGAN SEPENUH HATI, JIWA, DAN RAGA MENGAHARAPKAN… mmmpphhh…"
'kresek… kresek…"
Lalu speaker itu mati.
Tapi bisa terdengar suara-suara yang seperti teriakan yang berasal dari kelas yang ada di samping mereka. Bisa ditebak suara Konan yang paling keras di antara mereka yang sepertinya menyuarakan seperti 'Piercing idiot'.
Suara di kelas itu pun tak kalah berisik. Beberapa siswa sibuk berbisik-bisik tentang 'penembakan' nekat yang dilakukan Pein tadi.
Apalagi ketika beberapa saat kemudian Pein berjalan memasuki kelas dengan wajah yang semerah tomat. Pemuda berpiercing itu segera mengambil tempatnya semula yang ada di sebelah Itachi, dan disambut derai tawa dari teman-temannya itu.
"Gyahaha~," Kakuzu tertawa dengan nistanya, "… Leader-sama keren!"
"Kok udah balik, Pein? Perasaan belum selesai…" Kisame menyeringai pada Pein yang balik menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Diusir sama anak-anak klub siaran. Puas?!" jawabnya kesal.
"Nggak usah marah-marah, kamu sendiri yang mulai permainan ini…" Itachi menatap Pein dari balik bukunya. Betul-betul senjata makan tuan baginya.
Pein cemberut. Tapi kemudian dia mengambil botol kosong yang terlupakan di atas meja.
"Masih mau lanjut?" tanya Zetsu yang sudah berhasil menghentikan tawanya.
"Ya iya dong! Aku juga mau bikin kalian malu!" katanya kesal.
Kemudian kelima orang itu kembali mengambil tempat melingkar di meja Itachi yang sudah berubah fungsi.
Itachi duduk di kursinya sendiri di samping Pein, Kisame dan Zetsu mengambil kursi di depan mereka berdua, dan Kakuzu mengambil sebuah kursi dan menaruhnya di samping meja Itachi.
Pein mulai memutar botol kosong itu. Sedikit kesal karena Itachi sepertinya sama sekali tidak menaruh perhatian pada permainan mereka itu. Padahal Pein merencanakan ini semua untuk Itachi. Dan, bukannya berhasil, malah dia yang kena perangkap Kisame!
Botol itu terus berputar. Lama-kelamaan semakin pelan. Kakuzu. Lewat. Zetsu. Lewat. Hampir berhenti. Kisame. Lewat.
Akhirnya botol itu tepat berhenti mengarah ke Itachi!
Rasanya Pein ingin berteriak karena senang.
"Truth or Dare?" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan antusiasmenya. Itachi merasakan firasat kurang baik.
"Dare."
Dan Pein hampir meloncat kegirangan mendengarnya.
"Baiklah…"
XxXxX
Pein dan ide bodohnya!
Sungguh, jika dia bukan seorang Uchiha, dia pasti akan menolak mentah-mentah tantangan yang diberikan padanya. Tapi sayangnya, seorang Uchiha tidak akan pernah lari dari tantangan.
Dan sekarang di sinilah dia. Di depan sebuah ruangan kelas yang bertuliskan kelas 2-3.
Pelan, dia melongokkan kepalanya ke kelas itu, mencari objek berambut pirang dan bermata biru.
"Deidara-senpai! Tobi anak baik kan?" sebuah suara membuatnya menyapukan pandangannya ke bagian belakang kelas.
"Iya, Tobi. Memang kenapa, un?" jawab suara yang amat dikenalnya.
"Hidan-senpai nggak percaya kalau Tobi anak baik!"
Itachi memandang kesal pemuda kekanak-kanakkan itu. Dia heran, bagaimana seorang Uchiha bisa bersikap seperti anak kecil begitu. Padahal jelas-jelas dia sebaya dengan Deidara dan Hidan, untuk apa memanggil mereka dengan embel-embel senpai?
Apalagi ketika pemuda itu menggelayut di lengan Deidara dengan manja. Ada perasaan aneh di dalam dadanya.
"Tobi, berhenti bersikap seperti anak kecil," ujarnya pada pemuda itu.
Begitu melihatnya, Tobi langsung cemberut.
"Itachi… ngapain ke sini?" desisnya. Bukan rahasia umum kalau Tobi memang tidak menyukai sepupunya itu, entah karena alasan apa.
