Chapter 2

Always Waiting You

Naruto © Masashi kishimoto

saya cuma pinjam tokohnya

Warn:typo,gaje,humor garing,masih noob,alur kecepetan

Maaf kalo ada kesamaan judul,isi,de el el

Kalau tidak suka baca saja dulu, kalau benar-benar tidak suka silakan tekan tombol back

Enjoy Reading

Drtt … Drrt …

Dengan cepat Bolt mengangkat telepon.

"Bolt, bagaimana rumahnya? Apa kalian suka? " Tanya Sakura.

"Ya, kami menyukainya, tapi Sarada tidak mau sekamar denganku. " Jawab Bolt lesu.

"Hihihi … Maafkan sikap Sarada, ya. "

"Tidak apa-apa, Mamasaku. Lagipula aku juga tidak mau memaksanya. " Bolt kembali teringat dengan ucapan Sarada atas perjanjian antara mereka. Ia berubah murung.

"Bolt? Kau masih disana?"

"Eh, gomenne Ma, "

"Oh ya, Maafkan kami tidak bisa mengunjungi kalian. Kau tahu kan, kami sangat sibuk. Setelah ini aku harus ke kantor, masih banyak hal yang belum terselesaikan. Maafkan aku tadi karena mengancam kalian. Dan kau tahu, sebenarnya Naruto sangat marah padamu atas kejadian di gereja tadi. Akupun sempat marah, tapi Mama tahu kau adalah orang yang tidak bertindak tanpa alasan. Jadi, bisakah kau jelaskan padaku, Bolt? "

Bolt menghela nafas panjang.

"Mamasaku, aku tidak bisa memaksa Sarada untuk menciumnya, kan? "

Sakura tertawa.

"Panggilanmu padaku bagus, aku suka. Ya, kau benar Bolt. Jadi karena itu kau melubangi tempat kalian berdiri lalu melarikan diri ? "

Bolt menggaruk tengkuknya.

"Tapi aku sudah berbicara dengan pihak gereja, mereka mengizinkan ku asalkan segala kerusakan harus diperbaiki. "

"Kau sangat cerdik, ya. Oh ya, menurutmu bagaimana perasaannya padamu? Ada perkembangan? "

"Sepertinya belum, Ma. " Jawab Bolt lemah.

"Sarada itu sangat mirip dengan Papanya. Tsunderenya itu sangat keterlaluan. Kau harus berjuang mendapatkan hatinya, tapi jangan dipaksa. "

"Iya, Ma. Aku mengerti. "

"Sebentar, ya. Mama mau bersiap ke kantor. Nanti Mama hubungi lagi. Chu~ "

Tuut ... Tuut …

Telepon sudah dimatikan Sakura. Bolt tersenyum tipis. Ia menengok keluar, tepatnya ke pintu kamar Sarada. Tampak dari luar lampunya masih menyala.

Dia belum tidur, gumamnya pelan.

Ia berjalan menuju kamar Sarada.

"Boleh aku masuk? " Tanya Bolt.

"Ya. " Jawab Sarada singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

Tidak baik bila aku terus menghindarinya, batin Sarada.

"Apa yang kau lakukan? Sebaiknya kau tidur. " Ujar Bolt sambil mendekati Sarada.

"Tidak bisa, pekerjaanku masih belum selesai. " Jawab Sarada.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan? Mengapa disini banyak sekali kamera dan benda-benda aneh ini? Dan dus- dus ini untuk apa? Kamarmu seperti gudang sekarang. "

Sarada memutar bola matanya.

"Aku menjual alat-alat fotografi di toko online ku, Bolt. Dan jangan menyebut barang-barang daganganku dengan sebutan benda aneh. "

Jawab Sarada ketus.

"Kau berjualan online? Wah, hebat. "

Sarada tersenyum tipis. Matanya tetap fokus pada layar laptop, sesekali mengetik identitas pembelinya.

"Hasilnya lumayan, aku tidak perlu meminta uang belanja pada Mama untuk membeli keperluanku, kecuali membayar sewa apartemen. "

"Oh ya, sejak kapan kau berjualan seperti ini? Apa kau pernah ditipu? " Tanya Bolt. Sarada menghela nafas panjang dan menghentikan akifitas mengetiknya.

"Aku memulainya sejak kelas sepuluh. Awalnya aku bekerjasama dengan temanku, namun dia kini lebih memilih membuka tokonya sendiri, sedangkan aku tetap di toko online. Ditipu, ya? Pernah satu kali, tapi itulah resikonya. Mau tak mau aku harus menerimanya. "

Jawab Sarada. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Bolt dengar dari Sarada, Selain makian darinya.

