SANG BURONAN CINTA

Chapter 2


Suara tembakan menggema di mana-mana, suaranya yang bergemuruh menggelegar. Orang-orang berteriak, menjerit kesakitan di sela-sela suara tembakan. Darah-darah berceceran, mengalir, mengotori semuanya. Seorang anak laki-laki berambut blonde mengintip semua pemandangan itu dari balik lemari kecil.

'Ketemu kau!'

BANG!

Siang harinya, Naruto yang baru saja bangun dari tidurnya, mendapati dirinya masih berada di rumah Sakura, gadis berambut merah yang kemarin telah menolongnya. Naruto mengusap-usap dahinya, peluh membasahi dahinya. Ketika ia menoleh ke arah bahunya, ia melihat bahwa cahaya matahari merembes masuk lewat jendela. Sambil berusaha menyelaraskan nafasnya, Naruto duduk di sisi tepi tempat tidur.

Ia baru saja bermimpi buruk.

Mimpi yang tak ingin dilihatnya lagi.

Naruto menundukkan kepalanya. Memikirkan mengenai mimpinya barusan. Tetapi tiba-tiba saja ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sambil menepuk jidatnya sendiri, Naruto mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan tempat ia tidur. Ia memang masih berada di rumah Sakura dan ia tidur di kamar milik Sakura yang satu lagi, yang terpisah jauh dengan kamar gadis itu. Saat Naruto beranjak bangun dari tempat tidur, ia mendapati bahwa kamar tidur yang ditidurinya ini benar-benar berantakan. Banyak perabotan yang sudah tak jelas lagi tempatnya. Bahkan buku-buku berserakan di sekitarnya. Ada beberapa kardus yang berisi komik-komik untuk remaja lak-laki, yang keadaannya sudah lusuh saat Naruto mengeceknya. Ada beberapa poter tokoh-tokoh wrestling yang posternya tergulung rapi di dalam sebuah kardus besar, beserta sebuah bola basket dan sepasang sepatu kets. Bahkan ada beberapa foto terpampang di sekitar meja dan tembok-tembok.

Naruto mengamati semua barang-barang tersebut dengan seksama. Ia merasa seperti sedang berada di sebuah kamar anak laki-laki remaja berusia belasan tahun.

Lalu sesuatu menarik perhatian Naruto, sebuah foto di sisi tempat tidur, sebuah foto tua.

Naruto memicingkan matanya, mengamati apa yang terbingkai di foto tersebut. Ia meraih foto tersebut dan menimang-nimangnya. Dilihatnya foto itu lebih dekat. Di foto tersebut, terdapat foto dua orang anak. Sepasang anak yang tampaknya tak jauh perbedaan usianya, yang salah seorangnya sedang tersenyum sambil melambaikan tangan ke kamera, sementara yang lainnya memeluk sosok yang sedang melambaikan tangannya tersebut.

Saat Naruto mengamati foto tersebut baik-baik, ternyata gadis yang sedang memeluk anak laki-laki yang sedang melambaikan tangannya adalah Sakura, tetapi dalam wujud seorang gadis remaja berusia empat belas sampai lima belas tahun dengan rambut panjang sepinggang. Sementara anak laki-laki yang sedang melambaikan tangan memiliki wajah yang agak mirip dengan Sakura, dengan rambut berwarna hitam dan mata yang berwarna hitam, berbeda dengan mata zamrud milik Sakura. Dan kalau dilihat-lihat,tampaknya anak laki-laki ini berusia sekitar sebelas tahunan. Naruto mengernyit heran. Rasanya anak ini sedikit familiar, apa ia pernah melihat anak ini di suatu tempat?

Suara pintu yang terbuka mengagetkan Naruto, "Kau sedang apa?" ternyata Sakura yang sedang membuka pintu. Ia memasang wajah polos ketika mendapati Naruto menoleh ke arahnya dengan buru-buru, sedang menatapnya dengan tatapan kaget.

"Bu-bukan apa-apa! Kau sendiri, seharusnya kau ketuk pintu dulu kalau mau masuk!" seru Naruto kesal, wajahnya terlihat benar-benar kaget. Ia tak sadar bahwa Sakura sedang berada di ambang pintu.

"Ini rumahku. Jadi terserah aku mau melakukan apa. Lagi pula kau ini hanya tamu," sahut Sakura sambil menggembungkan pipinya.

