Chapter 2

SENPAI
ルキア クロサキ


Dengan sedikit bersesengguk, dia kembali ke kelasnya. Wajah dan seragamnya yang agak kusut sukses membuat perhatian seisi kelas tertuju padanya. Orihime merasa bingung dan iba melihat mata gadis itu yang berkaca-kaca. Lain halnya dengan Riruka. Ia merasa sangat puas. "Rasakan! Anak belagu seperti dia memang harus diberi pelajaran oleh Ichigo!" batinnya.

Semua menjadi hening. Hanya sesenggukan dari Chappy lah yang sesekali mengisi kesunyian kelas itu.

"Makannya kalian harus menurut pada kami jika tak ingin berakhir seperti Chappy!"


Disclaimer Bleach © Pacar ChapChappyChan (Tite Kubo masih muda apa dah tua sih? XD)

Senpai © ChapChappyChan

Pairing : Ichigo x Rukia

Rate: T

Genre : romance(semoga berasa), sedikit(banget) humor mungkin

Warning : no flame-typo(s)-OOC-gaje-abal- au ah-ketikan yang saya lakukan di sela-sela kegiatan ultah sekolah-banyak stan makanan yang bikin Chappy ngiler adalah inspirasi update Chappy#apa hubungannya?*plakplak-adegan Ichiruki disini masih sedikit. Chapie depan baru banyak XD *plakplakplak

Note : maaf baru bisa update m(_ _)m. Chappy bener2 sibuk. Sumprit dah. Nggak kegiatan sekolah, nggak kgiatan keluarga, menuntut Chappy untuk mengcancel fic ini DX gomeeen.


Special thanks for :

Naruzhea AiChi : hehe..iya nih. Ichi kan sebenernya anak yang suci. Dia sendiri sih yang neko-neko. Sukurin tuh Ichi XD *plak

Matsun Matsuru : saya sempet takut nggak bisa bales lewat PM. Itu apa emang nggak tersedia PM nya ya? Walau begitu,arigatou dah ripiu. Iya, ini udah update. arigatou :*

hendrik widyawati : hehe..kan udah dipanggilin mobil ambulan tuh, kalo Ichi pendarahan nggak bisa update dong sayaXD. Wah makasih banget ya. Anda puas, saya guling2 XD ini sepesial buat anda loh ;). Semoga di chapie ini dan seterusnya tetep membuat puas XD. Iya ini update.. :*

can-can : iya,salam kenal juga. Makasih ya udah ripiu. Sebentar, saya bakar sampah dulu#biar ada asapnya XD. Arigatou :*

nenk rukiakate : seorang senpai yang membuat saya guling2 mengetahui dia meripiu fic saya. saya sebagai silent readernya mengucapkan arigatou karena telah meripiu fic saya#main formal2an nih sekarang XD. Iya, arigatou ya. Hehe. Itu mah masih ngdance biasa. Coba deh Ruki suruh goyang ngebor. Bisa mati ditempat tuh Ichi XD. Haha. Gak papa. Yang penting ripiu. Arigatou :*

chadeschan : wehehehe..makasih yaa. Ini update. Halah nggak papa..nggak usah sungkan..yang penting ripiu XD. Arigatou :*

shinshi : ho'oh tuh..apalagi goyang ngebor ama belah duren XD. Oke, ini update, arigatou :*

Rukaga Nay : hehe..benarkah? makasih yaa...:*. Iya ini update. Review lagi dengan tempo yang sesingkat-singkatnya ya :p. Arigatou :*

Owwie Owl : iya..saya akan belajar. Jika dengan praktek pasti akan lebih cepat dan lebih paham#nyari pacar#siapa tau ada yang buang*plak! Ini kan memang sengaja saya belum munculkan romance #nyengir. Mungkin chapie tiga baru kerasa#mohon sabar*plak! Pantangan? Bagaimanakah maksudnya?;). Oke,arigatou ya udah mau ripiu,Oda-chan baik deh#ngrayu*plak

MizunoHikari : waa..makasih ya #GR. Iya, ini tagihan anda. Arigatou :*

Eghiserelaa : ini update. Arigatou review nya :*


Yosh! Saya rasa cukup bercuap-cuap nya XD. Langsung saja. Yonde kudasai. Hope you like it!

FLASHBACK

"Haaaaaaaaah! Aku bersumpah tidak akan masuk ke ruangan itu lagi!" teriak Chappy seraya terus berlari meninggalkan ruang OSIS. "..eh, kalau untuk Kaien-senpai tak apalah.." lirihnya sambil tersenyum gaje. Dia membayangkan bagaimana senpai satu itu menyebutnya manis dan bagaimana pula cara senpai itu yang meminta nomor ponselnya. Serta membayangkan begitu tampan dan idealnya senpai itu jika jadi kekasihnya. Owh, angan-angan yang membuai dirinya sampai membuat gadis bernametag Chappy itu tak sengaja menginjak kulit pisang yang –gajenya- terpasang tulisan "Renji's".
.

.

