My Princess
Title : My Cool Princess
Writer : Helloannyeongg
Genre : Romance, Drama, friendship
Rated : T
Main Cast : (HunHan) Oh Sehun Xi Luhan
Other casts :Exo members and others SM artists
Semua Cast disini milik diri mereka masing-masing, orangtua, dan Tuhan. Author cuma memakai mereka sementara sebagai Cast di FF abal-abal author ini.
Warning : GS, TYPO(S), OOC dan Bahasa pun tidak baku.
Cerita ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan kejadian mungkin ini hanya sebuah kebetulan. Cerita ini milik SAYA. Penulis cerita ini adalah SAYA. Ide dalam menulis berasal dari ide SAYA. Please don't be a PLAGIATOR!
::::::::::::::: *Helloannyeongg present* :::::::::::::::
Luhan seorang yeoja imut yang bisa terbilang populer disekolahnya. Ia biasa disebut sebagai 'Cool Princess' karena sifatnya yang terlalu cuek dan sensitif. Jika ia mendengar atau melihat hal-hal yang tidak disukainya tentang orang lain, ia pasti akan membenci orang itu, seperti yang dialami seorang murid baru sekaligus hoobae nya di sekolah Oh Sehun. Lalu apa yang membuat Luhan membenci hoobae nya itu?
*Helloannyeongg*
Pagi ini Sehun sangat terlihat bersemangat. Ia sudah bersiap-siap menuju ke sekolahnya. Hari ini ia bertemu lagi dengan yeoja yang diam-diam sangat menarik perhatiannya, Luhan. Dengan santainya ia keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk segera berangkat ke sekolah.
"Ya Sehun!" Panggil seseorang membuat Sehun memutar kepalanya.
"Appa? Eomma? Kalian sudah pulang? Bukankah besok lusa kalian baru pulang?"
"Kami segera pulang karena ulahmu! Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Kyuhyun, appanya.
"Yang aku lakukan? Maksud appa?" Sehun benar-benar tidak mengerti dengan yang diucapkan appanya.
"Ini! Coba kau lihat dan baca! Apa maksud dari ini semua?" Teriak Kyuhyun penuh amarah. Sehun mengambil sebuah majalah yang diberikan oleh appanya. Sehun membaca cover majalah itu dan terkejut dengan apa yang dibacanya.
# Anak seorang pengusaha hotel terkaya di Seoul, Oh Sehun terlihat sedang bersama seorang wanita dan membawanya ke rumahnya#
Begitulah yang tertulis di cover majalah itu dan memperlihatkan sebuah foto Sehun sedang menggendong seorang wanita pada malam hari dan foto selanjutnya Sehun yang mengantar seorang wanita di pagi harinya. Dan di dalam foto itu terlihat dengan jelas wajah mereka yang sama-sama tersenyum saat berjalan menuju ke garasi rumah Sehun.
'Sabtu(22/09) malam, Oh Sehun yang merupakan anak dari seorang pengusaha hotel terkaya di Seoul terlihat sedang bersama seorang wanita yang diketahui merupakan teman sekolahnya dari seragam yang dikenakannya di dalam sebuah gang sempit di salah satu sudut kota Seoul. Di foto tersebut Sehun terlihat sedang memeluk wanita itu. Setelahnya Sehun mencoba membawa wanita itu pergi dengan mobil miliknya. Saat diikuti mobil Sehun memasuki sebuah gedung apartemen namun beberapa menit kemudian mobil miliknya pergi lagi menuju ke rumahnya. Esok paginya mereka sepertinya Sehun mengantarkan wanita itu kembali ke rumahnya. Dan inilah bukti foto-foto mereka. Lalu apakah wanita di dalam foto ini merupakan kekasih dari Oh Sehun melihat dari bagaimana perlakuannya kepada wanita ini? Dan apakah Oh Kyuhyun dan Oh Sungmin selaku orangtua dari Oh Sehun mengetahui hubungan mereka? Sekarang ini wanita yang berhasil difoto itu sedang banyak dicari oleh para wartawan...' Begitulah sedikit kutipan dari artikel sebuah majalah. Dibawahnya juga disertakan berbagai macam foto Sehun bersama Luhan.
"Lalu apa berita ini benar?" Tanya Kyuhyun.
"Ya itu benar, tapi..." Jawab Sehun jujur.
Plakk
"Pabbo! Kau ini benar-benar pabbo! Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan? Kau mencoreng nama baik keluarga kita! Membawa pulang seorang wanita ke rumah! Harusnya kau berpikir dulu sebelum bertindak!" Ucap Kyuhyun penuh emosi.
"Yeobo sabarlah... Mungkin Sehun memiliki alasan tersendiri..." Sungmin berusaha menengahi.
"Appa aku hanya berusaha menolongnya saja saat itu. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan semua yang diberitakan itu tidaklah benar." Sehun mencoba membela diri.
"Lalu siapa wanita itu? Siapa? Dia yang berusaha menggodamu, hah?" Bentak Kyuhyun.
"Aniya... Dia tidak berusaha menggodaku. Malah aku yang menyukainya." Sehun berusaha jujur.
"Apa? Lebih baik kau jauhi gadis itu! Appa kan sudah bilang berapa kali padamu jika kau sudah appa jodohkan! Apa kau tidak ingat?"
"Dan aku sudah berapa kali menolaknya, appa. Aku tidak mau dijodohkan! Aku menyukainya." Amarah Sehun mulai tumbuh. Ia sangat tidak suka jika appanya berusaha ikut campur mengenai masalah pribadinya.
"Apa katamu? Kau mau melawan appamu ini, eoh?"
"Maaf appa... Kali ini aku tidak bisa mengikuti keinginan appa." Sehun segera pergi dari rumah itu meninggalkan Kyuhyun yang sangat marah.
"Yeobo... Tenanglah... Aku rasa mungkin akan lebih baik kita turuti keinginannya."
"Ya tidak bisa seperti itu! Apa kau tidak ingat kita sudah berjanji dengan sahabatku itu!"
"Tapi bukankah anak mereka menolak perjodohan itu juga? Sudahlah... Akan lebih baik kita batalkan saja."
"Tidak! Aku tidak akan membatalkan perjodohan itu! Tidak akan!" Ucap Kyuhyun tegas membuat Sungmin diam seribu bahasa.
SKIP
Sehun sudah tiba di sekolahnya. Tidak seperti hari biasanya, hari ini sekolah itu nampak lebih ramai. Tiba-tiba ada beberapa wartawan yang menghampiri dirinya membuat Sehun segera masuk kembali ke dalam mobilnya dan berusaha kabur. Para wartawan itu tampak sedikit kecewa melihat 'mangsa berita' mereka telah melarikan diri.
"Cih apa-apaan mereka! Menyebalkan! Ohh aku baru ingat. Bagaimana keadaan Luhan noona sekarang? Apakah noona baik-baik saja? Wartawan-wartawan itu tidak mengejar-ngejar noona kan?" Sehun berkata pada dirinya sendiri. Ia segera memutar setir mobilnya untuk menuju ke apartemen Luhan.
Ting Tong Ting Tong Luhan terlihat buru-buru. Sepertinya ia akan terlambat ke sekolah. Namun saat ia sudah bersiap ke sekolah, ada seseorang yang mengunjungi apartemennya.
Pipp "Ya siapa?" Tanya Luhan dari interkom.
"Ini aku, noona." Jawab Sehun. Luhan sedikit menaikkan alisnya.
Cklek "Ya Sehunna ada apa?" Tanya Luhan penasaran sekaligus bingung melihat Sehun berada di apartemennya pagi itu.
"Noona kajja kita pergi sekarang!" Tanpa babibu lagi Sehun segera menarik tangan Luhan untuk segera pergi dari apartemen itu.
"Ya Sehunna! Sehunna! Ada apa?" Luhan mencoba memberontak. Namun karena cengkraman tangan Sehun begitu kuat, ia jadi tidak bisa melepasnya.
"Mianhae noona. Tapi kita harus pergi sekarang..." Sehun akhirnya melepaskan tangan Luhan saat mereka berdua masuk ke dalam lift.
"Ya! Sebenarnya ada apa ini? Kau harus menjelaskannya sekarang!" Paksa Luhan.
