Sungguh anak berandalan!
Sakura menghela nafasnya kasar, ini masih terlalu pagi untuk emosi, tetapi ya bagaimana lagi, emosi Sakura sudah terlanjur sampai diubun-ubun. Ia bisa menjamin hari ini tidak akan berjalan dengan baik.
.
Love Line
Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I didn't take any personal commercial advantages from making this fanfiction.
Warning: AU, typo(s), EyD tidak ternotice, tidak ngefeel, membosankan, etc.
.
Don't like, Don't read!
.
.
Baru saja Sakura menginjakkan kaki jenjangnya di kantor guru yang masih sepi, ia langsung dibuat melotot sampai matanya hampir keluar karena melihat begitu banyak sampah kertas dimejanya. Ia tau siapa yang melakukan ini.
Ada diantara salah satu tumpukan sampah kertas itu, kertas yang masih terlihat baru -belum kusut- kertas itu ada ditumpukan sampah paling atas, karena penasaran ia mendekati mejanya lalu meraih kertas tersebut.
Sebenarnya gambar yang menghiasi kertas itu sangat bagus -gambar bunga-bunga yang terlihat hidup- tetapi tulisan yang merupakan jadi objek utama dan menjadi tema besar langsung membuat Sakura harus segera membuang sampah kertas tak berguna ini.
SEGERALAH RESIGN!
Kesabaran Sakura sudah diambang batas, ia tak bisa memberikan toleransi lagi pada anak-anak tengil itu, harus. Sakura akan menghukum mereka sehabis ini.
Awas kalian!
Maaf saja tapi Sakura tidak akan pernah resign dari sekolahan ini sebelum mereka lulus tepat waktu, saatnya mereka tau bahwa tak selamanya mereka bisa berjaya dan menindas yang dibawahnya. Sakura pastikan mereka merasakan rasanya kenyataan yang pahit -yang tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
.
Murid-murid duduk ditempatnya masing-masing saat melihat sensei-nya berjalan mendekat kearah kelas, duduk diam sambil menanti sensei, tetapi itu hanya dilakukan oleh beberapa murid saja, dan sisanya masih bermain-main.
Terutama tiga siswa -yang duduknya paling belakang pojok kanan- masih berbincang dengan santai. Ada yang kakinya ditaruh diatas meja laksana bos besar, ada yang duduk bersila dimeja sambil menguap terus menerus, dan ada yang dengan seenak jidatnya berpacaran dikelas -si gadis duduk anteng dikursinya, sesekali tertawa pelan, dan kekasihnya duduk dimejanya, tak lupa sedikit menggoda gadisnya.-
Kalian taulah siapa empat siswa itu, tiga siswa berandalan yang susah diatur dan ditambah satu siswi yang merupakan kekasih salah satu dari mereka.
"Ohayou-" Sakura mengerutkan keningnya, "Hei kalian yang masih duduk diatas meja, apa kalian tidak pernah diajarkan sopan santun?" Sakura melenggang masuk lalu menaruh buku bawaan dimeja.
"Naruto, aku sudah pernah bilang jangan berpacaran dikelas. Segera duduk ditempat masing-masing kita akan mu-"
BRAK. Naruto turun dari meja Hinata dengan kesal.
"Sensei, apa masalahmu?" Tanya Naruto dengan menatap Sakura dengan pandangan tak suka atau bahka bisa dibilang pandangan benci, "Jika kau menyukaiku katakan saja."
Cih.
"Masalah? Kau yang bermasalah, tuan muda." Sakura melipat tangannya didada, menatap sebal muridnya yang paling suka mengumbar kemesraan didepan umum.
Naruto tertawa meremehkan, lalu berjalan mendekat kearah Sakura dengan tatapan yang...errr... yang menurut Sakura seperti orang sedang dipenuhi hawa nafsu, seakan-akan Naruto ingin memperkosanya dikelas. Sakura mundur sedikit demi sedikit,
DEG
Punggunya sudah mencapai papan tulis, "A-Apa?" Sakura sudah gugupnya setengah mati tetapi dengan cepat ia mengusir kegugupannya, ia tak boleh terlihat menyedihkan didepan muridnya dan jujur saja, ia tak pernah sedekat ini dengan laki-laki.
