Dunia ini melelahkan.
Pemikiran itu selalu menghantui Jimin tiap ia akan tidur dan juga kala ia membuka matanya pada pagi hari. Bahkan ketika ia tersadar dari tidurnya, ia menyesal, mengapa ia masih bisa terbangun? Mengapa tidak tidur selamanya saja?
Jimin lelah menghadapi hari yang selalu berganti namun kondisinya justru kian menyedihkan. Jimin lelah harus bekerja dari satu tempat ke tempat yang lain, lelah harus terus berpikir bagaimana cara ia dapat uang yang herannya tidak pernah cukup meskipun ia bekerja seperti kuda gila, lelah harus mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri, lelah mendapat pukulan dari ayahnya. Jimin lelah. Ia ingin hidup enak seperti teman-temannya di sekolah dulu. Ia rindu sekolah. Jika saja ayahnya seperti ayah-ayah yang lain maka Jimin yakin saat ini ia sedang duduk manis dibangkunya dan mendengarkan apa yang guru terangkan.
Jimin lahir tanpa ibu. Bukan secara harfiah karena itu terdengar mustahil. Jimin tidak pernah tahu seperti apa ibunya sejak ia lahir ke bumi. Hanya ayahnya lah yang ia lihat sejak awal. Mulanya ia pikir ibunya meninggal karena melahirkannya. Tapi ternyata tidak. Salahkan bisikan-bisikan tetangga biang gosip di sekitar rumahnya tiap Jimin melewati rumah mereka. Salahkan juga ayahnya yang selalu mengatainya 'anak haram', 'anak hina'. Ia jadi tahu.
Jimin lahir di luar pernikahan.
Yeah, klasik. Orang tuanya hanya dua remaja tolol yang mengedepankan nafsu tanpa berpikir bagaimana nanti. Bersenggama seperti keledai setiap hari, hanya bermodal cinta recehan yang naif. Tapi begitu sang wanita hamil, semua berantakan. Kata-kata cinta dan bualan manis berubah menjadi saling menghujat dan mempertahankan ego masing-masing. Saling melempar tanggung jawab siapa yang akan mengurus bayi yang dikandungnya. Si pria dengan kejam tidak mau bertanggung jawab. Menyuruh si wanita menggugurkan kandungannya. Tapi si wanita menolak, ia mempertahankan kandungannya sampai sang bayi lahir. Mungkin orang-orang akan berpikir betapa tegar dan mulianya wanita itu mau mempertahankan bayinya seorang diri. Tapi begitu sang wanita melahirkan, meletakan bayi yang masih merah tersebut di depan rumah si pria brengsek yang telah menghamilinya, ia lalu bunuh diri.
Sampah. Benar-benar sampah.
Jimin menyesali wanita yang sialnya adalah ibunya tersebut menolak untuk menggugurkan bayinya. Jadi dengan begitu Jimin tidak perlu repot-repot hadir di dunia ini dan menderita seperti ingin mati.
Dan pria brengsek yang sialnya lagi adalah ayahnya dengan sok mulia membiarkan Jimin hidup dengannya. Bertameng title 'ayah', ia berbuat semena-mena. Menjadikan Jimin budak penghasil uang bahkan sejak ia masih sekolah dasar. Bagus Jimin masih sempat merasakan bangku SD dan SMP, terima kasih pada satu-satunya tetangga paling mulia yang mau membiayainya. Ironis sekali, justru tetangganya lah yang merawatnya lebih baik daripada sang ayah.
Tapi begitu tetangga bak malaikatnya itu pindah rumah ke luar kota, Jimin kembali bertanya-tanya, apa Tuhan tidak cukup memberinya penderitaan sehingga satu-satunya kebahagiaan yang ia punya justru pergi meninggalkannya?
Jimin lelah. Ingin mengeluh, tapi kemudian ia sadar, mengeluh pada siapa?
"Oy Jimin, ada yang mencari."
Jimin tersadar dari lamunannya kala suara rekan kerjanya menembus gendang telinga. Dengan cepat ia memutar kepala menuju sumber suara, dan rekan kerjanya itu menunjuk kearah pintu toko dengan dagu, menyuruh Jimin melihat kearah yang ia maksud. Jimin mengikuti pandangannya dan seketika senyumnya melebar kala melihat sosok berbaju hitam dengan sepatu conversenya yang tidak terikat sempurna.
Dalam hati Jimin tertawa melihat kebiasaan sahabatnya yang selalu malas mengikat tali sepatunya. Membuang waktu katanya. Tapi yang justru ia lakukan adalah melambai ceria pada sosok yang terpahat sempurna di depan toko.
"Yoongi Hyung!"
Setidaknya orang ini mampu menjadi alasan Jimin tidak nekat bunuh diri selelah apapun hidup yang ia jalani.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat malam Tuan Kim."
