SM1719 PRESENT:
PUTTISH
Cast: Kim Jong In, Oh Sehun(Stevan), and Other
Disclaimer: EXO punya SM Ent, orangtua mereka, diri mereka sendiri, dan Tuhan Yang Maha Esa
RATE: M
Warn: typo, belum diedit, YAOI. FF ini hanya karangan semata, begitu juga makhluk ff ini. Semuanya murni karangan dari otak author yang mesum
DON'T LIKE? DON'T READ!
London. 23.54
Lorong yang luas dan panjang itu, terlihat gelap tanpa ada penerangan lampu. Suara ketukan antara sepatu dan lantai marmer yang dingin terdengar ditengah kesunyian lorong pada malam hari itu.
Sosok pria dengan tubuh tegap sesekali terlihat, saat berjalan melewati lorong itu. Tubuh pria itu sesekali terlihat ketika terkena terpaan sinar bulan dari jendela kaca yang berderet rapi disetiap dinding, dengan panjang dan lebar yang sangat besar itu. Tubuh yang terbalut jas hitam itu terlihat berbelok ke kanan lorong, dan berhenti didepan pintu kembar berwarna cokelat almond. Tangan putih pria tersebut membuka salah satu pintu tanpa ada keraguan.
Setelah pintu terbuka, pemandangan pertama yang terlihat, adalah sekumpulan orang yang duduk mengelilingi meja panjang bernuansa Eropa, dengan sosok lelaki yang terlihat lebih mencolok dari yang lainnya tengah duduk pada bagian ujung meja berbentuk persegi panjang, dan jendela kaca besar dibelakangnya sebagai background.
"Kau datang."
Stevan memasang wajah datarnya tanpa ada niatan untuk mengeluarkan suaranya. Tubuh tegap itu berjalan pelan menuju bangku yang masih kosong pada bagian ujung meja yang lain.
"Baik. Kita bisa memulainya." Sosok lelaki dengan jubah hijau itu memerintah. Beberapa orang disekitarnya nampak sibuk membaca sesuatu yang tertulis di atas lembaran putih di atas meja.
"Yang mulia, wilayah utara London yang berhasil Anda rebut, telah kami tangani." Seorang lelaki dengan pakaian formalnya memulai diskusi,"lalu, apa yang harus kami lakukan pada benda-benda sisa yang masih berada disana, Yang Mulia?"
Sosok lelaki dengan jubah hijau yang dipanggil Yang Mulia itu, nampak memasang raut dingin diwajahnya. Jemari kanannya mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja, sehingga menimbulkan suara yang cukup menggema dalam ruangan yang sekarang hening itu. "Buang saja! Aku tidak ingin ada barang bekas milik vampire lain di wilayahku!" Perintahnya mutlak.
"Baik!" Orang-orang disana menunduk patuh dengan serempak. Kira-kira, ada sekitar 14 orang. Sebagai tambahan, ada dua orang yang terlihat berdiri di kedua sisi sosok berjubah hijau itu, dan dua orang lainnya berada di setiap sisi pintu yang tadi Stevan buka.
Setelah itu, perbincangan yang terlihat serius itu mulai berlanjut. Pembahasan mengenai kekuasaan wilayah, para prajurit, kelompok, dan perkembangan saham mereka bicarakan dengan baik. Semua orang nampak memasang wajah serius mereka.
Kecuali satu orang.
Stevan.
Stevan nampak menopang dagunya dengan satu tangan. Wajah pucat itu memandang bosan pada orang-orang di sekelilingnya. Pemuda itu terlihat tidak memiliki minat sama sekali untuk mendengarkan pembahasan mereka.
"Jadi...Stevan. Aku berencana menggelar pesta ulang tahunmu dua minggu lagi."
Sosok berjubah hijau itu tiba-tiba mengalihkan pembicaraan ditengah pembahasan mengenai letak kekuasaan. Kedua mata dengan bola mata berwarna hijau zamrud itu, memandang lekat pemuda pucat yang berada tak jauh di depannya.
Stevan menegakkan badannya dengan perlahan. Kedua manik hitamnya balas menatap pada manik hijau zamrud di depannya. Orang-orang yang berada di setiap sisi kedua laki-laki itu, juga nampak mengalihkan perhatian mereka pada Stevan.
"Huh?"
"Aku meminta pendapatmu. Bukan kata 'huh' yang aku inginkan," sosok itu juga ikut menegakkan badannya dengan masih menatap Stevan.
