Rated : T

Pairing : Sasuke U.& Hinata H

Disclaimer Chara : Om Masashi Kishimoto

This Story just real from me.

Warning: Typo(s), OOC, dll. Jangan harap kesempurnaan dari fic ini.^^'

Just

Don't Like, Don't Read

.

.

.

"Aku mau berenang. Kau mau?" ajak Sakura.

"Sepertinya aku di sini saja."

"Baiklah. Jaga dirimu dan barang-barang yah." Sakura membuka sepatu dan kemejanya kemudian berlari sengaja agak mendekat kearah pasangan yang tadi Hinata lihat yang sedang berjalan menyusuri tepian pantai. "Benar" Ucap Sakura pelan dalam larinya.

Hinata masih terduduk dibawah pohon dengan wajah yang menghadap kebawah. Ingin rasanya ia menangis detik itu juga, namun tidak mampu lagi keluar sepertinya, dadanya terlalu sesak.

'Kenapa di sini harus bertemu denganmu Sasuke san? Di rumah pun kita jarang bertemu walau berdekatan. Berapa tahun kita tak saling jumpa? Dan di sini aku harus melihatmu…. Bersama wanita yang pasti kekasihmu. Kami-sama, apakah do'a-do'aku tak kau dengar?' Hinata hanya menggeleng lemah tidak sanggup menatap kedepan takut pemandangan itu ia lihat lagi.

"Hinata, kau tidak berenang? Kembali ke cottage yuk. Aku lelah." Ino menghampiri Hinata yang masih menunduk.

"Kau kenapa?" sambil berusaha membuka kunci pintu cottage, yang di jawab gelengan kepala oleh Hinata. "Aku tak yakin." Ino langsung masuk cottage dan mandi. Hinata yang mengikutiya dari belakang.

Tanpa Hinata sadari Sasuke yang sama kagetnya seperti Hinata karena mereka bisanya bertemu di tempat sejauh ini dari yang biasanya mereka pijak, masih mentap Hinata sampai Hinata menutup pintu cottage, dengan stoicnya.

Sasuke Pov

Hinata kah itu? Bagaimana? Bagaimana bisa, bahkan di rumah pun tidak pernah bertemu dengannya. Ini apa? Di Bali?. Dadaku berdegup kencang, aku heran, bingung dan kaget. Bagaimana mungkin bisa seperti ini? Aku tidak menyukai ini. Tapi…. Tapi entahlah. Apakah dia tinggal di sana? Arggghhhtttt, aku benci ini. Ku palingkan pandanganku darinya yang telah tertutup pintu cottagenya. Aku tatap hamparan pasir yang aku injak, aku rasakan Karin sangat senang di sampingku. Dia terus berceloteh, tapi aku tidak mendengarkannya. Aku bertemu Hinata di tempat jauh ini begitu mengejutkan. Sesak, entah kenapa aku merasa ingin teriak.

"Iya kan Sasuke kun. Pokoknya besok." Entah apa yang Karin maksud tapi tidak mungkin aku tolak permintaannya.

"Hn."

"Aku mencintaimu." Ia kemudian mencium pipi kananku. Aku hanya tersenyum paksa kepadanya. Tak ku pungkiri aku menyukainya. Tapi kejadian barusan sangat menguras pikiranku. Aku terus berjalan di pinggir pantai ini dengan gadisku di sampingku. Setidaknya itu cukup menyadarkanku akan statusku saat ini.

Sasuke end POV.

.

.

.

Malam pun tiba, kelima gadis itu sudah punya acara yaitu barbeque di pinggir pantai, sesuai janji pemilik cottage yang akan menyediakan party kecil untuk penghuni cottagenya. Kelima gadis ini sudah tidak sabar menikmati angin pantai malam di Bali. Tenten, Sakura dan Ino pun langsung menuju tempat barbeque agak jauh di depan cottage dan dekat dengan pantai. Ternyata sudah banyak orang di sana, penghuni-penghuni cottage tetangga ternyata. Acara pesta barbeque ini akan dimulai dengan lomba memanggang, tapi Temari dan Hinata belum datang.

"Hinata kau cepatlah. Aku duluan yah, jangan lupa kunci."

"Tunggu Temari chan." Hinata mengunci pintu cottagenya agak kesusahan.

