Langkah berat pria itu terdengar di sepanjang koridor, membuat para pelayan di sekitar otomatis menyingkir memberinya jalan. Sosoknya yang terburu-buru sudah biasa dilihat para pelayan di rumah itu. Mereka semua sudah mengenalnya sebagai Iida Tenya, asisten pribadi pemilik rumah ini.
Sosok itu akhirnya menghentikan langkahnya di sebuah ruangan yang terletak di paling ujung di antara ruangan yang lain. Di sanalah kediaman sang pemilik rumah dan keluarganya berada. Jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk dunia luar, juga di sanalah sang pemilik rumah menyimpan tawanannya dan semua hal yang tak ingin diketahui oleh orang lain darinya.
Pelayan yang menjaga pintu melihat sosoknya dan seketika itu juga membukakan ruangan untuknya. Mereka menggeser pintu hampir tanpa suara hingga cukup untuk dilewatinya. Baru setelahnya ia masuk ke dalam dan menemukan atasannya di sana.
"Shouto," panggilnya saat melihat pria berambut dwiwarna yang tengah duduk di atas tatami.
"Tinggalkan aku, Iida!" Pria itu menjawab. Kedua manik dwiwarnanya tertuju pada sosok yang masih terbaring tak bergerak di hadapannya sementara satu tangannya menggenggam tangan sosok itu. "Aku tidak ingin bicara denganmu."
Iida menghela napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Bila sudah seperti ini, takkan ada gunanya melapor soal pekerjaan. Pria itu tak punya minat sedikit pun untuk mendengarkan. Ia harus memancingnya dengan cara lain. Sekalipun ini cara yang akan dibenci pria itu.
"Ayahmu mengatur tanggal pertunanganmu dengan Yaoyarozu Momo," ujarnya sambil menundukkan kepala. "Satu minggu dari sekarang kau akan bertunangan dengan..."
"Keluar," ucap pria itu tanpa melihatnya. "Jangan sampai aku mengulanginya lagi!"
"Aku pun tidak mau mengganggu, tapi ini saat-saat yang penting," lanjut Iida dengan nada memaksa. "Lima tahun ini grup Yaoyarozu sudah banyak menolong kita dan pertunanganmu adalah hal yang penting. Kau tidak bisa mengabaikannya hanya karena wanita ini."
"Aku tidak mengabaikannya!" Shouto berkata setengah membentak. "Aku akan melakukannya. Kau puas?"
Biarpun berkata begitu entah mengapa Iida tak yakin. Hal-hal di sekitar wanita ini selalu membuat emosi majikannya naik turun. Padahal selama tiga puluh tahun hidupnya, pria ini adalah sosok dengan pengendalian diri terkuat yang pernah dilihatnya. Entah sejak kapan topeng pengendalian diri itu mulai retak dan meninggalkan sosok pria yang terluka dan rapuh.
Benar kata Tuan Besar nya. Midoriya Izuku harus disingkirkan. Seharusnya ia menyingkirkan wanita itu selama ia masih bertopang pada alat-alat untuk menyangga hidupnya. Kalau saja dari dulu ia melakukannya, kalau saja para dokter tidak mengusahakan agar wanita itu hidup, tentu tidak akan jadi seperti ini. Sekarang semuanya sudah terlambat. Wanita itu sudah bangun dan memporak-porandakan emosi majikannya.
Iida menyesal. Benar-benar sangat menyesal. Ia pun menundukkan kepalanya di hadapan pria yang sudah bagaikan saudara untuknya itu dan ia berkata, "Shouto, jangan seperti ini!"
Pria itu tidak menjawab. Ia tetap bergeming di samping wanita itu. Memegangi tangannya seolah tak ingin melepaskannya.
"Yaoyarozu-san lebih penting dibanding wanita ini," lanjut Iida, "mereka yang terbaik di bidang farmasi, mereka juga telah berulang kali membantu kita dan kau beruntung karena Yaoyarozu-san menyukaimu sekalipun kau sudah punya anak. Sementara wanita ini…"
Iida tak melanjutkan perkataannya. Ia menatap majikannya, berharap bahwa suaranya akan menembus akal sehat pria itu. Berharap bahwa pria ini akan mengakhiri hubungannya dengan wanita yang tak ada gunanya ini, berharap bahwa pria ini akan kembali menjadi dirinya sendiri. Seorang Todoroki Shouto, pemimpin grup Endeavor yang ditakuti oleh semua penghuni dunia gelap.
"Iida," panggil pria itu yang membuat sang asisten mengangkat kepalanya, "aku tahu."
"Ng?"
"Aku tahu ia tidak ada gunanya bagiku,"ujar pria itu dengan tatapan mata yang mengarah pada satu-satunya wanita di ruangan itu. "Aku tahu ia tidak berperan apa pun di dalam grup kita. Aku tahu itu."
"Kalau begitu…"
"Tapi kenapa aku terus menantikannya?" tanya pria itu. "Aku menantinya membuka mata, aku menantinya bersuara, aku menantinya bangun dan berjalan menghampiriku sekalipun aku tahu tak ada yang dapat dilakukannya. Kenapa… aku melakukannya?"
"Shouto…"
"Apa yang telah diperbuatnya padaku?" Shouto berkata sambil menundukkan kepalanya. "Kenapa… melihatnya seperti ini membuat pikiranku kosong dan tidak dapat melakukan apa pun? Kenapa?"
Iida tak bisa menjawab. Ketakutannya menjadi kenyataan. Pria ini sudah tak akan mendengarkannya lagi sekarang dan ia khawatir ia tak dapat menyelamatkan pria ini.
"Kenapa… aku jadi seperti ini?"
Dan sekali lagi Iida hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia sudah tahu jawabannya.
Pria ini mencintai Midoriya Izuku. Hanya itu jawabannya.
.
.
.
