Disclaimer : i don't own Naruto
Warning : OCC, Incest dan masih banyak lagi.
.
.
Perhatian : Jika tidak suka, dimohon untuk tidak membacanya ya. Maaf jika anda tidak menyukainya karena ini adalah karya saya.
.
''Ini rumahnya.''
''Kau yakin ini rumahnya?'' Aku sedikit terkejut pada awalnya ketika melihat rumah yang besarnya sungguh membuatku ingin tinggal disitu. Inikah tempat tinggal Kamishiro Rize? Bukankah rumah ini milik..
''Ya ini rumahnya.'' Aku menelan ludahku sesaat.
''Bukankah ini rumah pengusaha kaya raya itu. Jadi, apakah Rize anaknya!'' Kutatap Sara yang sedang tersenyum kearahku.
''Ya! Rize anaknya Hayate-san.'' Ukh, aku jadi tidak yakin ingin bertemu dengannya.
''Err, darimana kau mengenal anak orang kaya Sara?'' Kulihat Sara melirikku dengan kesan tidak suka.
''Tentu saja di Sekolah. Aku juga pada awalnya terkejut ketika Rize-san mengaku anaknya Hayate.''
''Kenapa kau baru bilang sekarang kalau Rize itu anaknya Hayate!''
''Kau tidak bertanya, makanya aku tidak bilang kepadamu.'' Untuk kali ini, mentalku untuk bertemu dengannya menjadi kandas.
''Mungkin aku akan menemuinya lain kali. Aku jadi gugup sendiri berhadapan dengan orang penting di Kota ini. Ha, ha, haha.'' Aku tertawa kaku sambil melihat betapa mewah dan besarnya rumah yang ada dihadapanku ini. Dan kulihat juga ada beberapa penjaga disana yang berdiri tegak di gerbang.
''Dasar. Lalu bagaimana, kau mau menjadi pembawa acara?''
''Aku masih bingung Sara. Takut tidak bisa, masa dari banyaknya Osis tidak ada yang bisa?!''
''Ini berbeda Naruto-kun, mereka sudah mendapatkan bagiannya masing-masing dan katanya yang akan menjadi pembawa acara adalah Rize, tapi berhubung Rize sakit kami jadi bingung siapa yang akan menjadi Mc-nya.'' Aku terdiam mencoba berpikir solusi apa yang tepat untuk menyelesaikan semua ini.
Aku penasaran, kenapa juga harus aku! Dan kenapa juga Rize yang menyarankan kepada Sara bahwa aku bisa menjadi pembawa acara, dan anehnya lagi aku bahkan tidak mengenal anak orang kaya itu dan super anehnya lagi dia mengenalku! Pasti aku dan dia pernah bertemu, ya pasti pernah bertemu. Aku tahu diriku di masyarakat sekolah, aku tidak terlalu populer layaknya Sasuke. Jadi aku yakin aku dan Rize pernah bertemu mungkin itu sebabnya dia mengenalku.
''Sara.''
''Ya?''
''Kenapa Rize mengenalku? Apakah dia pernah bertemu denganku?'' Kulihat tubuh Sara sedikit tersentak tadi—ya walaupun hanya sesaat. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku.
''Y-ya, Rize pernah bertemu denganmu sebelumnya.''
''Dimana!'' Aku memegang pundaknya dan oh sepertinya wajahku terlalu dekat dengan Sara, aku memundurkan wajahku beserta dengan melepaskan kedua telapak tanganku yang tadinya memegang pundaknya.
''Maaf, tadi aku terbawa suasana.'' Kulihat Sara tertawa ringan. Sepertinya aku dimaafkan.
''Ya tidak apa-apa. Dan untuk saat ini mungkin kau tidak mengingat pertemuanmu dengan Rize. Besok kalau kau mau jadi Mc akan aku pertemukan he he hee..''
''Kau licik, kalau begitu aku mau bertemu dengannya sekarang.''
