―untuk [FFC] Infantrum; Seven Minutes in Heaven. (prompt: 7 Heavenly Virtues.)
Disklaimer: Katekyo Hitman Reborn! karya Amano Akira. Tidak ada keuntungan komersil yang dibuat dari sini.
Peringatan: mungkin Canon, dengan situasi Mukuro belum bebas dari Vendicare; OOC; typo. Kind of ficlet. MukuroXHibari / 6918.
Let Me Spend Seven Minutes With You: 2012: M. Gabriella
.
dua: quando la luce incontra una visione inaspettata
[saat terang tak terduga memenuhi visi]
…
"Tetsu, hitungkan berapa anak tangga dari lantai ini menuju atap Namimori-chuu."
"Eh, untuk apa, Kyo-san?" Tetsu Kusakabe mempertanyakan permintaan―perintah―dari Hibari Kyoya yang aneh itu.
"Tidak usah banyak tanya―dan cepat laksanakan atau kugigit sampai mati."
…
Tap―
"Empat … puluh satu," gumaman diperdengarkan sosok Hibari Kyoya yang menaiki tangga menuju atap. Kini ia menapaki tangga ke-41 dari 43 tangga yang harus dilaluinya sebelum sampai di pintu atap―seperti laporan Kusakabe atas perintah darinya.
Tap―
"Empat … puluh dua," Hibari terus berucap sembari tangan kanannya menggenggam pegangan tangga dengan erat.
Segalanya begitu gelap, sehingga ia merasa memerlukan pegangan agar dirinya tidak terjatuh saat naik ke atap. Akan sangat konyol bila ia mati karena terjatuh dari tangga Namimori-chuu yang begitu ia cintai.
Oke, itu terlalu berlebihan. Tidak sampai mati. Paling, luka-luka biasa.
Ah, luka-luka biasa.
Tap―
"Empat puluh ti―" dan ucapannya terhenti, ketika pegangan tangan kanannya terlepas karena kelicinan pegangan tangga, membuat tubuhnya terasa ringan; terjatuh ke belakang.
"Ja … tuh?" Seharusnya, tanpa diulang pun Hibari tahu, ia tengah terjatuh ke belakang. Inikah akhirnya?
Sial.
Di saat seperti ini, segala yang ada hanyalah gelap―
Gelap―gelap―gelap―gelap―
Greb!
"Kufufu, lucu sekali kalau Guardian Vongola terkuat mati hanya karena terjatuh dari tangga menuju atap Namimori. Benar begitu 'kan, Hibari Kyoya?"
―terang―
Hibari merasa punggungnya hangat seketika. Walaupun visinya kosong―tidak ada apapun di hadapannya, di pandangannya―ia merasa sekitarnya … terang.
Bukan, bukan terang yang itu; bukan terang yang biasa ia lihat sebelum mengalami kebutaan. Ini terang dari arah yang lain.
Gelap tapi … terang.
"… Iya 'kan, Hibari Kyoya?"
Hibari tersentak, dan mencoba berdiri tegak lagi, hanya untuk menyadari bahwa ada sepasang lengan yang melingkari bahunya. Erat, erat, dan erat sekali.
Tidak butuh waktu lama baginya, untuk menyadari bahwa itu adalah―
"Rokudo Mukuro."
"Oya. Memanggil namaku?" tanya Mukuro dengan selipan tawa khasnya. Lengannya masih melingkari bahu Hibari dengan protektif. Bagaikan Hibari akan hancur bila ia lepaskan pelukannya.
"Lepaskan, Herbivora." Tidak menjawab pertanyaan Mukuro, Hibari malah memerintahkan lengan Mukuro lepas dari tubuhnya.
Dengan fisiknya, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Mukuro. Malangnya, tubuh yang lebih kecil dari ilusionis itu tidak mampu melepaskan pelukan erat-amat-sangat itu …
… bahkan sampai Hibari Kyoya lupa, bahwa sepasang tonfa ia kaitkan di pinggang.
"Oya, kenapa tidak ambil tonfamu, dan melepaskan diri sendiri dari peganganku, Hibari Kyoya?" ucap Mukuro di belakang kepala Hibari.
Prefek Namimori itu tiba-tiba tersadar―bagaimana aku bisa sampai lupa, bahwa aku membawa tonfa―dan menyambar kedua tonfa di kiri dan kanan sisi tubuhnya. Secepat kilat, ia ayunkan tonfa itu tanpa arah yang jelas, namun cukup untuk membuat Mukuro agak terkejut, hingga melepaskan pelukannya pada Hibari.
Untuk ayunan kedua, Hibari lebih memperkirakan arah ayunannya. Meski ia buta, tubuhnya sudah terbiasa dengan arena pertarungan, termasuk pertarungan melawan ilusionis yang satu ini.
Trang!
"Kena," ucap Hibari singkat, begitu ia mendengar bunyi denting dua benda metal; yang ia yakini, adalah tonfa miliknya beradu dengan trisula milik Mukuro.
"Tidak―belum kena tubuhku, Hibari Kyoya," tanggap Mukuro terhadap perkataan Hibari sebelumnya. Hibari menyeringai mendengarnya.
"Siapa bilang yang tadi itu untuk mengenaimu? Yang tadi itu untuk memperkirakan posisimu. Yang ini," tonfa dari tangan kiri Hibari terayun tepat ke arah Mukuro, "baru untuk menyerangmu―"
Buk!
Tapi yang dihantam tonfa Hibari hanyalah tembok, bukan Rokudo Mukuro.
"Tch, dasar ilusionis," rutuk Hibari, karena ia tahu, Mukuro pasti sudah berpindah tempat dengan ilusinya.