TSUBAKI by Cyancosmic
Boku no Hero Academia not mine
Warning : Fem! Izuku, AU, OOC, OC, Typo everywhere
.
.
.
Chapter 2 : The important thing
Pria itu nyaris tidak memercayai pendengarannya ketika mendengar suara yang memanggil namanya. Suara yang lemah yang membuatnya mengira bahwa ia tengah bermimpi. Hanya saja, namanya kembali disebut sehingga ia membuka matanya dan mencari si pemilik suara.
"Shou..." panggil suara itu lagi. "Di mana...?"
Kedua manik dwiwarna yang sebelumnya masih menyembunyikan sebagian diri mereka di balik kelopak, langsung menunjukkan diri. Sedapat mungkin ia menjaga ekspresinya sementara tangannya meraih tangan wanita itu. Didekatinya wanita yang masih terbaring itu dan ia berkata dengan suara datarnya yang biasa.
"Di rumah," jawabnya singkat sebagai ganti ucapan syukur ketika melihat wanita ini sudah membuka matanya, "bagaimana perasaanmu?"
Bukannya menjawab, wanita yang dipanggilnya Izuku itu mengulangi ucapannya sementara pandangan matanya bergerak mencari sesuatu. Ia menatap sekeliling, menyapu seluruh ruangan membuat dahi Shouto berkerut. Apa yang tengah dicari wanita ini?
"Shizuku?" Wanita itu berkata. "Di mana Shizuku?"
"Dia masih tidur," jawab Shouto sambil menangkupkan tangannya di atas tangan wanita itu. Tak bisa dipungkiri, betapa ia sangat lega melihat wanita itu telah membuka matanya lagi. "Saat pagi menjelang akan kubawa dia ke sini."
Manik hijau wanita itu melebar sedikit, membuatnya merasakan antuasiasme wanita itu. Hanya saja, dengan cepat sorot kebahagiaan menghilang, digantikan dengan ekspresi sendu. Sembari menggeleng pelan, wanita itu berkata, "Tidak. Tidak perlu. Aku tidak mau menularinya. Anak-anak sangat mudah tertular demam."
Ia nyaris kehilangan kata-kata melihat ekspresi sendu di wajah wanita di hadapannya. Ia menelan ludah terlebih dulu sebelum mengganti kata-katanya dengan, "Kau masih bisa bicara begitu setelah seharian menculiknya? Apa saat kau membawanya kau berpikir bahwa kau bisa saja menularinya?"
Manik hijau wanita itu teralih darinya ketika ia bicara dan kesedihan menghampiri wajahnya. Aneh. Benar-benar aneh. Dulu ia akan tersenyum senang melihatnya, tapi sekarang, ia bahkan tidak bisa tersenyum. Ia tidak ingin melihatnya. Ia tidak ingin wanita ini bersedih. Tapi mengapa ia tidak dapat mengatakannya?
"Maaf," ucap wanita itu pelan dan dalam. "Maafkan... aku."
'Mahir sekali,' pikir Shouto. Betapa mahirnya wanita ini membuatnya merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata pedas padanya. Membuatnya merasa bersalah karena wanita itu sampai minta maaf dan menunjukkan wajah sedih di hadapannya. Padahal wanita ini sudah melanggar perintahnya dan keluar rumah seenaknya. Padahal ia memang berhak marah, terlebih karena wanita ini telah membawa serta putranya dan membiarkannya kehujanan. Ia seharusnya mengungkapkan seluruh kejengkelan dan frustasinya pada wanita itu. Tapi… kenapa ia malah diam? Kenapa ia hanya memerhatikan wanita ini dan tak mengatakan apa pun?
"Asal kau mengerti sudah cukup," jawabnya sambil mengalihkan perhatiannya dari wanita itu. "Shizuku penerusku yang sangat berharga."
Shouto ingin menjerit. Kenapa wanita ini harus mengangguk dengan ekspresi bersalah seperti itu? Kenapa ia tidak bisa membalas perkataannya? Kenapa wanita ini hanya menerimanya begitu saja dan lagi-lagi membuat tenggorokannya tercekat?
"Aku takkan membawanya lagi," janji wanita itu. "Maaf, aku... aku seenaknya menganggapnya putraku."
'Dia memang putramu! Putra kita berdua.' jerit Shouto di dalam hatinya. Apalagi sekarang? Apakah ia membuat wanita ini salah paham? Apakah wanita ini tidak tahu bahwa Shizuku adalah anaknya juga? Wanita ini punya hak untuk membantahnya dan bukan membuatnya merasa bersalah seperti ini.
"Selama kau mengerti," jawabnya, berbeda dengan apa yang ia pikirkan.
Sekali lagi wanita itu mengangguk yang membuatnya mengeratkan pegangannya tanpa sadar. Sikapnya membuat wanita itu mengernyit sehingga Shouto buru-buru melepaskannya. Ia mundur, menjauhi wanita itu dan berkata, "Tidurlah, kalau begitu! Kau membutuhkannya."
Kedua manik hijau zamrud itu menatapnya namun Shouto malah mengalihkan pandangan. Ia beranjak ke sisi ruangan dan menyandarkan kepalanya di sana. Sementara tak jauh dari tempatnya, wanita itu memandanginya sambil berkata, "Kau… menungguiku dari tadi?"
Shouto tidak menjawab. Pandangannya teralih dan ia memejamkan mata sekalipun ia tahu wanita itu tengah mengamatinya.
"Kau... tidak perlu menungguiku." Wanita itu berkata lagi. "Bukankah… banyak hal yang lebih penting?"
Tangan pemuda itu mengepal erat mendengar perkataan wanita itu. Banyak hal yang lebih penting, katanya.
Melihat pria itu tidak menjawab, Izuku pun mengalihkan pandangan dan menatap langit-langit di atas kepalanya. Lama ia memandangi langit-langit tersebut sebelum kantuk kembali menguasainya. Ia pun akhirnya menyerah dan sekali lagi menyembunyikan kedua maniknya di balik kelopak. Tidak menyadari bahwa kedua manik dwiwarna yang tengah menatapnya dengan sorot terluka.
