Chapter 2

.

.

.

Segerombolan gadis memekik keras saat Jimin yang baru berangkat sekolah pagi itu melewati gerombolan gadis-gadis itu. Sementara Jimin sendiri hanya melirik sekilas sambil menyeringai sedikit ke arah mereka. Akibatnya beberapa dari mereka nyaris pingsan saat Jimin melakukan smirk manja ke arah mereka. Jimin sendiri begitu bangga pada dirinya sendiri, setampan itukah dirinya sampai mereka sebegitu nya saat melihatnya. Ia sendiri memilih melenggang cuek tanpa perduli pada gadis-gadis yang terus-terus meneriakinya. Semakin hari fans nya makin banyak saja ya, maklum ia kan makin hari makin keren, padahal biasanya tidak sebegitunya sih.

"Jiminieee oppaaa, i love youu"

"Mau dong smirk lagiiii"

"Jiminiee oppa kiyowoo"

"Pangeran kuuuu"

Lebay! Batin Jimin. Ia memilih tidak mau peduli. Dan masuk kelas dengan wajah super songong yang benar-benar menyebalkan yang sudah paten miliknya itu, yang sialnya menurut gadis-gadis sangat tampan. Jimin duduk di bangku miliknya yang berada di pojokan. Ia memainkan ponsel miliknya. Selama ia di kelas sebenarnya ia menyadari teman wanita di kelasnya sedang menggosip tentangnya.

"Lama-lama Jimin aku perhatikan makin tampan ya"

"Dia juga makin cute "

"Lihat badanya juga makin seksi"

"Walaupun pendek tapi entah kenapa aku makin suka"

"Jangan bilang dia seksi dong aku jadi mikir kemana-mana nih"

"Kau horny yaa"

"Kau sih ngomong Jimin seksi aku jadi panas begini"

"By the way aku juga, kyaaaaa!"

"Tuhkan kalian mikir kemana-mana!"

Jimin bahkan nyaris tertawa ngakak saat mendengar cerita gadis-gadis yang sepertinya kekurangan asupan pisang itu. Menggosip di dekat orang yang di gosipkan, wow mereka benar-benar pintar, sebegitu parahnya ya, kekurangan pisang sampai membuat otak mereka jadi mengecil begitu. Jimin melengos tidak peduli. Tidak sengaja, Matanya melirik ke arah pojok kanan, matanya tidak sengaja bertemu tatap dengan bocah aneh yang sangat pendiam dan misterius namanya Kim Taehyung kalau tidak salah, Jimin sendiri tidak pernah bicara dengan Taehyung mereka hanya tahu nama satu sama lain padahal Jimin sadari semenjak kelas satu mereka selalu sekelas di saat teman-temanya sudah berpencar mereka tetap satu kelas. Bocah itu sangat pendiam, penyendiri , misterius dan kadang-kadang terlihat konyol sih, kabarnya Taehyung itu suka bicara sendiri, bisa melihat hantu, bisa melihat alien. Mendengar gosip itu Jimin hampir tertawa keras, sekonyol itukah anak itu. Bocah itu menatap Jimin dengan sangat tajam, Jimin yang di tatap seperti itu jadi salah tingkah sendiri. Kenapa Taehyung menatapnya seperti itu sih? Apa dia tidak suka padanya? Atau dia sejenis spesies hatersnya, begitu? Jimin memilih melengos cuek, biar saja lah mau di apakan juga ia memilih fokus ke ponsel canggihnya, membalas pesan dari fansnya, Seulgi dan tidak lupa dari gebetanya yang lain tentunya, tapi matanya tidak fokus ia melirik ke bangku Taehyung lagi.

Tuh kan?

Kenapa dia masih menatap dirinya dengan wajah menyeramkan seperti itu sih. Jimin ingin menegurnya kenapa dia manatapnya seperti itu tapi gengsi dong masak Jimin mendekati cowok aneh seperti Taehyung yang imagenya sudah sangat abnormal. Ia memilih tetap konsen pada ponselnya, jangan menoleh ke kanan! Tidak! Jimin tidak takut, ia hanya risih di tatap seperti itu!

