Bleach © Tite Kubo
Warning : OOC, Gaje, Typo, Hints RenIchi bertebaran, waspadalah! ^_^, Don't Like Don't Read
xxxx
Renji benar-benar merasa kewalahan menghadapi lawannya kali ini. Meski Kurotsuchi Mayuri telah berhasil dihabisi oleh Hisagi, namun rupanya masih ada beberapa orang yang tersisa, termasuk yang berada di depannya sekarang. Renji sedikit meringis ketika luka di sekujur tubuhnya terasa semakin sakit. Tapi ia tetap menggenggam pedangnya dengan mantap.
Sedikit terengah, Renji memaksakan diri untuk bicara, "ternyata kau memang tidak boleh diremehkan, Nemu-san."
Nemu, tangan kanan Mayuri itu hanya tersenyum sinis menanggapi komentar Renji. Tanpa berkata apapun, Nemu segera mengayunkan pedangnya. Bermaksud untuk membalaskan kematian orang yang paling ia hormati.
"Tidak semudah itu," Renji menahan pedang Nemu dengan Zabimaru miliknya. "kenapa kau begitu keras kepala? Sebaiknya kau menyerah, Nemu-san. Jangan buat kesabaranku habis." Ujar Renji sambil tetap menahan serangan Nemu.
Tanpa Renji duga, Nemu berhasil menembus pertahannya. Hal terakhir yang dia dengar sebelum bilah tajam itu menembus perutnya adalah Ichigo yang meneriakkan namanya. Setelah itu, semuanya gelap.
Life Like This
( Chapter 2 )
"Renji! Ayo bangun, bodoh!" Ichigo mengguncang tubuh Renji sedikit keras. Tidak jauh dari tempat mereka, terlihat tubuh Nemu yang sudah tidak bernyawa.
Hisagi segera menghampiri kedua temannya itu dengan tergesa, Pemuda itu kemudian berjongkok di dekat Ichigo. "tenanglah, Ichigo. Ikkaku sedang memanggil bantuan." Hisagi menepuk pundak Ichigo pelan, berusaha menenangkan.
"Tapi… kenapa lama sekali, Senpai? Renji… dia… " Ichigo tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia semakin khawatir melihat keadaan Renji yang mengeluarkan banyak darah dari lukanya. Dia belum siap kalau harus kehilangan lagi. Belum sekarang.
"Aku yakin dia akan baik-baik saja."
Ichigo hanya mengangguk. Menyakinkan dirinya bahwa apa yang dikatakan Hisagi memang benar. Renji akan baik-baik saja.
x.x
Rukia berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dengan langkah cepat. Ia sekarang harus memastikan bahwa Renji selamat, kalau teman masa kecilnya itu masih hidup.
Rukia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sekarang ini ia telah sampai di depan ruangan tempat Renji dirawat. Namun, ia masih sedikit ragu untuk masuk. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Entah sudah berapa lama Rukia hanya berdiri di depan pintu itu, sampai sebuah suara mengejutkannya.
"Rukia-sama? Kenapa Anda tidak masuk?" Tanya Hisagi heran. Ia baru saja kembali dari kantin rumah sakit. Sededar mengisi perutnya yang meronta minta diisi sejak tadi.
Rukia bertanya dengan nada cemas yang luar biasa, "Hisagi-san… bagaimana keadaan Renji?"
"Dia kehilangan banyak darah." Hisagi mengusap wajahnya yang tampak lelah dengan tangan kanannya. "tapi untunglah… sekarang ia sudah tidak apa-apa."
"Yokatta." Rukia menghembuskan napas lega.
Hening.
"Mungkin sebentar lagi Nii-sama akan kemari. Ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan."
Hisagi menganggukkan kepalanya. Sekali lagi keheningan yang terasa janggal ada diantara mereka.
"Maaf… "
"Eh?" Hisagi memasang wajah heran mendengar Rukia tiba-tiba mengatakan 'maaf'.
Rukia semakin menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan air mata yang ingin jatuh. "maaf… aku tidak ada disana saat itu."