Ketika wanita itu benar-benar sudah terlelap, Shouto kembali mendekat. Disentuhkannya dahinya pada dahi wanita itu sementara matanya terpejam. Sementara itu bibirnya bergumam.
"Hal yang lebih penting," bisiknya sambil memeluk wanita itu, "mudah sekali kau bicara."
.
.
.
Pagi menjelang dan derap langkah yang tak asing kembali terdengar di seluruh koridor. Derap langkah kaki kecil yang tidak sabaran namun dimaklumi oleh siapapun yang mendengarnya. Sama seperti sang asisten, siapapun akan menyingkir ketika melihatnya lewat. Terlebih di saat kepanikan mendominasi wajah mungil yang biasanya penuh dengan tawa.
"Mama!"
Pintu terbuka dan sosok kecil itu masuk seenaknya ke dalam ruangan. Ia berlari dan begitu menemukan dua orang yang dikenalnya, ia pun langsung menghambur begitu saja. Kedatangannya membuat pria itu membuka mata dan tersenyum sekalipun melihat kepanikan di wajah monster kecilnya.
"Papa," panggil putra ciliknya, "Mama belum bangun? Shizuku bangunkan, ya? Biar Shizuku bangunkan! Shizuku bisa."
"Sst, sst," ujar sang ayah sambil meletakkan telunjuk di atas bibir putranya, "jangan berisik, Shizuku! Mama sedang tidur."
"Tapi kalau tidak dibangunkan, nanti Mama akan tidur lama sekali," balas putranya dengan wajah khawatir. "Shizuku tidak mau. Hari ini Shizuku mau ke pertokoan dengan Mama. Mau jajan eskrim. Mau lihat dogi, juga mau beli bunga sama Mama."
"Shizuku..."
"Mama sudah janji," balas putra kecilnya dengan mata berkaca-kaca. "Mama janji mau membelikan dogi. Mama sudah janji."
"Membelikan dogi?" Alis Shouto berkerut mendengarnya. Membayangkan makhluk semacam itu berkeliaran di kediamannya tidak pernah terlintas di pikirannya. Ia suka kediamannya yang bersih dan ia ragu dengan ide membesarkan seekor binatang peliharaan.
Shizuku mengangguk mendengar pertanyaannya. "Kata Mama, kalau Papa setuju kita akan beli dogi. Papa setuju 'kan? Papa setuju?"
Benar rupanya, ada detail yang terlewatkan oleh putranya. Tak mungkin Izuku menyetujui begitu saja kehadiran seekor binatang peliharaan. Kediaman ini masih miliknya dan ia tidak setuju bila ada binatang berkeliaran di koridor dengan kaki yang kotor. Membayangkannya sepertinya bukan ide yang bagus walaupun digagas oleh putranya sendiri.
"Tidak, Shizuku," jawab sang Ayah. "Nanti kotor."
"Tidak kotor," Shizuku balas ngotot, seperti biasa. "Nanti Shizuku akan bersih-bersih."
"Shizuku belum bisa bersih-bersih," balas pria itu sambil mencubit hidung putranya. "Tidak, ya tidak."
Mendengar penolakannya, tangisan yang memekakkan telinga pun pecah hingga membuat Shouto harus mengernyitkan dahi. Putranya memang dewasa, namun sekalinya punya keinginan, Shouto sekalipun harus berurusan dengan tangisannya yang setara dengan bencana level Oni. Biasanya untuk meredamnya, Shouto akan berkata, "Ayo, Shizuku! Apa namanya anak yang tidak mau menurut apa kata Papa?"
Di sela-sela tangis, putranya masih sempat sesegukan dan berkata, "Anak... anak nakal?"
Shouto mengangguk khidmat, membuat putranya membelalakan mata dengan horor. Ia tidak tahu bahwa rencananya justru mengundang bencana level Dewa datang mendekat. Bukannya reda, tangisan putranya malah semakin kencang yang bahkan membuatnya harus memeriksakan telinganya ke dokter THT karena terkena serangan ultrasonik yang dahsyat. Ia mencoba meredamnya walaupun sia-sia, tangisan level Dewa tidak dapat dihentikan semudah itu. Bahkan sang Ibu yang menurut putranya akan terlelap lama pun akhirnya membuka mata dan mengernyit melihat pemandangan di dekatnya.
"S-Shizuku?"
Tanpa perlu bersusah payah meredam, tangisan kencang yang mematikan itu pun langsung terhenti. Sumber bencana yang membuat kepala Shouto sakit, perlahan-lahan menoleh ke belakang. Manik kelabunya melebar ketika melihat sang Ibu berusaha mengangkat tubuhnya dari atas futon dan dengan segera ia berpindah dari pelukan sang ayah. Tangannya terentang dan ia langsung menubruk ibunya.
"Mama!" Putra kecilnya itu berkata. "Shizuku bukan anak nakal. Shizuku bukan anak nakal."
Walau tidak mengerti, sang Ibu tetap mengelus-ngelus kepala putranya. Masih gelagapan, sang Ibu pun menjawab, "Iya. Shizuku bukan anak nakal. Siapa yang bilang Shizuku anak nakal?"
Shizuku menunjuk ke arah sang Ayah dengan bibir berkedut dan pipi membulat. Bulir-bulir airmata siap jatuh dari matanya, namun sang Ibu hanya menatapnya bingung. Ia tentu saja hanya mendengar tangisan Shizuku yang kencang tanpa mengetahui penyebabnya. Setahunya, pria di belakangnya bukanlah pria yang akan menyakiti bocah kecil itu dan membuatnya menangis sekencang ini.
"Tidak, tidak," jawab Izuku sambil memeluk putranya, "Shizuku bukan anak nakal kok. Mama jamin."