Tak lama Lee Seongsaenim masuk ke kelas. Jimin dengan malas melirik ke arah gurunya yang baru datang itu. Semua murid memperhatikan ke depan untuk memperhatikan pelajaran Biologi. Namun Jimin mencoba melirik lagi ke arah bangku bocah aneh itu, dan ternyata bocah itu masih menatapnya dengan mata memicing tajam seperti ingin membunuh..

Jimin akui ia sedikit merinding..

.

.

Saat istirahat Jimin memilih tiduran di uks, gila saja baru keluar kelas kerumunan gadis-gadis agresif itu mengejarnya dengan brutal. Mereka menawarinya berbagai makanan, ia sendiri senang sih kalau di tawari banyak makanan ia sendiri suka makan terlebih lagi gratis. Tapi jika cara menawarinya dengan berteriak-teriak Jimin muak juga. Alhasil Jimin memilih tiduran di uks yang sangat sepi ini,omong-omong tempat ini cocok untuk melakukan-ahh tidak ia malas ia ingin sendiri sekarang, Jimin jadi memikirkan sesuatu sekarang. Kalau di pikir-pikir kenapa setelah mimpi aneh itu gadis-gadis yang menyukai nya makin menggila dan banyak ya. Ia juga jadi sering di teror dengan berbagai sms dan telefon yang memberondong dari para fans wanitanya setelah mimpi itu. Apa mimpi itu benar-benar nyata ya? Ahh tidak itu tidak benar! Sejak kapan Jimin percaya tahayul, itu tidak mungkin!

Drtt

Drtt

Jimin mengeluarkan benda persegi itu dari sakunya.

Cute pinky Seokjin calling..

Dafuk! Menjijikkan sekali namanya! Demi Tuhan ia tidak pernah menamai kontak lelaki mengerikan seperti Seokjin dengan nama menggelikan seperti itu. Ia yakin ini ulah cabul kakak iparnya yang stres itu. Ia bahkan malas berurusan dengan lelaki freak itu. Lagipula perlu apa makhluk homo yang sialnya merupakan istri kakaknya ini menelfonya, huh? Ia homophobia ingat itu! Dengan malas ia menekan tombol hijau di ponselnya.

"Apa?" Sembur Jimin ketus. Ia begitu benci dengan lelaki sinting yang sedang menelfonya ini.

.

"Telpon balik"

Tutttt-tuttt

Sambungan telepon di putus. Bajingan keparat. Maunya apa sih orang ini? Jimin memilih tidak peduli dan mengabaikan perintah makhluk aneh itu. Lagipula harga pulsa ponselnya itu mahal kalii, jadi sia-sia dong kalau cuma untuk menelpon makhluk gaib semacam Seokjin.

Drrtttt

Tak lama Ponsel Jimin bergetar lagi dan dari orang ini lagi. Sialan kenapa orang ini menggangu sekali sih? batin Jimin.

"Halo" Jimin berkata datar.

.

"Kenapa kau tidak menelponku balik?" Tanya Seokjin dengan nada kesal yang di buat-buat,Jimin hanya mendengus cuek.

.

"Aku malas, Mau apa kau menelponku, huh?" Jimin langsung to the point, bahkan menjawab pertanyaan pemuda yang lebih tua dengan nada super judes.

.

"Hey bocah keparat! Apa seperti itu caramu menjawab pertanyaan dari orang yang lebih tua darimu huh?" Raung lelaki di seberang sana. Jimin memutar mata jengah.

.

"Lalu kau ingin aku menjawab seperti apa, ibu tiri?" Perkataan Jimin penuh penekanan hingga Seokjin emosi.

.

"Yakkkk, kenapa kau mengatai ku ibu tiri bocah sialan!" Pemuda yang lebih tua berteriak keaal.

.

"Lalu apa, tante girang?" Balas Jimin malas.

.

"Mulutmu sepertinya perlu di sumpal dengan bangku taman ya, mulutmu lancang sekali" desis Seokjin dengan nada mengerikan.

.

"Iya iya maaf tante" balas Jimin mengejek

.

"Tante gundulmu aku masih laki-laki kalau mata mu sudah buta, "

.

"Tapi kenapa kau lebih mirip Banci kaleng? "

.

"Yakkkk! Pendek sialan, adik ipar keparat, kutu busuk!"

.

"Kau masih ingin mengumpatiku, huh? Tidak ingin memberi tahu ku maksud menelponkuu, ku matikan nih" ancam Jimin. Seokjin tedengar mendengus. Ia pun menjawab.

