Diamond no Ace by Terajima Yuuji
ONE DAY
Chap 2
By Whulan Yanagishita
Warning: BL, OOC, Typo bertebaran.
P. S Dibaca pas abis berbuka. Rating agak menyerempet soalnya.
Enjoy and Happy Reading
.
.
.
Pertandingan antara Seidou dan Kokudouka telah memasuki inning ke 6 dengan skor sementara 3-0. Walaupun saat ini Seidou telah unggul 3 poin, namun mereka tidak serta merta meremehkan musuh. Apalagi dengan kehadiran Zaizen Naoyuki, yang merupakan pemukul terhebat dari sekolah Kokudouka.
Terlihat ditengah - tengah pertandingan, Furuya yang saat ini berdiri diatas mound bersiap - siap untuk melempar. Keringat telah membanjiri tubuhnya. Tekanan yang diberikan seluruh tim Kokudouka benar - benar membuat mental Furuya campur aduk. Semua anggota tim Seidou menyadarinya. Dan mereka cemas akan hal itu.
"Pelatih Kataoka, aku harap untuk inning selanjutnya kita harus menurunkan Tanba. Furuya masih kelas satu dan beban ini masih terlalu berat untuknya" Chris yang saat itu berada di samping pelatih Kataoka menyeruakan pendapatnya. Pelatih Kataoka yang setuju dengan pendapat Chris pun meneriaki perintah kepada Tanba untuk segera mungkin melakukan pemanasan.
Diseberang dari tempat bangku cadangan Seidou, pelatih dari Kokudouka memutuskan menurunkan Zaizen untuk menjadi pemukul selanjutkan. Anggota tim inti Seidou yang sedari tadi merasa tegang makin menjadi hingga-
"FURUYAAAAA... "
Teriakan nyaring yang berasal dari bangku cadangan tim Seidou sukses membuat seluruh tim Seidou maupun lawan dan juga penonton tertuju padanya. Disana terlihat seorang pemuda berambut coklat sedang berdiri tegak. Kedua tangannya berada di sisi kanan kiri mulutnya, membentuk sebuah corong.
"TINGAL SATU OUT LAGI DAN KITA PASTI MENANG. JIKA KAU TAK SANGGUP LAGI. AKU SIAP MENGGANTIKANMU" teriak pemuda itu lagi yang tak lain adalah Sawamura.
Anggota inti Seidou yang sedari tadi merasa tertekan, sedikit demi sedikit mulai merasa rileks. Sawamura memang polos dan bodoh. Namun itulah salah satu kelebihannya. Dengan kepolosan dan kata - katanya yang jujur kerap membawa aura positif disekelilingnya. Bahkan dalam situasi yang sulit seperti ini. Dan itu berlaku juga untuk Furuya. Sedikit demi sedikit tubuhnya kembali rileks dan pikirannya pun kembali tenang.
"AKU YAKIN KAU BISA FURUYAAAA".
Furuya menatap mantap Miyuki. Mengangguk sekilas padanya. Gerakan yang ditunjukan sebagai isyarat dirinya siap untuk melempar. Tangan kiri Miyuki yang terbalut mitt terulur kedepan. Didekat pinggang Zaizen.
Furuya mengangkat kakinya. Membentuk postur siap melempar.
BAM.
Tepat di dekat pinggang. Lemparan di zona dalam.
"Strike".
"Horeeeee" gema teriakan ramai yang berasal dari seluruh anggota tim Seidou.
Miyuki kembali melempar bola kepada Furuya. Furuya menerima dengan senang. Tak lama kemudian Furuya membentuk lagi postur siap melempar.
BAM
"Strike" teriak wasit. Sama seperti lemparan pertama. Zona dalam.
"SATU LAGI. TINGGAL SATU LAGI FURUYA".
Furuya sedikit menurunkan topinya. Menyembunyikan senyum bahagia. Sedangkan disisi lain, seseorang sedang berusaha sekuat tenaga menyembunyikan raut sedihnya.
BAM
"Strike batter out. Change" seruan wasit kembali yang kali ini memicu kehebohan anggota tim Seidou dan juga para penonton.
Anggota tim utama Seidou segera berlarian menuju bangku cadangan dengan punggung tegak. Mereka senang walau tadi suasana sempat memanas namun mereka berhasil membuat tim Kokudouka tidak mencetak angka. Dengan perasaan puas mereka dengan semangat menuju ke arah pelatih Kataoka berada.