"Nanti aku akan jelaskan. Sekarang kita harus pergi dulu."
Tringg Akhirnya mereka pun sampai di basement. Sehun kembali menggenggam tangan Luhan dan membawanya ke mobilnya. Luhan yang tidak mengerti apa-apa pun hanya menurut saja.
Brummm Sehun segera menjalankan mobilnya. Luhan masih bingung dengan sikap Sehun pagi ini terlebih saat mobilnya melaju ke arah lain bukan ke arah sekolah mereka.
"Ya kenapa kita lewat sini? Harusnya kita kan sekolah! Ya! Kau ingin membawaku kemana, Sehunna!" Teriak Luhan.
"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang noona tenanglah dulu. Kita harus menjauhi Seoul sementara."
"Mwo? Memangnya kenapa? Cepat turunkan aku! Aku ingin ke sekolah!" Luhan meminta agar diturunkan di tepi jalan oleh Sehun.
"Mianhae noona aku tidak bisa melakukannya."
"Memangnya kenapa?"
"Aku akan menjelaskannya nanti. Aku mohon noona mau mengerti..." mohon Sehun. Akhirnya Luhan pun sudah lebih tenang walau dalam hatinya ia masih bingung.
Ckittt Sehun mengerem mobilnya. Ia memberhentikan mobilnya di sisi jalan yang sepi. Dikanan maupun kirinya hanya terdapat hutan oak yang daun-daunnya sudah berguguran. Sehun mengajak Luhan untuk turun dari mobilnya.
"Kita mau kemana?" Tanya Luhan sambil membenarkan letak syalnya. Sehun sudah mendudukan dirinya disebuah bangku kayu yang entah bagaimana caranya bisa berada disana.
"Duduklah disini noona." Sehun menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya.
"Noona pasti penasaran kenapa aku mengajak noona kesini." Tebak Sehun.
"Ne. Lalu apa kau mau memberitahukan alasannya?"
"Hmm mianhae noona..."
"Hmm? Kenapa kau meminta maaf? Memangnya kau salah apa padaku?"
"Karena aku, noona jadi ikut terlibat. Mereka pasti akan mengejar-ngejar noona."
"Mereka? Siapa maksudmu?"
"Wartawan itu. Mereka pasti berusaha mencaritahu tentangmu."
"Untuk apa mereka mencaritahu tentangku?"
"Ini semua karena salahku... Gara-gara aku me-"
Drrrttt Drrrttt Drrtttt Ponsel Luhan bergetar sepertinya ia mendapat sebuah pesan singkat.
From : Baek Lu kau dimana? Aku ada diapartemenmu. Keadaan sekolah sangat kacau. Banyak wartawan yang datang dan berusaha mencaritahu tentang dirimu Lu. Kau tahu ini semua karena berita itu. Berita antara kau dan Sehun.
Luhan mengernyitkan dahinya membaca pesan dari Baekhyun. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan olehnya.
To : Baek Aku sedang bersama Sehun sekarang. Kami sepertinya akan membolos hari ini. Baek ada masalah apa sih? Lalu apa hubungannya dengan wartawan? Aku sungguh tidak mengerti.
SEND
Sesekali Sehun melirik Luhan yang sedang sibuk dengan ponselnya itu. Wajah Luhan tampak sangat bingung. Sehun tahu apa yang membuatnya menjadi seperti itu.
Drrrttt Drrrttt Drrtttt From : Baek Kau sedang bersamanya? Apa dia tidak menceritakan apa-apa padamu? Lu ini semua tentang dirimu dan Sehun! Kau tanyakan padanya. Aku bingung menjelaskannya.
"Sehunna. Sebenarnya ada apa? Kenapa lau dan Baek selalu membicarakan tentang wartawan dan berita. Ada yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Luhan akhirnya.
"Mianhae noona. Ini semua salahku. Mungkin jika aku tidak berbuat seenaknya, mungkin berita itu tidak akan tersebar."
"Sudah cukup! Sekarang cepat kau bicarakan inti dari ini semua! Katakan dengan jujur! Sebenarnya ada apa?" Ucap Luhan yang sudah tidak sabaran.
"Noona bacalah..." Sehun memberikan sebuah majalah kepada Luhan untuk dibaca. Luhan menerima majalah itu dan membelalakkan matanya tidak percaya dengan tulisan dan foto yang menghiasi cover majalah itu. Luhan lebih terkejut lagi saat membaca artikel di majalah itu.
"Sehunna jadi karena ini kau mengajakku kesini?"
"Ne. Mianhae noona. Aku tidak tahu kalau bisa sampai seperti ini. Mianhae..." Sehun menundukkan wajahnya. Ia merasa sangat menyesal.
"Haaa ini bukan salahmu. Jika kau tidak menolongku malam itu pun entah apa yang akan terjadi padaku. Gomawo." Ucap Luhan sambil memandang ke depan ke sebuah pohon oak yang sangat besar.
"Noona... Apa noona tidak marah padaku? Apa noona tidak hmm tambah membenciku?" Tanya Sehun ragu.
"Aniya. Aku tidak marah padamu. Memang aku sadar aku juga merasa kesal dengan semua pemberitaan yang tidak benar itu tapi aku tidak membencimu. Maaf jika selama ini aku bersikap kurang baik padamu dan selalu salah paham dengan sikap baikmu." Luhan tersenyum sambil menatap Sehun yang menatapnya.
"Gwenchana. Aku mengerti kok noona. Gomawo noona tidak marah padaku. Aku sempat takut jika noona benar-benar marsh dan semakin memben- Hatchii" perkataannya terpotong karena bersin. Ya udara pagi ini memang cukup dingin apalagi sekarang sedang musim gugur.
"Kenapa kau tidak memakai syal, Sehunna?" Tanya Luhan sedikit khawatir melihat Sehun yang hidungnya sudah memerah.
"Hatchi tadi aku lupa mengenakan syalku. Aku terburu-buru pergi saat aku memikirkan noona." Jelas Sehun. Hidungnya sudah benar-benar memerah sepertinya ia akan terkena flu.
"Ini pakailah. Kau sedang membutuhkannya dan oh ini juga, minumlah..." Luhan melepas syal yang dikenakannya dan memberikannya kepada Sehun. Tak lupa ia juga memberikan sebutir obat pencegah fly untuk Sehun minum.
"Tidak usah noona. Aku baik-baik saja kok hatchii"
"Ya apanya yang baik-baik saja! Sudah pakai ini!" Paksa Luhan.
"Tidak usah noona..."
GREP Tanpa mau banyak berdebat lagi, Luhan segera melingkarkan syal miliknya di leher Sehun. Sehun sedikit tertegun dengan sikap Luhan ini. Sehun tidak pernah menyangka jika Luhan bisa seperhatian ini terhadap dirinya.
"Nah jika seperti ini kan kau akan lebih baik dan ini minum obat ini." Luhan memberikan sebutir pil obat dan sebotol air minum kepada Sehun.
"Gomawo noona..." ucap Sehun akhirnya sambil menerima pil dan air minum pemberian Luhan.
"Ne, cheonma. Kau juga sudah banyak membantuku. Ini tidaklah sebanding dengan bantuan yang kau berikan padaku."
"Noona jangan memikirkannya. Aku tulus membantu noona." Sehun menggenggam sebelah tangan Luhan dan bebas, menatap mata Luhan dengan dalam.
Deg Luhan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya terasa hangat saat Sehun menggenggam tangannya. Mata Sehun yang lembut menatap matanya seolah memberikan ketenangan kedalam pikirannya. Waktu terasa berhenti seketika membuat Luhan menarik sudut bibirnya hingga terbentuk sebuah senyum yang tidak pernah disadarinya.
Drrrttt Drrrttt Drrrttt -Machi amugeotdo moreuneun airo geureoke dasi taeeonan sungan gachi. Jamsi kkumilkkabwa han beon deo nun gamatda tteo boni yeoksi neomu ganjeolhaetdeon ne ape gidohadeut seo isseo-
Lagi-lagi ponsel Luhan bergetar dan berdering menyadarkan Sehun dan Luhan dari pikiran mereka masing-masing. Sehun yang terkejut juga segera menarik tangannya. Ia jadi salah tingkah dan serba salah, begitu pula dengan Luhan.
