Still in my heart
Are paths that connect
The looks that we gave each other
But those days have turned around
Making me story'

en the cold wind passes through

Will we disappear?
The spot where the memories linger
Can you give them up?

If hot tears erase that spot
Will it be gone forever?

If this numb heart fills up this space
Will I be able to live through this day?
The empty seat of the runaway memories
Can you look upon it?

If I filled this seat up with my lingering feelings
Will you come back to me?
The seat of the memories that are getting farther away
Now

Jimin menghela nafas pelan saat lagu yang terdengar dari earphonenya berakhir. Dia memandang jauh ke langit yang berwarna biru. Warna favoritenya. Beberapa bulan berlalu dengan begitu cepat bahkan Jimin tidak menyadarinya sama sekali karena dia masih tenggelam didalam penyesalannya. Yoongi hyungnya masih menolak berbicara dengannya bahkan menganggap Jimin tidak ada saat kebetulan mereka bertemu. Angin membelai surai hitam pekatnya pelan, dia memejamkan matanya menikmati belaian angin yang lumayan dingin itu.

"Membolos lagi, hm?" Tanya seseorang yang memeluknya dari belakang dengan dagu yang bertumpu pada bahu sempit Jimin. Jimin tersenyum tipis sebelum memegang erat tangan yang memeluknya.

"Maaf" gumamnya pelan.


MochiAmericano

Present

à Cause de L'Amour

YoonMin Fanfiction

Drama, Romance |Rate M |BL|Typos|Missing words|Newbie| alur Kacau

Enjoy it!

Chapter 2 'The Last story'


Past

"Shhen… shhenpphhaiihh…" desah pelan Taehyung sambil menelusupkan kesepuluh jarinya di surai cokelat madu namja yang tengah menandai beberapa titik di lehernya. Sang namja menggeram pelan saat tangan Taehyung menekan kuat kepalanya. Hentakan pinggulnya semakin keras dan cepat saat merasakan desiran nafsu dikejantanannya yang tengah keluar masuk hole Taehyung.

Tangan kanannya melukiskan hasrat yang tinggi di sepanjang kulit Taehyung yang dilewatinya. Tubuh Taehyung bergetar pelan menikmati setiap sentuhan darinya dia merasakan darahnya terpompa ke ujung kejantanannya yang sedang dimainkan oleh tangan kiri namja itu.

"Aahnnmm.. Shenphaiihh.. A… akuuhh.. Lebbhhiihh chhepatthh…" ucapnya terbata dan penuh desahan karena nafsunya bergejolak didalam tubuhnya, dia mendesah gila saat menaiki puncak kenikmatan menghilangkan seluruh logikanya sampai suara pintu yang digeser terbuka menyadarkannya kalau saat ini dia masih ada di ruang kelas dengan lembayung senja menghiasi langit di luar jendela. Puncak kenikmatan yang dia cari seketika lenyap bersamaan berhentinya hentakan namja diatasnya.

"Ops! Apa aku mengganggu kegiatanmu Suga Senpai?" Tanya si pelaku pembuka pintu. Suga menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam membuat si pelaku meringis. Dia langsung berdiri melepaskan tautan nafsunya membuat Taehyung mendesah tertahan, lalu memakai kemeja seragamnya yang ada di lantai dan mengambil tas punggungnya setelah merapikan celana seragamnya.

"Apa sudah waktunya?" Tanya Suga sambil mengancingkan kemejanya sementara Taehyung dengan cepat dan susah payah memakai Seragamnya yang acak-acakan dengan beberapa kancing kemeja yang lepas. Yoongi berjalan menghampiri namja yang masih berdiri di depan pintu dan memandangi Taehyung yang sedang tertunduk malu.

"Dia pacarmu Senpai?" Tanyanya membuat Taehyung langsung menajamkan pendengarannya.

"Bukan, Ayo pergi" jawab Suga dingin, dia berjalan keluar mendahului namja yang masih melihat ke arah Taehyung yang kini meremas kuat blazer di tangannya.

"Itu bagus, bagaimana kalau 15 menit lagi aku yang lanjutkan?" tanya si namja pada Taehyung yang masih tertunduk.

Bugh!

Sebuah tas punggung mengenai si namja itu yang langsung mengaduh kesakitan karena tas itu berat dan benar-benar sakit saat mengenai kepalanya.

"Cepat, atau kau mati!" seru Suga, namja itu langsung berlari pergi mengejar Suga meninggalkan Taehyung yang sedang menahan sakit di dadanya.

