Lightning ingat, dia memekik girang saat surat ijin cutinya keluar dan telah diresmikan oleh kantor kepolisian Bodhum, sebulan lalu. Mendapat cuti sebagai seorang polisi tidak mudah, jadi pantas jika Lightning jingkrak-jingkrak sepanjang perjalanan pulang kantor sore itu. Begitu sampai di rumah, dia seketika menghubungi Serah di Kota Eden, berjanji padanya akan datang dalam waktu dekat. Lightning juga ingin menghabiskan sisters' time berkualitas bersamanya di kota yang terpisah ribuan kilometer itu. Mereka telah terpisah selama setengah tahunan sejak Serah mulai kuliah di Eden, jadi tak heran jika kerinduan Lightning telah membludak sampai nyaris melebihi batas.

"Maafkan aku, Serah. Maafkan aku," dia berbisik, separuh jengkel karena teringat pada kenangan itu. Dia menggigil, mengusap lengan dengan kencang sampai terasa membara. Dingin malam ternyata tidak mampu membunuhnya, padahal Lightning mengenakan jaket putih tanpa lengan dan rok mini.

Serah sakit keras saat Lightning tiba seminggu lalu. Dia dirawat oleh pacarnya, si Snow idiot itu. Lightning sempat marah karena Serah tidak mengabari tentang penyakitnya—juga mengenai pacar barunya. Seluruh rencana liburannya dan Serah pun berantakan.

"Kenapa? Kenapa harus begini?" Air mata Lightning tidak kunjung berhenti. Dia duduk bersandar pada badan bus ringsek—satu dari banyak kendaraan yang tidak terbakar. Rambut merah muda terjuntai menutupi wajah bagai gombal. Kesendirian dan rasa bersalah meluncurkannya ke masa lalu lagi.

Lightning membawa Serah ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tidak tahu penyakit apa yang Serah derita. Mereka juga mengaku, separuh penduduk kota juga mengalami penyakit yang sama. Jika penyakitnya saja tak diketahui, apalagi penawarnya. Lightning akhirnya memutuskan untuk merawat Serah di apartemen.

"Serah…. Maaf. Maaf. Maaf."

Tidak sampai tiga hari kemudian, muncul kejadian-kejadian aneh di kota. Orang-orang saling menyerang, membunuh. Mereka tidak cuma membunuh, tapi memakan. Pria memakan pria, wanita, anak-anak. Para korban yang seharusnya mati kehabisan darah, malah bangkit dari kubur dan mencari mangsa lain. Darah berhamburan di seluruh ruas kota, teriakan memenuhi udara. Jalanan kacau, segala aktifitas kantor mandek. Polisi dan tentara diturunkan ke kota untuk menyelesaikan kerusuhan itu, dan akhirnya diketahui bahwa para korban telah terjangkit sejenis virus mematikan yang mengubah mereka menjadi zombie.

"Ini konyol! Serah…. Serah…." Lightning menyentuh gelang kulit di lengan kanannya. Gelang itu dia pesan khusus di Bodhum bertahun-tahun lalu dengan menggunakan gaji pertamanya. Gelang yang sama dia hadiahkan kepada Serah sebagai tanda kuatnya ikatan persaudaraan mereka, sekuat kulit yang menjadi bahan baku gelang. Namun, kini, mau gelang itu terbuat dari kulit gajah atau kulit apa, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa Serah sudah tiada. Bahwa tali persaudaraan mereka telah retas total.

Sejak hari kerusuhan, seluruh akses keluar-masuk kota disegel. Orang-orang yang selamat mengurung diri di rumah masing-masing, begitu pula dengan Lightning. Apalagi, penyakit Serah makin parah. Dia tidak mau meninggalkan Serah barang sedetik pun. Saluran televisi, radio, internet diputus. Kota Eden yang megah mendadak menjadi kota kuno yang tak punya satu pun akses ke luar.

Terkungkung di kota penuh zombie, kehabisan stok makanan, dan mendapati kondisi Serah makin parah benar-benar membuat Lightning gila. Semuanya berujung pada kejadian tadi.

Kenyataan itu menyadarkan Lightning. Jalur keluar-masuk kota yang mendadak diblokir setelah kerusuhan akibat para zombie, sistem komunikasi yang putus…. Semua itu pasti akal-akalan pemerintah untuk menjaga reputasi mereka. Jika sampai berita lolos, atau seorang turis terjangkit dan kembali ke kota asalnya sambil membawa serta virus atau apa pun yang telah mengubah mereka jadi zombie, pemerintah yang menyebut diri mereka SANCTUM akan tamat. Kota Eden akan runtuh.