Furuya yang sudah sampai segera menghampiri Sawamura. Tanpa memperdulikan tubuhnya yang bersimbah keringat, ia langsung memeluk Sawamura dengan erat. Menyalurkan rasa senang dan ungkapan terima kasih karna telah mendukung dirinya. Walaupun Furuya dan Sawamura adalah rival, namun mereka satu sama lain saling mendukung.
"Aku tau kau bisa Furuya. Jika kau tak bisa maka kau bukan rivalku hahaha".
"Jika kau tak berteriak. Mungkin saat ini aku sudah kecolongan beberapa run".
"Dan selamat apa yang kau takutkan tak terjadi. Kerja bagus Furuya".
Terus mereka berpelukan tanpa mengetahui seseorang sedari tadi menatap mereka dengan pandangan terluka.
.
.
.
Pertandingan berakhir dengan Seidou sebagai pemenang. Sesuai dengan pendapat Chris, di inning ke tujuh Tanba ditunjuk menjadi Pitcher. Walau mereka kecolongan 1 poin, namun mereka berhasil mencetak 2 poin sehingga hasil akhir skor dalam pertandingan adalah 5-1. Setelah mengantar dan berpamitan dengan beberapa anggota Kokudouka, satu - persatu anggota tim Seidou mulai berjalan kembali ke asrama. Ada yang langsung menuju ke kamar, ada yang kekantin, ada yang langsung latihan dan ada juga yang mandi. Hari ini adalah hari minggu dan setelah latih pertandingan, pelatih Kataoka membebaskan seluruh anggota untuk beristirahat. Sehingga anggota yang lain bebas untuk melakukan kegiatan yang diinginkan. Begitu juga dengan Sawamura. Setelah pertandingan usai, dirinya kembali ke kamar untuk berganti pakaian santai. Celana training hitam dan kaos lengan pendek putih biru. Setelah selesai, dirinya keluar dari kamar dan kemudian mulai berjalan menuju ke kamar nomor 11. Tujuannya adalah bertemu Miyuki Kazuya. Catcher utama Seidou sekaligus orang yang Sawamura sukai.
Hari ini Sawamura merasa ada yang aneh dengan sikap Miyuki. Miyuki yang biasanya suka mengerjai dan mengejek dirinya tiba - tiba terlihat sangat pendiam. Bahkan Miyuki tidak berusaha mendekatinya. Bahkan ketika dirinya memberinya ucapan selamat, hanya senyum kecil sebagai balasan. Itulah sebabnya Sawamura memutuskan untuk bertanya kepada Miyuki. Namun naas, ketika sampai dikamar nomor 11, teman sekamar Miyuki mengatakan jika sedari tadi Miyuki belum kembali ke kamar. Dengan perasaan putus asa, Sawamura berjalan berkeliling asrama, berharap bisa menemukan Miyuki. Dan sepertinya usahanya tidak sia - sia. Di tempat mesin penjual minum, Sawamura dapat melihat Miyuki yang saat itu sedang menyesap minuman kaleng seorang diri.
Dengan langkah bersemangat, Sawamura mendekati Miyuki dan duduk disampingnya.
"Miyuki senpai apa yang sedang kau lakukan disini".
Tak ada jawaban. Hanya suara tegukkan yang terdengar. Setelah memastikan minumanannya telah habis, Miyuki dengan santai melempar kaleng minuman ke tempat sampah.
Setelah itu tangan yang tadi dibuat melempar kaleng mendarat di rambut Sawamura. Membelai lembut rambut berwarna coklat itu. "Tumben hari ini kau memangilku senpai. Sopan sekali dirimu hari ini. Ada angin apa?" tanya Miyuki heran.
"Jangan berbalik bertanya kepada orang yang sedang bertanya padamu ck". Sawamura menyentuh tangan Miyuki yang mengelus rambutnya. Digenggamnya kemudian dibawahnya keatas pangkuannya. Dengan hati - hati Sawamura menyatukan jemari dirinya dengan jemari Miyuki sehingga kedua jemari tersebut menyatu dengan erat.
