CHAPTER 2
Mata biru itu tak hentinya berkilat ketika sosoknya memasuki rumah yang kini menjadi kepunyaannya. Naruto melangkah pelan menikmati pemandangan menakjubkan dalam rumah tersebut. Rumah yang besar untuk dia tinggali sendirian, sepertinya membuat harem bukan ide buruk selain untuk membangkitkan klan juga ada banyak ruang di rumahnya yang besar ini sehingga dia tidak kesepian. Setelah puas berkeliling Naruto memutuskan untuk menemukan satu ruang rahasia milik ayah dan ibunya. Beruntung otaknya yang tiba tiba menjadi jenius menemukan arti sandi yang di tulis Minato dalam gulungan. Melangkah ke ruang tidur utama yang juga menjadi tempat tidurnya kelak,Naruto segera mencari segel yang tersembunyi di salah satu dinding kamar itu. Setelah beberapa lama akhirnya segel itu di temukan,dengan beberapa segel tangan dan sedikit darah sebuah ruangan serupa perpustakaan mini terbuka di depan Naruto. Hal yang di lihat Naruto membuat Naruto membulatkan mata,ratusan gulungan yang Naruto percaya berisi berbagai macam ninjutsu dan fuinjutsu tersaji di depan matanya. Keinginan untuk melahap semua pengetahuan yang ada di depannya terpaksa harus di tahan karena Naruto yakin jika dia menuruti keinginannya akan menimbulkan kecurigaan yang berakibat terbongkarnya rahasia ini dan dia belum ingin rahasia itu terbongkar sekarang.
Hari sudah beranjak sore ketika Naruto meninggalkan lokasi misterius yang tak lain adalah wilayah klannya itu. Dengan hati yang begitu gembira Naruto berjalan kembali ke apartementnya. Senyum mengembang di bibirnya saat tangannya menepuk kantong ninja,tempat dia menaruh beberapa gulungan yang dia ambil dari ruang rahasia miliknya. Naruto berharap segera tiba di apartement dan mempelajari gulungan tersebut termasuk satu diantaranya HIRAISHIN jutau legendaris milik Kiiroi senko no konoha Minato Namikaze.
Jalanan di Konoha tampak lenggang, sepasang pemuda pemudi sedang berjalan perlahan. Keduanya tampak canggung setelah bersamaan meninggalkan gedung Hokage. Kesunyian nyata diantara mereka karena sifat mereka yang mendukung. Sekilas sosok pemuda berambut raven dengan model pantat ayam mencuri pandang ke pemudi berambut indigo yang tampak malu malu di sebelahnya.
"Hinata." Pemuda itu memanggil teman berjalannya karena dia merasa risih sedari tadi hanya diam.
"Sa Sasuke! ada apa?"
"Kenapa malam begini kamu pergi ke kantor Hokage."
"Aku hanya mengantar surat dari Tousama."
"Hei kenapa sendirian? Kamu tidak minta tolong dobe?"
"Na Naru Naruto-kun sedang ada urusan dari Tsunade sama jadi aku pergi sendirian." dengan menundukkan kepala menyembunyikan rona wajahnya.
Sasuke yang melihat sepintas rona wajahnya terpaku karena merasa Hinata cantik. Seketika itu muncul niatnya untuk memiliki Hinata menjadi miliknya, tidak peduli Hinata adalah kekasih Naruto.
"Bodoh."
"A apa yang Sa Sasuke katakan." Hinata terkejut.
"Bahaya kau pergi malam sendirian." Sasuke berkata sambil tangannya mencoba memegang tangan Hinata. "Bagaimana kalau ada yang berniat jahat padamu."
Hinata yang mendengar itu hanya bisa tersenyum kecut. Walaupun dirinya sudah diakui sebagai salah satu kunoichi yang tangguh apalagi statusnya sebagai kekasih ninja terkuat di elemental nation setidaknya itu akan membuat pelaku kejahatan berpikir panjang. Namun saat ini Hinata merasakan ada sedikit kenyamanan di balik ungkapan Sasuke.
Tak lama kemudian mereka tiba di depan gerbang Hyuuga mansion. Setelah berpamitan Sasuke meninggalkan Hyuuga mansion dengan seringaian yang aneh. Nampak mata Sasuke berkilat saat melirik Hyuuga mansion sambil mengingat ketika dia menyelamatkan Hiashi Hyuuga. Aku akan memilikimu Hinata. Kamu adalah wanita pilihanku untuk meneruskan klan Uchiha. Kamu yang akan menjadi ibu anak anakku bukan gadis pink yang menyebalkan itu. Akan ku manfaatkan pertolonganku pada tousanmu untuk menjadikanmu sebagai istriku. Aku tak peduli cintamu pada Naruto karena kamu akan membuat keturunan Uchiha menjadi yang terkuat dan istimewa hehehehe batin sasuke menyeringai mengingat rencananya.