Ini salah mereka.

SANCTUM. Mereka pasti sudah menutup mata pada kerusuhan yang terjadi, dan membiarkan seluruh penduduk kota mati menjadi santapan zombie. Ulah kotor mereka telah merenggut satu-satunya keluarga paling berharga bagi Lightning.

Mereka harus membayarnya.

Gadis itu berdiri sempoyongan. Tangan kanannya menggenggam pistol 9mm erat-erat.

Akan kurenggut segala yang berharga bagi mereka, sama seperti apa yang telah mereka lakukan padaku.

Lightning menghapus air matanya, dan menatap ke depan. Mobil dan bus penyok memenuhi jalanan. Gedung-gedung perkantoran menjulang bagai raksasa terselubung kegelapan di balik bagunan-bangunan lain. Hanya sebagian yang tampak berkat nyala lampu jalanan otomatis. Namun, ada satu gedung lain yang menyala terang di kejauhan. Gedung itu berdiri setinggi langit. Lampu-lampu di pinggir gedung berkelip merah, hijau, kuning. Eden Hall, markas besar SANCTUM. Dilihat dari lampu-lampu yang menyala, sepertinya masih ada manusia normal bersembunyi di sana.

Lightning menggigit bibir dan meremas gagang pistol. Apa pun yang terjadi, dia akan ke Eden Hall dan memorak-porandakan isinya. Entah di sana dia akan bertemu manusia normal atau zombie, Lightning akan menghabisi mereka semua. Walau nantinya dia akan dicap sebagai teroris atau malah dieksekusi, dia tak peduli. Lightning Farron hanya ingin balas dendam.

Sebuah shotgun dengan stock panjang tergeletak di samping mayat seorang polisi. Lightning berlari menghampiri senjata itu, tapi kemudian mengerem mendadak saat teringat pada situasi kota. Jika separuh penduduk kota sudah menjadi zombie, bisa jadi polisi itu juga. Namun, Lightning memerlukan senjata. Sepucuk pistol 9mm tidak akan sanggup melindunginya sampai ke Eden Hall, walau sejauh ini belum ada tanda-tanda kemunculan zombie.

Dia memungut sebongkah batu dari runtuhan sebuah toko kembang. Tidak terlalu besar dan berat. Lightning melempar batu itu ke kepala si polisi mati. Jika dia zombie, dia pasti akan bangkit dan menyerang. Baru saat itulah Lightning akan melubangi jidatnya. Jelas, dia bisa saja langsung menembak jidat polisi itu sekarang, tapi suara keras bisa menarik perhatian musuh lain yang mungkin bersembunyi dalam kegelapan.

Tidak ada respons apa-apa dari si polisi, menandakan dia mati terhormat sebagai manusia. Cepat-cepat, gadis itu mengulurkan tangan meraih gagang shotgun. Namun, geraknya terhenti ketika sebuah tangan lain menyambar shotgun lebih dulu.

"Hei!" Lightning merengus. Tatapannya mengikuti arah perginya shotgun yang berpindah dari aspal ke pelukan seorang anak laki-laki.

Anak itu pendek dan kurus. Usianya mungkin baru tiga belas atau empat belas tahun. Mata hijaunya memelototi Lightning, waspada tapi juga ketakutan. Shotgun bercat cokelat, yang dia dekap erat, sangat kontras dengan kulit pucat dan rambut perak anak itu.

"Berikan padaku!" Lightning menagih seraya mengulurkan tangan.

Dia menggeleng dan mundur sejurus. Dekapannya makin erat.

"Berikan!" Lightning menyentak.

"Tidak! Ini milikku!"

"Kau tidak bisa menggunakannya! Anak kecil sepertimu belum cukup kuat. Kau palingan hanya akan menghancurkan bahu dan pinggangmu sendiri jika menggunakan senjata itu," tegur Lightning, menyipitkan mata pada anak berjaket oranye dan celana tiga perempat warna hijau gelap di sana.

"Aku tidak peduli!" Si bocah mundur beberapa langkah. Lengannya merosot sedikit demi sedikit. Kentara sekali dia tidak kuat membawa shotgun. Dia terus mundur hingga punggungnya menempel pada badan sebuah taksi kuning berjendela bolong.

Lightning memanfaatkan situasi itu untuk mendatanginya. Baru dua langkah dia maju, sesuatu terdengar dari dalam taksi.

