Apa mau mu!" dapat ku rasakan suaraku meninggi, dan wajahnya tetap datar tapi tatapan matanya bertolak belakang dengan wajahnya. Ada banyak emosi di dalamnya, aku bertahan dengan wajah sedatar, sejengkel, seburuk mungkin. Aku benar-benar super duper marah kali ini.
"Kita hentikan hubungan ini."
Whhooaah, sangat mudahnya kata-kata itu terucap.
"Baiklah! Kalau itu yang kau mau!" bentakku, menarik tanganku dengan kasar dan masuk ke dalam mobil, aku tak mau lagi melihatnya. Percayalah. Aku membencinya. Sangat membencinya!
Lalu Nii-chan masuk ke dalam mobil. Dia tidak melihat pertengkaranku dengan Sasuke –sepertinya, tapi Syukurlah.
"Kita pulang?" dan aku hanya sanggup menjawab lewat anggukan, karena air mataku telah sampai di pelupuk mataku dan siap terjun bebas jika aku berbicara.
Sasuke masih menatapku dalam diam, aku tak mau menatapnya. Ini sangat menyakitkan.
"How Can I Move On?"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku
Rated : T
Genre : Romance,Hurt/Comfort
Warning : Typo(s), Gaje, OOC, Cerita pasaran, Alur cepat dan sebagainya
.
.
.
Chapter 2
*Normal POV*
"Saki, kau tidak apa-apa?" untuk kesekian kalinya, Sasori bertanya dan hanya anggukan tak' jelas yang ia dapat. "Hei, bicaralah. Jangan diemin aku seperti ini, Sakura," Sasori benar-benar telah putus asa kali ini.
"tak' usah memperdulikan aku, cepatlah mengemudi dan turunkan aku di apartemenku." Akhirnya Sakura buka mulut. Sasori yang mendapat respon tersebut hanya dapat diam dan mencoba memahami suasana hati adiknya yang sangat buruk kali ini.
.
.
.
"Arigatou nii-chan, sudah mengantarku," salam Sakura dengan sopan pada kakaknya yang masih duduk di kursi pengemudi.
"iya saki, aku akan menghubungi mu lagi kalau aku mampir ke Tokyo. Jaga dirimu Saki!" setelah mengucapkan salam yang singkat itu, Sasori pun pergi.
Sakura segera memasuki apartemennya yang terletak di pinggir jalan raya. Waktu telah menunjukkan pukul empat sore lebih saat Sakura tiba. Apartemennya tidak terlalu kecil, ada tiga kamar tidur, dua kamar mandi, mini bar, dan ruang bersantai. Seluruh ruangan tertata dengan rapih dan bersih. Warna-warna pastel dan putih gading pun mendominasi ruangan tersebut.
Sakura bergegas mandi dan menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. "Tempat ini akan sepi tanpa Ino.." gumamnya sendiri sambil menatap sekeliling dan menyiapkan makan malamnya.
"Hhhh… ini, sangat melelahkan. Harapan tinggi dengan mudahnya dihancurkan. Hubungan yang sangat sulit untuk ku dapatkan –dan pada akhirnya ku dapatkan hancur dalam sekejap mata" gumam Sakura dengan ekspresi yang hancur.
" Apa, salahku padanya? Apa aku berbuat hal yang tidak-tidak? A-apakah, dia lelah dengan sikapku? Apa dia memang ingin memutuskan ku? Hiks.. hiks.. mungkin dia terpaksa berpacaran denganku" ingatan yang tadi sore baru saja terjadi dengannya kembali diputar. Ingatan ini layaknya sebuah sebuah kaset rusak yang hanya terputar pada bagian yang sama secara berulang. Dan akhirnya Sakura tertidur dengan wajah yang sembab.
.
.
.
*SakuraPOV*
Sudah hampir seminggu bagiku menyandang status jomblo. Setelah kejadian 'itu'
Seminggu..