Segala yang kita lihat dengan mata dan kita dengar dengan telinga tidaklah menjadi sebuah kebenaran,selalu ada hal hal yang tersebunyi. Di balik keputusan Sasuke kembali ke Konoha masih tersimpan beberapa hal buruk yang dia tutupi dengan topeng kepura puraan.Seakan nampak bahwa Sasuke sudah bertobat dari ambisi ambisi yang salah namun pada kenyataannya dia memiliki ambisi yang baginya terbaik namun malapetaka bagi orang lain. Ego tinggi seorang Uchiha membuatnya membutakan mata akan segala hal yang baik dan benar termasuk merebut kekadih seseorang yang sudah menganggapnya sebagai sodara. Sasuke tidak peduli akan kebaikan orang lain yang dia lihat hanya keinginan dan ambisinya. Tak heran tim taka yang dulu dia bentuk kini seolah dia campakkan terutama seorang gadis berkacamata,bersurai merah maron dengan kecantikan yang tak kalah dengan Sakura. Karin uzumaki, ya itu nama gadis yang sebelumnya pernah hampir di bunuh Sasuke dan kini di campakkannya.
Hari ini Sasuke mengunjungi Hyuuga mansion setelah mengetahui Hinata pergi ke rumah sakit membantu Sakura yang kerepotan karena ada beberapa orang shinobi yang kembali dari misi dengan terluka parah. Setelah meminta ijin kepada penjaga gerbang yang juga mengantarkannya ke ruang tamu,Sasuke bersiap menjalankan rencananya bertemu Hiashi Hyuuga dan para tetua Hyuuga. Setelah menunggu beberapa saat nampak Hiashi dan tetua klan Hyuuga memasuki ruangan tempat pembicaraan akan berlangsung.
"Maafkan keterlambatan kami menemui anda Uchiha-san." salah satu tetua Hyuuga berkata sambil memperhatikan Sasuse.
"Ah maafkan ketidaksopanan kami. Silahkan duduk dan menikmati teh anda sebelum meneruskan pembicaraan." Hiashi mempersilahkan Sasuke untuk duduk di tempat yang di sediakan.
"Tak perlu Hyuuga-san. Aku datang untuk meminta Hinata menjadi istriku."
"Apa maksudmu? Hinata adalah calon istri Uzimaki-san" salah satu tetua Hyuuga terkejut dan tidak percaya perkataan Sasuke.
"Aku tidak peduli. Yang aku minta Hinata mendi istriku."
"Aku menolaknya. Maaf Uchiha-san. Anda bisa memilih gadis lain karena Hinata akan menikah dengan putra Yondaime-sama."
"Kau lupa Hyuuga-san. Kau berhutang nyawa padaku. Kalau aku tidak menyelamatkanmu sekaramg kau tidak ada disini dan putri putrimu musnah di bulan." Perkataan Sasuke sontak membuat Hiashi menjadi marah juga para tetua menjadi geram. "Aku bisa membunuhmu dan membantai klan Hyuuga. Pihak Konoha dan Naruto tidak akan tahu dan ikit campur. Kau pikir aku tidak memikirkan matang matang." lanjut Sasuke dengan mata rinnesharingan yang sudah aktif.
" Kau benar benar brengsek uchiha." Hiashi benar benar marah.
"Aku memberimu waktu untuk berpikir,tentukan jawabanmu dan itu menentukan nasib semuanya." setelah mengatakan hal itu Sasuke pergi dengan sunshin. Sepeninggal Sasuke,Hiashi terduduk lemas memikirkan keputusan apa yang akan dia ambil.
"Sialan Uchiha itu. Entah apa yang dia lakukan pada Naruto dan Hokage. Bahkan dia mampu memanipulasi semua orang selama dia inginkan." Seorang tetua mengepalkan tangan menahan emosi yang mengelegar dalam dadanya.
Di lain tempat,nampak Naruto memasang muka tegang. Setibanya di lolasi tersembunyi klannya,dia sudah di tunggu oleh Tsunade senju dan dua orang anbu.
"Narutooooooo...!" Tsunade mengepalkan tangannya dan perempatan halus muncul di dahinya.
"Gomen Baachan, aku benar benar lupa untuk membuka sedikit segel. Aku terlalu asyik dengan peninggalan dari Tousan dan Kaasan." Naruto menggaruk belakang kepalanya sambil berharap tidak ada tinju kasih sayang dari Tsunade.
Tsunade menghela nafas mendengar alasan Naruto. "Tak biasanya kamu mau repot seperti itu Naruto."
"Aku rasa mencari ilmu sebanyak yang bisa aku lakukan itu akan berguna Baachan. Yah walaupun aku terlambat menyadarinya sih." Sahut Naruto sambil membuka segel yang memungkinkan anbu neko dan tora kepercayaan Tsunade dan Tsunade sendiri bisa keluar masuk rumahnya dengan bebas.
"Tumben Naruto." anbu neko yang sedang membawa suatu tumpukan memandang Naruto seakan akan tidak percaya ketika mendengar ucapan Naruto.