Begitu berbalik alangkah terkejutnya saat mendapati seorang Sasuke yang tengah berdiri membelakanginya. Sangat tidak masuk akal, ini benar-benar Sasuke orang yang tidak mau ia temui kini berdiri beberapa meter darinya. Ingin rasanya ia membuka kembali pintu dan masuk, tapi sangat tidak bisa di pungkiri ia sangat ingin melihat pemuda raven itu. Saat sedang berkecamuk di hatinya apakah masuk lagi, memanggilnya, atu berlari melawatinya tiba-tiba Sasuke berbalik menghadap Hinata yang mematung. Mereka saling bertatapan dengan sama-sama tidak sadar kalau saat itu mereka bertatapan. Hinata yang kemudian tersadar lebih dulu kemudian membuang mukanya kesegala arah untuk menghindari kontak mata dengan Sasuke.

"Ehemmm, aku sendirian. Maukah kau menemaniku sekedar berjalan melihat-lihat ombak malam?" tanya Sasuke yang membuat Hinata terkejut. Bagaimana tidak, selama sembilan tahun ini mereka saling kenal hanya satu atau dua kali mereka berinteraksi secara langsung. Dan selama itu pula baru kali ini Sasuke benar-benar berbicara kepadanya. Tak dapat di percaya.

"Eh?" Hinata dengan lugunya.

"Sendiri rasanya terlalu sepi. Hotel tempatku menginap tidak mengadakan acara seperti itu. Jadi aku tidak ada kegiatan."

Hinata yang kemudian terhipnotis hanya mengangguk dan kemudian berjalan kearah Sasuke. Mereka pun berjalan dalam diam yang diciptakan keduanya. Hinata masih tidak percaya dengan yang sedang berlangsung saat ini, mustahil rasanya bisa berada dengan jarak sedekat ini dengan seorang Sasuke yang selama sembilan tahun ini ia cintai tanpa bicara, berinteraksi, atau sebagainya. Ingin pula rasanya Hinata bertanya siapa gadis yang tadi bersamanya.

"Ano. Kemana kekasihmu?" Tanya Hinata yang berjalan agak di belakang Sasuke.

"Dia tidur di hotel. Kelelahan karena saat kami tiba ia langsung meminta menyisiri pantai ini. Namanya Karin."

'Demi Tuhan aku tidak menanyakan namanya, dan aku tidak ingin tahu itu bodoh.'

Remuk rasanya Hati Hinata dengan jawaban Sasuke yang tidak sedikit pun menampik bahwa gadis itu adalah kekasihnya. PadahaL Hinata berharap Sasuke akan menjawab "Kekasih? Dia sepupuku." Atau "Siapa? Aku tidak punya kekasih.". Ia tahan mati-matian air mata yang hendak jatuh dari pelupuk matanya. Hinata berjalan lebih pelan dari sebelumnya, sehingga ia berjalan lebih jauh di belakang Sasuke sekarang, masih menunduk.

"Dari kapan kau berada di Bali?" Tanya Sasuke dingin tanpa menoleh kepada Hinata.

"…." Tidak ada jawaban dari Hinata.

Bughttt

"Ahhhh, Gomene Sasuke aku tidak melihat." Hinata menabrak Sasuke yang berbalik menghadapnya.

"Bagaimana kau melihat jika kau menunduk?"

"Gomene." Hinata seraya memegang keningnya menutup malu. Tanpa ia lihat Sasuke tersenyum tipis.

"Berjalan di sampingku, aku mengajakmu untuk menemaniku bukan sebagai bodyguardku." Menengok ke Hinata yang menunduk.

'Demi Tuhan aku bermimpi. Kami-sama, aku akan menangis sebentar lagi. Kenapa dengan orang ini? Kenapa dia melakukan ini. Aku tidak suka, Kami-sama. Aku tidak suka.'

"Sudah makan?" tanya Sasuke. Hinata hanya menggeleng.

"Kau begitu bukan karena berharap ku traktir kan? Ayo kita makan dulu." Sasuke menarik tangan Hinata yang membuat Hinata syok berat.

"Apa ini?" tanya Hinata.

"Siomay. Makanan Indonesia terbuat dari ikan tenggiri di campur terigu dan sagu. Ini sausnya namanya bumbu kacang terbuat dari kacang tanah di tumbuk lalu di giling bersama bumbu dapur lainnya kemudian di beri air." Menjelaskan sambil duduk di kursi panjang yang menghadap laut berdua dengan Hinata.

