"Gaara!" Teriak Temari tiba-tiba.

"Lho kok kau tahu namanya? Kau kenal dia?"

"Naruto, orang yang kau tabrak itu adikku.."

"Apa?"

MIND READER

Cast: Gaara, Uzumaki Naruto, Other

Pair: NaruGaa

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Yaoi/BL/MaleXMale/ typo/ EYD hancur

Ini hanyalah FF semata~

Chapter 2: Collaboration

Happy Reading~

.

.

.

.

.

-oOo-

.

.

Gaara menghela nafas lelah, daritadi kakak perempuannya ini bertanya apakah ia baik-baik saja. Padahal Gaara sudah bilang bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, tapi kalau yang namanya Temari perempuan itu tidak bisa percaya begitu saja.

"Benar kan Gaara, kepalamu tidak sakit lagi?" Kini mereka berdua tengah duduk di sofa ruang tengah dengan sang kakak yang tidak berhenti membolak-balik wajah sang adik jika ada luka lain yang tidak terlihat.

Diperlakukan seperti itu Gaara hanya diam, malas menjawab pernyataan Temari yang tidak pernah berhenti menanyakan keadaannya.

"Gaara, kalau ada orang bertanya dijawab dong. Kebiasaan.."

"Aku tidak apa-apa Temari.."

"Nahh, selalu seperti itu. Tidak apa-apa bagaimana? Kepala kamu aja diperban tebal kayak gini. Kok bisa seperti ini Gaara?"

'Untung saja wajah manisnya tidak sampai memar.' Batin Temari sedangkan Gaara hanya facepalm.

Gaara menghela nafas lagi, Temari terlalu berlebihan. Padahal sebenarnya ia mengantuk dan ingin cepat-cepat bergelung di ranjang empuknya, namun sejak setengah jam tadi Temari tiba-tiba pulang cepat dan langsung menginterogasi dirinya. Akhirnya Gaara jadi tidak bisa beristirahat, padahal badannya terasa pegal-pegal karena habis jatuh dari motor tadi.

"Gaara! Ya ampun! Temari apa kecelakaannya parah? Kenapa sampai seperti ini?"

Satu lagi kakak Gaara, yang menyebalkan -menurutnya- tiba-tiba datang dan beralih memegang kedua pundak Gaara dan membolak-balik seperti yang dilakukan kakak perempuannya tadi. Gaara hanya meringis ketika Kankurou terus memeriksa tubuh Gaara.

"Aku tidak tahu, tapi kata Naruto ia sempat terlempar ke pinggir pembatas jalan.."

"Naruto? Ia melihat kejadiannya?"

"Bukan. Ia yang menabrak Gaara.."

"Bosmu itu? Menabrak Gaara?"

Temari mengagguk kemudian, beranjak pergi ke dapur. Sedangkan Gaara sendiri terlihat tidak perduli malah mengambil remote TV dan menyalakannya, menganti-ganti chanel yang menurutnya bagus.

"Kenapa bisa Temari?" Kankurou mengikuti Temari ke dapur.

Gaara dengan cueknya tetap menonton acara TV kesukaannya. Dalam hatinya tak bisa ia pungkiri bahwa ia terkejut mengetahui bahwa Naruto adalah bos di tempat Temari bekerja. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang baru Gaara sadari jika diluar sedang gerimis, mungkin tengah malam nanti hujan pikirnya.

.

.

-oOo-

.

.

Pukul 11 malam Naruto baru sampai di apartemen mewahnya, tak banyak membuang waktu ia langsung saja menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia menghidupkan shower dan sengaja memilih air dingin untuk menyegarkan kepalanya padahal diluar sedang hujan deras.

Naruto hanya berdiri sambil mendongak dibawah shower meresapi dinginnya suhu dan air shower yang menerpa permukaan kulit wajahnya. Pikirannya menerawang ke seorang pemuda yang tadi siang ia tabrak.

'Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi orang bernama Kabuto itu yang sudah membuat ban mobilmu selip.'

Ia tak tahu harus percaya atau tidak pada pemuda berambut merah, tapi bukankah Gaara sudah membuktikan padanya jika ia bisa membaca pikirannya, termasuk pikiran Kabuto tentunya. Kalau dipikir-pikir Gaara juga bukan mirip anak nakal, apakah ia harus percaya pada anak itu?

Ngomong-omong soal Gaara, Naruto benar-benar terkejut karena Gaara merupakan adik dari Temari chef di hotelnya. Ia pikir adiknya Temari hanya Kankurou ternyata ada lagi dan katanya yang paling bungsu, Naruto tentunya shock dan tambah merasa bersalah. Pasalnya Temari merupakan teman semasa SMA dulu dan mereka berdua sangat dekat hingga waktu mereka berdua lulus Temari pindah ke kota Suna sedangkan Naruto tetap di Konoha, hingga 3 tahun yang lalu Temari kembali ke Suna dan mulai bekerja di Hotelnya sebagai seorang chef. Tadi Temari sempat menelponnya bahwa besok ia akan ambil cuti satu hari jadi besok lusa baru berangkat.

"Apa aku harus kerumahnya ya?" Gumam Naruto entah pada siapa.

Ia mematikan shower mengambil handuk dan melilitkan pada tubuh bagian bawahnya, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.

"Tak ada salahnya berkunjung.."

.

.

-oOo-

.

.

Keesokan harinya Gaara sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah, ia sedang berdiri di depan cermin sambil sesekali memegang perban dikepalanya dan hasilnya ia meringis menahan sakit akibat tekanan tangannya pada kepalanya. Sadar akan tindakan anehnya ia mengambil tas sekolahnya yang sedari tadi tergeletak di atas ranjangnya, kemudian bergegas untuk turun menuju lantai bawah.

