\(o.ㅅo)/ Arishima Byun Present \(o.ㅅo)/
Title: Appa
Genre: Romance, thiller, family, married life, M-Preg
Rate: T-M
Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin, Haowen
Summary:
Ketika semuanya menjadi begitu terlambat, aku memutuskan untuk menunggu lebih lama. Lalu ketika semuanya berada tepat diatas waktu, maka aku akan segera mengakhirinya. Baekhyun-ah.
a/n: ini akan sedikit panjang kkk. sedia kopi mungkin membantu~ cek this out~
Sebuah pensil mekanik terselip diantara jemari lentik yang sesekali mengetukannya pada belahan bibir cherry yang mengerucut itu. Park Baekhyun, dengan mata yang terpejam erat –mencoba berpikir keras demi menambahkan goresan ujung pensilnya pada kertas berisi coretan coretan desain yang setengah jadi. Wajahnya terlihat serius memperlihatkan bahwa ia tengah tenggelam dalam dunianya. Ia mendesah frustasi saat sama sekali tak mendapatkan penyelesaian untuk pekerjaannya itu. Deadline sudah didepan mata dan yang ia temukan hanyalah otaknya yang kosong. Salahkan seseorang yang terus saja melintas dipikirannya saat ini. Park Chanyeol. Awas saja kalau pria tampan itu menunjukkan batang hidung mancungnya –baekhyun berencana akan langsung menerjang makhluk seksi itu karena telah membuatnya khawatir.
Menerjang disini adalah sebuah denotasi.
Kesekian kali dalam periode satu menit, Baekhyun kembali menggerutu dan melirik ke jendela dengan gusar. Suaminya belum pulang dan kekhawatirannya sepertinya berencana membunuhnya secara perlahan. Bekerja sebagai seorang CEO perusahaan fashion, Park chanyeol suaminya semakin jarang menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya sejak ia diangkat menjadi pemimpin perusahaan menggantikan sang ayah. Mau bagaimana lagi, baekhyun hanya bisa menunggu suaminya dirumah dan menjaga kedua anaknya.
Oh! Anak?
Ya. Kandung.
Lalu bagaimana bisa? Baekhyun kan... laki-laki.
Karena apa lagi? Tentu saja karena pen-nya Chanyeol yang bertemu dengan pineapple-nya Baekhyun lalu menghasilkan dua pen-pineapple-apple-pen bernama Park Kyungsoo dan Park Jongin. Kuharap kalian mengerti dan tidak perlu mencari arti dari lagu pikotaro tersebut. Karena...ya...itu sudah ketinggalan zaman.
Yahhh... Intinya Baekhyun adalah lelaki istimewa.
Jam sudah menunjukan tengah malam dan hujan beserta guntur masih betah mengguyur bumi. Udara dingin bahkan mulai menyerang malam maka dari itu baekhyun berniat membuat secangkir coklat panas untuk menemaninya menunggu Chanyeol. Ditengah heningnya dapur dan suara dentingan sendok yang beradu, baekhyun perlahan menyentuh perut ratanya dibalik kaus putih yang ia kenakan. Goresan memanjang diarea bawah perutnya masih terasa jelas dijemarinya. Pria mungil itu mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut saat bayangan itu kembali tergambar dibenaknya. Suara dokter, bau rumah sakit, dan rasa sakit dibagian bawahnya. Ingatannya kembali ke sepuluh tahun yang lalu.
Saat pertama kali ia mengetahui ada benda milik perempuan yang berisi janin ada dalam perutnya. Saat Chanyeol pingsan setelah mendengarnya dan membuat Baekhyun salah paham jika mungkin Chanyeol takut dengan keadaan istimewanya itu. Dengan wajah panik yang terlihat konyol Chanyeol menjelaskan pada Baekhyun yang terisak bahwa ia hanya terlalu terkejut dan terlalu bahagia mendapat kabar mengejutkan itu. lalu entah bagaimana ceritanya keduanya berpelukan sambil menangis bahagia atas kehamilan pertamanya.
Semuanya bahkan terasa sempurna.
Seharusnya.
Ia memiliki seorang suami yang tampan dan sangat mencintainya. Ia juga dikaruniai sebuah rahim hingga ia bisa memberikan keturunan untuk sang suami. Ia berpikir tak ada yang beruntung didunia ini selain apa yang terjadi dihidupnya. Apalagi sejak Kyungsoo lahir kedunia dengan kedua mata bulat warisan Chanyeol yang berkilauan. Ia jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Baekhyun berpikir God so fucking love him.
Tapi... nyatanya pepatah setelah gelap terbitlah terang tidak selalu benar.
Karena yang baekhyun temukan adalah sebaliknya.
Menginjak usia empat tahun bayinya, Park Kyungsoo didiagnosis lumpuh permanen.
Kedua kaki kecilnya tidak berfungsi secara wajar sejak lahir. Mengharuskan bocah itu memakai tongkat dan kursi roda seumur hidupnya. Dokter bilang itu adalah salahnya. Keadaan istimewa yang ia milliki tidak seistimewa kelihatannya. Entahlah Baekhyun juga tidak mengerti penjelasan dokter saat itu –intinya ia tak mau mendengar that fucking explanation. Ia kecewa. Tentu saja. tapi itu tak membuatnya berhenti mencintai anak pertamanya, cinta pertamanya yang kedua kali. Mungkin kyungsoo-ku yang malang memang belum beruntung. Ia berusaha menegarkan hati. Walau sulitnya seperti melahirkan Kyungsoo kedunia.
Sejak saat itu ia berusaha memberikan chanyeol anak kedua. Berharap bahwa keistimewaan yang ia miliki benar-benar istimewa. Namun ternyata. Malaikat kecil kedua yang diberikan Tuhan padanya bahkan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Park Jongin tuli permanen maka dari itu bayinya tak bisa bicara.
Dan Baekhyun pun berusaha lagi.
Entah apa yang tiba-tiba merasuki pikirannya. Sebuah obsesi untuk memberikan Chanyeol seorang keturunan yang sempurna meluluh lantakkan akal sehatnya. Setiap malam setelah Chanyeol pulang dari kantor, ia akan selalu menerjang suaminya itu untuk bercinta hingga berakhir sampai dini hari. Hal itu berlangsung selama beberapa bulan hingga tanpa sadar ia menyakiti dirinya sendiri. Ia lelah. Ia merasa tubuhnya nyaris terbelah. Hingga ia sadar. Yang tersakiti bukanlah hanya dirinya. Tapi Chanyeol... pria itu diam-diam tersedu-sedu diceruk lehernya setelah pelepasannya disuatu malam. Suaminya yang terlihat tegar tiba-tiba menangis. Dan menghujani bahu telanjang Baekhyun dengan kecupan yang sarat akan rasa bersalah. Hati remuk Baekhyun semakin hancur. Melihat suaminya seperti ini, melihat suaminya terpaksa melakukan hal ini membuat Baekhyun merasa bersalah sampai keakar-akar. Ia merasa bukanlah seorang yang dapat membahagiakan sang suami. Suaminya, Park Chanyeol sudah lelah dengan semua usaha ini. Hingga pria jangkung itu menangis karena Baekhyun tak mampu memberikan keturunan sempurna yang dapat meneruskan keluarganya kelak. Setidaknya itulah yang dipikirkan Baekhyun.
Hingga dua hari setelah percintaan penuh airmata itu, baekhyun dinyatakan kembali hamil.
Anak ketiga yang membawa penuh harapan.
