JungkookxTaehyung
(Top!JungkookxBottom!Taehyung)
BTS Fanfiction
Warning! BL, typo bertebaran, alur maksa dll
Happy Reading~
.
.
CHAPTER 2
.
.
Jungkook melirik jam tangannya.
05.47.
Jungkook berdecak. Masih terlalu pagi untuknya pergi ke sekolah. Ia meruntuk dalam hati, mengingat harus menunggu sebuah bus untuk mengangkutnya. Hal ini tak pernah ia lakukan, sebenarnya. Salahkan mobil ayahnya yang harus masuk bengkel karena mengalami beberapa kerusakan, membuatnya terkena imbas pahitnya pagi ini.
Sungguh, ia tak terbiasa naik kendaraan selain mobil pribadi dan pesawat. Ia tak mau mencoba yang lain, lebih tepatnya. Sejak kecil ia biasa dimanjakan, sehingga hal tersebut membentuk pribadinya saat ini. Semaunya. Ia selalu memilih dalam melakukan sesuatu yang ia inginkan dan tidak ia inginkan. Namun tampaknya kali ini tak ada pilihan baginya. Jika ia tidak mau naik bus sekolah, maka ia tidak sekolah.
Ngomong-ngomong, bila ada yang menanyakan berapa usianya kini, maka jawabannya adalah 12 tahun.
Apa ia sudah dapat dikatakan dewasa?
Belum?
Menurut penilaian orang-orang yang mengenalnya, sikap dan sifatnya bahkan sudah melebihi pria dewasa yang amat congkak, sombong, serta menyebalkan. Ia juga tidak pernah mempedulikan sekitar. Hal itu membuatnya tak memiliki banyak teman. Biasa, pergaulan anak-anak, yang mana jika sikapnya tak diinginkan oleh sebuah kelompok maka ia akan dibuang.
Ah, siapa peduli. Jungkook bisa hidup sendiri. Ia takkan mati walau tidak memiliki satupun teman dalam hidupnya. Bukankah begitu?
Jam menunjukkan pukul 05.55 ketika bus sekolah tiba di hadapannya. Memutar bola mata, dilangkahkan kakinya dengan malas memasuki bus tersebut. Ia berharap hari ini adalah kali pertama dan terakhir untuknya naik angkutan itu. Ia mendudukkan diri di kursi paling dekat pintu, agar setelah sampai, ia bisa cepat-cepat keluar dari sana.
Namun tiba-tiba ada hal yang mengintrupsi ketenangannya pagi ini. Sebuah suara terdengar dari luar, bertepatan dengan roda bus yang perlahan bergerak maju. Ia menoleh ke luar jendela dan mendapati seorang anak tengah berlari mengejar bus yang ditumpanginya.
Bukan Jungkook namanya jika ia peduli dengan hal sepele semacam itu. Ia menutup mata dan menyenderkan kepala pada bangku bus, berusaha mencari kenyamanan sampai waktunya ia turun.
"Siapa suruh gak dateng pagi," gumam Jungkook tak peduli. Bus pun tidak berhenti melaju, semakin lama semakin cepat, sampai akhirnya meninggalkan anak yang masih berlari tadi.
"Pak, berhenti! Temen aku belum naik!"
Lagi, suara lain membuat Jungkook berdecak untuk yang kedua kalinya pagi itu. Untuk apa menolong orang yang tertinggal karena kesalahannya sendiri? Anak itu tentu bisa menunggu bus selanjutnya.
"Pak, tolong berhenti! Itu Jimin masih lari-lari!" seorang anak di dalam bus kembali berteriak sambil menempelkan tangannya ke jendela, melihat temannya yang masih berlari dengan panik. Beruntung, sang supir mau berbaik hati untuk menghentikan laju bus. "Makasih pak!" begitu pintu terbuka, ia segera keluar dan berseru pada temannya, "Jim, cepetan! Udah berhenti nih busnya!"
Melihat itu, anak yang berlari pun meningkatkan kecepatannya. Saat berhasil mencapai bus, ia terengah sejenak, baru menaikinya. Ia memilih duduk di bangku seberang Jungkook, diikuti teman yang telah menolongnya.
Jungkook melirik mereka tak suka. Ia hanya dapat melihat punggung salah seorang di antara mereka, karena anak yang satu tertutup badan temannya. Dengan ini, butuh waktu lebih lama baginya untuk keluar dari angkutan menyebalkan (baginya) itu.
"Kamu gak apa-apa?"
"Iya...hah...aku gak...hah...apa-apa," jawab si anak yang terlambat naik, masih terengah seperti orang sekarat. Dapat diketahui namanya adalah Jimin, karena temannya sempat menyebut namanya saat berseru pada supir bus tadi. Ia mengambil jeda guna menstabilkan napasnya, lalu berkata, "Tae, makasih udah nyuruh supirnya nungguin aku."
