The Honey-Jinseok-Moon (Part 1)
A Sequel of A Blessing In Disguise
Cast : Kim Namjoon, Kim Seokjin, and others
Length : Oneshoot
Rate : T to M
A ROMANCE!
Mereka akhirnya menikah! Setelah berlama-lama meyakinkan diri mereka masing-masing, setelah dua tahun menunggu kuliah Seokjin selesai, mereka menikah!
The Honey-Jinseok-Moon (Part 1)
A Sequel of A Blessing In Disguise
Seokjin sedikit kesal dengan suaminya setelah dua bulan mereka menikah.
Lelaki itu bekerja seolah mereka kekurangan uang.
Walau Seokjin tahu jika Namjoon bekerja bukan hanya untuk uang melainkan passion dan usahanya demi menjaga perusahaan, namun pulang malam setiap hari bukan yang diharapkan Seokjin.
"Hayoung-ah, kau sudah belajar?"
Hayoung menyeret langkah sambil memeluk toples berisi keripik kentang. "Pa, kita nonton film saja, yuk."
Seokjin mengerutkan dahi mendengar Hayoung yang tiba-tiba mengajaknya nonton film. Ngomong-ngomong, Hayoung sangat fasih memanggil Seokjin dengan titel barunya sejak dua bulan yang lalu, saat di pesta pernikahan di mana Hayoung dengan semangat menyambut Seokjin dengan sapaan Papa.
"Joon akan marah pada kita."
Dan sekarang Seokjin dengan berani memanggil Namjoon dan menyebutkan titel Namjoon kepada Hayoung dengan sebutan 'Joon' saja, untuk membedakan namanya dan Namjoon yang sama-sama Papa Hayoung.
"Tidak apa, Papa tidak akan bisa marah padamu."
Seokjin terkekeh, "benar juga."
Gadis berusia dua belas ini kemudian duduk di sampingnya dengan santai, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan menempel ke lengan Seokjin.
"Kau mau nonton apa."
Hayoung menggumam sebagai balasan. Minggu lalu mereka baru saja menyelesaikan film Disney bersama. "Aku bosan jika menonton kartun lagi,"
"Sama, aku juga."
"Horor?"
Seokjin memandang horor anak gadisnya yang sok pemberani ini. "Joon benar-benar akan menghabisi kita jika kita ketakutan, dan menghukumku jika membuatmu ketakutan."
Hayoung terkekeh geli, menempelkan tubuhnya pada Seokjin semakin dalam. Gadis ini tahu cara manja, dan pandai dalam bersikap. Sejak Namjoon menjelaskan pada Hayoung jika dirinya berpacaran dengan Seokjin hampir dua tahun lalu, gadis itu mengangguk dan menerima Seokjin seolah itu yang Ia inginkan. Lalu ketika Namjoon menjelaskan pada Hayoung jika mereka akan menikah, gadis yang sebentar lagi SMP itu memeluk Seokjin dan bersorak seolah temannya memenangkan sebuah hadiah.
Seokjin berdiri, mematikan lampu ruang keluarga sehingga ruangan ini remang–lampu ruangan lain masih menyala tentu saja. Ia menyapa Bibi Lee dan memberi tahunya jika tak perlu menunggu Namjoon pulang untuk membuatkan teh atau makanan karena akan dilakukan Seokjin saja, lalu mengambil selimut kain di kamarnya–kamar Namjoon juga!
Hayoung sudah memilih film di tv, mengabaikan gerutuan Seokjin agar tidak memilih film yang menakutkan karena mereka berdua sama-sama penakut. Ia tahu ini masih terhitung sore, dan mereka memiliki waktu cukup hingga Namjoon pulang, akhir-akhir ini pukul sepuluh.
Mereka berdua itu sama saja, sensitif dan reaktif. Mereka menangis saat menonton Train to Busan, lebih sering berpelukan setelah menonton film Jo Jongsuk yang berjudul Hyung, sama-sama tergila-gila dengan Lee Jehoon yang menjadi detektif di film Phantom Detective. Dan semua itu membuat Namjoon geleng kepala.
"Bye-Bye Man, bagaimana Pa?"
Seokjin mengendikkan bahunya lalu duduk di samping anaknya, menyelimuti kaki mereka berdua hingga ke pinggang. "Aku juga ingin tahu film ini, dan Joon tidak pernah membolehkanku menontonnya. Jadi oke,"
Hayoung terkikik lalu memencet remote control sehingga film mulai diputar.
.
.
.
Namjoon sampai rumah pukul sepuluh lebih dua puluh. Seokjin kesal bukan main karena lelaki itu dibiarkan makin kelewatan.
Sedangkan Namjoon yang mengetahui sudah semalam ini, Hayoung bukannya tidur malah duduk berdua bersama Seokjin, merasa tak senang. Besok bukan weekend, Hayoung masih harus bangun pagi dan berangkat sekolah. Maka lelaki itu, dengan masih memakai jas dan menenteng tas kerja di tangannya, mencium kepala Hayoung sekilas.