Stevan terdiam sejenak, dan mendengus kasar,"Aku tidak menginginkannya" kata Stevan singkat. Pemuda itu menyenderkan punggungnya pada senderan kursi dibelakangnya, kemudian melipat kedua tangannya dibawah dada. Sosok lelaki didepan sana terlihat menaikkan sebelah alisnya sinis.
"Aku pikir Kris sudah memberitahumu soal ini."
Stevan memandang sinis pada sosok didepannya,"Ya. Dia memang sudah mengatakannya padaku kemarin." Kedua bola matanya mulai berubah warna menjadi hijau zamrud. Sama persis dengan warna bola mata sosok berjubah itu.
"Kenapa tidak? Aku akan mengundang banyak wanita dan pria nanti," Sosok itu juga ikut melipat kedua tangannya dibawah dada, "Kau bisa memilih salah satunya."
Stevan terdengar menggeram pelan. Tangan kanannya mengepal didalam lipatan lengannya. "Apa kau sedang berusaha menjodohkanku?" Tanyanya dingin. Sosok berjubah itu terdiam sesaat ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan Stevan, sebelum akhirnya tertawa kencang. Tawa yang terdengar seperti tengah mengejek Stevan.
"Apa kau berpikir seperti itu?" Sosok itu menghentikan tawanya dan balik bertanya pada Stevan.
Orang-orang disetiap sisi kedua lelaki itu masih terdiam. Mereka tidak berani membuka suara, dan hanya memperhatikan kedua lelaki pucat itu secara bergantian.
"Jika aku mengatakan 'ya', apa yang akan kau ucapkan sebagai jawabanmu?" Nada suara yang dikeluarkan Stevan terdengar menantang. Tak lupa tatapannya yang kini terlihat menilai pada sosok berjubah itu. "Aku harap kau akan mendengarkanku kali ini, Tone. Aku tidak ingin pesta ulang tahun itu."
Sosok yang Stevan panggil sebagai Tone itu hanya diam mendengarkan. Tetapi, kedua bola mata berwarna hijau zamrud itu terlihat semakin bersinar terang.
"Aku juga bisa mencari pasanganku sendiri! Jangan terlalu mengatur hidupku karena aku tidak suka itu! Meskipun kau seorang pemimpin, akan tetapi, kau tidak bisa berbuat sesukamu dalam mengatur kehidupan orang lain, Yang Mulia!" Stevan kembali bersuara dengan nada tegasnya. Pemuda itu terlihat sama sekali tidak takut dengan kedua bola mata yang kini menatapnya tajam.
"Oh, benarkah? Apa sekarang kau mencoba menasehatiku?" Sosok Tone itu terlihat tidak suka dengan perkataan Stevan. Ia mulai mengeluarkan aura dingin disekitar tubuhnya.
Stevan menarik sudut bibirnya,"Kalau 'iya'?"
Aura didalam ruangan itu mulai berubah dingin dan tegang. Kedua pria dengan warna bola mata yang sama itu saling tatap.
"Aku tidak menerima permintaanmu!" Sosok berjubah itu berucap setengah berteriak. "Tidakkah kau sadar berapa usiamu sekarang?"
Stevan kembali menegakkan badannya,"aku sangat sadar berapa usiaku sekarang. Jadi, biarkan aku mencarinya sendiri!" ujarnya. Setelah itu, napas pemuda dengan kulit pucat itu terdengar memburu. Kedua bola matanya juga ikut bersinar terang.
Tone nampak memasang wajah dingin nan datar. Lelaki itu masih setia menatap lekat pemuda yang berada tak jauh di depannya tersebut. "Benarkah? Lalu, berapa lama lagi aku harus menunggu? Apa jika aku sudah terbaring lemah di atas ranjang dengan luka tusuk didada, kau baru membawanya kehadapanku?" Sosok itu bertanya sarkas.
BRAK
"Cukup! Berhenti membahasnya! Aku tahu kau pasti tidak akan mendengarnya!" Stevan tiba-tiba saja menggebrak meja dengan sangat keras. Orang yang berada tepat disisi kanan Stevan nampak memasang wajah ngerinya melihat pemuda itu. Bukan. Bukan karena suara tinggi Stevan yang terdengar menggeram marah. Tapi karena tempat bekas Stevan menggebrak, terlihat membentuk garis yang lumayan panjang hingga berakhir diantara keempat orang di depannya.
