Summary : Kita bertemu secara kebetulan ya? Tapi nasib kita sama. Dunia memang sempit (UlquiMomo)

We Are Same © Hayi Uchiha

Disclaimer : Bleach © Kubo Tite (of course), and this fanfic is mine

Warning : OOC, tijel, etc

Happy Reading ^^


Chapter 2 : Hujan, Perjodohan


"Ul-Ulquiorra" bisik (kalau masih bisa dibilang) gadis didepanku ini. Aku diam mematung memandang perempuan berambut senja ini. Perempuan yang tadi membuatku hampir saja menabrak Hinamori, dan juga perempuan yang masih mengisi hatiku ini.

"Apa yang kau lakukan di apartemen Hinamori?" tanyanya. Aku, boro-boro menjawab pertanyaan gadis Inoue ini, aku malah berlari, atau bahasa lainnya, kabur.

Aku, Ulquiorra Schiffer, kabur dari seseorang yang sudah lama mengisi hatiku.

Sungguh memalukan.

.

.

.

"Ulquiorra, kau tidak kuliah hari ini?" marah ibu ketika aku pulang ke rumah sore harinya. Dari tadi aku menghabiskan waktu untuk merenung di Tokyo Skytree. Memang bukan tempat yang bagus untuk merenung sih, karena yang ada aku malah melihat beberapa pasang kekasih yang sedang berkencan. Mereka juga sepertinya bolos kuliah sepertiku.

"Iya, kaa-san" jawabku singkat. Aku bukan Ichigo yang akan nyengir atau mencari-cari alasan jika ditanya seperti ini.

"Kenapa? Kau harus punya alasan yang bagus" tanya ibu sembari berkacak pinggang. Walaupun aku anak orang kaya (maaf, aku sedikit sombong), ibuku tetap memiliki motto 'sekolah nomor satu'. Aku ingat, ketika aku pernah bolos sekolah dasar beberapa tahun yang lalu, ibu langsung memukulku dengan harisen*.

"A-aku… Aku tadi hampir saja menabrak seorang perempuan" jawabku jujur. Wajah ibu yang sebelumnya sudah terlihat marah sekarang menjadi lebih marah lagi.

"Ulquiorra Schiffer! Bisa-bisanya kau?! Lalu, bagaimana keadaan perempuan itu?!" bentak ibu. Jujur, aku sedikit takut dengan ibuku kalau sudah begini.

"Dia baik-baik saja. Kakinya hanya terkilir. Aku sudah mengantarnya sampai ke apartemennya" jawabku.

Ibu berubah 180 derajat. Mendadak wajahnya berubah menjadi ceria. Di matanya terdapat binar-binar kebahagiaan. Apa yang terjadi?

"Oh, ternyata Ulqui-kun, anakku yang paling tampan ini, masih memiliki hati. Ternyata kau bisa juga berbuat baik kepada perempuan selain Orihime-chan dan juga ibumu ini" ujar ibuku. Aku terdiam. Kenapa ibu harus mengucapkan nama 'Orihime' sih?

"Ulqui-kun?" panggil ibu.

"Hm?"

"Malam ini, keluarga kita akan mengadakan pertemuan dengan salah satu teman kerja ayahmu. Hanya makan malam biasa, sih. Tapi semuanya harus hadir. Karena ada beberapa hal yang akan kita bicarakan" ujar ibu.

Aku menghela napas. Kenapa aku juga harus ikut? Memangnya aku bagian dari keluarga ini, ya? Bisa-bisa nanti aku terlihat aneh sendiri nanti, karena aku satu-satunya yang memakai marga Schiffer.

Ibu tampak mengerti perasaanku. "Ulqui-kun, ikut ya? Kamu bagian dari keluarga ini, kok" ucap ibu sambil tersenyum lembut.

"Baik, baik. Aku akan ikut" sebenarnya aku tidak berminat, tapi apa boleh buat. Melihat wajah bahagia Kurosaki Masaki sudah membuatku senang.

"Kalau begitu, cepatlah bersiap! Pakai pakaian formal, karena kita akan makan malam di Kozue Restaurant" kata ibu sebelum berlari menuju kamarnya mungkin untuk mengurus si Isshin yang suka heboh sendiri itu.

Aku memilih untuk segera mempersiapkan diri, daripada aku berdiri saja di pintu masuk seperti ini.