Mendengarnya, bocah cilik berusia lima tahun itu menghapus airmatanya. Ia pun berbalik menatap sang Ayah dan dengan ekspresi menang, ia berkata, "Bukan."
"Anak nakal," balas sang ayah sambil mendekat dan mencubit hidungnya pelan. "Anak yang ngotot itu anak nakal."
"Shizuku tidak ngotot."
"Ini namanya ngotot."
"Tidak." Shizuku membalas sambil mengeratkan pegangan pada Ibunya dan membenamkan wajahnya di pelukan wanita itu."Pokoknya bukan. Shizuku bukan anak nakal. Paman pirang tidak akan membawa Mama soalnya Shizuku bukan anak nakal."
Alis Shouto berkerut mendengarnya, "Paman... pirang?"
Shizuku mengangguk dan sebelum sang Ibu dapat menjelaskan, bocah kecil itu justru berkata, "Kemarin kami ke tempat Paman berambut pirang. Paman hanya melihat Mama, tapi ketika melihat Shizuku, Paman bilang Paman akan membawa Mama kalau Shizuku nakal."
Sang ibu hanya dapat tertawa pasrah, tidak menyadari bahwa tatapan pria itu sudah dipenuhi kekhawatiran. Ia menatap putranya sebelum beralih pada sang istri. Sekali lagi ia mengobservasi kondisi fisik wanita itu hingga kedua manik hijau yang membuatnya terpesona menoleh padanya. Namun ia malah mengalihkan pandangan yang membuat wanita itu justru memanggil namanya.
"Shouto?"
Menggelengkan kepala, Shouto pun bangkit berdiri. Bersamanya ia menggerakkan tangan pada putra ciliknya yang membuat bocah itu menghampirinya tanpa bertanya. Ia pun balas memeluk bocah itu dan menggendongnya di pelukannya seraya berkata, "Ayo, Shizuku! Bukannya Shizuku ada sekolah pagi ini? Apa jadwal hari ini?"
"Berenang!" Putranya menjawab dengan bersemangat. "Tapi Shizuku mau di rumah saja. Mau bermain sama Mama."
"Mama sedang sakit, jadi sebaiknya Shizuku jangan ajak Mama main dulu," jawab sang ayah sambil membawanya keluar kamar. "Kalau Mama sudah sembuh, Shizuku boleh bermain dengan Mama."
"Um... tapi kalau Shizuku tidak di samping Mama, nanti Paman Pirang datang dan membawa Mama." Bocah itu berkata sambil menggerakkan kepalanya. "Nanti kalau Shizuku dan Papa pergi, siapa yang akan menjaga Mama?"
"Tidak ada paman pirang, Shizuku," jawab Shouto cepat. "Shizuku salah lihat."
"Tidak salah," lagi-lagi keras kepalanya muncul, "Shizuku lihat sendiri. Paman pirang jahat yang mengejek Shizuku. Mama bilang Paman pirang itu baik, tapi Shizuku lihat sendiri. Paman jahat."
"Shizuku…"
"Shizuku sudah bilang pada Paman tidak boleh bawa Mama, tapi Paman sedih," cerita bocah itu lagi. "Jadi Shizuku bilang, nanti Shizuku akan datang, tapi tidak boleh bawa Mama, begi…"
"Shizuku!"
Nada suaranya yang sedikit tinggi membuat bocah kecil di pelukannya tersentak. Bocah itu terdiam dengan manik kelabu yang mulai berkaca-kaca dan dalam lima detik, tangisan kencang bagaikan kiamat mulai terdengar di kediamannya.
Mendengar itu, ibunya langsung bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya masih lemah namun ia mendekati keduanya dan memeluk putranya. Sentuhannya membuat bocah itu menoleh padanya dan kembali mengulurkan tangan padanya. Sementara Shouto hanya bergeming dan membiarkan putranya diambil dari pelukannya.
"Sst, Shizuku, tidak apa!" Wanita itu berkata sambil memeluknya. "Tidak apa, Shizuku."
Masih sambil sesegukan, putra mungilnya berkata, "Papa marah sama Shizuku. Papa marah…"
"Tidak, Papa tidak marah," ujar wanita itu sambil menatap pria berambut dwiwarna di hadapannya. Ia sendiri bingung kenapa tba-tiba pria itu bersuara begitu keras di hadapan anaknya. Padahal biasanya anak itu selalu dimanja dan tidak pernah dimarahi. "Tidak apa."
"Papa benci Shizuku!" Bocah itu berkata lagi, "Papa pasti benci Shizuku."
"Tidak, Papa tidak benci," ucap ibunya berusaha membela sang Ayah. "Suara Papa hanya terlalu keras dan mengagetkan Shizuku. Shizuku kaget, ya?"
Perlahan-lahan, manik kelabu itu berhenti mengalirkan airmata mendengar suara sang Ibu. Logika bocahnya mulai berjalan dan ia berkata, "Kaget. Iya."
"Tuh, kaget 'kan?" Izuku kembali berkata sambil tertawa, berupaya sedemikian rupa agar putranya tidak lagi menangis. "Papa keterlaluan ya mengagetkan Shizuku!"
Shizuku mengangguk sementara jemari mungilnya menghapus airmata yang telah mengalir. Bocah itu pun mengerjap-ngerjapkan mata selama beberapa saat sebelum menghadapi sang Ibu yang sudah tersenyum di hadapannya. Ia pun keluar dari pelukan sang Ibu dan menghampiri sang Ayah. Sembari memegangi celana panjang sang Ayah, ia berkata, "Papa, Shizuku kaget!"
Sang Ayah menatap putranya. Putra yang sebetulnya tidak bersalah, namun menjadi korban pelampiasan amarahnya karena mereka membicarakan pemuda yang sudah lama mati. Amarahnya membuatnya lupa bahwa putranya tidak terlibat dengan semua ini. Terserah bila Ibunya mau menganggap pemuda yang mati itu lebih penting darinya, tapi putranya tidak layak menerima amarahnya. Putranya tidak ada hubungannya dengan kecemburuannya pada pemuda itu.