Naruto hanya menghela nafas. Meski gadis di hadapannya ini sepertinya berusia sekitar sembilan belas tahunan—hanya berbeda beberapa tahun dengannya, tetapi sikapnya cukup kekanak-kanakkan. Tetapi sebenarnya gadis ini cukup imut juga kalau bersikap seperti itu. Naruto meletakkan kembali foto di tangannya ke tempat asalnya dengan membalikkan bingkai fotonya.

"Ya, aku tahu. Maaf." Naruto mengusap-usap bagian belakang kepalanya.

"Tidak apa, lagipula aku kan hanya bercanda," sahut Sakura sambil terkekeh sedikit. Ia berjalan menghampiri Naruto sambil membungkukkan badannya ke arah foto yang baru saja diletakkan oleh Naruto, memungutnya, "Lalu, apa yang sedang kau lihat tadi dari foto ini?" tanyanya.

"Aku hanya kebetulan menemukannya," ujar Naruto, "Siapa anak laki-laki yang bersamamu di foto itu? Wajahnya itu... terlihat sama persis sepertimu."

"Oh? Maksudmu anak ini?" Sakura menunjuk pada gambar anak laki-laki yang sedang melambaikan tangannya, "Dia ini adikku. Namanya Konohamaru. Ia tewas karena kecelakaan dua tahun lalu. Sebelum ia meninggal, aku dan dia tinggal bersama almarhumah kakekku. Dan sejak kakekku meninggal, aku pindah ke tempat ini bersamanya. Kini aku tak mempunyai sanak famili."

Dan kini hanya kau yang tinggal di sini sendirian, batin Naruto. Ia merasa sedikit menyesal telah menanyakan hal itu pada Sakura, "Maaf, aku tak bermaksud menyakiti hatimu... Aku tak bermaksud menanyakan adikmu yang sudah meninggal."

"Tak apa," Sakura menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Naruto, "Biasanya aku senang untuk mengingatnya. Dan juga, kamar yang kau tiduri ini adalah kamar tidurnya semasa ia hidup dulu."

Naruto menggigit bagian bawah bibirnya. Perasaannya jadi tak enak, "Be-begitu ya..."

Sakura hanya tersenyum melihat reaksi Naruto. Ia menarik pergelangan tangan Naruto, menyuruhnya keluar, "Sudahlah. Ayo sekarang kita sarapan. Aku sudah membuat roti panggang untukmu," kata Sakura sebelum berlalu keluar dari dalam kamar. Naruto berjalan mengikutinya.


Di atas meja makan tersedia sepotong roti panggang dan selai kacang di atasnya. Naruto menjilati bibirnya. Sudah dari kemarin ia tak makan gara-gara ia terlalu sibuk memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran polisi. Dan hari ini ia merasa benar-benar kelaparan. Ia pun mengambil roti tersebut dan melahapnya dengan lahap. Tetapi ia langsung berhenti makan saat melihat Sakura sudah berpakaian rapi.

"Kau tak sarapan?" tanya Naruto. Heran melihat Sakura tak melahap sarapannya.

"Aku tak terbiasa sarapan. Dan sekarang sudah saatnya aku berangkat bekerja di klinik," jelas Sakura. Ia meraih jaketnya dari gantungan baju dan memakainya, "Berhati-hatilah di sini. Jangan membukakan pintu kalau ada orang asing selain aku. Dan jangan keluar dari rumah sembarangan kalau kau ingin polisi tak menemukanmu. Aku tak mau sampai kena masalah hanya karena ketahuan menyembunyikan buronan polisi di rumah."

Naruto tersenyum getir, "Kau terdengar seperti seorang ibu yang khawatir pada anak perempuannya. Tapi tenang saja, aku tak akan berharap agar ditemukan polisi."

Sakura menyisir rambutnya ke belakang, "Baiklah. Aku berangkat dulu. Kuncinya aku percayakan padamu, karena aku yakin bahwa kau tak akan mencuri barang-barangku di rumah ini. Jadi aku berharap kau tak keberatan kalau aku menyuruhmu untuk menjaga rumahku," kata Sakura sambil meletakkan kunci di atas tangan Naruto, sebelum ia beranjak pergi.

"Baiklah. Tenang saja. Kau bisa mempercayakannya padaku," gumam Naruto, kembali melanjutkan sarapannya.