Stevan berdiri, menatap nyalang pada sosok yang duduk di sisi lain dari meja persegi panjang tersebut,"Apa kau meragukan perkataanku?" tanyanya tanpa intonasi nada.
Lelaki berjubah itu kembali melipat kedua tangannya, "Kalau 'iya'?" katanya mengikuti perkataan Stevan. Stevan diam menatap sosok itu. Giginya terdengar bergemelutuk, dengan rahang yang mengeras.
"Fuck!"
Stevan mengumpat kasar dan mendorong kursinya keras, hingga membuat kursi itu tergeletak beberapa meter di depan pintu kembar berwarna cokelat almond. Pemuda itu lantas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu kembar itu. Stevan membuka dan menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi debuman yang lumayan keras.
Pemuda pucat itu pergi, meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata.
Setelah kepergian Stevan, keadaan di dalam ruangan itu hening tanpa suara. Tone menatap pintu yang baru saja ditutup-dibanting- Stevan dengan tatapan datar. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada tumpukan berkas di depannya.
"Baik. Aku rasa kita perlu membahas perkembangan wilayah di sektor delapan."
...
...
Stevan berjalan menyusuri lorong gelap dengan langkah cepat. Napasnya terdengar memburu dan tak beraturan. Langkahnya terhenti. Kedua bola mata yang masih berwarna hijau zamrud itu nampak menyala terang dalam kegelapan lorong.
"SHIT!" Stevan mengumpat setengah berteriak, hingga membuat gema di lorong panjang tersebut. Kedua tangannya mengepal kuat di setiap sisi tubuhnya.
DRRTT..DRRRTT
Tak berapa lama, getaran pelan pada saku jasnya membuat Stevan mulai sadar. Ia mengambil benda persegi panjang yang berwarna hitam itu dengan cepat, dan tanpa pikir panjang, Stevan menerima panggilan itu.
"Hallo"
"..."
Stevan terdiam sejenak,"Hm. Aku tidak apa-apa."
"..."
"Ya."
Stevan melangkahkan kedua tungkai kakinya mendekati jendela besar didekatnya. Pemuda pucat itu memandang datar pemandangan kota London pada malam hari, dari balik kaca jendela.
"Kris.."
"..."
"Kita perlu bicara. Temui aku di tempat biasanya."
"..."
"Terserah."
Setelah itu, Stevan memutus panggilannya. Ia memandang layar handphonnya sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya pada pemandangan kota London, dengan lampu bangunan yang terlihat menyala menerangi malam hari.
BAGIAN II
06.21 KST
Stevan menapakkan kakinya pada lantai bandara. Pemuda dengan kemeja biru, kaos putih polos, celana jeans, dan kacamata hitam itu nampak memasang raut datarnya memandang ke sekelilingnya. Kini, Stevan berada di Korea Selatan.
Jangan coba tanyakan kenapa ia bisa berada di negara ginseng itu. Setelah Kris menelepon dirinya, malam itu mereka bertemu disebuah club ternama dipusat kota London. Kris saat itu nampak mengenakan jas abu-abu dan tatanan rambut yang terlihat sudah disisir rapi kebelakang. Pemuda itu bilang, ia akan segera berangkat malam itu juga menuju Korea Selatan untuk urusan bisnis perusahaannya disana. Stevan tidak mengatakan apapun. Pemuda itu terlihat hanya diam saja dengan rahang mengeras.
"Kris, aku akan menerima ajakanmu pergi ke Korea."
Kris yang saat itu tengah meminum vodkanya, tanpa sengaja mengeluarkan cairan alkohol itu kembali keluar dari mulutnya, ketika mendengar ucapan Stevan yang secara tiba-tiba tersebut. Dengan wajah setengah idiotnya, dan alis terangkat, pemuda Kanada-Cina itu bertanya terkejut
"Ha?! Kau akan–apa?"
Stevan berdecak malas melihat pemuda di sampingnya. Ia memutar bola matanya,"Aku menerima ajakanmu untuk pergi ke Korea."
Kedua tungkai kakinya yang panjang berhenti melangkah, ketika menemukan sederet orang-orang yang tengah berbaris rapi dari balik benda besi yang menjadi pembatas orang-orang tersebut, didepan ruang tunggu bandara. Beberapa orang terlihat mengangkat kedua tangan mereka, memegang sebuah papan berisi tulisan hangul.