.

"Kalau kau bukan adik dari suamiku sudah ku injak lehermu, huh! Nanti sore aku dan Namjoon akan ke pulang terlambat, kau mau di bawakan makanan apa bocah ?"

.

"Eumm, mungkin pizza, dan spaghetti atau mungkin.. terserah kau sajalah," jawab Jimin seadanya.

.

"Kalau terserahku aku lebih senang membawakanmu batu, anak manis"

.

"Lalu setelah kau berikan padaku akan ku lempar ke wajah sialanmuu, sudah lah aku malas dengan pembicaraan ini. Dan bawakan makanan enak! Ingat kalau kau masih ingin membawakanku batu aku jamin kau cerai dengan Si bodoh Namjoon itu oh ya bawakan aku tiba-tiba ingin makan dagi-"

Tut-tut-tut

Kok di putus sihh? Jimin membatin. Ternyata disini sinyalnya jelek, Padahal tadi ia ingin mengatakan pada kakak iparnya yang abnormal itu untuk membawakan daging panggang. Ia pun mencoba menelfon lagi nomor orang gila itu dengan terpaksa.

Pulsa anda tidak cuku-

Sialan! Kenapa pulsanya malah habis sihh?

Oh iya Jimin lupa, pulsanya memang baru saja habis tadi pagi..

Hehehe

Garing ya?

Emang nggak lucu sialan!

.

.

Jimin sedang duduk di santai di halte depan sekolahnya, jam pelajaran sudah habis sejak tadi. Sambil menunggu bis. Ia mendengar alunan musik hip-hop favorite nya melalui earpohone miliknya. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat duduk. Matanya menatap kendaraan yang lalu lalang di hadapanya. Ia juga mendengar beberapa kali kikikan manja beberapa gadis yang melewatinya, Jimin sendiri menanggapi para gadis genit itu dengan wajah cool andalanya.

"Kyaaaa!" Gadis-gadis itu menjerit girang.

"Tampanyaaa!"

Pesona nya memang tidak bisa terbantahkan semenjak mimpi itu sepertinya, ehh tidakk ia tidak sudi mengakui kalau mimpi itu benar! Lagipula tanpa mimpi dan kekuatan bodoh itu pada dasarnya fans nya sudah banyak. Pesonanya sudah membuat para gadis jatuh cinta padanya dan semua itu hampir terjadi pada setiap gadis yang lewat di depanya, mereka tersenyum mabuk saat Jimin balas melirik mereka. Tentu saja siapa yang akan menolak ketampanan Park Jimin? Dengan atau tanpa mimpi itu semuanya sama, Jimin sudah sangat mempesona, benar kan? Cihh, Kau memang, sangat narsis ya Park?

.

.

"Sok keren, dasar pendek sialan!" Umpatan penuh nada iri itu tidak sengaja di dengar oleh Jimin. Jimin melepas earphone miliknya. Saat Jimin menoleh, ternyata ia tidak duduk sendirian di halte itu, ada seseorang lagi yang cukup Jimin hapal itu siapa. Dia Kim Taehyung. Jimin mengangkat alis kirinya heran. Sejak kapan bocah aneh ini duduk disini? Perasaan tadi Jimin sendirian deh? Taehyung melirik Jimin yang kini menatap dirinya dengan heran. Kenapa bocah ini mengumpatinya. Sejak pagi tadi di sekolah ia beberapa kali menyadari kalau Taehyung itu menatapnya penuh dendam.

"Kau mengumpati ku?" Tanya Jimin dengan wajah menyindir. Taehyung yang di ajak bicara hanya diam membisu. Ia hanya melirik sinis ke arah Jimin.

"Aku tidak bicara padamu!" Jawab Taehyung ketus. Ternyata anak ini bisa bicara juga ya.

"Lalu bicara dengan siapa, hanya ada aku dan kau disini. Kau tidak mungkin mengumpati batu kan?"tanya Jimin santai.

"Terserah!" Taehyung menjawab sinis. Jimin tertawa renyah dengan respon Taehyung.

"By the way kita selalu sekelas selama ini, tapi baru kali ini kita bicara dengan kau mengumpati ku, dan itu cara mengajak kenalan yang menarik, khekhekhe" sahut Jimin tidak nyambung. Taehyung mengangkat alis kirinya bingung dengan kata-kata Jimin. Mengajak kenalan ia bilang?

