Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
She is Sherry : Jawaban semua pertanyaanmu adalah iya. XD
Septi-san : Yah, kalau langsung nikah, hidup bahagia dan ber-ehem-ehem ria kan, nggak seru jadinya. He he he. Jadi harus ada dramanya dulu. XD
Olala-san : Yah, apa boleh buat. XD
Momo ShinKaI : Kan mereka udah pacaran sejak kuliah. Sekarang mereka sudah lulus. Jadi wajar dong kalau sudah punya panggilan sayang. He he he. Aku sukanya sinetron Korea. XD
Nachie-chan : Ya harus rela. Kan cuma sementara. XD
Rawr-san : Soalnya kalau Shiho nerima lamarannya Shinichi, itu berarti mereka akan segera menikah, padahal Shiho masih ingin mengejar karir. Makanya Shiho terus menolak. XD
Shinxshi : Tapi sudah terjadi sepertinya. XD
Anonim : Ayo! Ayo! Kutunggu namanya. XD
Aiwha-san : Nggak banyak sih. Kebanyakan adegan Shinichi sama judul chapter ini. Bahkan setelah chapter ini, sepertinya full adegan mereka berdua. XD
David-san : Terima kasih banyak. XD
Anonim : Aku tidak yakin apa kita punya pandangan yang sama tentang adegan panas. Tapi kalau menurutku selama beberapa chapter ke depan, sepertinya tidak akan ada adegan panas sama sekali. Lalu adegan xxx di fanfic ini akan terjadi pada pasangan yang sudah menikah, jadi tidak ada sex before married. Aku juga ingin meluruskan bahwa rate M bukan berarti sex before married. XD
Atin-san : Harus mau. XD
Shiho cool'n : Aku juga. Tapi kata orang-orang, tokoh utama yang kecelakaan lalu amnesia itu trademark-nya sinetron Indonesia, makanya aku bilang fanfic ini khas sinetron Indonesia banget. XD
Shu no Tsuki : Kalau begitu semoga kamu tambah penasaran dengan chapter ini. XD
Elba Elizabeth : Terima kasih banyak. Sudah ku-add di fesbuk. XD
Misyel : Hmm, kayaknya Hondo nggak bakalan muncul lagi, tapi ya nggak tahu juga. Mereka kenal Kaitou KID tapi nggak tahu Kaitou KID itu siapa. XD
ArdhyaMouri : Kalau pengin tahu bener atau nggaknya tebakan-tebakanmu itu, stay tune terus di fanfic ini. XD
Lala-san : Lebih ke Shinichi dengan judul chapter ini. XD. Good luck ngerjain tugasnya!
Aris-san : Aku harap juga begitu. XD
Waktunya curcol!
Sesuai judul chapter ini, chapter ini dipenuhi adegan dan deskripsi tentang kehidupan seorang Chizue Konosuke dan hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Semoga para pembaca bisa menikmatinya. XD
Selamat membaca dan berkomentar!
Tidak Ada yang Terjadi
By Enji86
Tears fall without me realising
I wiped my tears because I didn't want you to be washed away
Could have erased you, could have forgotten you
It makes me cry to think about the days without you
You left me without saying anything, I wish it wasn't you, please
It's okay if you return, it's okay if you return
It must be just a dream where we were apart for a short time
Nothing happened, nothing happened
When the night is over, if I wake up, I'm with you again
Repeatedly telling with my heart, telling with my mouth
I remind myself so many times because I don't want to lose you
Could have erased you, could have forgotten you
It makes me cry to think about the days without you
You left me without saying anything, I wish it wasn't you, please
It's okay if you return, it's okay if you return
It must be just a dream where we were apart for a short time
Nothing happened, nothing happened
If I wake up after tonight
It's okay if you return, it's okay if you return
I still love you, please, please
Nothing happened, nothing happened
When the night is over, if I wake up, I'm with you again
(Nothing Happened – Jung Yeop)
Chapter 2 – Chizue Konosuke
Kaito berjalan mengendap-endap mendekati seorang wanita yang sedang sibuk memotong sayuran di dapur rumah yang mereka sewa, lalu dia memeluk wanita itu dari belakang dengan tiba-tiba untuk mengagetkan wanita itu. Tapi seperti biasanya, wanita itu tidak kaget sama sekali sehingga wajah Kaito menjadi cemberut.
