Yaaaiii! Ini chapter yang kedua dari cerita gila bikinan gue! Dan nggak seperti yang kemarin gue kurangin kadar kegilaannya di sini. Gue udah minum obat lho jadi nggak kumat terus. Ha! Gue berharap nggak segila itu dan masih layak di review! Gazebo banget ya gue? -_-
Chapter 2 : Troublesome Disease
Tsunade menatap jam dengan kesal. Kemana sih si bocah nanas pemalas itu? Pikirnya. Apa virus telat Kakashi sudah mewabah di Konoha ini? Gawat, kalau virus jenis begitu mana ada obat penawarnya.
Suzune, asisten setianya sedang menuangkan teh hijau panas dari poci ke gelas Tsunade. Berharap teh ini akan sedikit membuat mood Tsunade membaik. Ia melirik ke tumpukan berkas yang tadinya putih dan isinya penting sudah menjadi kertas hitam dan tak terbaca. Tumpukan gulungan yang ternoda dan juga map-map yang basah kuyup oleh tinta. Terima kasih banyak untuk Naruto.
Dan, tiba-tiba di luar ruangan terdengar bunyi langkah kaki berat tapi cepat dan diakhiri dengan beberapa bunyi tabrakan dan barang-barang jatuh. Yah, bayangkan saja ada orang lagi lari sprint terus ngerem mendadak, nabrak dua orang yang lagi bawa banyak kertas dan dokumen penting (baca: Izumo dan Kotetsu yang sedang diperbudak Tsunade) terus diakhiri dengan jungkir balik spektakuler dengan kepala yang mendarat di lantai duluan.
Tsunade dan Suzune saling pandang tak mengerti. Lalu di luar juga terdengar sumpah serapah yang Suzune kenali sebagai suara Izumo dan Kotetsu.
Semoga bukan Naruto, gumam Tsunade kesal hanya dengan membayangkan si bocah berisik itu. Tapi, siapa lagi orang idiot yang bisa nabrak orang-orang di koridor? Kalau ninja malu-maluin banget.
Pintu ruangan kantor terbuka dan taaraaa! Mata Tsunade dan Suzune membelalak melihat siapa yang sudah akrobat secara illegal tepat di luar kantor Hokage. Well, Tsunade nggak ingat pernah mengijinkan pertunjukan sirkus diadakan di gedung Hokage ini.
Ya, orang itu yang ditunggu Tsunade dari setengah jam yang lalu. Nara Shikamaru.
"Maaf, aku telat!" katanya dengan nada malas namun sedikit ngos-ngosan. Rambutnya agak berantakan dan keringat mengalir di dahinya. Ia segera menutup pintu begitu memasuki kantor Tsunade, memblokir sumpah serapah yang berasal dari dua orang chuunin tak berdosa yang ada di luar.
Tadinya, Tsunade yang berencana untuk memarahi Shikamaru karena ia telat bila ia sudah datang malah jadi terdiam. Karena kedatangan yang luar biasa ini langsung membungkam mulutnya. Tak pernah ia menyangka kalau Shikamaru bisa sampai seheboh ini. Kiranya paling Shikamaru dengan tampang cuek masuk ke kantornya dan meminta maaf tanpa rasa bersalah. Namun, yang terjadi sebaliknya.
"Kamu tidak apa-apa, Shikamaru-kun?" tanya Suzune memecah keheningan untung bukan mecahin piring, ntar gajinya bisa dipotong. Eh, jayuz amat sich.
"Tidak, tidak apa-apa," kata Shikamaru berusaha menenangkan diri.
"Ok, akhirnya kamu datang Shikamaru. Kukira kamu ketularan Kakashi, tapi ya sudahlah. To the point saja, ada misi khusus untukmu," kata Tsunade yang marahnya sudah terbang kemana boa. Wao, BoA kan ada di Korea, jauh bener ya?
Shikamaru menatapnya dengan tampang malas. Pasti misi yang merepotkan, pikirnya. Tsunade menyodorkan selembar kertas dan Shikamaru segera mengambilnya.