Hinata menatap kagum sambil tersenyum penuh arti kepada Sasuke. Yang di tatap justru merona malu karena merasa yang menatapnya begitu manis. Seperti mengulang sembilan tahun lalu sebelum mereka benar-benar jauh. Meski tidak saling berbicara namun Sasuke sangat suka melihat Hinata tertawa ataupun tersenyum. Kaduanya yang sama-sama tidak pintar dalam berkata-kata membuat mereka saling takut untuk membuka pembicaraan.

"Kapan terakhir kita sedekat ini?" Sasuke membuka topik tanpa melihat kearah Hinata yang ada di samping kanannya.

"Eh? Aku tidak ingat kita pernah sedekat ini." Hinata mulai menikmati saat ini. Bersama dengan orang yang di cintainya, yang hampir hanya menjadi mimpinya bisa berbincang seperi saat ini.

"Emmm, kapan terakhir kita saling berbicara?"

Hinata menarik nafas dan meletakkan piring siomay di pangkuannya dan menatap kearah laut. "Aku pun hampir lupa kapan. Seingatku sembilan tahun lalu saat kau bilang ice creamku belepotan. Itu pun kau tidak langsung bicara padaku tapi ke Sakura."

"Benar, Kapan terakhir kali kita bertemu sebelum di Bali ini?"

"Emmm, Saat aku pulang kuliah menunggu Neji-nii di halte. Dan kau berhenti di toko buku di seberang halte." Masih menatap pantai.

"Salah."

"Eh?"

Hinata menoleh ke arah Sasuke yang kemudian Sasuke juga menoleh kearahnya. Jaraknya terlalu dekat. Terlalu jelas untuk mereka berdua melihat lawan bicaranya. Keduanya terdiam, saling mengagumi keindahan di depan penglihatannya. Mata onyx yang kelam, dingin, dan teduh terpampang jelas di depan Hinata. Begitu pun dengan Sasuke yang dengan leluasa menikmati keindahan mata bulan yang bersinar hangat di tempatnya.

Sasuke tersadar hampir dirinya lost control, segera ia kembali menatap laut dan memakan siomay. "Terakhir kita bertemu adalah di lapangan footsal, saat aku habis latihan dan kau hendak menonton kampusmu bertanding."

"Ahhhh iya benar. Kau ingat? Aku lupa. . heee"

'Mana mungkin aku lupa, dengan moment langka.' Batin Sasuke.

Setelah menghabiskan siomay mereka pun kembali berjalan menyusuri pantai berdua. Banyak memang turis-turis di situ yang berkegiatan "pribadi" di tempat umum namun tempat yang mereka lalui lebih bercahaya sehingga hanya beberapa orang saja yang melewatinya.

"Pakai ini." Sasuke mengalungkan sweaternya.

"Ah tidak usah. Aku tidak kedinginan kok. Justru sedikit gerah. Pakai saja." Tolak Hinata.

"Tetap saja angin malam itu tidak baik. Sudah pakai saja jangan bawel." Hinata hanya menuruti dengan terpaksa.

"Kau masih suka Manchester United?" tanya Sasuke.

"Tentu. Dan kau? Masih AC Milan?"

"Tidak berubah. Berarti kau masih suka sepakbola. Masih suka main bola?"

"Tentu sudah tidak lagi. Aku menjadi wanita anggun sekarang. Hehehe"

"Bohong. Itu betismu semakin besar."

"Apa? Enak saja." Hinata yang kemudian menutupi betisnya dengan sweater Sasuke.

"Lihat itu ada yang bermain bola api. Mau lihat aku main?"

"Emmmm apa tidak bahaya?" Hinata sedikit khawatir.

"Tidak, tenang saja. Ayo !" lagi-lagi Sasuke menarik Hinata. dan mereka pun kini ada di kerumunan orang-orang yang menonton. Setelah Sasuke berbicara dengan salah satu pemainnya Sasuke kembali kepada Hinata yang di tinggalnya. "Titip sepatuku ya. Lihat permainanku."

.

.

.

Di tempat barbeque teman-teman Hinata tersadar kalu Hinata belum juga hadir di tengah acara mereka. Namun Sakura yang memang tadi melihat Hinata berjalan bersama Sasuke mencoba memberitahu kawan lainnya kalau Hinata sudah ada acara dan akan baik-baik saja. Namun ia tidak bisa bilang kalau Hinata sedang bersama Sasuke karena mereka pasti akan marah. Mereka sudah sangat jengkel dengan Sasuke yang tidak pernah melihat Hinata, menurut mereka.

.

.

.

"Gooooooolllllllllllllll" Teriak penonton.