Tak' menyangka aku bisa melewati seminggu dengan cukup baik. Yaa, makan, belajar, menangis, tidur, pergi ke kampus dan semuanya terulang secara teratur selama seminggu ini. Aku mencoba untuk menjahui segala hal yang berbau 'Sasuke'
Berusaha untuk tidak melewati fakultas bisnis, menjahui atap kampus. Pokoknya aku mencoba untuk meminimalisir hal yang nantinya dapat mempertemukanku dengan Sasuke. Entahlah, tapi pasti sangat sulit kalau harus bertatapan dengannya untuk sekarang. Aku harus bisa menenangkan diriku sendiri dulu kalau mau menemuinya. Yaa itulah pemikiranku.
Sekarang aku berada di bagian belakang kampus yang sangat jarang dikunjungi oleh para mahasiswa. Ini adalah sebuah taman yang cukup luas, dengan banyak bunga sebagai pagarnya. Ini adalah tempat 'damai' favourite ku yang terbaru. Tidak akan ada yang berani menggangguku disini setidaknya.
Menyenangkan bisa duduk dibawah sebuah pohon oak yang berukuran besar dan rindang. Pohon yang terletak dibagian tengah taman ini sangat meneduhkan. Mendudukan diri dibawah pohon oak itu, memasang headset dan mendengarkan musik bertempo lambat. memejamkan mata dan cukup fokus pada irama musik itu. Itu sangat membantu ku untuk menenangkan pikiran ku yang 'kusut' selama seminggu aku terlalu keasikan sampai pada akhirnya jatuh tertidur, dan saat terbangun hari sudah menjelang sore.
Srrreeeek...
Seketika tubuhku waspada, kupelankan volume lagu dan secara perlahan membuka mata. Melihat kesamping, "Aaaa! Astaga!" yaampun sungguh ini sangat mengaggetkan ku. Ada seorang pemuda yang tak` ku kenal tengah tertidur didekatku. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena wajahnya tertekuk sampai dagu. Gaya tidur yang menyedihkan.
"hey... hey..." mencoba untuk membangunkannya, karena hri sudah hampir senja. Dia haya bergerak sedikit. "hey kau! Bangun, ini sudah sore kau mau tidur disini sampai besok hah?" mencoba untuk tetap membangunkannya dan merapikan barang-barang bawaanku
*Normal POV*
"Enggh..." suara lenguhan panjang terdengar, Sakura yang sedang merapikan barang-barangnya 'pun terhenti sejenak. "Akhirnya kau bangun juga, nyaris saja aku mau meninggalkan mu tertidur disini" Sakura bergumam santai pada pemuda yang berada disampingnya.
"Hai! Aku Sakura, senang bertemu denganmu!" Sakura mencoba untuk membuka percakapan dengan pemuda yang masih 'mengumpulkan nyawanya'
"Hhhooaammm.. hm, senang bertemu denganmu nona Haruno" jawab singkat pemuda itu dengan wajah yang datar. "Hey! Bagaimana kau tahu nama keluargaku?" Sakura bertanya balik.
"Aku tahu cukup banyak tentangmu Haruno Sakura, Ayahmu, ibumu, kakakmu, sahabatmu bahkan pacarmu" ucap pemuda disamping Sakura itu dengan santai.
"A-apa? Kau siapa hah!?" Sakura yang mendengar ucapan si pemuda itupun langsung berdiri dan melotot dengan mata emerald-nya pada pemuda tersebut. "Dasar penguntit sialan! Jauhi keluargaku! Ku peringatkan padamu! Atau aku akan melaporkan mu pada polisi!" Sakura berkata –mengancam dengan penuh dengan penekanan dalam setiap suku katanya, dan bergegas pergi meninggalkan pemuda tersebut.
"Hhmm.. sesuai perkiraan," pemuda berambut panjang itupun segera pergi dari taman belakang kampus.
.
.
.
