MIDNIGHT NIGHTINGALE


Disclaimer: Bleach belongs to Tite Kubo-sensei (kecuali Aline-chan udah diadopsi jadi istrinya)

A/N: Update~! Maaf, saya tidak senang membacot, karena itu mari kita mulai saja ceritanya… ENJOY!


Chapter 2 : "HOME"


NORMAL'S POV



"Ini rumahnya?"

Gadis berambut hijau kebiruan, Nel, menatap sebuah bangunan sederhana di hadapannya. Bangunan itu berbentuk rumah—ya, rumah, bukan kastil—berukuran 75x75 dengan desain minimalis. Terdapat banyak jendela raksasa dan memiliki dua lantai. Lantai satu terlihat biasa, sementara lantai duanya terlihat lebih… khas. Terdapat gerbang baja berwarna abu-abu, disusul dengan pintu depan yang bersebelahan dengan garasi. Rumah itu dikelilingi taman hijau yang asri.

"Bagus, kan?" Harribel menyahut, wajahnya terlihat sumringah. "Kau suka kan, Nel?"

Nel, bagaimanapun, hanya bisa mengangguk perlahan sambil mencoba tersenyum. Sisi positifnya akhir-akhir ini entah menguap kemana.

"Bagus sekali. Kayak rumah pengantin baru," celetuk Grimmjow seenaknya. Harribel mendelik tajam ke arah pemuda itu, tapi yang dilirik memalingkan muka. "Aku jujur kok."

"Maaf, aku nggak bertanya padamu, Kitty-kun," balas Harribel pedas. Grimmjow langsung memasang tampang bete mendengarnya—mau marah salah, cuek nggak bisa, jadilah bete.

Sementara itu, si sulung, Ulquiorra, sudah berjalan memasuki rumah dengan tenangnya. Ia membuka pintu utama, lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah, kemudian mengangguk tanda senang. Setelah memandangi taman yang terlihat jelas dari jendela lantai satu, ia menaiki tangga dengan perlahan menuju ke lantai dua. Sampai di lantai dua, ia kembali mengangguk perlahan.

Sementara di lantai bawah, tiga drakula yang tersisa sudah memasuki rumah.

"Buat apaan ada garasi, mobil aja kita nggak punya," komen Grimmjow begitu tadi melihat ada garasi di samping rumah.

"Siapa tahu nanti aku beli mobil," sahut Harribel.

"Buat apa juga tamannya rimbun? Kayak hutan," Grimmjow kembali berkomen.

"Supaya kita nggak kegerahan dong," Harribel kembali menyahut.

"Buat apa ada dua lantai. Satu kan cukup. Mubazir," lagi-lagi Grimmjow mencela.

Harribel melesat ke depan cowok biru itu, lalu berdiri tegak sambil menatap tajam cowok itu. Mata emeraldnya bertemu dengan mata biru langit Grimmjow. Gadis pirang itu mendekatkan wajahnya ke wajah Grimmjow.

"Dengar baik-baik, Jeagerjaquez," desis Harribel, membuat Grimmjow menatapnya syok. "Kalau kau komen lebih jauh lagi, aku dengan senang hati akan melemparmu ke laut tanpa segan-segan! Kau mengerti?"

Walau dalam hati sebenarnya ketakutan melihat ekspresi kakak perempuan sulungnya, Grimmjow berkeras sok angkuh. "Lempar saja. Aku bisa berenang."

"Jeagerjaquez!" Harribel membentak.

Dengan kurang ajarnya, Grimmjow balas membentak. "Apa sih?"

Nyaris Harribel menampar wajah Grimmjow, Nel dengan gerakan cepat menarik tubuh Grimmjow ke belakang. Dua orang yang sedang berdebat sontak menatap Nel, lalu kembali lagi bertatapan.

"Grimm, ikut aku yuk," Nel mengajak, tangannya menarik-narik lengan Grimmjow.

"Nanti, Nel," Grimmjow menolak, matanya menatap tajam Harribel.

Nel masih berusaha membujuk, "Grimm…"

Harribel mendongak, menatap Grimmjow seolah-olah pemuda itu hanya debu nista. "Terserah kau mau bilang apa, Jeagerjaquez. Kenyataannya ini rumah kita sekarang. Kalau tidak suka, keluar saja sana." Kemudian gadis pirang itu menaiki tangga, meninggalkan Grimmjow dan Nel sendirian.

"Cih! Sok banget dia!" Grimmjow mengumpat, lalu melesat keluar rumah dari jendela.

Buru-buru Nel mengejar Grimmjow. Keduanya melesat diantara lebatnya pepohonan hutan. Berulang kali Nel berusaha menyusul Grimmjow, tapi ternyata kecepatan Nel masih di bawah Grimmjow. Pemuda itu dengan luwes berlari di atas batang pepohonan, sesekali melompat tinggi dan terdiam sesaat di atas dahan pepohonan tertinggi.

Menyerah untuk menyusul, Nel hinggap di salah satu dahan pohon. Ia menatap Grimmjow yang berdiri memunggunginya di atas dahan pohon lainnya yang berjarak lumayan jauh dari tempatnya.

"Grimm, kita tidak bisa menolak atau protes, coba kau pikirkan bagaimana perasaan Ulquiorra dan Harribel!" Nel memulai. "Kau tahu nggak, sudah bagus kita dapat rumah begini. Coba bayangkan kalau kita harus hidup nomaden! Kenapa sih otakmu pendek banget?"

Grimmjow membalikkan tubuhnya, menatap Nel dengan malas. "Berisik, Nel."