Ia pun menghampiri putranya dan mengusap-usap rambutnya. Senyum kembali muncul di wajah saat ia memeluk bocah itu. "Maaf, Shizuku!"
Dengan lagak sok dewasa, putra mungilnya mengangguk sementara tangan mungilnya terulur untuk memeluk sang ayah. Hanya dalam sekejap mata, putranya sudah kembali tertawa sementara ia tersenyum menanggapi. Tidak menyadari bahwa di belakangnya, wanita itu tengah mengamatinya dengan seulas senyum yang sama.
"Shizuku hari ini berenang, 'kan?" Ayahnya kembali berkata, "Ayo kita siapkan baju renang Shizuku!"
"Um…," putranya menjawab ragu-ragu, Ia terlihat bingung sebelum sebuah ide terlintas di benaknya. "Papa! Kalau begitu kita ajak Mama ke sekolah Shizuku, ya? Ya, Papa?"
"Tidak boleh," jawab Shouto masih sama tegasnya, "Mama masih sakit."
"Um…," lagi-lagi putranya cemberut. "Tapi kalau Paman pirang datang…"
"Tidak akan datang," ucap Shouto lagi, "Paman pirang tidak bisa masuk. Nanti Paman Iida akan menempatkan orang untuk berjaga di depan rumah kalau Shizuku tidak percaya."
Mendengar itu putranya menggerakkan kepala sedikit, tengah berpikir. Namun tiba-tiba sang Ibu menginterupsi pembicaraan mereka dan berkata, "Ah, aku... tidak sakit. Aku... baik-baik saja. Apa aku boleh melihat sekolah Shizuku?"
Manik kelabu Shizuku melebar dengan penuh semangat, namun tidak dengan ayahnya. Pandangan pria itu menunjukkan kekhawatiran yang dengan cepat digantikan oleh topeng tanpa ekspresi. Dipeluknya putranya sementara ia berkata, "Tidak. Akan kupanggilkan Dokter. Kau tidak boleh keluar dari kamar."
"T-tapi…"
"Ayo Shizuku!" ujarnya sambil membawa putranya, tak memberikan kesempatan pada putranya ataupun wanita itu untuk menjawab. Ia hanya terus melangkah keluar, meninggalkan wanita itu di dalam tanpa bisa berbuat apa pun. Tak perlu melihat pun ia tahu bahwa wanita itu akan menundukkan kepala dan bersedih.
"Papa?"
Shouto menggelengkan kepalanya dan ia berbalik. Dipeluknya putranya dan dibawanya keluar dari ruangan. Ketika mereka sudah tiba di luar, ia membenamkan wajahnya di bahu putranya hingga membuat monster ciliknya mengerutkan dahi bingung.
"Papa juga kaget, ya?" Bocah itu berkata sambil menyentuh kepala sang Ayah. "Tenang saja, Papa! Shizuku ada di sini, jadi jangan menangis!"
.
.
.
"Kau tidak mau makan?"
Shouto mengangkat alisnya dan menatap wanita cantik berambut hitam yang duduk di hadapannya. Wanita itu mengenakan gaun cheongsam dengan warna merah menyala yang sangat cocok dikenakannya. Tubuh rampingnya terbalut sempurna dengan gaun itu sementara kaki jenjangnya bersembunyi malu-malu di balik gaun. Penampilannya membuat beberapa pria yang lewat sampai berhenti hanya untuk mengagumi kecantikannya.
Sayangnya kecantikannya seperti hilang pesonanya di hadapan pria dengan warna rambut dwiwarna yang mengenakan setelan jas putih. Sepertinya bagi pria itu makanannya lebih menarik karena ia menatapnya lebih lama dibanding menatap wanita di hadapannya. Bahkan pisau dan garpu yang dipegangnya hanya tergantung di tangan begitu saja tanpa ada niat untuk menggerakkannya.
"Kau sakit?" Wanita itu bertanya sembari menyentuhkan jemarinya ke atas punggung tangannya. "Mau makan sesuatu yang lain?"
Berkat sentuhannya, Shouto kembali tersadar. Ia menatap wanita itu dan kembali menyunggingkan seulas senyum.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Shouto sambil menyentuhkan tangannya di atas tangan wanita itu. "Aku hanya sedang berpikir."
"Berpikir tentang?"
Shouto memasukkan makanannya lebih dulu ke mulut. Daging wagyu premium yang tengah dikunyahnya entah mengapa terasa begitu hambar. "Macam-macam. Transaksi yang sedang kujalankan dengan Grup Shigaraki tidak berjalan mulus. Mereka grup yang sulit sekali diatur."
Alis wanita itu terangkat mendengar perkataan pria di hadapannya. Ia menurunkan garpu dan pisaunya lebih dulu sebelum berkata, "Shigaraki, ya? Aku pernah mendengarnya dari Chisaki. Pria itu memang tidak bisa ditebak jalan pikirannya."
Sekali lagi Shouto mengangguk, sementara wanita itu kembali bicara. "Chisaki pernah berurusan dengannya. Akan kutanyakan padanya bagaimana caranya berurusan dengan Shigaraki untukmu."
Senyumnya melebar mendengar ucapan wanita itu. Disentuhkannya tangannya di atas tangan wanita itu dan berkata, "Terima kasih."
Di hadapannya, wanita berambut hitam itu pun membalas senyumannya. Untuk sesaat mereka hanya bertatapan sebelum Shouto melepaskan tangannya dan membiarkan wanita itu menggenggam kembali garpu dan pisaunya. Ia sendiri memilih untuk menyesap wine berhubung lidahnya tak dapat merasakan kelezatan daging yang tersaji di hadapannya.