Belum lama Sakura meninggalkan rumahnya, Naruto sudah menghabiskan roti panggangnya. Tetapi ia masih merasa sedikit lapar. Naruto bergegas menuju arah kulkas, mencari-cari makanan yang dapat mengganjal isi perutnya. Entah kenapa, rasanya Sakura itu aneh sekali. Terlalu aneh untuk bersikap baik pada seorang buronan polisi. Ia masih penasaran, kenapa Sakura mau berbaik hati mengijinkannya tinggal di rumahnya dan memberinya makanan, bahkan dipercayakan untuk menjaga rumahnya. Ini benar-benar aneh. Atau mungkin, saat ini Sakura bukannya mau berangkat bekerja, tetapi malah mendatangi polisi dan memberitahu keberadaanya? Tetapi Naruto tak mau berburuk sangka, ia harus tetap berterima kasih pada Sakura.

Sehabis mengambil apel dari dalam kulkas, Naruto kembali berjalan menuju kamar tempat ia tidur. Ia berniat merakit senjata-senjatanya. Bisa dibilang, merakit senjata adalah hobinya. Dan siapa tahu hal itu bisa mengurangi rasa bosannya selama berada di rumah Sakura. Sayang sekali, di rumah sekecil ini Sakura pun tak mempunyai TV. Tapi mungkin lebih baik kalau Sakura tak mempunyai TV, sehingga Naruto tak perlu menonton acara berita mengenai dirinya di TV.

Tetapi baru sejam ia merakit senjata, tiba-tiba saja ia pun merasa sangat bosan. Biasanya, sebelum ia berada di sini, sebagai seorang pembunuh bayaran, Naruto selalu pergi ke toko senjata untuk melihat-lihat pistol-pistol atau senapan dan membelinya. Atau terkadang pergi berburu di hutan, untuk melatih kemampuannya. Sayangnya sekarang ini ia tak dapat pergi ke mana-mana, karena pasti sekarang para polisi sedang berburu dirinya. Tetapi kebosanannya mengalahkan rasa takutnya. Naruto meraih sebuah jaket lusuh yang kebetulan ditemukannya di lemari pakaian dan sebuah topi baseball beserta sebuah kacamata tanpa minus. Dengan begini, ia yakin bahwa para polisi tak akan mengenalinya. Kemudian ia beranjak keluar dari rumah Sakura.

Kota hari ini dipadati oleh banyak orang. Banyak orang berlalu lalang di sekitar trotoar atau di tepi pertokoan. Beberapa di antara mereka jalan-jalan di sekitar trotoar secara berkelompok. Di antara orang-orang tersebut, Naruto celingukan ke sana kemari, ia terlihat seperti orang kebingungan. Tetapi sebenarnya ia hanya ingin waspada kalau-kalau ada polisi yang melihatnya.

Saat Naruto hendak berbelok masuk ke dalam sebuah toko, ia langsung berlari kencang ketika melihat tiga orang tampak berpatroli di depan toko tersebut. Ia memilih untuk segera lari karena ia takut ketahuan para polisi yang sedang bertugas tersebut. Ia terus berlari sampai tiba di depan sebuah toko elektronik yang ramai dikunjungi orang. Naruto berdesakan dengan orang-orang di sana, ia juga ingin mencari tahu apa yang saat ini para reporter sedang beritakan. Apakah mungkin mengenai dirinya?

"Kemarin malam seorang pembunuh bayaran bernama Uzumaki Naruto, yang sudah buron selama lebih dari setahun berhasil lolos dari kejaran polisi setelah melakukan aksi pembunuhan di kota Osaka. Beginilah ciri-ciri buronan tersebut, seorang pria bertubuh sekitar seratus delapan puluh, berusia sekitar dua puluh tahunan dengan sepasang mata berwarna biru dan rambut pirang. Apabila ada yang dapat menemukan orang ini, diharapkan segera menghubungi nomor berikut ini..."

Tepat sekali dengan apa yang Naruto pikirkan. Naruto menghela nafas. Berita yang ditayangkan tepat seperti perkiraannya, perkiraan bahwa kini sebagian besar stasiun televisi sedang menayangkan tentang dirinya yang buron.

"Astaga, mengerikan sekali seorang pembunuh bayaran bisa berkeliaran bebas di tempat seperti ini."

Seseorang berbisik pelan pada empat orang teman prianya di sampingnya. Naruto memperhatikan mereka dengan seksama.

