Terdengar suara kaca pecah, menyusul jeritan histeris wanita yang dilempar keluar dari mobilnya. Ada cukup banyak masa untuk menghentikan perampokan yang terjadi tapi tak satupun dari mereka bersedia menolong, hanya berlalu-lalang seolah tak terjadi apa-apa. Akhirnya, mobil mewah itu raib, membawa pergi kawanan pemuda yang bersorak senang. Setelah kawanan itu pergi, orang-orang mulai menghampiri si wanita, membawanya ke tepi dan mengantarnya ke kantor polisi.
"Ada apa ini?" Seorang polisi berdiri dari duduknya ketika nampak beberapa pria dengan seorang wanita datang menghampiri. Pipi wanita itu membiru, ia dipukul. "Kekerasan rumah tangga?"
"Bukan, Pak," Satu pria menjawab dengan senyum sesal. Payah sekali dugaan polisi ini.
"Ini perampokan." Pria lainnya, yang menuntun si wanita ke tempat duduk, menyahut dan membuat polisi bereaksi. Perampokan tentu lebih gawat jika dibandingkan dengan KDRT.
Membawa serta sebuah memo dengan jemari mengapit pena, polisi tadi mulai mengajukan pertanyaan seputar kejadian. "Ini baru saja terjadi?"
"Ya, aku dibawa kesini segera setelah perampoknya pergi."
"Pelakunya lebih dari seorang?"
"Aku tidak menghitungnya, mungkin enam orang?"
Sebuah hal biasa jika prediksi penglihatan terkadang meleset dari jumlah nyata, dan mengenai hal itu, jumlah nyata sebenarnya bisa lebih banyak dari yang terlihat.
Pria yang tadi menuntun si wanita terlihat ingin menyampaikan sesuatu tapi tak dihiraukan, sementara si polisi terus menginterogasi. "Baik, apa yang hilang?"
"Mobilku."
"Anu, Pak polisi," Masih, tetap berusaha agar interupsinya diindahkan.
"Kira-kira, apakah kawanan itu memiliki ciri khusus? Yang bisa membantu penyelidikan kami, seperti seragam, atau simbol misalnya."
"Pak!" Akhirnya sang pria menjerit. Lihat wajah kesal itu, astaga persis sekali dengan kerbau terutama hidungnya; merekah. Setelah meledak, barulah polisi menyilakan ia untuk bicara. "Kau tidak akan menangkap mereka, aku yakin."
"Apa maksudmu?"
Orang-orang yang lain juga menyuarakan persetujuan pada pria banteng. Itu membuat si polisi merasa harga dirinya terinjak hingga tak berbentuk, hingga rata dengan tanah. "Pihak kepolisian pasti akan menangkap pelaku kriminal, apapun jenisnya!"
"Termasuk Baby B?"
...ㅡHening.
"Yang merampok nona ini adalah anak buah Baby B."
Benz yang sesaat lalu menjadi barang rampasan kini terparkir dan bersarang dihalaman sebuah rumah, rumah besar tak bertingkat namun memiliki halaman amat luas.
"Selamat malam, Tuan Muda!" Serempak, para pemuda yang datang bersama Benz membungkuk dalam-dalam ketika dihadapan mereka muncul sosok lain, memakai jaket hitam dengan sablonan huruf B warna putih.
"Ada apa?" Sosok itu bersuara. Oh, suaranya sangat menyeramkan, berat dan serak seperti baru saja menjerit sekuat tenaga.
"Kami ingin bergabung dengan Baby B dan sebagai bentuk permohonan, kami menghadiahi mobil ini untuk Anda!"
Si jaket hitam tak menjawab. Suara kakinya yang melangkah diatas lantai kayu terdengar jelas, berderit halus. Entah sudah berapa menit orang-orang ini dibuat membungkuk tanpa jeda sampai sepenggal dehaman mengejutkan mereka. "Kulihat, kalian bahkan sudah membuat tato."
Tato. Semua anak buah Baby B memiliki keseragaman: tato huruf B pada lengan kiri bagian dalam.
"Benar, Tuan! Kami mengikuti prosedur penerimaan anggota dengan baik." Lagi-lagi jawaban mereka dibiarkan terbawa angin. Beberapa saat berlalu, terdengar tanya susulan.
"Kelas berapa?"
"Kami disini dari kelas dua dan tiga, Tuan!"
"SMP?"
"SMA, Tuan!"
