"Aku tak bisa membacanya pikirannya sama sekali,"ujar Edward entah pada siapa tapi bisa di pastikan kalau Alice dan Jasper bisa mendengarnya.

"Ed kau memang tak pernah bisa membaca pikiran Bella dari dulu,"jawab Alice dengan suara kecilnya.

"Bukan Bella, tapi anak baru itu,"Edward menunjuk Hinata lewat ekor matanya.

Alice dan Jasper melihat kearah lain untuk beberapa saat."Apa kau yakin?"

"Ya. Dari tadi aku berusaha menembus pikirannya tapi tidak bisa."

Alice memandang Hinata dengan tatapan kosong. "Tapi anak baru itu pun tak terlihat dalam pandanganku sebelumnya. Aku tak dapat melihat kedatangannya dan masa depannya."

"Jasper jangan bilang kau juga."

"Ya Ed. Aku juga tak bisa menembusnya."

Edward menjambak rambutnya frustasi."Yang benar saja tak ada kemampuan dari kita menembusnya. Siapa anak baru itu sebenarnya?"

.

.

Disclaimer:

Naruto by Masashi Kisimoto and Twilight saga by Stephanie Meyer

Moonlight created by Tsubasa XasllitaDioz

Warning: AU,OOC-maybe- and etc.

Pair: Edward Cullen and Hinata Hyuuga, slight Jacob-Bella

.

.

Summary: Apa yang terjadi kalau seandainya Bella lebih memilih Jacob saat 'New Moon'? Sanggupkah Edward bertahan dalam keterpurukannya? Dan disaat keterpurukan Edward datang murid pindahan dari Jepang yang aromanya lebih menarik Edward dari pada saat dia bersama Bella. Bagaimanakah kisah cinta terlarang ini terulang lagi? Apakah akan berakhir sama?

.

.

Chapter 2: When I Looked You.

.

.

Aku berjalan perlahan menuju kelasku selanjutnya bersama dengan Bella serta Jessica kebetulan mereka juga masuk dikelas yang sama setelah istirahat siang selama disini aku belum merasakan diskriminasi atas kedatanganku sebagai anak baru yang masuk di pertengahan semester ditambah lagi saat kelas 3. Dimana seharusnya tak ada lagi murid baru yang diizinkan masuk. Akan tetapi Forks yang minim murid bersedia menerima murid baru dalam waktu kapan pun kecuali sampai semester 2 untuk kelas 3.

Aku sungguh penasaran bagaimana pelajaran Bologi di sekolah Amerika, apakah akan sama dengan sekolah Jepang yang banyak memutilasi hewan-hewan tak bersalah? Itulah kenapa terkadang aku takut mengikuti pelajaran Biologi disekolahku dulu. Ditambah lagi Orochimaru-sensei selalu membawa ular kesayangannya-Manda- kalau sedang mengajar. Hobby sebagai pemutilasian sebagai bahan ajarannya itu pun membuat bau karat darah menyebar diseluruh ruangan yang membuatku mual seusai pelajaran dan berakhir memuntahkan seluruh makan siangku di toilet.

"Hinata kami duluan," kata Jessica.

Aku tersenyum kecil padanya dan Bella yang langsung menuju tempat duduknya di belakang. Aku melihat Mr. Simpson didepan meja dan segera mendekatinya,

"E-excuse me Sir," suaraku yang terdengar bagai cicitan.

Mrs. Simpson mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya."Ah, Ms. Hinata Hyuuga? Kau telah sampai di Forks?"

"Y-yes sir." Lalu aku mengeluarkan selembar kertas untuk ditanda tangan olehnya. Setelah itu dia membiarkanku memilih tempat dudukku tanpa menyuruhku memperkenalkan diriku seperti dikelas sebelumnya.

Aku melihat kesekeliling kelas. Semua tempat duduk telah ditempati oleh masing-masing murid. Kecuali satu tempat duduk yang telah diduduki oleh Edward yang salah kostum hari ini. Dia duduk menyendiri di pojok kelas seperti tak membaur dengan yang lain. Auranya pun berbeda seperti yang lainnya yang biasanya berwarna biru. Jangan heran kenapa aku bisa melihat aura orang lain dan menurutku itu berwarna biru. Disaat tertentu dikala aku sedang fokus kosentrasi dan duduk sendirian warna biru itu terkadang lebih sering berpendar dengan warna campuran lainnya seperti merah, coklat, jingga atau pun tanda seseorang jatuh cinta, yaitu pink.