"Aku harap aku tak akan bertemu dengan pria mengerikan seperti itu. Kudengar ia sudah membunuh lebih dari dua puluh orang."

"Pembunuh bayaran, ya? Memangnya berapa uang yang ia terima hanya dengan sekali membunuh?"

"Padahal nyawa manusia itu tak dapat dibeli dengan mudah."

Perkataan terakhir yang terlontar dari mulut orang yang tak dikenalnya, entah kenapa, seolah memberi pukulan keras di hati Naruto. Naruto melangkah mundur, berlari keluar dari kerumunan orang. Perkataan orang yang didengarnya barusan, terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. Ia berlari tanpa arah. Yang dijumpainya saat ia berlari, hanyalah tempelan kertas bergambar dirinya yang sedang buron, tayangan TV yang terpampang di etalase toko mengenai dirinya, atau sekumpulan koran yang pastinya juga memberitakan tentang dirinya sebagai berita utama di halaman-halaman depan.

Apa alasanku terus membunuh? Apa dengan membunuh aku akan merasa senang? Apakah hanya ini jalan satu-satunya untuk membalas dendam kedua orang tuaku?

Tanpa sadar, Naruto berhenti di depan sebuah klinik pusat kota. Ia terhenti karena sesaat ia seperti melihat ada sosok Sakura lewat di sekitar klinik. Dan saat Naruto menoleh ke arah taman, ia melihat Sakura tengah berbincang dengan dua orang perawat. Sakura tampak begitu cantik dengan seragam perawatnya. Rambutnya yang pendek ia gelung, membiarkan beberapa helai rambutnya jatuh ke sisi bahunya. Naruto mengernyit heran. Benar juga ya, Sakura kan pernah bilang kalau ia bekerja sebagai seorang perawat di sebuah klinik di tengah kota.

Naruto hendak menghampiri Sakura, tetapi ia merasa enggan. Pasti di sana banyak orang yang sedang berobat. Siapa tahu di antara mereka ada polisi yang sedang bertugas. Apalagi tampaknya rumah sakit ini dipenuhi oleh penjaga. Saat Naruto hendak berbalik, bermaksud pergi melanjutkan melihat-melihat di toko senjata api, seekor anjing menyalakinya.

"WOOOFFF!"

"Hwaaaa!" pekik Naruto kaget. Ia mundur ke belakang sambil memegangi dadanya. Duh, kaget. Dari mana asalnya anjing ini? Naruto berusaha menendang anjing tersebut, tetapi anjing tersebut menggigit pergelangan kakinya, "Aduh! Lepaskan! Dasar anjing sialan!"

"Berhenti Akamaru!" seorang pria menarik tali yang dikalungkan di leher anjing bernama Akamaru tersebut.

Naruto menoleh ke arah pria tersebut. Ia menelan ludahnya. Sial! Pria itu ternyata polisi. Dapat dilihat dari seragam yang dikenakannya. Setelan seragam biru dengan topi berlambang polisi di atas kepalanya. Ia menatap Naruto dengan tatapan menyesal, "Maaf. Saya sedang berpatroli di sekitar sini, tetapi tak kusangka kalau ia sampai menggigit penduduk di sekitar sini. Maaf." Ia menatap ke arah anjing polisinya yang masih terus menggeram pada Naruto.

"Ti-tidak apa-apa!" seru Naruto gelagapan, "Yang penting sekarang ia bisa berhenti menggigit pergelangan kakiku..." Naruto melirik ke saku baju polisi muda tersebut, "Terima kasih... Pak Polisi Inuzuka Kiba..."

Kiba, sang polisi muda tersebut membelalakkan matanya, "Eh? Oh, ya..." sesaat ia menyadari mengapa Naruto bisa mengetahui namanya, "Mungkin lebih baik Anda jangan bertindak mencurigakan, terus diam berdiri di depan bangunan rumah sakit. Seolah-olah Anda ini seorang teroris..."

Naruto bingung mau menjawab apa, tetapi ia berusaha menjawab, "Umm... Yeah... Aku melihat seorang kenalanku sedang berada di depan rumah sakit. Jadi aku hendak menyapanya, tetapi akhirnya tak jadi..." ia memaksakan diri untuk tertawa.