"Aku sudah cukup tahu dirimu, lagipula siapa juga yang ingin kenalan dengan playboy maniak sepertimu!?" Taehyung menjawab dengan nada masih sama, ketus.

"Mwoo, ternyata aku punya fans laki-laki juga ternyata kau bahkan tahu tentangku kekekeke!" Jimin tertawa lagi. Taehyung bergidik ngeri fansnya dia bilang? huekk demi apapun kalaupun ia homo ia tidak mau ngefans dengan manusia tidak tahu diri macam Jimin.

"Aku bukan fans mu, aku membencimu!"Sahut Taehyung. Jimin berhenti tertawa. Ia jadi ingin menggoda bocah aneh ini, ternyata ia tidak buruk juga ekspresi marahnya konyol sekali. Ohhh Park Jimin apa kau lupa jika kau itu Homophobia, dan sekarang kau mencoba menggoda seorang laki-laki?

"Benarkahh? Wow.." jawab Jimin dengan nada mengejek. Sementara Taehyung makin muak dengan pemuda menyebalkan ini.

"Kau memuakkan kau tahu," Taehyung menambahi.

"Aku tahu, lalu kau mau apa?" Tanya Jimin dengan wajah datarnya.

"Aku ingin kau putus dengan Seulgi.." jawab Taehyung to the point dengan datar dan galak. Jimin tersenyum miring, lalu tertawa renyah khasnya, yang menurut Taehyung sangat memuakkan.

"Apa?"

"Aku ingin kau putus dengan Seulgi, bodoh!" Sahut Taehyung ketus. Ohh, jadi bocah ini tidak menyukainya karena pacaran dengan Seulgi toh.

"Itu saja?" Tanya Jimin sambil tertawa. Taehyung memasang wajah bingung. Enteng sekali dia bicara, oke baiklah, Taehyung lupa Jimin kan playboy keparat, apa susahnya memutuskan dan menembak seorang gadis.

"Ya!" Taehyung mengangguk singkat.

"Baik, kalau itu mau mu"

Setelah berkata begitu Jimin mengambil ponselnya guna mencari nomor telepon Seulgi. Jimin menekan tombol hijau untuk menenelpon gadis itu. Namun..

.

Pulsa anda tidak cukup-

.

Jimin buru-buru mematikan ponselnya saat suara operator nista itu terdengar

.

Pfffttt, dasar playboy kere!

.

Batin Taehyung ia ingin tertawa ngakak dengan insiden tadi. Tapi ia hanya tersenyum mengejek melihat Jimin yang wajahnya memerah karena malu. Sialan Jimin lupa kalau tadi ia kehabisan pulsa! Mana di depanya ada Taehyung lagi, puas dia menertawainya !

"Dasar kere! Playboy tidak modal?!" Ejek Taehyung.

"Siapa yang kau bilang playboy kere, huh?" Tanya Jimin tenang, walaupun dalam hati ia mengumpati kebodohanya tadi.

"Tentu saja kau!" Taehyung menjawab dengan senyum mengejek. Jimin tidak menyangka bocah pendiam ini sangat menyebalkan.

"Kalau kau memintanya, aku bisa saja memutuskan Seulgi di depanmu kalau perlu besok, lagipula aku sudah sangat bosan denganya" ucap Jimin. Taehyung menoleh sedikit antusias saat mendengar Jimin akan memutuskan Seulgi. Cihh, Taehyung sudah menduga Jimin tidak pernah serius menjalin hubungan dengan Seulgi. Kasihan gadisnya, pasti ia sangat sakit hati saat melihat kelakuan asli Jimin yang sangat bejat. Membuat Taehyung makin benci padanya.

"Kau itu enak sekali ya menembak dan memutuskan gadis sesukamu, kau pikir dia apa huh?" Komentar Taehyung kesal.

"Memangnya kenapa? Bukanya tadi itu mau mu, huh? Kenapa menyalahkan aku?" Tanya Jimin dengan wajah tanpa dosanya.

"Terserah kau saja lahh!" Taehyung menyerah, ia khawatir menjadi bodoh karena banyak bicara dengan Jimin. Jimin sangat jauh dari ekspektasinya selama ini, bocah itu tak lebih dari lelaki dungu dan idiot.