Kedua matanya berhenti pada salah satu papan nama yang nampak terlihat lebih besar dari papan-papan yang lain. Papan dengan warna cokelat dan bertuliskan..
'WELCOME TO KOREA, STEVAN CLART! :* '
Oh...Jangan lupakan emoticon dibelakang kalimat barusan. Satu lagi. Semua kata tertulis dengan huruf kapital besar. Ck! Stevan menurunkan pandangannya pada si pembawa papan memalukan tersebut.
Kris
Pemuda itu terlihat mengenakan mantel cokelat yang menutupi setengah jas hitam yang dikenakannya. Dengan kacamata hitam, dan...Senyuman lebar yang menurut Stevan sangat idiot dan menjijikan.
Apa-apaan temannya itu?!
Ingin sekali pemuda pucat itu menepuk kasar wajahnya, melihat kelakuan temannya itu. Heh..Teman? Stevan rasa, ia tidak pernah punya teman yang memalukan seperti itu! Terlebih lagi didepan umum!. Heol!
Ingatkan Stevan untuk mem-blacklist nama Kris dari daftar orang yang dikenalnya.
"HEI, STEVAN! SEBELAH SINI!" Kris terdengar setengah berteriak memanggil Stevan, membuat beberapa orang disamping kanan dan kiri pemuda itu, memandang pemuda Kanada-Cina itu dengan pandangan aneh. "I'M HERE! HERE!"
Stevan berdecak kesal. Ia menolehkan kepala kesegala arah dan berjalan sambil menarik kopernya, meninggalkan kerumunan orang-orang itu. Stevan sama sekali tidak memperdulikan teriakan Kris.
Ck! Sesekali pura-pura tuli tidak apakan?. Atau tambahkan saja pura-pura tidak lihat! Sungguh! Stevan benar-benar malu melihat kelakuan temannya yang seperti itu!. Mau ditaruh dimana wajah tampannya nanti?
Baru beberapa langkah meninggalkan kerumunan itu, Kris terlihat berlari menyusul Stevan dan menghadang langkah pemuda pucat itu. "Hei, bung! Aku tahu kau mendengar teriakanku!" Sembur Kris cepat. Kedua tangannya masih setia memegang papan cokelat yang besar itu.
Stevan kembali berdecak kesal,"Buang papan itu! Kau memalukan!" perintahnya datar. Kris terlihat mengangkat sebelah alisnya dan kemudian tertawa terbahak.
"Hahaha! Maksudmu papan ini?" Kris mengangkat kembali papannya, hingga menunjukkan deretan kalimat dengan huruf kapital besar dan emoticon kiss itu.
"Aku bilang buang!" Stevan mendesis tidak suka, dan Kris segera menurunkan lagi papan itu.
"Ohh..Ayolah! Ini cara yang paling mudah untuk menyambut kedatangan orang asing di bandara! Orang-orang itu juga menggunakan papan seperti ini." Kris menunjuk beberapa orang yang masih setia berdiri ditempatnya dengan kedua tangan terangkat memegang papan. "Lagipula...Ini dilakukan agar kau tidak tersesat, dan kau jadi tahu siapa yang akan menyambut kedatanganmu di Korea!" lanjutnya dengan senyum lebar.
Stevan melipat tangan dibawah dadanya dan memandang kejam pada Kris,"You look like idiot!" Ejeknya tajam. Mendengar hinaan yang dikeluarkan Stevan, Kris terlihat sama sekali tidak tersinggung. Pemuda itu malah kembali tertawa terbahak.
"Oke..Oke..Aku mengalah! Tapi setidaknya kau mengatakan terimakasih padaku! Aku membuat ini dengan penuh cinta dan aku juga sudah menyambut kedatanganmu! Setidaknya, hargai usahaku!" Kris mencoba memberi pembelaan terhadap perbuatannya. Stevan terlihat semakin menatap Kris kejam, dari balik kacamata hitamnya.
Kedua pemuda dengan tinggi yang hampir sama itu, kemudian berjalan keluar menuju area parkir bandara. Keduanya lalu berhenti di sebelah mobil lamborghini putih, yang terparkir rapi dibawah pohon yang tidak memiliki daun sama sekali pada ranting-rantingnya. Stevan terlihat memasuki mobil terlebih dahulu. Sementara Kris terlihat memasukkan koper milik Stevan. Pemuda Kanada-Cina itu sesekali terdengar menggerutu.