Pas. Jemari Miyuki sangat pas dengan jemarinya. Walau jemari Sawamura sedikit lebih kecil dari punya Miyuki. Mungkin karna faktor Miyuki lebih tua darinya atau karna tinggi badan. Mengingat Miyuki lebih tinggi beberapa senti dari Sawamura. Entah lah yang pasti Sawamura sangat senang dengan kedekatan mereka saat ini. Telapak tangan Miyuki juga terasa sangat hangat. Membuat debaran muncul perlahan.
Baik Sawamura dan Miyuki sama - sama terdiam. Terlihat mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing - masing. Sawamura yang sibuk memandangi tangannya yang menyatu sempurna dengan Miyuki. Sedangkan Miyuki sendiri yang tak pernah lepas memandangi wajah Sawamura. Hingga-
"Sudahkan aku bilang jika kau sangat indah Sawamura".
Membeku. Badan Sawamura seketika membeku ketika mendengar ucapan tak terduga dari mulut Miyuki. Mata yang berwana emas memandang malu - malu pada sosok didepannya. Dan seketika debaran dalam dadanya semakin bertambah ketika mata coklat didepannya balas menatapnya dengan lembut dan teduh. Sawamura tidak tahu apa yang harus dia lakukan atau pun ucapkan. Matanya telah terhisap sempurna dalam jerat lelaki di depannya.
Dengan mata yang masih saling memandang, Miyuki membawa tangan Sawamura dan dirinya, yang masih saling menggengam erat kebibirnya. Dikecup dengan lembut punggung tangan Sawamura. Dan seketika Miyuki telah bersumpah dirinya tidak akan pernah melupakan momen ini. Moment dimana ketika pipi lembut Sawamura yang terlihat chubby sedikit demi sedikit menampilkan rona merah yang cerah. Mata bulatnya yang terlihat teduh. Dan ekspresinya yang menampilkan raut pasrah. Itu semua Sawamura tunjukan didepannya. Hanya kepada Miyuki seorang.
Tak sabar, Miyuki segera berdiri dan menarik Sawamura. Mendorong Sawamura untuk masuk ke dalam celah kecil disebelah mesin penjual minum. Ya diantara mesin penjual minuman terdapat sedikit celah yang menjorok kedalam. Kecil, sempit dan tersembunyi. Dan Miyuki membawa Sawamura kesana. Untuk memenjarahkannya. Untuk memilikinya.
Dihimpitnya tubuh yang beberapa senti lebih kecil darinya ketembok dan perlahan bibir keduanya saling berdekatan hingga satu sama lain saling menempel. Tidak ada yang memulai karena bagi mereka berdua ini adalah pengalaman pertama. Lama terdiam hingga salah satu pemuda yang memakai kacamata memberanikan diri untuk mulai mengerakkan bibirnya. Melumat dan mengecupi. Mengecap rasa manis yang tersaji disana. Bibir itu terasa lembut. Membuat dirinya ingin terus merasakan lagi.
Lain Miyuki lain pula bagi Sawamura. Dirinya tidak menyangka bahwa saat ini ia sedang berciuman dengan orang yang sedari dulu di sukainya. Memang, terkadang dirinya berandai - andai bagaimana rasanya jika Miyuki menciumnya. Saling bercumbu dan saling memiliki. Namun dalam pikiran terliar sekalipun, Sawamura tak pernah menduga jika saat ini apa yang ia angankan menjadi kenyataan.
Ciuman itu terasa manis. Dan kaki Sawamura perlahan terasa seperti jeli. Mengerti akan keadaan Sawamura, Miyuki pun menyelipkan tangan kirinya untuk memeluk erat pinggang rampingnya. Sedangkan tangan kananya menekan kuat tengkuk pemuda yang memiliki impian menjadi seorang ACE.
Menelengkan kepala ke kanan, Miyuki menjilati bibir Sawamura. Meminta Sawamura untuk membuka sedikit mulutnya. Dirinya ingin lebih dalam masuk. Ingin merengut semua yang ada dalam diri Sawamura. Mulut sedikit terbuka dan Miyuki pun menerobos seperti badai. Tak dibiarkan seinci pun terlewatkan. Terus menjelajah. Terus masuk dan terus merasakan. Bagai zat adiktif, ini adalah candu. Semua yang ada dalam diri Sawamura adalah candu. Dan entah sial atau beruntung, Miyuki sudah terjerat kedalamnya. Tak akan dibiarkan sosok didepannya lepas. Harus dimiliki. Dan harus dia yang memiliki.