Aku berjalan perlahan menuju bangku yang tersisa. Ketika sampai diujung meja dan bermaksud untuk meminta izin apakah aku boleh duduk disini. Tiba-tiba saja angin berhembus kencang dan menerbang rambut-rambutku hingga berantakan. Dengan ekor mataku dapat kulihat Edward tiba-tiba menegang menatapku tajam dengan mata yang gelap bagaikan batu onyx, membuatku bergidik melihatnya. Sesaat mata kami saling bertubrukan dan seketika itu pula Edward bangkit dari duduknya menjulang bagaikan anak panah. Lalu dengan gerakan cepat yang tak kukira, dia melangkah pergi dengan menubruk pundakku pelan dan melangkah pergi keluar kelas.

Air mata mulai menggenang di sudut mataku hingga tidak lagi kudengar riuh ribut kelas melihat kepergina Edward yang tiba-tiba. Hanya saja dapat ku tangkap dari mataku yang mulai berair tatapan tak percaya dari Bella yang menatapku dengan pandangan yang seolah berkata 'Tidak mungkin'. Apakah aku melakukan kesalahan hingga dia langsung berlari begitu melihatku? Apakah aku terlihat begitu menyebalkannya? Sekuat tenaga aku mencoba untuk menahan tangis yang telah berada di pelupuk mataku. Bagaimana pun aku tak ingin kalau teman-teman yang lain memandangku heran kalau aku mengangis di kelas saat ini.

.

.

.

Aku terbangun dengan mata yang bengkak dan memerah. Dari cermin dapat aku lihat sesosok wanita dengan wajah pucat ditambah mata yang juga pucat dan rambut hitam walau teman-temanku sering menyebut warna rambutku itu indigo, tampak begitu kusut. Tidak ada sisi menarik yang dapat orang lihat dariku semuanya pucat hanya rambutku saja yang berwarna gelap.

Pasti akan sangat sulit menghilangkan bekas membengkak dari mataku nantinya. Segera saja aku bersiap-siap pergi ke sekolah aku tidak ingin karena kejadian yang membawa pria bernama Edward itu membuatku terlambat di hari keduaku sekolah.

Aku melangkah sendirian menuju gedung sekolah dari tempat parkiran mobil. Tanpa sengaja aku melihat keluarga Cullen sedang menatapku, yaitu Alice dan Jasper. Ditambah 2 orang lain lagi yang tidak aku kenal salah satunya pria berbadan tinggi kekar dengan rambut hitam dan yang wanita berambut pirang yang seharusnya kau temui di Hollywood atau pun tempat para aktris-aktris cantik berkumpul. Bukannya di Forks yang notabenenya bahkan lebih kecil dari Kyoto.

"Morning Hinata," sapa Bella yang langsung mengalihkan perhatiaanku dari keluarga Cullen.

"M-morning Bella. Hmm.. bolehkah aku bertanya sesuatu?" aku menunduk ragu menanyakan hal tersebut kepada Bella, hanya saja rasa penasaranku akan tatapan keluarga Cullen yang terlalu mengintimindasi dari mereka kepadaku.

"Apa Hinata?"

"Ini tentang keluarga Cullen. Sepertinya Alice dan Jasper serta 2 orang yang tidak aku kenal dari mobil merah disana, m-memandangku dengan pandangan y-yang tidak bisa diartikan."

Sesaat aku dapat melihat raut cemas dari wajah Bella tetapi dia dengan cepat memperbaiki air wajahnya."Oke, yang pria berbadan besar disana namanya Emmett Cullen dan yang wanita berambut blondie bernama Rosalie Hale. Dari yang aku ketahui dia adalah saudara perempuan Jasper yang ada disebelah Alice."

"Dia sangat cantik." Ucapku tanpa sadar.

"Kau benar. Dia nyaris sempurna hanya sikapnya saja kurang ramah."

"M-maksudmu Bells? Apa kau dekat dengan keluarga Cullen?"

Bella mengangguk."Ya sebelumnya aku cukup dekat dengan keluarga Cullen."

"K-kalau boleh kutebak, kau dekat dengan keluarga Cullen karena Edward?"

Bella menatapku kaget."Darimana kau tau itu Hinata? Apa teman-teman yang lain menggosipkannya padamu?"