Sosok berjaket hitam itu tersenyum lebar, menggigiti kuku jari kelingking tangan kanannya. Jemari yang kecil, kurus, nampak rapuh. "Kalian tahu 'kan apa akibatnya kalau tidak mengabdi dengan sepenuh hati?"
Berat. Hukuman yang akan diterima jika seorang anak buah melanggar peraturan bisa jadi amat sangat berat. Berdasarkan salah satu kabar, diberitakan kalau keluarga dari mantan anak buah Baby B kehilangan tempat tinggal bahkan pekerjaan dan kini menjadi gelandangan; Baby B akan menyita semua yang dimiliki oleh pelanggar.
"Ya, Tuan, kami tahu dan kami siap menanggungnya!"
Ah, tentu saja.
Tidak ada yang tidak ingin 'dipeluk' oleh Baby B. Daripada terancam jadi korban, lebih baik menjadi anak buahnya.
"Kalian diterima. Selamat datang, keluarga baru!"
Baby B alias Si Jaket Hitam, berandal yang terakhir kali diketahui masih berstatus pelajar SMP, kepala dari Baby's Gang yang namanya tersohor hingga ke kota-kota tetangga.
ㅡ TAX! ㅡ
Sekolah Menengah Haeyu.
"Kau kenapa?"
Joonmyeon kaget, barusan ia masih hanyut dalam sebuah fiksi ilmiah amatir sebelum mendapati Namjoon yang rohnya baru saja disedot keluar, menggumam tak jelas persis pengunjung kuil. Kengerian dari wajah itu jadi naik satu level.
Sebenarnya, Namjoon hanya sedang berusaha menerima kenyataan pahit dimana iaㅡayo garis bawahiㅡharus menjadi ketua dari organisasi yang baru diusung oleh Direktur Haeyu. Tanggung jawab sebagai seksi keamanan (OSIS) saja sudah merepotkan, apalagi jadi ketua? "Kau memang gila, Joonmyeon. Kau gila!"
Terdakwa: Kim Joonmyeon. Dakwaan: menunjuk Kim Namjoon sebagai ketua dari Perisai Haeyu. Seakan tak punya masalah, Joonmyeon kembali membaca.
"Hoi, aku bicara denganmu, Ketua OSIS."
"Bicara? Kau mengajakku bertengkar."
"Aku cuma bilang kalau kau gila."
"Kenapa mau jadi bawahan orang gila?"
"Oh. Kau membuatku menyesal telah dilahirkan dengan marga Kim."
"Oh. Protes saja pada ibumu."
Bla bla bla! Ba bi bu! Cing cong cing cong!
Hoseok menatap jengah, dua orang anggota OSIS itu memang sering ribut tak keruan, tak jelas juntrungannya tahu-tahu sudah saling jambak. "Lihat kelakuan temanmu, Yoongi."
Mengeluarkan dengkur serupa 'khhkkkh', Yoongi kembali tergolek diatas meja. "Maaf ya, itu temanmu." Sepertinya Namjoon agak mencoreng eksistensi kekerenan Hoseok dan Yoongi. Yah, walau tanpa disebabkan Namjoon pun mereka memang tidak ada keren-kerennya.
"Nih," Sekotak susu stroberi dengan kemasan yang bergambar sapi lucu bertengger diatas meja Taehyung. Anak itu mendongak, menemukan Jungkook yang menyeret kursi untuk duduk menemani.
"Wah, terimakasih, Kookie!" Memperdengarkan tawa kekanakan khasnya sambil menusuk sedotan, Taehyung langsung sibuk menikmati perisa stroberi yang menyapu sekujur lidah. Jungkook hafal betul soal ini sebagaimana ia hafal untuk selalu bernafas; menyisihkan jatah susu dan memberikannya pada Taehyung. Baginya, itu adalah rutinitas yang normal. Ia tak bisa jika hidungnya tak mengendus aroma susu.
Taehyung melempar kotak susunya, masuk dengan mulus ke tempat sampah disudut kelas, dibelakang pintu. Jangan heran, anak itu memang dikenal lihai bermain bola basket. "Sudah makan siang?" Tanyanya. Jungkook menggeleng. "Menunya banyak wortel."
"... Yack."
"Bahkan ada jus wortel segala."
"Blergh. Hentikan, susu stroberiku bisa keluar lagi nanti."
"Kau takkan percaya bagaimana cara Bibi kantin memotong wortelnya setebal dua senti."