Itachi teringat akan tujuan awalnya datang ke sana.
"Bisa ikut aku sebentar, Dei?"
Deidara menatap kakak kelasnya itu dengan bingung. Tapi toh dia tetap mengikuti Itachi yang berjalan ke luar kelas diiringi protes dari Tobi.
"Kembalikan Deidara-senpai dengan utuh ya!"
XxXxX
"Jadi… mau ngapain kita ke sini, un?"
Itachi membuang muka, sama sekali tak mau menatap bola mata biru itu.
"Ne, Tachi-kun?"
Tapi Itachi sama sekali tidak mendengarnya. Pikirannya disibukkan oleh tantangan bodoh Pein yang membuatnya harus melakukan semua ini.
-
-
"Kiss him…"
"WHAT??" Itachi hampir tidak mempercayai pendengarannya.
"Kiss Deidara, just a little peck," kata Pein lagi.
Itachi menggelengkan kepalanya. "You're kidding…"
Tapi Pein hanya menyeringai.
"Jadi… Uchiha Itachi menyerah?" sambung Kisame tiba-tiba, "Padahal, bukannya seorang Uchiha nggak takut sama segala macam tantangan?"
Itachi terdiam. Nggak mungkin dia menolak tantangan itu. Bagaimanapun juga, dia seorang Uchiha. Damn Uchiha Pride!
"Baiklah…" ujarnya.
"Ajak dia ke halaman belakang sekolah… kami akan tunggu di sana…" Kisame bangkit dari kursinya diikuti oleh rekan-rekannya yang lain.
"Tunggu…" panggil Itachi yang sepertinya membeku di tempatnya, "… kalian mau ke mana?"
Seringaian di wajah Kisame semakin melebar, "Tentu saja menyiapkan tempat terbaik untuk menonton…"
Dan untuk kesekian kalinya dalam hidupnya, Itachi berpikir ulang alasan kenapa dia sampai bisa berteman dengan orang-orang macam mereka.
-
-
Jadi di sinilah dia sekarang. Di halaman belakang sekolah. Tempat yang terkenal sebagai tempat 'penembakan'. Berdua dengan seorang pemuda berambut pirang yang sedang berdiri dengan gelisah di hadapannya, sambil meremas tangannya, juga menggigit bibir bawahnya. Bibir yang sebentar lagi akan dia…
Argh! Itachi cepat-cepat membuang pikiran itu dari kepalanya.
"Um… kalau tidak ada yang penting, aku mau kembali ke kelas, un… sampai ketemu nanti pulang sekolah…"
Deidara berbalik menuju arah dia datang tadi. Dan Itachi segera bereaksi dengan cepat.
Itachi menangkap lengan pemuda itu kemudian menariknya hingga masuk ke pelukannya. Tanpa berpikir dua kali, Itachi menempelkan bibirnya ke bibir pemuda yang masih terkejut itu.
Dan tanpa disangkanya, Deidara membalas ciumannya itu.
Niat awalnya yang hanya ingin memberikan sebuah kecupan kecil di bibir Deidara berubah ketika pemuda itu mengalungkan tangannya di leher Itachi. Itachi pun mempererat pelukannya di pinggang pemuda itu.
Perlakuannya itu membuat Deidara mengerang. Itachi tidak meyia-nyiakan kesempatan. Dia memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut pemuda pirang itu. Menjelajahi inchi demi inchi. Menikmati setiap erangan yang dikeluarkannya. Entah kenapa, semua itu terasa sangat benar baginya. Seperti… ada sebuah perasaan yang terlupakan menyeruak dari dalam dirinya.
Sekian menit kemudian, keduanya melepaskan diri dengan wajah yang memerah. Itachi pun segera melonggarkan pelukannya dan Deidara segera menjauhkan dirinya. Tangannya menyentuh bibirnya dengan tidak percaya.
"Ke… kenapa…?" tanyanya pelan.
Pemuda berambut hitam itu terdiam. Ya, kenapa? Kenapa dia mencium pemuda pirang itu? Oh ya… tantangan dari Pein…
Sementara itu, dari balik semak-semak yang terlindung, empat pasang mata menikmati pertunjukkan yang baru saja terjadi.
"Sudah kubilang, Itachi dan anak itu punya perasaan yang sama…" Pein berasumsi.