Stevan, walaupun hanya membawa satu koper, tapi entah kenapa koper itu terasa sangat berat.
Setelah memasukkan koper Stevan, Kris berjalan menuju pintu kemudi mobil lamborghini miliknya. Ia duduk dan memasang seatbeltnya. Kris memperhatikan Stevan yang tengah memandang keluar dari balik kaca mobil. Alis Kris terangkat sebelah,"Kau memasukkan apa saja didalam kopermu, huh? Berat sekali! Lebih berat dari sebuah batu yang berukuran sebesar manusia!" Kris mulai mengeluh mendramatisir. Tanpa sepengetahuannya, Stevan saat ini tengah memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Kris.
"Hanya jalankan mobilnya!"
Kris berdecak kesal menatap Stevan. Ia kemudian melepas kacamata hitamnya dan menaruhnya pada kursi penumpang di belakangnya.
Setelah itu, mobil lamborghini putih tersebut mulai berjalan meninggalkan area parkir bandara International Incheon, Korea Selatan.
...
...
"Untuk sementara ini, kau menginap saja dulu di rumahku. Aku belum sempat memesan apartemen untukmu disini, karena kau mendadak sekali mengatakannya padaku."
Kris berujar ditengah acara mengemudi mobilnya. Sesekali ia memalingkan wajahnya menghadap Stevan. Melihat bagaimana ekspresi yang dikeluarkan oleh Stevan.
Stevan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa selain datar. Selama dalam perjalanan, pemuda itu hanya diam dan memandang pemandangan diluar dari balik kaca mobil.
"Hmm" Stevan menjawab dengan sebuah dengungan suara tanpa mengalihkan perhatiannya pada Kris.
Kris terdiam sejenak sebelum menghela napas pelan,"Bagaimana menurutmu tentang kursus bahasa Korea? Aku tahu tempat yang terbaik untuk mempelajari bahasa disini!" alihnya dengan nada ceria.
Stevan mengangkat kepalanya dan menoleh pada Kris. Satu alis tajam pemuda itu terlihat tertarik keatas dengan pandangan bingung. "Kursus?"
Kris mengangguk meng-ia-kan dengan gumamam semangat,"Aku sudah tahu beberapa bahasa disini! Dengarkan! AnnyeongHaseo...Gamsahabnida...Mianhae..Dan yang paling terpenting..Saranghae, Bbuing!" Kris mengakhiri sesi prakteknya dengan kedipan mata yang lucu. Tapi sayangnya, Stevan malah memandang jijik pada ekspresi yang dikeluarkan Kris tersebut.
"Aku tidak yakin mereka mengajarkan kata terakhir dari kalimatmu barusan, dan ekspresi menjijikan itu."
Kris bersungut kecil dan menoleh pada Stevan, "Ck! Itu namanya Aegyo! Orang-orang Korea sering melakukan itu, dan itu terlihat sangat menggemaskan!"
Stevan berdecak pelan mendengarnya,"Jika kau yang melakukannya, itu lain lagi namanya..Kau terlihat menggelikan!" ejeknya.
Kris sama sekali tidak mendengarkan ejekan Stevan. Ia hanya memasang wajah datarnya. "Awas saja kalau nanti kau suka melihat pasanganmu melakukan aegyo!"
"Apa?"
"Tidak! Kau salah dengar!"
...
...
JongIn berjalan diantara kerumunan orang-orang. Lelaki dengan kulit tan yang terbalut coat merah muda itu, terlihat mengamati jalanan didepannya dengan tenang. Tangan kanannya menenteng sebuah kotak yang terlapisi tas kecil bergambar pohon.
Pagi ini, suhu udara di Busan entah kenapa sangat dingin. Pemuda itu bahkan tidak segan terdengar mengeluh dan menggigil pelan. Saat dirinya hendak pergi bekerja tadi, ayahnya bahkan menyuruhnya untuk mengenakan berlapis-lapis pakaian. Maklum saja, sebentar lagi Korea Selatan akan dilanda musim salju.
"Uhh..Dinginnya!" JongIn bermonolog ria. Kedua tangannya memeluk masing-masing lengannya dengan erat. Kepulan uap juga terlihat muncul dari dalam mulut JongIn ketika pemuda itu membuka mulutnya.