''Huhuhuhuu, kau berani menghadapi pengawal seram itu, Naruto-kun.'' Langkahku berhenti ketika mendengar nada menyeramkan yang diperankan oleh Sara tadi, oh benar juga. Ada pengawal disana, dan sepertinya itu akan menyulitkanku untuk berbicara dengan lancar jika aku berhadapan dengan orang yang tegang dan siap bertarung, Uh mengerikan.
''Kalau begitu temani aku, aku sekarang siap untuk bertemu dengannya.'' Sara tertawa ringan, Uh sekarang apalagi! Jangan bilang dia tidak mau.
''Tidak mau.'' Akan kuperkosa dia!
''Ayolah, bukankah tadi kau mau mengantarkanku menemuinya?'' Aku tersenyum kemenangan.
''Tunggu sebentar,'' sekarang apalagi, kulihat Sara melihat jam yang bertengger dipergelangan tangannya yang putih.
''Itu hanya berlaku sampai jam 16.30, dan sekarang sudah pukul 16.45 jadi sudah tidak berlaku lagi, hi hi hi hii.'' Lupakan kalau Sara adalah gadis anggun dan baik hati, buktinya sekarang ini dia suka menjahiliku seperti ini.
''Dasar, kalau begitu aku pulang dulu ya.''
''E-eh, tunggu Naruto-kun. Kau mau menjadi Mc?'' Kutatap matanya dengan sungguh-sungguh, aku yakin dia saat ini sedang salah tingkah.
''Lupakan tentang itu, aku tidak bisa melakukannya.''
''U-umm, tapi kan. Siapa lagi yang mau menjadi Mc kalau bukan kau Naruto-kun.'' Kuhela nafasku sebentar, dan menatapnya kembali.
''Pilih yang lain, masih banyak siswa maupun siswi yang bisa melakukan tugas ini bukan?''
''Tolonglah..'' Kuusap rambutku dengan kasar, oke ini sedikit membuatku bingung harus apa lagi.
''Aku tidak bisa Sara-chan.''
''Ayolah, bagaimana kalau sekarang aku temani kau bertemu dengan Rize?'' Pintar merayu juga gadis ini.
''Ekhem, baiklah. Tapi kau duluan yang masuk.'' Kebetulan juga, aku sangat penasaran seperti apa sih wujudnya Rize ini.
''He~ Mana ada perempuan yang duluan, dimana-mana pria yang harus duluan masuk.'' Oke, perkataannya ini agak menjurus kebagian intim. Mungkin hanya pikiranku saja yang mengutarakan perkataan itu seperti ini.
''Oke, aku pulang saja—''
''Baik baik baik! Aku yang akan masuk duluan, dasar tidak gentle.'' Kupasang senyum kemenangan pada wajahku ini, hahaha inilah kemenangan. Selepas perdebatan yang memakan sekiranya 5 menit lebih itu aku dan Sara bergerak maju menuju rumahnya Hayate—sang pengusaha kaya raya di kota ini.
Setelah kakiku sampai di gerbang rumah ini, Sara mulai menyapa para penjaga yang sepertinya dia sudah kenal akrab dengan semua penjaga disini. Berbeda denganku yang ditatap menyelidik oleh beberapa penjaga disini. Oke, itu sedikit membuatku gugup.
Aku menghormati mereka dengan memberikan sebuah senyuman canggung, dan itu membuatku sedikit terlihat bodoh—walaupun hanya sesaat. Kulihat Sara sedang berbicara dengan salah satu penjaga disana yang memakai pakaian Tuxedo hitam dengan rapih, aku tidak bisa mendengar seperti apa obrolannya karena aku disuruh berhenti dan menunggu disini menunggu kepastian dari Sara apakah bisa masuk atau tidak.
''Hey kau!'' Aku tersentak sebentar ketika ada yang meneriakiku.
''A-ah ya.'' Responku ini membuatku terlihat bodoh!
''Apakah kau temannya Rize ojou-sama?'' Aku tersenyum sedikit menanggapi perkataan penjaga ini.
''Ahahaa, aku belum menjadi temannya. Tapi mungkin mulai saat ini bisa menjadi temannya.''