Ciuman yang awalnya hanya saling menempel kini semakin intens. Air liur pun mulai menetes turun disudut bibir, dan lidah yang tak pernah lelah terus mengobrak abrik didalamnya. Ini adalah ciuman pertama Sawamura dan dirinya merasa kewalahan. Ia tidak menduga Miyuki akan seagresif ini menciumnya.
Cukup lama ciuman itu berlangsung. Rahang Sawamura pun mulai terasa pegal karna mulutnya terus menerus membuka. Dan kini ia mulai kehabisan nafas. Mencoba menggelengkan kepala kekiri dan kanan, berharap Miyuki mau memberinya ruang bernafas namun lelaki yang lebih tua setahun darinya malah semakin erat menekan tengkuknya.
Gagal. Sawamura pun kembali mencoba. Dengan sekuat tenaga dicengkramnya kedua pundak Miyuki dan sedikit mendorongnya menjauh, namun tubuh yang berada didepannya tak bergeming sedikitpun.
Gagal lagi. Tak habis ide kali ini sasaran Sawamura adalah punggung Miyuki. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, dirinya dengan brutal memukuli punggung pemilik nomor 2. Berharap kali ini Miyuki sejenak untuk berhenti. Namun sama seperti sebelumnya, tak ada tanggapan.
Sawamura mulai pasrah. Nafasnya semakin putus - putus. Tenaganya makin terkuras. Miyuki benar - benar menggila. Sangking gilanya sampai tidak mengizinkan Sawamura mengambil nafas. Sesak. Mata Sawamura mulai berkunang - kunang.
Dalam cumbuan liarnya, Miyuki sedikit menyeringai. Ia tidak ingin melepaskan rasa candu ini, namun dirinya sadar jika lelaki didepannya yang sudah berhasil mencuri hatinya diawal pertemuannya mereka mulai kehabisan nafas. Dengan perasaan enggan, dirinya melepaskan bibir yang sudah menjadi candu baginya. Membiarkan Sawamura meneguk rakus oksigen. Memulihkan pernafasannya.
Namun Miyuki tidak berhenti disana saja. Leher yang sedari tadi terlihat menggoda mulai dikecup. Dihirupnya dengan rakus. Bau vanilla. Badan Sawamura tercium seperti aroma kue. Kue yang siap dicicipi dan disantap olehnya.
Hirup. Kecup. Gigit dan sesap.
"Aduh" rintih Sawamura ketika satu gigitan terasa di lehernya. Dapat dirasakannya dengan jelas ketika gigi Miyuki menggigit kulit lehernya. Dan setelah itu daging tak bertulang milik Miyuki menyedot buas kulit Sawamura yang sebelumnya telah digigiti. Menciptakan satu tanda kepemilikan berwarna merah cerah. Lagi, Miyuki berpindah kelainnya dan kali ini gigitannya terasa lebih dalam. Bukan hanya itu saja, sesapan dikulit leher Sawamura semakin luar biasa kuat. Membuat Sawamura merasa ngilu tak tertahan.
Satu. Dua. Tiga. Dan seterusnya. Miyuki tanpa lelah terus mencumbu leher Sawamura. Terus membuat tanda tanpa memperdulikan si pemilik leher mengerang kesakitan. Jemari yang sebelumnya terkulai lemah kini mulai meremat rambut lelaki didepannya. Pelampiasan atas rasa sakit dan gairah yang telah diciptakan oleh catcher utama Seido. Sedangkan sang pencipta pun bersorak kesenangan.
NYUT
'Astaga sialan kau Miyuki. Berikan aku waktu untuk beristirahat sejenak' batin Sawamura frustasi ketika dirasa tangan kanan Miyuki mulai kurang ajar meremas gemas pantat Sawamura.
Gigit. Sesap. Remas.
Sawamura mengeliat tak karuan merasakan bertubi - tubi kenikmatan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Dengan lihai, Miyuki mempermainkan tubuhnya. Memberikan sentuhan dan rangsangan yang membuat seluruh tubuhnya makin memanas. Belum cukup sampai disitu, kini tangan kiri Miyuki yg semula memeluk pinggang nya kini mulai memberanikan diri menyusup kedalam kaos. Menyingkap kaosnya sampai sebatas dada. Dan kemudian mulai membelai dan meraba punggung, perut dan dada Sawamura.