"Kenapa kau tidak terkejut?" tanya Kaito.
"Kaito-kun, kau melakukan ini hampir setiap hari, jadi bagaimana mungkin aku akan terkejut?" jawab wanita itu sambil tersenyum.
"Kau kan bisa berpura-pura terkejut," ucap Kaito.
"Dan kenapa aku harus melakukannya?" tanya wanita itu.
"Bagaimana kalau untuk membuatku senang?" Kaito balik bertanya sambil nyengir sehingga wanita itu memutar bola matanya.
"Tidak, terima kasih. Aku sama sekali tidak punya keinginan untuk membuatmu senang," jawab wanita itu.
"Memang apa salahnya membuatku senang?" ucap Kaito, pura-pura menggerutu, tapi wanita itu tidak menanggapinya.
Setelah itu, mereka berdua tidak bicara lagi namun Kaito tetap memeluk wanita itu sementara wanita itu meneruskan pekerjaannya memotong sayuran.
Kaito tiba-tiba teringat pada kenangannya dua tahun lalu. Dia menyelamatkan wanita yang sedang dipeluknya ini sebelum mobil wanita ini jatuh ke jurang. Lalu dia merawat wanita ini sendiri dengan dibantu oleh Jii, asistennya. Sebenarnya saat itu, Jii menyarankan padanya untuk membawa wanita itu ke rumah sakit dan lapor pada polisi, tapi Kaito tidak mau. Saat itu dia berpikir bahwa wanita ini pasti dicelakai oleh Snake, sama seperti ibunya, makanya dia ingin melindungi wanita ini sebagai kompensasi karena dia gagal melindungi ibunya.
Saat wanita ini sadar, Kaito menemukan bahwa wanita ini tidak bisa mengingat apapun. Bahkan namanya sendiri pun, wanita ini tidak ingat. Kaito pun sangat senang dengan kenyataan ini, meskipun dia tidak akan mau mengakuinya, karena dengan begitu dia bisa melindungi wanita ini. Kaito memberi wanita ini identitas baru yaitu Chizue Konosuke, keponakan Jii.
Setelah Chizue sehat kembali, Kaito meneruskan kembali kebiasaannya minum-minum. Sampai suatu hari Chizue menahannya. Chizue memeluk lengannya dengan erat dan memohon padanya untuk berhenti melukai dirinya sendiri. Chizue yang sudah mendengar semuanya dari Jii, meminta padanya agar tidak menyerah dan berkata padanya bahwa dia akan membantunya dengan sekuat tenaga.
Melihat Chizue yang memohon padanya dengan berlinang air mata, membuat hati Kaito tersentuh. Dia sebenarnya tidak ingin menyerah, tapi dia sudah terlanjur terjebak dalam kegelapan ketika ibunya pergi. Kegelapan itu menelannya dan dia tidak mampu keluar dari sana sendiri. Itu membuatnya merasa Chizue-lah yang akan menariknya keluar dari kegelapan itu, jadi dia pun membuka diri pada kehangatan yang ditawarkan oleh Chizue. Malam itu, dia memeluk Chizue dengan erat dan menangis di bahu Chizue.
Kaito kembali memulai perjuangannya mengalahkan Snake dengan bantuan Jii dan Chizue. Dia pun merasa takjub melihat kemampuan Chizue yang luar biasa. Chizue bahkan bisa menggunakan pistol dengan baik sehingga Kaito jadi bertanya-tanya siapa Chizue sebenarnya. Setelah dua tahun bekerja keras, akhirnya mereka berhasil membongkar organisasi kriminal bernama Snake itu dan mengirim semua anggota organisasi itu ke penjara sambil tetap menjaga agar identitas mereka tidak ketahuan, baik oleh Snake maupun polisi.
"Kaito-kun, bisakah kau lepaskan aku sekarang? Aku harus memasukkan sayuran ini ke dalam panci," ucap Chizue dengan agak kesal sehingga lamunan Kaito langsung buyar.
"Tidak mau. Aku masih ingin memelukmu," ucap Kaito dengan sikap seperti anak kecil yang manja.
Chizue pun kembali memutar bola matanya.
"Baiklah, aku akan memberimu lima menit. Tapi kau harus berhenti bersikap seperti ini kalau kita sudah pulang ke rumahmu yang ada di Tokyo. Kau tidak mau pacarmu salah paham kan?" ucap Chizue dengan nada sedikit menggoda.