Eomma is calling~
"Mianhae Sehunna..." Luhan meminta ijin mengangkat teleponnya yang dibalas sebuah anggukan oleh Sehun.
"Yeobsaeyo? Eomma?"
-Lu besok eomma dan appa akan ke Korea. Ada yang ingin kami bicarakan padamu. Lu kau jangan menghindar lagi ya. Jangan membuat kami khawatir lagi.-
"Ne, eomma. Lulu akan menunggu kalian. Mianhae..."
-Baiklah... Jaga dirimu baik-baik chagi. Eomma sangat merindukanmu.-
"Nado bogoshipoyo~ Bye eomma..." Luhan memutuskan sambungannya. Perasaannya sedang tidak enak saat ini.
"Noona? Sudah selesai? Hmm kajja kita pergi dari sini!" Ajak Sehun.
"Apa kita akan kembali ke Seoul?"
"Tidak untuk sekarang. Aku akan mengajak noona ke suatu tempat dulu." Ucap Sehun membuat Luhan penasaran.
Sehun dan Luhan sudah masuk kembali ke dalam mobil. Sehun segera melajukan mobilnya ke tempat yang ingin ia tunjukkan kepada Luhan. Tidak berapa lama, mereka akhirnya sampai ke tempat yang dimaksud oleh Sehun.
"Sehunna kita sedang ada dimana?" Tanya Luhan yang bingung karena Sehun membawanya kesebuah rumah tua yang cukup besar.
"Kajja kita masuk noona!" Sehun mengajak Luhan masuk ke dalam rumah itu.
"Sehun? Tumben kau datang dan..." ucap seorang yeoja yang usianya sekitar 20 tahunan.
"Lay jie apa kabar? Oh iya perkenalkan ini temanku. Lu noona kenalkan ini Lay noona anak pemilik tempat ini."
"Da jia hao wo shi Lay..."
"Da jia hao wo shi Luhan... Ni hao?"
"Wo hao, xie-xie ni..."
"Ahh aku mengerti. Kalian berdua memang orang China ya hahaha..."
"Sehunna tumben kau kemari..."
"Aku hanya sedang ingin jalan-jalan saja kok. Sekalian mampir kesini kan aku sudah lama tidak main ke sini."
"Lalu apa kalian tidak sekolah? Kalian membolos ya? Dan ohh aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian. Aku sudah tahu berita itu. Dan apa berita itu benar jika kalian..."
"Kami hanya berteman kok jie... Yang diberitakan itu tidak semuanya benar." Elak Sehun.
"Ne, jie-jie tahu kok. Ayo masuk jie-jie hampir lupa mempersilakan kalian masuk. Udara diluar sedang sangat dingin."
"Ne, xie-xie jie..." Sehun dan Luhan pun masuk ke dalam rumah itu.
"Mama! Mama!" Seorang anak perempuan sedang berlari memanggil Lay.
"Ada apa sayang?" Tanya Lay kepada anak perempuan itu.
"Kelis ge jahat cama Tao. Boneka panda Tao diambil hiks hueeee..."
"Kris? Benarkah yang diucapkan Tao?" Tanya Lay kepada bocah laki-laki bernama Kris.
"Tidak! Kris hanya ingin main sama Tao! Tapi Tao selalu main dengan boneka ini." Jawab Kris tidak terima jika disalahkan.
"Ya sudah. Tao, Kris jangan berantem ya... Kalian mainlah bersama-sama." Ucap Lay kepada kedua bocah itu.
"Iya..." jawab mereka bersamaan. Kris dan Tao pun akhirnya berbaikan dan kembali bermain bersama.
"Jie sudah lama sekali aku tidak melihat mereka. Mereka sudah besar sekarang."
"Kau yang tidak pernah ke sini lagi hahaha..."
"Lalu jie apa mereka anak-anakmu?" Tanya Luhan.
"Tentu saja bukan. Mereka adalah anak-anak yang dititipkan dipanti asuhan ini. Dan ohh ya kemarin kami mendapat seorang bayi baru. Apa kalian mau lihat?"
"Tentu saja!" Ucap Luhan dan Sehun bersemangat.
"Nah ia sedang tidur. Kalian berbicaralah pelan-pelan ya... Jangan sampai membuatnya terbangun."
"Ne... Dia lucu sekali. Siapa namanya jie?"
"Jie-jie belum memberikan nama untuknya. Tapi jie-jie menemukan kalung ini." Lay menunjukkan sebuah kalung perak dengan liontin bertuliskan Jino.
"Kalau begitu berikan dia nama Jino saja. Nama yang cocok untuk bayi mungil seperti dia..." saran Luhan.
"Ya aku juga berencana seperti itu."
"Hikss hikss hueee..." tiba-tiba terdengar sebuah suara seseorang yang menangis.
"Ya Tuhan Xiumin? Ada apa?" Lay segera berlari ke arah sumber tangisan. Luhan dan Sehun juga segera mengikutinya.
"Cupcupcup... Xiumin kenapa?" Lay berusaha menenangkan Xiumin yang menangis.
"Taemin memakan semua cokelatku..." tangis Xiumin di dalam gendongan Lay.
"Ya ampun... Nanti mama akan belikan cokelat untukmu yang banyak." Ucap Lay sambil mencubit pipi chubby Xiumin.
"Yang benar mama?"
"Tentu saja. Sekarang jangan menangis lagi ya... Nanti Umin jadi tidak cantik lagi..."
"Xie-xie mama..." Xiumin bocah perempuan yang berusia sekitar 6 tahun itu mencium pipi kiri Lay.
"Nah jika seperti ini kau kan jadi terlihat lebih cantik..." puji Lay membuat Xiumin bertambah senang.
"Annyeong Xiumin... Masih ingat denganku?" Sapa Sehun. Xiumin terlihat bingung.
"Apa kau tidak ingat aku? Baiklah tidak apa..." Sehun memasang wajah memelas. Xiumin nampak tidak terlalu perduli. Kini pandangannya beralih ke Luhan.
"Annyeong..." sapa Luhan. Xiumin tersenyum manis ke arah Luhan. Nampaknya Xiumin menyukai Luhan.
SKIP
Hari sudah semakin sore. Luhan dan Sehun akhirnya pamit untuk pulang. Mereka sangat gembira karena bisa menghabiskan waktu di panti itu dan banyak bertemu dengan anak-anak yang manis. Luhan sangat menyukai anak-anak makanya ia sangat terlihat antusias ketika mengajak anak-anak itu bermain. Semua beban pikiran yang mengganjalnya seketika menghilang saat bermain dan bersenang-senang dengan anak-anak disana. 1 kenangan yang akan Luhan kenang. Berkat Sehun hari ini ia dapat menenangkan dirinya dari segala masalah yang membuatnya sakit kepala.
"Noona kita sudah sampai. Maaf ya aku sudah mengajak noona pergi hingga malam begini."
"Tidak apa kok. Terima kasih ya Sehunna. Berkat kau aku jadi merasa lebih baik sekarang." Luhan dan Sehun segera keluar dari mobil.
"Noona... Hmm sebenarnya ada yang ingin aku katakan." Sehun terlihat ragu-ragu. Ia menghampiri Luhan di sisi mobil lainnya.
"Apa? Katakan saja."
"Noona... Bisakah noona melihatku sebagai seorang pria dan bukan sebagai hoobaemu?" Ucap Sehun dengan wajah serius dan menatap mata Luhan dalam.
"Maksudmu?" Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya tidak mengerti dengan yang diucapkan oleh Sehun.
"Aku menyukaimu, noona." Ucap Sehun langsung membuat Luhan diam seribu bahasa. Kepalanya masih mencerna kata-kata yang ia dengar dari Sehun.
"K-kau?"
"Ne. Aku menyukaimu noona. Sejak aku pertama kali melihatmu."
"T-tapi..."