Rasa sakit bercampur malu adalah hal yang membuatnya tak bisa untuk tak berkaca-kaca. Jatuh tersungkur dengan posisi nista mungkin tak akan membuat Chappy repot-repot untuk berkaca-kaca. Tapi jika jatuh tersungkur dengan posisi nista plus disaksikan pujaan hati yang tak sengaja lewat-apalagi yang baru saja dia bayangkan- mungkin untuk Chappy adalah hal yang pantas membuatnya sesenggukan. Segarang apapun, Chappy tetaplah wanita,Bro.

Oke, dan ia hanya bisa bangkit, melanjutkan larinya serta ingin cepat bersesengguk di kelas.
Ia pasti tidak tau jika nantinya dia akan menjadi sumber dari kesalah pahaman di kelasnya. Poor Chappy.

END OF FLASHBACK

Bel pulang beberapa saat lalu telah berbunyi. Para siswa kelas 1-9 sedikit demi sedikit mulai melenggang keluar. Beberapa diantara mereka pergi seraya curi-curi melirik Chappy yang mulai tenang. Di benak mereka tergantung tanda tanya super besar dengan tulisan "apa yang terjadi pada Chappy? T^T". Namun mereka merasa sungkan untuk bertanya langsung pada seseorang yang mereka anggap 'korban'. Ah biarlah itu menjadi misteri di pikiran mereka.

Disisi lain, gadis Kuchiki yang bernametag Chappy itu sudah agak baikan. Nyeri di beberapa bagian tubuh akibat jatuh dan nyeri di hati akibat malu sudah mulai diacuhkannya. Ia ingin bergegas keluar dan menghampiri temannya, Momo. Mengajaknya pulang bersama.

"Momo?"

"Kuchiki-san, ayo pulang.."

"Padahal aku ingin kekelasmu, malah kau yang duluan ke sini.."

"Habisnya Kuchiki-san lama sih..tapi tak apa kok.." Momo, gadis ramah dan periang itu tetap tersenyum manis walau sang teman merepotkannya. Mereka pun akhirnya mulai berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.

"Gomen..habisnya tadi aku masih kesal gara-gara tersungkur di dekat ruang OSIS, apalagi tadi di ruang OSIS aku-" gadis itu, Rukia Kuchiki berhenti berujar. Mata kristalnya terbelalak kaget. Ia ingat sesuatu! Konsekuensinya!

"Ada apa Kuchiki-san?" Momo nampak bingung melihat gelagat Rukia.

"GOMEN NE MOMO! KURASA AKU TIDAK BISA PULANG BERSAMAMU! AKU MASIH ADA URUSAN...JAAAAA!" teriak Rukia seraya berlari mundur meninggalkan Momo yang berdiri linglung di dekat gerbang.

"Kuchiki-san.." lirih Momo.

:

:

:

"Sial..kenapa harus 60 tanda tangan OSIS sih?! Lalu..siapa yang akan aku mintai tanda tangan ya? Sepertinya sekolah sudah semakin sepi. Ugh,mungkin akan sulit menyelesaikan hukuman ini.." Rukia masih berjalan melalui lorong-lorong kelas lantai dua seraya menggerutu pasrah. Tapi ia tak putus asa, pandangannya terus ia edarkan dengan seksama pada setiap sudut tempat yang ia lewati."..OSIS..OSIS..dimana OS-" untuk kedua kalinya Rukia menghentikan perkataannya secara tiba-tiba.

"Ah? Chappy Manis?" seorang itu. Oh ayolah, jangan dia! Orang itu mendekat dengan senyum sumringah ditambah lambaian tangan sebagai isyarat 'hai'.
Sedangkan Rukia?
Wajahnya mulai merah. Ia tak kuat lagi. Rasanya ingin lari menjauh dari orang itu. Kalau perlu sekarang juga loncat ke lantai dasar pun mungkin pilihan yang efisien. Soalnya Rukia benar-benar belum siap untuk bertemu pria itu

"Aku harus lari sekarang juga!" batin Rukia mantab.

"Eits..mau kemana?" sial, pria itu sudah terlanjur menangkap kerah belakang seragam Rukia.

"Ka-Kaien-senpai.." hanya cengiran canggung dan kepasrahan lah yang Rukia yakini bisa mengobati rasa malu luar biasa yang melandanya.

:

:

:

"Owh..jadi kau bingung mencari tanda tangan para senpai.." akhirnya yang Rukia lakukan Cuma bisa mengalihkan pembicaraan ketika ditanya "kenapa kabur dariku?" dengan menceritakan soal konsekuensi yang ia terima dari senpai kacamata daripada harus susah-susah bilang jika ia malu kepergok tersungkur gara-gara kulit pisang terkutuk. "Kalau itu sih serahkan padaku! Aku akan menemanimu mencarikan tanda tangan hari ini." Ujar Kaien.

"Be-benarkah Senpai mau?" mendengar ucapan senpainya itu, ia jadi melupakan insiden kecilnya dan menatap senang senpai tampan di depannya.

Kaien pun mengangguk menjawab pertanyaan Rukia.

"Arigatou gozaimasu, Senpai!"

