Disclaimer: Masashi Kishimoto

Reply Review:

#Retnoelf: iya ini next…^^/ makasih banyak read reviewnya…

#shima: makasih banyaakkk ^0^ iya dong ini lanjut…makasih banyak juga buat read reviewnya…

#mira: iya ini lanjut ;-) makasih banyak ya read n reviewnya…

Makasih juga buat yang udah log in: Aiko Vallery, Akane-Rihime, choikim1310, mifta cinya, Kuma Akaryuu, efi. astuti. 1, Lisa565, and Miyu Mayada. Dijawab lewat inbox ya ^^/

.

.

.

Chapter 2: Goukon

.

.

.

Butiran putih melayang turun dengan perlahan dan mulai menutupi seluruh permukaan bumi. Seorang bocah blonde berjalan di bawahnya, beberapa butiran salju menimpa tubuhnya lalu meleleh. Di jalanan yang sepi ia berhenti melangkah, wajahnya tertunduk, lalu ia tertawa.

"Haha…" ia menutupi wajahnya dengan satu tangan. "…ahaha pantas saja…hahaha lucu sekali," ia tertawa, tapi terlihat jelas dari ekspresi nya kalau ia terluka. Bagaimana tidak? Dua tahun dia pacaran dengan gadis itu, gadis yang baru diputuskannya beberapa saat lalu, dan sekarang dia mengetahui kenyataan kalau gadis itu tengah menyukai seseorang bahkan sejak dua tahun sebelum mereka pacaran. Dan sampai saat ini mantan pacarnya itu masih menyukai cowok tersebut.

Cowok itu menengadah, menyambut butiran putih yang mendarat ke wajahnya.

'"Ne~ Sakura-chan…apa sekali saja, walau sedikit, kau pernah punya rasa terhadapku?"

~OoooOoooO~

Naruto tengah duduk di meja belajarnya sambil membuka laptop dan online di facebook saat seseorang menge-chat nya.

"Dobe?"

Begitu isi chat nya yang langsung membuat Naruto berkedut kesal. Ia melihat nama account si pengirim. Amaterasu no Susano'o. Foto profilnya bergambar siluet elang dengan background merah darah.

"Siapa?" Naruto membalas chat itu.

"Ah, memang benar Dobe ya. Kau yakin mau ikut Goukon itu?"

Naruto jadi bisa menebak siapa orang ini, bisa Suigetsu, Juugo atau Sasuke. Tapi yang memanggilnya Dobe Cuma Sasuke.

"Cih! Jadi ini kau ya Teme! Iya aku ikut, kenapa sih tanya2 terus? Dan apa2an nama account mu itu? Lebay sekali."

"Berisik! Kalau pakai nama asli pasti byk org nggak penting yg nyepam di timeline ku. Dan soal Goukon…entahlah, kau langsung pucat saat melihat profil cewek terakhir itu. Kau mengenalnya?"

Jari Naruto berhenti di atas keyboard tanpa mengetik apapun. Cukup lama dia Cuma mematung di depan layar computer nya itu hingga chat Sasuke berikutnya masuk.

"Ah, jadi tebakanku benar ya? Dia mantan pacarmu."

Twitch!

Naruto kesal kenapa Sasuke asal nebak dan menyebalkannya tebakan Sasuke benar. Chat Sasuke berikutnya masuk.

"Hoho jadi kau belum bisa move on dari cewek itu & skrg dia malah tertarik padaku?"

"Teme…" geram Naruto lalu membalas chat Sasuke.

"Berisik. Jgn sok tahu Teme!"

"Makanya aku tanya kau betulan mau ikut Goukon? Atau kalau kau mau aku nggak jd ikut Goukon deh…" balas Sasuke.

"Apa2an itu? Goukon ini kan intinya ketemuan denganmu, kalau kau tidak ikut kacau nanti."

"Aku tahu. Tapi bgmna dgmu?"

"Geez, kukira kau bukan tipe yg peduli pd org lain. Jgn tiba2 sok perhatian begitu. Bikin merinding. Dan soal Sakura…yeah, justru Goukon ini utk membuktikan kalau aku sudah tdk ada apa2 dgnya. Kalau aku menghindar bukannya justru malah menunjukkan aku masih punya rasa?"

"Oh…jadi namanya Sakura—aku pelupa kalau soal cewek yg nggak kupedulikan—baiklah, santai saja. Aku tidak akan merayu atau melakukan apapun padanya besok."

