Fort Malborough Ghost Story by Jun Kunihiro

Disclaimer : Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki-sensei & Touken Ranbu © DMM Games & Nitro+. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam fanfiksi ini.

Warning : gaje, OOC parah, absurd, ide nista, mengandung unsur promosi, seiyuu jokes, de el el.


"Gelap banget-ssu." keluh Kise. "Aku jadi ga bisa lambai-lambai narsis nih!"

"Hoi, ini bukan selfie." sahut Izuminokami. "Emang lu mau selfie sama siapa? Makhluk astral?"

"Barangkali ada cewek cantik melipir ke sini. Siapa tau bisa minta nomor teleponnya trus chattingan."

"Sakarepmu lah." Izuminokami cuek dan melanjutkan perjalanannya sambil membawa lilin.

"EEEEH?! JANGAN TINGGALIN AKU-SSU!" Kise nangis bebek sambil mengejar Izuminokami. "GELAP TAU! AKU BUTAAAA!"

"Siapa suruh lo bales pesan fans?!" tensi Izuminokami naik.

"HUEEEEE..." Kise nangis kayak anak kecil ga dibeliin mainan.

"BERISIK LO, DUREN BANGKOK!"

Oke, Kise makin durjana. Izuminokami sendiri membawa lilin sambil melihat sekeliling, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.

Sementara itu...

"Aku ga yakin mereka bakal lolos dari hantu-hantu bawah tanah itu." ucap Kasamatsu.

"Kenapa, Kasamatsu-san?" tanya Horikawa.

"Habisnya, tahanan yang ditahan dan disiksa banyak banget di benteng ini," jawab Kasamatsu. "Dan aku punya feeling Kise bakal masuk RSJ habis ini."

Horikawa merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Ditambah lagi..." Kasamatsu menyambung kalimatnya. "Bangunannya tidak berubah. Persis aslinya, jadi bisa saja kau melihat bercak darah di setiap temboknya."

"Gile, Mak! Kenapa benteng ini serem banget?!" Horikawa berteriak diiringi keringat dingin. Saking derasnya, itu keringat dingin netes-netes sampe bikin bangsa jangkrik yang lagi dinas malam langsung cabut begitu saja. Kasamatsu langsung sweatdrop.

"Ssst! Jangan teriak malam-malam!" bisik Kasamatsu.


Kise dan Izuminokami masih berjalan dengan tenang. Izuminokami masih memegang lilin sementara Kise sibuk foto-foto ruang bawah tanah. Buat oleh-oleh buat fans katanya. Sebenarnya ga ada izin buat ambil foto ruang bawah tanah, tap kita langgar aja deh daripada tangis bombaynya keluar lagi. Kan, aturan dibuat untuk dilanggar.

"Kanesada-kun, liat deh!" panggil Kise.

"Apa?" Izuminokami balik arah untuk menghampiri Kise.

"Coba liat deh. Kayaknya ada yang aneh sama foto ini-ssu." Kise memberikan ponselnya kepada Izuminokami.

"Eh... hah?!" Izuminokami kaget. "Kok ada penampakan bule ya?"

"Iya, kan? Aneh banget." Kise bingung. "Aku tadi foto ga ada apa-apa kok."

Kedua manusia itu membeku di tempatnya dan mulai keringat dingin. Ketika Kise akan berjalan, ia merasakan ada sesuatu yang mencengkram kakinya. Ketika dilihat...

1 detik...

2 detik...

3 detik...

"INNALILAHI WA INNALILAIHI ROJIUN!" terdengar jeritan senyaring siamang di ruang bawah tanah itu. Ketika Izuminokami melihat sosok yang mencengkram kaki kawan kuningnya, dia spontan berlari.

"JANGAN LARI, NYING!" Kise langsung menarik rambut Izuminokami yang panjangnya nyaingin Rapunzel. "TOLONGIN GUE! GUE GA BISA JALAN!"

"DERITA LO!" teriak Izuminokami yang kesakitan akibat rambutnya ditarik-tarik kayak tali tambang. "LEPASIN RAMBUT GUE! SAKIT TAU GA?!"

"KANESADA KAMPRET, GUE PENGEN NANYA! MAKHLUK YANG PEGANG KAKI GUE SIAPA?!"

"ITU HANTU TAHANAN YANG DISIKSA SAMPE MATI TAU! CEPETAN LARI!"

"GIMANA MAU LARI KALO KAKI GUE DIPEGANG?!"

Mereka sibuk mencari cara agar si hantu mau melepaskan kaki Kise. Untung aja Izuminokami berhasil melepaskan Kise dengan selamat.


"Gila! Orang sini ga bohong! Ruang bawah tanah ini beneran serem!" ujar Izuminokami.

"Tapi aku yang jadi korbannya-ssu!" sahut Kise kesal. Izuminokami mendecih.

Akhirnya hantu yang memegang kaki Kise tidak lagi mengejar-ngejar mereka. Mereka ambil napas sejenak dan berhenti di tembok yang berlumuran darah.

"Kise, lihat ke sini deh," Izuminokami menghampiri tembok yang berlumuran darah. "Kayaknya pihak pemerintah setempat sengaja enggak memugar benteng ini. Jadi, semuanya lestari sesuai dengan aslinya."