"Sensei, kalau dilihat-lihat...dadamu besar juga." Bisik Naruto tepat ditelinga Sakura, nafasnya menyapu permukaan kulit telinganya dengan lembut membuatnya lemas, tetapi Sakura tidak boleh tumbang disini, ia harus kuat.
"Ming..gir-ahh" Sakura tak punya tenaga lagi, Naruto semakin mendekatkan tubuhnya pada Sakura dan terus meniup pelan telingannya.
Sekelas hanya tepuk jidat dan langsung pasang earphone ditelinganya, ini sudah menjadi tontonnan yang biasa, Naruto juga pernah melakukan seperti ini dengan guru sebelum Sakura. Hinata saja hanya diam dan tersenyum pasrah mendoakan sensei agar cepat-cepat keluar dari sekolah ini biar tidak disiksa lebih lagi.
"Dasar anak mesum itu." Shikamaru menguap untuk membuah rasa ngantuknya, lalu menatap malas pasangan guru dan murid mesumnya yang sedang bersenang-senang didepan. Sasuke tak merespon ucapan Shikamaru, ia terlalu sibuk menatap Naruto dengan tatapan tajam dan mengawasi.
Tampaknya Sakura sudah kuat lagi, kakinya terlihat bergetar pelan, Sakura tidak bisa membendung gejolak perasaan yang tampak asing dari dalam dirinya dan itu membuat Naruto menyeringai, ia bersiap untuk menggigit telinga Sakura-
SRAK. Sasuke bangkit berdiri lalu mendekat kearah Naruto.
"Naruto, jangan lalukan itu disini." Ucapnya dingin.
Naruto menatap malas Sasuke yang berada dibelakangnya, ia melihat mata onyx Sasuke menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, tatapan benci atau risih atau...cemburu.
Eh, Cemburu?
Mana mungkin Sasuke cemburu. Mustahil.
Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kelas dengan tergesa-gesa dan membuat semua mata menatap kearah orang tersebut sedangkan yang ditatap hanya balik menatap bingung.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya pemuda berkulit pucat tersebut polos.
"Tidak, kau tepat waktu, baru saja kita mau mengeksekusi guru keras kepala itu." Ucap Shikamaru sembari berjalan keluar kelas, "Ruang Seni kosong." Ia mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
Naruto menyeringai, "Kita pindah tempat sensei, setelah pindah kau boleh menyalurkan nafsumu-"
PLAK. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Sakura menampar wajah Naruto dengan keras sampai membuat seisi kelas menatap kearahnya dan menjadi hening seketika.
"Maaf saja tapi aku tidak sudi bermain denganmu!"
Naruto geram, ia hendak membalas tamparan Sakura tadi tapi langsung dicegah oleh Sai, "Sudahlah, biar aku yang membawa wanita ini."
Sai menatap Sakura dengan prihatin lalu tersenyum lembut, "Ohayougozaimasu, sensei."
Sakura dongkol, diwaktu seperti ini bukan saatnya untuk mengucapkan selamat pagi, "Sekarang ayo kita pergi, tidak enak jika kita mengeksekusimu disini."
Eksekusi? Kau pikir aku narapidana pengedar narkoba?!
Sai merangkul Sakura kasar tetapi karena Sakura bukanlah perempuan yang mudah ditaklukan, maka terjadi sedikit pemberontakan, "Lepaskan...aku!"
"Sensei yang cantik tidak boleh memberontak, jadilah anak baik." Sekali sentakan Sai menarik paksa Sakura untuk mengikutinya keluar kelas.
Sakura susah payah mengikuti langkah Sai yang cukup cepat dan lebar, salahkan juga rok Sakura, itu yang membuat jalannya menjadi pelan. Mereka pergi keruang seni yang berada di lantai tiga.
Sesampai disana, Sai langsung mendorong Sakura masuk dengan kasar, "Akh-". BRUK. Sakura merasa ia seperti menabrak dada seseorang dan sepersekian detik kemudian dia langsung sadar bahwa ia memang benar-benar menabrak dada orang.