"Grimm, aku kan bilang begini demi kau juga!" Nel mulai emosi. "Kenapa kita nggak coba saja tinggal disini untuk sementara? Kenapa kita nggak coba untuk menghargai Ulquiorra dan Harribel?"

Grimmjow mengerang. "Kau kedengaran seperti penceramah kolot, Nel."

"GRIMM! Bilang apa kau tadi?"

"Nggak," Grimmjow mengedikkan bahu. "Pulang sana. Aku mau berburu."

"Belum ada perintah—"

"Sampai berburu juga harus diperintah Harribel?" tukas Grimmjow. "Nel, aku tahu kau nggak mau menyakiti Ulquiorra atau Harribel, tapi sifat sok ksatriamu itu bakalan menyusahkanmu, tahu. Kau nggak suka menyakiti orang, tapi kau menyakiti dirimu sendiri! Mencoba pikirkan perasaan orang, tapi nggak memikirkan perasaan sendiri! Lebih baik kau katakan sejujurnya saja pada mereka, kalau kau juga nggak mau tinggal di rumah baru itu!"

Nel kembali berteriak. "GRIMM! KAU—"

"Coba jujur sama perasaan sendiri," Grimmjow kembali menyela. "Kalau suka, bilang suka. Kalau tidak, bilang tidak. Jangan jadi penjilat." Lalu dengan entengnya, drakula muda penyuka kucing itu kembali melesat, meninggalkan Nel yang terluka sendirian.


Malam tiba.

Grimmjow belum kembali, sementara Nel masih mengurung diri di kamarnya sejak siang tadi. Sepertinya perkataan Grimmjow benar-benar melukainya.

Pintu kamar Nel diketuk tiga kali dari luar, tapi gadis cantik itu tidak peduli—ia sibuk membenamkan wajahnya ke dalam bantal yang sore tadi dibelikan Harribel di kota.

Wangi mint yang khas menguar ketika pintu terbuka.

Tidak perlu melihat siapa yang membuka pintu, karena Nel hapal betul aroma ini.

"Nel."

Tangan pucat yang dingin mengelus pundak Nel dengan lembut, kemudian mengelus-elus kepala Nel. Alhasil, Nel terpaksa menengadahkan wajahnya dari bantal. Dengan mata sayu, Nel menatap sepasang mata emerald yang menatapnya datar.

"Ulquiorra," desis Nel parau. Sepertinya gadis ini habis menangis.

Ulquiorra mengangguk, lalu duduk di tepi ranjang Nel. "Harribel dan aku cemas gara-gara kau mengurung diri sampai tujuh jam. Ada apa?"

Nel menggeleng. "Tidak…"

Ulquiorra tertawa kecil, tangannya mengelus-elus kepala Nel. "Kau tahu nggak, kau payah banget soal berbohong?"

Nel meringis. "Tapi ini—"

"Grimmjow kan? Biar nanti aku urus dia. Nel, Harribel mengajakmu berburu. Pergilah bersamanya."

Nel menatap abang tertuanya dengan panik. "Jangan! Jangan apa-apakan Grimmjow! Kumohon!"

Ulquiorra mengernyit.

Sadar akan sikap anehnya, wajah Nel merona. "Ehh, anu… maksudku… eng, aku tidak mau ada pertengkaran keluarga."

Ulquiorra mengangguk saja. "Ya. Tidak bakalan."

Nel masih sangsi. "Janji?"

Ulquiorra mengangguk lagi. "Janji."

"Yay!" Nel melompat, menerkam Ulquiorra. Ia memeluk pemuda pucat yang tampan itu dengan kedua lengan langsingnya. "Aku sayang kau, Ulquiorra!"

"Ya, ya. Aku juga sayang kau, Nel. Sana, temani Harribel berburu."

Nel melepas pelukannya, cengengesan sebentar, lalu melompat dari jendela kamarnya dan melesat ke hutan—aroma cinnamon menguar kuat dari arah hutan, pertanda Harribel sudah menunggunya di sana.

Sepeninggal Nel, Ulquiorra menghela napas. Pikirannya terpaku pada Grimmjow.

"Apa lagi yang dia inginkan?"


TBC


Selesai Chap 2!

Wahahahaha! Nggak sangka, lho!


Anyway, ini saatnya membalas reviews dari para Senpai yang cakep-cakep…

koizumi nanaho: gomen, Nanaho-senpai, setahu Aline-chan, drakula dan vampire itu beda? Sebenarnya, kalau vampire itu bisa berubah jadi kelelawar, dan drakula itu nggak bisa berubah jadi kelelawar. Bedanya lagi, vampire itu berbisa—maksudnya bisa menularkan vampiric-nya ke manusia—tapi drakula nggak punya bisa. Anyway, arigato gozaimasu for the reviews!

ayano646cweety: makasiiiihhh applause-nya ayano-senpai! Wah, Ayano-senpai suka Ulquiorra? Puaskah dengan chapter 2 ini? Aline-chan menambahkan sedikit adegan Ulquiorra disini :D

ChocoIchixLollipop: Salam kenal juga, Ichi-senpai! Makasiii pujiannya! Iya ini udah aku tambahin disclaimer-nya :D

Lenalee Shihoin: Kyaaaa! Arigato arigato arigatooooooooooooooooo… Lenalee-senpai! Reviews terus fic ini yaaaaaa :D

aRaRaNcHa: Cha-senpaiiiiiiiii… makasiiii kritiknyaaaaaa XDDD aku bakalan lebih berusaha! Reviews terus yaaaaaa :DDDD