Kehidupan rumah tangga mereka semakin membaik setelah acara tidak berbicara selama dua hari berturut-turut. Usia kandungan Baekhyun menginjak tiga bulan dan Baekhyun merasa tak ada hal aneh yang terjadi pada kandungannya. Namun, demam parah yang tiba-tiba dideritanya memaksa Chanyeol untuk segera melarikan Baekhyun kerumah sakit karena demi apapun, kulit Baekhyun pucat seputih mayat dan keringat yang membasahi tubuhnya sama sekali tak membantu meringankan kekhawatiran Chanyeol. Maka dari itu, chanyeol menitipkan kedua anaknya pada sang kakak –Park Yoora, saat Baekhyun dirawat selama beberapa hari di rumah sakit tempat dokter yang menangani kasusnya berada.
Tapi apa yang dikatakan dokter saat itu...
"kandungan anda akan sangat riskan bagi keselamatan anda tuan, anda harus segera memutuskan untuk mengangkatnya"
Bitch! Tak ada bayi yang berbahaya di dunia ini!
Baekhyun hampir melepari dokter dengan vas bunga saat wanita berjas putih itu menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Wajahnya memanas dan mungkin permukaan putih pucat itu berubah merah seperti Jongin saat bayi dua tahunnya itu menangis. Berulang kali ia memaki sang dokter dan menuduhnya bahwa wanita itu hanya sirik akan keadaan istimewanya itu.
Hah~ entahlah.
Ia hanya butuh seseorang untuk disalahkan.
Bahkan chanyeol. Suaminya yang malang itu bahkan mendapatkan cakaran dipipi kanannya saat Baekhyun mengamuk. Berakhir dengan sebuah pelukan dan ciuman penuh drama dan airmata. Suaminya yang penyabar mengelus punggungnya yang bergetar dan membisikkan kata cinta yang membuat baekhyun semakin merasa bersalah.
"baekhyun, dengarkan aku sayang! aku menikahimu bukan karena aku menginginkan keturunan darimu! Aku menikahimu karena aku ingin kau selalu berada disampingku bahkan ketika aku berada didalam peti suatu saat nanti," Pria jangkung itu terisak dibahunya. Membuat bagian itu terasa basah.
Prianya yang cengeng dan paling dicintai.
"Jika kau memaksakan dirimu untuk memilikinya dan membuatku kehilangan dirimu untuk selamanya lalu apa arti pernikahan ini hm? Aku hampir kehilanganmu saat kau melahirkan Jongin. Aku tak bisa baek. Aku tak bisa kehilanganmu. Bagiku kita berempat sudah cukup! kyungso, jongin dan kita. Please pikirkan dirimu, sayang. Pikirkan aku, kyungsoo dan jongin yang butuh kehangatan darimu. Aku membutuhkanmu baek, please mengertilah"
Bagai mantra ajaib, hati baekhyun yang semula bergejolak perlahan mulai mereda hanya karena ucapan cheesy Chanyeol. Baekhyun semakin meraung didalam pelukan suaminya. Ia menyesal telah bersikap egois. Ia menyesal berpikir bahwa Chanyeol lelah. Ia... ia menyesal telah mengabaikan perasaan tersakiti yang terlihat jelas diwajah suaminya yang basah. Ia menyesal telah mengabaikan keluarga kecilnya yang sempurna selama ini demi memenuhi obsesinya.
Mereka. Keluarga kecilnya membutuhkannya untuk membangunkannya disetiap pagi, membuatkan mereka sarapan dan memberikan ciuman selamat jalan saat pergi kekantor dan bersekolah.
Maka dari itu. ia merelakan baby angel yang bahkan belum punya nama diambil paksa dari rahimnya.
Maafkan aku, baby.
Maafkan Appa.
GREP!
"Ya Tuhan!"
"apa yang kau pikirkan, sayang?" Sepasang lengan yang melingkari perut ratanya secara tiba-tiba benar benar membuatnya serasa kehilangan nyawanya dalam sekejap.
"demi tuhan Park Chanyeol berhenti memelukku tiba-tiba! Bagaimana jika aku mati mendadak hah? Kau mau menggantikanku membereskan poop jongin?" dengan raut wajah kesal, baekhyun memutar badannya dan ia mendapati wajah lelah sang suami. Meski begitu ia tetap mengelus rahang tegas sang suami yang seksi dengan penuh rasa sayang.
"aah~ aku merindukan omelanmu sayang." Pelukan tangan kekar itu semakin mengetat. Membuat dada keduanya menempel. Baekhyun bahkan mencium aroma mint dari mulut suaminya. Khas permen yang suaminya sukai.
Baekhyun memutar bola matanya saat mendapati raut menggoda dari wajah mesum itu.
"ck. lepaskan! Dasar kau tall prince pembohong! Mana ada orang yang rindu tapi tidak menjawab teleponku sama sekali! cih" elusan dirahangnya berubah jadi cubitan diotot perut Chanyeol yang keras hingga sang empu meringis namun tak berniat melepaskan pelukan mautnya. Pria jangkung itu tahu kalau Baekhyun hanya tengah merajuk dan bermanja-manja padanya.
"aigoo istriku~ kalau marah semakin cantik saja. maaf ya~ ponselku tertinggal di mobil. Aku malas membawanya tadi. Jangan marah lagi~ atau kucium!"
"kau pikir godaanmu itu mempan ha? dan jangan pernah memanggilku istri! aku ini laki-laki!" nada marah yang keluar dari bibir tipis itu, namun sepertinya pipinya yang merona menjelaskan semuanya.
"kau yang merona itu membuatku bangun, kau tahu?"
Si sialan suaminya baru saja mengerling seksi
Semoga saja chanyeol tak mendengar kata hatinya.
Baekhyun berdekham kecil, memaafkan Chanyeol begitu saja –karena pada kenyataannya ia tidak benar-benar marah. Baekhyun tahu betul suaminya sangat sibuk dan gila bekerja "jadi, kau mau menggantikanku memberekan poop jongin?" pria mungil itu mengabaikan secangkir kopi yang siap minum mendingin begitu saja diatas meja marmer. baekhyun pikir ia bisa balas menggoda suaminya. Seminggu ini chanyeol sibuk dan ia sudah merindukkan giant ini sangat buruk.
Suami tingginya yang tampan menggeleng. "no, karena aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun"
Oh yeah suaminya yang cheesy itu terlihat seksi.
Dan baekhyun jadi semakin ingin menggodanya. Sepertinya malam yang hebat akan menjadi hadiah yang bagus untuk suaminya yang seharian sibuk dengan tugas kantor yang melelahkan.
"aku harus ke supermarket sayang, kau lupa kebutuhan dapur kita sudah menipis," tentu saja ia tahu bagaimana membawa percakapan mereka lebih panas. Baekhyun bawa kedua tangannya bergelangtungan dileher Chanyeol.
"correction!" baekhyun menunggu suaminya melanjutkan saat ia melihat seringaian seksi disudut bibir penuh Chanyeol.
"semuuua kebutuhanku ada pada dirimu. Jadi kau tak ada alasan untuk pergi kemanapun baek"
Pria yang lebih mungil terkekeh "kalau begitu kita tak akan memakan apapun untuk pagi siang dan malam"
"aku bisa memakanmu," baekhyun terkekeh manis saat chanyeol mengendus ceruk lehernya yang terbuka. Baekhyun terkekeh geli.
Dengan sedikit tenaga –sebenarnya tidak benar-benar berniat- ia mencoba menarik kepala chanyeol yang sibuk mengerjai lehernya. "aku bukan makanan, park"
"ya kau bukan tapi kau adalah milikku baek. Ayo buka ini untukku" dengan gerakkan tergesa keduanya mulai melucuti apapun yang melekat ditubuh mereka. Mulut mereka saling terkait erat seolah menumpahkan kerinduan setelah beberapa jam mereka berpisah hari ini. Saat kaos putih baekhyun jatuh dilantai dapur-
Toktoktok
Suara ketukan pada lemari dapur itu menghentikan mereka. Dan oh! Siapa yang mereka temukan disana!