"Aku tahu. Noona tidak usah menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu dan siap menerima semua jawaban dari noona. Aku hanya berusaha jujur akan perasaanku ini. Maaf jika kata-kataku tadi malah semakin membuat noona hmm membenciku." Sehun tersenyum miris. Ia merasa bodoh karena tidak bisa memilih waktu yanh lebih tepat. Tapi ia juga tidak bisa menipu perasaannya sendiri.
"Baiklah aku permisi dulu. Sekali lagi aku minta maaf. Hmm anggap saja aku tidak mengucapkannya tadi. Bye..." Sehun mencoba masuk ke dalam mobilnya kembali.
"Tunggu..." Luhan mencoba menahan Sehun.
"Ne?"
"Selamat malam... Dan terima kasih untuk hari ini." Luhan mengecup pipi kanan Sehun dan setelahnya ia berlari masuk ke dalam gedung apartemen meninggalkan Sehun yang merasa bingung.
-Pabbo! Lu kau pabbo! Apa yang kau lakukan tadi? Pabbo! Pabbo!- Luhan mengumpat dirinya sendiri. Merasa bodoh akan tindakannya barusan.
"Lu!"
"Baek? Kau disini?" Tanya Luhan saat mendapati Baekhyun yang berdiri di depan pintu apartemen miliknya.
"Ne. Lu berita itu Lu!" Ucap Baekhyun panik.
"Ada apa? Ayo kita bicarakan didalam!" Luhan membuka pintu apartemennya dan mempersilakan Baekhyun untuk masuk.
"Lu mereka sudah mengetahui identitasmu, Lu!" Ucap Baekhyun membuat Luhan mematung.
"Ka-kau serius? Ba-bagaimana mereka bi-" Baekhyun memberikan sebuah potongan artikel dari internet.
"Baek apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika mereka mengetahui dimana aku tinggal? Aku yakin aku tidak bisa kemana-mana besok."
"Lu kau tenanglah. Lu kau bisa menginap di rumahku. Aku sudah meminta ijin kepada appa dan eommaku dan mereka mengijinkan kok kau tinggal dirumahku. Untuk sementata waktu saja sampai berita ini selesai." Usul Baekhyun.
"Kau serius Baek?"
"Ne, aku serius. Kajja sebelum para wartawan memenuhi gedung apartemen ini!"
"Baiklah... Gomawo Baek dan maaf sudah merepotkanmu."
"Inilah gunanya sahabat. Aku tidak merasa direpotkan kok. Kajja aku bantu kau menyiapkan barang-barangmu."
30 menit kemudian, Luhan dan Baekhyun sudah membawa sebuah koper besar milik Luhan. Mereka segera pergi meninggalkan apartemen milik Luhan dan menuju ke basement tempat Baekhyun memarkirkan mobilnya.
"Kau sudah siap?" Luhan pun mengangguk.
Brumm Baekhyun segera menjalankan mobil pink nya. Ada perasaan was-was dihati keduanya takut-takut jika ada wartawan yang tidak sengaja mengikuti mereka. Baekhyun mempercepat mobilnya. Ia ingin segera sampai di rumahnya.
"Lu untunglah tidak ada yang mengikuti kita." Kini Baekhyun sudah memperlambat laju mobilnya. Perasaanya lebih tenang karena tak seorangpun yang terlihat mengikuti mereka.
"Aku juga merasa lega. Gomawo Baek... Kau jadi ikut terlibat seperti ini karena masalah aku."
"Jangan berbicara seperti itu, Lu. Nah akhirnya kita sampai di rumahku." Kini mobil pink Baekhyun sudah masuk ke dalam sebuah rumah besar dengan halaman yang cukup luas.
Ckittt "Nah kajja kita turun!" Baekhyun dan Luhan pun turun dari mobil pink itu. Luhan segera mengeluarkan koper miliknya dari bagasi mobil Baekhyun.
"Baek aku jadi merasa tidak enak dengan eomma dan appamu."
"Jangan berbicara seperti itu. Kajja jangan sungkan seperti ini, Lu..." Baekhyun segera mengajak Luhan masuk ke dalam rumahnya.
"Eomma appa... Aku pulang..." ucap Baekhyun saat memasuki rumahnya.
"Anak eomma sudah pulang? Bagaimana? Dimana temanmu itu?"
"Lu kemarilah!" Baekhyun memanggil Luhan yang masih berdiri di depan pintu, merasa sungkan.
"Ishh ayo..." karena tidak sabar, Baekhyun menarik tangan Luhan untuk memperkenalkan Luhan kepada eommanya.
Memang sejak bersahabat dengan Baekhyun, Luhan tidak pernah mengenal secara langsung eomma sahabatnya itu. Karena setiap Luhan diajak oleh Baekhyun kerumahnya, ia tidak pernah melihat appa dan eomma sahabatnya itu. Yang Luhan tahu, kedua orangtua sahabatnya selalu sibuk bekerja dan menggembangkan bisnis mereka setiap harinya.
"Annyeong ahjumma... Aku Luhan." Luhan membungkukkan dirinya.
"Annyeong Luhan. Aku Byun Kibum, eomma Baekhyun. Tapi kau bisa memanggilku Byun ahjumma."
"Ne, ahjumma. Terima kasih banyak karena ahjumma mengijinkanku untuk menginap disini. Dan maaf jika malah merepotkan ahjumma dan keluarga."
"Tidak apa. Ahjumma tidak merasa direpotkan kok. Baek bawalah Luhan ke kamarmu. Sepertinya ia sudah lelah." Ucap Kibum kepada anaknya, Baekhyun.
"Ne eomma... Kajja Lu!" Baekhyun membantu dan mengajak Luhan ke kamarnya yang berada di lantai kedua.
"Taraaa selamat datang diistana Baekhyun..." Baekhyun mempersilakan Luhan masuk ke dalam kamar tidurnya.
Kamar tidur Baekhyun memang sangat luas dan bernuansa pink. Ya Baekhyun penyuka warna pink dan di tengah-tengah kamar itu juga terdapat sebuaj tempat tidur berukuran king size berbentuk buaj kesukaan Baekhyun, strawberry.
"Baek sepertinya semua ini memang ulahmu ya. Dasar penyuka pink! Hahaha..." canda Luhan.
"Biar saja yang penting aku merasa sangat nyaman disini! Lu letakkan kopermu disitu saja." Baekhyun menunjuk sudut kamarnya untuk meletakkan koper milik Luhan.
"Ne..." Luhan segera meletakkan koper miliknya di sudut ruangan yanh dimaksud oleh Baekhyun.
"Haaa baru kali ini ya kau menginap dirumahku." Ucap Baekhyun sambil merebahkan dirinya di tempat tidurnya.
"Ne... Dan aku sangat merasa tidak enak."
"Jangan begitu Lu..."
Drrrttt Drrrtttt Drrttt
Ponsel Baekhyun bergetar. Dengan segera Baekhyun mengambil ponsel miliknya dan melihat siapa yang menghubunginya. Seketika Baekhyun terlihat gembira saat membaca sebuah pesan singkat dari seseorang. Luhan yang melihat Baekhyun seperti itu merasa bingung.
"Baek? Kau sepertinya terlihat senang sekali."
"Hah? A-apa? Aku? Tidak! Biasa saja kok..." elak Baekhyun.
"Apa itu dari Chanyeol?" Tebak Luhan dan seketika membuat Baekhyun salah tingkah.
"Ahh hmm da-darimana kau tahu?" Baekhyun menutup wajahnya yang sudah memerah dengan kedua tangannya.
"Aku hanya mencoba menebaknya saja kok." Jawab Luhan.
"Lu... Hmm sebenarnya aku hmm aku dan Chanyeol hmm sudah berpacaran." Jujur Baekhyun.
"Baguslah jika seperti itu. Lalu sejak kapan kalian berpacarannya?"
"Hmm beberapa hari yang lalu. Belum lama kok." Jawab Baekhyun malu-malu.
"Chukkae Baek... Aku doakan semoga kalian langgeng ya..."
"Ya Lu! Aku kan jadi malu... Hmm lalu bagaimana kau dengan Sehun?" Tanya Baekhyun membuat wajah Luhan jadi memerah. Ia jadi memikirkan ucapan Sehun tadi saat mengantarnya.
"Hmm biasa-biasa saja kok."
"Yang benar?"
"I-iya..."