Seusai berpamitan pulang kepada pemilik toko, pemuda berpipi bulat tersebut menghampiri sahabatnya yang menunggu di depan sejak tadi. Udara hangat langsung menerpanya begitu keluar dari toko. Pertengahan musim panas merupakan hal yang paling Jimin suka. Ia benci dingin. Udara yang dingin, rumah yang dingin, hati yang dingin. Jimin benci. Untunglah musim panas masih sudi membuat segalanya menjadi cair. Meskipun siang terkadang terasa sangat menyengat hingga bisa membakar kulitnya tetapi ketika malam hari maka udara terasa hangat. Bagi Jimin musim panas begitu nyaman dan memabukkan.
"Ah Hyung maaf membuatmu menunggu sedikit lama."
Begitu pula orang yang berdiri di depannya ini.
Yoongi tersenyum tipis pertanda maklum, menambah kadar ketampanan pada wajahnya yang kekurangan ekspresi.
"Tidak masalah."
Senyum Yoongi adalah salah satu dari berbagai hal yang Jimin tulis di daftar keinginannya di suatu buku usang bersampul kuning. Ia ingin menjaga senyum itu untuk terus hadir di wajah Yoongi. Berjanji akan melakukan apapun asal ia bisa melihat sahabatnya itu tersenyum. Terlalu banyak hal yang datang dan berusaha menghilangkan senyum Yoongi sedikit demi sedikit, tapi Jimin yakin ia bisa menjaganya.
"Jim." Bahunya dicengkram oleh tangan Yoongi yang kekar hingga keduanya berhenti melangkah, pun Jimin yang kembali ditarik dari alam bawah sadarnya. Jimin memandangnya dengan pandangan bingung.
"Ada apa, Hyung?"
Ada jeda sebentar, dan Jimin bersumpah ia bisa melihat tatapan Yoongi yang menajam.
"Kau baik?"
Keduanya kembali terdiam atau lebih tepatnya Jimin yang membisu. Jimin berusaha menelisik arti tatapan Yoongi padanya. Ada kekhawatiran disana, dan Jimin tidak pernah tidak merasa terharu dengan perhatian sahabatnya itu.
"Aku ba...Ah!" Tubuh kecil Jimin tersentak kala tangan besar Yoongi menekan punggungnya. Tepat di lebam tempat ayahnya memukulnya kemarin.
Dan saat itu juga ia bisa melihat tatapan Yoongi yang terluka.
"Hyung, dengar, ini bukan luka besar..aku..."
"Mengapa berbohong, Jimin-ah?"
Jimin makin dibuat kelabakan kala melihat manik itu makin menyendu. Perasaan bersalah menyeruak karena membohongi Yoongi. Baru saja tadi ia berpikir untuk menjaga senyum Yoongi tapi yang ia lakukan justru membuat mata sayu itu semakin sendu.
"Sudah kubilang beritahu aku jika si brengsek itu menyakitimu lagi."
"Hyung..."
"Kau tidak pantas mendapat ini semua, Jimin. Tidak sama sekali." Amuk Yoongi. Amarahnya sungguh besar karena Jimin dapat merasakan dirinya yang merengut ketakutan jauh didalam sana. Ada ketakutan namun juga bahagia saat mengetahui bahwa Yoongi marah karena mengkhawatirkannya.
"Hyung dengarkan aku dulu."
"Biar kuberi ia pelajaran." Langkah kaki Yoongi dibuat lebar-lebar dengan penuh amarah. Tidak lagi menghiraukan Jimin yang menarik kaos tipisnya berusaha menahannya untuk terus bergerak.
"Hyung dengarkan aku!"
Yoongi seakan tuli. Hatinya terlanjur teremat sakit melihat Jimin menyembunyikan lukanya. Ia bahkan tidak berani menerka seberapa biru lebam Jimin dibalik baju coklatnya itu. Seketika ilustrasi bagaimana Jimin mendapat lebam itu dari ayahnya hadir dipikiran Yoongi, membuat darahnya semakin mendidih dibakar amarah.
"Hyung hentikan!"
Jari kecilnya terus berusaha menarik kaos hitam Yoongi untuk menghentikannya. Tidak peduli tingkahnya itu dapat merobek kaos Yoongi. Ia hanya perlu menghentikan pemuda berambut coklat yang tengah berjalan cepat dengan raut yang menyeramkan.
"Kubilang hentikan, Min Yoongi!" teriak Jimin dengan keras. Membuat tenggorokannya sakit seketika dengan nafas yang tak beraturan. Ia tercenung, ini pertama kalinya ia berteriak sebegini keras pada Yoongi, terlebih lagi ia memanggil Yoongi dengan kurang ajar tanpa embel-embel 'hyung'. Tapi perbuatannya itu mampu menghentikan langkah Yoongi.