Hisagi hanya diam. Jujur saja, ia tidak tahu harus bagaimana. Rukia yang selama ini ia kenal adalah sosok yang tegar. Bukan Rukia yang sedang terisak di hadapannya sekarang. Hisagi tidak tahu apa yang terjadi dengannya saat tanpa sadar, tangannya bergerak untuk mengelus rambut Rukia. Sedikit lagi… sampai…
"Rukia!"
Hisagi dengan canggung menurunkan tangannya dan segera menunduk hormat pada Byakuya yang sedang berjalan ke arahnya dan Rukia. Di belakang Byakuya terlihat Kuchiki Kouga dan beberapa orang berjas hitam. Sedangkan Rukia Nampak sekuat tenaga menghapus sisa-sia air mata di wajahnya.
"Selamat datang, Byakuya-sama, Kouga-sama."
Kouga tersenyum ramah pada Hisagi. Berbeda dengan Byakuya yang langsung berjalan ke ruangan Renji. Ada kilat tidak suka yang bisa Hisagi lihat di mata Byakuya, ketika kepala keluarga Kuchiki itu melewatinya. Hisagi hanya bisa menelan ludah paksa.
"Sampai kapan kau mau diam di situ, Rukia? Kau tidak mau melihat keadaan Renji?" kata Byakuya dengan nada dingin.
Rukia mengikuti langkah Byakuya tanpa berkata apapun.
"Hisagi-san…"
"Ya, Kouga-sama." Jawab Hisagi dengan sopan.
"Pulang dan istirahatlah. Kau butuh itu." Kouga berkata sembari menepuk bahu Hisagi. Kemudian laki-laki paruh baya itu pun mengikuti kedua keponakannya yang masuk lebih dulu.
"Baik," Hisagi membungkukkan badannya dengan hormat. "terima kasih… Kouga-sama."
x.x
"Ichigo… "
Ichigo menolehkan wajahnya ke arah pintu ketika mendengar namanya disebut. Sontak pemuda itu berdiri dari kursi yang ia duduki. Memberi tempat pada Rukia yang mulai mendekat ke tempat tidur Renji.
Rukia duduk di bangku yang tadi ditempati Ichigo. Matanya menatap miris pada Renji yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat kedokteran yang terpasang di tubuh pemuda itu.
Perlahan, Rukia menggengam tangan Renji dengan jemari mungilnya.
"Kau harus cepat sembuh." Rukia tersenyum sedih dan semakin menguatkan genggamannya.
Tanpa Rukia sadari, ada dua pasang mata yang menatap tidak suka pada apa yang ia lakukan.
Sementara itu, Kouga mendekati Ichigo yang berdiri di dekat pintu, "Kau sendiri tidak apa-apa 'kan, Ichigo?"
Ichigo sedikit tersentak, hanya gelengan lemah yang mampu ia berikan. Saat ini tenggorokannya seakan tercekat. Ia belum mampu untuk bicara banyak.
Tiba-tiba Byakuya berkata dari sofa yang ia duduki, "pulanglah."
Nada yang tegas dan tidak bisa dibantah. Jika dalam situasi biasa, Ichigo pasti akan patuh. Tapi tidak untuk kali ini. Ia ingin jadi orang pertama yang Renji lihat saat pemuda berambut merah itu membuka matanya.
Ichigo memaksakan untuk menjawab, "maaf, tapi saya akan tetap di sini."
Byakuya memandang Ichigo tajam dan Ichigo seolah tidak perduli.
"Kau tidak perlu khawatir, ada Rukia yang menemani Renji. Kau juga tidak perlu ke sekolah beberapa hari ini, semuanya sudah diurus." Saran Kouga pada Ichigo yang masih membalas tatapan tajam Byakuya. Merasa diabaikan, Kouga akhirnya memilih duduk saja di samping Byakuya. Memang susah kalau harus berhadapan dengan orang-orang keras kepala macam Ichigo.