"jongin-ah" baekhyun terkesiap dan mendorong dada suaminya hingga sang empu terantuk kulkas. Dengan melemparkan tatapan bersalah, Baekhyun membereskan pakaiannya dan menghampiri sang anak. Chanyeol mendesah agak kesal.
kenapa bangun hmm? Jongin haus?"
Baekhyun berbicara seraya menggerakkan tangannya membentuk beberapa huruf yang bia dimengerti anak keduanya. Itulah satu satunya cara untuk berkomunikasi dengan Jongin. Ia lalu mengelus rambut kusut sang anak yang menggemaskan. Yang ditanya menggeleng lucu lalu menggerakkan tangan kecilnya pada sesuatu ditengah kedua pahanya.
mau pipis?" bocah itu mengangguk. Baekhyun tersenyum dan mengendong yang lebih kecil menuju toilet setelah mengecup pipi gempalnya.
"tunggu aku dikamar, daddy" ucap baekhyun pada chanyeol dengan sedikit bumbu menggoda dibalik kerlingannya. Membuat chanyeol tersenyum miring dan semakin bersemangat untuk makan malam.
Saat pintu kamar terbuka, chanyeol justru menemukan tiga sosok yang dicintainya berjalan masuk kedalam kamar. Ia melirik baekhyun –dengan kyungsoo digendongannya- yang menatapnya penuh penyesalan.
"kupikir dengan tunggu aku adalah kau yang sendirian, baek" chanyeol menggerutu pelan.
Baekhyun membuka selimut dan menempatkan kedua anaknya yang terkantuk ditengah-tengah kasur king size mereka.
"diam tall prince, mereka juga anakmu jika kau lupa" baekhyun mendelik tajam pada suaminya sebelum ikut masuk kedalam selimut dan memeluk jongin yang ada disampingnya setelah mencium puncak kepala kyungsoo.
"kyungsoo bertemu monster dibalik selimut dan jongin takut kalau monster itu mencuri robot dinosaurusnya, daddy" jelas baekhyun sembari menyamankan bantal pada kepala jongin. Chanyeol terkekeh lalu ikut masuk kedalam selimut sebelum mencium kedua anaknya.
"daddy?" suara serak kyungsoo terdengar. Rupanya anak itu terbangun karena pergerakkan chanyeol.
"tidurlah yang nyenyak kyungie~ daddy akan melindungimu dari para monster itu" baekhyun terkekeh mendengar nada kekanakkan Chanyeol. Ia tahu suaminya kecewa karena makan malam nya dibantalkan. Dengan melempar tatapan bersalah baekhyun melemparkan flying kiss pada suaminya. Lalu dibalas dengan hal serupa. Keduanya tersenyum.
"eung dad. Selamat tidur dad, appa"
"selamat tidur sayang" baekhyun mengalihkan atensi pada kyungsoo lalu mengelus dahi anak pertamanya yang sedikit berkeringat. Lalu menggerakkan tangannya –berbicara pada jongin yang menatapnya dalam kantuk menunggu sang Appa mengucapkan sesuatu padanya. "i love you, Nini" kemudian tatapan kecil itu beralih pada chanyeol "daddy too, loving you never end, " pria tinggi itu tersenyum dan memberikan sebuah kecupan manis hingga sang bocah tersenyum puas lalu kembali tidur dalam kedamaian. Kedua orang dewasa itu terkekeh. Chanyeol menjulurkan kepalanya perlahan untuk mengecup dahi baekhyun.
"selamat tidur sayang, aku mencintaimu"
Baekhyun tersenyum. Menggapai lengan chanyeol dan menautkan dengan miliknya.
"love you more, Yeol"
Kehidupan rumah tangga mereka saat pagi selalu diawali dengan hal yang sama. Baekhyun yang membangunkan sang suami dan kedua anaknya, menyiapkan sarapan, pakaian, rumah yang berantakan dan...
"appa~ kyungie ingin punya hyung"
Rengekan sang anak sulung yang ingin punya kakak.
Sarapan hangat yang berjalan seperti biasanya itu selalu terhenti saat sang anak sulung berseru ditengah acara mereka dengan rengekan yang menggemaskan –gemas ingin mencubit memeluknya-
"kyungie sudah mengatakan itu puluhan kali" chanyeol menyahut sedikit bosan dengan topik yang dibicarakan anaknya pertamanya itu. Tentu saja. Bagaimana mungkin kyungsoo ingin saudara yang lebih tua sementara ia adalah anak pertama mereka.
"lalu kenapa daddy dan Appa belum juga membuat hyung untukku? Hyungnya ziyu sudah datang kemarin dan dia saaangat tampan, dad. Kyungi juga ingin punya hyung tampan jadi kyungi bisa pamer sepeti ziyu"
Kyungsoo pikir seorang anak dibuat seperti adonan muffin kesukaannya.
Itu memberikan ide nakal Chanyeol berkembang tiba-tiba "kemarin daddy ingin membuatnya bersama Appa tapi kyungie dan Nini mengganggu, jadi hyung tidak jadi dibuat" chanyeol merasakan death glare dari sosok dewasa lain yang sedang menyuapi Jongin.
"yaaahh~~~~" bocah itu mendesah kecewa dengan bibirnya yang mencabik "memangnya kyungie dan ninie tidak boleh lihat membuat hyung?"
"uHUK uhukk!" baekhyun tiba-tiba tersedak dan langsung meminum airputih yang ia terima dari tangan Chanyeol.
"kyungie sayang sudahlah habiskan dulu sarapannya" dengan tangan yang mengusap dagunya yang basah karena terburu-buru saat minum tadi, baekhyun berusaha menyelamatkan otak polos sang anak sulungnya –dengan menyuapkan sesendok omellet kedepan mulut berbentuk hati milik kyungsoo- dari otak mesum suaminya yang menahan tawa saat berhasil membuat pipinya memerah.
"memikirkan sesuatu babe?" bisik chanyeol penuh godaan lalu terkekeh saat lagi-lagi yang lebih mungil memberikan tatapan mematikkan miliknya.
"boleh tidak dad?~~" lagi-lagi bocah itu merengek dan chanyeol masih betah mengerjai anaknya.
"boleh tapi nanti kalau kyungie sudah dewasa daddy akan memperlihatkan caranya pada kyu-"
"Daddy... habiskan sarapan sekarang juga atau tidak ada makan malam hari ini" satu ancaman ini berhasil menghilangkan raut wajah jahil diwajah suaminya dan baekhyun bersorak menang dalam hati.
"dan kyungie habiskan sarapanmu juga nanti kita bicarakan eum...m-mem-membuat hyung-nya lain kali saja eum?" panas tiba-tiba berkumpul dipipinya saat kata membuat hyung keluar dari mulutnya. Ia tahu Chanyeol tertawa setan dalam hati. Awas saja kau sayang.
Bocah itu cemberut. "eung...arrasseo~" dan kembali menyuapkan sarapannya dengan tidak minat. Namun baru beberapa menit sesi sarapan itu kembali normal, mata berbinar milik Kyungsoo kembali berkilat. Chanyeol dan Baekhyun tahu mereka tak akan bisa keluar dari topik ini hingga Kyungsoo berangkat ke sekolah.
"Ah! Kyungie ingin bercerita hyung Ziyu namanya Owen hyung. Dia juga sekolah disekolah Kyungi lalu kemarin Ziyu ditunggu hyungnya pulang dan dibelikan eskrim dan ziyu pamer padaku Appa~ kyungie sebal! Kyungi juga ingin hyung~" bocah itu merengek dengan pipi tembamnya yang mengembung.
Kembali lagi ke topik.
"kyungie ingin punya hyung agar dibelikan eskrim seperti ziyu? Bukankah daddy sering membelikan Kyungie icecream?"