"Hehe. Mempelajari sesuatu yang baru itu sangat mengasyikkan. Aku rasa aku akan mulai memaksakan otakku untuk menjadi jenius seperti Shikamaru." Naruto berkata sambil mengambil sebuah gulungan di kantong ninjanya sebelum memasuki rumahnya.
"Astaga sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tsunade heran melihat perubahan Naruto yang menjadi tenang padahal selama ini terkenal berisik.
"Nah silahkan duduk Baachan. Aku hanya mulai berpikir untuk memperbaiki kekuranganku. Aku merasa bahwa selama ini aku hanya membuang waktuku sia sia dengan bertingkah konyol. Ah ya aku lupa, aku ingin belajar kenjutsu padamu Yugao-nee yang ter-.." belum menyelesaikan perkataannya tiba tiba sebuah jitakan kasih sayang mendarat dengan mulus di kepala Naruto
"Baka, panggil aku neko ketika sedang bertugas anbu Naruto." anbu neko aka Yugao mengepalkan tangannya yang telah memberikan sebuah bentuk kasih sayang.
"ha'i." Naruto mengelus elus tempat jitakan anbu neko.
"Kamu bisa belajar dengan neko setiap akhir pekan namun apa yang membuatmu ingin belajar kenjutsu Naruto?" Tsunade heran melihat Naruto.
"Ma aku hanya ingin seperti Kaasan yang ahli kenjutsu. Aku semalam membaca tentang kenjutsu klan uzumaki dan ingin menguasainya sehingga untuk dasar dan praktik awalnya aku ingin belajar pada neko supaya aku bisa memahami tulisan Kaasan tentang kenjutsu. Lagipula Kaasan mewariskan Uzu no ken." setelah berkata demikian Naruto masuk ke sebuah kamar dan mengambil sebuah kotak panjang. Setelah meletakkan di hadapan Tsunade, Naruto membukanya perlahan. Nampak sebuah katana yang indah dengan bilah tajam bewarna hitam kemerahan dan pegangan tangan futuristik yang berhiaskan ukiran lambang uzumaki.
"Tsunade-sama i ini... !" anbu neko terbata melihat pedang itu.
"Uzu no ken pedang yang setara dwngan kusanagi. Sudah lama aku tak melihatnya semenjak Mito Baa-sama menunjukkan padaku." Tsunade berbinar sedikit air mata membasahi pipinya.
"Dan aku ingin Baachan membaca gulungan ini." Naruto memberikan sebuah gulungan kecil berlambangkan uzumaki.
"I ini tidak mu mungkin. Dari mana kamu mendapatkan gulungan ini." Tsunade membulatkan mata melihat isi gulungan itu.
"Maaf aku tidak bisa mengatakan sekarang. Isi gulungab itu apa adanya,hanya darah uzumaki yang bisa membuka gulungan itu. Bukankah kau juga masih keturunan Uzumaki Baachan?"
Pecahlah isak tangis Tsunade,kedua anbu hanya bisa heran melihat Tsunade memeluk gulungan itu begitu erat.
"Aku mempercayainya Baachan namun aku tidak akan membalasnya. Lingkaran dendam hanya akan membawa kesengsaraan dan masalah yang tak kunjung usai." mendengar ucapan Naruto yang tenang membuat Tsunade teriris hatinya.
"Naruto, maaf maafkan apa yang telah desa ini perbuat. Aku tidak menyangka ada rahasia sekelam itu. Danzo sudah mati maka aku akan membuat perhitungan dengan koharu dan homura."
"Baachan sudahlah, yang lalu biarlah berlalu saatnya memulai lembaran baru. lagipula aku sekarang tidak sendirian ada Baachan disini."
"Maafkan Baachan Naruto seandainya aku tahu kenyataan ini mungkin kamu tidak menderita sewaktu kecil."
Naruto hanya terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya. "pengkhianatan halus desa Konoha yang diberikan sewaktu aku kecil dengan mengabaikan dan menyembunyikan identitas asliku dan membuat aku hidup bagaikan di neraka menghasilkan aku yang sekarang Baachan. Semua akan indah pada waktunya walaupun semua nampak kelam namun aku tahu ada cahqya di balik semuanya."
Tsunade menghela nafasnya. Syukurlah Naruto berkembang menjadi orang yang baik. Aku tak menyangka kehancuran desa uzushiogakure akibat pengkhianatan para veteran perang dunia shinobi. Desa inipula mengkhianati wasiat Minato tentang Naruto yang membuatnya mengalami masa kacil yang menyedihkan. Kali ini aku yang akan menjagamu Naruto sebagai nenekmu. Tak kusangka Naruto masih memiliki hubungan darah dengan Mito Baa-sama. Tsunade tersenyum melihat Naruto yang sedang asyik berbicara dengan anbu neko memberikan sedikit waktu untuknya menenangkan diri dan berpikir.
TBC
update kilat selagi mood nulisnya masih ada dan idenya masih nyangkut. maaf kalau alurnya lambat dan monoton.