"Jelas saja… Itachi tidak pernah berlaku selembut itu kepada orang lain. Hanya di depan Deidara saja dia jadi seperti itu," ujar Zetsu.
"Tapi bodohnya, Itachi nggak pernah sadar sama perasaannya sendiri…" lanjut Pein.
"Kalau gitu, apa masalah Itachi dan Deidara yang kalian bicarakan tadi pagi? Sepertinya mereka akur-akur aja tuh…" otak lemot Kakuzu kembali membuatnya mendapatkan tatapan iba dari teman-temannya.
"Dan kalau dia memang jenius seperti yang orang-orang katakan, dia nggak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini…" tambah Kisame.
Tapi sayangnya, harapan mereka untuk mendapatkan 'sepasang kekasih' baru harus ditunda. Karena sang penerus Uchiha bernama Itachi itu sedang bingung untuk berkata-kata.
Oke Itachi, tarik napas dan…
"Maaf, Dei. Aku harap kamu nggak apa-apa dengan… yang tadi…" katanya akhirnya, "… itu tadi salah satu ide gila dari Pein agar aku memenuhi tantangannya karena aku memilih 'dare' di permainan kami. Jadi… begitulah…" jelasnya panjang lebar.
Andai Itachi melihat ke dalam bola mata biru itu sekarang, dia pasti bisa melihat bias terluka di sana. Namun segera menghilang sedetik kemudian.
"Oh… nggak apa-apa, Tachi-kun…" katanya sambil tersenyum, "… itu juga… bukan yang pertama buat aku kok…" Bohong… dia tahu itu di dalam hatinya. Tapi dia tak mau membuat pemuda di hadapannya merasa bersalah.
Sayangnya, begitu mendengar itu bukan yang pertama baginya, Itachi merasa ada yang sakit di dalam dadanya. Padahal kalau mau jujur, itu pun adalah yang pertama baginya. Tapi yang keluar dari bibirnya adalah, "Oh… syukurlah…"
Selama beberapa saat, keduanya terlihat salah tingkah. Dan sepertinya salah satu penonton setia mereka mulai kehilangan kesabarannya.
"Woy, Itachi… kamu lama banget sih…" Kisame keluar dari semak-semak dan segera menghampiri temannya yang masih terdiam itu.
"Hn," jawabnya singkat.
"Mmm… kalau begitu, aku ke kelas ya…" Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Deidara segera meninggalkan tempat itu. Berusaha mengembalikan keadaan hatinya seperti semula.
Dan setelah itu, ketiga pemuda yang lain mengikuti jejak rekan mereka menghampiri Itachi.
"Puas sekarang?" tanya Itachi pada Pein. Ada nada sinis dalam suaranya.
"Kau bodoh, Itachi…" hanya itu jawabannya sebelum berjalan menuju gedung sekolah karena bel masuk baru saja berdentang.
-TO BE CONTINUED-
Cha's Note:
Ugh… kurang memuaskan!
Mana pendek lagi…
Gimana pendapat Minna-san?
Review please??!
Review Reply:
# Luina Fujiwara: Itadei juga termasuk fave pairnya Cha! Tapi masih jarang yang bikin nih… T.T
# Niero-SilvaUchiSa: Niero yang baca aja berasa jadi pedophil, gimana Cha yang buat??! –pundung di pojokan-. Hehehe… nggak rajin… tapi Cha lagi ngusahain supaya bisa apdet minimal 2 minggu sekali…
# Nazuki. Rinchan: Iya, yang kemaren Sasuke 6 tahun, Itachi 12 tahun, Deidara 11 tahun, Naruto 4 TAHUN!! –beneran pedophil nih-. Tapi sekarang udah naik kan? Nggak kuat juga kalo bikin umur segitu terus.
# Chika: Iya… ini juga Cha lanjutin… seneng deh kalo ada yang suka ceritanya. Makasih ya…
# Lovely Lucifer: Kakak adik yang kompak deh! Beneran seleranya 11.12! untuk saat ini sih, Itadei sama Sasunaru dulu. Nggak tahu bakalan nambah atau nggak. Liat aja perkembangannya ya…
Thanks for all reviewers:
Luina fujiwara, Sefa-sama, Niero-SilvaUchiSa, Nazuki. Rinchan, Chika, bloominpoppies, lovely lucifer, Akasuna no Azura, nae-roshi. chan.
With Love
_Charlotte.d'Cauchemar_