DEG. Uchiha Sasuke.
Sasuke melirik Sakura yang sedang menatapnya dengan tatapan terkejut bercampur dengan tatapan terpesona dan sekilas, Sakura berfikir bahwa Sasuke ini jika diperhatikan dia tampak sedikit tampan, sedikit saja, lalu dengan cepat Sakura menjauh dari dada bidang milik Sasuke.
Jantungnya Sakura rasanya mau copot.
"Hoo dia menyukaimu Sasuke.." celetuk Naruto yang membuat Sasuke langsung meliriknya tajam.
Shikamaru terkekeh, "Sensei, jadi itu alasanmu kenapa kau tau mau pergi dari sekolahan ini?" Tanya Shikamaru sambil memasukkan tangannya di saku celananya.
"Apa kau tak melihat bagaimana tatapan matanya saat ia melihat Sasuke tadi?" Naruto menyenggol Shikamaru, "Tatapan yang berkata kau tampan sekali, Sasuke, haha"
Muka Sakura langsung merah padam bagaimana bisa si mesum itu tau pikirannya, "Aku-"
"Disukai oleh wanita keras kepala seperti dia? Cih." Sasuke tersenyum miring.
Sakura jengkel mendengar ucapan Sasuke yang terbilang sombong ditelinganya. Dia langsung mendorong Sasuke, "Hei jaga mulutmu tuan muda! Cih? Aku juga tidak sudi menyukaimu, menyukai laki-laki dingin tak berperasaan sepertimu, lebih baik aku mati saja daripada harus menyukaimu." Sakura menatap Sasuke marah, "Dengar ya, sejak awal kita bertemu aku sudah membencimu dasar laki-laki bangsat-"
CUP. Sakura merasakan seseorang telah mencium lehernya.
"Seorang wanita yang berbudi luhur tidak boleh berucap kasar." Karena sibuk memarahi Sasuke, ia sampai tak sadar bahwa Sai berjalan mendekat dan mencium lehernya, Sai tersenyum kearah Sakura yang masih terkejut sambil menutupi lehernya sendiri.
-tanpa Sai sadari, Sasuke telah menatapnya tajam.
"Sensei, kemarilah, kau pasti lelah daritadi terus berdiri." Shikamaru menyediakan sebuah bangku yang ia seret sampai ketengah mereka, "Tidak ma-" Sai mendorong Sakura agar duduk dikursi itu lalu langsung mengikatnya dengan kencang.
"HEIII LEPASKAN! TOLONG-HMMPPHHH!"
"Sensei, seorang wanita cantik sepertimu tidak boleh berteriak-teriak nanti mengganggu kelas lain." Ucap Naruto setelah melakban mulut Sakura.
"HHMMPPHH!" Kaki, tangan bahkan badanya sudah diikat kencang dengan kursinya, tamatlah riwayatnya hari ini.
Sasuke beserta sahabatnya langsung pergi meninggalkan ruang seni, tak lupa mereka mengunci pintunya agar tak ada seorangpun yang berusaha membantunya keluar dari ruangan itu.
Tetapi sebenarnya, Sakura harus sedikit bersyukur karena sebetulnya rencana awal, Sakura akan dikunci di gudang belakang sekolah yang sudah tidak pernah dipakai, tetapi berkat pikiran cerdas Shikamaru yang mengingatkan bahwa disana banyak kecoa terbang dan malah akan menyusahkan mereka sendiri maka telah diputuskan untuk menggunakan ruang seni yang kebetulan hari ini tidak ada jam seni.
Tapi ya, mana ada orang yang sedang disekap seperti ini mengucapkan puji syukur.
Sakura berharap ada satpam atau siapa gitu yang menemukannya tersekap diruang ini, setelah ia bebas dari sini ia akan melaporkan perlakuan tak senonoh muridnya kepada sekolah.
xxxxxxxxxxxxxxx
Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam, sudah hampir seharian Sakura berada diruang seni. Sasuke tersenyum puas, sebentar lagi wanita itu pasti akan melakukan resign seperti yang ia harapkan.
Ia mengambil soft drink didalam kulkas lalu membawanya kedepan televisi, "Rasakan itu."