Baekhyun terkekeh dengan perkataan cemburu chanyeol.
"No dad, kyungie juga ingin hyung melindungi Nini. Kyungi tidak bisa berlari untuk menolong Nini kalau Nini jatuh karena didorong anak nakal"
Seketika kedua orang dewasa disana terdiam dan menatap kyungsoo kaget lalu berubah sendu.
"sayang... apa... apa kyungie lihat kalau anak itu mendorong jonginie? Apa mereka mengganggu kalian?"
"eung..." bocah itu terlihat ragu lalu mengangguk kecil. "mereka juga kadang memakan sandwich kyungie, Appa. I'm sorry"
What are you sorry for, dear?! Baekhyun merasa dadanya sesak. Kyungsoo begitu polos dan justru meminta maaf karena sandwich buatannya direlakan begitu saja untuk orang lain.
Tanpa sadar baekhyun mengeratkan pegangannya pada sendok dan menatap jongin yang terlihat tak mempedulikan percakapan mereka dan sibuk dengan robot dinosaurus kesayangannya.
"kyungi bisa berteriak sedangkan nini tidak bisa. Bagaimana kalau anak nakal itu mencubiti nini sedangkan tidak ada kyungi disana untuk berteriak?"
Ya tuhan. Apa mereka selalu diperlakukan seperti itu?
Baekhyun merasa bahwa ia melewatkan segala tentang anaknya ditengah kesibukannya sebagai seorang designer. Dan ia marah pada dirinya sendiru.
Chanyeol mendesah dan meraih wajah bulat anak pertamanya –menatapnya sendu dengan senyuman kecil seraya mengelus pipi bulat itu. "kyungi kesayangan daddy, lain kali bilang pada saem atau appa dan daddy kalau ada yang nakal pada kalian biar anak nakal itu tidak nakal lagi hm?i"
Bocah itu memberengut, "okay dad," lalu terdiam. Terlihat memikirkan sesuatu yang ingin dikatakannya. "jadi... apa kyungi dan nini akan punya hyung?"
Baekhyun tersenyum paksa –sedikit merasa marah pada dirinya sendiri- mengelus rambut hitam bocah itu. Kyungsoo bersorak ceria mengira senyuman Baekhyun adalah sebuah 'ya' untuk permintaannya.
"Ah dan juga Appa! Katanya orangtua Ziyu, beli Owen hyung langsung sudah jadi tidak usah membuat. Mereka beli di sebuah rumah, kata Ziyu banyak anak-anak baik disana Appa!"
Hah?
Maksud Kyungsoo...
Melihat Baekhyun yang terlihat tak baik, Chanyeol mengalihkan perhatian Kyungsoo "kita bicarakan ini nanti okay? Sekarang kyungie sekolah dulu dan jadi anak paling pintar disekolah. Mengerti?" bocah itu menatap Chanyeol lalu mengangguk semangat.
"Lets go! Habiskan susumu sayang, appa akan menjemputmu sepulang sekolah. setuju?" chanyeol memberinya sebuah tatapan bertanya. baekhyun hanya tersenyum –terlihat memaksakan dan membersihkan penampilan anak keduanya Jongin yang masih sibuk memakan sandwich.
Kyungsoo melepaskan mulut gelas dari bibirnya. Menyisakan garis putih kecil di bawah hidungnya "for real Appa?! Yayyy! I love you so much, appa" bocah itu berseru semangat dan memberikan sebuah ciuman di pipi baekhyun. Jongin ikut tertawa kecil saat melihat ekspresi kyungsoo yang bahagia. Chanyeol mengusak rambut anak sulungnya gemas.
"apa daddy juga tak dapat ciuman? Kyungie tidak mencintai daddy?" si Park paling tinggi pura-pura memberengut lalu terkekeh melihat kyungsoo yang membulatkan matanya kaget.
"eiiii dad, it's impossible! I love you more than i love Roary" Roary adalah boneka beruang kesayangannya yang super besar. Maka dari itu ia dinamai Roary. Entahlah jangan tanya dimana hubungannya ukuran boneka itu dengan nama Roary. Yang jelas pikiran anak kecil seperti kyungsoo tidak bisa ditebak dengan mudah.
Bocah itu pun memberi Chanyeol satu ciuman dipipi.
"cha~ Pakai sepatumu good boy! Appa ingin membantu daddy. Tunggu sebentar okay?"
"ayay captain!"
"jonginie... tunggu bersama hyung disini okay?" baekhyun mengelus rambut sang anak bungsu yang memperhatikan sang kakak menalikan tali sepatunya.
"okay Appa!" bocah itu memberi tanda oke dengan semangat.
Baekhyun kembali kedalam rumah setelah membawa kyungsoo kedepan rumah untuk memakai sepatu. Ia menghampiri chanyeol yang tengah berkutat dengan dasinya didepan kaca.
"apa yang bisa kaulakukan tanpaku yeol?" decak baekhyun lalu mengambil alih dasi yang terkihat berantakan itu. chanyeol tersenyum lalu meraih pinggang suaminya mendekat.
"eung... masturbating?- Aww baek it's hurt!" prianya yang mesum memang pantas dihadiahi cubitan mematikan dibagian dadanya.
"ya Tuhan~ Aku menikahi seorang pria mesum" melihat wajah menggemaskan suaminya chanyeol tak tahan untuk mengecup pipi chubby yang terlihat menggiyurkan itu.
"kau menyesal?"
"anehnya tidak. Kurasa aku harus pergi ke psikiater"
Lalu keduanya tertawa memikirkan kebodohan mereka.
"cha! Sudah selesai tuan Park, segera bergegas dan antar anakku kesekolah dengan selamat. Mengerti sayang?" baekhyun menepuk kedua pipi suaminya dan menanamkan ciuman dipucuk hidung mancung itu sebelum memberekan tas kerja milik chanyeol.
"kau yakin ingin menjemput kyungsoo baek? Kupikir kau sibuk untuk peluncuran musim dingin nanti?" chanyeol mengambil alih tas kerja miliknya dan merapihkan anak rambut baekhyun yang hampir menutupi matanya dengan tangannya yang lain. dan terlihatkan dengan jelas kedua mata puppy yang membuatnya jatuh cinta hingga saat ini. Dan mereka terlihat sendu meskipun nada bicara baekhyun terdengar seperti biasanya. Namun, mencintai pria mungil ini selama bertahun-tahun lamanya membuat Chanyeol mengerti tatapan dari mata favoritnya itu.
Kenyataan bahwa anak mereka mengalami perlakuan tak adil oleh teman-temannya disekolah membuat Chanyeol merasa marah pada dirinya sendiri yang terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor.
Chanyeol yakin Baekhyun pun merasa begitu. Mata cantik itu terlihat redup.
"kau baik-baik saja sayang?" baekhyun tersenyum saat merasakan tangan besar Chanyeol mengelus pipinya. Ia ikut menempelkan telapak tangannya diatas tangan Chanyeol dan mengelusnya sayang.
Baekhyun terdiam sejenak "aku ingin berbicara dengan ibu ziyu, yeol"
Chanyeol pikir perbincangan meja makan beberapa menit yang lalu tak akan berlanjut sampai saat ini. Tapi baekhyun adalah baekhyun. Ia selalu memprioristaskan kedua anaknya.
"baek, kau serius in-"
"aku tidak tahu yeol, aku hanya berpikir kita tidak selamanya bisa mengawasi mereka dan itu membuatku merasa bersalah. Kurasa kyungsoo ada benarnya yeol. Kumohon pikirkan lagi hmm?"
Baekhyun dan cintanya pada sang buah hati.