"Katakan saja padaku kapanpun kau membutuhkan bantuan," ujar wanita itu ketika telah menelan makanannya. "Aku selalu siap membantu!"
Shouto kembali tersenyum dan mengangguk kecil. "Aku tahu, Momo. Terima kasih."
Di hadapannya Yaoyarozu Momo, putri dari pemilik grup Yaoyarozu yang merajai bidang farmasi tersenyum padanya. Shouto pun balas tersenyum padanya. Betul, wanita ini adalah wanita yang seharusnya berdiri di sampingnya. Wanita cerdas yang tahu bagaimana membawa diri, dan tahu bagaimana memanfaatkan koneksi. Wanita ini benar-benar wanita yang sepadan dengannya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Shizuku?" Wanita itu berkata lagi, "Kemarin dia kehujanan 'kan? Apa dia baik-baik saja?"
"Oh, dia baik-baik saja," jawab Shouto sambil meletakkan gelas winenya. "Dia sangat bersemangat karena hari ini pelajaran berenang."
"Dia suka berenang?"
"Lebih tepat… hampir tidak ada yang dibencinya," jawab Shouto sambil mengangkat bahu. "Dia suka menggambar, berenang, memasak, berjalan-jalan, piknik, berburu serangga, dan entah apalagi. Aku sendiri tidak sanggup menandingi energi bocah satu itu."
Momo tertawa kecil mendengarnya. "Kedengarannya seperti anak yang enerjik. Dia benar-benar manis."
"Ya, dia memang manis," gumam Shouto setuju. "Walaupun tangisannya seperti bencana level Dewa."
"Oh?" Momo berkata terkejut. "Shizuku suka menangis?"
"Belakangan ini," jawab Shouto sembari menghela napas. "Padahal anak laki-laki seharusnya tidak menangis sekencang itu."
Wanita di hadapannya terdiam sejenak, "Mungkin ia harus dididik agar tidak menangis sekencang itu. Mungkin sudah saatnya kau mencarikan Ibu untuknya."
"Momo…"
"Wanita yang tertidur selama lima tahun itu tidak bisa dianggap sebagai seorang Ibu, Shouto," lanjut wanita berambut hitam itu dengan nada tegas. "Ia tidak mengenal Shizuku selama lima tahun dan tidak berkapasitas untuk mendidik seorang penerus Endeavor. Kau tahu itu."
Shouto menelan ludah mendengarnya. Wine yang dicecapnya tak lagi seenak sebelumnya sehingga ia menurunkan gelas itu dari bibirnya. Ia pun menatap makanannya dan tak berkata apa pun untuk menyanggah wanita di hadapannya.
"Ajak aku bertemu putramu," ujar wanita itu sambil menyentuh tangannya, "aku tahu caranya menangani anak-anak seusianya."
Entah mengapa Shouto ragu. Tidak. Ia tidak meragukan wanita cerdas di hadapannya. Ia tahu wanita itu pasti bisa merebut hati Shizuku dengan mudah. Hanya saja, ia tidak yakin. Bahkan selama ini, ia menghindari keduanya bertemu semata-mata agar Shizuku tidak melihatnya. Entah untuk alasan apa ia menjaga tempat itu.
"Shouto?"
Tidak berasalan. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Wanita ini benar. Shizuku membutuhkan seorang Ibu. Seorang Ibu yang layak untuknya.
"Kau benar," jawab Shouto akhirnya. "Bagaimana kalau…"
Ucapannya terhenti ketika merasakan getaran di sakunya. Dahinya berkerut sedikit sementara ia mengeluarkan ponsel dari saku. Ketika melihat layarnya, serta merta perasaan tidak nyaman menghinggapinya. Dengan sedikit ragu-ragu ia menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinga, mendengarkan.
Tanpa ia sadari, wanita berambut hitam yang duduk di hadapannya memerhatikan ekspresinya. Wanita itu menyipitkan mata saat melihat kerutan di dahi pria yang makan bersamanya itu. Dari ekspresinya, wanita itu menduga-duga apa yang tengah dibicarakan hingga menuai ekspresi semacam itu. Mungkinkah ini soal transaksi yang ia bicarakan sebelumnya?
"Pastikan suhu tubuhnya tidak naik lagi! Panggil Dokter bila suhu tubuhnya meningkat! Aku akan segera kembali."
Oh! Momo tahu ini. Tidak. Ini bukan soal transaksi. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan namun ia tahu siapa yang tengah dibicarakan oleh pria di hadapannya. Selama lima tahun, ia menyimpan sosoknya di rumah sakit milik keluarganya, menopangnya dengan seluruh alat-alat yang dikiranya takkan membuatnya bangun kembali. Namun semua ekspektasinya langsung gugur ketika sosok itu membuka mata.
"Maaf, aku duluan!" Pria itu berkata sembari memundurkan kursi, "Ada urusan mendesak."
Urusan mendesak, katanya? Manis sekali mulutnya. Padahal ia tahu bahwa Momo sekalipun bisa menebak siapa yang ingin ditemuinya. Untuk apa lagi menutupi kenyataan? Apa ia pikir Momo akan sakit hati dengan kebohongannya?
Salah besar, Shouto. Momo tidak sedih. Momo mengerti. Karena itulah ia memberikan senyuman terbaiknya padamu dan membiarkanmu pergi menyongsong wanita itu. Karena ia tahu bahwa kemenangan tidak berpihak pada wanita itu makanya ia membiarkanmu menikmati sisa waktumu bersamanya.
"Untunglah," ucap wanita itu sembari mengambil bunga yang diletakkan di atas meja dan mencelupkannya ke dalam wine yang tak sempat dihabiskan Shouto, "aku ini wanita yang sabar."
.
.
.