Mendadak, seorang pria berkulit abu-abu dengan darah mengalir dari leher nyaris putus, menyembul keluar dari jendela taksi. Tangan pucat pria itu meraih bahu si bocah, kepalanya ditelengkan ke lehernya. Gigi-gigi cokelat busuk terlihat jelas saat mulutnya dibuka lebar-lebar, siap mengigit leher anak itu.

"Awas!" Lightning spontan mengacung pistol, dan menembak kepala zombie itu. Kepala si zombie terjentik ke belakang, kemudian dia ambruk ke dalam taksi.

Dia harap-harap cemas tembakannya telah menarik perhatian zombie-zombie lain. Namun, untungnya, setelah beberapa detik berlalu, tidak ada pergerakan misterius dari sekelilingnya, menandakan keadaan masih aman.

Lightning menurunkan pistol, dan mendatangi si anak misterius yang kini berjongkok sambil gemetaran. Setelah menyimpan pistol ke holster di kaki kirinya, Lightning merebut shotgun dari kungkungan si bocah.

"Ini milikku," ujarnya.

Anak itu mendongak padanya. "Kau … menolongku?"

Satu alis Lightning dinaikkan. "Tidak. Cuma insting."

"Aku Hope." Anak itu berdiri perlahan. Getaran di tubuhnya masih terlihat jelas. "Kau siapa?"

"Lightning." Atensi Lightning teralih pada shotgun di tangannya. Benda yang cantik dan mulus. Sepertinya baru digunakan beberapa kali. Dia mengecek laras senjata, dan menemukan delapan shell memenuhi laras. Delapan itu terlalu sedikit. Setidaknya, Lightning perlu sekotak penuh shell.

"Apa kau polisi?"

Lightning melangkah kembali ke mayat polisi tadi. Dia memeriksa kantong-kantong si polisi, dan mengembus lega saat menemukan sekotak shell di tas pinggang si polisi. "Bukan," jawabnya singkat.

"Kau mau ke mana?" tanya Hope.

"Eden Hall." Lightning berpikir untuk menyelipkan shotgun ke ikat pinggangnya di bagian belakang. Namun, dengan segera dia menampik pemikiran tersebut. Berat shotgun hanya akan meretas ikat pinggang, dan senapan itu bisa saja hilang tanpa Lightning sadari. Dia memutuskan untuk menenteng shotgun saja.

"Aku juga mau ke sana," ujar Hope. Entah kenapa, dia terdengar agak senang.

"Lalu?"

"Um…."

Lightning mengamati wajah Hope. Dia masih sangat muda, masih terlalu rapuh untuk bertahan hidup di tengah kota penuh zombie sendirian. Untungnya, tidak ada luka gigitan di wajah dan lengannya, menandakan dia masih manusia normal. Lagi pula, siapa yang membiarkan seorang bocah berkeliaran seperti ini?

"Kau sendirian?" tanya Lightning.

Hope melirik ujung sepatu warna krimnya, lalu mengangguk. "Tadinya aku bersama ibuku, tapi…. Mom…."

Tanpa dilanjutkan pun, Lightning sudah paham. Jadi, dia melenggang melintasi Hope, dan berkata enteng, "Pulang, sana! Ayahmu pasti menunggu."

"Ayahku di Eden Hall."

Langkah Lightning terhenti.

"Aku … aku mau ke sana. Kalau kau … tidak keberatan, boleh aku ikut denganmu? Aku tidak akan menghalangimu. Janji! Izinkan aku ikut denganmu!" Itu adalah kalimat terpanjang yang Hope ucapkan dalam selang beberapa menit ini. "Maksudku, kita ke sana sama-sama."

Lightning nyaris tertawa. Maksudnya, Lightning harus melindungi bocah ingusan itu sampai ke Eden Hall sementara untuk melindungi diri sendiri saja dia masih kewalahan. Gadis itu mengangkat bahu acuh tak acuh. "Pergi, sana! Aku tidak punya waktu untuk mengurusmu!"

"Tapi aku harus ke Eden Hall!" Hope memekik dari belakangnya. "Mom memintaku pergi ke sana untuk menemui Dad."

Memelas sekali dia ini. Masih kecil, ibunya tewas, ayahnya di Eden Hall. Lightning menggeleng tak habis pikir. Sayang sekali ini bukan saatnya mengasihani orang lain. Mengasihani diri sendiri saja Lightning tidak sempat.

Tanpa merespons, Lightning melanjutkan perjalanannya begitu saja.