"This is for you." Kata Sasuke yang celebrate di depan Hinata.

Membuat Hinata yang semula bertepuk tangan dengan kencang langsung menghentikan kegiatannya kaget. Sasuke kembali kepada team dan bermain lagi. Setelah lima belas menitan bermain ia pun udahan, dan kembali kepada Hinata.

"Hosh hosh, bagaimana komentarmu sebagai pengamat sepak bola nona." Sambil memakai sepatunya.

"Emmmmm, performamu tidak bagus. Lebih bagus yang tadi pakai tali kepala merah putih. Tekniknya bagus. Siapa ya namanya?" Hinata yang sengaja bercanda, berjongkok di sebelah kanan Sasuke yang duduk berselonjor dengan ditopang tangan kanannya.

"Hyuuga Neji." Sasuke menarik poni hinata sedikit. Kemudian bangun.

"Ummmm itu kakak ku." Hinata ikut berdiri.

"Ayo pulang. Sudah malam. Bagaiman dengan gol ku?"

"Hanya satu ah. Tidak seru."

"Hei aku bermain hanya sebentar. Lagi pula aku dedikasikan gol itu untukmu, bukannya terimakasih." Sasuke tidak melihat Hinata yang merona, ia justru sibuk membersihkan pakaiannya.

"Untuk apa…" Hinata semakin geer.

"Terimakasih karena menemaniku jalan-jalan."

"Oh."

Kembali mereka berjalan dalam hening, tidak ada yang membuka pembicaraan sedikitpun meski sebenarnya banyak yang mereka ingin tanyakan satu sama lain. Namun mereka begitu berhati-hati takut pertanyaannya akan menyakiti dirinya atau itu akan menyakitkan yang lain. Malam ini sangat kemajuan untuk mereka berdua, andai hubungan mereka baik-baik saja dari dulunya dan tidak ada yang bilang bahwa Hinata menyukai Sasuke. Malam ini pasti akan menuju suatu yang baik.

"Dulu Sakura pernah bilang emmm kau menitip salam untukku?" tanya Sasuke malu-malu.

"Ah? Tidak, aku tidak pernah mengirim salam untukmu. Sungguh."

"Oh" ada nada kekecewaan di sana.

Sunyi lagi. Keadaan ini bertahan sampai mereka di depan cottage Hinata. Kemana kehangatan tadi?

"Sudah sampai. Sepertinya acara barbeque sudah usai."

"Hu'um. Ini terimakasih." Seraya mengembalikan sweater Sasuke.

"Sama-sama. Terimakasih sudah menemaniku." Dijawab anggukan oleh Hinata dan kemudian Hinata hendak berbalik untuk masuk. "Ehh Ano Hinata. nomor telponmu?"

"Oh, masih yang dulu. Aku masuk dulu" Hinata pamit.

Sasuke POV

Aku hendak berjalan melewati cottage Hinata, tapi ada rasa enggan untuk menjauh. Keadaan tadi sungguh menyenangkan. Dia belum berubah, masih menyenangkan dan pemalu. Ternyata mengasikan mengobrol dengannya. Aku masih berdiri di depan cottagenya tanpa sadar aku bersandar di tembok di samping pintu. Masih ingin mendengar suaranya. Aku mendengar suaranya tapi dengan emosi yang berbeda.

"Sakura channnn, aku ini kenapa? Kenapa aku mau diajak jalan olehnya? Aku sangat menyukainya Sakura chan…. Hiks" Hinata memeluk Sakura.

"Hinata kau kenapa?" tanya Tenten, Ino, dan Temari bersamaan.

"Hikz hikz. Aku menyukai saat dia berdiri di depanku, dia duduk di sampingku, aku menyukai saat dia menatapku, aku menyukai setiap detik saat tadi aku jalan dengannya. Kenapa? Kenapa aku masih menyukainya Sakura chan? Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak lagi mencintainya? Apalagi aku tahu dia telah mempunyai kekasih. Aku harus menyerah, Tolong yakinkan aku. Aku tidak lagi mencintainya. Hikz hikz hikz"

Aku mendengar dengan jelas, aku yakin Hinata berada di balik pintu ini. Hatiku sakit mendengarnya, aku tidak rela mendengarnya. Tanpa sadar air mataku menetes begitu saja. "Jangan lakukan itu Hinata. tetaplah mencintaiku. Ku mohon." Aku berkata sepelan mungkin dan berharap Hinata mendengarnya.