"Singkat saja, Konoha akan mengadakan festival minggu depan. Yah, festival ini sudah mati sejak perang besar 3 shinobi namun aku ingin membangun kembali tradisi festival ini. Selain untuk refreshing untuk para ninja aku juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan kebudayaan kita pada Sunagakure. Jadi, aku mengundang Kazekage dan saudara-saudaranya serta beberapa ninja pilihan mereka untuk menghadiri festival tersebut," Tsunade berhenti sebentar untuk menarik napas. "Kazekage dan saudara-saudaranya akan tiba 2 hari sebelum festival dengan kata lain 5 hari lagi dari sekarang mereka akan datang lebih dulu karena ada hal-hal yang ingin kuurus bersama Kazekage, rombongan ninja Suna yang lainnya akan datang tepat saat festival dimulai. Dan, ingat ini. Aku mencanangkan kamu sebagai pemandu mereka. Yah, sebenarnya untuk Kazekage serahkan saja pada Naruto dan kakak perempuan Kazekage juga sebenarnya tidak butuh pemandu jadi anggap saja ini bagian dari formalitas," terang Tsunade yang ngakunya singkat tapi panjangnya sampe author sendiri pegel ngetiknya.
Otak Shikamaru yang mencerna kata-kata Tsunade mendadak ngadat tepat di bagian Kazekage dan saudara-saudaranya yang artinya Gaara, Temari dan Kankurou . Sisanya setelah itu sudah mantul balik sama sekali nggak masuk ke otaknya.
"Ha? Apa? Bisa diulang lagi?" tanya Shikamaru dengan bodohnya. Berusaha sebisa mungkin untuk meredam warna merah di pipinya. Duh, ada apa sih dengan badannya hari ini?
Tsunade cengo sejenak (mirip sapi ompong). Ngulangin tuh penjelasan yang bisa dibandingkan dengan essai 2 paragraf itu? Biasanya Shikamaru loadingnya cepet tapi kok sekarang malah lama ya? Batin Tsunade. Kena virus kali ya? Harus upgrade antivirusnya nih. (Lo kira komputer apa?)
"Kamu akan jadi guide untuk saudara-saudara Kazekage," rangkum Tsunade yang malay banget ngulang penjelasannya tadi. (Nah gitu dong, kan author jadi nggak pegel nulisnya).
"Oh, baiklah," kata Shikamaru dengan nada malas namun mengkhawatirkan. Suzune memandang khawatir chuunin di depannya ini.
"Shikamaru-kun sedang sakit?" tanyanya. Shikamaru menoleh padanya dan menggeleng. Tsunade hanya mendesah. Kena penyakit anak dalam masa birahi mungkin , pikirnya. (Eh, kasar amat, emangnya binatang!? Maksudnya puber gitu loh).
"Ya sudah, kau bisa pergi." Dan tambahan, jangan lupa untuk menjemput Kazekage dan saudara-saudaranya nanti, kata Tsunade. Shikamaru mengangguk malas dan segera keluar dari ruangan.
Begitu Shikamaru keluar, Suzune langsung menggumam, "Shikamaru-kun kenapa ya?" dengan nada khawatir. Tsunade kembali lagi ke pekerjaannya. "Nggak tahu tuh, lagi kena penyakit yang merepotkan mungkin," katanya. Suzune menatap bosnya dengan tampang bingung. "Apa tidak sebaiknya diperiksa saja?" tanyanya polos.
Tsunade menatap Suzune dan tersenyum. "Penyakit ini nggak ada yang bisa nyembuhin. Yah, tapi malah normal kok. Tadinya kukira seumur-umur ia tidak akan terkena penyakit ini. Yah dulu memang penyakit seperti ini tabu untuk seorang ninja. Tapi, namanya juga manusia. Ya jadinya normal-normal saja, lumayan lega sekarang ternyata anak itu masih termasuk normal . Mudah-mudahan saja tidak berpengaruh ke pekerjaannya," jawab Hokage kelima itu.
"Maksudnya, penyakit apa ya?" tanya Suzune masih belum connect.
"Penyakit jatuh cinta, "jawab Tsunade dengans senyum keibuan, coz kalau author bilang senyum ke-nenek-an ntar author bisa dipukul mental sampai Afrika.