"Ew, Jeon Jungkook!" Obrolan itu mengantar mereka pada gurauan yang selalu terjadi sejak masih TK, yang diam-diam menjadi tradisi: dimana ada pihak yang akan dijepit diketiak sambil dijitak, tapi tetap terbahak-bahak. Begitulah cara bergaul Taehyung dan Jungkook, membuat Jimin jadi iri. Seumur-umur, Jimin hanya berteman tanpa tahu bagaimana rasanya memiliki sahabat. Jimin bukan tipe yang pilih-pilih, lalu kenapa tak ada yang menjadikannya sahabat? "Jungkook!" Ia memanggil, berlari menghampiri dan entah apa yang ada dalam otaknya, yang memprovokasinya untuk memeluk lengan Jungkook tanpa permisi. Candaan yang tadi berlangsung kini terpaksa berakhir, digantikan oleh suasana kritis dari mata Jungkook.
"Lepaskan tanganku." Bersamaan dengan suara 'heah!', ia menghempas Jimin sejauh mungkin. Jika bisa, niatnya ingin melempar orang itu sampai ke pluto. Rasanya tidak ada hal lucu pada kejadian itu, tapi Taehyung tertawa kencang seolah ia melihat dua orang dungu bercakap-cakap. Kalau Taehyung sudah begitu, Jungkook tidak sanggup melakukan apa-apa selain menertawai wajah kawannya. Ah, lagi-lagi Jimin dibuat iri.
ㅡ
Tangan ramping dibalut kain merah, menjulurkan suatu kemasan mirip kantung kasa dengan pucuk diikat menggunakan pita. Juluran itu ditujukan pada seseorang yang berdiri satu setengah meter didepannya.
"Oppa, aku menyukaimu, aku mau oppa jadi pacarku. Jika oppa bersedia, terimalah cokelat ini."
Fiuhhh, wuuushhㅡSuara desis angin, meniup seragam dan helai rambut dua sejoli dibawah pohon magnolia. Si gadis dengan wajah memerah penuh harap, si pemuda berwajah tampan melayangkan tatap yang melesak kedalam kalbu.
"Huwek." Hoseok dan Namjoon yang kebetulan melewati koridor penyeberangan gedung satu-gedung dua, melihat kejadian tembak-menembak dibawah magnolia yang kelopaknya berguguran, semilir angin membuat keadaan syahdu. Jujur saja, Hoseok merasa kalau kelopak mata dan paru-parunya gemetar; geli. Namjoon mendesis, ia ingin mendengar jawaban dari Pangeran.
Benar, pemuda bertatap hangat itu adalah Pangeran Haeyu, Seokjin.
"Ah," Seokjin menyibak poni keatas, menunduk hingga poninya jatuh lagi. Gerakan helai rambutnya begitu lembut, kompak bersama hembusan angin.
"Ada badai?" Hoseok heran. "Aku kepanasan tapi disana anginnya kencang, ya."
"Diamlah!" Namjoon menggigit lengan kawannya, langsung terdengar 'aw' keras yang panjang. Bunyinya kira-kira seperti 'AAAAWWWW!'. "Angin diperlukan untuk menciptakan suasana romantis."
Ternyata didekat TKP penembakan, anak-anak klub film sedang syuting skenario 'sekolah kena badai', menggunakan turbin yang menjadi sumber angin dilokasi.
Pantas saja Seokjin nampak kerepotan menata rambut, awut-awutan begitu.
Tapi tetap tampan.
"Maaf, aku tak bisa menerimanya."
SyuuuhhhㅡBahkan angin tak lagi bertiup mendengar jawaban si Pangeran. Iya, klub film sudah selesai syuting. Namjoon menggeleng iba sementara Hoseok masih berkalut dengan bekas gigitan monster.
.
"Kenapa, oppa? Aku jelek?"
.
"Bukan, kau cantik."
.
"Lalu, kenapa kau menolakku?"
.
"Maaf."
.
"Katakan, oppa!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau terlalu baik untukku."
"Klasik." Hoseok dan Namjoon langsung pergi. Begah mendengar alasan klasik serupa 'kau terlalu baik untukku'. Tapi, nampaknya si gadis belum menyerah. "Oppa,"
"Ya, mademoiselle?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Oppa suka gadis brengsek, ya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hening diantara keduanya.
.
.
.
.
.
.
Hmm.
.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ TAX! ㅡ
Bersambung