.

.

.

"Mengejutkan. Tak kusangka kau akan ikut, Ulquiorra" komentar Ichigo. Saat ini kami tengah duduk berdua di ruang tamu, menunggu ibu, Isshin-san (aku belum mau memanggilnya 'tou-san'), Karin, dan Yuzu.

"Aku ikut demi kaa-san" jawabku singkat.

"Anak yang baik" lagi-lagi Ichigo berkomentar. Aku mengalihkan pandanganku. Bosan dengan tingkah Ichigo.

Diluar sedang hujan, walaupun masih gerimis. Aku benci dengan hujan, apalagi gerimis seperti ini, karena akan mengingatkanku pada satu kenangan menyakitkan.

Ulquiorra tersenyum tipis begitu melihat pacarnya yang berambut senja itu tengah menunggu di sebuah restoran di Narita International Airport. Ketika itu pacarnya baru saja pulang dari Seoul setelah summer holiday.

Ulquiorra mengambil payung lipat, agar pacarnya tidak kehujanan ketika mereka berjalan ke mobil nanti.

Baru saja pemuda tampan itu hendak berjalan menghampiri sang pacar, muncul pria lain di depan pacarnya itu. Seakan belum cukup, keduanya berciuman. Di depan Ulquiorra.

Gadis itu sempat melirik ke Ulquiorra yang hanya bisa mematung. Mata gadis itu membulat, tanda dia terkejut, tapi gadis itu tak juga melepaskan ciumannya. Lalu keduanya pergi. Gadis itu lebih memilih pergi dengan pria berkacamata tadi.

Payung Ulquiorra terjatuh. Membiarkan si empunya payung basah oleh air hujan. Tapi datang seorang gadis, gadis berambut hitam dicepol, yang memungut payung yang tadi jatuh, lalu memberikannya ke Ulquiorra.

"Pakai ini, kamu bisa jatuh sakit kalau tidak memakainya" katanya lembut. Setelah Ulquiorra memakai payung itu, gadis itu langsung berlari entah kemana.

"… Quiorra! Ulquiorra!" seruan Ichigo menyadarkanku dari lamunan tadi. Aku segera berdiri tegak, membuat Ichigo hampir saja terantuk kepalaku.

"Kau melamunkan apa? Ayo cepat, kita sudah mau berangkat!" tukasnya. "Oh" sahutku pelan. Kami berdua berjalan ke mobil. Karin, Yuzu, ibu, dan Isshin-san naik mobil yang lain.

"Siapa yang akan menyetir?" tanya Ichigo. Aku langsung menunjuk dirinya.

"Hei! Aku kan bilang begitu supaya kau yang menyetir!"

"Sudahlah, jangan banyak omong kau jeruk. Cepat setir mobilnya!"

"Huh!" Ichigo terpaksa menyetir mobil ke Kozue Restaurant. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang kaya selalu mengadakan pertemuan di restoran-restoran mewah. Padahal menurutku, makan-makan di fasutofuudo-ten* juga tidak apa.

Tak lama kemudian kami sampai di Kozue. Ibu dan yang lainnya sudah datang terlebih dahulu. Kami segera menuju ruangan khusus yang sudah dipesan oleh teman Isshin-san itu.

Pintu terbuka. Isshin-san masuk terlebih dahulu dengan gayanya yang over itu. Aku dapat melihat dengan jelas wajah Ichigo dan Karin yang seperti menanggung malu. Orang kaya kok norak, pikirku.

Ketika aku memasuki ruangan, terdapat sebuah meja bundar, dan sudah ada tiga orang yang duduk mengelilingi meja ini. Seorang pria yang (sangat tidak mungkin) seumuran dengan Isshin-san, seorang wanita cantik berambut hitam yang memiliki wajah keibuan, dan seorang gadis berambut pendek sebahu yang terus menunduk.

"Aizen! Lama tidak bertemu!" dengan kecepatan cahaya Isshin-san menghampiri pria yang dipanggil Aizen tadi. Pria berambut coklat itu terlihat sangat tidak cocok dengan Isshin-san. Si Aizen itu sepertinya orang yang terpelajar.

"Hahaha… Isshin, kau tetap saja dipenuhi semangat masa muda seperti dulu" gurau Aizen-san.

"Setuju" bisik Ichigo dan Karin bersamaan.