"Hyung, dengarkan aku, aku minta maaf karena berbohong dan juga berteriak padamu tadi." Tubuhnya bergerak ke depan Yoongi agar bisa menatap matanya yang setajam elang. Tidak ada respon dari sahabatnya itu jadi ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Aku hanya tidak membuatmu khawatir hyu..."
"Kau justru membuatku semakin khawatir dan tak berguna, Park Jimin!" Perkataaan Jimin terpotong dengan bentakan Yoongi yang menggema di jalan kecil tempat mereka berpijak sekarang. Tapi Jimin mengerti alasan pemuda itu membentaknya karena ia terlalu kalut. Jimin mengerti.
"Baik aku salah," Maka Jimin lah yang harus menjadi air kala api semakin membara, "Maaf, oke?"
Raut wajah Yoongi perlahan melunak.
"Kau bisa mempercayakan aku, kau tahu?" bisik Yoongi.
Jimin tersenyum, "Tentu saja, tapi aku tidak bisa percaya pada ayahku."
Tangannya ia letakan pada bahu pemuda di depannya itu, "Ayah tidak tahu apapun soalmu, hyung. Ia tidak tahu bahwa anak sialnya ini berteman dengan pemuda tampan benama Min Yoongi." Jimin tertawa kali melihat raut tak setuju Yoongi saat ia memanggil dirinya sendiri 'anak sial'.
"Aku sengaja tidak pernah menarikmu kedalam masalahku dengan ayah karena aku tidak mau ayah tahu tentangmu. Aku tidak mau ayah mengenalmu. Aku tidak mau hyung berurusan dengan ayahku."
Raut wajah Yoongi sudah kembali seperti awal. Min Yoongi si kepala dingin sudah kembali. Dan Jimin cukup lega karena bisa membawa pemuda itu keluar dari amarahnya yang membludak.
"Kau berlagak ingin melindungku eh? Jangan lindungi orang lain kalau diri sendiri kau tidak bisa lindungi." sindir Yoongi tajam.
Jimin meringis mendengar kata-kata tajam Yoongi padanya.
"Sialan hyung kata-katamu tajam sekali." Pemuda berambut hitam itu tertawa, "Lebih sialnya lagi, kau benar."
Tawa keras pemuda mungil itu mengudara mengisi malam musim panas yang entah mengapa mulai terasa dingin.
"Aku ini payah, ya kan?" ia mengatur nafas sebentar agar tawanya berhenti, "Mana bisa aku melawan ayahku, yang ada aku dijadikan cincang untuk makan siang anjing tetangga. Aku ini sudah seperti budak saja, mau disuruh apapun yang diperintahkan ayah. Tapi hyung, ada satu permintaan ayah yang tidak pernah bisa aku turuti meskipun sebenarnya aku pun mau."
Ada jeda sebentar dan jeda tersebut justru membuat hati Jimin merasa sakit.
"Ayah ingin aku mati."
Yoongi terperangah. Tidak menyangka ada ayah yang ingin anaknya sendiri mati. Ia meringis, seberapa besar penderitaan yang ditanggung bahu sempit sahabatnya itu?
"Aku pun mau mati, enak malah, tidak perlu disiksa seperti itu lagi."
"Jangan berani-berani, Park Jimin." desis Yoongi.
Jimin terkekeh, "Tenang saja, aku tidak akan mati secepat itu, tidak sebelum semua daftar keinginanku yang telah kutulis dibuku kuning tercapai."
Jimin kembali menatap sahabatnya itu dengan senyum yang hangat.
"Aku tidak menceritakan apapun padamu bukan berarti membuatmu tidak berguna, hyung. Kehadiranmu itu sendiri dalam hidupku sudah menjadi sesuatu yang berguna bagiku."
Si pemuda chubby mengangkat kelingkingnya kehadapan wajah Yoongi.
"Katakan padaku, kita akan menjadi sahabat selamanya kan hyung?"
Dan kala Yoongi menautkan kelingking panjang itu pada kelingking mungilnya, Jimin sadar, ia telah mendapatkan kekuatannya kembali.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haloha! Monday Kid kembali hehe. Iseng bikin cerita chapter lagi. Pertama-tama maafkan aku yAng dengan kurang ajarnya publish cerita baru sedangkan fanfic 'Park Jimin' belom kelar huhuhuhu. Fanfic itu, entahlah, buntu banget ga tau harus ngelanjutin kayak apa/disleding. Maafkan aku teman-temaaaaaan. Tapi aku udab bertekad(ini tekad doang sih wkwk) kalo fanfic ini akan aku bawa serius/cieee. Pengen bener-bener nuntasin ff ini. Jadi tolong antisipasi yeorobuuuunn.
Dan juga terima kasih dengan penuh cinta untuk reader yang telah membaca dan memberikan review untuk cerita ini. Sayang kaleaaaaann.
review juseyoooong