(Tsunade : Ya, bagus-bagus. Kamu ngerti juga ya. Anak baik)
(Purinsha: *sweatdrops* eh, iya...he...he..)
Sementara itu, cowok berambut ala nanas yang sedang dibicarakan kedua wanita itu hanya bersin saja. Huaachiii!
Apa ada yang sedang ngomongin aku ya? batin Shikamaru sambil menggosok hidungnya. Kemudian, ia melihat kertas laporan misinya. Misi yang menyebalkan. Misi yang merepotkan. Kenapa sih harus selalu dia yang mengurusi teman-teman dari Suna itu? Untung Gaara sudah diurus oleh Naruto, pikirnya.
Well, meski sudah berpikir seperti itu, kenapa malah detak jantungnya bertambah cepat dan pipinya kembali menghangat. Bahasa gaulnya blushing lah. Shikamaru menggosok wajahnya dengan punggung tangannya dan berjalan cepat keluar dari gedung Hokage.
"Ah! Shikamaru!" panggil seseorang di belakangnya. Shikamaru menoleh dan melihat seorang kunoichi berambut pink di belakangnya melambaikan tangan dan tersenyum ceria. Ia menghampiri Shikamaru dan Shikamaru berusaha menyembunyikan warna semburat merah di pipinya.
"Kau dapat misi dari Tsunade-sensei mengenai Kazekage dan saudara-saudaranya ya?" tanyanya. Shikamaru berusaha sebisanya untuk menghiraukan kata Kazekage dan saudara-saudaranya dan menahan warna merah di pipinya semakin gelap.
"Ya, begitulah." Merepotkan," jawab Shikamaru dengan nada monoton. Shikamaru melirik Sakura. Meski dibuat sibuk dengan perasaannya sendiri ia melihat Sakura terlihat ragu-ragu. Ada apa ya?
"Soal kemarin maaf ya," jangan diambil hati, kata Sakura. Ha? Kemarin?
Shikamaru hanya diam tak mengerti. "Oh, aku harus menemui Tsunade-sensei sekarang, duluan ya Shikamaru," kata cewek berambut pink itu dan segera pergi tepat ketika Shikamaru ingin menanyakan perihal kemarin.
"Kenapa Shikamaru? Masih marah soal kemarin ya?" suara Ino bergaung di telinganya.
Seakan membentur tiang listrik eh bukan nggak cocok, maksudnya seakan baru menemukan kunci yang dicari, Shikamaru terpaku dan mereplay ulang lagi kata-kata Ino itu. Sekarang volumenya diperbesar dan beli yang orisinil bukan yang bajakan. (Eh! Lu kira otaknya Shikamaru tuh DVD player apa?)
Kemarin...? Ino dan Sakura menyebut-nyebut soal kemarin tapi sebenarnya ada apa dengan kemarin?
Ia menggaruk kepalanya. Marah soal kemari? Jangan diambil hati? pikirnya bingung. Kini ia menemukan ruang kosong di ingatannya. Apa yang terjadi kemarin? Kecebur ke got? Keselek duri ikan? Nabrak pohon? Dikejar-kejar anjing rabies?
Bukan, bukan, bukan.
Ia memejamkan matanya. Memfokuskan diri ke ingatannya, ia bahkan tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Ia terus menggali ingatannya. Ayolah, ia memang gampang lupa untuk hal yang membosankan tapi bila Ino sampai mengira ia marah mengenai hal itu mengapa ia bisa lupa soal itu?
Kemarin, kemarin, kemarin, kata itu terus diulang dibenaknya seakan menjadi mantra untuk manggil jelangkung. Datang tak dijemput, pulang nggak diongkosin. Khi...hi...hi... (*ceritanya ketawa kuntilanak).
Dan, tiba-tiba kedua matanya terbuka. Oh ya! Kemarin!
Hayo! Kemarin ada apa ya? Sekarang di potong disini dulu. To be continued!
Review! Kalian lebih suka cara penulisan gila hilang control atau komedi ringan seperti ini?