"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa" gumam Taehyung sambil memakai blazernya dengan tangan yang gemetar. Dia mengeluarkan ponselnya menekan tombol 2 di keypad screennya. Setelah 3 kali nada sambung terdengar dia mendapat sapaan ceria dari seberang.

"Taaaaaaaeeeeeeeeeeee'ah! kenapa baru menelepon? Kau tidak tau betapa aku merindukanmu!" ucap si penerima telepon membuat Taehyung langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya yang berdengung karena teriakan cempreng si penerima telepon.

"Hhe, aku terlalu sibuk sehingga melupakanmu"

"Jahat!"

Taehyung terkekeh dia mengambil tasnya dan berjalan dengan cukup pelan karena sesuatu di tubuhnya terasa sakit.

"Dan sekarang aku benar-benar merindukanmu… sangat …" lanjutnya. Lama si penerima tidak menjawab membuat Taehyung mengernyit heran lalu melihat screennya yang menunjukan panggilannya masih tersambung.

"Kau masih disana?" tanya Taehyung.

"Kau sedang dalam masalah?" tanyanya balik. Taehyung tersenyum karena dia sangat tau kalau orang yang dia telepon ini orang yang benar-benar peka dan mengenalnya luar dalam.

Min Suga atau lebih tepatnya Min Yoongi adalah seniornya di middle school yang beberapa minggu ini telah resmi menjadi kekasihnya. Tapi Suga tidak pernah mengakui hubungannya didepan teman-temannya meskipun sudah sering mereka memergoki dirinya seperti tadi. Taehyung sangat sakit dan kecewa tapi sikap lembut dan perlakuan penuh cinta saat mereka berdualah yang membuatnya selalu bertahan dan merasa yakin kalau Suga juga memiliki rasa yang sama dengannya.

Dan hari ini adalah puncaknya dia menyerah, dia menyerah bersikap tidak apa-apa, dia lelah menanggung beban sakitnya yang semakin menumpuk.

Taehyung terduduk di tangga menangis tanpa isakan mengabaikan seruan panghilan di ponselnya yang masih tersambung panggilanya dengan Hoseok hyung.


Now

Taehyung menghirup dalam-dalam udara di taman itu, senyuman tipis terukir di bibirnya karena tubuhnya terasa lebih segar, jari-jari tangan kirinya terangkat menghalangi silau matahari yang menelusup masuk melalui celah-celah dahan pohon dimana dia berbaring di bawahnya. Asap tipis mengepul dari gelas plastik berisi kopi americano yang baru dia beli sebelum memasuki area taman itu. Seseorang duduk disampingnya tanpa dia sadari karena saat ini pikirannya sedang benar-benar entah dimana.

"Membolos, hm ?" tanya orang itu sambil tersenyum mengeluarkan aura angelicnya.

" Jinnie hyung, Aawh!" kagetnya yang langsung bangun dan membuat kopinya tumpah sedikit ke tangannya. Seokjin menggelengkan kepalanya lalu mengeluarkan saputangan dari pocket tas punggungnya.

"Sekaget itu melihatku?" ucapnya sambil membersihkan cairan kopi dari tangan Taehyung yang langsung memerah karena panas kopi.

"Untung tidak melepuh, dasar ceroboh" ucapnya lagi sambil menyentil dahi Taehyung yang malah menunjukan cengiran kotaknya.

"Kenapa Hyung ada disini?"

"Aku yang harusnya bertanya begitu, kenapa kau ada disini? Seharusnya kau sekolahkan"

"Aku sedang tidak ingin sekolah"

"Memangnya sekolah tempat main apa?. Kau tidak ingin melihat Hoseok untuk yang terakhir kali?"

Taehyung terdiam dia menatap sisa kopinya yang tinggal sedikit.

"Itu tidak akan menyelesaikan masalah rumit kalian"

Seokjin kembali mengelus puncak kepala Taehyung.

"Memaafkan adalah hal yang paling ampuh untuk mengobati rasa sakit hati" ucap Seokjin membuat Taehyung menoleh kearahnya dan tersenyum tipis lalu menggeleng pelan.


Past

Hoseok berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi dengan langkah yang terburu-buru. Sampai suara rintihan minta tolong terdengar dari salah satu kelas di koridor itu. Dengan cepat Hoseok membuka pintu kelas itu dan mata sipitnya melebar saat melihat keadaan Taehyung yang terikat di meja dengan tanpa pakaian sehelaipun dan beberapa luka sayatan yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya lalu sebuah handycam yang terpasang di depannya. Kedua tangan Hoseok mengepal kuat lalu dia menghampiri orang-orang yang ada disana dan menghajar mereka tanpa ampun.