"KAU DENGAR OMONGANKU NGGAK SIH? #maksudku baca chat ku baik2 nggak sih?"

Setelah itu tidak ada balasan chat. Naruto masih merasa kesal, tapi iseng saja dia menge-klik account Sasuke dan melihat tanda add friend di pojok timeline Sasuke. 'Dasar brengsek, dia Cuma nge-chat tanpa mau meng-add ku,' geram Naruto dalam hati tapi tetap saja menge-klik add friend. Dari account Sasuke Naruto menemukan account Suigetsu dan Juugo lalu menge-add nya. Tapi bagaimana Sasuke menemukan account nya ya? Naruto ingin menanyakan itu tapi batal saat melihat nama account nya sendiri, Namikaze Naruto. Ia memang menggunakan nama asli, jadi mungkin saja Sasuke dengan mudah bisa menemukannya.

~OoooOoooO~

"Kaa-san, nanti aku pulang agak malam ya…mungkin sektitar pukul 7 p.m." pamit Naruto sebelum berangkat les Sabtu berikutnya.

"Huh? Memangnya kenapa? Les kan berakhir pukul 2 p.m.?" heran Kushina.

"Aku ada acara dengan teman pukul 3 p.m. Tidak tahu selesai kapan, tapi kukira tidak akan lama."

"Wah, sudah dapat teman di tempat les ya," senyum Minato. Naruto balas tersenyum.

"Iya dong Tou-san, lebih banyak teman lebih baik kan," cengir Naruto. "Ya sudah, aku berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan…" balas kedua orang tua nya.

Naruto memasukkan tangannya ke saku mantel. Salju sudah tidak turun tapi udara tetap saja dingin. Ia ke stasiun seperti biasa dan naik kereta seperti biasa.

"Hoi," seseorang menyapanya. Sasuke.

"Ah, hai," balas Naruto. "He? Jadi yang kemarin kita juga satu kereta? Aku sama sekali tidak melihatmu."

"Hn," Cuma itu jawaban Sasuke.

"Jadi, dimana rumahmu? Kau sudah ada di kereta sebelum aku naik," cerocos Naruto. Sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan kediaman Sasuke.

"Satu stasiun sebelum ini," jawabnya enteng. "Soal nanti…"

"Hei, sudalah," Naruto meletakkan lengannya ke pundak Sasuke. "Sudah kubilang tidak apa-apa," cengirnya.

Sasuke Cuma melirik flat lalu melempar tangan Naruto dari pundaknya. "Jangan sok akrab!" dengusnya.

"Hiiieee? Apa-apaan itu? Kita kan memang teman…!"

"Cih!"

"Jangan mendecih begitu! Aku mendengarmu tauk!"

~OoooOoooO~

Salju mulai turun saat mereka keluar dari tempat les.

"Yosh, akhirnya Goukon juga," semangat Suigetsu. "Tapi menyebalkan sekali, kenapa kau harus dapat nilai jelek sih? Kita jadi harus keluar jam 2 nih!" omelnya pada Naruto. Pasalnya Cuma dia yang dapat nilai di bawah 50, jadi dari yang seharusnya keluar les pukul 12 p.m. mereka jadi keluar pukul 2 p.m.

"G-guh…ka-kalian kan bisa keluar duluan," bela Naruto.

"Mau keluar dulupun kau ini kan ikut Goukon. Kalau kami meninggalkanmu mana jadi. Lagipula memanya kau tahu daerah sini?!"

"Sudahlah Suigetsu. Goukon-nya kan jam 3. Tidak perlu marah-marah," Juugo menengahi.

"Tapi kan kita bisa…" mereka ngobrol ringan sambil menuju tempat ketemuan mereka. Begitu juga Naruto, tapi terlihat sekali kalau dia berusaha ngobrol untuk meredam nervous nya. Saat akan memasuki café, Naruto berhenti sejenak di depan pintu, tak langsung mengikuti Suigetsu dan Juugo yang masuk ke café tempat ketemuan mereka. Ia menelan ludah berat, lalu tiba-tiba Sasuke menepuk punggungnya dengan keras.

"A-apaan sih Teme!" omel Naruto.