:

:

:

"Hiks...ayaaah...ayah...hiks. Ayah dimana...hiks," suara isak tangis seorang gadis kecil terdengar tak jauh dari gerbang SMA Karakura. Gadis bersurai pink itu nampak sudah mulai lelah menangis. Ia benar-benar frustasi telah kehilangan jejak ayahnya. Dan bisa ditebak, sang ayah pun juga sama halnya dengan gadis kecil itu. Ia terpisah dari ayahnya kira-kira seusai jam pulang siswa SMA. Jadi si gadis tak punya kesempatan untuk meminta bantuan karena jalanan di situ sudah sepi. Ia hanya bisa meringkuk dan terus menangis dengan sisa tenaganya.

:

:

:

"Gara-gara gadis asusila tadi aku jadi pulang telat! Coba saja dia tidak menari seperti itu. Aku pasti tak akan mimisan sebegini derasnya dan harus bersinggah di UKS kan! Sial!" Kurosaki Ichigo baru keluar dari tempat menimba ilmunya. Ia terus menggerutu sambil sesekali menyeka sisa-sisa cairan berhemoglobin dari hidungnya. Tak disangka, juniornya bisa se-ekstrem itu hingga membuat Kurosaki Ichigo, cowo cuek, tegas dan paling anti dengan seorang cewe atau hal-hal yang berbau asusila bisa merasakan degupan hebat yang bertalu-talu dan rasa panas yang menjalar disekujur tubuhnya."Awas saja! Akan ku balas dia besok! Lihatlah Chappy,besok kau akan sengsara!" sebuah sumpah serapah begitu saja keluar dari mulut Kurosaki Ichigo. Senyum iblis yang menurutnya bisa mempermanjur sumpah serapahnya pun tak ketinggalan ia suguhkan. Eh, tapi tiba-tiba ia menghentikan langkah dan gerutuannya setelah sampai di luar pagar sekolah. Ia melihat seorang anak kecil yang menangis tepat di sampingnya.

Si anak kecil pun menoleh karena mengetahui ada seseorang di sampingnya,

"Kakaaaaak...aku mau ayah..ayah dimana? Hiks..kakak...carikan ayah.." gadis berusia empat tahun itu memperkeras tangisnya.

"Eh? Kau terpisah dari ayahmu?" Ichigo yang tak tega pun berniat membantu.

"Iya..hiks..carikan ayah..."

"Jangan menangis ya, Kakak akan membantumu. Kakak janji akan membawamu pada Ayah."

:

:

:

"Yosh! Kaien-senpai baik sekali..hihi, hari ini walau baru dapat 17 tanda tangan tapi rasanya puas sekali. Lumayan kan, tugas bertambah ringan. Apalagi di dampingi oleh pangeran seperti Kaien-senpai. A~h..sepertinya Kaien-senpai tidak mengingat kejadian memalukan tadi. Syukurlah.." Rukia terlihat lega, tanggungannya menjadi sedikit berkurang karena senpai pujaannya itu. Dia rasa pulang sesore apapun tak bakal jadi masalah bila bersama sang senpai."Sehabis ini, Kaien-senpai meneleponku atau tidak ya...kyaa..jadi malu..."Rukia terus berbicara nglantur hingga mencapai gerbang.."Aduh..aku jadi deg-degan,..eh? Lho? Bukannya itu Yachiru?" gadis kecil yang kehilangan ayahnya itu pun memasuki jarak pandang Rukia. Rukia kenal betul bocah itu. Dia adalah tetangganya. Bagaimana bisa gadis kecil itu kemari? Pikir Rukia. Dia pun mendekat tanpa menyadari sesuatu semacam bahaya ada di dekat situ pula.

"Yachiru?"

"Ah? Kak Rukiaaa!" dengan gesit gadis kecil tadi mendekap erat Rukia. Rasa takutnya terlampiaskan dengan kedatangan Rukia. Dewi Fortunanya.

"Yachiru, bagaimana bisa kau ada di sini? Mana paman Zaraki?"

"Yachi nggak tau hiks..tadi ayah yang hilang..Yachi cari tapi Yachi malah ikut tersesat. Yachi takut..hiks" oh ayolah, disaat seperti ini tak pantas mengatakan jika ayahmu lah yang hilang."Terus Yachi di tolong Kakak Mikan ini.." Yachiru menunjuk pria tegap di belakangnya.

"Kakak Mikan?!" yang di panggil pun tak terima.

Sedangkan Rukia ikut menoleh kearah jari telunjuk Yachiru.

"Di-dia?!" pekik Rukia tertahan. Orang yang sama-sama ia panggil 'mikan' sekarang berada di hadapannya persis.

"Gadis Asusila?!" sepertinya Ichigo pun baru sadar jika gadis di depannya adalah gadis yang baru saja ia beri sumpah serapah.

"Kakak saling kenal?"

TO BE CONTINUED


Speechless, cingcongless, cerewetless,

Gomen kalo tulisannya acakadul n pendek banget,saya buatnya ndadak banget. suruh cepet istirahat ya udah deh. saya janji. saya akn perbaiki di chap depan. mohon dukungannya ya..

Tapi saya harapkan untuk R&R ya.. R yang terakhir sangat berarti bagi saya dan kelanjutan fic ini. Sebelumnya arigatou ^^