Terinspirasi dari Voyeur by Nelliel-Ni dan Liberated by Shante Diamond.
(Both were KibaIno stories XD)
.
Disclaimer : I only own the story
.
Love and Hatred
.
Warning! : Mainstream Idea
.
.
.
Chapter 2
Tokyo
Lengang.
Kata yang cukup tepat untuk menggambarkan keadaan sebuah unit rumah di Yoyogi. Rumah bercat putih dengan desain yang simpel, minimalis modern, cukup kuat untuk menunjukkan elegansi si penghuni rumah. Kawasan perumahan Yoyogi memiliki banyak taman. Relatif tenang meskipun terletak di antara dua distrik besar dan tersibuk di Tokyo, Shibuya dan Shinjuku. Dari penampilan luarnya saja terlihat bahwa kawasan ini termasuk kawasan elite, yang mana hanya orang-orang tertentu yang bisa membeli hak milik unit rumah di sini. Harga tanah yang cenderung tinggi, meski tidak setinggi harga tanah di kawasan Hiroo, adalah salah satu kendala yang menyebabkan Yoyogi tidak bisa dijangkau sebagian besar orang.
Jika menilik masuk ke dalam, rumah yang baru saja kita bicarakan di awal tadi tidak terlalu lengang juga. Beberapa kardus berukuran besar disusun bertumpuk dan berjajar di ruang tamu.
Dari arah tangga terlihat seorang pria melangkah turun. Bagian atas tubuhnya berbalut kaos V-neck lengan panjang, berwarna green olive, melekat dengan erat memperlihatkan bongkahan daging berbalut kulit yang terpahat sempurna. Sementara di bagian bawah dia menggunakan celana camo dengan warna dasar senada. Tubuhnya yang diolah setiap dua hari sekali di gym terbentuk sempurna. Akan selalu mencipta decak kagum dari wanita manapun yang melihatnya, akan selalu menuai cibiran dengki dari para pria yang tidak menyukainya.
Bibir tipisnya membuka lebar, melakukan peregangan di daerah rahang sehingga aliran darah meningkat di bagian leher, wajah dan kepala. Kemudian menarik napas dalam, membuat cairan di tulang belakang dan darah dari otak mengalir ke bawah. Udara sejuk yang dihirup membantu mendinginkan cairan ini. Melepas darah yang terlalu panas dari otak lalu memasukkan darah yang suhunya lebih rendah yang berasal dari paru-paru, kaki, dan tangan sehingga mendinginkan permukaan otak.
"Hoammmmhhhh..."
Ya, pria itu tengah menguap.
Mata birunya memandang sayu pada tumpukan kardus yang tinggal menunggu untuk diangkut. Perlahan pandangannya mengelilingi setiap sudut rumah. Rumah yang telah memberikan kenangan kepadanya selama sepuluh tahun terakhir. Baik itu kenangan indah maupun kenangan yang menyedihkan. Sejenak dia termenung, menatap menerawang pada langit-langit ruangan. Mencoba me replay kembali apa yang telah dia lalui di tempat ini. Tempat yang akan selalu spesial di matanya.
Rumah tinggal yang diberikan oleh kedua orangtuanya sebagai hadiah atas keberhasilannya meraih beasiswa di College of Arts and Sciences, University of Tokyo. Terlalu mewah menurutmu? Sama sekali tidak bagi seorang Namikaze Minato, seorang anggota parlemen pemerintahan. Terkenal dengan wibawanya dan kemampuannya menarik hati rakyat. Meski demikian, kekayaannya yang sangat berlimpah membuat sebagian orang meragukan eksistensinya sebagai pejabat negara yang jujur. Entah memang demikian, atau ini hanya dendam pribadi atau bahkan hanya akal-akalan lawan politik, Namikaze pernah diisukan terlibat dengan salah satu jaringan Yakuza.
Bukan tanpa alasan sebagian orang mengatakan demikian. Mereka mengucapkan sebuah peristiwa yang cukup dijadikan bukti keterlibatan Namikaze dalam salah satu jaringan Yakuza.
Tahun 2011 gempa berskala 9 SR mengguncang negeri matahari terbit. Berlanjut dengan tsunami yang menyerang pesisir barat negara tersebut. Puncak bencana terjadi saat gelombang tsunami menghantam salah satu pembangkit daya di Prefektur Fukushima. Menyebabkan rangkaian kecelakaan lain yang sama sekali tidak terprediksi pada awalnya. Yakuza adalah organisasi yang pertama kali tiba di lokasi dan memberikan bantuan kepada para korban. Saat itulah kamera hp dari seorang warga tanpa sengaja menangkap gambar seorang pria berrambut kuning, yang diduga merupakan seorang Namikaze.