Izuminokami menoleh ke arah Kise karena merasa Kise tidak mendengarkannya. "Oi Kise, kau dengar ga?"

"Ka-Kanesada-kun... tanganmu..." Kise pucat pasi sambil menunjuk tangan Izuminokami. Izuminokami melihat tangannya dan terkejut karena tangannya sudah berlumuran darah.

Tap... tap... tap...

"Siapa yang jalan malem-malem gini, sih?" Izuminokami menoleh dan..

BAAAA!

Ga ada siapa-siapa!

TAP... TAP... TAP...

Suaranya makin lama makin dekat.

"Se-se-se..." Kise terbata-bata. "SETAAAAAN!"

Kise langsung berlari kayak dikejar anjing sambil menarik tangan Izuminokami. Ketika mereka berlari, tiba-tiba sosok pemuda yang bersimbah darah menghampiri mereka dan memperlihatkan wajahnya yang hancur. Spontan mereka langsung histeris.

"MAAAAAK! PENGEN PULANG, MAAAAK!" Kise nangis-nangis.

"HAYATI GA KUAT! HAYATI NYERAH AJA!" teriak Izuminokami sambil lambai-lambai tangan ke arah kamera. "KUNIHIRO, TOLONG GUE!"


"Kayaknya mereka udah ga kuat lagi di sana." kata Ishikirimaru.

"Ayo kita datangi mereka." ucap Kasamatsu. Dia bersama Horikawa dan Ishikirimaru langsung masuk ke ruang bawah tanah untuk menolong dua manusia tersebut.

Di tempat lain...

"Kise payah," ujar Aomine. "Gitu aja takut."

"Didatengin hantu cewek Inggris baru tau rasa lu." sahut Midorima. Aomine mingkem.

"Kalian diamlah." Kashuu memberikan isyarat diam. "Kita akan mendengarkan cerita dari Kanesada dan Kise nanti."

"Ah, mereka datang." Kagami menunjuk segerombolan orang yang sedang menuju ke atas benteng lalu menghampiri mereka. "Hoi, kalian ga apa-apa?!"

"Ga apa-apa nenek moyang kau!" muncul urat nadi dari jidat Izuminokami. "Jantungku berdetak kencang kali gara-gara setannya selalu menerorku dan manusia duren ini lah!"

"Tadi ada sosok menyeramkan yang memegang kakiku, Kagamicchi!" kali ini Kise yang bersuara.

"Eh? Serius lo?!" Kagami cengo.

"Sumpah, ga bohong aku." tukas Kise. "Terus tangan Kanesada-kun sempat berdarah pula."

"Tapi pas mereka lambai-lambai tangannya ke kameranya, ga ada darah dari tangannya." Ogiwara bingung.

"Nah itu, kayak sekejap saja darahnya menghilang-ssu." jawab Kise.

"Omong-omong, siapa giliran berikutnya?" tanya Takao.

"Jelas kan? Aomine dengan Sengo." jawab Kasamatsu. "Momoi, Tonbokiri, tolong kawal mereka."

"HOI! KENAPA HARUS GUE?!" Aomine kesel.

"Karena kau dapat undian kedua." jawab Nagasone flat.

"Good luck, Aominecchi/Aomine!" Kise dan Kagami pasang pose cheerleader. "Semoga ketemu cewek bohay di sana!"

"Anjir." umpat Aomine.

"AWWWW, TUNGGUIN AKU DONG, COWOK EKSOTIS CAKRABIRAWA PARIPURNA~" Sengo langsung peluk Aomine.

"LEPASIN! GUE BUKAN MAHO!" Aomine tendang Sengo dan Sengo terpental dengan indahnya.

"Dasar cowok zahat!" Sengo buang muka sambil cemberut.

"Idih, cucok deh~" ledek Takao.

"GUE GA BELOK!" teriak Aomine.

"Awas aja kalo lu datengin tempat mangkal banci habis pulang dari sini." tukas Momoi.

"GUE MASIH NORMAL! GUE MAU CEWEK BOHAY BUKAN CEWEK JADI-JADIAN!" Aomine makin kesel.


"Oke, sama seperti Kane-kun dan Ki-chan. Kalian harus tinggal di ruang bawah tanah ini selama 2 jam. Jika berhasil, dapat hadiah. Kalau menyerah, silakan lambaikan tangan ke kamera yang ada di semua sudut ruangan ini." jelas Momoi.

"Berjuanglah semuanya. Jika ada apa-apa, kami selalu siaga kok." ujar Tonbokiri.

Aomine dan Sengo mulai memasuki ruang bawah tanah dengan membawa 1 lilin, seperti uji nyali sebelumnya.

~ Bersambung ~

Notes : Maaf banget kalo lanjutannya baru ada beberapa bulan ini. Saya sendiri udah makin jarang nulis karena kesibukan saya sebagai murid kelas 12. Fokus saya saat ini lebih ke dunia seni dan belajar buat ujian.

Anyway, kita akan penentuan nasib Aomine dan Sengo di chapter berikutnya!

See you next time!

Jun Kunihiro.