Chanyeol merasa ia bukanlah seorang kepala rumah tangga yang baik. Ia masih belum bisa memberikan total pada anaknya. Sisi egoisnya memang terkadang sangat keras kepala. Ia mulai berpikir bagaimana jika dirinya tak bisa mencintai anak angkat mereka seperti mencintai kedua anak kandungnya. Terlebih anak yang sudah lebih besar dan tidak dirawat sejak kecil. Chanyeol meragukan dirinya sendiri. Tapi...jika itu adalah hal yang harus Chanyeol lalui demi kebahagiaan keluarganya, chanyeol akan berusaha menerima.
"baiklah sayang, aku berangkat. Jaga diri baik-baik hmm" dan kecupan manis dibibir menjadi salam perpisahan mereka pagi ini.
Cuaca musim dingin begitu terasa menusuk. Park Jiyeon setengah menggerutu ketika angin sejuk menyapa kulitnya yang terbuka. Ia menyesal tak menghiraukan ucapan ibunya saat pergi untuk memakai pakaian yang lebih tebal. Kulit jarinya bahkan terasa beku saat bersentuhan dengan lapisan perak dari aksesoris yang akan ia pasangkan pada manekin.
Gadis itu menggosok tangannya dengan helaan nafas berat saat pekerjaan pertamanya pagi ini telah ia selesaikan. Saat kakinya melangkah untuk kembali masuk kedalam butik, mata kucingnya menangkap seorang anak laki-laki yang menatap kearahnya dengan tajam. Mata elang anak lelaki itu seolah mengulitinya hidup-hidup. Jiyeon bahkan sudah merasa gemetaran ditempat. Aneh memang. Padahal ia hanya anak-anak beranjak remaja yang hanya berdiri memandang kearahnya. Tapi aura dari tatapannya sungguh membuat Jiyeon menegang ditempat.
Geez apa yang kupikirkan..
Gadis itu menggeleng. ini mungkin hanya efek musim dingin dan perutnya yang kosong. Ia berguman dalam hati. Kakinya pun melangkah untuk mendekati anak itu –berniat bertanya mengapa ia melihat kearahnya seperti ingin menelannya hidup-hidup.
"Jiyeon-ssi bisakah kah kau bawakan aku edisi september depan?"
Jiyeon menoleh kearah butik dimana sang atasan tengah memangku manekin yang mungkin akan dipajang didepan etalase.
"ne?" gadis itu merasa linglung sejenak. Ia kembali menolehkan kepalanya pada seberang jalan sana –dimana anak aneh itu berada- namun yang ditemuinya hanya trotoar yang lenggang.
Kemana perginya anak itu?
"jiyeon-ssi kau baik-baik saja?" pria mungil yang menjadi atasannya itu kembali bertanya.
Jiyeon menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan ragu "anu sajangnim...tadi aku melihat anak-"
Issh ini bahkan hari pertamamu bekerja dan kau bahkan sudah bertingkah aneh didepan atasanmu sendiri. Jiyeon merutuki dirinya dalam hati.
Baekhyun –sang atasan- masih menunggunya untuk kembali berbicara.
"a-aniya sajangnim, a-aku hanya terlalu gugup bekerja disini" gadis itu mengulas senyum dan Baekhyun membalasnya dengan senyuman.
"Ah! Aku akan membawanya sajangnim tunggu sebentar" jiyeon pun melesat kedalam butik untuk membawakan apa yang baekhyun minta sedangkan baekhyun menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah pegawai barunya. Lelaki mungil itu menghela nafas dan segera mengatur letak manekin yang dibawanya saat tiba-tiba atensinya teralih pada seberang jalan dimana ia merasa seseorang tengah mengawasinya.
Namun disana hanya ada pejalan kaki yang terlihat sibuk, penjual koran dan susu dengan sepedanya, anak-anak sekolah yang tengah menyeberang dan sekor kucing liar yang meringkuk didepan sebuah ruko yang belum buka. Pandangannya tak menemukan seorang pun yang tengah menatapnya atau setidaknya menemukan seseorang yang mungkin sedang melihat-lihat kearah butiknya –sebagai pembeli. Namun semua yang ada dalam pandangannya tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Baekhyun semakin mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar merasa seseorang menatapnya dengan-
"ini mereka sajangnim" baekhyun sedikit tersentak kaget saat Jiyeon tiba-tiba datang dari arah belakangnya.
"ah! Ji-jiyeon-ssi" baekhyun mengurut dadanya dengan nafasnya yang sedikit memburu.
"apa saya mengejutkanmu, sajangnim?" tanya Jiyeon merasa bersalah melihat ekspresi Baekhyun yang kentara.
"no-"
Suaranya bahkan tercekat. Ia pun berdekham untuk membersihkan tenggorokkannya.
"no no, it's okay Jiyeon-ssi. Aku hanya sedikit melamun. Terimakasih" ucap baekhyun seraya menerima barang yang ia minta. Gadis itu menangguk dan meminta izin melanjutkan pekerjaannya. Baekhyun tersenyum mengiyakan.
Setelah gadis itu pergi, dengan lirikan ragu baekhyun kembali menoleh kearah seberang –sekedar kembali memastikan keadaan yang masih terasa mencekam dan yang ia temukan membuatnya menjatuhkan pakaian rancangannya saat menemukan seekor kucing yang tadi tengah meringkuk diemperan ruko kini tergeletak bersimbah darah dijalan raya.
Tepat didepan butiknya.
"Appa~~~!"
"kyungi!~~" baekhyun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar saat mendapati anaknya berjalan menggunakan tongkat dengan terburu-buru.
"eitt pelan-pelan sayang" pekik baekhyun saat melihat anak sulungnya itu hampir tersandung. Dan bocah itu terkekeh. Lalu segera mempercepat langkahnya untuk memeluk sang ayah.
Dan keduanya pun berpelukan. Baekhyun memeluk Kyungsoo erat –perasaan aneh tiba-tiba muncul dipikirannya saat melihat kejadian tadi pagi membuat baekhyun lega melihat Kyungsoo baik-baik saja saat ini.
"appa benar-benar menjemputku, hehehe" bocah itu terkekeh memperlihatkan giginya yang rapih.
"tentu saja, apa kyungsoo senang?" baekhyun mengelus kepalanya.
"eung! Soooo much!" baekhyun terkekeh gemas lalu keduanya saling berbagi ciuman dipipi tembam masing-masing.
"Ah Appa! Dimana Ninie?"
"ninie sedang tidur di mobil sa-"
"baekhyun-ssi?" baekhyun menolehkan kepalanya kearah belakang dan menemukan seorang wanita yang ia tunggu.
"oh luhan-ssi" sapa baekhyun sumringah.
"menjemput Kyungsoo?" tanya Luhan.
"ne" Baekhyun mengangguk lalu mengalihkan atensinya pada sosok mungil setinggi kyungsoo "Hi ziyu~"
"hi paman~"sahut bocah itu nyengir. Memperlihatkan dua gigi kelincinya yang menggemaskan.
"Appa, itu owen hyung" tarikan kyungsoo diujung bajunya menyadarkan baekhyun bahwa ada seorang anak lelaki lain disamping Ziyu. Tubuhnya tinggi untuk ukuran anak seumurannya dan wajahnya yang tampan –yang entah kenapa terasa familiar dipikirannya.
"annyeonghaseyo," sapa anak itu seraya membungkuk ramah.
Baekhyun balas tersenyum membalasnya "apa ini Owen hyung yang tampan itu?" goda baekhyun sambil melirik kearah anaknya.
"namaku Haowen, paman" ucap anak bernama haowen membuat baekhyun menggosok tengkuknya gugup lalu terkekeh garing. Ini gara-gara kyungsoo yang salah melafalkan namanya Haowen.