"Oh." Kiba mangut-mangut, "Kalau begitu, saya harap Anda juga berhati-hati di sekitar sini. Pembunuh yang buron kemarin malam kemungkinan berada di sekitar sini..."

Naruto menelan ludahnya dengan panik, "Pe-pembunuh?" rupanya para polisi kini memang sedang mencari-cari dirinya. Tetapi untungnya polisi di hadapannya ini masih belum menyadari bahwa pembunuh yang ia maksud ada di hadapannya. Ia menjauh sedikit saat anjing bernama Akamaru mulai menggonggong padanya.

Kiba menarik Akamaru mundur dari Naruto, "Anda tak tahu? Pembunuh yang dinilai sampai tiga ratus juta, yang kemarin malam baru saja buron dari kejaran kami!" Kiba mengerutkan dahinya, "Seharusnya orang-orang di seluruh penjuru kota sudah mengetahuinya! Apa Anda tidak tahu? Sekarang seluruh kepolisian Jepang sedang mencari-cari pembunuh tersebut ke seluruh penjuru kota."

Naruto meringis. Ia mulai merasakan keringat dingin mengucur dari dahinya, dan tangannya mulai basah akan keringat, "Err- ehm... Di rumahku aku tak memiliki TV..." ia menyeka dahinya dengan punggung tangannya. Merasa mulai sedikit gugup berhadapan dengan seorang polisi di hadapannya, "Kalau boleh, aku harus pergi sekarang," ia pun langsung berlari dari Kiba sembari menoleh ke arahnya dan mengamatinya dari kejauhan.

Kiba sendiri yang tiba-tiba saja melihat Naruto pergi meninggalkannya, memasang wajah aneh. Ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal, "Memangnya kenapa dengan pria itu? Padahal aku hanya menyuruhnya untuk lebih berhati-hati."


Naruto berlari dan terus berlari menjauhi polisi bernama Kiba itu. Karena kota Osaka sedang penuh pada hari itu, Naruto harus bertabrakan dengan banyak kerumunan orang atau malah terperangkap di dalam kerumunan orang tersebut saat berlari. Tetapi ia tak punya pilihan lain, tempat ini terlalu banyak polisi. Bisa gawat kalau sampai ada yang tahu tentang keberadaannya di sini. Apalagi sepertinya anjing yang bernama Akamaru itu cukup pintar untuk tahu siapa dirinya yang sesungguhnya. Untung saja polisi bernama Kiba itu masih belum menyadari identitas Naruto.

Sayangnya, saat sedang berlari, Naruto malah tersesat ke tengah pusat kota. Naruto menepuk jidatnya dengan kesal. Ia memang masih baru pertama kali ini berada di Osaka. Bahkan ia lupa lewat mana jalan menuju rumah Sakura sesaat tadi. Naruto terhenti sesaat. Kalau ia terus berlari tanpa tahu tujuan, bisa-bisa dirinya malah sampai ke kantor polisi. Atau buruknya, ia akan tersesat untuk waktu yang lama di tempat ini. Ah, seandainya saja ia mengikuti perkataan Sakura, tak akan begini jadinya. Naruto mengamati keadaan sekitarnya. Mungkin ada jalan pintas menuju rumah Sakura. Naruto pun memilih kembali jalan yang dilaluinya tadi. Pasti polisi bernama Kiba tadi sudah pergi dari tempat itu.

BRUKKK!

"Aduh!"

Tanpa sengaja seorang pria menubruknya. Keduanya saling melangkah mundur saat bertubrukan secara tak sengaja. Tetapi dokumen yang dibawa oleh dokumen-dokumen yang dibawa oleh pria itu berjatuhan ke tanah.

"Maaf. Aku sedang terburu-buru. Maafkan aku," kata pria itu, meminta maaf pada Naruto sambil membungkukkan badannya.

"Tidak apa," Naruto meringis kecil. Ia memperhatikan pria yang barusan tidak sengaja menubruknya. Tampaknya ia lebih tua setahun darinya. Tetapi wajahnya yang terlihat dingin dan serius membuatnya tampak lebih tua beberapa tahun darinya.