"Hey, Tae memangnya kalau aku memutuskan Seulgi aku bisa dapat apa darimu?" Tanya Jimin, dengan senyum miring, bocah itu kini mencoba menggoda Taehyung. Lagi.

"Aku tidak punya uang, tapi kau bisa minta yang lain" jawab Taehyung. Jimin menyeringai, senyum licik menghiasi wajahnya tanpa di sadari Taehyung, kekekeke.

Hoho!

"Ya sudah, aku tidak minta imbalan karena,Yeahh-bukanya sombong, aku tidak butuh uang lagi terlebih dari nerd sepertimu. Uang ku sudah banyak. Tapi aku akan meminta syarat saja bagaimana?" Ucapan Jimin itu membuat alis Taehyung berkedut sebal, bukanya itu sama saja ya dengan minta imbalan. Dan apa itu tadi, pulsa saja kehabisan,bilang dirinya kebanyakan uang? Kapan makhluk sejenis smurf ini sadar atas ucapan super congkaknya itu. Membuat Taehyung ingin menonjok makhluk sombong ini dan menendangnya ke planet merkurius sekalian. Wajah dan kelakuanya benar-benar membuat orang anemia jadi hipertensi seketika. Tapi Taehyung mencoba sabar,toh nanti smurf gila nanti mati juga. Sementara, Jimin sendiri ingin membuktikan sesuatu sebenarnya.

"Apa syaratnya?" Tanya Taehyung.

"Kau harus setuju dulu, dan janji harus mau" ucap Jimin licik. Taehyung memutar mata jengah, akhirnya ia mengangguk. Semua ini ia lakukan untuk Seulgi ingat itu.

"Hn."

"Kau tahu, setelah putus dengan Seulgi di pastikan aku jomblo iyakan,maka dari itu kau harus mau bertanggung jawab" Jimin berkata. Taehyung mendengarkan syarat yang di berikan Jimin tapi entah kenapa perasaanya jadi tidak enak, dia merasa wajah congkak di hadapanya ini menyimpan sesuatu yang tidak beres.

"Lalu?"

"Maka dari itu, mulai sekarang kau adalah pacarku," ucap Jimin. Taehyung loading.

Krik.

Krik.

Krik.

Krik.

"Apa?" Ulang Taehyung. Ia mungkin salah dengar. Atau tadi hanyalah ilusinya semata. Atau telinganya kemasukan lalat-

"Secara non official aku sudah putus dengan Seulgi, lalu karena aku jomblo, sementara kau.. melihat dirimu yang seperti ini aku yakin kau juga jomblo. Dan karena kau juga yang menyuruhku putus dengan Seulgi, maka kau juga harus tanggung jawab, dan sebagai syaratnya aku mau kau jadi pacarku. Lalu aku baru bisa putus dengan Seulgi, bodoh.. " ucap Jimin sangat berbelit-belit dengan wajah tengilnya. Taehyung bahkan hampir meneteskan air liur dan memasanga wajah bengong saat mendengarkan ucapan Jimin yang seperti benang kusut itu.

Tunggu!

Nggak salah nih?

Jimin barusan menembaknya?

"Kau gila! Aku bukan homo, keparat!" Bantah Taehyung. Jimin tertawa.

"Kau pikir aku homo, bahkan aku membenci homo" balas Jimin dengan senyum. Taehyung yang risih kemudian berdiri untuk pergi, ia memilih jalan kaki saja lagipula sudah dua puluh menit ia di halte menunggu bis yang tidak kunjung datang dan malah terjebak dengan pemuda menyebalkan itu. Sialan kalau ia pacaran dengan Jimin, bisa gawat dong Seulgi akan makin jauh darinya. Sementara Jimin yang melihat Taehyung pergi mengejarnya.

"Kenapa kau malah kabur, huh? Mau coba melanggar janjimu?" Tanya Jimin pada Taehyung. Sementara yang di tanya hanya diam.

"..."