Bahkan sebelumnya, ketika gempa menerjang Kobe, Namikaze Minato terlihat di antara konvoi sepeda motor yang tengah menuju ke tempat kejadian. Konvoi motor yang dilakukan oleh genk Yakuza.
Ya memang, meski apa yang mereka lakukan terlihat baik, tetap saja masyarakat Jepang tidak bisa menerima dengan tulus keberadaan Yakuza. Terlebih dengan adanya rekaman negatif lain yang bertumpuk di ingatan mereka, tentang apa yang dilakukan oleh sindikat teroganisir itu.
Terlepas dari semua rumor yang beredar, sosok Namikaze Minato tetap dihormati oleh rakyat Jepang. Terbukti dari kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk tetap menduduki kursi parlemen.
TOK... TOK...
Suara ketukan kasar di pintu depan membuat pria kuning itu terlonjak kaget. Dengan langkah cepat pria itu meraih kenop pintu dan memutarnya hingga pintu terbuka.
"Naruto! Kau sama sekali belum bersiap?"
Seorang wanita berrambut merah panjang menerjang Naruto yang masih berdiri di pintu masuk. Membuat Naruto mencebik.
"Tsk! Jangan menggangguku Karin!"
Wanita itu mendelik dibalik kacamatanya. Sebelah tangan terangkat dan memukul keras lengan Naruto. Naruto meringis kesakitan. Bibirnya mendecih pelan dan dalam hati mengumpat kelakuan tak sopan kakak sepupunya itu.
"Bibi Kushina menyuruhku mengantarmu. Sebenarnya aku juga malas, tapi mau bagaimana lagi. Kau tahu sendiri kan bagaimana galaknya Ibumu itu? Aku kapok membuat masalah dengannya, jadi kuturuti saja kemauan Bibi."
Tuh kan! Dasar wanita!
Diberi satu kalimat, eh dijawab dengan berondongan omelan. Mengesalkan!
Tapi tanpa sadar Naruto mengangguk pelan, menyetujui kalimat yang baru saja dilontarkan Karin. Ibunya memang mengerikan terlebih jika ada satu saja kehendaknya yang tidak dituruti. Bisa jadi seluruh tubuhmu lebam dan memar akibat pukulan.
"Lalu, kau membawa mobilmu kemari, Karin?"
Tanpa memandang ke arah Naruto, Karin menggelengkan kepala. Sepertinya wanita itu lebih memilih mengamati kardus-kardus yang lebih tinggi dari dirinya.
"Ada truk, Suigetsu mengijinkanku membawanya."
Naruto tertawa keras mendengar pernyataan Karin. Sebelah tangannya memegang perut yang terasa sakit akibat tawanya itu.
"Tertawalah sepuasmu, Naruto! Karena setelah ini giliranku yang menertawakanmu."
Naruto terdiam mendadak. Kerutah di dahinya cukup untuk membuktikan bahwa pria itu tengah kebingungan.
Menyadari situasi tenang ini membuat Karin menoleh, matanya memandang jenaka pada sang adik sepupu yang seumuran dengannya.
"Kau akan menyetir sendiri truk itu."
"A-apa?"
"Yup... Yup..."
"Ta-tapi aku kan tidak bisa mengemudikan truk, Karin?"
Karin mengendikkan bahunya cuek. Berbalik membelakangi Naruto dan tangannya kembali menjelajah. Membuka sebuah kardus kecil berwarna putih yang terpisah dari tumpukan lain dan diletakkan di ujung ruangan. Matanya berkilat penasaran.
"Bagaimana kalau terjadi kecelakaan saat aku mengemudikan trukmu, Karin?"
"Ada asuransi."
Karin menjawab sekenanya. Matanya lebih tertarik pada benda hitam yang kini menggantung di sela jemarinya.
Bibir bergincu merah itu menyeringai, bak rubah betina yang siap menerkam mangsanya. Memain-mainkan barang yang sebenarnya milik seorang wanita itu dengan cara memutar-mutar.
Iris biru sang Namikaze muda kini membelalak lebar. Pipinya yang berhias goresan mengeluarkan semburat merah. Lalu kecepatan larinya yang menyerupai Kilat Kuning dari Konoha berhasil membuat sepasang kakinya mendarat dengan sedikit tidak selamat di hadapan Karin.
"Dasar usil!"
Uzumaki Karin tertawa terbahak-bahak. Lalu detik berikutnya dia sudah berada di luar rumah karena Naruto menyeretnya dengan kasar.