Sasuke end POV

"Kenapa?" tanya Tenten panik sambil meletakkan barbeque yang dia pegang tadi. Langsung menuju Hinata yang tengah di peluk Sakura dan sahabatnya yang lain.

"Hanya satu orang yang bisa membuat Hinata seperti ini." Kata Ino pelan.

"SASUKE? APA SASUKE HAH? SAMPAI KAPAN SIH HINATA KAU BODOH HAH? SASUKE LAGI SASUKE LAGI SASUKE LAGI. DI SINI PUN KAU MASIH MENGINGATNYA HAH. Dia di Jepang Hinata, di sini banyak yang lebih tampan darinya. dan lebih baik tentunya" Tenten emosi. Memang dari yang lainnya Tentenlah yang sudah muak dengan Sasuke.

Sasuke mendengar itu jelas, jelas membuat dia muak. Dia kemudian pergi dari situ menuju hotelnya. Ia berjalan dengan kesal, kebodohan apa yang dia buat. Dia tidak ingin sangat tidak ingin itu terjadi, Hinata tidak lagi mencintainya. Tapi apa yang dia maksudkan? Bukankah egois. Dia tidak merelakan Hinata tidak mencintainya lagi, tapi dia tidak mau melepas Karin dan mencoba membalas perasaan Hinata.

"Kenapa hahhhh? Kenapa sekarang?" Sasuke berteriak dan menjambak rambutnya.

.

.

.

Beberapa waktu berselang, Sasuke pun sampai di kamarnya. Begitu banyak pikirannya. Ia harapkan bisa tertidur dan melupakan semua. Dan kembali lagi seperti lalu sebelum pertemuannya Hinata di Bali ini. Setelah masuk kamar hotelnya ia tidak langsung naik ke ranjangnya. Dia berdiri di depan pintu dan memandang gadis bersurai merah bata yang sedang tertidur pulas di atas kasurnya.

'Aku menyayanginya, tidak mungkin. Apa yang aku pikirkan? Aku yang mendekati Karin, aku menyayanginya. Meski ku akui ada unsur Hinata yang membuatku mendekatinya. Tapi saat ini? Aku sudah benar menyayanginya. Tapi Hinata? apa aku menyukainya…. Haaahhhh kenapa sekarang.'

Sasuke terus membatin sambil di tatapnya wanita yang sedang tertidur itu. Ia menundukkan kepalanya seperti menyerah akan sesuatu atau kecewa akan sesuatu. Ia berjalan pelan menuju kasur dan tidur di samping gadis itu. Ia tatap langit-langit kamarnya, memikirkan dan membayangkan kembali yang baru saja ia lakukan. Berjalan berdua dengan Hinata, entah kenapa itu sangat menyenangkan meski kebanyakan diam tapi atmosfernya sangat hangat. Mengingat lagi tadi saat ia menatap mata bulan itu, pertama kalinya dan sangat memabukkan. Bercandaannya dengan Hinata tadi, pertama kali dan sangat menyenangkan. Perbincangannya dengan Hinata tadi…. Ahh Sasuke tersadar sesuatu…

"Tentu. Dan kau? Masih AC Milan?"

Teriang suara Hinata saat mengatakan itu. 'Darimana dia tahu aku menyukai AC Milan? Selain tadi kita tidak pernah mengobrol intens sebelumnya. Bagaimana…' Sasuke membatin dan membuka matanya menyadari kejanggalan itu. Apa Hinata mencari tahu tentangnya?. Senyum mengembang di wajah pria stoic itu. Ia ambil handphonenya…

To : Hyuuga

Hinata, terimakasih sudah menemaniku jalan tadi. Aku harap kau bahagia di Bali ini, dulu aku berharap bisa datang ke sini bersamamu. Dulu, sembilan tahun lalu. Aku harap kau jangan berhenti mencintaiku, itu menyakitkanku. Jangan menangis lagi, tidurlah sudah malam. Selamat malam.

Sasuke baca berulang isi smsnya, tapi enggan juga ia mengklik tombol send. Lalu ia hapus semua isi smsnya itu.

To : Hyuuga

Terimakasih, sudah menemaniku jalan tadi. Good nite n sweet dream.

Sending sms.

Lalu ia buang handphonenya di atas desknya di samping ranjang begitu saja.

"Sasuke-kun, sudah pulang?" Karin dengan mengantuk mencoba memeluk Sasuke yang berada di sampingnya.

"Hn." Sasuke menoleh dan membiarkan Karin memeluknya.