"Cuci wajahmu dan sikat gigimu, Kim Hayoung. Ini sudah larut dan kalian masih bangun."
Hayoung menghela nafas tak suka, namun tetap menuruti ucapan Namjoon. Gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Seokjin lalu mencium kedua pipi Seokjin lalu bibirnya dan mengucapkan selamat malam dan berdoa semoga Papanya mendapat mimpi indah.
Seokjin terkekeh, "Semoga kau tak mimpi buruk."
Mata Hayoung melotot sempurna, namun buru-buru melompat turun dari pangkuan Seokjin dan berlari ke kamarnya.
"Jinseok, masuk ke kamar dan ayo tidur." Gumam Namjoon tegas, lalu lelaki itu berjalan masuk ke kamar mereka di seberang kamar Hayoung.
Seokjin berbaring sambil memainkan ponselnya, chatting dengan Hoseok dan Jongkook di chatroom group membahas Taehyung yang bodoh dan kebingungan digoda Jongkook di depan orang tuanya saat makan malam bersama. Seokjin terkikik geli saat Namjoon keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah.
Ia melirik suaminya sekilas, melihat lelaki tampan dengan tubuh sempurna itu berdiri di depan cermin meja rias sambil mengeringkan rambutnya. Terdengar Namjoon menggumamkan nyanyian tak jelas. Seokjin kembali memusatkan perhatiannya pada ponsel dan membalas pesan dua sahabatnya.
Tempat tidur mereka bergerak, Namjoon naik ke tempat tidur.
"Kau sedang apa?"
Seokjin masih tersenyum lebar sambil membalas dengan enggan. "Jongkook dan Hoseok sangat lucu,"
Namjoon menggeser tubuhnya mendekat ke tubuh Seokjin, memeluk suaminya dari samping sambil mengecupi pipi Seokjin, meminta atensi suaminya. Ia tak berhenti ketika Seokjin tak kunjung memberinya perhatian, Ia menarik perut Seokjin menempel ke tubuhnya, mengecupi leher Seokjin dengan suara kecupan yang disengaja.
"Jinseok,"
"Ya?"
"Kau harus memperhatikan suamimu."
Mata Seokjin memutar sarkas, lihat siapa yang ingin diperhatikan sedangkan dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaan. "Kau ingin kuperhatikan?"
"Tentu saja,"
Ponsel Seokjin ditaruh di nakas di samping tempat tidur. Ia melepaskan pelukan Namjoon di perutnya lalu menatap mata Namjoon. Suaminya yang awalnya masih sibuk menciumi lehernya, sadar jika Seokjin ingin bertatapan, membalas tatapannya dengan senyum simpul.
"Kurangi waktu bekerjamu, Joon." Suara Seokjin terdengar halus dan lirih, namun penuh keyakinan dan ketegasan.
Senyuman lebar di bibir Namjoon muncul, Ia mengangguk mantap. "Ngomong-ngomong aku rindu padamu, Jinseokku sayang." Ucap Namjoon sambil menarik dagu Seokjin mendekat lalu membubuhkan sebuah kecupan.
Seokjin hafal. Ini kebiasaan Namjoon saat mengajaknya seks!
Seokjin tambah yakin ketika tangan lelaki itu mulai masuk ke kausnya dan membelai perutnya.
Sayangnya posisi Seokjin yang tidak sepenuhnya tidur–setengah punggungnya bersandar–membuat posisi mereka kurang nyaman. "Duh, Joon, leherku sakit jika kau mendorongku."
Maka Namjoon dengan cepat, sedikit tak perhatian pada kelembutan, mengangkat tubuh Seokjin dan membaringkannya dengan gerakan cepat. Saat tubuh Seokjin sudah tidur dan nyaman, Ia dengan cepat naik ke atas tubuh Seokjin sambil menciumi wajah lelaki itu; pipi, bibir, hidung, mata, dahi, kembali lagi ke mata, hidung, dan berakhir memagut bibir Seokjin dengan terburu.
Namjoon selalu terburu saat ingin melakukan seks! Dan Seokjin sedikit kurang suka.
Namun Ia menikmatinya. Karena Namjoon, entah bagaimana caranya, bisa membuatnya selalu terbuai akan hal apapun yang dilakukannya saat foreplay hingga tanpa sadar diri Seokjin sudah siap dengan tahap selanjutnya–intercourse. Seokjin tak tahu apa mantra yang Namjoon berikan hingga lelaki yang kini di atasnya dan sedang menciumi lehernya itu selalu berhasil membuatnya gila dengan permainan seks mereka.
Tangan Namjoon membuat gerakan memutar di aerola Seokjin. Seolah hafal dengan spot yang bisa membuat Seokjin heat, Namjoon membiarkan tangannya bermain di daerah sensitif itu sedangkan dirinya membuat tanda di leher Seokjin. Detik berikutnya, seperti yang Namjoon inginkan, desahan Seokjin keluar, yang bagi Namjoon terdengar seperti dari surga. Selalu berhasil membuat Namjoon on.
Ceklek!
Suara gagang pintu diputar, diiringi gerakan pelan pintu yang membuka.