''Kau mau berteman dengannya atau mengincar hartanya saja hah!'' Aku sedikit terkejut ketika mendengar itu, apakah wajahku mengatakan seperti itu? Sungguh, bahkan aku tidak ada niatan untuk mengincar hartanya yang menggunung itu, aku sudah punya hartaku sendiri yang tidak ada duanya, yaitu Kushina!
''Maaf kalau saya terkesan seperti itu, saya benar-benar ingin menjadi temannya.'' Aku sedikit kesal dengannya, aku berusaha untuk kembali pulang tapi untungnya aku masih mengingat Sara yang saat ini terlihat tertawa seperti bercanda, sialan anak itu!
''Ini sudah puluhan kalinya ada anak yang bilang seperti itu kepadaku, tapi mereka berteman hanya mengincar harta Ojou-sama saja, aku yakin kau pun sama! Tidak seperti Sara-san yang tulus!'' Untuk sekarang, aku memaklumi sifat anda ini.
''Sekali lagi maaf jika saya tidak bisa membuat anda percaya pada saya. Kalau begitu saya tidak akan berteman dengan Ojou-sama anda jika pada akhirnya akan menjadi seperti itu.'' Aku menunduk hormat padanya sebentar.
''Baguslah, kalau begitu pulanglah saja!'' Untuk nada ini, kau membuatku sedikit kesal.
''Tapi tolong panggilkan Sara-san kesini, aku harus berpamitan dengannya.'' Nadaku berubah, tidak sehangat awalan tadi. Pengawal ini sudah membuat kehormatanku padanya menurun, sungguh membuatku kesal saja.
''Baik, dan setelah ini jangan menampakkan hidungmu lagi kesini.''
''Dengan senang hati akan aku lakukan, Tuan!'' Kumenunggu kedatangan Sara disini dengan kekesalan yang sangat besar, sungguh penjaga tadi membuatku marah saja. Kuhirup nafasku dalam-dalam dan mengeluarkannya, yah setidaknya ini berhasil membuatku tidak semarah tadi.
Kulihat Sara agak tersentak disana ketika penjaga yang tadi membuatku kesal bertanya kepadanya, sepertinya dia baru ingat ada aku disini yang menunggunya. Sialan, dia sepertinya menikmati candaannya dengan om-om itu. Tidak beberapa lama, Sara berjalan kearahku dengan tergesa-gesa dan tidak lupa dengan cengiran tanpa dosanya itu.
''Sudah puas bercandanya.''
''Hehehe, maaf. Aku terbawa suasana tadi.'' Sekali lagi, kuatur nafasku agar tidak termakan emosi.
''Aku pulang dulu.''
''E-eh? Katanya mau bertemu Rize. Ayo kita masuk!'' Kutatap matanya sekilas lalu aku mengambil langkah balik untuk pergi dari rumah besar ini.
''Aku tidak tertarik lagi, aku mau pulang dulu.''
''Eh! T-tapi kau mau kan jadi Mc-nya!''
''Ya, tapi jangan salahkan aku jika terlihat kaku.'' Kutetap berjalan santai dan menjawab perkataan Sara dengan tidak menatapnya, aku tahu ini tidak sopan tapi aku sedang kesal sekarang—Jadi maklumin aja.
''Be-benarkah kau mau menjadi Mc Naruto-kun!'' Anak ini! Apakah satu kata ya tidak cukup untuk menjelaskan keadaan.
''Ya.'' Dan aku tidak perduli lagi dengan teriakan Sara yang sepertinya gembira, huh dasar anak itu. Akan aku kasih pelajaran nanti, lihat saja pembalasanku.
.
.
0o0o0o0o0o0
''Tadaima.''
''O-oh, Okaeri Aniki.'' Kulepas sepatuku dan menaruhnya kedalam rak sepatu, selepas itu aku berjalan menuju kamarku untuk menenangkan diri akibat lelahnya hari ini, hah~ hari yang sangat melelahkan sekaligus menjengkelkan.
Andai saja aku tadi tidak mempunyai rasa menghargai dan sopan, sudah pasti penjaga yang berada disana akan aku hantam dan menyiksanya dengan keji! Sungguh orang itu membuatku kesal saja, tapi yah.. dia juga bertindak baik dengan mengantisipasi siapa teman yang ingin berteman dengan Rize ataupun tidak.