Si penolong mengangguk saja. "Kamu kenapa bisa telat gitu?"
"Aku telat bangun, gak tau kenapa hari ini keluargaku telat bangun semua."
"Sekeluarga?"
"Iya."
Jungkook yang mendengar percakapan keduanya, mengeryitkan kening. Apa benar ada keluarga di dunia ini yang kompak terlambat bangun di pagi hari? Bagaimana itu bisa terjadi?
Jungkook menoleh pada keduanya ketika suara si penolong terdengar sedang memberi saran pada temannya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan saat itu, tidak sengaja ia bertatapan dengan si penolong yang kebetulan duduk menghadapnya.
Ah, tidak, sebenarnya sang anak sedang menghadap temannya, Jimin. Namun karena Jungkook berada di arah yang sama dengan Jimin, otomatis anak tersebut juga menghadapnya. Jungkook tidak merasa kepedean, kok.
Tetapi, entah kebetulan atau tidak, Jungkook mendapati si penolong tengah berujar namun dengan arah pandangan kepadanya, bukan Jimin. Tidak, demi Tuhan, ia tidak kepedean. Jungkook sangat yakin, matanya masih sangat sehat dan ia pun dapat membuktikan bahwa hal itu benar adanya.
Jungkook baru melihat dengan jelas paras anak tersebut, karena tadi sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Kalaupun sempat melirik, anak itu tak dapat terlihat karena tertutup badan Jimin. Tampaknya ia patut menyalahkan Jimin yang telah menutupi pandangannya, karena kalau tak ada Jimin, mungkin Jungkook sudah terhenyak sejak tadi saat melihat paras anak tersebut.
Atau mungkin Jungkook sama sekali tidak melihatnya karena hanya berorientasi untuk segera turun dan menjauh dari angkutan yang ditumpanginya itu.
Sangat manis, wajah anak tersebut sangat manis. Jungkook sampai lupa cara berkedip saat melihatnya. Mereka bertatapan selama beberapa detik, sampai Jungkook sontak membuang pandangan ke sembarang arah saat Jimin berusaha menyadarkan temannya dari lamunan.
"Kim Taehyung!"
"Ah- iya apa?"
"Kamu ngelamun. Ngeliatin apa sih?"
"Gak liat apa-apa."
Jimin membalikkan badan dan mendapati seorang anak yang terduduk sendiri dengan wajah menghadap jendela, tampak sedang menatap ke luar. "Ngeliatin dia?"
"Nggak kok!"
"Jangan boong. Kamu naksir ya?"
"Apaan sih Jim, ya enggak lah. Aku aja gak kenal siapa dia."
"Ya udah, makanya kalo lagi ngomong sama aku ya liat aku, jangan yang lain."
"Iya iya bawel."
Jungkook berdoa agar Jimin terlambat lagi besok. Kalau perlu, semoga Jimin bangun sangat siang agar tidak sempat pergi ke sekolah. Jujur saja, Jungkook tidak menyukai anak itu. Ucapannya pada temannya terkesan seperti perintah yang mutlak untuk dipatuhi. Anak itu seakan tak tahu terimakasih.
Jungkook kembali mencuri pandang pada si penolong yang kini sedang tertawa, sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang lucu. Demi Tuhan, wajahnya yang sudah manis bertambah berkali-kali lipat lebih manis saat tertawa, membuat Jungkook bertanya-tanya apakah anak tersebut memiliki beban hidup atau tidak. Karena nyatanya, saat tertawa, ia terlihat sangat bebas. Wajahnya menyiratkan arti bahagia yang sesungguhnya.
Jungkook menarik pikirannya mengenai bus sekolah yang menyebalkan. Mungkin menunggu bus sekolah memang menyebalkan, namun akan lain ceritanya bila ia menunggu bus guna melihat kembali si anak manis. Jungkook bersumpah bahwa besok dan seterusnya ia akan terus naik angkutan tersebut. Mungkin saja dengan ini paginya jadi lebih menyenangkan dibanding hari-hari sebelumnya. Akhirnya, pagi yang monoton baginya dapat usai juga.
.
(POINT, AIM, SHOOT!)
.
Benar saja. Jungkook benar-benar menepati tekadnya sendiri. Pagi-pagi sekali, bahkan lebih pagi dari sebelumnya, Jungkook telah duduk manis di halte, menanti bus sekolah yang akan mempertemukannya dengan anak kemarin. Ia terus melirik jam tangannya, memastikan bahwa ia akan menaiki bus yang sama seperti sebelumnya.