Sasuke mendengar pintu seperti dibuka oleh seseorang, ia langsung menyerngitkan dahinya ketika melihat siapa yang masuk.
"Kau.. bagaimana bisa?"
Sakura berjalan sempoyongan mendekati Sasuke lalu menunjuk mukanya, "Dasar anak na..kal." ia pingsan dan dengan cepat Sasuke langsung meraih pinggangnya, menahannya agar Sakura tidak jatuh kelantai.
Sasuke berdecih pelan, "Kau ini merepotkan sekali." Ia segera menggendong Sakura dan membawanya kedalam kamar, selama ia membawa Sakura masuk kedalam kamar, Sasuke merasa bahwa tubuh Sakura ini sangat panas.
Dengan perlahan, Sasuke menidurkan Sakura dikasurnya lalu menatapnya sejenak. Sakura terlihat sangat menyedihkan, kemeja putihnya sudah lusuh dan kotor serta rambutnya yang sangat berantakan.
"Mama.." gumam Sakura parau, Sasuke bisa menebak Sakura belum makan seharian ini, "Mama.." gumamnya sekali lagi.
Sasuke berdecak kesal, "Kenapa memanggil-manggil mamamu? Kau ingin mengadukan perlakuan kejamku padanya?" Sasuke meraih ponselnya yang berada di atas meja sebelah kasurnya lalu dengan cepat ia menghubungi salah satu kontak yang tersimpan di ponselnya.
Seperti yang dikatakan oleh Shikamaru bahwa semua perempuan itu merepotkan. Sakura merepotkan Sasuke.
"Haloo Sasuke, ada apa? Kalian sudah berhasil? Sakura sudah hamil? Sudah berapa minggu?" Sahut orang disebrang sana dengan pertanyaan beruntun yang jauh dari topik.
"Ibu bukan itu yang ingin kubicarakan-"
"Sakura sudah hamil?"
Sasuke berpikir kalau menghubungi ibunya sekarang adalah sebuah kesalahan. Ibunya ini sudah sangat tidak sabar menggendong cucu, "Dengarkan aku dulu."
"Baiklah, apa?" Ibu Sasuke menghela nafas.
"Bagaimana merawat orang sakit demam?"
"Sakura sakitt? Kau apakan dia?" Tanya ibunya dengan nada sedikit ditinggikan.
"Dia sakit sendiri, bukan salahku."
Ibunya diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sasuke, "Kompres dia dengan air agar panasnya bisa turun lalu masakan dia bubur sehabis itu suruh dia minum obat, jika dia belum sembuh sampai besok pagi, bawa dia ke rumah sakit."
"Baiklah." Sasuke memutuskan teleponnya dan memandang Sakura sejenak, ada rasa bersalah yang muncul di hatinya, tetapi karena Sasuke terlalu cuek jadi dia masa bodoh dengan rasa bersalahnya.
Pertama yang harus dilakukan Sasuke adalah mengambil air lalu mengompres Sakura. Sasuke seumur-umur belum pernah merawat orang sakit seperti ini.
Yang kedua memasakkan bubur. Sasuke berjalan kedapur lalu memandang dapur itu sejenak, Bagaimana cara membuat bubur?
Yah, dengan bantuan ponsel dan jaringan internetnya, Sasuke membuat bubur sebisanya sambil mengikuti resep yang ia baca dari internet, "Aku tidak akan pernah bertanggung jawab jika sehabis memakan ini Sakura tewas. Salah sendiri dia selalu merepotkanku."
Beberapa menit kemudian bubur itu jadi juga, hampir 3 jam ia berkutat di dapur, ia hampir menghabiskan persedian beras dirumahnya. Setelah membereskan peralatan dapur dan membersihkannya, Sasuke segera menuju ke kamar.
"Bangun."
"..." Sakura masih terlelap dalam pingsannya.
Sasuke menyerngitkan dahinya lalu menepuk-nepuk pipi Sakura, "Bangunlah!"
"..." Sakura masih memejamkan matanya.
Sasuke terus menepuk-nepuk pelan pipi Sakura, "Kau sudah mati?" Baru setelah Sasuke mengucapkan itu, Sakura perlahan membuka matanya, "Siapa yang mati?"