"Kau tidak berusaha menyembunyikan sesuatu dariku lagi kan?" Perkataan Baekhyun itu membuat Luhan jadi terdiam.
"Hmm sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan..."
"Ya bicarakan saja..."
"Tadi saat pulang, Sehun..." Luhan menjelaskan semuanya kepada Baekhyun. Wajah Baekhyun terlihat berseri-seri mendengarkan cerita dari Luhan.
"Lu jadi Sehun bilang begitu? Tidak aku sangka akan secepat ini. Ckckck"
"Maksudmu, Baek?"
"Aku sudah lama tahu jika Sehun itu menyukaimu. Tapi kau malah membencinya. Saat pertama kali ia pindah kan kalian tidak sengaja bertabrakkan dan membuat buku-bukumu jadi jatuh berantakan. Dan ia juga yang membantumu mengambilnya. Saat matanya melihat matamu, aku bisa merasakan jika ia menyukaimu. Sejak kejadian itu aku tidak sengaja melihatnya yang terus mencuri-curi pandang kepadamu dimanapun kamu berada, Lu." Jelas Baekhyun.
"Loh bukankah kau menyukainya, Baek?" Luhan merasa heran dengan sahabatnya ini.
"Aniya... Aku hanya berusaha membuat dirimu melihatnya saja. Aku benar-benar tidak tertarik padanya kok. Sungguh! Lalu jawaban apa yang akan kau berikan padanya, Lu?"
"Molla. Aku tidak tahu. Aku bingung..."
"Bingung kenapa?"
"Aku masih tidak mengerti dengan perasaanku sendiri."
"Jika kau merasa nyaman bersamanya, itu tandanya kau sudah membuka hati untuknya. Lu, Sehun orangnya baik kok."
"Tapi Baek..."
"Begini saja. Kau ikuti saja kata hatimu itu Lu dan coba pikirkan." Usul Baekhyun. Luhan pun tampak berpikir dan menganggukan kepalanya.
"Yasudah. Kajja kita bersih-bersih. Sudah malam dan aku sudah mengantuk hoammm" Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah merem melek.
"Ne..."
*Helloannyeongg*
Matahari sudah menampakkan sinarnya lagi. Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya saat sinar matahari mulai memaksa masuk ke matanya. Baekhyun masih tertidur lelap disamping Luhan. Luhan segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 15 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah tampak lebih segar. Ia segera mengambil ponselnya dan mencoba mengutak-atiknya. Ia iseng membuka internet dan betapa terkejutnya ia saat mendapati artikel terbaru tentang dirinya dan Sehun dimana di dalam artikel itu dimuat sebuah foto baru Luhan yang mencium pipi Sehun. Luhan menghujani dirinya dengan kata-kata bodoh.
"Engg Lu?" Baekhyun baru saja bangun dari tidurnya.
"A-ahh ne... Se-selamat pagi Baek..." ucap Luhan mencoba bersikap seperti biasa.
"Ada apa Lu?"
"Wae? Apa maksudmu?"
"Apa ada kabar terbaru tentang masalahmu?"
"Hmm itu.. i-itu..."
Drrttt Drrttt Ddrrrtt Ponsel Baekhyun bergetar. Dengan segera Baekhyun mengambil ponselnya dan dibacalah sebuah pesan yang dikirimkan oleh seseorang.
"Lu? I-ini?" Baekhyun menunjukkan sebuah foto yang sama yang dilihat Luhan tadi.
"Hikss Baek aku bodoh! Bodoh! Lulu pabbo! Hikss apa yang harus aku lakukan?" Luhan terisak. Ia merutuki kebodohannya itu.
Drrttt Drrtttt Ddrrttt
Kini ponsel Luhan yang bergetar. Luhan melihat ada sebuah pesan yang ditinggalkan untuknya. Dengan segera ia membaca pesan itu. Baekhyun tidak ingin mengganggu maka ia segera pergi ke kamar mandinya sekalian membersihkan diri.
From : Eomma Lu hari ini jam 10 eomma dan appa akan landing. Dan jam 12 nanti kita akan bertemu di restoran biasa. Kau harus datang ya... Appa dan eomma akan membicarakan sesuatu padamu.
Luhan tersenyum miris melihat sebuah pesan singkat yang dikirim oleh eommanya. Ia sudah menebak apa yang akan dibicarakan oleh appa dan eomma nya nanti. Pasti masalah yang ia lakukan beberapa hari ini. Dan ia berani menjamin jika ia pasti akan dipaksa appa dan eommanya untuk kembali ke China.
"Lu? Waeyo? Kau tampak gelisah." Tanya Baekhyun saat keluar dari kamar mandi.
"Ne. Eomma dan appaku mengajak aku untuk ketemuan nanti jam 12 siang. Baek apa yang harus aku lakukan? Appa pasti akan memaksaku kembali ke China."
"Lu aku yakin appa dan eommamu pasti akan mengerti jika kau menjelaskan semuanya. Aku percaya. Sekarang tenangkan dirimu dulu."
"Aku tidak bisa tenang, Baek."
"Aku mengerti. Kajja kita siap-siap!" Ajak Baekhyun.
"Kita akan kemana?"
"Jalan-jalan! Kajja!"
"Mwo?"
"Anggap saja ini sebagai refreshing... Aku ijin sekolah hari ini hehehe..."
"Jinjja?"
"Yap. Aku kan ingin menemani sahabatku ini... Kajja kita siap-siap..."
"Gomawo Baek..."
"Ne, cheonma..."
SKIP Luhan dan Baekhyun sudah siap untuk pergi. Baekhyun berencana mengajak Luhan untuk jogging bersama ya walau ia tahu suhu udara pagi ini cukup dingin seperti hari-hari sebelumnya. Namun Luhan tidak menolak ajakan Baekhyun. Kini mereka sudah mengenakan jaket yang cukup tebal serta syal untuk menghalau rasa dingin yang menyerang tubuh mereka nantinya. Baekhyun dan Luhan sudah turun ke lantai bawah untuk berpamitan dengan kedua orangtua Baekhyun.
"Eomma... Appa... Selamat pagi..." Baekhyun memberikan salam kepads eomma dan appanya yang terlihat sedang ingin sarapan di ruang makan.
"Selamat pagi Byun ahjumma, Byun ahjushi..." sapa Luhan juga.
"Selamat pagi... Kalian mau kemana? Sini ikut saralan dulu." Ajak Kibum.
"Ayo Lu kita sarapan dulu!" Baekhyun mengajak Luhan untuk sarapan bersama kedua orangtuanya.
"Jadi ini temanmu yang bernama Luhan itu, ya Baek?" Tanya Siwon appa Baekhyun.
"Ne, appa... Dia Lulu sahabatku."
"Annyeonghasaeyo ahjushi..."
"Hmm annyeong..."
"Nah ini sarapan kalian..." Kibun memberikan 2 piring roti dengan selai cokelat kepada Baekhyun dan Luhan.
"Kamsahamnida ahjumma..." balas Luhan.
Luhan dan Baekhyun menikmati sarapan mereka sambil bersenda gurau bersama. Luhan berpikir jika appa Baekhyun adalah orang yang kaku namun ternyata ia salah. Siwon adalah orang yang sangat humoris dan penuh dengan senyuman. Setelah selesai sarapan, Baekhyun dan Luhan segera pergi untuk jogging bersama di sekitar kompleks perumahan Baekhyun.
"Ahhh aku lelah... Kita istirahat dulu ya..." Baekhyun terlihat lelah setelah 30 menit lamanya mereka berjogging di sekitar kompleks perumahan Baekhyun yang besar.
"Udara pagi ini cukup dingin ya Baek..."
"Ne... Ahh tunggu disini ya Lu! Aku ingin membeli itu!" Baekhyun menunjuk ke arah sebuah kedai kopi di ujung jalan.
"Ne..." Baekhyun pun segers berlari menuju ke kedai itu meninggalkan Luhan yang duduk di sebuah bangku taman.
"Haaa udara nya dingin sekali..." Luhan meniup-niup telapak tangannya yang terasa dingin sambil mengeratkan syal yang dipakainya.
"Luhan noona?" Ucap seorang namja yang tidak asing bagi Luhan.