Tapi masalahnya! Penjaga itu langsung saja menaruh pikiran negatifnya padaku tanpa melihat bagaimana aku benar-benar ingin bertemu dan berteman dengan putri yang mereka panggil Kamishirou Rize! Huh dasar.
''Onii-san? Kau tidak apa-apa?'' Kushina menatapku dengan khawatir, aku bisa melihat itu dengan jelas dari raut wajahnya. Untuk saat ini, mungkin menjahili adikku tercinta bisa membuatku melupakan masalah tadi.
''Tidak apa-apa kok Kushi-Kushi-chan~''
''Hiiih! Berhentilah memanggilku Kushi-Kushi! Itu tidak lucu tahu!'' Lihat, lihat mukanya yang memerah itu, ini membuatku ingin tertawa saja ha ha ha.
''Lalu panggil Kushi-Kushi apa dong? Humm~''
''Panggil Kushi-Kushi dengan nada hormat, yaitu Kushina Ojou-sama!'' Tunggu dulu.
''Kau tadi menunjuk dirimu Kushi-Kushi kan, hahahaa kau mengakuinya hahahaa.'' Lihat sekarang, lihat wajahnya yang sudah menunduk menyembunyikan wajah merahnya itu, oh Kushina kau mengingatkanku akan buah kesukaan si Sasuke—Tomat!
''Onii-san! Akan kubunuh kau Dattebane!''
''Huaaaa, ampuni aku Kushi-Kushi!''
''Jangan panggil aku Kushi-Kushi! Rasakan ini!'' Oh tidak, kaki itu menuju—
''BURUNG MASA DEPANKU!''
''Rasakan itu Dattebane!'' Kau jahat sekali dengan kakakmu sendiri, Kushina.
.
''Ouh, burungku masih terasa sakit! Haduh~!''
''Umm~ Nii-chan, aku minta maaf ya.'' Aku menengok sebentar kewajah Kushina yang terlihat menggigit kuku jempolnya, mungkin dia merasa bersalah. Yah bagaimanapun juga memang salahnya sih! Kenapa juga menyerang burung masa depanku.
''Maaf maaf, masih sakit tahu!''
''Habis Onii-chan bikin aku kesal sih!'' Aku tertawa kecil ketika melihat wajah cemberutnya lagi, itulah Kushina yang sangat aku cintai dan mungkin tidak akan aku miliki untuk selamanya.
Faktanya dia adikku, aku dan dia sedarah. Sangat mustahil untuk bersatu, apalagi jika Kushina tahu dan merasa jijik jika saja aku mengutarakan perasaanku ini, pastinya akan membuat hubungan harmonis seperti ini retak.
Aku tidak ingin itu terjadi, sudah cukup aku dan Kushina yang sangat mustahil untuk menjalin kasih. Aku hanya ingin membuat hubungan harmonis seperti ini bertahan selamanya, walaupun nantinya Kushina dan aku sudah berkeluarga. Aku ingin hubungan ini tetap terjalin dengan harmonis.
Ya, walaupun berat mengakuinya bahwa aku tidak ingin membiarkan Kushina menikah dengan orang lain, tapi. Mau bagaimana lagi, aku harus kuat dan mungkin setelah lulus nanti aku harus pergi keluar negeri untuk melupakan cintaku ini yang sangat terlarang. Mungkin dengan itu, cintaku padanya akan hilang.
''Salahkan dirimu yang mempunyai wajah menggemaskan untuk digoda ne~ Kushi-Kushi hahaha.''
''ONII-SAN BAKAA!''
*Duak!*
''ITTEE! KUSHINA KAU MENENDANGNYA LAGI!''
''Rasakan itu dasar Nii-san cabul hum!'' Oh oh oh~ Burung tercintaku, mungkin besok kau akan dimakamkan huhuhuu.
.
.
''Onii-san, makan malam sudah siap!''