Sasuke Cuma menatapnya sambil lalu, mengikuti langkah Suigetsu. Naruto tahu Sasuke tengah berusaha menenangkannya, tapi tetap saja. Jadi dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

"Kau akan baik-baik saja Naruto. Kau akan baik-baik saja," ucapnya pada diri sendiri lalu memasuki café. Di kejauhan Naruto melihat keempat gadis itu sudah duduk di bangku yang mereka pesan, Suigetsu dan Juugo juga sudah di sana, dan Naruto Cuma bisa membuka mata lebar dengan sedikit kesulitan bernafas. "Aku baik saja aku baik saja…" ucapnya berulang-ulang. Lalu detik berikutnya ia kembali berjingkat kaget saat Sasuke meninju belakang kepalanya. 'Eh? Apa dia menungguku?' batin Naruto. Ia dan Sasuke lalu menyusul Suigetsu dan Juugo.

"Nah, itu mereka," ucap Suigetsu saat Naruto dan Sasuke manampakkan diri. Naruto sekilas melihat Sakura, jelas sekali kalau gadis itu tampak terkejut. Tapi Naruto juga sama sekali tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang tegang.

"Eh, hai," Naruto menumpahkan kenervousannya dengan sapaan yang lumayan kikuk didengar. "Maaf membuat kalian menunggu," ia lalu duduk di bangku, tapi paling pinggir. Sasuke menatapnya dengan sebelah alis terangkat. "O-oh, sorry," ujarnya lalu bergeser ke sebelah Suigetsu, menyisakan ruang untuk Sasuke duduk.

"Nah, sekarang…" Suigetsu memulai obrolannya tapi Naruto tak begitu konsentrasi. Matanya terus jelalatan karena nervous, ia langsung memalingkan pandangan tiap kali ekor matanya menangkap bayangan Sakura, ia membuang pandangan dan tanpa sengaja menatap Karin yang rupanya tengah menatap ia dengan tatapan horror.

'Huh? Apa?' tanya Naruto dengan hanya tatapan mata. Tatapan mata Karin terlihat makin buas, seperti ancaman. Mungkin dia ingin mengisyaratkan kalau jangan sampai orang lain tahu dia ikut Goukon untuk ketemu Sasuke, dan juga jangan bocorkan rahasia soal umurnya, jati dirinya dan lain-lain-lain-lain. Naruto membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya tanda 'ok' di bawah meja, tapi bisa untuk Karin melihatnya. Lalu terlihat jelas Karin lalu menyeringai puas dan mulai ikut obrolan Suigetsu.

"Na-Naruto-kun, a-apa kau satu sekolah juga dengan Sasuke-kun?" Hinata menanyai dengan suara yang sangat lembut. Sementara Naruto tengah sibuk meredam kegugupannya sambil minum coklat panas yang tadi dia pesan, lalu ia tersedak karena Suigetsu menyikutnya.

"Huh? E-eh? Apa?" ucapnya.

"Well, dia tidak satu sekolah dengan kami," Juugo menjawab pertanyaan Hinata.

"Ahaha sorry sorry, dia ini memang sedikit bermasalah kalau berhadapan dengan cewek," bela Suigetsu yang Naruto tidak yakin apa itu pembelaan. Naruto Cuma bisa nyengir kuda.

"Yeah, semacam itu," jawab Naruto. "Hitana-chan."

"Hinata," Suigetsu membenarkan.

"O-oh! Maaf," ucap Naruto.

"Hmph…!" Sasuke terlihat menahan tawa dengan sedotan di mulutnya. Naruto langsung menginjakk kaki Sasuke sehingga Sasuke tersedak oleh minumannya dan sebagian mengalir ke leher Sasuke. Kini ia menatap Naruto dengan tatapan dinginnya yang biasa sementara Naruto balas menatapnya dengan tatapan puas.

"Ah, Sasuke-kun, kau kurang hati-hati, tumpah deh."

Deg!

Sakura mengambil sapu tangan dan mengelap cairan di leher dan bibir Sasuke. Tentu saja Naruto langsung membuang pandangan.

"Biar aku saja," Sasuke menyingkirkan tangan Sakura, tapi gadis itu keras kepala.

"Tidak apa-apa, biar aku saja," senyumnya dan terus menyentuh Sasuke.

"Maaf, aku ke toilet sebentar," Naruto bangkit saat akhirnya tak dapat bertahan. Ia bergegas ke toilet dan membasuh mukanya di wastafel, lalu tertunduk di sana cukup lama. Memandang wajahnya yang basah di cermin dan terkejut sendiri akan ekspresi wajahnya. Ia menyentuh bayangan wajahnya di cermin.

"Ahaha apa aku berwajah menyedihkan begini?" ucapnya pada diri sendiri.