Tubuh Sawamura menggelinjang liar karena rasa geli. Kakinya bergetar hebat, tak sanggup lagi menyangga berat badan tubuhnya. Kenikmatan dan sentuhan yang diberikan Miyuki membuat dirinya bergetar tak terkendali. Alhasil Sawamura hanya dapat mendesah dan menutup matanya erat. Menikmati setiap perlakuan Miyuki pada tubuhnya.
Setelah puas memberi tanda dileher Sawamura. Kini bibir Miyuki naik keatas. Tepat di depan telinga Sawamura. Mengecup, menjilat dan meniup pelan.
"Eijun" bisik Miyuki mesrah didepan telinga Sawamura.
Seluruh tubuh Sawamura merinding. Suara Miyuki saat memanggil nama depannya terdengar sangat seksi. Berdeham sebentar untuk menemukan kembali suaranya, Sawamura berusaha menjawab "Hmm uugghh a-apa?" tanya Sawamura dengan suara serak.
"Panggil namaku Eijun" pinta Miyuki.
Sawamura sedikit bingung dengan permintaan Minyuki. Namun dirinya segera menuruti. Menjaga suaranya agar tetap stabil, Sawamura mulai berucap "Mi... Mi uuuugghh... Miyu~ yuki aaaaahhhhh... ".
Sial. Jemari panjang Miyuki mulai bermain - main disekitar putingnya. Mengirim getaran keseluruh tubuhnya.
Terkekeh pelan, Miyuki kembali mendekatkan bibirnya. "Nama depanku Eijun. Bukan nama keluargaku".
Kaku. Tubuh Sawamura tiba - tiba terasa kaku. Kini Sawamura mengerti sepenuhnya perintah Miyuki. Miyuki ingin Sawamura menyebut nama depannya. Nama pemberian dari kedua orang tuanya. Malu. Sawamura merasa malu harus memanggil nama depan Miyuki. Dulu Sawamura memang pernah memangil nama Miyuki tapi itu pun dengan penambahan kata 'senpai'. Dan saat ini Sawamura dituntut memanggil namanya tanpa tambah 'senpai' dibelakangnya.
Satu rematan terasa dipantatnya. Membuat fokus Sawamura pecah. Dengan sebal, Sawamura menatap tajam Miyuki yang kini sedang menampilkan cengiran andalannya.
"Aku menunggu Sawamura".
"Ka... Ka-ka-kazu... Aaahhh".
Satu cubitan disalah satu putingnya. Membuat dirinya mengeras. Sial bagaimana ia bisa fokus jika sedari tadi Miyuki tak henti - henti mengerjai tubuhnya.
"Heemmmm".
"Kazu...zu-zuya. KAZUYAAAA! PUAS KAU SEKARANG HAH" dengan wajah yang sudah memerah sempurna, sekuat tenaga Sawamura berteriak. Bodoh amat jika ada anggota lain Seidou yang mendengar teriakannya barusan. Saat ini Sawamura benar - benar merasa sangat malu.
Miyuki yang mendengar namanya diteriaki tertawa keras. Sawamuranya memang tidak pernah mengecewakannya. Dirinya tidak menduga hanya menyebut nama depannya saja, Sawamura bisa terlihat sangat menggemaskan. Jika tau seperti ini efeknya, sudah sedari dulu Miyuki sudah meminta Sawamura untuk terus memanggil nama depannya saja.
"Puas kau tertawa Miyu eh Ka-kazuya ugh ini sangat memalukan" keluh Sawamura.
"Memang kenapa?" bibir Miyuki dengan lembut mulai mengecupi pipi Sawamura. "Bukannya kau tak pernah malu saat memanggil nama depan Haruichi. Kenapa denganku kau merasa malu?" gemas, Miyuki mulai menggigiti pipi lelaki didekapannya.
"Aduh jangan digigit baka" protes Sawamura. "Haruichi adalah temanku, jadi untuk apa merasa malu. Beda lagi dengan dirimu".
"Memang aku kenapa Eijun?" tanya Miyuki penasaran.
Hening.
Tak ada jawaban dari pertanyaannya barusan. Miyuki mulai tak sabar menanti.
"Hei Ei-... "
GREP.