"Kenapa Aoko harus salah paham? Kau kan keponakannya Jii-chan. Kau sudah seperti kakak perempuanku sendiri," ucap Kaito dengan bingung.
Chizue pun facepalm dalam hati karena tingkat kepekaan laki-laki yang sedang memeluknya ini benar-benar nol, atau bahkan minus. Dan dia sama sekali tidak punya keinginan untuk menjelaskan apapun pada laki-laki bodoh ini. Dia menemukan cara lain untuk mengatasinya yaitu dengan menjauhi Kaito saat mereka pindah ke Tokyo nanti. Dengan begitu dia juga bisa melindungi hatinya sendiri.
Chizue menyukai Kaito, tapi Kaito sudah punya kekasih yang menunggunya. Chizue pun hanya bisa memendam perasaannya karena dia tidak mau membuat Kaito merasa tidak enak dan membuat hubungan mereka berdua menjadi kaku. Chizue juga memutuskan akan berusaha menghilangkan perasaan sukanya pada Kaito dan itu akan sulit sekali dilakukan jika Kaito terus memeluknya atau mencium pipinya seenaknya. Makanya dia memutuskan untuk berinteraksi seminimal mungkin dengan Kaito saat mereka pindah ke Tokyo, setidaknya sampai dia sudah mampu mengatasi rasa sukanya pada Kaito.
Kadang-kadang Chizue merasa perasaannya saat ini begitu familiar. Dia menyukai seorang laki-laki tapi laki-laki itu sudah punya kekasih, yang merupakan teman masa kecil laki-laki itu, yang menunggu laki-laki itu dengan setia. Chizue pun bertanya-tanya apakah dulu dia pernah mengalami hal seperti ini.
"Sudahlah, lupakan saja. Haah, aku harap aku bisa segera menemukan pekerjaan di Tokyo nanti. Keuangan kita benar-benar kritis karena terkuras untuk mengalahkan Snake," ucap Chizue.
Kaito langsung mengerutkan keningnya. Selama dua tahun ini, Chizue sudah berulang kali terluka atau berada dalam bahaya. Chizue sudah bersabar berjuang bersamanya selama ini, jadi mana mungkin dia akan membiarkan Chizue bekerja. Dia ingin Chizue hidup nyaman setelah apa yang mereka alami selama dua tahun belakangan.
Kaito pun membalik badan Chizue agar Chizue menatapnya sambil tetap memeluk pinggang Chizue.
"Chizue, bukankah aku sudah bilang padamu? Kau tidak perlu bekerja untuk membiayai hidup kita. Aku akan bekerja keras dan menghasilkan uang yang banyak untuk kita, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Kaito dengan tegas.
"Tapi kudengar, biaya hidup di Tokyo sangat mahal. Belum lagi biaya pengobatan Paman yang bagian bawah tubuhnya lumpuh setelah tertembak di bagian tulang belakangnya," ucap Chizue.
"Aku pasti bisa mengatasinya. Kalau perlu aku akan bekerja siang malam. Kau hanya perlu tinggal di rumah dan menemani Jii-chan," ucap Kaito bersikeras.
Chizue pun tersenyum lembut.
"Dasar bodoh! Kalau kau bekerja siang malam, kapan kau akan membayar hutangmu pada pacarmu yang sudah menunggumu selama hampir tiga tahun itu," ucap Chizue.
Kaito menatap Chizue dengan agak terkejut.
"Yah, aku pasti bisa mengatasinya juga," ucap Kaito sambil mengalihkan pandangannya dari Chizue, pertanda bahwa dia tidak begitu yakin dengan ucapannya itu.
Hal ini membuat senyum Chizue bertambah lebar. Dia pun memeluk Kaito dan membenamkan wajahnya di dada Kaito, membuat wajah Kaito merona tanpa sebab yang jelas.
"Sesampainya di Tokyo nanti, aku akan segera mencari pekerjaan. Aku tidak bisa bergantung terus padamu selamanya, ya kan?" ucap Chizue.
Kaito hanya diam saja. Entah kenapa hatinya sedih mendengar ucapan Chizue barusan. Dia belum menyadari bahwa sebenarnya dia ingin Chizue bergantung padanya selamanya.
XXX
"Aku pulang," ucap Chizue saat masuk ke dalam rumahnya.