Drrtt … Drrtt …

Handphone Bolt berbunyi.

"Sarada, aku keluar. Oyasumi. " Ucap Bolt sambil menutup pintu pelan.

"Hn. Oyasumi, Bolt. " Sarada mematikan laptopnya dan bangkit dari kursi putarnya.

~AWY~

Hari pertama sudah dilalui Bolt. Keseharian mereka tidak banyak berubah. Mereka sarapan sendiri-sendiri karena Sarada masuk kuliah pagi, Bolt mengambil cuti kuliah dan meneruskan syutingnya yang tinggal tiga bulan lagi dan akhirnya masuk kedalam kamar masing-masing.

Bedanya, mereka tinggal serumah dan status mereka pun berganti. Ya, hanya status. Perasaan Sarada tidaklah berubah pada Bolt. Ah, bukannya tidak berubah, hanya saja Sarada belum menyadari perasaannya yang sesungguhnya .

Bolt menengok ke luar jendela. Awan hitam mulai menggumpal menutupi langit malam, disertai kilat yang menyambar bersahutan. Ia tertegun. Sepertinya akan ada badai, batinnya.

Ia menutup rapat gorden jendela, lalu duduk di ranjang king size nya. Ia melirik kamar Sarada. Pintunya tertutup tidak terlalu rapat, lampunya juga masih menyala. Matanya beralih ke jam dinding di depan ranjangnya.

"Sudah pukul sebelas. " Gumamnya.

Lalu, mengapa Dia belum tidur juga? Bolt bertanya-tanya dalam hati.

Bolt berbaring dan memejamkan mata. Barusaja ia hendak berpetualang ke alam mimpi, suara guntur membuatnya membuka mata kembali. Ia bangun, kembali melirik kamar Sarada. Apa dia sudah tidur?

Ia bangkit berdiri dan berjalan ke kamar Sarada. Hujan mulai turun dengan deras. Bolt menengok ke luar. Dahan pohon merunduk karena angin kencang.

Tangannya terjulur ke gagang pintu, hendak memeriksa kondisi Sarada.

DUARR!

Petir kembali menyambar bersamaan Guntur yang hampir memekakkan telinga. Bolt masuk ke kamar Sarada tergesa-gesa.

"Sarada! "

Ia melihat wajah Sarada begitu pucat. Bibirnya bergetar. Ia memeluk erat tubuhnya yang berselimut. Nafasnya tersengal-sengal. Ia lalu memandangi Bolt seakan ia hampir saja kehilangan nyawa.

"Kau baik-baik saja? " Tanya Bolt. Sarada tak menjawab. Ia semakin mengeratkan selimutnya

"Ingat Bolt. Sejak kecil Sarada memiliki phobia dengan petir. Kalau seandainya terjadi badai kau harus menjaganya, mengerti?"

Bolt barusaja mengingat perkataan Sakura kemarin. Bolt mengacak rambutnya kasar. Kenapa aku baru mengingatnya, gerutu Bolt dalam hati. Tiba-tiba …

DUARR!

PRANGG!

Jendela kamar Sarada pecah saking mengerikannya getaran dari guntur. Dengan refleks Bolt memeluk Sarada, melindunginya dari pecahan kaca. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menghela nafas, menenangkan jantungnya yang berdetak begitu cepat karena khawatir dengan keadaan Sarada.

"Kau baik-baik saja, kan? " Tanya Bolt. Diluar Petir masih saja turun bersahutan.

Dengan lemah Sarada mendongak, melihat wajah lelaki yang kini bersatus sebagai suaminya itu. Ia melihat pelipis kanan Bolt berdarah. Lalu ia mengangguk.

"Aa … ku baik. Kau berdarah. " Ucap Sarada lemah. Tubuhnya masih gemetaran.

"Tidak penting dengan keadaanku, Sarada. Kau tidak kena pecahan kaca, kan?" Tanya Bolt dengan cemas.

Sarada menggeleng lemah. Dan seketika hilanglah kesadarannya.

"SARADA! BANGUN! " Astaga … dia pingsan. Bolt begitu panik melihat Sarada yang terkulai di pelukannya. Apa yang harus kulakukan?

Ia melihat ranjang Sarada yang kini dipenuhi serpihan kaca.