Ketika bus datang, cepat-cepat ia masuk ke dalam bus dan langsung menyapu pandangannya, mencari seseorang. Nihil, hanya ada beberapa perempuan dan tiga laki-laki yang dapat ia pastikan bukan orang yang ia maksud. Ia hendak berbalik untuk keluar dari bus tersebut, sampai ia menyadari bahwa satu di antara tiga laki-laki tadi adalah Jimin, yang mana tidak ingin ia lihat.
Bagaimana Jungkook bisa tahu itu adalah Jimin sedangkan satu-satunya wajah yang ia ingat adalah si anak manis? Karena ia mendengar Jimin menyebut nama anak itu. Ya, Jungkook baru ingat bahwa kemarin pun Jimin telah menyebut namanya dengan keras dan jelas.
Kim Taehyung. Jungkook bersumpah bahwa nama itu akan kekal terpatri dalam benaknya.
Jungkook memutuskan mengambil tempat duduk agak dekat dengan Jimin, agar bisa menguping lebih banyak. Sedari tadi Jungkook mendengar Jimin beberapa kali menyebut nama Taehyung, sehingga Jungkook harus tahu apa yang sedang Jimin bicarakan tentangnya.
"Aku gak tau dia sakit apa," kata Jimin pada salah seorang temannya. "Waktu aku dateng ke rumahnya tadi pagi, dia gak mau keluar kamar. Katanya sih demam, tapi ibunya gak yakin karena semalem dia masih sehat-sehat aja."
"Kok tumben kamu ke rumah Taehyung pagi-pagi?"
"Ibunya nelpon ke rumahku, nyuruh aku dateng karena mau nitip surat sakit."
"Tapi kok kamu mau jalan jauh ke rumah Taehyung? Aku sih ogah."
"Iya Jim, lagian kalo kamu mau jalan jauh ke rumah Taehyung terus masih keburu buat naik bus sekolah, kamu pasti bangun lebih pagi, kan? Rajin amat."
Jungkook terdiam mendengarnya. Ia merasakan firasat buruk atas Jimin. Jimin yang tak kunjung menjawab membuat Jungkook menoleh padanya. Ia sangat tahu bahwa ia bahkan belum lulus sekolah dasar, namun ia tidak cukup bodoh untuk tidak mengerti arti tatapan Jimin ketika hendak menjawab pertanyaan teman-temannya.
Jimin menyukai Taehyung. Jelas sekali terpancar dari sorot matanya.
"Ibunya udah minta tolong ke aku, masa mau aku tolak? Ya gak enak lah."
Jungkook tidak bisa dibohongi. Tawa Jimin setelah mengatakan itu terdengar amat palsu di telinganya.
Ah, sepertinya ia membenci tawa Jimin mulai saat ini.
Jimin sialan. Kalau suka kenapa tak langsung bilang? Membuat Jungkook naik pitam saja. Hei, sekarang masih terlalu pagi untuk meluapkan emosi.
Baru hari ini Jungkook mengenal Jimin dan hari ini pula Jungkook menarik kesimpulan bahwa Jimin adalah orang yang munafik. Memang tak wajar bagi anak seumuran Jungkook untuk berpikir seperti itu, namun sungguh, itu adalah wujud nyata dari penilaian orang-orang yang mengatakan Jungkook adalah bocah berkepribadian dewasa. Dewasa yang menyebalkan, maksudnya. Entah ia mendapat pribadi tersebut dari siapa. Orangtuanya pun tak pernah mengajarkan hal seperti itu padanya.
Jungkook membuang pandangan dengan kesal. Tiba-tiba ia merasa sangat tidak bersemangat, suasana hatinya mendadak buruk. Ia menyesali dirinya yang terlalu antusias untuk bangun dan berangkat pagi. Kalau tahu akan begini jadinya, ia akan memilih naik mobil ayahnya yang telah selesai diperbaiki. Sayangnya Jungkook bukan cenayang yang bisa meramal masa depan, sehingga ia mengambil pilihan yang salah pagi tadi.
Tapi sudahlah. Walau bagaimanapun, Jungkook telah menetapkan Taehyung untuk jadi miliknya, dan ia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.
Kejadian pagi ini tak menyurutkan tekadnya, tak mematahkan semangatnya untuk kembali menunggu bus sekolah di esok hari. Ia berharap Tuhan berbaik hati dan membiarkannya bertemu dengan Taehyung, membukakan pintu baginya untuk menunjuk Taehyung sebagai takdir hidupnya.
Akhir kata, Jungkook, tolong ingat umur.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
Jadi ceritanya aku nyempetin ngetik ini di tengah ujian sekolah dan USBN /nangis/
Thanks for reading
See you in the next chapter
Mind to review?