Pria kuning itu mulai mengangkat satu persatu kardus yang berisikan barang-barangnya dan memindahkan ke dalam bak truk yang terparkir di luar pagar. Jangan remehkan kekuatan fisik seorang Namikaze Naruto, sang fotografer ternama di seantero dunia hiburan Jepang. Bukan hanya karena keterampilannya dalam memainkan lensa kamera, tetapi juga kepiawaiannya dalam menaklukkan wanita. Tentu saja salah satu modal yang dibutuhkan adalah fisik yang kuat dan indah.
Hampir setiap model yang menjadi objek pemotretannya berakhir dengan kondisi acak-acakan, tergeletak tak berdaya di atas ranjang di kamar hotel mewah. Tidak perlu dijelaskan apa yang terjadi bukan?
Naruto sama sekali tidak peduli dengan posisi sang Ayah yang merupakan anggota parlemen. Sebuah alasan dia kemukakan saat pertanyaan tersebut tersodor padanya.
"Aku adalah aku, bukan Ayahku. Jadi jika kau ingin menilaiku, lihatlah aku, jangan Ayahku. Tentu saja hal itu berlaku sebaliknya."
Jawaban yang cukup bijak untuk ukuran seorang manusia yang sama sekali tidak bijak.
.
"Jadi apa ada alasan khusus?"
Naruto mengernyit bingung. Matanya tetap fokus pada jalanan meski menyiratkan rasa penasaran.
"Kau menyimpan barang seperti itu di rumahmu?"
"Uohokkk..."
Untuk ke sekian kalinya dalam seminggu pria kuning itu tersedak. Bedanya jika kemarin dia lebih sering tersedak minuman, maka kali ini ludah sendirilah yang lebih berperan.
Kepalan tangan memukul-mukul dadanya sendiri.
"Kalau ingin membunuhku, tembak saja aku dengan pistol, Karin! Jangan menyiksaku begini."
"Kalau aku punya, sudah kulakukan dari dulu."
"He? Apa aku berbuat salah padamu?"
"Tidak! Tapi kau berbuat salah pada martabatku sebagai seorang wanita."
Naruto mencebik. Kalau saja yang di sebelahnya bukan sepupunya, sudah dijamin dia akan menendang wanita itu keluar dari truk.
"Jadi?"
Naruto memejamkan matanya sejenak, menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
"Apa ada yang aneh dengan itu? Kau tahu sendiri kan siapa aku?"
Karin mengangguk.
"Yang aneh adalah karena benda itu ada di kamarmu. Bukankah biasanya kau selalu tidak peduli pada wanita yang kau tiduri? Melucuti harga diri mereka di kamar hotel dan meninggalkan seolah mereka sampah sisa makananmu."
"Apa itu semua salahku? Aku selalu mengatakan pada mereka bahwa hubungan ini hanya one night stand. Dan mereka tidak pernah menolaknya. Menurutmu aku yang jahat di sini?"
Karin terdiam. Bukan karena kehabisan kata-kata tapi karena sedang merutuki kebodohan para wanita yang mau dijadikan korban oleh sang adik.
Heck! Karin tidak sebodoh itu untuk mengetahui bahwa beberapa dari mereka benar-benar mengharapkan uluran cinta sang cassanova. Sayangnya semua itu hanyalah sebuah lelucon di mata Namikaze Naruto.
"Terserah kau saja. Yang aku ingin tahu hanya, apa benda tadi begitu spesial? Sampai kau menyimpannya di rumah? Padahal kau sama sekali tidak pernah sekalipun membawa wanita-wanita jalang itu ke rumah, bukan?"
Naruto mengendikkan bahunya. Kepalanya menoleh ke samping, mengarah ke jendela luar. Berpura-pura sedang mengamati kaca spion.
Padahal itu adalah salah satu bentuk usahanya untuk menyembunyikan rona merah di wajah tanned nya.
"Siapa bilang? Aku pernah sekali membawa seorang wanita ke rumah. Karena dia begitu berbeda, karena dia begitu spesial."
.
.
.
Osaka
Osaka Airport
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari saat sesosok wanita terlihat berjalan dengan anggun di pintu keluar terminal 2F. Berbalut sebuah jaket merah marun dari bahan wool terbaik dari ujung leher hingga berakhir di bawah lutut. Jangan lupakan pula topi rajut berwarna merah muda menghiasi kepalanya, membungkus hampir seluruh mahkota indigonya. Hanya menyisakan beberapa helai untaian panjang bergelombang di kedua sisi wajah. Sepertinya memang beginilah style favorit sang wanita.