"Yeah, memang menyedihkan," jawab Sasuke. Dari cermin terlihat ia berdiri di depan pintu lalu masuk dan berdiri di dekat Naruto, menyalakan keran di wastafel sebelahnya. "Maaf soal yang tadi. Padahal aku sudah janji," ucap Sasuke sambil membersihan sisa minuman lengket di bibir dan lehernya. Naruto tak menjawab, Cuma suara keran yang terdengar untuk beberapa detik. Naruto melirik Sasuke yang masih membasuh lehernya.

"Hei, kau bisa masuk angin," tunjuk Naruto karena baju Sasuke ikutan basah gara-gara Sasuke membasuh lehernya, airnya mengalir sampai dada. Sasuke hanya mengerutkan sebelah alis.

"Nggak bakal deh. Aku nggak gampang sakit," ucap Sasuke lalu mematikan kran. "Mau kembali kesana atau tidak?"

Naruto terdiam sejenak. "Tentu saja," jawabnya kemudian. Mereka kembali duduk bersama yang lainnya. "Pakai ini," bisik Naruto sambil menyodorkan syal nya pada Sasuke. Sasuke menggeleng pelan. "Pakai!" Naruto mulai melotot, tapi Sasuke tetap tak peduli. Naruto memicingkan mata lalu dengan seenaknya membelitkan syal itu ke kepala dan leher Sasuke. Mau tidak mau Sasuke pun memakainya meski setelah menginjak kaki Naruto keras-keras.

Cukup lama mereka berada di café dan ngobrol, selanjutnya mereka berencana jalan-jalan di district Arcangel yang katanya surga belanja.

"N-Naruto-kun, apa kau keberatan kalau kubelikan syal?" tanya Hinata.

"Eh? Tidak perlu. Aku punya banyak syal di rumah kok," cengir Naruto. Hinata tampak kecewa. Saat para gadis berjalan sedikit lebih di depan, Suigetsu langsung mencubit keras pinggang Naruto.

"Dasar bodoh, peka sedikit kenapa sih? Seharusnya kau pura-pura mau dibelikan!" omel Suigetsu dengan suara rendah tapi penuh penekanan.

"Ehh? Habis kukira bakal merepotkan, syal ku sudah banyak. Lagian daripada cewek itu kehabisan uang untuk membelinya?" balas Naruto.

"Ada apa?" tanya Ino karena melihat cowok-cowok berjalan di belakang.

"Tidak, tidak ada apa-apa," cengir Suigetsu.

Mereka melanjutkan jalan-jalan sambil ngobrol ringan, sesekali memasuki toko yang mereka anggap menarik.

"Ah," ucap Naruto bersamaan dengan Sasuke saat mereka melihat toko accessories.

"Kalian mau kesana?" tanya Ino.

"Ah, ayo, kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu," ucap Karin. Mereka berjalan menuju toko itu. Naruto yang berjalan di belakang Sasuke hanya bisa tertunduk saat melihat Sakura yang tengah jelas-jelas mencoba menggandeng tangan Sasuke.

Mereka memasuki toko itu, Naruto langsung menuju bagian accessories kamar. Sudah lama ia ingin membeli lampu lava, lampu lava miliknya pecah beberapa bulan yang lalu tapi ia belum sempat membeli penggantinya. Naruto memerhatikan pajangan-pajangan lampu lava itu, dulu ia punya yang warna biru-hitam, sekarang ia ingin ganti warna. Ia melihat sebuah lampu berwarna merah darah dan hitam. Naruto menjulurkan tangan untuk mengambilnya dan bersamaan dengan tangan Sasuke yang juga memegang lampu itu.

"Hei! Itu milikku," protes Naruto dan tak berniat untuk melepaskan lampu lava di genggamannya.

"Huh? Memangnya kau sudah membayarnya?" Sasuke juga tampak tak mau melepaskan.

"Oi oi, gimme break. Aku melihatnya duluan, kau cari warna lain saja!"

"Kau yang cari warna lain, ini warna favorite ku!"

Naruto jadi ingat foto profil Sasuke di facebook yang memang kombinasi merah dan hitam. Tapi Naruto tidak berniat mengalah.

"Oh ayolah, jangan berlagak seperti anak kecil yang mendekor kamar hanya dengan warna favorite," oceh Naruto. Mereka saling berebut lampu itu hingga…

Prang…!

Lampu itu jatuh dan pecah. Petugas toko menatap mereka dengan melongo lalu geleng-geleng kepala sambil melipat tangan di depan dada. Naruto dan Sasuke patungan untuk membayar lampu pecah itu, dan Naruto membeli lagi satu lampu lava berwarna orange-hitam, sementara Sasuke batal membeli karena sudah tidak ada lagi yang warna merah darah. Ia tampak keluar toko dengan kecewa.