"S-sorry aku tidak bermaksud.T-tidak ada teman-teman yang menggosipkanmu, hanya saja terkadang a-aku sedikit sensitif dengan keadaan sekitar. D-dan kemarin saat Edward tiba-tiba pergi tanpa sengaja aku melihat sorot khawatir dari matamu. D-ditambah saat di kafetaria a-aku juga melihat pandangan Edward seperti merindukan sesuatu yang tidak bisa dia sentuh." Aku melirik Bella dengan ekor mataku dan kulihat ekpresi bersalahnya.

Aku kontan menunduk."M-maafkan aku Bella. K-kalau aku telah lancang."

"Tidak apa-apa Hinata. Memang sebagian besar yang kau katakan itu benar. Nanti kalau tiba saatnya kau akan tahu kebenarannya."

"A-apa itu Bella?" tanyaku bingung.

:"Sesuatu yang mungkin merubah hidupmu," jawab Bella sambil tersenyum lembut."Ayo segera masuk kelas, jam pertama kita di kelas yang sama bukan?"

Aku mengangguk kemudian berjalan berdampingan dengan Bella menuju ruang kelas.

Aku semakin bingung dengan kehidupannku di Forks. Rasanya semakin rumit daripada di Tokyo. Dulu di Tokyo aku sama sekali tidak menonjol, aku tidak terlalu cantik seperti Sakura-chan, aku juga tidak terlalu pintar seperti Shikamaru-san yang walaupun selalu tidur dikelas tetapi selalu mendapat nilai sempurna, aku juga tidak trendi seperti Ino-chan dan Karin-san yang selalu tampil memukau, aku juga tidak pandai olahraga seperti Tenten-chan malah bisa dibilang kalau aku mengkhawatirkan dalam bidang tersebut. Tapi di Forks, tiba-tiba saja aku menjadi begitu dikenal oleh setiap orang. Disekolahku yang baru ini kau selalu mendapat pandangan tidak percaya. Ditambah lagi belum sehari aku bersekolah aku sudah bermasalah dengan Edward Cullen dengan alasan yang tidak aku tahu mengapa.

.

.

.

Ini sudah lewat minggu ketiga Edward Cullen tidak masuk. Ditambah dengan tatapan keluarga Cullen yang tetap menatapku saat makan siang di kafetaria. Tetapi untuk hari ini ketika aku memasuki kelas Biologi aku lihat Edward telah duduk di meja tempat dia kemarin tiba-tiba lari meninggalkanku. Dengan ragu-ragu dan menunduk aku berjalan menuju bangku yang menjadi tempat dudukku. Sebenarnya aku sudah berpikir untuk mencari tempat duduk baru daripada beresiko duduk disebelah Edward yang jujur saja, belum aku mengenalnya tapi telah berhasil membuatku berkeringat dingin. Tapi semua tempat duduk telah penuh dan yang tersisa hanya disana. Oh God, seperti belum puas untuk membuatku malu, tidak sengaja aku tersandung kaki meja dan mengundang tawa dari perempuan yang duduk di bangku tersebut.

Aku menghembuskan napas lega setelah selamat sampai di tempat dudukku.

"Halo." Kudengar suara Edward untuk pertama kalinya setelah aku sampai di Forks. Begitu merdu dan lembut.

Aku menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan kalau aku yang memang dia sapa. Kulihat senyum kecil dibibir tipisnya ketika melihat tingkahku. Setelah memastikan kalau aku memang yang di sapanya baru aku berani menatapnya walau tidak secara terang-terangan, itu bisa membuatku pingsan seperti saat aku bertatapan langsung dengan Naruto-kun saat kelas 1.

"H-halo," jawabku terbata.

"Sepertinya beberapa minggu lalu kita tidak sempat berkenalan dengan baik. Namaku Edward Cullen. Kau pasti Hinata Hyuuga."

Bagaimana bisa berkenalan dengan baik sedang saat hari pertama saja Edward tiba-tiba kabur begitu melihatku. Aku tahu kalau di sekolah dulu sering dikatakan mirip Sadako karena mataku yang berwarna perak ini, tapi bukankah di Amerika bermata abu-abu itu banyak. Jadi tidak mungkinkan kalau Edward takut melihatku karena aku mirip Sadako? Lagipula Sadako tidak terlalu terkenal di Forks, bahkan aku sanksi kalau penduduk Forks tahu bagaimana hantu Sadako itu.