"Oh! Retsu-chan! Wah, kau semakin cantik saja!" seru Isshin-san. Wanita berwajah keibuan tadi hanya bisa tersenyum kasihan, melihat Isshin-san langsung diserbu oleh Aizen-san.

"Jangan menggoda istriku, bodoh! Kau sudah punya istri baru, kan?" gerutu Aizen-san. Isshin-san hanya bisa mengangguk-angguk, setelah hidungnya ditarik tadi.

Ibu ikut berbaur bersama mereka, dan langsung tertawa riang bersama wanita yang dipanggil Retsu tadi.

Gadis yang kuduga anak mereka itu tetap saja menundukkan kepalanya. Entahlah, mungkin dia sedang sibuk dengan handphonenya.

"Isshin, anakmu banyak sekali" Aizen-san memerhatikan kami.

"Eh? Yang tiga ini anakku bersama Rangiku, dan yang berambut hitam itu anak Masaki dari pernikahan terdahulu, ya kan? Tapi aku tetap menganggapnya anak, kok!" jawab Isshin-san sembari tersenyum padaku.

Aku hanya bisa membalas senyumannya dengan senyuman tipis. Isshin-san tetap berlaku baik padaku, padahal aku saja tidak pernah memanggilnya 'tou-san'. Aku masih belum bisa melakukannya.

"Kalau anakmu hanya satu, ya?" tanya ibu ke Retsu-san.

"Punya banyak anak itu merepotkan, tahu! Tetangga kami memiliki lima orang anak. Bayangkan, lima! Padahal dia dan suaminya baru 9 tahun menikah, tapi sudah punya lima anak saja" cerita Retsu-san.

"Oh ya, ayo duduk!" ajak Aizen-san. Aku merutuk dalam hati. Kenapa tidak dari tadi saja, sih? Kakiku pegal.

Aku duduk diantara Ichigo dan Karin. Sedari tadi mereka berdua ribut sendiri, aku merasa lebih baik aku duduk di samping Yuzu saja daripada diserbu terus oleh Karin.

"Ichigo, Karin, berhenti bersikap kekanakan" Isshin-san menyuruh Ichigo dan Karin agar diam. Bagus. Tapi perkataan Isshin-san seolah-olah dia tidak kekanakan saja.

"Hmm… Momo-chan, silahkan memperkenalkan dirimu" Retsu-san menyuruh gadis di sebelahnya itu untuk memperkenalkan diri. Gadis itu mengangkat kepalanya. Aku merasa pernah melihat gerakan seperti itu sebelumnya.

"Namaku Hina-ah, maksudku Aizen Momo. Senang berkenalan dengan kalian semua" ujar gadis itu pelan. Aku menatapnya dengan pandangan 'dia-ini-kan-yang-tadi'. Gadis itu tidak sengaja melihatku, dan pandangan kami bertemu. Matanya juga tak kalah kaget denganku.

"Ulquiorra-san" panggilnya tanpa sengaja.

Alis mata Aizen-san tertarik ke atas. "Kalian sudah pernah bertemu?" tanyanya.

Aku dan Hinamori-ngg, aku tidak tahu harus memanggilnya Hinamori atau Aizen- saling bertukar pandang.

"Momo-chan, kau dengar tou-san tidak?" Aizen-san melambaikan tangan di depan mata Hinamori (aku memutuskan untuk memanggilnya begitu).

"E-eh? Aku dengar kok, tou-san!" jawab Hinamori. Aku masih sedikit terkejut, kenapa dia bisa ada disini. Jangan-jangan dia anak dari Aizen-san ini lagi.

"Aku dan Hi-maksudku Momo-san satu universitas" aku mencoba menyelamatkan Hinamori dari ayahnya, dan berhasil. Aizen-san tersenyum. Apa-apaan senyumnya itu? Dia terlihat menyembunyikan sesuatu.

"Tou-san, kenapa tou-san tersenyum seperti itu?" selidik Hinamori, atau… Aku boleh memanggilnya Momo-san?

"Sudahlah, nanti saja tou-san jelaskan. Kita makan shabu-shabunya saja dulu" Aizen-san mengajak kami makan. Bukannya seharusnya kami memakan appetizers* dulu ya? Ya sudahlah, mungkin dia memesan paket murah.