JongIn berdiri diantara kerumunan orang, yang terlihat tengah menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau untuk para pejalan kaki.
DDRRTT...DDRRTT
JongIn merasakan getaran kecil pada kantong coat miliknya. Pemuda itu kemudian merogoh isi kantongnya, dan mengeluarkan handphonnya. JongIn memperhatikan layar handphonnya yang nampak beberapa kali berkedip menampilkan nama seseorang yang menghubunginya.
'Cho KyuHyun Sunbae'
Kedua mata JongIn terlihat membola membaca nama itu. Dengan tergesa, JongIn menjawab panggilannya.
"Ne! Sunbae-nim!"
"..."
"O-ohh, Mianhae..Aku terlambat!" JongIn melongokkan kepalanya melihat keadaan di kanan dan kirinya. Mobil-mobil masih terlihat bergerak melewati jalanan. Lampu lalu lintas untuk para pejalan kaki juga masih menunjukkan warna merah.
"..."
"Aku Sedang berada dalam perjalanan Sunbae!"
"..."
JongIn terdiam sesaat dengan raut wajah bengong,"Huh? Sunbae ingin aku apa?"
"..."
Sekali lagi, JongIn menolehkan kepalanya melihat keadaan sekitarnya,"Emm...Aku berada di lampu merah, didepan toko buku StarSeven," dan menatap toko buku diseberang jalan.
"..."
"...Ne?"
...
...
10.32 KST
Keadaan hening melanda didalam mobil lamborghini putih itu. Kris terlihat fokus pada jalanan didepannya, sementara Stevan terlihat memandang datar jalanan diluar dari balik kaca mobil.
"Kris. Kau membawaku kemana?" Stevan bertanya memecah keheningan. Keningnya mengerut bingung, kala jalanan yang mobil Kris lewati semakin terasa ramai oleh orang-orang dan mobil-mobil. Mereka juga sudah seperti berkeliling Korea selama berjam-jam tanpa ada tempat tujuan yang pasti.
Kris menoleh sedetik pada Stevan,"Busan."
"Apa?"
"Kantor perusahaanku berada di Busan. Tempat yang paling strategis untuk melihat perkembangan penjualan produkku disini.." Kris menjelaskan pelan yang hanya Stevan balas dengan menoleh pada pemuda Kanada-Cina itu.
"Disini juga ramai..Kau bisa melihat beberapa orang yang termasuk seleramu.." Kris menambahkan, yang langsung dihadiahi Stevan dengan kedua alis mengerut bingung.
"Ck! You Know what i mean, Stev.." Kata Kris seakan tahu arti tatapan Stevan. Stevan kemudian berdecak pelan. Ia menopang dagunya dan kembali memandang pemandangan diluar tanpa mengeluarkan sepatah kata.
"Hey,Stev..Karena kau di Korea..Bagaimana kalau kau memakai nama Korea juga?" Kris menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas di depannya berubah warna menjadi merah.
"Nama Korea?"
"Ya..! Tidak enak jika memanggilmu dengan nama aslimu terus..Akan lebih baik jika kau menggunakan nama Korea!"
Stevan nampak tidak tertarik dengan omongan Kris. Tapi ia tetap menanggapi.
"Terserah."
Kris menoleh pada Stevan,"Aku sudah punya nama Koreaku! Jadi kau bisa memanggilku Kris.."
"Itu bukan nama Korea! Itu namamu sendiri, bodoh!" Stevan menyahut cepat. Ia menatap Kris sangsi. Sedangkan Kris, pemuda itu hanya terkekeh pelan.
"Hei..Jangan salah! Kris masih bisa digunakan disini.."
"Kalau begitu, Stevan juga bisa digunakan disini."
Kris menoleh pada Stevan dan memandang pemuda pucat itu dengan pandangan menilai,"Kau bercanda?" jeda sejenak,"Namamu terlalu rumit! Akan aku carikan yang lebih mudah!"
"Maksudmu dengan kata rumit?"
"Ah! Bagaimana kalau JooHee? Itu terdengar bagus!" Kris tak menggubris pertanyaan Stevan dan malah langsung menyahut. Ia menaik turunkan alisnya dengan jenaka,"Itu nama terbaik yang aku pikirkan."
Stevan menatap Kris dengan tatapan yang seakan mengatakan 'Apa kau baru saja memilihkan nama untuk hewan peliharaan?' . Pemuda itu berdecak kesal,"Ck! Seleramu buruk! Kau pikir aku hewan peliharaanmu yang bisa kau kasih nama dengan seenaknya?" sungutnya datar.