''Oke, aku akan segera turun.'' Dengan cepat, aku meninggalkan ranjangku dan berjalan menuju ruang makan untuk makan malam bersama dengan adikku—yang dengan tega menyiksa burung kakaknya sendiri. Dan sekarang ini rasa sakitnya masih berbekas, huh mungkin aku tidak akan menjahilinya terus menerus jika seperti ini.
''Masih sakit huh~''
''Hmm!'' Aku menatap Kushina dengan wajah orang kesal pada umumnya, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak kesal padanya.
''Hehehee, maaf ya tehe~''
''Maaf maaf maaf, sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi. Sekarang ini ayo kita makan dan tidur bersama Hahaha.'' Hiiii~ Kenapa ada pisau didepan wajahku! Ku-Kushina apa yang akan kau lakukan!
''Apa maksud Onii-san tidur bersama huh!'' Hiiiii, dia memasuki mode Yandere! Bahaya sungguh bahaya!
''A-aku bercanda Kushina! Hanya bercanda!'' Hiiii~ Kenapa pisaunya semakin dekat dengan wajahku!
''Sungguh, Onii-san hanya bercanda?'' Aku mengangguk kaku, prioritas utamaku adalah selamat dari terkaman pisau ini!
''Jadi Onii-san tidak mau tidur bersamaku lagi.'' Hah! Apa katanya? Tentu saja aku mau sekali!
''Tentu saja aku mau se—''
*Duak!*
''Onii-san cabul.''
''IIIITTTTTTEEEEEEEEEEEEE!'' Kenapa jadinya aku yang salah terus!
''Bu-burungku!'' Dan kenapa juga burungku yang selalu kena huhuhuhuu.
.
.
0o0o0o0o0o0
_Sekolah_
Keesokan harinya, aku bahkan masih merasakan denyut rasa sakit yang membekas di burungku ini. Dan sialnya aku harus latihan hari ini demi menjadi Mc yang baik dan tidak gugup ketika tampil didepan umum nanti. Aku menghela nafasku sesaat setelah naskah yang berupa bagian dari Mc diberikan padaku melalui Sara.
''Kau bercanda?'' Sara tersenyum atas responku.
''Tidak, ini semua bagianmu. Mc memang seperti itu dan tentunya kau bisa menambahkan beberapa kata, ya mungkin sebuah lawakan biar yang menonton tidak merasa bosan.'' Aku menggaruk kepalaku ketika melihat beberapa lembar kertas yang ada di tanganku.
''Err, kau tahu? Aku jadi tidak yakin bisa membawakannya dengan baik.'' Sara berdecak kesal ketika mendengar penuturanku tadi.
''Kau bisa! Kau pasti bisa Naruto-kun!'' Aku tersenyum kaku, dan asal dia tahu aku ini Manusia yang pastinya memiliki rasa malu dan tentu saja ada bidang yang tidak bisa dilakukannya dengan baik, dan salah satunya adalah dalam hal ini.
Oke lupakan, aku bahkan baru melihat beberapa tulisan yang ada di kertas ini menjadi malas sekali. Caranya, bagaimana aku menghapalkan ini dalam waktu tiga hari! Dan itu rasanya sangat mustahil sekali.
Bagaimana jika aku sudah menghapalnya dengan baik tetapi ketika maju kedepan semua hapalan itu menghilang semua, dan aku yakin akan ada julukan yang menerangkan Mc kaku dari Konoha. Huu~ membayangkannya saja membuatku bergidik malu. Bagaimana jika itu menjadi kenyataan.
''Err.. Kenapa sebanyak ini sih bagian Mc? Apa Rize dengan mudah membawakannya dan menghapalnya?'' Kutatap Sara yang sedang tersenyum kearahku dengan jari telunjuk yang bertengger manis dibibir bawahnya.
''Tentu saja, Rize seperti tuan Puteri ketika membawakan ini loh. Tidak harus menghapalnya Naruto, kau hanya harus memikirkan kata apa yang tepat dalam situasimu nantinya sebagai Mc.''
''Kau dengan mudah mengatakannya, tapi sangat sulit untuk dilaksanakan tahu.''
''Fu fu fu~ Memang seperti itu, tapi aku yakin kau bisa melakukannya Naruto-kun. Ayo semangat berlatih!'' Sara tertawa kecil dan disusul dengan mengepalkan tangannya keudara mengisyaratkan kepadaku untuk bersemangat.