"Ghh…" Naruto jadi merasa sedikit bersalah. "Kubelikan yang lain—…"

"Kubelikan yang lain deh, Sasuke-kun. Kau mau beli apa? Biar aku yang belikan," ucap Sakura, ia tampak bergelayut di lengan Sasuke.

"Sorry, tidak perlu," Sasuke melepaskan tangan Sakura dan berjalan mendahului. Mereka melanjutkan jalan-jalan, kali ini memasuki toko jam. Suigetsu dan Juugo menemani cewek-cewek itu membeli jam super feminime, tapi Sakura malah terlihat tengah mengamati jam tangan buat cowok. Ia lalu memilih salah satu dan membayarnya ke kasir, jam yang lumayan mahal.

"Sasuke-kun, ini buatmu. Kupakaikan ya? Sebagai kenang-kenangan kita pernah bertemu," ucap Sakura dan menarik tangan kiri Sasuke, tapi Sasuke menarik tangannya.

"Maaf, aku tidak suka memakai accessory apapun," ucap Sasuke.

"Yeah, dia memang paling tidak suka dengan benda begituan," ucap Juugo yang memang setidaknya lebih mengenal Sasuke.

"Ka-kalau begitu disimpan saja juga tidak apa-apa," Sakura menyodorkan jam itu pada Sasuke.

"Daripada tidak berguna untukku bukannya lebih baik kau memberikannya pada orang lain?" jawab Sasuke dingin.

"Oi Sasuke, Cuma menerima pemberiannya nggak masalah kan?" protes Suigetsu.

"Aku tidak suka accessory yang dipakai di badan, kau tahu sendiri itu. Kalau kau mau untukkmu saja," Sasuke mengambil jam itu dari tangan Sakura dan memberikannya pada Suigetsu. "Ini Goukon kan? Siapa tahu kau yang bisa jadian dengannya."

Suasana tegang sesaat hingga Hinata menyadari sesuatu.

"E-eh? Naruto-kun kemana ya?" ucapnya. Mereka celingukan, Naruto memang tidak ada disitu.

"Dasar bocah itu…!" geram Karin.

"Ah, itu dia," tunjuk Ino yang melihat Naruto di luar dan tengah menuju toko.

"Dari mana saja kau?" tanya Suigetsu.

"Dari pedagang di pinggir jalan. Ah, ini untukmu," Naruto menyodorkan sebuah kalung berwarna perak yang lumayan manis, liontinnya berbentuk salib berwarna biru tua dengan pinggiran hitam, di belakang salib itu ada bentuk tambahan menyerupai Kristal salju. Tidak terlalu buruk. (Readers bisa lihat gambarnya di facebook page: Indonesian Manga, atau lewat link nya: : / / w w w. facebook indonesianmanga / photos / a. 387429501396276. 1073741828. 387318041407422 / 589438647862026 / ? type = 3 (hilangkan spasi))

"Untuk ganti lampu nya," ucap Naruto.

Juugo sudah nyaris protes lagi. "Sasuke tidak suka acc—…"

"Lampu lava nya itu mahal, dan kau Cuma menggantinya dengan barang dari pedagang di emperan jalan? Lagipula apa-apaan warnanya? Biru! Aku lebih suka merah darah!" ucap Sasuke sadis tapi tetap merebut kalung itu dari tangan Naruto.

"Grr…terimakasih dikit kek. Itu juga mahal tauk! Dan warnanya nggak ada yang merah. Lagipula menurutku kau lebih cocok pakai warna biru," omel Naruto.

"Dobe."

"Teme!"

Meski begitu, Sasuke membuat kalung itu menjadi dua lingkaran kecil dan malah memakainya sebagai gelang.

"Ayo pergi," ucapnya.

~OoooOoooO~

Langit sudah gelap total di luar sana, Naruto memandangnya lewat jendela kereta. Ia berdiri bersandar pada tiang meski banyak tempat duduk kosong. Sesekali ia melirik Sasuke yang tampak duduk tenang sambil mendengarkan music dengan headset. Kalung yang Naruto berikan tergantung di pergelangan tangan Sasuke, liontinnya bergoyang oleh pergerakan kereta. Dan entah kenapa tiba-tiba Naruto tersenyum.