Manik opal yang tertutup kacamata hitam mengedarkan pandangan ke setiap sudut, menyapu satu persatu bayangan manusia yang tertangkap penginderaannya. Beberapa jenak selanjutnya dipenuhi binar kebahagiaan saat menatap sebuah objek yang bukan hanya menjadi perhatiannya tetapi juga menjadi perhatian hampir setiap orang di bandara.
Tentu saja jika yang mereka lihat sekarang adalah seorang pria dewasa dengan tampilan kasual memikat. Wajah tampannya yang menjadi salah satu alasan perhatian makhluk bandara terpusat. Belum lagi sorot mata onyxnya yang tajam. Seolah mampu menenggelamkan manik lain ke dalamnya.
Kaki jenjang sang wanita berlari kecil, membawa tubuh mungil itu mendekat kepada sang pria. Menghambur ke pelukan pria tersebut. Tidak peduli kini mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian. Bukan sebab tingkah mereka yang seperti adegan film romantis, tetapi sebab sebuah koper berukuran besar yang tertinggal jauh di belakang.
"Nii-san."
"Hei, apakabar Hinata?"
"Aku baik-baik saja. Sasuke-nii sendiri?"
"Sama Hinata."
Keduanya terlibat perbincangan ringan saat kaki-kaki mereka mulai melangkah. Berjalan menuju parkiran mobil di bagian luar. Saling bertukar kabar dan berita. Mulai dari kabar masing-masing hingga merambat ke permasalahan politik di Jepang.
Sasuke yang biasanya hanya mengeluarkan kata-kata seperlunya, kini dipaksa untuk menjadi cerewet. Menjelaskan setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Hinata. Sasuke meringis saat menyadari sesuatu. Entah mungkin sejak tinggal di LA Hinata menjadi lebih banyak bicara. Hinata, adik sepupunya dari pihak Ibu, yang dulu selalu bersembunyi di balik punggungnya, Itachi atau Neji, sekarang jadi lebih talkative.
Maka pria berrambut raven itu seolah tidak percaya jika ada orang yang menyebutkan bahwa Hyuga Hinata adalah wanita yang sombong.
"Hn. Ada-ada saja." Batinnya.
.
Saat ini keduanya telah duduk di dalam mobil yang melaju kencang di jalanan Osaka. Berusaha untuk lebih cepat sampai ke tempat tujuan. Bukan sebab yang lain, tetapi kondisi Hinata yang kini sudah bersandar tak berdaya di kursi penumpang yang membuat Sasuke iba.
Jangan salahkan wanita itu. Dia memang telah cukup kelelahan dengan perjalanan NY-Osaka yang memakan waktu lama. Bayangkan, dari bandara JFK ke Narita saja butuh waktu kurang lebih 14 jam, lalu dari Narita dia harus sewa taksi untuk membawanya ke Haneda karena memang tidak ada pesawat yang bisa langsung membawanya ke Osaka jika dari Narita. Bertolak dari Haneda barulah terbang menuju Osaka, menghabiskan waktu selama satu jam lebih.
Sasuke memandang iba pada wanita di sebelahnya. Hinata gadis yang baik dan lemah lembut. Sejak kecil memang pemalu. Hanya segelintir orang yang mau berteman dengannya. Karena sebagian besar menganggap Hinata adalah seorang weirdo.
Namun, berkat dorongan kakak-kakak sepupunya serta sahabat masa kecilnya, Hinata bisa menjadi lebih terbuka.
Sasuke tersenyum.
"Kau hebat, Hinata."
Tidak ada alasan lain selain Sasuke mengagumi Hinata, karena wanita itu adalah wanita terkuat yang dia kenal. Tertimpa cobaan karena mengandung anak di luar pernikahan, meski pada awalnya Hinata terlihat depresi tetapi pada akhirnya wanita itu mampu menunjukkan ketegarannya. Mengasuh Boruto dengan tulus dan kasih sayang, mencintai Boruto sepenuh hati. Bahkan Sasuke tidak menyangkal jika Borutolah salah satu faktor pendorong keberhasilan Hinata mencapai puncak karir.
"Sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu kepadamu. Tentang seorang laki-laki yang membuat jasku kotor seminggu yang lalu. Mungkin hanya perasaanku tetapi rasanya laki-laki itu benar-benar mirip dengan Boruto."
Ya, Sasuke berbicara panjang lebar. Tidak peduli saat ini Hinata sedang terlelap, yang artinya dia hanya bercengkerama mesra dengan kaca mobil.
.
.
.
TBC
.
.
.
Yosh! Bagaimana chapter ini, Minna? Mohon tuangkan uneg-unegnya ya ^^
Arigato.