"Kufufu. Sampai kapanpun, seranganmu tidak akan mengenaiku semudah itu, Hibari Kyoya."
Prefek Namimori-chuu berambut hitam kelam itu memilih diam. Secara tiba-tiba, nafsu bertarungnya merosot jauh. Ia memilih mengabaikan pemuda berambut biru yang datang mendadak tadi, dan menuju atap.
Hibari sudah tidak peduli, berapa anak tangga lagi menuju pintu atap.
"Oya? Mau kemana, Hibari Kyoya? Ke atap?"
"Bukan urusanmu, Herbivora. Pergi jauh-jauh dan jangan kembali lagi."
Cklek.
Pintu atap terbuka, lalu Hibari melangkah masuk. Seketika itu juga, angin bebas menerpa dan mengacak-acak rambutnya.
Lalu, Hibird yang memang sudah ada di atap terlebih dahulu akan menghampirinya. Ia akan melihat sekitar, mencari tempat yang tepat untuk menikmati tidur siangnya sejenak.
… itu kalau ia tidak buta.
Ingatan akan rutinitasnya dengan penglihatan sewaktu masih normal dahulu, membuat sesuatu berdenyut di dadanya.
Sakit. Sial.
Ia bukan Herbivora. Ia Karnivora. Seharusnya perasaan macam itu tidak menghampirinya. Seharusnya.
Gelapgelapgelapgelap. Sial.
Hibari berdiam membelakangi pintu atap yang tadi dibukanya.
"Tidak melangkah lebih jauh, Hibari Kyoya?" sebuah suara memecah keheningan setelah kedua kaki Hibari menginjak atap.
Hibari diam; tidak menjawab pertanyaan Mukuro.
"… Sakit?"
Tidak, Hibari tidak akan menjawab pertanyaan Mukuro; tidak akan mengiyakan pertanyaan bodoh itu. Tidak akan, meski kegelapan di visinya seakan menggerogoti sekujur tubuhnya.
"Hibari Kyoya," panggil Mukuro dengan suara datar, tanpa nada dibuat-buat khasnya.
"Apa, Rokudo Mukuro?" tanya Hibari balik dengan nada tidak kalah monoton. Ia tahu, bahwa Mukuro tengah berdiri tepat di sebelahnya. Tapi, ia tidak mempermasalahkannya; setidaknya, sampai kini ia sedang tidak bernafsu bertarung lagi.
Tatapan lurus ke depan, sambil memandang gedung-gedung menjulang, dengan suara rendah, Mukuro berkata,
"Penglihatanmu akan kembali. Pasti."
Hibari berbohong, bila ia menyangkal adanya terang yang menyelimuti visinya, walau sesaat. Terang yang sama, dengan yang ia rasakan saat Mukuro pertama datang menghampirinya.
"Terserah saja apa katamu, Herbivora."
"Aku serius―ah, sudah satu menit rupanya. Untuk hari ini, cukup sampai di sini, ya, Hibari Kyoya," ucap Mukuro tiba-tiba.
"Hn. Cepat pergi, Herbivo―"
Hening.
Hibari tahu, ucapan selengkapnya tidak akan terdengar sampai penjara Vendicare. Rokudo Mukuro pasti sudah kembali ke tangki air gelap itu.
Ah, gelap, ya….
Merasa tidak ada yang bisa ia lakukan lagi di atap, Hibari berbalik menuju pintu atap. Tidak mungkin mencari tempat yang pas untuknya tidur kali ini. Dengan kondisinya yang buta, amat tidak memungkinkan.
Cih.
"Tch, lebih baik segera turun saja."
Lalu Hibari membuka pintu atap, menuruni tangga dengan hati-hati. Akan konyol bila ia, Guardian Vongola yang terkuat, mati begitu saja hanya karena jatuh dari tangga.
Cih, teringat lagi. Lagipula, aku tidak terikat dengan Vongola atau apalah itu.
Ini semua karena ilusionis yang satu itu.
Karena tujuh menit yang dimintanya untuk dihabiskan bersama. Karena di menit kedua, ilusionis itu menjadi baik hati, dengan menyelamatkannya dari kejatuhan.
Mengingat itu, tiba-tiba saja, nafsu bertarung―nafsu Hibari untuk membunuh Rokudo Mukuro bangkit dan kembali lagi.
"Kugigit kau sampai mati, Rokudo Mukuro."
-to be continue-
[words count; story only (without "separate particle" between one paragraph with another, like "…" or disclaimer-appearance-syalala):: 1000 words]
A/N: kayaknya ending-nya sama lagi kata-katanya -_- /bukan kayaknya lagi, oy/ /beneren sama, orz/. ergh, bukannya jadi lebih bagus, hibari dan mukuro semakin ooc di sini, huhuhu ;_;. mana jadi kayak angst-gaje-gimana gitu, padahal genre-nya romance murni, astaga. jadi dengerin lagu ringan-romens ga ngaruh, dong? =A=
.
penjelasan prompt dua: kindness;
kebaikan hati. semua pasti melihat, kebaikan itu ada pada mukuro yang menyelamatkan hibari dari kejatuhan di tangga, tepat waktu. lebih jauh lagi, bukankah mukuro yang mau mengembalikan penglihatan itu berarti ia … berbaik hati? :""D #maksacoba
dan semoga di sini prompt lebih terasa dari chapter satu sebelumnya :").
.
well, review?
terimakasih kepada: cocoamilo • Hyuuzu • Hikari Kou Minami • Sachertorteei • Aoi no Tsuki • Eszett del Roya
semuanya sudah dibalas PM :")b.
« primo :: terzo »