~OoooOoooO~

"Wah, walaupun tidak drastic, tapi nilaimu membaik, Naruto," ucap Iruka-sensei.

"Hehe kan aku sudah janji akan belajar giat," cengir Naruto.

"Wah, kasih tau rahasianya dong, Naruto," bisik Kiba. "Nilaiku akhir-akhir ini juga turun nih…"

"He? Tidak ada rahasia apapun. Aku Cuma ikut les," jawab Naruto.

"Les? Rajin amat. Hari liburmu tersita dong."

"Nggak seburuk itu kok. Les juga menyenangkan," Naruto tersenyum lebar. Ya, entah sejak kapan dia malah menantikan hari untuk les.

Saat istirahat siang, Naruto menuju halaman belakang untuk makan siang. Dia sudah membeli sandwitch dan sekotak jus. Ia duduk di bawah pohon besar dan mulai menikmati makanannya sambil memainkan smartphone nya. Ia membuka fanspage Sasuke dan tertawa sendiri melihat postingan foto Sasuke—ia yakin Juugo yang mempostingnya—yang tengah menjulurkan tangan ke arah kamera untuk membloknya karena tidak mau difoto, di tangan Sasuke yang memblok itu terlihat jelas gantungan salib dari kalung yang Naruto belikan tempo hari.

"Haha, kalau nggak suka kenapa dipakai," tawa Naruto mengingat umpatan Sasuke saat menerima kalung itu darinya. "Hng…?" Naruto mendongak saat mendengar suara langkah mendekat. Ia hanya bisa bungkam melihat Sakura menghampirinya.

"Hai," sapa Sakura.

"Hai," balas Naruto dan meletakkan kotak jus nya, beralih memakan sandwitch. "Tidak makan siang?"

Sakura menggeleng ringan. "Aku ingin bicara," ujarnya.

"Katakan saja," ucap Naruto dan melahap potong terakhir sandwitch nya.

"Soal hubungan kita…dan soal…kau bilang aku malu punya pacar kau…"

"Ano sa, Sakura-chan. Tidak usah bertele-tele begitu, katakan saja maksud sebenarnya kau menemuiku," senyum Naruto yang menebak kalau Sakura menemuinya bukan untuk membahas itu. Benar saja, Sakura tampak sedikit terkejut, alu agak tertunduk sambil memegangi lengannya.

"Soal…Sasuke…" ucap Sakura. Untuk beberapa saat mereka terdiam. "Apa kau mengenalnya?" tanya Sakura kemudian.

"Yeah, dia teman sekelasku di tempat les," jawab Naruto mencoba terdengar sebiasa mungkin.

"Etto…" Sakura terdengar agak ragu, tapi ia tetap mengatakannya. "…apa kau…bisa mengenalkan kami? Maksudku, kau tahu, aku ingin lebih mengenalnya. Atau, aku ingin minta nomor handphone nya, juga alamat e-mail, atau apapun yang bisa membuatku terhubung dengannya."

Naruto menatap hampa, mungkin rasa sakit sudah kebal ia rasakan. "Maaf Sakura-chan, aku tidak bisa melakukannya," cengir Naruto seperti biasa.

"Ugh…! Kenapa? Kau sendiri kan yang minta putus? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi tidak masalah kan aku menyukai cowok lain!" nada Sakura meninggi. Ah, sepertinya gadis ini tak mengira kalau Naruto mengetahui ia sudah mengincar Sasuke sejak kelas satu SMP.

"Gomen Sakura-chan, bukannya kau nggak boleh menyukai cowok lain," Naruto bangkit dari duduknya. "…tapi Sasuke itu off-limit," Naruto berjalan melewati Sakura. "Dia itu paling nggak suka kalau ada orang yang punya e-mail atau nomornya tapi dia nggak kenal."

"Maka dari itu aku ingin mengenalnya!"

"Kalau kau memang ingin mengenalnya kau harus berusaha sendiri, temui dia atau apa, lalu minta sendiri nomornya," Naruto melambai dengan dua jari. Sakura tak menjawab lagi, sebelum meninggalkan halaman belakang, Naruto menghentikan langkahnya.

"Ah, soal tadi, aku jadi sedikit tertarik juga," ucap Naruto. "Selama pacaran denganku, apa sedikit saja, kau pernah ada rasa padaku, Sakura-chan?"

Lagi, Sakura tak menjawab.

"Oh, begitu rupanya," ucap Naruto yang dapat mengartikan arti kediaman Sakura itu. Iapun melanjutkan langkah.

.

.

.

~To be Continue~