Sawamura menerjang Miyuki. Memeluknya. Mendekap erat dan menyembunyikan wajah merahnya di dada. Tingkah yang sangat menggemaskan. Membuat dirinya ingin sesegera mungkin memilikinya. Namun Miyuki harus bersabar. Ini adalah pengalaman pertama mereka. Akan dibuat Sawamura merasa senyaman mungkin. Walaupun dirinya sudah tak sabar, tapi ia tidak inggin membuat pemuda didekapannya merasa kesakitan.
Tangan kanan yang sedari tadi melecehkan bokong Sawamura, kini mulai menjalar keatas. Menyentuh punggung Sawamura. Meraba.
Halus.
Miyuki tidak pernah merasa bosan dengan kehalusan kulit Sawamura.
"Hey Eijun tunjukan wajahmu" bisik Miyuki seduktif. "Aku ingin menciummu. Mencumbumu. Membuatmu pasrah dibawahku. Akan kubuat bibir mungilmu ini mendesah dan terus menerus meneriaki namaku".
"U-ugghhh~ Kazu-ya~" gemetar. Badan Sawamura kembali bergetar saat mendengar ucapan kotor dari Miyuki.
"Akan aku buat tubuh ini mendambakan sentuhan dariku. Hingga kau terus meminta lagi lagi dan lagi. Aku tak akan melepaskanmu Eijun. Tak akan kubiarkan orang lain memilikimu selain diriku. Kau hanya milikku Eijun. Hanya miliku seorang" bibir Miyuki kembali menemukan bibir Sawamura. Mencium rakus seperti tidak ada hari esok. Lidah pun tak tinggal diam, kembali masuk dan mengeksplor didalamnya. Saling membelit dan mendominasi. Kali ini Miyuki terus maju. Dirinya sudah tak sabar ingin memiliki Sawamura seutuhnya.
Setelah puas. Kini bibir Miyuki mengarah turun ke puting yang sedari tadi sudah menegang sempurna.
Jilat. Gigit. Sesap.
"Aaahhh Ka-kazuyaaaaaa~" Sawamura membusungkan dadanya kedepan. Menerima setiap sesepan Miyuki pada putingnya. Ini benar - benar memabukkan. Benar - benar mengairahkan. Setiap sentuhan Miyuki, membuat Sawamura bergairah. Bagaimana bisa Miyuki selihai ini. Mempermainkan tubuhnya hingga-
"Are apa yang kalian berdua lakukan?".
Suara asing yang tak jauh dari kedua pemuda yang sedang asik bercumbu terdengar ditelinga mereka berdua.
Hening.
"Uwaaaaaaa..." teriak Sawamura tiba - tiba sambil mendorong Miyuki menjauh. Dengan gerakan cepat, Sawamura menurunkan kembali kaosnya yang tadi tersingkap keatas. Lalu kedua telapak tanggannya menutupi wajah merahnya.
Malu. Sawamura merasa malu luar biasa.
Lain Sawamura lain halnya dengan Miyuki. Dengan wajah yang penuh amarah dan perasaan frustasi, Miyuki menatap tajam Kominato bersaudara. Sedangkan yang ditatap dengan tajam, malah menunjukan kedipan polos. Seolah - olah mereka tidak berdosa telah menggagalkan sepasang sejoli yang sedang berbuat mesum disekitar asrama.
"Ryousuke senpai. .kami" ucap Miyuki dengan penuh penekanan. Sedangkan Ryousuke sendiri mulai tertawa terbahak - bahak.
'Salah sendiri melakukannya ditempat seperti ini' batin Kominato bersaudara.
Haruichi yang sedari berdiri agak jauh segera saja mulai mendekat. Dapat diliat sahabatnya yang masih menutupi wajahnya. "Kami tadi mau membeli minum Miyuki senpai" kata Haruichi.
"Dan saat tiba disini, kami mendengar suara cicitan. Kami kira ada tikus yang terjebak eh tak tahunya kami malah mendapati sepasang kekasih yang sedang berbuat mesum hahaha" lanjut Ryousuke meneruskan cerita adiknya, Haruichi.
Haruichi tersenyum kikuk. Dari yang dilihat diwajahnya, sepertinya kakaknya tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Walaupun sering menampilkan wajah tersenyum, namun sebenarnya kakaknya adalah orang yang jail dan berotak licik.
"Aku penasaran. Bagaimana ya kira - kira reaksi Kuramochi dan Masuko jika tahu tentang kejadian ini?".
OH SIAL
.
.
.