"ah maafkan paman, haowenie, kemarin kyungsoo bercerita tentangmu dan ia memanggilmu begitu" adu Baekhyun merasa bersalah. Ziyu ikut tertawa sembari menaikkan tangannya minta digendong sang kakak yang tengah melambaikan tangan pada Baekhyun bahwa hal barusan tidak masalah untuknya.
Luhan dan haowen terkekeh. "nama Owen hyung susah~"gerutu bocah itu membuat yang lainnya merasa gemas.
"kyungsoo gemas sekali sih~" wanita itu mengusak rambut Kyungsoo dan Baekhyun terkekeh melihat bibir anaknya yang maju kedepan –terlihat protes. Hingga Baekhyun tak menyadari seseorang diantara mereka tengah menatapnya begitu lekat.
"kalau begitu kami pamit dulu baekhyun-ssi" ucapan Luhan barusan menghentikan tatapan lekatnya untuk Baekhyun dan kembali memasang wajah ramah. Keluarga Xi sudah akan berjalan menuju mobil saat tiba-tiba lengan Baekhyun menahan Luhan. Wanita itu menatapnya dengan tanda tanya.
"ah tunggu Luhan-ssi boleh kita bicara sebentar?"
Chanyeol dan Baekhyun menuntun Jongin yang berjalan sempoyongan dengan rambut kusut dan mata yang setengah terpejam. Mereka tengah berada didepan sebuah Panti Asuhan di sebuah desa yang masih terlihat asri. Chanyeol terkekeh gemas melihat anak bungsunya yang tengah menahan kantuk untuk melihat calon hyung barunya. Sedangkan Baekhyun hanya termenung menatap beberapa anak yang berlarian bermain sepak bola dengan tawa yang terdengar renyah. Chanyeol tahu bahwa suaminya tengah berperang dalam batin.
"sayang" panggil Chanyeol. Jongin ikut menoleh pada Baekhyun yang tak kunjung menggendongnya seperti biasa saat ia menarik ujung cardigan Baekhyun. Chanyeol mengusap rambut Jongin dan menggendong sang anak saat atensi Beakhyun masih belum bisa teralihkan dari pikirannya.
"sayang," panggil Chanyeol kedua kalinya–merangkul bahu sang pria mungil hingga mata puppy itu balas menatap matanya.
"kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Chanyeol. Baekhyun melepaskan lengan Chanyeol yang merangkul bahunya lalu menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengelus punggung tangan sang suami yang sangat dicintainya.
"demi Kyungsoo dan Jongin aku tak pernah merasa seyakin ini yeol" jawab Baekhyun dengan senyuman manis terukir dibibirnya yang sedikit mengkilat. Kecantikan Baekhyun yang tak pernah bisa Chanyeol tahan itu selalu membuat akal sehatnya runtuh. Tapi untuk kali ini ia akan menahannya. Karena demi apapun Jongin berada dalam gendongannya mana bisa ia memakan cemilannya yang manis itu. terlebih ini adalah panti asuhan demi Tuhan.
Chanyeol sedikit berdekham untuk mengalihkan bara api yang beranjak padam. Lalu balas mengelus jemari baekhyun dan mencium punggung tangan sang suami.
"kalau begitu apa Nini siap bertemu hyung?" tanya Chanyeol dengan gerakan bibir yang ditekankan. Meskipun Jongin tidak bisa mendengar, ia masih bisa mengenali gerakan bibir sang lawan bicara maka dari itu bocah itu mengangguk semangat dan menyondongkan tubuhnya kearah pintu masuk panti. Chanyeol terkekeh dan menggandeng Baekhyun lalu segera masuk kedalam.
Mencari sebuah anggota baru dalam keluarga kecilnya.
Ia dalam hati berdo'a, semoga semuanya akan berjalan lancar.
Semoga.
Jongin menjelajah ruangan yang ramai dengan coretan-coretan kekanakkan di dindingnya. Dengan tangan yang digandeng Chanyeol, bocah itu menarik diri dari genggaman sang daddy untuk melihat coretan penuh warna itu dari dekat. Matanya berbinar mendapati lukisan dua orang anak yang terlihat bergandengan tangan. Seorang anak lelaki tinggi sebagai hyung yang tengah mengandeng sang adik yang jauh lebih mungil untuk berjalan menyusuri sebuah sungai. Setidaknya itulah yang dipikirkan bocah itu. sepertinya akan sangat menyenangkan jika Jongin dan Hyung barunya bermain bersama disungai bersama dengan Kyungsoo hyung. Lalu mereka akan berbasah-basahan dan menangkap ikan. Namun sepertinya Jongin tak menyadari seekor rubah yang digambar mengintai dibalik sebuah rerumputan tinggi yang menjulang dibalik anak-anak itu.
"Jongin sangat menyukai gambarannya." Baekhyun terkekeh pada Chanyeol saat melihat anak bungsunya tengah sibuk mengamati gambar-gambar didinding dengan wajah ceria. Sang suami tersenyum hangat pada Baekhyun lalu merangkul bahu sang suami mungilnya dalam dekapan hangat. Berbicara bahwa keputusannya membawa Jongin kemari adalah keputusan yang tepat.
"jadi, dimana sang artist ini berada nyonya Song?" tanya Chanyeol pada sosok wanita berwajah teduh yang tengah menatap kegiatan Jongin dengan gemas.
"Ah~ di jam sekarang biasanya dia ada di ruang seni Tuan Park, mari saya antarkan" jawabnya ramah seraya mempersilahkan pasangan itu untuk mengikutinya. Baekhyun menggendong Jongin yang menatapnya bingung karena terpaksa menghentikan kegiatan menyenangkannya. "kita akan bertemu hyung" ucap Baekhyun gemas seraya menggesekkan hidung mereka dengan kekehan kecil. Jongin nyengir begitu lebar dan menggoyangkan kakinya di gendongan baekhyun.
Dan...
Sang artist pun berada disana.
Dihadapan sebuah kanvas dengan kuas dan sebuah pallete berisi cat lukis dilengan lainnya. Terlihat sibuk dengan imajinasi yang tengah ia bubuhkan kedalam sebuah gambar. Chanyeol dan Baekhyun saling melemparkan senyum dan menghampiri anak itu dengan Jongin yang berbinar-binar.
"Sehunie ada yang ingin bertemu denganmu sayang," ujar Nyonya song seraya menyentuh bahu bocah itu dengan lembut. Ekspresi stoic dengan kulit putih dan mata yang tajam adalah wajah tampan yang dilihat pasangan itu begitu sang bocah menoleh.
"Oh! Annyeonghaseyo~" bocah bernama Sehun itu meletakkan alat-alatnya dan membungkuk sopan untuk menyapa sang tamu.
Chanyeol tersenyum hangat dan mensejajarkan tingginya dengan bocah itu dan memegang kedua bahunya. "jadi... ini Sehunie? Sang artist cilik yang keren itu?" tanya Chanyeol ramah. Bocah yang awalnya mentapnya dingin itu perlahan tersenyum. Seolah ekspresi khawatir itu menghilang setelah merasakan keramahan sang tamu.
"yes sir," ujar sehun. Memberikan Chanyeol sebuah senyuman manis. Manik hitam sehun beralih pada sosok yang berdiri disamping Chanyeol –terlihat penasaran. Sedangkan yang ditatap terlihat tak merespon. Menyadari kepasifan mendadak sang suami mungilnya, chanyeol kembali berdiri dan merangkul bahu Baekhyun pelan.
"sayang," panggil Chanyeol mengingatkan Baekhyun untuk menyapa anak itu. seraya mengambil alih Jongin yang menatap calon hyung nya dengan berbinar-binar.
"Oh?" baekhyun yang segera tersadar dari lamunannya tersenyum kaku pada Sehun yang masih menatapnya –menunggu Baekhyun untuk menyapanya pertama kali.