"Tidak apa-apa Tae, aku ada disini. Aku sudah ada disini" bisiknya menenangkan sambil membuka semua ikatan yang ada di tubuh Taehyung dengan tangan yang gemetar. dia berhasil menghajar semua orang-orang gila di ruangan kelas itu dan membuat salah satu dari mereka mengeluarkan darah yang banyak dari kepalanya. Hoseok langsung memeluk tubuh Taehyung yang begetar hebat dan isakan lirih dan serak keluar dari mulut kering Taehyung.

"Ayo kita ke rumah sakit"

"Ta-Tapi Yoongi hyung … dia … belum datang .. dia…"

"Si brengsek itu tidak akan datang Tae!" Hoseok membentak Taehyung yang langsung terdiam dan mata sembabnya menatap Hoseok kaget. Hoseok langsung menggendong Taehyung dipunggungnya. Ada sedikit perlawanan dari Taehyung dan mulutnya tidak berhenti mengatakan kalau dia sudah berjanji menemui Yoongi hyung disana.

"Diam atau akan aku hajar sampai mati Yoongi hyungmu itu" desis Hoseok yang sudah sangat kesal. Taehyung langsung menutup mulutnya rapat sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit.

"Dia membutuhkan perawatan khusus, banyak sekali cedera di tubuhnya dan beberapa luka dalam. Sebaiknya anda menghubungi pihak keluarganya" ucap dokter yang keluar dari ruangan dimana Taehyung tadi masuk. Hoseok mengangguk dan membiarkan sang dokter kembali memasuki ruangan itu.

"Jangan biarkan orang tuaku tau kejadian sebenarnya hyung, berjanjilah atau aku akan membencimu selamanya"

Hoseok memukul dinding rumah sakit saat kata-kata Taehyung tadi kembali terngiang.

"Ini salahmu Yoongi" desisnya.


Now

Hoseok menarik kopernya menuju pintu keberangkatan, sekali lagi dia menoleh ke belakang hanya untuk melihat orang-orang lalu lalang dengan cepat. Bolehkah dia berharap seseorang datang untuk memberikan pelukan perpisahan untuknya. Tapi, dia sadar orang jahat sepertinya tidak pantas mendapatkan pelukan seperti itu. Hoseok kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya tapi sebuah tarikan di tangan kirinya membuatnya kembali berbalik dan mendapati Jimin yang langsung memeluknya.

"J-Jimin" Kaget Hoseok. Tentu saja dia kaget bagaimana bisa Jimin ada disini padahal dia tidak tau Hoseok akan pergi. Beberapa minggu tidak melihatnya dia merindukan Jimin walaupun tidak sebesar rindunya pada Taehyung.

"Maafkan aku hyung dan selamat tinggal. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan disetiap hembusan nafasmu" ucapnya. Lalu dengan cepat dia melepaskan pelukannya dan berbalik kemudian berlari meninggalkan Hoseok yang masih mematung disaan menatap Jimin yang berlari menghampiri seorang namja lain yang tengah mengakat tangannya memberi salam perpisahan untuknya.

"Ah" Hoseok mengangguk mengerti ternyata Namjoon yang memberitahu Jimin. Hoseok tersenyum tipis setidaknya Jimin masih mau memberinya salam perpisahan setelah apa yang dia lakukan. Hoseok meraih ponselnya yang ada disaku coatnya hanya untuk mengirim pesan pada Jimin yang tadi tidak menunggu Hoseok bicara.

/Yoongi hyung selalu mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. jangan menyerah . terakhir maafkan aku ini bukan salahmu tapi salahku. Annyeong/

Hoseok menekan tombol power di ponselnya tapi dengan cepat dia lepas kembali saat satu pesan masuk ke ponselnya. Sebuah pesan audio. Hoseok menekan icon speaker di pesan itu dan suara berat yang serak terdengar.

'Selesaikan project bagianmu. Aku tunggu'

Hoseok terdiam menatap nama pengirim pesan itu 'SwaggerMan". Apa seorang Min Yoongi memaafkannya?.

"Kau tidak ingin membalasnya. Kau tau aku harus menghabiskan 2 jam untuk mengirimimu pesan itu" ucap Yoongi yang sekarang ada dihadapannya. Hoseok tersentak kaget. Sungguh dia kaget karena Yoongi tiba-tiba ada dihadapannya. Wajah Yoongi masih terdapat beberapa luka. Begitupun dengan dirinya.