"Dari mana? Tidak dengan gadis lain kan?" Karin manja.

"Hanya menonton permainan bola api dan sebentar mampir makan saja." Sasuke memeluk balik Karin.

Tiba-tiba saja Karin mencium bibir Sasuke. Sudah biasa Karin melakukannya. Ciuman singkat karena Sasuke menyudahi ciuman itu.

"Maaf aku membangunkanmu." Sasuke berkata pelan.

"Tidak apa. Ummm, kita sudah jauh dari Jepang dan hanya berdua." Karin mengelus-elus dada bidang Sasuke yang terbalut Kaos biru lautnya. "Bukankah ini moment yang pas untuk kita? Jika kau menginginkanku aku siap." Kata Karin sambil menelusupkan tangannya ke bagian perut sixpack Sasuke.

"Karin, Sudahlah. Kau tidur lagi yah. Aku pun sudah mengantuk." Sasuke mengerti maksud pembicaraan Karin. Bukan kali ini saja Karin mencoba merayunya.

"Kau selalu begitu. Kau tidak pernah menyentuhku lebih, sebenarnya kau menyayangiku tidak sih Sasuke-kun?" Karin menjauhkan dirinya dari Sasuke. "Berapa tahun kita berpacaran dan sekalipun kau tidak pernah mengajakku bercinta." Karin menumpahkan amarahnya dan menangis.

Sasuke merengkuhnya dan memelukknya hangat. "Aku menyayangimu, tapi bukan dengan itu aku membuktikan sayangku. Aku tanya, apa kau pernah melakukannya pada pacarmu sebelum aku?"

Karin menggeleng dalam dekapan Sasuke. Sasuke mengelus surai merah itu dengan kasih "Nah, maka dari itu. Aku tidak mau melukaimu. Aku akan menjagamu."

"Tapi, teman-temanku sudah melakukan 'itu' semua. Hikz" kata Karin lirih.

"Biarkan saja. Kau harus berbeda. Aku menyayangimu yang seperti pertama bertemu lugu, lemah, dan cantik. Bukan seperti teman-temanmu."

Mendengar penuturan itu Karin memeluk Sasuke erat dan kembali tertidur di dalam dekapan pemuda Uchiha itu.

Drrrttt Drrrtttt

Dengan hati-hati Sasuke mengambil handphonenya yang bergetar agar tidak membangunkan Karin yang sedang ia dekap.

From : Hyuuga

Sama-sama Sasuke. Nice dream too.

Setelah membaca pesan itu kemudian Sasuke menghapusnya dan menghapus kotak keluarnya untuk Hinata tadi. Lalu ia letakkan lagi handphonenya ke desk itu dan berusaha ikut tidur bersama Karin.

.

.

.

TBC

Hummmm, ngebut bikinnya karena minggu depan dan kedepan-depannya lagi akan sulit mampir k FFn. Jadi chap dpan lama yah. . hehe. Semoga chap dua ini bisa di senangi. .^^

Arigatou sama readers yang udah bersedia riview d fic q ini.

.16718979 : Terimakasih Ripiunya. . ini saya lanjut, smoga bisa di terima.

Echi chan : Ga pisah say, mreka belum pernah jadian. Iya ngapain sih ada Karin, nyebelin. . huh. Thx yah Echi. .

Wely : sama oh no for SasuKarin. . hehe thx nee chan

Yafa mut : ini saya lanjut. . smoga bisa di terima.

Bluerose : Aku juga mau ke Bali kalo mereka ada di sana. . hehe ini sya udah lanjut yah. .

Anne Garbo : Heeee, trimasih Anin. . ini udah di jawab yah apa Sasu dah tau atau belumnya.

Tomo-chan s : Trimasih dah klik Fav dan ripiu fic q. . slam kenal dr sya tomo-chan s ^0^

Guest : ini saya updte. . gmn?

n : Heee, ia sengaja cz takut kangen sm FFn nanti. . dan ini sya updte lg cz minggi dpan dn entah brp minggu k dpan pst akan snagt sibuk. . hehe mksh yah. Bdw Author Violeta yg mna? Fic'y apa? Cyp tw nt bsa jd sensei q dy nnti. . hee

Aisanoyuri : di tunggu ajah yah. . mksh bnyk yah Ai. . hehe

Terimaksih ntk semuanya. . terus berikan kritik dna saran ntk saya. Karna saya masih berusaha ntk lebih baik ke depannya.

Don't Forget

RIVIEW