Izuku membuka matanya saat serangga malam mulai menyanyikan senandung lembut yang bergema hingga ke dalam ruangan. Selama beberapa saat ia mendengarkannya sebelum mengangkat kelopak matanya dengan enggan. Kesadarannya dikumpulkan sementara manik hijaunya mengerjap. Ketika dirasanya ia cukup kuat, ia pun mencoba bangun dengan bertumpu pada sikunya.
"Kau sudah bangun," ucap suara yang berada di dekatnya. "Bagaimana keadaanmu?"
Sedikit terkejut, Izuku menoleh dan menemukan pria berambut dwiwarna dengan kemeja biru digulung sebatas lengan. Penampilannya sedikit membuat Izuku mengerutkan dahi, sedikit tidak terbiasa melihat pria itu belum mengganti pakaiannya dengan yukata yang biasa. Namun ia mengesampingkannya dan menjawab pertanyaan pria itu lebih dulu.
"Baik," ujarnya sambil berusaha bangun. Usahanya membuat kain yang sebelumnya diletakkan di kepalanya terjatuh sehingga ia mengulurkan tangannya untuk menangkap kain tersebut. "Cukup baik, kurasa."
Pria itu menyentuhkan tangannya ke atas dahinya dan memejamkan mata selama beberapa saat. Manik dwiwarna itu baru muncul beberapa menit setelahnya sembari berkata, "Tidak demam. Tapi sebaiknya kau makan dan minum obat."
Izuku tidak banyak bicara mendengar perkataan pria itu. Kepalanya bergerak mencari tempat untuk meletakkan kain di tangannya sebelum menemukan wadah di mana kain-kain sejenis ditumpuk sembarangan. Wadah itu berada dekat dengan pria itu sehingga ia menggeser tubuhnya mendekat.
"Berikan padaku," ucap pria itu sementara Izuku menyerahkan kain seperti perintahnya. "Kau istirahat saja."
Diambilnya kain dari tangannya untuk diletakkan bersama kain lain yang bernasib serupa. Setelahnya, pria itu mengangkat wadah yang sudah penuh dengan kain itu dan membawanya keluar, memberikannya pada pelayan yang berjaga di depan pintu. Beberapa saat kemudian ia masuk kembali dengan nampan di tangannya.
"A-anu..."
"Kuharap kau suka bubur," ucapnya datar sambil meletakkan nampan itu di dekat Izuku.
Izuku sendiri tak menjawab karena pria itu sudah menggerakkan tangannya dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia bahkan tidak bisa membantah dan menuruti tanpa berkata-kata. Kebingungannya terpaksa ditelan bersama dengan sendok berisi bubur kaldu hangat untuk mengisi perutnya yang kosong seharian penuh.
Ketika pria itu hendak memberinya suapan kedua, Izuku menahannya dengan satu tangan dan berkata, "A-aku bisa sendiri. Sungguh!"
Sendok di hadapan pria itu masih terangkat dan kedua manik dwiwarnanya masih tertuju pada Izuku. Melihatnya, Izuku pun menurunkan tangannya dan membuka mulut agar makanan itu dapat masuk ke mulutnya. Pesannya jelas, pria itu tidak ingin dibantah.
Ketika denting sendok sudah beradu dengan mangkuk, pria itu akhirnya meletakkan mangkuk yang dipegangnya ke atas nampan. Diambilnya gelas berisi air yang berada di atas nampan dan mendekatkannya pada wanita di hadapannya. Sayangnya tangan wanita itu menyenggol gelasnya sehingga menumpahkan isinya dan jatuh ke atas yukata putihnya.
Izuku sedikit terkejut melihat air yang tumpah dan membasahi pakaiannya. Ia mencoba untuk menggerakkan tangan, menyingkirkan tetes-tetes air, namun pria itu lebih dulu mengangkat tangannya dan menyentuhnya dengan lengan kemejanya agar kering. Hanya saja air sudah menyerap pada pakaiannya lebih dulu dan memunculkan warna kulitnya dari balik kain yang dikenakannya.
Sekali ini pria itu menarik dirinya dan berbalik, "Akan kupanggilkan pelayan untuk menggantikan pakaianmu."
Lagi-lagi alisnya berkedut, bingung. Pria itu sudah biasa melihat tubuhnya. Lalu kenapa sekarang pria itu berbalik? Apa yang terjadi sebenarnya? Belum lagi pria itu juga mengompres dahinya dan menyuapinya. Izuku benar-benar tidak mengerti kenapa pria itu memperlakukannya seperti ini. Ia bukanlah siapa-siapa bagi pria itu, bukan?
Beberapa pelayan datang sebelum ia sempat bertanya dan menggantikan pakaiannya. Selama itu, ia tidak melihat pria itu di mana pun. Baru setelah beberapa pelayan undur diri, pria itu baru menunjukkan diri dan duduk di sampingnya. Mungkin inilah saatnya untuk mengajukan pertanyaan.
"Kenapa... kau melakukan ini?"
Shouto menggerakkan kepalanya, "Melakukan apa?"
Izuku memutar jemarinya, sedikit ragu untuk bertanya. "M-merawatku, juga... menyuapiku, atau menungguiku?"
Pria itu tidak menjawab. Tatapan matanya tertuju pada tatami di bawahnya.
"Bukankah... kau sibuk?" Izuku kembali bertanya sembari menautkan jemari, sedikit takut untuk mendapatkan jawabannya. "Apakah... apakah aku... tidak merepotkanmu?"
Suara detik jarum jam berbunyi menggantikan suara pria itu. Orang yang ditanyainya sendiri masih tetap bergeming sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Ketika ia membuka mulutnya ia hanya berkata, "Haruskah kujawab?"
Manik hijau itu menatapnya, namun pandangannya langsung beralih dengan cepat. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak. Tidak perlu. Itu tidak penting. Lupakan saja!"
Shouto menatapnya dengan tangan terkepal, sementara wanita itu menundukkan kepala dengan tangan di atas pahanya. Mereka tidak mengucapkan apa-apa dan membiarkan keheningan menyelimuti mereka hingga tiba-tiba Izuku mendengar suara berisik di kejauhan yang membuat kepalanya terangkat.