"KUSO!" Umpatnya. Bagaimana aku membaringkannya?

Baiklah, aku membawa nya ke kamarku saja, batinnya. Dengan perlahan ia menggendong Sarada keluar kamar, lalu membawanya ke kamarnya. Ia membaringkan tubuh Sarada ke ranjang, lalu menaikkan selimut sampai ke lehernya. Ia menatap wajah Sarada lekat.

"Kau selalu cantik di mataku, dalam keadaan apapun. " Gumamnya pelan. Ia melepas kacamata Sarada dan menaruhnya di meja nakas.

Ia membuka laci meja dan mengambil sebuah kertas. Surat perceraian lengkap dengan tandatangannya. Ia menghela nafas berat, lalu kembali memandang wajah Sarada.

"Bahkan surat cerai pun kuberikan kalau kau yang menginginkannya, Sarada. Sungguh aku sangat mencintaimu. Kapan aku bisa meluluhkan hatimu?"

Tes …

Setitik airmata mengalir dari wajahnya.

"Astaga … aku menangis. " Cepat ia mengusap matanya. Aku tak boleh menangis, batinnya.

Ia menyentuh pelipis kanannya yang berdarah. Sedikit perih yang ia rasakan. Ia mengambil kotak obat dan mencari obat merah. Ia meneteskannya ke selembar kapas, lalu mengoleskannya ke lukanya.

"Argh … " Ia meringis. Kalau Sarada yang mengobatiku pasti tidak terlalu perih. Ia tersenyum tipis.

Ia kembali mengingat kejadian dua tahun lalu, saat ia pertamakali bertemu Sarada setelah beberapa tahun. Pipi kirinya ditinju Sarada, tapi Sarada sendiri yang mengobati wajahnya. Memang sangat sakit, namun karena Sarada yang mengobati Ia rasa sakitnya berkurang cepat.

Ia membuka plester luka, dan menempelkannya ke lukanya.

"Selesai. Oyasumi, Sarada. "

Ia mencium dahi Sarada untuk yang pertama kalinya, lalu perlahan melepasnya.

Ia mengambil satu bantal dan menaruhnya ke sofa. Ia menghela nafas berat, lalu merebahkan dirinya dan memejamkan mata.

~AWY~

Cahaya matahari mulai menyusup di jendela, membuat Sarada terbangun dari tidurnya. Matanya sedikit berat untuk terbuka. Dengan pelan ia mulai bangkit dan duduk bersandar. Ia mengucek mata ketika ia sadari ada sesuatu yang kurang.

Kacamataku?

Ia melirik meja nakas di sebelah kirinya, menemukan kacamatanya dan memasangnya.

Kini pandangannya semakin jelas. Ia mengernyit.

"Aku ada dimana?" Ia mengedarkan pandangannya. Ada rak di samping lemari pakaian yang menyimpan puluhan CD di dalamnya. Lalu di sebelah kanan pintu ada meja dengan sebuah foto dalam bingkai.

Foto pernikahan mereka.

Sarada semakin tidak mengerti.

"Mengapa aku ada disini?"

Ia memutar kembali memorinya yang terakhir. Malam tadi hujan badai dan …

ASTAGA!

Ini kamar Bolt! Tapi dia ada dimana?

Barusaja ia hendak keluar matanya melihat kertas yang tergeletak di meja. Ia mengernyit.

Sebuah memo, gumamnya dalam hati.

"Bila kau mencariku aku ada di lokasi syuting. Kalau tidak tahu tempatnya tanya saja ke fans ku :p

Untuk ucapan terimakasih kau bisa memasak sesuatu untuk makan siangku, hehe. Oh ya, nanti ada tukang yang memperbaiki jendelamu hari ini "

Sarada tersenyum tipis. Aku harus memasak apa untuknya?

Bentou isi tempura dan ebi katsu, mungkin?

Baiklah …

Sarada melangkah ke kamarnya untuk mengambil apron. Ia melihat pecahan kaca yang masih berserakan di ranjangnya.

Huh … mungkin aku harus membereskan yang ini dulu, lalu mandi, batin Sarada.

Sarada kembali meletakkan apronnya dan mulai membereskan pecahan kaca.

~AWY~

Sarada menutup kotak bentonya. Ia tersenyum puas. Apalagi yang kurang, ya?

Sebuah catatan kecil, mungkin?

Kini Sarada memegang sebuah pulpen dan kertas memo, namun tak ada satupun kata yang ia tulis.