"Aku tidak bermaksud begitu! Aku hanya membantumu!" Kris mengelak keras. Sesekali kepalanya tertoleh pada lampu lalu lintas yang masih menunjukkan warna merah.
Stevan kembali memandang keluar dari balik kaca jendela mobil. Sungguh! Ia sudah jengah dengan perbincangan tidak bermutu ini!. Membuang-buang tenaga saja!.
Kris berdehem pelan. Pemuda itu menyamankan posisi duduknya,"Baiklah...Akan aku carikan nama yang lain.."
Hening kembali.
"Mmm...Bagaimana kalau HyunJae? Aerum? illJon? Minwoo? Jin Seok? Tae Joon? Joon Ki?..Mmm..Ah! Atau-"
"Kris, matikan pengharum mobilmu!" Stevan tiba-tiba memotong deretan kalimat yang dilontarkan oleh Kris.
Kris segera menoleh pada Stevan, dan mulai mengecek pengharum mobilnya. "Apa...Maksudmu?"
"Matikan pengharumnya Kris! Baunya benar-benar membuatku mabuk!" Kris mengernyit heran ketika menangkap geraman rendah di dalam nada suara Stevan. Tubuh pemuda pucat itu juga nampak terlihat tegang di kursinya.
"Huh? Hey, Stevan? Ada apa? Kau ingin aku mematikan pengharum mobilnya? Tapi peng-"
"KAU TIDAK PAHAM KALIMAT BARUSAN?! MATIKAN!"
Kris setengah terlonjak terkejut dari tempat duduknya. Ia benar-benar terkejut dengan sosok lelaki pucat disampingnya yang tiba-tiba saja berteriak brutal.
Beberapa detik, keadaan di dalam mobil milik Kris menjadi hening dan menegangkan. Stevan menoleh menatap Kris dengan nyalang.
"Stevan..Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu...Tapi, perlu kau tahu, aku tidak menyalakan pengharum mobilku sejak kemarin," Kris bergumam pelan. Pemuda Kanada-Cina itu menatap ngeri pada Stevan yang kini terlihat menghembuskan napasnya dengan berantakan.
"Stevan...Ada apa denganmu? Matamu..."
Stevan terlihat mencoba mengatur napasnya yang mendadak memburu cepat. Ia terdiam sedetik, sebelum kemudian mendongak menatap kaca spion di dalam mobil Kris.
Kedua bola mata pemuda pucat itu terlihat berwarna hijau zamrud dan menyala terang.
"Stevan...Kau..Baik-baik saja?" Kris bertanya ragu. Ia mulai menegakkan tubuhnya, dan tangan kanannya diam-diam memegang tombol-tombol kendali mobilnya, yang berada di belakang stir kemudinya.
Napas Stevan semakin terdengar memburu. Pemuda itu kemudian menoleh dan menatap lurus kedepan, pada kerumunan orang yang tengah berjalan melewati zebra cross. Kedua bola mata hijau zamrud itu menatap lekat-lekat kerumunan orang yang berjalan didepan mobil Kris tersebut dengan tatapan meneliti.
Kris terus mengawasi setiap pergerakan Stevan. Di dalam hatinya, pemuda itu masih terkejut. Ada apa dengan Stevan? Kenapa tiba-tiba Stevan menjadi sangat agresif seperti itu?. Padahal beberapa menit yang lalu, Stevan masih terlihat baik-baik saja.
Klik
Kris menekan pelan tombol pengunci pintu mobilnya. Kedua matanya tak pernah lepas memperhatikan setiap gerak-gerik lelaki pucat, yang kini terlihat seperti menatap lapar beberapa kerumunan orang yang melewati zebra cross didepan mobilnya tersebut.
"Stev...tell me, what do you want now..?"
Jakun yang berada dileher Stevan nampak naik turun dengan lambat. Kedua bola mata pemuda itu juga masih menatap kerumunan orang-orang tersebut. Seakan tidak ingin melepaskan intaiannya.
"Krish.." Sudut bibir Stevan mulai memperlihatkan sebuah taring putih yang runcing. Ia setengah mengerang nikmat memanggil Kris. Mendengar erangan Stevan, Kris semakin was-was. Kedua bola matanya mulai ikut berubah warna menjadi hijau zamrud.