"Sehunna? Sedang apa kau disini?" Tanya Luhan kepada Sehun.
"Justru aku yang ingin bertanya pada noona. Sedang apa noona disini?" Sehun balik bertanya.
"Hmm duduklah... Hanya jogging bersama Baekhyun. Lalu kau sendiri?
"Sedang jalan-jalan menjernihkan pikiranku. Lagipula rumahku kan juga di dekat sini. Lalu dimana Baekhyun noona? Kenapa noona sendirian disini?" Tanya Sehun sambil mendudukkan dirinya di samping Luhan.
-Benar juga ya... Sehun kan memang tinggal di daerah sini. Pabbo Luhan!- batin Luhan.
"Baek sedang membeli sesuatu di kedai itu..." Luhan menunjuk ke arah kedai tempat Baekhyun berada.
"Ohh... Udara pagi ini cukup dingin ya..." Sehun memasukkan tangannya di kantung jaket miliknya.
"Ne..." Luhan menggosok-gosokkan dan meniup-niup telapak tangannya.
"Noona apa jika seperti ini tetasa lebih baik?" Sehun menggenggam kedua tangan Luhan bermaksud menyalurkan rasa hangat dari tangannya.
"A-ahh hmm" Luhan menganggukan kepalanya. Ia memalingkan wajahnya yang sudah memerah entah karena merasa dingin atau malu. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat.
-Lu ada apa denganmu?- batin Luhan dalam hati.
Baekhyun baru saja selesai memesan minuman hangat untuknya dan Luhan. Saat ia berbalik, ia melihat Sehun dan Luhan yang tampak malu-malu. Dan tangan mereka sama-sama bertautan. Baekhyun tersenyum melihat pemandangan yang ia lihat. Baekhyun melangkahkan kakinya mendekati pasangan Luhan dan Sehun itu.
"Ehem" Sehun dan Luhan segera melepaskan tautan tangan mereka.
"B-Baek? K-kau lama sekali..." Luhan terlihat salah tingkah.
"Ini untukmu. Maaf Sehun aku hanya membeli 2 gelas karena aku tidak tahu ada kau." Baekhyun memberikan segelas cappucino hangat untuk Luhan.
"Ne, tidak apa noona. Dan aku juga sudah akan pulang kok. Bye-bye noona..." Sehun berpamitan dan segera meninggalkan kedua wanita itu.
"Lu tadi..."
"Baek kau melihatnya?" Luhan segera menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan gelas plastik cappucinonya. Ia merasa sangat malu.
"Tidak kok. Memang kalian melakukan apa?" Bohong Baekhyun. Ia tidak ingin membuat Luhan merasa malu.
"Jinjja? Kau tidak melihatnya saat Sehun menggenggam tangan- upss" Luhan mengumpat dirinya. Merasa bodoh karena tanpa sadar ia mengatakannya.
"Ohh jadi kalian bergandengan tangan? Huaa Lulu..." Baekhyun masih berpura-pura tidak melihat dan meledek Luhan.
"Ya Baekkie!" Luhan mempoutkan bibirnya lucu. Ia sangat tidak suka diledek seperti itu oleh Baekhyun.
"Hahahaha kau lucu sekali Lu hahaha.." tawa Baekhyun membuat Luhan semakin cemberut.
*Helloannyeongg*
Sehun sudah tiba di rumahnya kembali. Hatinya sangat merasa senang karena tanpa sengaka ia bertemu dengan Luhan saat jalan-jalan keliling kompleks. Sungmin sang eomma memanggil Sehun dari arah dapur.
"Sehun! Sehunnie~" panggil Sungmin.
"Ne, eomma..." Sehun berjalan menujubke arah dapur ke tempat eommanya berada.
"Sehunnie~ eomma sudah memberi surat ijin ke sekolah. Dan ahh siang nanti kau jangan kemana-mana ya." Ucap Sungmin.
"Waeyo eomma? Memang kenapa aku tidak boleh pergi?" Sehun nampak tidak terima.
"Kau harus ikut dengan appa dan eomma pergi makan siang bersama."
"Kenapa tidak makan disini saja? Sudahlah eomma aku tidak mau!" Tolak Sehun.
"Sehunnie~ jangan seperti ini. Turutilah keinginan appamu. Kau tahu kan appamu memiliki penyakit darah tinggi. Jangan membuatnya marah lagi. Kau mau jika terjadi sesuatu pada appamu?" Bujuk Sungmin.
"Tapi eomma..."
"Eomma mohon. Kali ini turuti saja ya Sehunnie..." bujuk Sungmin lagi.
"Ne, ne, ne... Baiklah..."
"Gomawo Sehunnie... Nah sekarang kau makanlah... Eomma sudah menyiapkan sarapan untukmu." Sungmin memberikan sepiring roti panggang untuk Sehun.
"Lalu dimana appa? Apa tidak ikut sarapan?"
"Appa sudah sarapan tadi dan kini ia sedang pergi menemui seorang klien baru."
"Ohh begitu... Eomma tidak ikut dengan appa?"
"Ani... Eomma disini saja dengan Sehunnie. Lagipula kita sudah lama tidak mengobrol banyak."
"Ne..."
"Oh iya Sehunnie... Hmm mengenai gadis itu..."
"Siapa?"
"Gadis yang kau sukai itu. Siapa namanya?"
"Namanya Luhan, Xi Luhan. Dia sunbaeku disekolah. Sangat berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah aku temui. Makanya aku jadi menyukainya." Jelas Sehun dengan wajah berseri-seri.
"Apa kau serius menyukainya? Apa dia tahu jika kau menyukainya?"
"Ya. Aku sudah menyatakan perasaanku padanya."
"Lalu apa jawaban dari gadis itu?"
"Aku tidak tahu eomma. Sepertinya ia terlihat sangat bingung. Dan aku memberikannya waktu untuk berpikir dulu apakah mau menerima perasaanku atau tidak." Jelas Sehun dengan wajah sedikit memelas.
"Eomma yakin kok pasti dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu..." Sungmin memberi sedikit penghiburan untuk Sehun.
"Ne, gomawo eomma..."
SKIP
Baekhyun dan Luhan kini sudah kembali ke rumah Baekhyun. Mereka merasa sangat lelah setelah berjogging mengelilingi kompleks perumahan Baekhyun. Saat mereka membuka pintu, Luhan merasa mengenali sesuatu saat melihat sesosok wanita yang sedang duduk bersama eomma Baekhyun di ruang tamu.
"Kalian sudah pulang?" Ucap Kibum.
"Ne, eomma... Kami lelah. Lalu siapa ahjumma itu?" Tanya Baekhyun.
"Eomma?" Mata Luhan terbelalak saat melihat sosok wanita yang memutar kepalanya itu.
"Ne, chagi~" ucap wanita itu.
"Eomma? Kok eomma bisa disini?" Luhan tampak bingung.
"Lu jadi Hee ahjumma adalah eommamu? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya?" Tanya Baekhyun kepada Luhan.
"Baek Lulu memang seperti itu. Sejak dulu ia tidak akan pernah menceritakan siapa appa dan eommanya. Dan bibi mengerti. Lulu tidak ingin kehidupannya mendapat sorotan dari media ataupun orang lain karena merupakan seorang anak dari model terkenal dan pengusaha terkaya di China yang juga terkenal." Jelas Heechul, eomma Luhan.
"Mianhae Baek..."
"Ne, tidak apa. Aku hanya sedikit terkejut saja."
"Gomawo Baek... Lalu kenapa eomma ada disini?"
"Eomma hanya ingin mengunjungi sahabat eomma, Kibum. Sudah lama kita tidak bertemu dan appamu juga ingin bertemu dengan Siwon-ssi. Jadi ya tidak ada salahnya kan jika kami kemari. Lalu kata Kibum, Lulu menginap disini ya?"
"Ne, Lulu menginap disini eomma..."
"Wah kebetulan sekali. Dan oh ya jangan lupa janji kita siang nanti ya..." Heechul mencoba mengingatkan Luhan.
"Ne, eomma..."
"Dan ini! Kau harus menggunakan ini siang nanti." Heechul memberikan sebuah tas kertas berwarna putih kepada Luhan.