"Heh! Tahu keluargaku? Sahabatku? Pacar? Stalker yang mengerikan, kenapa aku yang harus dikuntit. Kenapa gak orang lain yang lebih baik gitu?! I-ini... haah! Makin banyak orang gila diluar sana," Sakura masih tidak percaya akan hal yang baru dihadapinya. Wajar dia kaget kalau ada orang diluar sana yang sampai tahu menahu tentang ia dan keluarganya. Sakura `pun memutuskan untuk segera pulang menuju apartemennya.
"Tapi, muka stalker tadi itu sangat familiar denganku. Seperti pernah lihat disuatu tempat, halah, mana mungkin!" pikirnya sambil terus berjalan menuju halte bis.
.
.
.
"Dia sudah pulang?... baiklah, perhatikan terus." Sambungan telepon Sasuke `pun terputus
"Sasuke," pemuda berambut merah darah mendatangi Sasuke yang tengah berada di perpustakaan kampus.
"Gaara, ada apa?" tanya Sasuke sambil berjalan mengahmpiri meja dan menarik kursi untuk mendudukn dirinya.
"Kau, melanggar janjimu." Ucap Gaara singkat sambil menatap serius pada Sasuke. "kau tahu," balas Sasuke singkat. "Sasuke. kau telah berjanji kau akan menjaganya, tak akan membuatnya menangis. Dan kau melanggar semuanya." Gaara mengigatkan. "Ada masalah apa sebenarnya? Ku kira kalian baik-baik saja akhir-akhir ini," Gaara meminta penjelasan.
"Gaara, aku tahu aku telah melanggar janjiku padamu. Tapi, ini bukan lagi urusan mu. Ada Matsuri yang akan bertunangan denganmu!" Sasuke merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan ini. "Aku tidak aka mencampuri urusanmu, tapi setidaknya buat aku mengerti," Gaara benar-benar ngotot kali ini.
Sasuke menjelaskan alasan hubungannya dengan Sakura berakhir pada Gaara. Pada akhir ceritanya, Sasuke hanya menangkap ekspresi yang tidak dapat diartikan oleh Gaara. "well, aku harap kau bisa menggurusnya Sasuke. Ingat, kita akan melaksanakan latihan untuk wisuda. Jangan sampai lupa, aku pergi dulu" Gaara berucap secara acuh tak acuh, namun tak ada ekspresi kemarahan diwajahnya, dan pergi meninggalkan Sasuke.
.
.
.
"Sakura, dengarkan aku dulu" Sakura terus berjalan melewati koridor kampus yang masih sepi. "Dengar, aku tidak mengenalmu. Kau gila!" balas Sakura pada pemuda yang terus mengejarnya itu.
"okay, aku akan jelaskan. Kumohon dengarkan, hanya beberapa menit. Aku janji!" pemuda itu bersikeras dengan perkataannya. "Baiklah kita bicara. Tapi di taman belakang" ucap Sakura sambil berjalan duluan melewati pemuda itu.
"silahkan kau bicara" Sakura mempersilahkan. "Aku bukan stalker, sama sekali bukan. Aku tahu semua tentang mu itu bukan karena aku penguntit, itu karena adikku. Adikku banyak bercerita tentang mu dan keluargamu. Dia sangat terkesan dengan sifatmu dan semua tentang mu. Dia jug.." ucapan pemuda itu terputus "siapa adik mu?" Sakura mlah makin bingung sekarang.
"Adikku, teman SD mu dulu, Hinata, Hyuuga Hinata. Kau ingat?" jelas pemuda itu. "Hyuuga Hinata, maka kau Hyuuga Neji?" tanya Sakura memastikan. "Ya, dan aku kebetulan melihatmu selama seminggu ini di taman ini, dan teringat akan cerita adikku tentang teman SD nya yang meiliki rambut berwarna pink," Jelas Neji.
"O-oh, jadi begitu. Yaampun, maafkan kebodohanku, aku sudah memaki mu juga berlaku tidak sopan" Sakura memohon maaf sambil membungkuk sopan, dia terlihat sangat kikuk. "Sudahlah, salahku juga sebenarnya. Baiklah Haruno, terima kasih mau mendengarkan penjelasanku." Neji berucap sopan sambil membungkuk salam.