"Hyung.."

"Apa? Kau kira aku tidak akan mengantar kepergian partner brengsekku?"

"Hyung aku.."

Yoongi langsung memeluk Hoseok lalu menepuk punggungnya pelan.

"Kita lupakan saja semuanya"

Hoseok masih terdiam, dia tidak tau harus berbuat apa atau berkata apa.

"Cepat pergi sana atau kau akan tertinggal pesawat" ucap Yoongi yang langsung mendorong Hoseok menuju pintu masuk.

"Sampai jumpa, jaga dirimu baik-baik. aku tunggu mixtapemu" ucapnya sebelum berbalik pergi setelah memberinya senyuman lebarnya.

Hoseok masih terdiam disana menatap punggung Yoongi yang berjalan menjauh dan hilang dibalik kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Hoseokpun tersenyum lebar dan menghela nafas lega, dia berbalik setelah mematikan ponselnya. Tapi, saat tangannya masuk ke saku coat yang dia pakai ada sesuatu didalamnya yang seingatnya kosong. Dia mengeluarkan benda itu yang ternyata sebuah MP4 hijau muda dengan stiker Singa memenuhi cash belakangnya. Dia ingat itu milik siapa. Tapi kapan benda itu ada di saku coatnya. Apa Yoongi hyung yang memasukannya saat memeluknya tadi. Sebuah pemberitahuan keberangkatan terdengar dan membuat Hoseok mengurungkan niatnya untuk menekan tombol play. Diapun berlari memasuki pintu gateway tanpa menyadari seseorang yang sejak tadi menatapnya dari kejauhan.

"Keputusan bagus Tae" ucap Seokjin yang merangkul bahu Taehyung dan menariknya merapat padanya. Taehyung tersenyum lalu menganggukan kepalanya.

"Hyung, bisakah kau berhenti memeluknya itu membuatku gerah" ujar Jungkook sambil menarik Taehyung ke dekatnya.

"Kiddo"

Jungkook mendelik tidak suka pada Yoongi yang tengah menertawakannya membuat Taehyung menarik pipinya gemas.

"Kau lucu sekali Kookie" ucapnya gemas.

"Kita kembali sekarang" ajak Seokjin pada mereka juga pada Namjoon dan Jimin yang juga ada disana.

Yoongi menatap kearah Jimin yang memilih memandangi lantai bandara. Jungkook menyikut lengan Yoongi pelan membuat yang disikut menoleh. Jungkook memberi isyarat untuk menghampiri Jimin dengan dagunya tapi Yoongi berbalik pergi mendahului mereka menuju van Namjoon diikutu Jungkook dan Taehyung. Jimin menatapnya sedih, ya mereka masih belum mau berbicara dengannya. Kenapa mereka bisa memaafkan Hoseok dengan mudah tapi tidak dengannya? Itu yang terus terpikirkan oleh Jimin seminggu ini. Tapi, tidak ada jawaban selain mereka memang membencinya jauh lebih besar dibanding dengan Hoseok yang terpikirkan oleh Jimin.

"Semua akan baik-baik saja, hanya perlu bersabar" ucap Seokjin sambil merangkul bahu Jimin lalu mengajaknya berjalan bersama yang lain menyusul Yoongi menuju mobil vans Namjoon.

"Ng, hyung kalian duluan saja" ucap Jimin sambil melepas rangkulan Seokjin.

"Kenapa?" tanya Seokjin.

"Aku harus kerumah Sanha ada perlengkapan festival yang belum lengkap"

"Kita bisa mengantarmu sekalian" ujar Namjoon.

"Tidak usah hyung, kalian akan terlambat ke upacara wisuda, rumah Sanha berbeda arah" tolak Jimin, Namjoon menganggukan kepalanya mengerti.

"Tapi Jim-"

"Baiklah, tapi jangan sampai terlambat saat festival kami menunggumu" potong Namjoon, Seokjin menoleh kearah Namjoon yang hanya menganggukan kepalanya.

"Terima kasih hyung, aku tidak akan terlambat" ucap Jimin sambil berlari kearah pintu bandara yang lain.

"Joon'ah?"