"Nii-sama…." Tiba-tiba Rukia berkata tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Renji yang tertidur pulas karena pengaruh obat. "biarkan Ichigo tetap di sini. Aku mohon."
x.x
Waktu seolah berjalan cepat. Sinar kemerahan mulai menembus jendela ruang rawat Renji yang gordennya sengaja dibiarkan terbuka. Dan Renji belum juga membuka matanya, meski dokter mengatakan kalau masa kritisnya sudah lewat.
Ichigo dan Rukia juga seolah nyaman dalam dunianya masing-masing. Rukia berdiri dari duduknya dan menoleh ke arah Ichigo yang duduk di sofa.
"Aku mau ke kantin sebentar. Kau mau aku belikan sesuatu?"
"Tidak ."
Jawaban pendek itu membuat Rukia mendengus kesal. "setidaknya, kau harus makan sesuatu, Baka!"
'Mulai lagi' Ichigo menghembuskan napas, kesal.
"Aku bilang tidak, ya, tidak. Apa belum jelas, Rukia-sama." Ichigo berkata dengan penekanan pada kata 'Rukia-sama.'
Rukia mengambil tasnya di meja dengan kasar, "terserah! Aku tidak mau tahu kalau kau sampai pingsan!"
Ichigo berusaha menahan tawanya ketika melihat wajah cemberut Rukia, benar-benar menggelikan.
"Aku tidak akan pingsan gara-gara tidak makan satu hari, Rukia-sama."
Rukia semakin jengkel dan berjalan keluar dengan langkah cepat.
"Urusai!" bentak Rukia gusar.
Sepeninggal Rukia, Ichigo kembali mendekat ke tempat tidur Renji. Mendudukkan dirinya di samping tempat tidur pemuda itu.
Ichigo hanya diam. Sesekali menatap jam berbentuk bulat yang tergantung di dinding.
Selagi Ichigo sibuk dengan pikirannya, kelopak mata milik Renji perlahan terbuka.
"Ichi…"
Pemuda itu segera menoleh, Dilihatnya Renji yang tengah menatapnya.
Ichigo tidak tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba saja ada tetes-tetes air yang jatuh dari mata coklatnya. Ia tidak perduli kalau harus dicap cengeng. Ia juga tidak mau tahu kalau setelah ini semua orang akan menertawakannya. Yang ia rasakan sekarang hanyalah sebuah kelegaan karena dirinya tidak perlu merasakan kehilangan lagi.
Renji menatap heran pada Ichigo. Baru kali ini ia melihat sosok Ichigo yang begitu rapuh. Dan ini semua karena dirinya.
"Gomen," Renji memaksakan diri untuk meraih tangan Ichigo dan mengenggamnya.
"Bodoh!" Ichigo semakin menunduk. "kau membuatku takut, tahu!"
Suara yang keluar dari bibir Ichio terdengar begitu lirih.
"Maaf…" ulang Renji seraya mengeratkan genggamannya.
Mereka tidak tahu kalau ada mata violet yang melihat jelas adegan itu dari pintu yang sedikit terbuka.
T.B.C
AN : buat ByaRuki FC, sepertinya kalian harus bersabar karena di chap ini belum ada adegan ByaRuki *disambit*. Untuk adegan battle antara Renji dan Nemu juga tidak saya gambarkan dengan jelas. Saya tidak bisa buat adegan battle! *teriak frustasi*, seperti kata si sepupu yang tidak kalah gajenya dengan saya: jiwa preman saya mungkin belum keluar
Dan sepertinya jiwa fojoshi saya tidak bisa ditahan lagi, soalnya saya buat hints RenIchi bertebaran di sini :p
Yang sudah meripiu di chap 1, saya ucapkan arigatou.. domo arigatou, minna-san.
Rei : Makasih Rie, saya sebenernya lagi belajar buat fic dengan pair ini hehehe *ketawa gaje*
Ojou-chan : Iya…iya…ni aku udah lanjutin, ga usah ngancem gitu dong *nodongin Zabimaru* eh tapi kalau ga kuat, ga usah baca ya hahahahaha
Chariot330 : makasih…hm, ini update-nya, silahkan dibaca