Sudah dua minggu Kaito, Chizue dan Jii tinggal di rumah keluarga Kuroba yang ada di Tokyo. Chizue juga sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah departemen store dan saat itu dia baru pulang dari bekerja.
"Chizue-chan, syukurlah kau sudah pulang," ucap Jii dengan lega saat dia melihat Chizue.
"Ada apa? Apa Paman sakit?" tanya Chizue yang segera menghampiri Jii dan mengamati Jii dengan agak khawatir.
"Tidak. Bukan aku, tapi Botchama. Tadi dia pingsan saat pertunjukan sulap. Sekarang Aoko-chan sedang bersamanya di kamarnya," ucap Jii sehingga Chizue menghela nafas.
"Dasar si bodoh itu! Padahal aku sudah bilang padanya agar mengurangi kerja sambilannya dan fokus pada pertunjukan sulap. Lagipula aku juga sudah bekerja," ucap Chizue dengan nada mengomel.
"Maafkan aku," ucap Jii dengan kepala menunduk. "Aku hanya bisa menyusahkan kalian berdua," lanjutnya sehingga Chizue mencubit kedua pipinya dengan gemas.
"Paman, bukankah aku sudah berulang kali berkata pada Paman bahwa Paman sama sekali tidak menyusahkanku dan Kaito-kun? Aku dan Kaito-kun sayang pada Paman, jadi Paman harus berhenti mengatakan hal-hal semacam itu, mengerti?" ucap Chizue.
"Chizue-chan...," ucap Jii.
"Ayo, aku akan mengantar Paman ke kamar. Ini sudah malam jadi Paman harus istirahat. Setelah itu, aku akan melihat Kaito-kun," ucap Chizue. Kemudian dia mendorong kursi roda Jii menuju kamar yang ditempati Jii.
XXX
Setelah mengantar Aoko ke pintu depan, Chizue memeriksa dan mengunci pintu dan jendela di seluruh rumah lalu kembali ke kamar Kaito. Dia duduk di tepi tempat tidur Kaito dan mengamati wajah Kaito yang sedang tertidur. Lalu dia mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Kaito.
"Dasar laki-laki keras kepala," ucap Chizue dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Chizue berhenti membelai rambut Kaito lalu bangkit dari tepi tempat tidur, namun gerakannya langsung tertahan karena ada yang mencengkeram pergelangan tangannya. Dia pun menoleh dan melihat Kaito sedang menatapnya.
"Jangan pergi," ucap Kaito.
Chizue pun duduk kembali dan mengamati Kaito dengan seksama.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Chizue.
"Aku akan baik-baik saja kalau kau terus membelai rambutku," jawab Kaito sambil nyengir sehingga Chizue memutar bola matanya.
"Sepertinya kau baik-baik saja. Percuma aku mengkhawatirkanmu. Aku akan kembali ke kamarku sekarang," ucap Chizue. Lalu dia bangkit berdiri tapi Kaito menariknya sehingga dia duduk kembali.
"Hei, aku serius," ucap Kaito kemudian dia meletakkan tangan Chizue di kepalanya dan menatap Chizue dengan tatapan puppy dog eyes.
Chizue pun tidak bisa menahan senyum terbentuk di bibirnya dan dia kembali membelai rambut Kaito sementara Kaito memejamkan matanya sambil tersenyum senang.
"Kaito-kun, besok kau harus libur dan istirahat di rumah, kau mengerti?" ucap Chizue beberapa saat kemudian sehingga Kaito membuka matanya dengan kening berkerut.
"Chizue, aku baik-baik saja. Aku hanya kelelahan dan kurang tidur karena sibuk memikirkan trik sulap baru. Aku akan tidur malam ini, jadi aku tidak perlu membolos kerja sambilanku besok," ucap Kaito.
"Kalau begitu liburlah untuk memikirkan trik sulap baru dan pergilah kencan dengan Nakamori-san. Kau bahkan belum pernah mengajaknya kencan sejak kau kembali ke Tokyo," ucap Chizue.
"Chizue," ucap Kaito dengan nada merengek.
"Kaito-kun, kau tahu kan kalau aku tidak suka dibantah," ucap Chizue dengan wajah tegasnya sehingga Kaito hanya bisa berwajah cemberut sambil menggerutu tidak jelas.