''Ya ya ya~ dan ngomong-ngomong? Aku harus berlatih seperti apa?"
''Mudah, kau maju saja kedepan dan coba peragakan layaknya kau sedang membawakan acara ulang tahun sekolah.'' Aku menatap kedepan dan kembali menatap kearah Sara, hal itu aku lakukan secara terus menerus hingga tiga kali.
''Kau bercanda? Aku berdiri disitu dan menghadap kalian semua? Para Osis!'' Aku menelan ludahku yang serasa sulit, lihat bahkan tanganku merasakan hawa dingin! Oh ya ampun bahkan baru ini saja aku sudah keringat dingin dan gugup apalagi ketika maju kedepan nantinya!
''Loh? Bukankah Mc seperti itu? Bukankah ini jauh lebih baik daripada berdiri dan menghadap semua siswa-siswi dan guru ketika acara ulang tahun nanti? Ayo cepat latihan disana dan berikan peforma terbaikmu untuk kami yang ada disini.'' Aku menatap Sara sekilas.
''Contohkan.''
''Eh? Apa maksudmu?''
''Contohkah didepan, seperti apa caranya menjadi Mc yang baik. Kau pasti bisa bukan?" Sara berwajah pucat ketika mendengar perkataanku ini.
''U-umm, mana mungkin aku bisa melakukannya! Aku gugup sekali tahu!'' Aku tersenyum tipis.
''Itulah yang aku rasakan gadis darah. Mana mungkin aku bisa berdiri disitu dan menghadap kalian tanpa tenang dan teratur.''
''Humm~ Ini sangat sulit.'' Kulihat Sara sepertinya sedang memikirkan sesuatu, itu terlihat jelas dengan wajahnya yang ditekuk dengan alis yang menyatu. Hah~ Sepertinya aku memang merepotkan untuk dilatih.
''Aha! Aku ada ide!'' Aku terkejut ketika Sara mencengkram kerah seragam sekolah ini dengan keras dan mengguncang-guncang badanku. Hey hey hey! Tenang dulu Sara.
''Bagaimana jika kau dilatih oleh Asuma-sensei untuk urusan mental! Aku akan memanggilnya! Tunggu disini Naruto-kun! Tunggu ya! Jangan pergi!'' Dan kenapa juga dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf setelah merusak kerapihan seragamku ini. Hah~ dasar gadis darah.
Tapi, aku tersenyum kecil. Aku suka dengan caranya mengenalku tanpa rasa malu sedikitpun, aku suka gaya Sara dalam bergaul, mungkin gadis itu tidak akan kesulitan akan mencari teman kedepannya jika sudah ada di Universitas nanti. Ah~ aku sedikit iri dengan tingkahnya.
Jika seperti ini, aku jadi mengingat pertama kalinya aku bertemu dengan Sara yang pada awalnya mengingatkanku akan sosok jelita yang sangat aku kagumi dan cintai—Kushina. Dia begitu lugu waktu itu, dan juga salah satu gadis yang dapat menarik puluhan lelaki untuk menjadikan kekasihnya.
Tapi sejauh ini aku belum melihat Sara berjalan bersama dengan laki-laki selain diriku dan aku bahkan belum pernah dengar dia sudah punya kekasih, dengan kata lain—Dia masih sendiri.
Dan sudah tak terasa aku bersama dengannya sudah 3 tahun ini, dengan kata lain aku selalu bersama dengannya ketika pembagian kelas. Dan itu membuatku dengannya semakin dekat layaknya seorang saudara kandung. Dan aku tidak tanggung-tanggung lagi menganggapnya sebagai adik keduaku.
Kulirik beberapa siswa Osis yang sedang menyiapkan segala persiapannya untuk 3 hari kedepan, beberapa dari sebagian sedang latihan dan sebagiannya lagi sedang bercanda bersama dan mengobrol. Aku menghela nafasku sesaat setelah aku melihat semua itu.