"Biarkan dia melakukan apa yang dia mau hyung" jawab namjoon sambil menggandeng tangan Seokjin lalu mengajaknya kembali berjalan. Sementara itu Jimin tengah menaiki taksi yang akan mengantarnya kembali pulang ke apartemennya dia tidak peduli jika kedua hyungnya tadi membencinya karena berbohong yang dia butuhkan sekarang adalah ranjangnya.


2 tahun kemudian

Brakk!

Jimin menutup pintu kamarnya keras dengan mulut yang tidak berhenti merutuki Taehyung yang sudah mengganggu hari libur langkanya dengan rengekan menyebalkannya karena memintanya untuk datang ketempatnya. Wkatu berjalan dengan cepat begitu juga kehidupan Jimin yang sekarang lebih baik Jungkook dan Taehyung sudah kembali akrab dengannya, Namjoon hyung yang beru saja menjadi pengantin baru dengan Seokjin hyung mereka menikah muda karena Seokjin hyung hamil, kenapa bisa? Karena dia istimewa^^, ini berita mengagetkan juga membahagiakanuntuk Jimin. Bagaimana hubungannya dengan Yoongi? Yoongi pergi ke Jepang setelah kelulusannya mungkin dia menjadi partner Hoseok disana sekarang otu yang dipikirkan Jimin, tidak ada yang mengungkit itu dihadapannya dia juga tidak mempertanyakannya walaupun dia benar-benar penasaran dengan keadaan Yoongi sekarang.

Jimin memutuskan untuk sarapan dulu, dia tidak peduli kalau Taehyung akan lumutan karena menunggunya tapi, langkahnya terhenti diruang tengah apartemennya. Kedua mata sipitnya melebar saat melihat kertas-kertas berhamburan di ruang tamunya pagi itu. Kaget. Tentu saja dia kaget, seingatnya ruang tamu apartemennya ini rapi saat dia pergi tidur semalam tapi kenapa tiba-tiba berantakan seperti ini. Dengan langkah malas dia mulai memunguti kertas kertas itu dalam hati dia merutuk dan menuduh taehyunglah pelakunya karena hanya dia yang keluar masuk dengan bebas di apartemennya. Dia melihat ada sebuah ponsel putih dengan screen yang menampilkan mp3 player dan sebuah lagu tengah dalam mode pause di atas meja, ini milik Taehyungkah? seingatnya Taehyung memang memiliki ponsel berwarna putih tapi ada Stiker singa di belakang cashnya. Karena penasaran dia menekan tombol play dan lagu itu kembali terputar. an Jimin melanjutkan memunguti kertas-kertas itu.

So far away, if I have a dream (So far away)
If I have a dream that flies away
Don't fall away, if I have a dream
If I have a dream that flies away, oh, oh, oh

Dream, I will be there for your creation until the end of your life
Dream, wherever you might be, it will be lenient
Dream, you will fully bloom after all the hardships
Dream, though your beginnings may be humble, may the end be prosperous

Jimin menghentikan kegiatan memunguti kertas-kertas itu saat mengenal suara si penyanyi. Jimin mengalihkan pandangannya pada kertas ditangannya dan mata sipitnya melebar seiring matanya menatap tulisan tangan khas seorang Min Yoongi disana dengan penggalan lirik yang sebagian tercoret-coret.

"I will be there for your creation until the end of your life

First love
Wherever you might be, it will be lenient

First love
You will fully bloom after all the hardships
Though your beginnings may be humble, may the end be prosperous
So far away
First love
Don't fall away
First love"

Jimin membalikan badannya saat mendengar suara nyanyian Yoongi di belakangnya.

"Hyung!"

Yoongi tersenyum sambil membuka tangannya siap menerima pelukan dari Jimin yang dengan cepat berlari dan menubruk tubuh Yoongi membenamkan wajahnya di leher sang hyung dan memeluk pinggangnya erat takut jilka ini hanya mimpinya saja.

"katakan ini bukan mimpi" ucapnya

"Ini bukan Mimpi" jawab Yoongi

"katakan kalau kau nyata"

"Aku nyata"

"Katakan kalau aku ini lebih tampan darimu"

"Bodoh"

Jimin memberi jarak sedikit dengan mendorong dada Yoongi lalu menarik tengkuk Yoongi dan menyatukan bibirnya dengan bibir tipis sang hyung yang sangat dia rindukan, menyalurkan semua perasaannya dan penyesalannya pada sang hyung.

TBC

Terima kasih pada kalian yang sudah membaca dan mereview cerita abal-abalku. Aku sangat senang saat membaca review kalian dan maaf karena tidak sesuai harapan kalian.

Terima kasih