"I'm very hungry..."
...
...
"Apa? Sunbae ingin aku membeli buku-apa?" JongIn mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan heran kedepan. Ia mendengarkan setiap deret kalimat yang dilontarkan dari sambungan line teleponnya.
"Ohh..Baiklah kalau begitu...Akan aku belikan.."
"..."
"Aishhh! Ia! Ia! Aku tidak akan lupa, kok! Cukup menyeberangi zebra cross dan masuk kedalam toko buku itu!" JongIn nampak bersungut kecil mengatakannya.
"..."
"Nee! Baiklah..Aku tutup!...Ne Sunbae.."
JongIn menutup sambungan teleponnya. Ia menatap layar handphonnya dengan tajam, seakan layar handphon itu telah melakukan sesuatu yang salah.
"Ck! Ada-ada saja!" monolognya jengkel sambil memasukkan handphonnya kembali pada kantong coat miliknya. "Untung saja aku membawa uang lebih!"
JongIn kembali menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri. Melihat lampu lalu lintas yang ternyata masih berwarna merah untuk pejalan kaki.
"Uhh! Kenapa lama sekali, sih!" JongIn cemberut. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal. Kenapa lampu lalu lintas itu lama sekali berubah warna menjadi hijau?
Akhirnya, setelah lebih dari sepuluh menit ia menunggu, lampu sudah menunjukkan warna hijau. JongIn dengan mantap mulai melangkahkan kakinya menyeberangi zebra cross, bersama dengan kerumunan orang yang juga terlihat menyeberang.
DEG
JongIn memandang lurus kedepan pada sebuah toko buku bertuliskan StarSeven. Setelah berhasil menyeberangi zebra cross, entah kenapa tiba-tiba jantungnya seakan berdetak kencang.
JongIn merasa diintai.
TIINNN! TIINNN!
Namja tan itu menoleh cepat, kala mendengar suara klakson mobil yang memekakan telinga. Sebuah mobil sport berjenis lamborghini dengan warna putih, terlihat menerobos lampu merah dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang pelan. Membuat beberapa pejalan kaki yang masih lewat, dengan terpaksa harus menyingkir jika tidak ingin ditabrak.
JongIn menatap lekat mobil putih itu. Apa-apaan mobil itu? Apa mereka ingin mencelakakan orang lain?
"Dasar anak muda jaman sekarang! Kalau ketahuan polisi baru tahu rasa!"
JongIn menoleh pada seorang nenek yang juga memperhatikan mobil lamborghini putih yang melaju kencang tersebut. Mobil itu kemudian berbelok kanan.
Nenek itu menggeleng-gelengkan kepala, dan wajahnya terlihat bersungut kesal, sebelum melangkahkan kakinya pergi menjauhi JongIn.
JongIn hanya terdiam memandang kepergian nenek dengan dress pink soft itu. Kembali, kedua matanya menoleh. Menatap pada belokan yang tadi dilewati oleh mobil lamborghini putih yang melaju kencang itu.
Entah kenapa...Ia merasakan sesuatu yang terasa berbahaya, namun sangat menggetarkan tubuhnya hingga terasa bergejolak panas..
BRUK
"E-eh..Mianhae.."
JongIn membungkuk maaf pada salah satu pejalan kaki yang tidak sengaja menabrak bahunya. JongIn kembali menegakkan tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, dan menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba membuang pikiran barusan.
Mungkin saja karena pengaruh panas matahari, hingga membuat tubuhnya terasa bergejolak panas. Ya! Pasti karena terik matahari!
JongIn melangkahkan kakinya, menuju pintu toko buku StarSeven tersebut. Ia lalu membuka pintu itu sebelum akhirnya masuk kedalam toko buku.
Satu hal yang perlu diketahui setelah pemuda tan itu masuk kedalam toko buku itu..
Hari ini, tidak ada terik matahari yang bersinar menerangi kota Busan. Hanya ada segumpalan awan mendung yang siap kapan saja menurunkan isinya, serta suhu udara yang terasa dingin menusuk kulit..
TBC
Hai! Bagaimana dengan chap ini? Ada yang mau berpendapat? Sebelumnya, terima kasih kepada beberapa readers, yang sudah mau mengatakan letak kesalahan pada chap sebelumnya. Pada chap ini, aku berusaha untuk memperbaikinya..Sangat berterima kasih!^^
Salam Hangat"SM1719"