"Gaara! Kau mau kemana?" Baru saja Gaara sampai pada pijakan tangga terakhir, sang kakak Temari tiba-tiba berteriak padanya.

"Sekolah.." Ucap Gaara dengan wajah datar sebenarnya ia cukup terkejut dengan teriakan Temari.

"Jangan bercanda Gaara, kau masih sakit kan? Sudah ganti bajumu! Kau akan libur hari ini, aku tidak mau ambil resiko bahwa nanti kau sampai pingsan.."

'Aku tidak selemah itu.' Pikir Gaara.

"Kenapa Temari? Kenapa harus teriak-teriak?" Kankurou baru saja datang dari arah dapur sambil salah satu tangannya membawa secangkir teh.

"Lihat itu Kankurou, Gaara sudah mau berangkat sekolah! Wajahnya saja masih pucat!"

"Gaara, betul kata Temari kau lebih baik istirahat dirumah dulu saja.."

"Tapi, aku.."

"Sudah sana ganti bajumu, lalu cepat turun Neechan sudah membuat sarapan kita sarapan bersama.." Ucap Temari sambil mendorong Gaara untuk menaiki tangga.

'Anak itu..' Pikir Temari yang tentu saja didengar oleh Gaara.

.

.

-oOo-

.

.

Naruto melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju perjalanan ke rumah Temari tentunya untuk menengok si merah. Sempat sebelum pergi, ia merasa kebingungan masalah buah tangan yang hendak ia berikan pada Gaara, ia menghabiskan waktu sekitar satu jam hanya untuk memikirkan hal tersebut. Sempat terlintas di pikirannya bahwa ia akan memberikan Gaara boneka, tapi ia takut nanti bakal digantung Temari. Akhirnya dengan bantuan Sai ia berhasil membawakan beberapa kue muffin dan bolu untuknya.

.

.

.

.

"Kenapa Neechan nggak berangkat saja sihh?" Tanya Gaara memandang Temari yang tengah berkutat di dapur.

"Lho, Neechan cuti Gaara.. kamu kan lagi sakit, Kankurou nggak bisa libur jadi Neechan yang bakal jagain kamu.."

Gaara hanya manyun dan melanjutkan aktivitasnya bermain game di gadgetnya. Sedari tadi anak itu hanya berguling-guling tidak jelas di ruang tengah, yang membuat Temari sedikit jengah.

"Gaara, kamu itu kalo sakit tiduran aja di kamar.. atau mau Neechan temenin?"

'Kan aku udah bilang aku nggak sakit!'

Ting Tong

"Gaara, kamu tolong bukain pintunya dulu yaa.. Neechan lagi sibuk.."

Tanpa banyak protes, Gaara melangkah menuju pintu memutar kenopnya dan membukakan pintu melihat siapa tamu yang berkunjung pagi-pagi ke rumahnya.

"Ehh.. Gaara.."

Gaara hanya tertegun memandang Naruto yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya sambil menenteng papper bag.

"Ahh, silahkan masuk.." Gaara menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Naruto untuk masuk.

"Naruto?! Kenapa tidak bilang mau kemari?" Ucap Temari ketika melihat Naruto yang baru saja datang.

"Kau terlihat berbeda sekali ketika di rumah Temari.."

"Kau ini! Sudah duduk saja dahulu, aku masih ingin melanjutkan membuat jus.."

Naruto hanya tersenyum dan mengangguk kemudian mengambil tempat duduk disamping Gaara yang masih berkutat dengan gadgetnya.

"Gaara, motormu hari ini akan jadi nanti petugas bengkel akan mengantarnya kemari.." Gaara menatap wajah Naruto ketika dirinya berbicara, ia diajarkan dan sering diingatkan oleh Temari untuk menatap wajah orang yang berbicara padanya.

"Hm. Terima kasih." Gaara hanya mengangguk dan berucap datar.

"Bagaimana dengan lukamu? Apa masih sakit? Oiya, ini aku bawakan kue muffin dan bolu untukmu semoga kau suka.." Ucap Naruto seraya mengelus permukaan perban di kepala Gaara.

"Aku tidak apa-apa walau kadang agak pusing, kau tak perlu repot-repot seperti ini.."

"Kalau masih sakit seharusnya kau itu bilang Gaara.." Gaara hanya mengangguk sembari mengintip kue yang di bawa Naruto.

Naruto sebenarnya sedikit speechless dengan sifat Gaara yang cuek dan datar, ia sedikit bingung apa Gaara tidak capek dengan wajah datar seperti itu?

"Gaara, soal Kabuto.." Naruto memelankan suara sambil sesekali melirik kepada Temari yang tengah mengupas buah mangga.

"Ada apa?"

"Begini, soal kau yang bisa membaca pikiran Kabuto dan kau bilang bahwa dia yang berusaha mencelakaiku. Kau benar-benar serius kan?"

"Tak apa kalau kau tidak percaya.."

"Ahh, bukan seperti itu.. aku hanya memastikan saja.."

"Aku memang mendengarnya sendiri, lebih baik kau harus berhati-hati padanya.."

"Aku percaya padamu.."

Gaara menatap wajah Naruto intens. "Apa?"

"Ya, dan aku harap kau mau berkerja sama denganku.."

Gaara terdiam dan mengernyit heran.

"Aku mau kau membantuku untuk mengetahui apa alasan Kabuto melakukan hal itu.."

'Apa maksudnya..'

.

.

.

.

.

.

-To Be Continued-

.

.

.

.

.

Bersambung~

Maaf jika chapter ini agak membosankan, untuk chapter depan saya usahakan akan update cepat:)

Terima kasih sudah membaca~ /bow/

.

.

Sekian.