"H-hai sehunnie~" sapa Baekhyun seraya mensejajarkan tingginya. Lalu menyadari bahwa sekarang sehun lebih tinggi darinya, ia terkekeh dan mengusap pipi anak itu lembut.
"aku baekhyun dan ini Chanyeol" sehun tersenyum seraya memamerkan giginya yang berjejer rapih. Dan itu terlihat tampan.
"hai paman baekhyun, paman chanyeol. Saya Sehun Oh. Senang bertemu dengan kalian" bocah itu setinggi Haowen dan sama-sama tampan meski Sehun terlihat lebih dewasa disini. Dan sepertinya Sehun memiliki kemiripan dengan Haowen. menyadari telah berpikir terlalu jauh ia pun menggeleng.
"sehun adalah anak yang paling mandiri disini. Ia sedikit pendiam dan sedikit menutup diri. Tapi ia yang terpintar disini, benar begitu profesor Oh?" goda Nyonya Song .
"aihh ibu apa-apaan sih" mendengar jawaban Sehun dan bibirnya yang sedikit mengerucut membuat semua orang yang ada disana terkekeh gemas. Mengingatkannya pada Kyungsoo yang selalu bersikap begitu jika ada yang menggodanya.
"ah~ sehunie ini Jonginie, dia barusaja menjadi penggemarmu," sehun mengalihkan atensinya pada bocah yang menatapnya malu-malu digendongan Chanyeol.
"apa Jonginie anak kalian?" Chanyeol dan Baekhyun sedikit terkejut dengan pertanyaan Sehun yang entah terasa sedikit menyinggung. Lalu sehun menyadarinya dan gelagapan ditempat. "ah~ i'm sorry" ucapnya lalu meraih lengan Jongin.
"Jongin mau melihatku melukis?" tawar Sehun dengan senyuman manis. Jongin menatap sang calon hyung berbinar lalu meminta Chanyeol untuk menurunkannya. Keduanya pun berakhir didepan sebuah kanvas dengan coretan yang belum jadi. Chanyeol dan Baekhyun tersenyum hangat melihat pemandangan itu. Nyonya Song pun ikut tersenyum melihat pasangan yang terlihat senang dengan perilaku Sehun lalu wanita itu izin pamit untuk membiarkan pasangan itu bersama anak asuhnya.
"apa yang Sehun lukis?" tanya Baekhyun menatap warna merah muda dengan gradasi warna merah yang dilukis secara acak.
Bocah itu terdiam sejenak, terlihat berpikir "eung... saya hanya melukis berdasarkan gradasi warna yang terlihat pas satu sama lain, tapi tidak tahu maknanya," bocah itu terkikik sedikit malu diakhir kalimatnya. Baekhyun pikir Sehun sudah memiliki bakat untuk menjadi seorang seniman kelak meski saat ini bocah itu tak menyadari makna dari lukisannya.
"ah sayang sekali padahal kelihatannya lukisanmu penuh dengan makna Sehunie," sahut Chanyeol mengamati gradasi warna merah yang dibubuhkan Sehun pada kanvas yang sudah dipenuhi warna merah muda yang lembut.
Sehun mengucapkan terimakasih untuk pujian Chanyeol dan menatap baekhyun, "apa paman Baekhyun berpikiran hal yang sama dengan paman Chanyeol?"
Baekhyun mengangguk dengan mantap, "eung tentu saja. siapa yang tidak akan mengakui lukisan seindah ini Sehunie, aku menyukainya" ucap Baekhyun.
"benarkah paman? Apa paman bisa mengartikan lukisanku?" tanya Sehun menghentikan kegiatannya dan kembali menatap Baekhyun. Baekhyun memiringkan sedikit kepalanya untuk mengamati lukisan indah Sehun sedikit lebih dalam. Namun, didetik kelima ekspresinya terlihat ragu.
"entahlah...eum...apa... Sehun sedang jatuh cinta?" nada godaan keluar dari mulut Baekhyun dan Chanyeol tertawa puas mendengar kejahilan sang suami yang sepertinya meningkat karenanya.. Well, siapa lagi yang mengajarkannya.
Sehun hanya menatap Baekhyun datar, "kenapa begitu paman?" seolah tak berhasil dengan kejahilan Baekhyun.
"sehun membubuhkan warna pink yang sangat banyak itu artinya kau sedang jatuh cinta, apa paman benar?" kekehnya diakhir melihat wajah Sehun yang berubah merah. Bocah beranjak remaja itu menunduk dalam.
"eung... apa cemburu pada kehangatan keluarga orang lain bisa dinamakan jatuh cinta paman?"
Baekhyun dan Chanyeol terdiam dan saling melemparkan tatapan.
"aku selalu ingin punya keluarga. Mereka yang berkunjung kemari adalah sebuah keluarga yang menginginkan seorang anak yang masih kecil, sedangkan aku," sehun menunduk, jongin melihat sudut bibir sehun terangkat miris.
"aku sudah terlalu besar untuk diadopsi paman, tidak ada yang menginginkanku, mungkin sampai aku besar nanti aku akan terkurung disini"
Hati baekhyun terenyuh. Ia merasa hatinya sakit dan kecewa pada Sehun yang berpikiran seperti itu. baekhyun mendekat dan memeluk Sehun erat. "sayang, tidak ada yang tidak menginginkanmu. Mereka hanya belum melihat keistimewaan yang kau miliki nak. Tapi setidaknya kami adalah salah satu dari mereka yang beruntung melihatnya" ucap baekhyun. Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut sehun. Isakan sehun terdengar dan itu membuat keduanya merasa sedih. Sedangkan Jongin hanya terdiam menyaksikan adegan haru itu.
"aku hanya ingin merasakan cinta dari orang tua, tapi tak ada seorang pun yang melirikku" sehun tanpa ragu menyerukkan wajahnya pada perpotongan leher baekhyun. Baekhyun tak keberatan dengan itu dan mengelus kepala sehun sayang.
"sttt, sehun pikir apa yang kami lakukan disini jika tidak ingin membawamu pulang hm? Kami disini untukmu" ujar Chanyeol dan Sehun pun mendongak dengan mata basah untuk menatap Chanyeol.
"ma-maksud paman Chanyeol, a-aku..."
Chanyeol tersenyum lembut dan membawa Jongin kembali kegendongannya.
"apa sehun ingin pulang bersama chanyeol daddy, baekhyun Appa, apa jonginie pulang kerumah?"
Kyungsoo mendengus kesekian kalinya saat guru Kim mengatakan bahwa sang ayah sedang dalam perjalanan kesana menjemputnya. Bocah itu menunggu Chanyeol yang janji akan menjemputnya sepulang sekolah nanti, dan daddy kesayangannya itu terlambat selama hampir satu jam. Membuat Kyungsoo harus rela terdampar diruangan guru Kim yang membosankan. Manik hitam nan bulatnya berkedut berkali-kali secara tiba-tiba dan itu membuatnya memekik kaget.
"Oh! Seonsaengnim! Mata kiri bawah kyungsoo bergerak sendiri!"
Sang guru yang tengah berkutat dengan nilai-nilai siswa itu menoleh pada anak didiknya. "benarkah? Wahh~itu artinya Kyungsoo akan mendapatkan sesuatu hal yang baik,"
"really saem?!" tanyanya dengan nada melengking membuat sang guru terkekeh dan mengusak rambut tebal Kyungsoo. "eung! Tentu saja, asalkan Kyungsoo selalu jadi anak yang baik dan menurut maka sesuatu yang sangat baik pasti akan terjadi"
Bocah itu mengangguk semangat.
Getaran ponsel guru Kim memutus percakapan keduanya dan mata bulat Kyungsoo berbinar saat sang guru memberi tahu bahwa sang penelpon adalah sang ayah.