"Untuk apa gaun ini eomma?" Tanya Luhan sedikit curiga karena mendapat sebuah gaun baru dari eommanya.
"Kau pakai saja nanti. Dan Baek kau juga harus ikut. Kita semua nanti akan makan siang bersama-sama."
"Ne, ahjumma... Kajja Lu kita naik!" Baekhyun mengajak Luhan untuk kembali ke kamarnya.
"Ne..."
"Lu nanti kita pergi bersama-sama ya..."
"Ne, eomma..." ucap Luhan sambil naik ke lantai atas.
SKIP
Baekhyun melepaskan jaket dan syal yang ia gunakan tadi. Ia membaringkan sebentar tubuhnya di tempat tidur. Luhan duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi gaun yang diberikan eommanya.
"Lu? Waeyo? Kenapa melamun?"
"Ne? Ahh tidak kok. Aku tidak melamun." Elak Luhan.
"Jangan bohong! Jelas-jelas tadi kau melamun! Kau bisa cerita padaku. Ada apa, Lu? Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Aku hmm I've got the bad feeling, Baek... Aku rasa siang nanti pasti akan terjadi sesuatu."
"Kau mencurigai eomma dan appamu, Lu?"
"Bukan begitu. Hanya saja... Haaa aku mau bingung menjelaskannya darimana."
"Gaun ini bagus, Lu. Kau pasti akan cantik jika mengenakannya." Baekhyun mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau melihat Luhan cemberut dan merasa serba salah terus.
"Memang gaun ini sangat cantik. Tapi aku tidak mungkin mengenakannya. Aku tidak memiliki kepercayaan diri seperti dirimu dan yeoja lainnya."
"Lu, jangan berkata seperti itu. Kau cantik kok. Dan aku yakin kau pasti sangat cocok mengenakan gaun ini." Puji Baekhyun.
"Ne, gomawo..."
TOK TOK TOK
"Baek? Bisa keluar sebentar?" Panggil Kibum.
"Ne, eomma... Sebentar ya Lu..." Baekhyun keluar dari kamar itu meninggalkan Luhan yang masih mengamati gaun pemberian eommanya.
"Gaun yang cantik. Haaa tapi kenapa aku malah memikirkan Sehun sih sekarang? Lu ada apa denganmu?" Luhan mengacak-acak rambutnya, frustasi.
"Apa kau menyukai pria itu, Lu?"
"Eomma? Ahh hmm itu... Itu... hmm" Luhan terlihat salah tingkah.
"Lu jawab pertanyaan eomma. Apa Lulu menyukai pria bernama Sehun itu?" Tanya Heechul yang kini sudah duduk di samping Luhan.
"Hmm aku tidak tahu eomma. Lulu tidak tahu apa Lulu menyukainya atau tidak. Lulu bingung." Ucap Luhan jujur.
"Lulu kenapa bingung?"
"Lulu tidak tahu kenapa Lulu terkadang memikirkannya. Lulu suka keingat tentang dia. Dan saat berdua dengannya, Lulu selalu merasa deg-degan. Eomma... Sebenarnya Lulu kenapa?"
"Hihihi anak eomma memang sudah besar ya hihihi..." Heechul terkikik geli mendengar penuturan Luhan.
"Maksud eomma? Lulu tidak mengerti. Eomma sebenarnya Lulu kenapa sih bisa seperti itu?" Tanya Luhan penasaran.
"Ya tentu saja pasti karena Lulu menyukainya. Lulu menyukai namja bernama Sehun itu."
"Mwo? Lulu menyukainya? Lulu menyukai Sehun? Eomma tidak..."
"Eomma tidak bercanda, Lu. Apa yang Lulu alami itu juga pernah eomma alami saat eomma jatuh cinta kepada appamu. Eomma selalu memikirkannya dan selalu merasa deg-degan saat berduaan dengan appamu." Jelas Heechul. Luhan tampak berpikir.
"Lalu apa yang harus Lulu lakukan, eomma?" Tanya Luhan masih tidak mengerti.
"Kau harus jujur dengan perasaanmu sendiri. Itu yang paling penting." Luhan tanpak berpikir lagi.
"Ne, Lulu akan mencoba jujur dengan perasaan Lulu. Gomawo eomma..." ucap Luhan sambil memeluk tubuh eommanya.
"Ne chagi~"
SKIP
"Eomma kenapa Lulu harus didandani seperti ini? Kan hanya makan siang biasa saja." Luhan tampak murung saat Heechul, Baekhyun serta Kibum mencoba mendandani dirinya.
"Eomma hanya ingin kau terlihat lebih cantik, Lu. Untuk hari ini saja." Ucap Heechul sambil membubuhkan blush on pink di pipi Luhan.
"Lu aku juga sudah lama ingin mendandanimu seperti ini hehehe" ucap Baekhyun sambil memilih lipgloss yang akan dipakai oleh Luhan.
"Eomma hentikan... Lulu tidak mau didandani seperti ini..." rengek Luhan.
"Lu kau cantik kok didandani seperti ini. Ahjumma juga senang bisa ikut membantu mendandanimu." Ucap Kibum sambil menata rambut Luhan.
"Hikss Lulu gak suka didandani seperti ini!"
"Lulu anak eomma jangan seperti ini. Nanti make up nya jadi berantakan loh..."
"Lulu tidak peduli!"
"Sabarlah Lu... Sebentar lagi selesai kok. Nah tadahhh sudah selesai."
"Kau tampak sangat cantik Lu..." puji Baekhyun.
"Dan lekas ganti pakaianmu dengan gaun ini." Kibum memberikan gaun milik Luhan.
15 menit kemudian Luhan telah selesai berganti pakaian. Ia sangat cocok menggunakan gaun berwarna putih selutut tanpa lengan yang dihiasi dengan renda dan pita membuat kesan imut untuk Luhan ditambah polesan make up tipis dan rambut yang dibiarkan tergerai menambah kesan kecantikan natural Luhan.
"Lu kau tampak sangat cantik."
"Lulu anak eomma... Kau cantik sekali..."
"Nah pakailah ini Lu." Kibum memberikan sepasang sepatu heels putih dengan pita dibagian depan untuk Luhan.
"Ahjumma apa Lulu harus menggunakan ini?" Tanya Luhan ragu.
"Ne, tentu saja. Kau akan terlihat lebih sempurna." Luhan mencoba mengenakan sepatu heels yang diberikan oleh Kibum.
"Nah semua sudah selesai. Kajja kita bersiap-siap dan segera berangkat." Ajak Heechul. Luhan nampak sangat canggung.
"Lu tenanglah. Kau terlihat sangat cantik kok." Puji Baekhyun.
"Baek..."
"Waeyo?"
"Tidak apa. Aku hanya malu." Luhan menundukkan wajahnya.
"Untuk apa kau malu? Kau nampak sangat cantik. Dan ohh pakai mantel ini." Baekhyun meminjamkan mantel panjang miliknya kepada Luhan.
"Gomawo..."
"Ne, cheonma..."
*Helloannyeongg*
Kini mobil yang ditumpangi oleh Kibum, Heechul, Baekhyun dan Luhan sudah tiba di depan sebuah restoran mewah yang sangat berkelas. Luhan tampak ragu-ragu untuk turun dari mobil sementara eomma, Baekhyun dan Byun ahjumma sudah turun dari mobil.
"Lu kajja!" Baekhyun menarik tangan Luhan untuk segera turun dari dalam mobil.
"Baek aku malu..."
"Lu jangan malu. Kau cantik kok. Kajja kita masuk! Appa kita pasti sudah ada di dalam dan menunggu kita! Dan titipkan mantel ini dulu." Baekhyun memberikan mantelnya dan mantel milik Luhan ke seseorang yang berjaga di tempat penitipan.
Luhan nampak bergetar saat berjalan masuk ke dalam restoran itu. Tangannya tidak pernah terlepas dari lengan Baekhyun. Heechul dan Kibum sudah berjalan lebih dulu di depan mereka sambil berbincang-bincang. Mereka akhirnya sampai di depan sebuah ruangan uang cukup besar. Di depan pintu itu sudah ada Hangeng, appa Luhan dan Siwon yang menunggu kedatangan mereka.