Dan kedua mata Naruto terbelalak lebar saat ia menyadari bahwa kacamatanya dan topinya juga ikut jatuh berserakan di atas tanah bersama dengan dokumen pria tersebut. Pria itu sendiri, saat ia membereskan dokumennya, tanpa sengaja ia melihat wajah Naruto. Ia langsung melompat sambil menodongkan moncong pistolnya ke wajah Naruto, "K-kau!" serunya dengan wajah tak percaya, "Kau Uzumaki Naruto, pembunuh bayaran itu!" ia mengeluarkan sebuah kartu tanda bukti anggota polisi, "Aku Inspektur kepolisian dari kantor kepolisian Osaka, Uchiha Sasuke! Jangan bergerak!"

Uh-oh, tidak lagi, batin Naruto sambil bersiap-siap berlari sambil berhati-hati pada moncong pistol tersebut.

"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu!" ancam inspektur polisi Sasuke. Ia meraih ponselnya dari dalam kantong jas yang dikenakannya dan memencet beberapa tombol, "Halo. Di sini Inspektur polisi Uchiha Sasuke. Harap segera menuju ke kawasan pertokoan Osaka seka-"

Ini saat yang tepat untuk kabur! Pikir Naruto saat mengamati Sasuke sedang sibuk menelepon polisi lainnya. Ia pun langsung berlari menuju sebuah gang kecil yang terletak di antara pertokoan. Sasuke yang mendapati Naruto telah raib di hadapannya langsung memasukkan ponselnya ke dalam kantong jasnya dengan cara menyentakkannya. Ia berlari mengejar Naruto, "Tunggu! Berhenti! Kalau tidak aku akan menembakmu!"

"Aku tak akan mungkin berhenti di sini, bodoh," gumam Naruto geram. Ia mencondongkan badannya ke depan, sehingga badannya mampu berlari lebih cepat. Kali ini ia tak mau mengambil resiko menoleh ke belakang. Karena sekali ia berhenti ataupun memperlambat langkah larinya, Sasuke pasti akan menangkapnya. Apalagi Sasuke sudah memanggil teman-teman polisinya.

Gang kecil yang dilalu oleh Naruto untung saja cukup panjang untuk dilalui, sehingga ia dapat memperlambat Sasuke dalam mengejarnya. Ia menabrak beberapa tempat sampah dan kantung-kantung berisi sampah di dalam gang sempit tersebut. Ia berlari menuju ke arah cahaya di luar gang.

"Berhenti!"

DOR! DOR!

Sasuke menembakkan pistolnya ke arah Naruto. Tetap berkali-kali tembakannya meleset mengenai dinding gang kecil. Naruto menambah kecepatannya, hingga ia sampai kekerumunan orang-orang di pusat kota. Ia pun membaur dengan orang-orang lainnya. Sementara itu, Sasuke yang baru keluar dari dalam gang langsung kebingungan mencari sosok Naruto. Ia kembali meraih ponselnya, "Target sepertinya sedang menuju ke arah utara. Cepat bawa polisi lainnya ke tempat tersebut!"

WIII! WIII!

Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi, bergema ke segala penjuru arah kota Osaka. Beberapa orang anggota polisi dan beberapa anjing terlatih dari kepolisian dikerahkan, mereka tampak memadati pusat pertokoan Osaka. Para pengunjung pusat pertokoan Osaka langsung kalang kabut, beberapa dari mereka memutuskan untuk segera pulang, karena para polisi menyuruh mereka untuk tidak berada di sana. Toh buat apa juga mengambil resiko untuk bertemu dengan pembunuh bayaran yang berbahaya tersebut, pikir mereka. Sedangkan Naruto, di saat yang sama, ia masih berbaur dengan kerumunan orang-orang. Ia menutupi wajahnya dengan penutup jaket. Ia mengikuti kemana kerumunan orang membawanya.

"Kesini! Pasti ia lewat ke sebelah sini!" seru salah seorang polisi bernama Neji. Ia memimpin segerombolan polisi menuju ke sebuah gang yang cukup besar di samping toko perhiasan.

Naruto mengamati mereka. Tangan kananya memegangi bahunya. Ia merasakan perih yang amat sangat di bahunya. Darah segar mengucur dari bahunya, tetapi karena ia mengenakan jaket berwarna hitam, darahnya terlihat seperti keringat biasa, "Sial. Tak kusangka akan sampai sejauh ini.." ia mengamati bahunya dan meringis kecil.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk berlari menyusuri jalan trotoar. Tetapi tiba-tiba seorang polisi menembak ke arahnya.

"Itu dia!"

DOR! DOR!