"Cha~ kyungsoo. Ayahmu sudah menjemput. Ayo saem antar!"
"Assa! Ayo saem!"
Keduanya pun keluar dari kantor untuk menemui Chanyeol. Guru Kim segera pamit dan meninggalkan Kyungsoo bersama keluarganya lalu segera pamit untuk kembali kekantor.
Dan disanalah Kyungsoo melihat seorang yang asing ditengah keluarganya. Sosok yang terlihat bersinar. Wajahnya ramah dan terlihat bersahabat. Tinggi dan menawan. Mengingatkan bocah itu akan seseorang yang terlihat serupa dengan sosok dihadapannya ini.
Sret sret
Tarikan ditasnya membuat Kyungsoo tersadar dari kekagumannya pada sosok asing itu. ia menoleh kesamping dan melihat sang adik –Jongin tengah tersenyum dan menuntunnya untuk mendekat. Disana sang Appa tengah merangkul bahu orang asing itu dan sang daddy tengah membuka tangannya lebar untuk Kyungsoo peluk. Maka Kyungsoo pun jatuh pada pelukan Chanyeol dengan pikiran yang masih bertanya-tanya tentang sosok asing itu.
"aigoo my lil captain! How's school today?" tanya Chanyeol memeluk sang anak sulung.
"so fine dad, as always" jawab Kyungsoo seraya memainkan dasi Chanyeol. Mata bulatnya melirik pada sosok yang tengah memperhatikannya. Chanyeol yang mendapat bocah penasaran itu membawa Kyungsoo mendekati Baekhyun bersama dengan Sehun dirangkulannya.
"cha~ katakan hi pada hyung" pinta Chanyeol. Kyungsoo membawa pandangan terkejutnya untuk menatap mata Chanyeol. Mencari keseriusan.
"hyung?"
Baekhyun yang sedari tadi terdiam membawa dirinya jongkok disamping Kyungsoo. Meraih kedua bahu mungil sang anak sulung. "dia Hyungmu sayang. Namanya Park Sehun. Bukankah Kyungie ingin segera bertemu hyung?" Jelas Baekhyun dengan senyum merekah.
Mata bulat kyungsoo berkaca-kaca dan perlahan mendekati sosok asing yang diketahui sebagi hyung barunya dengan gugup. "h-hyung?"
"hai Kyungsoo. my liil brother nice to meet you" suaranya terdengar begitu dalam untuk anak seusianya dan itu membuat Kyungsoo merasakan kenyamanan seperti milik sang daddy yang juga memiliki suara yang berat.
"hyung~" bahkan bocah itu tak bisa mengekspresikan kebahagiannya membuat baekhyun terkekeh dengan setetes airmata disudut matanya. Sedangkan chanyeol meraih Jongin dan menggendong bocah itu.
Sehun mengelus rambut lebat Kyungsoo dengan senyuman manis. Memberikan seluruh ketulusan dalam hatinya. Selama ini yang ada dalam pikirannya hanyalah terjebak bersama dengan puluhan anak panti dan berakhir dengan dirinya yang ditinggal sendiri. Mungkin inilah saatnya ia mencari kebahagiannya.
Kebahagiaan yang seharusnya adalah miliknya dari awal.
Kebahagiaan yang seharusnya datang sebelum ia mengalami penderitaan selama bertahun-tahun lamanya.
Dan kini...
Kebahagian itu didepan mata.
Tidak seharusnya Sehun mensia-siakan waktu yang datang pada tempatnya.
Kedua sosok itu. Baekhyun dan Chanyeol. Sehun menatapnya bergantian. Kebahagiannya. Dan kini matanya menatap Jongin yang meronta minta diturunkan lalu beralih pada Kyungsoo. mengelusnya dengan hati-hati.
Lalu tersenyum.
Dengan sedikit menukikan satu sudut bibirnya.
"aku menyayangimu Kyungsoo"
Dan pelukan hangat menjadi awal dari semua kebahagiannya.
"aishh mataku terus saja berkedut dari tadi"
"benarkah? Mata yang mana yang berkedut? Kyungsoo tadi juga mengatakan matanya berkedut hahaha anak itu"
"mata kiri bawahku yang berkedut guru Kim. Aiish aku akan dapat masalah besar"
"eoh? apanya yang masalah besar? bukankah jika mata kirimu berkedut itu artinya kau dapat sesuatu yang bagus?"
"kau bercanda guru Kim? Mitos itu kan sudah lama ada. Tentu saja mata kiri bawah berkedut artinya masalah besar dan sebaliknya adalah hal bagus. Bagaimana bisa kau melupakan itu eoh?"
"benarkah? Ahh~ kurasa aku semakin menua. Aku bahkan telah mengatakan hal yang salah pada Kyungsoo"
"sudahlah guru Kim. Mitos hanyalah mitos jangan terlalu dipercaya."
"yah semoga saja kau benar guru Do. Setidaknya kita tidak mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi kan?"
Iya kan?
TBC
baca A/N di bawah ya ada klarifikasi tentang alur FF ini biar gk suudzon dan salah paham.
A/N:
Yuhuhuuuuuu~ balik lagi setelah ngilang ampir setaon lamanya. Aku tanpa malunya balik bawa FF baru bukannya update WAY kkk. Lagian aku rasa FF itu udah nge-stuck. Dan yahh... rencananya bakal re-upload lagi dari awal tapi gak tau ding gimana moodnya aja kkk (review atau PM aku aja ya buat mastiin lanjut ngknya yg WAY itu)
So, siapa penjahat nya disini? (tawa nista) aku disini masih nyembunyiin sifat karakternya kecuali baekhyun. karena FF ini nyerempet ke ff misteri jadinya aku bikin semuanya serba gk pasti. aku bisa aja ngecoh reader dr karakter cast. so, kalian hrs pinter pinter nebak biar gk suudzon kkk. bacanya juga pelan aja soalnya aku bawain alurnya lambat biar ngerti dan gk galham.
Aku tuh seneng baca dan nulis FF thiller ama horror. Dan FF ini terbit karena idenya muncul waktu aku nonton satu film thiller. Dan film itu kereeeen banget. Intinya aku mau sok sok an bikin FF misteri ama horror/thiller gitu~ sebenernya ini bukan FF remake sih (atau mungkin bisa dibilang) soalnya aku cuman ngambil ide utamanya aja. Alurnya 100 persen hasil pikiran aku sendiri (dan mungkin aku sedikit masukin adegan seperti filmnya) dan mungkin diantara readernim ada yg ngerasa familiar sama ceritanya ya itu dia karena aku ngambil ide utamanya dr movie. jadi intinya... aku harap FF ini banyak minatnya. Aku gak akan bilang judulnya filmnya apa. Karena ya... kejutan FF ini emang ada diakhir-akhir sih jadi nantinya kalo kalian udah nonton filmnya gak penasaran lagi duong.~ heol~
Mian buat Uco stan ama bang-Kai (?) stan aku buat mereka jadi gini di FF ini. Aku bingung soalnya mau pake siapa cz gak ada yang cucok buat jadi anak kecil. Jadinya aku pake Kaisoo. Miann kalo ada yang gak suka sama peran mereka disini. Abisnya bang-Kai itu cute kalo lagi kekanakkan terus Uco juga dari brojol diakan udah unyuuu~ dann tara! Mian TTTTT salam Kaisoo shipper!!!!
untuk masalah keistimewaan kyungsoo ama Jongin aku gak searching banyak. jadi aku kurang yakin kalo keadaan mereka itu di medis bisa atau ngk. aku masukin itu cuman buat ngedukung alur cerita hehehe. jadi makulmin boleh? hihihi
Review juseyong (biar mastiin lanjut apa stop aja)
Bbung Bbung-Ah~ Saranghae~~