Aku bahkan belum latihan, dan sulitnya lagi 3 hari kedepan aku harus tampil didepan publik sebagai pembawa acara, dan lebih sulitnya lagi aku dituntut untuk tidak membosankan penonton dengan lawakanku—yang setahuku sangat garing.
Oke, bahkan berdiri didepan saja sudah membuatku berkeringat dingin dan tentu saja gugup. Aku yakin ketika maju nanti dan membawa kertas tanganku akan bergetar dan itu akan ditertawakan oleh penonton yang melihat gerak-gerikku dan oh! Aku tidak mau membayangkannya lagi!
'Apa yang harus aku lakukan! Aku benar-benar tidak bisa melakukan tugas ini! Ya tuhan tolonglah hambamu ini~'
''Aku harap Asuma-sensei bisa melatihnya.'' Huh? Itu sepertinya suaranya Sara.
''Tenang saja, kau meragukanku?'' Uhm, dan sepertinya suara itu adalah milik orang yang dipanggil dengan Asuma-sensei. Dan entah kenapa juga kakiku bergetar! Hey berhentilah bergetar kaki sialan kau akan mempermalukan tuanmu sendiri!
Dan ketika pintu didepanku terbuka aku bisa menatapnya dengan jelas siapa itu Asuma-sensei. Dia berjalan bersama dengan Sara yang tersenyum kearahku, dimulutnya tersumpal sebuah rokok yang biasanya orang tua lakukan dan menghembuskannya pelan kesamping.
Wajahnya dipenuhi bewok, dan aku asumsikan bahwa beliau sudah tua. Aku mendekatinya dan memberikan sebuah senyuman dan menunduk hormat padanya sebagai salamku.
''Jadi kau yang bernama Uzumaki Naruto?'' Aku mengangguk pelan dengan tidak menghilangnya senyuman ramah yang aku pasang.
''Ya.'' Kulihat Asuma-sensei mengelus jenggotnya pelan, dia tampak memerhatikanku dengan serius. Lalu apa yang sedang dia nilai dariku? Apakah kerapihan seragamku—Oh shit! Aku lupa tadi Sara merusaknya!
''Mentalmu masih lemah.'' Huh?
''Eee? Baga—''
''Aku bisa melihatnya dari matamu yang masih bergetar ketika melihatku dan sesekali mengubah pandanganmu dariku. Sepertinya perkataan Sara benar, aku harus melatihmu untuk menjadi Mc yang hebat nanti.'' Oh! Hebat sekali!
Guru ini sungguh sangat jeli dengan keadaan mental dan kondisi badan seseorang, dengan kata lain apakah dia ahli anatomi tubuh? Dan aku bertanya-tanya Asuma-sensei itu guru dalam bidang apa?
''Ah-ahaaha. Yeah, aku memang masih lemah mentalnya Asuma-sensei.'' Kulihat Asuma-sensei tersenyum.
''Sepertinya kita tidak perlu perkenalan, atau mungkin perlu untukmu?'' Aku menggaruk kepalaku sebentar disertai dengan senyuman kakuku.
''Yeah, mungkin perlu untukku.''
''Namaku Sarutobi Asuma, dan aku guru Antropologi dan Sosiologi yang mempelajari tentang seluk-beluk perbudayaan dan Manusia.'' Oh pantas saja, tidak heran jika beliau bisa menebak mentalku yang lemah ini.
''Namaku Uzumaki Naruto, dari kelas 12-B. Saya harap Sensei mau melatihku 3 hari kedepan ini.''
''Tentu saja! Aku akan menjadikanmu Manusia yang super PD! Dan tidak akan mempunyai rasa malu!'' Aku tersenyum.
''Benarkah!''
''Yeah, walaupun itu tidak mungkin.'' Bibirku berkedut ketika mendengar itu, si-sial. Aku seperti orang bodoh saja.
''Bagaimanapun juga, rasa malu tidak akan bisa dihilangkan dari diri Manusia. Kuncinya kau harus menutupi rasa malumu dengan mentalmu.'' Aku mengangguk lemas, tidak bersemangat seperti tadi.