"Emm, Neji, bagaimana kalau nanti siang kita makan siang bersama. Aku harus menebus dosaku padamu, heh," Sakura menawarkan. "Kau yakin? Itu ide bagus. Nanti siang ku tunggu di taman ini, lalu kita pergi ke restaurant dekat sini, bagaimana?" Neji mencoba membuat kesepakatan. "yayaya! Aku setuju, baiklah, aku duluan Neji, jaa" Sakura mengiyakan dan segera berjalan menuju ke tempat dimana fakultas kedokteran berada.
.
.
.
"Wow, ini tempat yang keren. Aku `tak pernah tahu tentang tempat ini sebenarnya," Sakura sangat terkagum-kagum dengan tempat yang ia kunjungi bersama Neji. "Hey, berhentilah berkata seperti itu. Tempat ini sangat populer tahu, kau saja yang terlalu anti sosial. Apa pacarmu tidak pernah membawamu kesini?" Neji mendudukan dirinya berhadapan dengan Sakura.
"Aku tidak punya pacar. Aku pesan makanan yang ini, kau pesan yang mana?" Neji tahu Sakura mencoba untuk mengalihkan arah pembicaraannya. "Aku pesan yang kau pesan. Uchiha Sasuke bukan? Pacarmu?" Neji masih penasaran. "Well, mantan pacarku." Jawab Sakura acuh. "Dia memang begitu, sejak SMA banyak sekali yang bernasib sama denganmu," Neji kembali mengingat masa SMA-nya.
"Kau juga satu SMA dengannya?" Sakura terkejut. "Ya, dia juniorku di SMA dan juga di klub basket. Aku juga tahu dia dari Hinata." Sekilas Sakura menangkap ekspresi yang aneh dari Neji, namun ia `tak mau ambil pusing terhadap itu. Setelah menunggu beberapa menit, makanan `pun tiba, dan mereka segera menyantapnya.
"Hinata benar tentang mu, kau memang baik dan sopan. Senang bisa mengenalmu, Sakura" ucap Neji seusainya mereka makan siang. "Hihihi, terima kasih Neji, senang juga mengenalmu. Walaupun ada kesalahan saat awal pertemuan kita," balas Sakura sambil tersenyum. "Kau memiliki senyuman yang manis sekali nona Haruno, bodoh sekali Sasuke." Neji bergumam sambil memarkirkan mobilnya.
"Kau terlalu memuji, Neji. Oh ya, Terima kasih atas makan siangnya," ucap Sakura sambil melepaskan seatbelt nya. "Sakura, apa bisa kalau aku menemuimu lagi? Kau adalah teman perempuan pertamaku di kampus," Neji bertanya dengan penuh harap. "Ya tentu saja, kenapa tidak. Aku juga sangat senang bisa berteman dengan mu Neji" Ucap Sakura penuh keyakinan.
"Baiklah, terima kasih Sakura." Sakura tidak mengerti kenapa Neji berterima kasih padanya. Tapi tetap saja ia membalasnya dengan senyuman. "Iya, aku harus ke kelas. Jaa!" salam Sakura singkat dan segera berlari menuju kelasnya.
Ssetelah makan siang itu, Neji dan Sakura makin akrab. Mereka sudah mau terbuka satu sama lain, sering bertemu dan saling bercerita satu sama lain.
Cinta itu merupakan misteri
`tak satu orang `pun tahu
Tentang nasib Cintanya...
Dan, apa kalian percaya
Kalau cinta, bisa timbul dari sebuah kebiasaan?
.
.
.
To Be Continue...
Hulllaaa readers! Semoga fic nya berkenan. Butuh saran kalian buat fic selanjutnya guys!
Yaudah, dibaca dan direview ya guys!
Terima kritik dan saran. But no Flame, please.
2:00