Naruto menghindar dan menoleh ke belakangnya. Polisi bernama Kiba rupanya! Ia mengarahkan pistolnya pada Naruto.

"Damn!"

Naruto berlari dengan kecepatan maksimal, sambil memegangi bahunya. Tetapi para polisi mengikutinya dari belakang. Meski mereka berbeda jauh jaraknya, Naruto belum bisa bernafas lega. Akamaru, anjing kepolisian berlari menerjang ke arahnya. Secepat apa pun ia berlari, dalam beberapa detik anjing itu akan menangkapnya. Naruto pun berlari menuju ke sebuah jalan raya besar.

Para polisi dan beberapa anjing kepolisian mengikutinya. Tiba-tiba sebuah truk hampir menerjang Naruto dari arah kanannya. Naruto pun dengan sigap melemparkan dirinya ke seberang jalan. Tubuhnya jatuh dengan posisi bahu menabrak pembatas jalan. Naruto memekik, kini bahunya benar-benar mengalirkan banyak darah. Tetapi ia tak berhenti di situ. Ia terus berlari. Sementara para polisi di belakangnya terhenti. Karena mendadak jalan raya yang dilalui Naruto tadi menjadi macet.

"Sial! Kita kehilangan dia!" geram Kiba sambil menyentakkan kakinya dengan kesal.

"Sepertinya kebetulan tadi benar-benar menguntungkannya. Saat kita hendak menyebrang, tiba-tiba keadaan jadi macet begini," seloroh Neji. Ia memasukkan pistolnya ke dalam saku bajunya.

Tiba-tiba Sasuke muncul di belakang mereka bersama seorang pria berambut ekor kuda. Para polisi yang berada di sana langsung memberi hormat pada mereka.

"Inspektur Uchiha Sasuke dan Kepala Polisi Nara Shikamaru..." bisik Kiba.

"Apa buronan itu berhasil lolos?" tanya Shikamaru, kepala polisi kepolisian Osaka.

"Ya, Pak Kepala. Maafkan kami. Kami tak menyangka bahwa ia akan menjebak kami sampai ke sini," ujar Neji.

"Tidak apa Wakil Inspektur Hyuuga Neji. Lain kali kita pasti akan menangkapnya," kata Sasuke yakin, "Kalau seandainya ia berlari melewati jalan raya ini, sepertinya ia masuk ke daerah pemukiman warga sekitar sini."


Naruto menghela nafas lega saat ia terhenti tepat di depan rumah Sakura. Butuh beberapa saat untuk kembali menyelaraskan nafasnya kembali. Akhirnya ia menemukan jalan pulang yang aman sampai ke rumah Sakura. Ia menoleh ke arah kanan dan kirinya. Aman, tak ada polisi ataupun seorang pun yang melihat keberadaannya. Kecuali... seorang pria berusia setengah abad yang sedang berdiri di samping rumah Sakura. Seluruh rambutnya berwarna putih dan badannya lebih tinggi dari Naruto beberapa centimeter. Ia tersenyum melihat Naruto.

"Kau ini pacarnya Sakura-chan, ya? Sayang sekali, Sakura-chan sedang tak berada di rumah," kata pria itu.

"Ah? Eh?" Naruto celingukan, "A-anu... Dia bukan pacarku... aku hanya sedang berkunjung ke rumahnya saja. Di-dia... temanku. Yeah, teman kerjaku di klinik," dusta Naruto, mencari-cari alasan. Ia mengerutkan dahinya pada pria tua di depannya ini. Apa dia ini kakeknya Sakura? Tapi katanya Sakura kehilangan seluruh anggota keluarganya.

"Oh. Begitu rupanya," pria itu mangut-mangut, "Kalau begitu, baguslah. Aku senang Sakura-chan memiliki teman yang masih mau memperhatikannya. Sejak ia kehilangan adiknya dua tahun lalu, ia terlihat sangat sedih..."

Naruto hening untuk sesaat, "Be-begitu, ya..."

"Yah... Tapi memang hanya Konohamaru keluarganya satu-satunya. Wajar saja kalau ia sampai sesedih itu saat kehilangan adiknya," pria tua itu menerawang ke atas langit. Lalu ia menatap Naruto, "Kalau begitu, selamat menunggu." Ia beranjak pergi setelah melihat ke arah bahu Naruto yang basah oleh darah. Tetapi ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Naruto mengendikkan bahunya dan memasukkan kuncinya ke dalam lubang kunci. Pintu terbuka. Ia menoleh ke sekitarnya dengan seksama, mengamati apakah ada orang yang melihatnya. Dengan buru-buru, ia masuk ke dalam rumah Sakura,berharap tak ada yang melihatnya.