Dengan kesadaran yang belum kembali seutuhnya, Seokjin mendorong dengan keras dada Namjoon yang ada di atasnya, lalu setengah bangun dengan menahan tubuhnya di siku. Didorong dengan kekuatan itu, terlebih Ia tidak siap, tubuh Namjoon terlempar ke belakang dan untungnya Ia berhasil menyeimbangkan diri. Ia berdiri dengan gerakan serampangan dan merapikan kausnya–salah tingkah.
Hayoung berdiri di ambang pintu, memasang wajah cemberut.
"Hayoung kenapa?" tanya Seokjin lembut.
Gadis itu berjalan masuk dan menutup pintu kamar dengan asal, naik ke tempat tidur tanpa bicara. Namjoon melotot melihat tingkah putrinya, begitu juga Seokjin yang menahan tawa.
Hayoung masuk ke bawah selimut dan mendorong tubuhnya hingga menempel ke tubuh Seokjin dan memeluk Papanya. "Hayoung tidur sini saja, ya?"
Tidak terima, Namjoon berkacak pinggang di balik punggung anak gadisnya. "Kim Hayoung, bukankah Papa mengajarkanmu untuk tidur sendiri di kamar karena sudah besar?"
Seokjin melirik Namjoon yang terlihat kesal.
Hayoung mengusap wajahnya ke kaus di dada Seokjin. "Hayoung takut."
Mata Seokjin melotot dan lelaki itu melipat bibirnya ke dalam. "Karena... film?"
"Ya, Pa."
Seokjin merasa tak enak pada Namjoon, Ia menggigit lidahnya. Namjoon yang sepertinya tahu akan suatu hal memiringkan kepalanya dan menatap Seokjin penuh selidik. Suaminya tersenyum kikuk, "kami berdua menonton film horor, Jonn, kami–berdua."
Jelas saja Namjoon kesal. Ia naik ke tempat tidur, ingin menggigit Seokjin!
Namun bagaimana Ia tega jika melihat suami dan anak gadis yang Ia cinta ketakutan, tak mungkin juga Ia memaksa Hayoung untuk melawan takutnya dan memaksa gadis itu tidur sendiri agar Ia bisa menyelesaikan urusannya dengan Seokjin. Maka Namjoon tersenyum, mengangguk pada Seokjin dan mencium kening anak gadisnya.
Mendapat persetujuan Namjoon, Seokjin segera menyamankan posisi tidurnya dan memeluk Hayoung. Dengan tidur miring, Seokjin memeluk Hayoung sambil menepuk punggung anak gadisnya–sama seperti cara Namjoon membuatnya tertidur jika Ia susah tidur–sambil menyanyikan lagu dalam gumaman.
Namjoon melihat pemandangan di depannya dengan gemas, namun masih kesal. "Jangan nonton film horor lagi, dengan Hayoung!"
Kekehan halus keluar dari bibir Seokjin, mata lelaki itu sudah terpejam. "Kuusahakan."
Mereka, Namjoon dan Seokjin, terdiam beberapa saat selama Seokjin menidurkan Hayoung. Namjoon ikut mendengarkan suara merdu Seokjin meskipun hanya gumaman.
"Kita benar-benar butuh waktu berdua, Jinseok."
"Jangan egois, pikirkan Hayoung."
Namjoon menatap Seokjin yakin. "Aku akan mencari waktu, untuk pergi honeymoon, bagaimana?"
Seokjin terdiam, masih menggumamkan lagu dengan mata terpejam.
"Aku membutuhkannya, Jinseok, aku egois."
Seokjin tertawa. "Kau bisa mendapatkannya jika kau berhenti bekerja terlalu keras, berhenti terlalu memforsir dirimu terhadap pekerjaan."
Senyuman lebar Namjoon muncul. "Oke."
Mata Seokjin terbuka, bertemu tatap dengan mata Namjoon yang ternyata menatapnya penuh. "Kau akan mendapatkan yang kau mau," Seokjin menaikkan alisnya, memberi kode pada suaminya, "jika kau pulang lebih awal setiap hari, menghabiskan waktu dengan kami lebih sering, dan lebih sering olahraga."
Dan Seokjin berhasil. Ia memiliki kartu as sekarang. Namjoon dan otak kotornya, sangat mudah diatur jika urusan 'bawah', dan Seokjin memahami itu.
Namjoon dan otak seksnya. Tapi tak masalah, Seokjin suka kok!
-END-
Hehe, monmaap tiba-tiba update dengan M. bingung deh ini M apa bukan ya :(
Ini jam 2.34 dan aku insom akhir-akhir ini, maka terbitlah ff kampret ini hahahaha
BTW, kalau kalian ingin tau, nama penaku HANI, dan kalian bisa panggil aku HANI aja, daripada harus nulis 'author-nim' atau 'author-ssan' atau sejenisnya, kurasa lebih intimate, akrab, dan oke aja kalau kalian panggil aku HANI. Hehe, maaf ya aku narsis :(
RnR, sayangku?
ILY! Muah!
XO
Peluk cium dari Papa Namjin