"Suara apa...itu?"
Pria di sampingnya memandangnya sekejap sebelum mengikuti arah pandangnya. Ia mendengar bunyi itu sekali lagi sebelum berkata, "Kembang api. Pasti dari Festival di dekat sini."
Izuku mengulangi ucapannya sementara kepalanya tetap tertuju ke sumber suara. Maniknya terpaku ke jendela yang terbuat dari kayu dan kertas, seolah-olah ia bisa menangkap pemandangan di kejauhan. Ia bahkan tak mengalihkan pandangannya dan baru berbicara kembali setelah bunyi itu berakhir.
"Kembang api...," gumamnya sekali lagi sambil menatap jendela yang tertutup. "Sudah musimnya, ya?"
Shouto tetap diam dan memandangi wanita itu. Punggungnya yang diarahkan padanya, juga caranya saat terus memandangi jendela memberikan kesan sedih yang tidak dipahaminya. Kesedihan yang membuatnya tak dapat mengalihkan pandangan dari wanita itu dan menggoda keingintahuannya.
"Apa… kau ingin melihatnya?"
Pertanyaan itu membuat si wanita terdiam sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
Lagi-lagi Shouto terdiam, sekali lagi hanya keheningan semata yang ada di antara mereka sebelum bunyi ledakan kembang api terdengar kembali. Suaranya membuat wanita itu kembali menengadahkan kepalanya sembari menatap ke jendela penuh harap.
Dan sekali ini Shouto memutuskan untuk mengambil tindakan.
"Ng... S-Shouto!"
Wanita itu terkejut ketika dirinya dibungkus dengan selimut tebal dan diangkat begitu saja oleh pria itu. Dahinya berkerut mempertanyakan maksud tindakan pria itu, terlebih ketika mereka beranjak meninggalkan kamar dan menuju ke koridor. Sebelum ia sempat bertanya, bunyi ledakan di atas kepalanya membuatnya melupakan pertanyaannya dan menengadah ke langit.
Mulut wanita itu ternganga saat melihat cahaya yang berpendar di langit, mengisinya dengan warna merah, hijau dan kuning bergantian. Ketika pendar yang satu hilang, pendar yang lain menggantikannya, memenuhi langit dengan asap dan cahaya. Tanpa disadari, tetes airmata mengalir dari bola matanya sementara ia menutupi mulut dengan kedua tangan.
"Cantik...," gumam wanita itu, "cantik…sekali."
Tidak. Bagi Shouto, kembang apinya tidak secantik yang dikatakan wanita itu. Ini hanya kembang api desa yang diadakan di dekat rumahnya. Tidak ada yang menarik dari kembang api itu. Justru… wanita itulah yang terlihat sangat cantik di matanya.
"Dulu, Katsuki pernah berjanji untuk melihat kembang api bersama," ujar wanita itu sembari menengadah, "tapi ia tidak pernah menepatinya."
Shouto menundukkan kepalanya. Ia tidak ingin mendengar tentang pemuda itu lagi. Pemuda itu sudah mati, ia sudah membunuhnya. Tapi kenapa… kenangan akan pemuda itu masih tetap hidup di hati wanita ini? Sampai berapa lama… wanita ini menganggap pemuda itu lebih penting darinya?
"Selalu dan selalu saja ia mengingkari janjinya sehingga aku benci kembang api," lanjutnya sambil menatap langit dengan tangan terulur. "Walaupun kurasa, sekarang aku tak lagi membencinya."
Alis Shouto berkerut sementara kepalanya perlahan-lahan terangkat, menatap wanita yang diangkatnya hingga sekepala lebih tinggi.
Kembang api berakhir dan wanita itu menoleh padanya. Untuk pertama kalinya, wanita itu menunjukkan garis lengkung di bibirnya sementara sepasang manik hijau menatapnya lembut.
"Terima kasih," ucap wanita itu dengan manik hijau yang lembut, "Shouto."
.
.
.
A/N:
Tenang! Saia bukan kerasukan. Sebenernya dari hari kemaren uda jadi 2 chapter, dan hari ini tinggal bagian editing aja, tapi... tapi saia nggak nyangka, ternyata banyak banget review yang masuk. Kalian ini kerasukan ato gimana? :P #kidding #authorngaco #euforiadapetripiu
hachimanBoyss : wow! Hachi-san, sugoiii! Baru beberapa menit di post dan tetau uda masuk ripiu kamu :D hontou arigatou :D
Buat uda ada wanita lain, ihiy, tenang aja, Shouto menjaga baik-baik napsunya kok, napsunya bisa dikontrol :P
Lho? Kok jangan hurt2 banget? M nya jangan nanggung dong :P #maapkidding
SakuraMatcha :masama, Sakura-chan, saia juga seneng bisa menambah asupan :D
Naru Frau Rivaille : au… jangan baper, Naru-chan :D dibanding komedi, saya lebih bisa bikin orang baper sih :P dan tebakan kamu tepat, memang Yaomomo sih, soalnya saya rasa cuman doi yang cocok sama Shouto selain Izu-chan :D tapi buat karamnya kapal… gimana ya? :P
Shirocchin : holla Shirocchin :D iyaa, nggak apa-apa Shiro-san. Maap karena saia nggak tau kalo kamu notp TodoMomo juga dan saia ngerti kok kalo kamu nggak baca :D
Saia nggak ng ship mereka, jadi tenang aja, etapi lagi, kalo kamu nggak mau baca juga gapapa :D #ngomongapaaku? #kokbelatbelitgini
Nanami Yoru :hola Nanami-san :D let's hope the best for both of them, let's hope their ship won't crash or sink :P
And Lastbut not the least, thank you for reading and as always, kasih tahu saya bagaimana kesan kalian ya XD
With love,
Cyan.