"B-bagaimana kau bisa tahu namaku?" ini pertanyaan awal yang terlintas di kepalaku. Seperti yang sempat aku sebutkan kalau aku dan Edward belum berkenalan secara formal tepatnya. Salah satu tata krama yang di ajarkan dalam keluarga Hyuuga.

Edward tertawa kecil. Sungguh suaranya seperti seorang yang sedang bernyanyi begitu merdu padahal itu hanya sebuah tawa."Aku rasa semua orang telah tahu tentang kedatangannmu. Ditambah lagi namamu yang sungguh unik."

"T-terima k-kasih." Bisa dipastikan wajahku merona sangat merah sekarang.

Mr. Simpson memasuki kelas dan mulai membuka pelajarannya hari ini tentang anatomi tubuh hewan bertulang belakang. Aku sudah mempelajari pelajaran ini sebelumnya bahkan memotong beberapa contoh seperti katak dan tikus putih. Aku bersumpah tidak akan mengikiuti pelajaran Orochimaru-sensei lagi kalau dia menyuruh memotong tikus putih yang begitu putih dan tak bernoda harus berakhir berdarah-darah. Bagi murid yang gagal memotong tikus itu dengan baik akhirnya berakhir masuk kedalam mulut Manda. Aku menyibukkan diriku dengan menulis resume di papan tulis walau aku telah tahu semua hal itu, tepatnya di paksa tahu.

"Sepertinya akan hujan lagi," gumam Edward yang dapat aku dengar.

"B-benarkah?"

"Kau tidak suka hujan?"

Aku menggeleng."Aku suka hujan. Apapun yang mengandung air."

Ada sorot terkejut dimatanya."Kalau begitu kau akan betah tinggal di Forks."

"Mungkin. Hanya saja sayangnya aku hanya sebentar disini."

"Kenapa kau pindah ke Forks yang begitu jauh dari Tokyo hanya untuk waktu yang singkat?" tanyanya dengan sedikit nada penasaran.

"A-aku disini untuk menjalani tradisi keluarga Hyuuga untuk hidup mandiri jauh dari keluarga. Dan Tou-san memilih Forks karena mungkin tempat ini dekat dengan salah satu teman Tou-san." Aku melupakan menulis catatan ditanganku dan mulai berbicara pada Edward.

"Sorry, tapi apa arti Tou-san itu?"

Aku baru sadar kalau aku bukan di Jepang."S-sorry, Tou-san dalam bahasa Jepang berarti Father atau Dad disini."

Edward tersenyum miring yang terlihat begitu tampan bahkan lebih tampan dari Kamenashi Kazuya."Dari yang aku tahu setiap nama orang Jepang memiliki arti dalam bahasa Inggris. Apa kau juga?"

Aku mengangguk."Hinata artinya tempat matahari bersinar (Sunny Place) kalau di translate."

"Nama yang indah." Wajahku merona kembali.

Edward memandangku, aku dapat melihat matanya yang berwana Topaz.

"M-maaf bukan bermaksud ikut campur. A-apa kau memakai lensa kontak?"

Edward memandanganku dengan tatapan bingung."Tidak."

Aku menunduk."S-sorry hanya saja seingatku kemarin matanyamu berwarna hitam." Seindah batu onyx, tambahku dalam hati.

Wajah Edward sedikit menegang."Kau pasti salah lihat saat itu."

Aku menggeser tempat dudukku sedikit menjauh dari Edward."S-sorry kalau itu menyinggungmu."

Aku melihat sorot khawatir dimatanya."Tidak apa-apa itu bukan salahmu."

Beberapa saat dengan keadaan saling diam akhirnya bel pelajaran terakhir berdering. Aku segera menhembuskan napasku lega. Dengan cepat aku membereskan peralatan menulisku. Bodohnya aku malah menjatuhkan semua saat akan memasukannya kedalam tasku. Tetapi sebelum semua barang tersebut berjatuhan kelantai dengan sigap Edward mengambilnya. Terlalu cepat untuk standart manusia.

"T-thank you. I am butter fingers today." Edward hanya tersenyum membalasnya. Aku meyambuti buku-buku, pena dan resume copy dan ketika tanganku bersentuhan dengan tangan Edward suhu tubuhnya dingin. Terlalu dingin untuk suhu tubuh manusia normal.