Chizue kemudian berhenti membelai rambut Kaito lalu merapikan selimut Kaito.
"Sekarang tidurlah. Selamat malam," ucap Chizue.
Ketika Chizue bangkit untuk berdiri, Kaito kembali meraih dan menarik tangan Chizue. Kali ini dengan lebih keras sehingga tubuh Chizue jatuh ke atas tubuhnya. Lalu dia memeluk Chizue dengan erat sehingga Chizue tidak bisa melepaskan diri.
"Apa yang sedang kau lakukan? Cepat lepaskan aku sekarang juga," ucap Chizue dengan kesal.
"Tidak mau," sahut Kaito dengan nada mengejek.
"Kaito-kun," ucap Chizue dengan nada frustasi.
"Karena aku sudah menurutimu untuk tidak bekerja besok, kau juga harus menurutiku. Malam ini kau harus tidur di sini," ucap Kaito.
"Apa?" seru Chizue, sementara wajahnya menjadi merah. Dia bersyukur Kaito tidak bisa melihat wajahnya yang saat ini tersembunyi di dada Kaito.
"Kenapa? Kau kan sudah seperti kakak perempuanku sendiri. Jadi apa salahnya?" ucap Kaito dengan santai.
"Itulah salahnya. Aku ini hanya seperti kakak perempuanmu, bukan benar-benar kakak perempuanmu," gerutu Chizue dalam hati.
"Baiklah, aku akan menurutimu," ucap Chizue dengan nada menggerutu sehingga Kaito kembali tersenyum senang.
Tak lama kemudian, Chizue sudah berbaring menyamping di atas tempat tidur Kaito, di dalam dekapan Kaito. Mereka hanya diam, menikmati kehangatan satu sama lain, sampai Kaito memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Kau tahu, aku kangen sekali padamu," ucap Kaito sehingga Chizue menaikkan alisnya.
"Kaito-kun, mungkin kau sudah lupa, tapi kita berdua tinggal serumah dan setiap hari kita bertemu saat sarapan," ucap Chizue dengan sarkasmenya sehingga Kaito tertawa kecil.
"Ya, itu benar. Tapi sekarang kau tidak selalu berada di sampingku lagi. Aku jadi agak kesepian. Kau bahkan tidak pernah datang saat pertunjukan sulapku," ucap Kaito.
"Apa boleh buat? Aku harus bekerja kan? Lagipula sekarang sudah ada Nakamori-san yang selalu berada di sampingmu. Seharusnya kau merasa senang, bukannya mengeluh padaku seperti ini," ucap Chizue.
"Aku memang seharusnya merasa senang, tapi pada kenyataannya aku tidak sesenang yang seharusnya. Yah, aku harus segera mengumpulkan uang yang banyak, jadi Chizue tidak perlu bekerja dan selalu tersedia untukku," ucap Kaito dalam hati.
"Tapi apa tidak bisa kau meluangkan waktumu untuk melihat pertunjukanku? Aku benar-benar ingin kau melihatnya," lanjut Kaito.
"Hmm, baiklah. Jika aku mendapat cuti nanti, aku pasti akan melihat pertunjukanmu," ucap Chizue.
"Janji ya?" tanya Kaito.
"Iya, janji," jawab Chizue sambil tertawa kecil. "Sekarang tidurlah. Selamat malam," lanjutnya.
"Mmm, selamat malam, Chizue," sahut Kaito. Kemudian dia mendaratkan bibirnya sejenak di kening Chizue sehingga pipi Chizue kembali memerah, tapi Kaito tidak menyadarinya.
"Kaito-kun, kau benar-benar tidak mau melepaskanku, ya?" keluh Chizue dalam hati.
XXX
Keesokan harinya, Chizue benar-benar kaget mendapati Kaito duduk di halte bis dekat tempatnya bekerja saat dia pulang kerja.
"Kaito-kun, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Chizue.
"Aku ingin menjemputmu karena aku tidak bekerja hari ini," jawab Kaito sambil nyengir lebar.
"Lalu bagaimana dengan Nakamori-san?" tanya Chizue lagi.
"Yah, sesuai dengan kata-katamu kemarin malam. Aku sudah mengajaknya kencan tadi siang setelah dia selesai mengajar dan dia kelihatan sangat senang. Jadi sekarang aku menjemputmu," jawab Kaito.