"Argh … aku harus menulis apa?" Sarada mendadak frustasi. Ia pandangi sekali lagi kertas dihadapannya.

"Selama ini aku selalu membentaknya dan mengatakan aku membencinya. Apa dia mau menerima masakanku?"

Sarada menghembuskan nafas panjang.

"Tapi bukankah aku harus mencoba?"

Sarada tersenyum tipis. Ia mulai menulis di memonya.

Selesai, Batinnya. Segera Ia memasukkan bentounya ke dalam tas dan berjalan menuju garasi.

Ia melirik arloji silvernya. Pukul duabelas tepat. Ia memencet kunci mobilnya, lalu berhenti ketika melihat ban nya.

"Astaga … aku lupa. Ban nya kan bocor. "

Ia melirik motor sport milik Bolt yang terparkir di samping mobilnya. Ia tersenyum.

"Sepertinya aku harus memakai motornya. "

~AWY~

"Sepertinya ini cukup. " Gumam Sarada. Ia kini mengenakan jaket kulit dark brown dengan long jeans longgar warna hitam. Lalu sepatu keds hitam dan helm. Kali ini ia memakai tas ransel warna merah marun. Tidak lupa dengan kacamata berbingkai hitam, hadiah ulangtahun dari Choucou yang baru kali ini ia pakai. Dia terlihat cantik dan keren secara bersamaan.

Ia mulai menyalakan mesin, lalu menaikinya dan menjalankan motornya.

Sarada memang sudah pernah mencoba segala jenis kendaraan, mulai dari skuter antik milik kizashi yang membuatnya malu setengah mati sampai motor besar milik Sasuke. Pernah Sarada ikut tour bersama Sasuke dan Komunitasnya namun berakhir dengan kekesalan karena teman-teman Sasuke selalu menjodoh-jodohkannya dengan anak-anak mereka.

Jadi, Motor sport milik Bolt ini bukan apa-apa baginya.

Ia terus melajukan motornya sampai mendekati lokasi syuting. Sebuah tempat terbuka dengan banyak properti dan dilindungi pagar agar tidak sembarang orang bisa masuk.

Ia melihat kerumunan anak remaja yang masih berpakaian sekolah mengintip di balik pagar sambil berteriak.

"Bolt! Aku mencintaimu!"

"Bolt! Lihat kesini!"

"Bolt! Daisuki da!"

"Bolt! Ceraikan istrimu dan menikah denganku!"

Sarada tertawa kecil dibalik helmnya. Dasar anak-anak, Batinnya.

"Bolt! Aku lebih cantik daripada istrimu! Mengapa kau memilihnya!"

Sarada tersedak ludahnya sendiri. Mereka benar-benar ekstrim, Gumam Sarada dalam hati.

Sarada berhenti ketika melihat seorang kru keluar dari pagar secara diam-diam.

Ia mematikan mesin,lalu membuka helm.

"Uzumaki-san, Mau menengok suami mu?"

Sarada mengernyit. Namun ia cepat menyadari siapa yang kru itu maksud.

"Ah, ya. Aku mau mengantarkan makan siang untuknya. " Jawab Sarada.

"Lewat sini, Uzumaki-san. "

"Jangan panggil aku begitu, panggil saja aku Sarada. "

"Iya, Sarada. Saya permisi dulu. " Orang itu pergi berlalu. Sarada berjalan mendekati para kru yang bertugas. Sesekali Ia menunduk hormat kepada kru yang menyapa nya.

"Sarada!" Ia menoleh kepada orang yang memanggilnya.

"Manajer. " Sarada tersenyum senang. Yuuhi memeluknya.

"Apa kabarmu?" Tanya Yuuhi.

"Seperti yang kau lihat, Manajer. " Jawab Sarada.

"Duduk dulu, Sarada. " Yuuhi menawarkan kursi padanya.

"Arigatou. " Sarada duduk dan memperhatikan Bolt yang masih syuting.

"Sarada, bagaimana malam pertamamu?" Tanya Yuuhi.

"Ap … apa maksudnya?" Wajah Sarada semerah tomat sekarang.

"Hei, kalian tidak melakukan 'itu' ya?"

"Ma … manajer, pertanyaanmu membuatku malu. "

Sarada menutupi wajahnya dengan tangan.

"Hahaha … lupakan saja pertanyaanku tadi. Kuliahmu masih jalan, kan?"

"Ya, " Jawab Sarada singkat.

"Oh ya Sarada, ada apa kau panas-panas seperti ini datang kemari?"