Aku menengadahkan kepalaku melihat Edward yang tiba-tiba dengan cepat beranjak melewatiku dan pergi keluar kelas. Aku memandang pintu kelas tempat Edward keluar.

"Hinata kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Bella menghampiriku.

"Apa disini juga ada legenda tentang vampire?"tanyaku spontan.

Dan aku lihat wajah Bella memucat. Impossible.

To Be Continue..

A/N: Terima kasih pada reader yang semapt meluangkan waktu dan mereview malah memasukannya dalam daftar fave untuk fic pinggiranku ini. Tapi sebersit rasa bangga karena berhasil melampaui 10 review- Horayyy- dan menjadi satu-satunya fic crossover Naruto-Twilight bahasa Indonesia. Adakah yang mau menemaniku di fandom ini? Ficku kesepian disana. T^T. Dan juga permintaan maafku karena lama updatenya.

Tentang warna aura yang bisa Hinata lihat anggap saja cakra yang sering berpendar saat seorang Hyuuga mengaktifkan Byakugannya. Bedanya mata Hinata tidak perlu mengeluarkan urat disisi matanya dan warna biru yang keluar itu seperti pendar warna aurora di sekitar bahu setiap orang tidak sampai membungkus seluruh badan.

Pojokan Review:

uchihyuu nagisa: Nagisa-chan sebagai periview pertama. Arigatou ne. Akhirnya sempat direlisasikan, maaf updatenya lama.

Yuna Claire Vessalius Kusanagi: Makasih pujiannya Yuna, aku jadi terharu.

draconisflame72: Sebenarnya ada alasan tersendiri kenapa aku memilih Hinata sebelumnya kok. Selain karena aku penggemar Hinata. Saat aku memikirkan karakter Naruto yang lain karena Naruto berasal dari Jepang jadi aku memasukkan chara yang masih mirip orang Jepang, secara Ino blondie yang ada nanti saingan sama Rosalie. Ingin Sakura karena namanya originil menandai kalau dia orang Jepang tapi rambutnya pink boo, nanti disangka orang Asia suka berambut ngejreng. Akhirnya kandidatnya Tenten dan Hinata tapi setelah aku kerangka sampai akhir aku perlu yang mempunyai kekuatan mata unik dan itu hanya milik Hyuuga atau Uchiha, sayangnya Uchiha yang tersisa cuma cowok. Jadi maaf ya kalau kesannya jadi OOC karena pemakaian Hinata disini.

Botol Pasir: Syukuran kita. Cipika-cipiki balik.

n: Hinata versi human ya? Mungkin memang mirip Katy Perry saat dia berumur 17 tahun. Dengan mata abu-abu bening yang besar bukan sipit lho, kulitnya putih dengan rona merah khas Hinata di pipinya, tubuh yang lebih berisi dari Bella di movie tetapi tetap sama tinggi, dan rambut indigo panjang lurus sepunggung dengan poni menutupi keningnya. Kawaii.

Crimson Fruit: Yah memang langka di Indonesia tetapi ada beberapa dengan pair tersebut di Inggris kok. Tapi cuma dikit.

Mei Anna AiHina: Salam kenal juga. Tidak perlu memanggil senpai. Saya belum pro kok. Jadi cukup Tsu-chan atau Tsubasa aja biar enak ya.

Ai HinataLawliet: Ai-chan nyasar abis cari alamat palsu sih.-haha- Sebenarnya aku juga nggak terlalu suka Bella yang di movie, menurutku kurang mengena saat dia Kristen memerankannya. Tapi Kristen memang cantik walau rambutnya males banget disisir tuh. Kekuatan ninjanya sebenarnya ada tapi kalau Hinata udah berubah menjadi vampire. Sedangkan fic ini nggak sampai bagian Beraking Dawn karena aku buat versi lain jadi beberapa hal di depan juga nggak ada. Sayangnya.

mery chan: Ini udah update. Orang Asia nggak semua sipit kok, kita Indonesia orang asia nggak sipit-haha-. Jadi mata Hinata nggak terlalu sipit kok.

Uzumaki Nami-chan: Nggak usah panggil senpai Nami-chan, cukup Tsu-chan atau Tsubasa saja. Udah di update nih, nggak sampai mati karena penasarankan?

Ururu kun: Ini udah update. Semoga suka dengan chap ini.

AyuCM: Ini udah di update. Semoga suka dengan fic ini.

Thanks for your reviews. Mind to review please.