"Apa kau tidak percaya dengan kata-kataku? Apa kau ragu aku akan selingkuh ? Atau kau ragu aku masih suka Seulgi? Bahkan aku naksir dia saja tidak! Tae jawab aku jangan diam saja, bajingan!" Teriak Jimin kesal juga akhirnya. Demi Tuhan, ia tidak pernah melakukan hal ini. Mengejar seseorang untuk memberi penjelasan. Apa lagi yang di kejarnya ini laki-laki loh? Sepertinya Jimin memang melupakan sesuatu,

"Diam! Aku tidak sudi jadi pacarmu! Aku masih normal, aku menyukai Seulgi bukan dirimu!" Jawab Taehyung. Jimin pun diam. Baru kali ini ada orang yang menolaknya, ia bahkan melupakan phobianya. Wajah Jimin makin mengeras, mengerikan. Taehyung sendiri sadar dengan perubahan wajah Jimin.

"Kau pikir aku peduli kau suka Seulgi atau tidak aku tidak mau tahu. Yang paling penting adalah kau sudah berjanji mau jadi pacarku di awal tadi" Ucap Jimin. Jujur melihat Jimin yang biasanya santai kini jadi galak begini membuat Taehyung sedikit takut.

"..."

Taehyung hanya bisa diam. Ia mengutuk kebodohanya sendiri! Kenapa ia bodoh sekali, kenapa ia langsung main terima perjanjian Jimin yang keparat itu. Jimin itu sangat licik, seharusnya ia sadar akan itu.

"Kenapa diam? Aku masih bisa melihat benda di selakanganmu itu batangan lohh, dan laki-laki jantan tidak bisa melanggar janjinya, aku benar kan? Jimin tersenyum miring.

"Kau sangat licik," umpat Taehyung.

"Aku hanya minta syaratku" jawab Jimin santai. Matanya bertatapan dengan iris coklat Taehyung yang tubuhnya lebih tinggi sekitar dua atau tiga senti darinya itu . Taehyung mendengus. Taehyung langsung melenggang pergi meninggalkan Jimin, sementara Jimin yang di tinggal mengejar Taehyung lagi. Kini mereka berjalan beriringan,

"Jadi kau mau jadi pacarku?"

"..."

"Taehyung-ah"

"..."

"Chagiyaa"

"Diam, bangsat!"

"Ku anggap itu, adalah jawaban untuk iya!"

"Aku tidak mau" Taehyung menjawab ketus. Ia masih menolak, karena demi Tuhan ia masih suka perempuan.

"Kau tadi hanya diam, jadi ku anggap itu iya!"

"Aku bilang aku tidak mauu!"

"Ya. ya. ya aku tahu, aku juga cinta padamu" Jimin menjawab tidak nyambung dengan wajah bahagia. Lalu berlari menjauh. Bahkan sebelumnya Jimin mengusak rambut Taehyung. Meninggalkan Taehyung yang geram

"Sampai Jumpa besok, babe. Aku cinta padamu" Jimin berteriak memalukan dan membentuk hati dari tanganya. lalu berlari meninggalkan Taehyung yang mengumpat kesal. Taehyung mengusap wajahnya kasar. Niat awalnya hanya ingin melabrak Jimin dan menyuruhnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Seulgi dengan cara yang elit. Tapi kenapa ia malah masuk ke dalam permainan Jimin. Dan mengumpankan dirinya sendiri untuk jadi pacar Jimin.

"Arghhh! "

.

.

.

Sementara Jimin sendiri senyum-senyum mesum. Hari ini sudah dapat mainan baru. Dan berbeda dari biasanya. Jika biasanya mainannya perempuan kali ini adalah makhluk bergender sama denganya. Ia sendiri menampik jika ia serius dengan Taehyung. Ia hanya ingin main-main, lagi pula siapa duluan yang menarik dirinya masuk permainanya, Taehyung sendiri yang mau. Lagipula ia hanya main-main kan, ia tidak akan menyentuh bocah aneh itu kok. Masalah homophobia ia masih, ia jijik dengan hal itu. Tapi kenapa dia malah pacaran dengan laki-laki? Jimin juga tidak tahu, yang jelas ia hanya main-main dengan Taehyung. Karena ia yakin kalaupun jodohnya laki-laki pasti yeah, minimal bukan Taehyung .

Jimin menyanyi-nyanyi kecil saat masuk pekarangan rumahnya. Kenapa sepi sekali sih? Jelas, rumah sebesar ini kan hanya di tinggali tiga orang olehnya dan kakaknya Kim Namjoon dan istrinya si gila Seokjin itu. Dan mereka sedang bekerja. Ia masuk lewat pintu depan, tapi di kunci. Ia mencari kunci di bawah keset, tidak ada juga..