"Bahumu kenapa bisa luka begini, sih?" tanya Sakura bingung saat mendapati bahu Naruto terluka lebih parah. Ia membalutkan luka Naruto dengan perban.

"Tadi aku terjatuh saat ke kamar mandi," kata Naruto asal. Mana mungkin ia menceritakan pada Sakura soal kejadian di pusat kota tadi! Dan untungnya Sakura juga tak tahu soal keributan di daerah pertokoan tadi.

"Tidak masuk akal."

"Terserah mau percaya atau tidak."

"Ya terserah," gumam Sakura jengkel. Ia menepuk bahu Naruto dengan cukup keras setelah membalut lukanya, sehingga membuat Naruto menjerit tertahan, "Nah. Sudah selesai."

"Tapi tak perlu sampai menepuk bahuku kan! Sakit tahu!" rintih Naruto.

"Biar lukamu cepat sembuh, aku menepuknya sedikit."

"Sedikit katamu?"

Sakura berkecak pinggang, "Kalau kau protes, aku tak mau lagi mengobati lukamu." Ancam Sakura. Naruto hanya bisa menggerutu pelan. Sakura hanya tertawa melihatnya, "Makanya. Jangan banyak bicara seperti itu. Oh, ya, malam ini aku memasakkan makaroni saus jagung. Kau mau?"

Tiba-tiba perut Naruto mengeluarkan bunyi bergemuruh, "Sepertinya aku tak perlu mengatakannya lagi," gumam Naruto menahan malu. Wajahnya memerah, "Tolong buatkan."

Sakura terkikik pelan mendengar ucapan Naruto. "Kau ini sepertinya bodoh, ya!"

"He-hei! Apa maksudmu?" bentak Naruto malu.

Sakura hanya berdeham, "Baiklah! Percayakan padaku!" seru Sakura kemudian. Ia menarik lengan bajunya ke atas dan berlari kecil menuju dapur.

Naruto tersenyum kecil melihat kelakuan Sakura. Ia menggelengkan kepalanya. Sakura, gadis itu. Entah kenapa, sifatnya itu mengingatkannya pada sosok ibunya. Dan juga rambutnya yang berwarna merah itu, meski rambut ibunya lebih tua warnanya.

"Sakit, Bu! Jangan menepuk lukaku, dong!"

"Biar cepat sembuh."

Naruto mengelap matanya yang basah oleh air mata dengan punggung tangannya. Ia rindu, sangat rindu dengan sosok ibunya. Juga ayahnya. Ia kehilangan keduanya sejak saat itu. Di saat di mana ia kehilangan kedua orang tua yang sangat dicintainya.

Tiba-tiba Naruto mendengar suara ponselnya berbunyi. Naruto menoleh ke arah kamar tempat ia tidur. Matanya terbelalak lebar. Tunggu! Po-ponsel? Bagaimana mungkin ponselnya berbunyi! Apa polisi sedang melacak nomor ponselnya? Itu mungkin saja. Naruto buru-buru menghampiri ponselnya yang terletak di atas meja sambil berlari kecil. Ia meraih ponselnya dan mengangkatnya, membaca siapa yang meneleponnya. Dan di layar ponselnya, tertera sebuah nama di sana.

Naruto menarik nafasnya, "Orochimaru-sama?" ia meenimang-nimang ponselnya dengan ragu-ragu, mengangkat panggilan tersebut atau tidak.

Lalu akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya dengan perasaan gugup, "Ha-halo?"

Terdengar suara parau dari unjung telepon. Suara berat dan parau yang sangat dikenalnya, suara seorang pria, "Ah. Rupanya benar Naruto, ya. Aku senang kau masih hidup, bisa lolos dari kejaran polisi kemarin malam," lalu terdengar suara seorang pria sedang tertawa terkekeh-kekeh, "Kalau begitu, bagaimana kalau aku memberikan misimu yang selanjutnya?"


Author Commentary: Karena ragu, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti genrenya menjadi Romance/Crime. Maaf atas banyak karakter yang kelewat OOC. Dan mohon atas reviewnya! XD