"Kau."
Sakura segera bangun dengan sigap, "Dimana aku?! Kau mau memperkosaku?!" Ia menyilangkan tangannya didadanya.
"Aku tidak tertarik memperkosamu. Ini dikamarku."
"Kamar kita-"
"Aku tidak pernah sudi berbagi kamar ini denganmu." Ucap Sasuke dari hati yang tedalam.
Ya, sejak mereka pindah dari rumah mertua ke apartemen milik mereka sendiri, Sasuke tidak pernah mengizinkan Sakura untuk tidur dengannya dikamar ini. Sakura selalu tidur di sofa depan televisi, hanya barang-barangnya saja yang diperbolehkan untuk tinggal dikamar ini.
Sampai kapan Sakura harus sabar dengan Sasuke?
"Makan. Aku sudah susah payah membuat bubur ini." Perkataan Sasuke barusan membuat Sakura langsung mengarahkan matanya kearah meja kecil yang berada dekat di kasurnya, Sasuke membuatkannya bubur ini?
"Ada racunnya?"
"Tidak, tapi jika sehabis memakan ini kau mati berarti tadi aku tidak sengaja memasukkan racun didalamnya."
Sakura merinding, "I-it-tada-kima-su.." semoga ia selamat setelah memakan ini.
Sasuke melirik jam yang berada di kamarnya, jarum jam sudah menunjukan pukul tiga dini hari, "Setelah ini kau harus membalas budimu karena demi kau, aku harus menghabiskan malamku hanya untuk memasak bubur ini." Sasuke berjalan kearah sofa yang berada didalam kamarnya lalu merebahkan tubuhnya dan tidur.
Sakura memanyukan bibirnya, jika kau tidak mau direpotkan dengan hal ini kenapa kau harus melakukannya? Kau kan bisa membiarkanku mati karena demam, kenapa harus peduli denganku yang setiap hari harus terkena perilaku dinginmu.
Peduli?
Sakura menghabiskan bubur itu dengan cepat, rasanya lumayan walaupun sedikit asin, tetapi ini sudah sangat sempurna bagi orang yang tidak pernah masak lalu tiba-tiba disuruh memasak.
Sasuke peduli dengannya?
Sakura memandang Sasuke dari kasurnya, disekolah sikapnya seperti ketua geng yang bajingan, di rumah sikapnya berubah menjadi dingin seperti kulkas, dan sekarang sikap berubah menjadi sedikit peduli dengan Sakura.
Apa aku sedang dipermainkan oleh Sasuke?!
Sakura tidak boleh lengah, bisa saja ini perangkap. Ya benar, jangan sampai Sakura dengan bodohnya jatuh kedalam perangkapnya.
Apa jangan-jangan bubur ini ada racunnya beneran? Lalu beberapa jam lagi aku akan mati?!
Tetapi Sakura sepertinya lebih bahagia jika ia mati sekarang, sehingga nanti nyawanya bisa gentayangan dan bisa menghantui mereka berempat.
"Ohya, siapa yang membebaskanmu?" Ucap Sasuke secara tiba-tiba membuat Sakura yang sedang berkutat dengan pikiran-pikiran anehnya sedikit terkejut.
Sakura berpikir sejenak, oh iyaa, kenapa dia bisa lupa dengan orang yang telah menyelamatkannya, "Entahlah, aku sudah lupa." Kalau dipikir lagi kenapa Sakura bisa lupa dengan orang itu.
Setelah percakapan singkat itu, mereka langsung jatuh kedalam mimpi mereka masing-masing.
.
TBC
.
Haiiii... maafkan kemarin udah janji bakal langsung dilanjutin tapi aku malah dilanda sakit gigi yg luar biasa dan itu membuat moodnya berantakan..
Aku minta maaf semuanya :( aku tak bermaksud melanggar janjiku tapi sakitnya membuat aku melanggar janjiku (?)
Maaf jika yang ini sedikit gajelas atau aneh, masalahnya sakit gigi ini bikin pening juga... kalau tidak puas aku minta maaf sebesar-besarnya.