Shit! Kenapa kuncinya di bawa sih?!

Terpaksa ia harus lewat garasi mobinya biasanya di sana tidak di kunci. Ia pun pergi ke samping rumah nya lalu menarik pintu garasi nya ke atas, dan jaaa! Pintu garasi terbuka, , ia masuk ke dalam lalu menutup lagi pintu garasi itu, ia masih menyanyi-nyanyi lagu yang entah berjudul apa itu. Dan saat ia berbalik,

.

.

.

.

"Selamat datang, Park Jimiiinnnnn~~~"

Brak

Jimin yang mendengar dan melihat pemandangan di depan matanya itu sangat syok. Ia bahkan nyaris terjengkang kebelakang karena kaget bukan main dengan apa yang dia lihat. Yang menyapanya bukanlah kakaknya, bukan temanya yang memberi kejutan ulang tahun. Karena Demi Tuhan di depan matanya kini bukalah manusia. Matanya melotot horor, apa-apaan ini?

"Lho Jimini kenapa menatapku begituu,?" Jimin masih sangat syok, apa yang dia lihat ini hanya mimpi kan, tidak nyata kan. Ia menampar wajahnya keras-keras.

Plakkkk

.

Ouch..

.

Jimin mengaduh kesakitan. Ini tidak mimpi, ini nyata. Apa yang dia lihat ini nyata. Bajingan sialan, jadi mimpi bodoh itu nyata, kekuatan super itu nyata, dan semuanya nyata, tapi ia masih menggeleng frustasi masih tidak percaya dengan penampakan yang dilihatnya. Mobil milik kakaknya yang bicara padanya? Memiliki mata, hidung dan mulut layaknya manusia? Bahkan mobil itu tersenyum padanya. Gila! Ia mengucek matanya, bisa saja matanya kemasukan lalat atau serangga-

"Kau kenapa Jimin, kenapa takut begitu?" Suara itu terdengar lagi. Jimin masih menggeleng tidak percaya

"Tidak mungkin, ini tidak mungkin! Mobil tidak bisa bicaraaaaa" Jimin menutupi wajahnya ngeri. Ia menjambak rambutnya. Bagaimana bisaa, wajah Jimin memucat saat meningat mimpi sialan itu,

"Tapi dengan syarat tadi, kau hanya bisa menggunakan kekuatan bicara dengan mobil saat kau sedang bersama lelaki yang kau sukai!" ucap makhluk misterius itu.

Ucapan pria berjubah pink dalam mimpinya mulai berputar-putar dalam otaknya. Dan itu membuat Jimin makin pucat, bukanya ia hanya akan bisa bicara dengan mobil jika hanya bersama orang yang ia sukai tapi kenapa, kenapa mobil ini bisa bicara denganya?

"Jimin, kau kenapa?" Mobil berwarna kuning itu bertanya lagi. Jimin menggumam tidak berkali-kali sambil menjambak rambut hitamnya, ia pasti sudah gila!

.

.

.

.

"TIDAKKKKKKKK!" Jimin menjerit nista,

Lalu ia pingsan.

Jelas? Mau apa lagi coba?

.

.

.

.

Tbc..

Ff ngaco sumpahh dan php, gue bingung mau sendiri ama kerjaan gue ini kok ngaco dan absurd banget dan apa inii Jimin nembak Taehyunggg uhuuk! /di rasengan/ pasti pada kecewa ama adegan ituuu, padahal berapa kali gue udah ngerombak dan mikir keras buat adegan v jadi pihak yang nembak tapi malah feelnya kagak dapet T_T malah jatuhnya maksaa. maaf banget yaaa, maklum pas nulis ff ini ide muncul langsung gue tulis. Biar gak mainstream mamen, kan jarang banget v di tembak/?/ kekekek. makasih deh buat readers yang mulia udah sudi baca ff super ngaco+ancur gue,apa lagi mau review ff imajinasi stres gue ini, gue sweneng banget tauukk, tapi kalo gak review juga gak papa kok, gak memaksaa gue. Yoshh! Jadi, masih mau di lanjut? /smirk bareng jimin/