"Aku mengantarkan makan siangnya, Manajer. Apa dia masih lama?"

"Hari ini jadwalnya sampai jam enam sore. Tapi tunggu sebentar lagi, mungkin mereka akan istirahat." Jawab Yuuhi.

piip ... piip

Handphone Sarada berdering.

"Aku permisi dulu, Manajer. "

"Ya, silakan. "

Sarada berjalan menjauhi Yuuhi

"Dari Choucou?" Sarada menggeser layar smartphonnenya ke kanan

"Ada apa, Chou?"

"Bisa temani aku ke mall? Aku mau mencari hadiah ulangtahun untuk Inojin. "

"Baiklah, Aku akan ke rumahmu. "

"Arigatou, Sarada. Kau sahabatku yang paling baik. "

"Ya, ya, sebaiknya kau cepat bersiap. "

"Baiklah. "

Choucou menutup teleponnya. Sarada menghampiri Yuuhi.

"Manajer, bisakah aku menitipkan makan siang Bolt padamu? Aku harus menemui temanku. "

Pinta Sarada.

"Tentu saja. " Jawab Yuuhi. Sarada memberikan kotak bentounya.

"Arigatou, Manajer. "

"Sama-sama, Sarada. "

Sarada pergi meninggalkan Yuuhi dan kembali ke tempat motornya terparkir.

Barusaja Ia hendak memasang helm Ia melihat sebuah pemandangan yang hampir membuatnya lupa bernafas .

Perempuan yang Sarada kenal saat resepsi pernikahannya, perempuan yang sangat ia benci, kini berjalan mendekati Bolt, lalu ...

Dia menciumnya!

Sarada bungkam, tak tahu lagi harus melakulan apa. Sasha mencium Bolt dihadapannya !

Jantungnya serasa diremas ketika melihat adegan itu di depannya. Hatinya tak berbentuk lagi sekarang.

Suara tepuk tangan dan teriakan keras menyadarkannya. Dengan cepat ia memasang helm. Matanya yang berkaca-kaca itu kini mengalirkan airmata ketika mendengar teriakan demi teriakan dari fansnya Bolt.

"Kyaaa! kenapa kau mencium Bolt-ku! Sasha aku membencimuu!"

"Kalian romantis sekalii! Aku lebih memilih kau jadi istrinya Bolt-ku!"

"Ceraikan istrimu, Bolt, lalu nikahi Sasha! aku mendukung kalian berduaa!"

Sungguh rasanya Sarada ingin menjahit mulut mereka hingga tak bisa lagi berbicara.

Menikah dengan perempuan itu? Yang benar saja, rutuk Sarada.

"Kau baik-baik saja, Uzumaki-san?" Seorang kru mendekatinya.

"Tidak, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. " Jawab Sarada.

Tapi hatiku tidak, batinnya.

Ia mengusap wajahnya kasar, lalu melarikan motornya dengan kecepatan tinggi. Kacamatanya mulai mengabur karena airmata.

Sarada menggigit bibit bawahnya kuat-kuat. Bahunya bergetar karena isakan.

Mengapa harus seperti ini? Mengapa rasanya begitu menyakitkan? Apakah ini balasan karena aku selalu membenci dan menyakitinya? Kalau iya, apa yang harus kulakukan?

Sarada tidak menyadari bahwa sebuah sedan hitam keluar dari gang menuju jalan raya. Ia menekan kuat rem tangan,namun terlambat.

BRAAAK!

Motornya menghantam kuat badan mobil. Sarada terpental beberapa meter dari motornya dan jatuh berguling. Bahu kanan dan kakinya menghantam trotoar. Sarada merasakan sakit yang luar biasa, saking sakitnya ia tak bisa lagi berteriak.

Tuhan, Aku siap bila kau menjemputku sekarang, Ucap Sarada dalam hati.

Kesadarannya kini pergi menjauhinya.

TBC

Akhirnya chap 2 kelaaarrr... :"v

Daku gabisa bayangin klo Sarada naik motor sport :3 pasti keren banget, ya :3

Dan ketika Bolt nangis rasanya aku juga pengen ikutan nangis :"v hikz cediiih :"v

Dan maapkan daku karena konfliknya gak ada greget2 x samasekali :"v huhuhuhu daku tdk pintar dalam mendeskripsikan sesuatu :'"v

oke ada yang mau review gak? hihihi boleh yaa :"3

Sudah dulu bacotan saya, gutbayyy...

Syalalala...