"Dan aku harap kau juga senang seperti Aoko karena aku menjemputmu," lanjut Kaito dalam hati.
Sebelum Chizue sempat merespon, bis mereka sudah berhenti di depan halte tersebut sehingga Kaito langsung memegang tangan Chizue.
"Ayo kita naik," ucap Kaito.
Chizue pun mengangguk dan mereka berdua naik ke dalam bis.
"Apa kau lelah?" tanya Kaito saat dia dan Chizue sudah duduk di dalam bis yang lumayan sepi itu karena hari sudah malam.
"Sedikit," jawab Chizue.
"Kalau begitu...," ucap Kaito, kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya dan sekaleng jus dingin muncul dari belakang telinga Chizue.
Chizue pun menerima jus kaleng itu sambil tersenyum.
"Terima kasih," ucap Chizue.
"Tidak masalah," ucap Kaito sambil nyengir.
Kemudian Chizue menghabiskan jusnya sementara Kaito terus memperhatikannya.
"Wajahmu kelihatan pucat. Kau pasti lelah sekali," ucap Kaito setelah Chizue menghabiskan jusnya.
"Tidak, aku baik-baik saja kok," sahut Chizue sambil tersenyum, tapi wajah Kaito malah berubah menjadi muram.
"Aku benar-benar laki-laki yang tidak berguna," ucap Kaito dengan nada muram.
"Tentu saja tidak. Kenapa kau bicara seperti itu?" ucap Chizue.
"Karena itu memang benar," ucap Kaito masih dengan nada muram.
Chizue menatap Kaito sejenak, kemudian dia memeluk Kaito yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum kecil. Wajah Kaito pun langsung memanas dan entah kenapa jantungnya berdetak semakin cepat.
"Kaito-kun, sudah kubilang kan, aku baik-baik saja. Kau sayang padaku dan mengkhawatirkan aku saja, aku sudah merasa senang," ucap Chizue.
"Tapi aku tidak suka melihatmu bekerja keras seperti ini. Aku janji, suatu hari nanti kau tidak perlu bekerja dari pagi sampai malam seperti ini lagi. Aku pasti akan menghasilkan uang yang banyak untuk kita jadi kau bisa hidup nyaman," ucap Kaito dengan penuh emosi.
"Ya, ya, baiklah kalau kau memaksa, aku akan menunggu janjimu itu dengan sabar. Berusahalah sekuat tenaga, tapi jangan memaksakan diri sampai pingsan seperti kemarin, oke?" ucap Chizue.
Kaito pun tersenyum setelah mendengar ucapan Chizue. Dia benar-benar bersyukur karena ibunya mengirimkan Chizue untuknya. Dan entah kenapa perjalanan pulang naik bis bersama Chizue jauh lebih menyenangkan untuknya daripada kencannya bersama Aoko tadi.
XXX
Hari itu adalah hari yang biasa-biasa saja bagi Chizue. Dia lumayan menikmati pekerjaannya karena pekerjaannya itu terus membuatnya sibuk sehingga dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain yang tidak menyenangkan untuk dipikirkan. Dia bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang yang kepribadiannya berbeda-beda dan dia sangat suka mengamati dan menganalisa orang-orang tersebut, yang merupakan pelanggan departemen store tempat dia bekerja.
Sesaat sebelum jam kerja Chizue berakhir, ada seorang pelanggan yang meminta bantuannya dan dia pun dengan senang hati membantu pelanggan tersebut. Setelah pelanggan itu mengucapkan terima kasih dan melangkah pergi, hari Chizue yang biasa-biasa saja itu tiba-tiba berubah menjadi tidak biasa. Seorang laki-laki tiba-tiba memeluknya dengan erat saat dia berbalik.
Chizue seharusnya langsung melepaskan diri dari laki-laki asing itu, tapi entah kenapa dia hanya diam saja. Dia merasa ini adalah hal yang paling dirindukannya selama ini, meskipun dia tidak tahu kenapa.
"Shiho," gumam laki-laki itu. Dan itu membuat Chizue sadar kembali. Sepertinya laki-laki itu sudah salah orang. Namun belum sempat Chizue membuka mulutnya, laki-laki itu kehilangan kesadarannya sehingga tubuh laki-laki itu membebani tubuhnya. Dia benar-benar butuh bantuan sekarang. Laki-laki itu benar-benar berat.
Bersambung...