''Persiapkan dirimu Naruto, aku akan melatihmu dengan keras.'' Oke, apa ada pepatah orang bertampil manis waktu pertama dan bertampil pahit pada waktu akhir? Oh man! Aku merasakan firasat buruk ketika melihat senyuman Asuma-sensei.
''O-oke.'' Aku berharap, aku masih bisa melihat matahari esoknya.
.
.
.
'Kurasa itu sedikit berlebihan.'
.
TBC.
A/N : Apakah masih ada yang menunggu cerita ini untuk up cepat? Hahaha, akan saya usahakan kok. Dan ini balasan Review buat kalian wahai para pembacaku.
.
Delta31 : Oke, nih dah di lanjut. Dan terima kasih ya sudah me Review :D.
ramadiriswanto : Terima kasih atas pujiannya, tapi yang menurutku bagus itu anda karena sudah meninggalkan jejak anda dengan me Review :D dan terima kasih sudah me Review ya :D.
Kitsune857 : Terima kasih atas pujian anda :D, ikuti terus perkembangan cerita ini ya, dan terima kasih sudah me Review :D.
Shinn Kazumiya : nyahaha :v, ane NaruKushi lovers om, jadi maklumin aje :v. Dan ini tidak ada lemon om, maaf kalau mengecewakan. Kalau begitu ikuti terus perkembangan cerita ini ya, dan terima kasih sudah me Review :D.
Da Discabil Worm N.A : Oke, nih dah di lanjut om :D, dan terima kasih sudah me Review :D.
Kazehaya D Levi : Wah sopan sekali ya :D, oke silakan fav dan fol cerita ini ya. Dan nih dah dilanjut, saya harap anda puas, dan terima kasih sudah me Review :D.
Kang Delis : Nih lanjutannya om, semoga terpuaskan. Dan soal lime, hmm... kita lihat saja ehehe. Dan terima kasih sudah me Review :D.
Ushio Pendragon : Terima kasih atas pujiannya, dan semoga puas dengan chapter ini dan juga terima kasih sudah me Review ya :D.
ajidarkangel : Hahahaha, nih dah Review kok :v apa memang anda bercanda ya :D dan pokoknya terima kasih sudah me Review walaupun bigini :D.
Rain Sahashi : Terima kasih atas penilaian anda terhadap cerita ini, dan jangan bosan mengikuti cerita ini ya, dan juga terima kasih sudah me Review :D, untuk Typo, memang sulit dihilangkan hehehe.
Yudha Bagus Satan Lucifer : terima kasih atas pujian anda, dan ini lanjutannya semoga puas. Terima kasih sudah me Review :D.
Neko Twins Kagamine : Terima kasih atas pujian anda, dan terima kasih ya sudah me Review :D.
Gingga Mahardika : Iya nih, memang ini konflik batin, rata-rata kalau keluarga pasti seperti itu dan aku sebisa mungkin membuatnya agar terlihat pas sesuai dengan kenyataan yang ada ketika seorang Kakak jatuh cinta pada adiknya, dan itu sangatlah sulit. Oh ya, nih dah dilanjut dan juga terima kasih sudah me Review :D.
dirahasiakan : Oke, nih dah dilanjut dan semoga puas dengan chapter ini dan juga terima kasih sudah me Review ya :D.
Hyuuhi Ga Ara : Udah di uodate kok :), tapi kalau Hybrid Akuma. Kayaknya akan di hapus dan diganti cerita baru lagi, maaf ya kalau mengecewakan anda. Dan terima kasih sudah me Review :D.
firdaus minato : Tenang om, nih dah di update :D. Dan kayaknya saya bakal mengecewakan anda, karena disini tidak ada lemon, maaf ya. Dan terima kasih sudah me Review :D.
.
Dan terima kasih juga buat yang sudah me Fav ataupun Follow cerita ini tanpa me Review. Dan tunggu kelanjutannya lagi ya, dan tentunya jangan lupa buat mengingatkan saya untuk up cerita lainnya, karena saya terkadang lalai dan lupa ehehehe.
Tunggu kelanjutannya ya :D.
Jangan bosan untuk me Review ya wahai pembacaku :D.
.GearPhantom97.
...
.