Diwaktu yang bersamaan. Di sekitar lapangan baseball terlihat beberapa anggota tim baseball Seidou sedang berlatih. Walau cuaca sedikit panas, tak menyurutkan semangat para anggota lain untuk melatih kemampuan mereka masing - masing. Begitu juga dengan Furuya. Setelah latih tanding selesai, tanpa merasa lelah Furuya segera menuju ke arah bullpen. Tujuannya tentu saja melatih beberapa lemparannya. Saat ini Furuya merasa tidak terlalu puas, walau kenyataannya dalam peetandingan persahabatan tadi, dirinya tidak memberi satu kesempatan lawannya untuk memukul bola lemparannya. Namun walau begitu, Furuya tetap bertekad untuk berlatih lagi. Dirinya ingin menjadi kuat. Hingga sosok itu tak bisa mengejarnya.
BAM
Satu lemparan yang dihasil Furuya menggema di area bullpen. Miyauchi, yang saat ini menangkap lemparannya Furuya mengadu kesakitan. Tangannya terasa nyeri. Furuya benar - benar tak main - main dalam urusan lemparannya.
"Furuya" panggil Miyauchi. "Kita istirahat dulu. Sudah 30menit kau berlatih tanpa henti" lanjutnya kemudian. Miyauchi menegakkan badannya. Kemudian sedikit merenggangkan badannya. Kaki dan punggungnya terasa sangat pegal. 30 menit sudah dirinya duduk jongkok demi memuaskan Furuya yang sedang bersemangat melatih lemparannya.
Perlahan Miyauchi menghampiri adik kelasnya. Lalu mereka sama - sama duduk dan meminum minumannya.
"Setelah ini aku mau melempar lagi Miyauchi senpai".
"Istirahat dulu Furuya. Memaksakan diri hanya akan membuat dirimu cedera. Kalau kau tidak percaya, lihatlah Chris senpai".
"Tapi..."
Miyauchi menepuk keras lengan Furuya. Isyarat agar Furuya diam. Miyauchi tak habis pikir, kenapa Furuya sebegitu keras kepalanya untuk melatih lemparannya. Padahal sekarang ini lemparan Furuya sudah sangat mematikan. Sebenarnya siapa yang ingin Furuya kejar? Siapa yang ingin dia buktikan.
"Furuya sebenarnya kau ini ingin membuktikan kepada siapa? Kau ini ingin diakui siapa? " tanya Miyauchi penasaran.
"..."
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Furuya diam seribu bahasa. Membuat Miyauchi semakin penasaran. Namun Miyauchi sadar, dirinya tidak berhak memaksa Furuya bertanya lebih jauh lagi. Karena setiap orang pasti memiliki masalah masing - masing.
Hening sejenak. Baik Furuya dan Miyauchi sama - sama saling menikmati suasana sepi yang tercipta. Jika Miyauchi saat ini merasakan kedamaian, maka berbeda dengan lelaki bersurai hitam disebelahnya. Pikirannya kacau. Saat ini satu - datinya yang dipikirkan adalah bagaimana caranya agar Sawamura tidak mengejarnya.
Sebenarnya alasan Furuya selama ini ada membuat Sawamura frustasi. Frustasi akan kemampuan lemparan mereka. Furuya ingin menjadi yang terdepan. Ingin menjadi kuat sehingga semua anggota lainnya bergantung padanya. Mengakui kehebatannya.
Dengan begitu Sawamura akan merasa makin sebal dengannya. Dan kemudian, dia akan terus memikirkannya. Terus memperhatikannya dan terus melihatnya. Akan Furuya buat Sawamura terus memikirkan dirinya. Akan Furuya penuhi otak Sawamura dengan keberadaannya. Dirinya tidak akan membiarkan Sawamura memikirkan orang lain terutama jika orang itu adalah Miyuki Kazuya. Sesulit apapun, Furuya tidak akan pernah menyerah.
.
Cinta Akan Datang Dengan Sendirinya.
Omong Kosong.
Yang Ada Cinta Itu Dikejar
.
.
TBC
.
Terima kasih buat yang sudah menyempatkan diri untuk mereview chap pertama. Review kalian membuatku semangat untuk melanjutkan lagi.
Akhir kata selamat membaca dan jangan lupa review nya. Maaf jika chap ini kurang memuaskan dan maaf juga jika banyak typo bertebaran.
Selamat menjalankan ibadah puasa.