Kami makan dalam diam. Memang seperti itu, dalam aturan keluarga bangsawan Jepang, saat makan tidak boleh ada yang berbicara. Walaupun kami bukan bangsawan, tapi tetap saja, ini demi kesopanan.

Selesai makan, Hina, ah bukan, Momo-san, bertanya ini-itu kepada Aizen-san. Yang ditanya bingung sendiri harus menjawab apa.

"Perhatian semua, aku, Aizen, Retsu, dan Masaki sudah membuat sebuah rencana. Sebenarnya ini rencana sejak kalian masih kecil, rencana konyol antara aku dan Aizen. Tapi sekarang kupikir rencana ini bagus juga, Aizen juga berpikir demikian" jelas Isshin-san panjang kali lebar.

Rencana apa lagi yang dia omongkan? Awas saja kalau rencana membangun rumah, rencana pergi liburan, rencana foto-foto, dan rencana konyol lainnya khas Shiba Isshin.

"Rencana apa itu?" tanya Ichigo penasaran.

"Ini rencana… Rencana… Rencana…" astaga, Isshin-san kelihatannya ingin sekali digampar olehku. Dia sengaja membuat kami penasaran, dan entah kenapa, aku melihat Momo-san tampak melirik ke arahku.

BLETAK!

Ichigo langsung menggampar Isshin-san memakai tangan kanannya. Untung saja, sebab biasanya dia menggunakan tongkat baseball untuk menghancurkan wajah Isshin-san. "Jangan sok dramatis!" seru Ichigo.

Aizen-san dan keluarganya tampak terkejut melihat tingkah laku Ichigo. "Su-sudahlah, Ichigo-kun. Tidak usah memukul ayahmu seperti itu. Yah, walaupun dia memang pantas dipukul" Karin tertawa pelan mendengar perkataan Aizen-san. Sebenarnya aku juga setuju sih.

"Baik, baik. Rencana kami adalah… Perjodohan" yang berbicara Retsu-san.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

"WHAT THE?!" seru Ichigo shock.

"Yang benar saja" komentarku terkejut dengan nada datar.

"Tu-tunggu, kalau perjodohan berarti…" Karin mengamati Momo-san dan aku serta Ichigo.

"Berarti hanya diantara mereka saja!" seru Yuzu.

"A-aku…" Momo-san tampak kehabisan kata-kata.

Tapi perkataan Karin dan Yuzu ada benarnya juga. Kalau perjodohannya terjadi diantara kami berlima, pasti aku atau Ichigo akan menjadi pasangan Momo-san. Aku tidak ingin ada perjodohan ini. Tidak. Umurku baru 20 tahun, masa aku harus menikah di usia semuda ini. Tapi aku juga tidak ingin Ichigo yang menjadi pasangan Momo-san, kalau hal itu sampai terjadi… Kasihan Momo-san.

"Ulqui-kun, kenapa kau memandangi Momo-chan dengan pandangan seperti itu?" tiba-tiba saja ibu berbicara padaku. Segera, tujuh pasang mata yang lain ikut-ikutan memperhatikanku. Termasuk Momo-san yang memandangiku dengan tatapan polos.

"Ah! Aku tahu! Kita pasangkan saja Ulquiorra dan Momo-chan!" seru Isshin-san. Aku melotot ke arahnya, sementara Momo-san memasang wajah tidak percaya.

"Benar juga, mereka lumayan cocok" Retsu-san.

"Ulqui-kun suka sama Momo-chan ya?" ibu.

"Hmm… Boleh, tak ada salahnya" Aizen-san.

Aku, yang diomongkan hanya bisa terduduk tak percaya, dan di sisi meja yang lain, Momo-san masih memasang wajah tidak percaya. Apa yang harus kami lakukan?


*Harisen : kertas yang dilipat, biasanya digunakan untuk memukul

*Fasutofuudo-ten : sejenis restoran atau toko fast food

*Appetizers : makanan pembuka

Yee, chapter 2 is out!

Readers yang baik, help review dong... Padahal cukup banyak yang ngeread ff ini lho TT

By the way, anyway, busway, mungkin Hayi bakal ngeupdate seminggu sekali, karena setelah ini bakal banyak tugas dari guru-guru killer, terutama bindo. Berdoa saja supaya Hayi gapernah telat update #plakk

Review ne, minna-san ^^