"Appa?"
"Lu kau tampak sangat cantik."
"Yeobo apa kita terlambat?"
"Aniya chagi~ kajja kita masuk bersama-sama." Hangeng beserta Siwon mempersilakan keluarganya masuk ke dalam ruangan besar itu.
CKLEK
Luhan membelalakkan matanya saat pintu ruangan itu terbuka. Banyak pasang mata yang memperhatikan kehadiran mereka semua bahkan banyak yang merekam dan memfoto dengan kamera yang mereka bawa.
"Baek? A-apa i-ini?" Luhan semakin mengeratkan genggaman tangannya di lengan Baekhyun.
"Aku juga tidak tahu Lu." Jawab Baekhyun yang sama-sama terlihat bingung.
Heechul dan Hangeng mengajak putri mereka, Luhan untuk naik ke atas sebuah panggung kecil yang berada di tengah-tengah ruangan itu. Nampak ada sepasang suami-istri yang juga berdiri disana bersama seorang anak laki-laki disamping mereka.
"Luhan noona?" Sehun merasa terkejut saat melihat Luhan tepat di hadapannya.
"Sehunna?" Luhan juga merasa sangat terkejut.
"Para hadirin sekalian. Mari kita mulai acara pertunangan ini." Ucap Kyuhyun dengan lantang.
"Mwo?" Teriak Luhan dan Sehun bersamaan.
"Ne, Luhan adalah yeoja yang selama ini ingin appa jodohkan denganmu." Ucap Kyuhyun kepada putranya.
"Dan Sehun ini adalah namja yang ingin appa jodohkan padamu, Lu." Ucap Hangeng kepada putrinya.
"A-apa?" Teriak Luhan dan Sehun bersamaan.
"Nanti saja kita bicarakan lagi. Sekarang cepat sudah waktunya kalian untuk tukar cincin!" Sungmin membawakan sepasang cincin perak untuk Sehun dan Luhan.
"Kenakan cincin ini untuk Sehun, Lu." Ucap Heechul sang eomma.
Luhan terlihat sangat gugup. Tangannya juga bergetar apalagi saat ia melihat sekelilingnya. Orang-orang banyak memfoto dirinya yang akan mengenakan cincin di jari Sehun.
Prok Prok Prok Prok Prok
Ruangan itu terdengar riuh dengan tepuk tangan saat Luhan berhasil memasangkan cincin di jari tangan Sehun. Kini giliran Sehun yang memasangkan cincin di jari manis Luhan. Wajah Sehun lebih terlihat biasa saja dibandingkan dengan Luhan yang berulang kali mencoba membasahi bibirnya yang tiba-tiba mengering.
Prok Prok Prok Prok Prok
Lagi-lagi ruangan itu dipenuhi dengan suara riuh tepuk tangan saat Sehun berhasil memasangkan sebuah cincin di jari manis Luhan.
"Lu selamat ya..." ucap Baekhyun sambil memeluk tubuh Luhan.
"Sehun selamat ya..." ucap Baekhyun sambil menyalami tangan Sehun.
Sehun dan Luhan hanya bisa memasang senyum palsu mereka sampai acara 'pertunangan' itu selesai digelar. Setelah acara itu selesai, kedua orangtua Sehun dan Luhan menggelar press confrence kepada para wartawan berbeda dengan Sehun dan Luhannya sendiri yang menolak untuk diwawancarai.
"Aku masih tidak mengerti dengan semua ini." Ucap Sehun.
"Aku kira kau sudah tahu, Sehunna."
"Aku mana mungkin tahu noona. Aku saja dipaksa untuk datang tadi dan mengenakan tuxedo seperti ini."
"Aku juga dipaksa oleh eomma, Byun ahjumma dan Baekhyun untuk mengenakan gaun ini. Menyebalkan!" Luhan merasa kesal saat mengingat dirinya yang dipaksa untuk berdandan.
"Tapi noona terlihat sangat cantik kok." Puji Sehun membuat Luhan blushing.
"Dan jadi sekarang noona adalah tunanganku?" Lanjutnya.
"Mana aku tahu!" Jawab Luhan sedikit ketus.
"Kalau aku tahu noona adalah calon tunanganku, mungkin aku akan berpikir 2 kali dulu. Habis masa tunanganku jutek seperti ini."
"Ya! Jika aku juga tahu kalau kau adalah tunanganku, aku juga pasti akan menolaknya! Aku tidak suka memiliki tunangan yang sok pintar sepertimu!"
"Aku memang pintar. Mau aku buktikan?" Tantang Sehun.
"Baiklah. Aku tunggu pembuktianmu nanti." Tantang Luhan yang tidak mau kalah.
Beberapa hari setelah 'pertunangan' Sehun dan Luhan, mereka sudah kembali bersekolah dengan tenang. Tidak ada wartawan yang mengikuti kemana pun mereka pergi. Di sekolah guru-guru pun mengucapkan selamat kepada mereka. Ya mereka tidak akan semudah itu marah dan mengeluarkan murid seenaknya hanya karena sebuah salah paham. Apalagi mereka merupakan murid yang sangat berprestasi. Para penggemar mereka pun hanya bisa melihat pasangan itu dengan tatapan iri. Beberapa minggu setelahnya, Sehun dan Luhan sama-sama mengikuti Olimpiade Matematika. Namun sayang Luhan hanya mendapatkan medali perak. Medali emas diraih oleh Sehun.
"Noona! Sekarang kau masih menganggapku sok pintat?" Ucap Sehun sambil menggoyang-goyangkan medali emas di depan wajah Luhan.
"Diamlah! Huhh" Luhan nampak sedikit kesal. Kali ini ia dikalahkan oleh Sehun.
"Noona... Noona... Noona jangan marah dong..." Sehun mengguncang-guncangkan tubuh Luhan.
"Aku tidak marah!" Elak Luhan namun wajahnya nampak cemberut.
"Noona... Noona marah padaku? Yasuda ini untuk noona saja." Sehun menukarkan medali emas miliknya dengan medali perak milik Luhan.
"Ya! Apa yang kau lakukan?"
"Noona kan mau mendapat medali emas ini. Jadi yasudah aku tukar saja."
"Aku bukannya mau medali emas ini, pabbo!"
"Ya! Noona kenapa malah membentakku? Jadi apa yang noona mau?" Sehun memasang wajah cemberutnya, tidak tau dengan apa yang dimau Luhan.
"Sehunna..."
"Hmm?"
"Ada yang ingin aku bicarakan..."
"Ya katakan saja."
"Jangan disini... Aku malu." Luhan melihat sekelilingnya yang masih ramai dengan murid-murid dan para orang tua yang menjemput anaknya yang ikut Olimpiade itu.
"Baiklah kita bicarakan saja dimobilku." Sehun menarik tangan Luhan untuk menuju ke mobilnya.
Cklek "Nah sekarang noona bicaralah. Tidak ada siapa-siapa yang bisa mendengarnya." Sehun mengunci kaca dan pintu mobilnya rapat-rapat.
"Hmm Sehunna..." Luhan menarik-narik ujung kemejanya merasa gugup.
"Ne?" Sehun menatap Luhan.
"Saranghae..." ucap Luhan akhirnya.
"Aku tahu." Jawab Sehun singkat dan terlihat biasa saja.
"Mwo? Hanya itu jawabanmu?" Ucap Luhan tidak terima.
"Jadi noona mau aku jawab apa? 'Nado saranghae' begitu? Aku sudah berapa kali mengatakannya pada noona."
"Dan jika noona memang benar-benar mencintaiku, aku perlu bukti." Lanjut Sehun.
"Mwo? Bukti? Bukti apa?"
"Ini..." Sehun menunjuk bibirnya.
"Mwo? Shireo... Shireo shireo shireo..." Luhan menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu noona memang tidak benar-benar serius mencintaiku." Sehun mempoutkan bibirnya.
CUP~ Luhan mengecup sekilas bibir Sehun membuat namja itu membelalakkan matanya. Luhan dengan segera menutup wajahnya. Ia benar-benar merasa malu.
"Hehehe noona jangan merasa malu seperti itu. Noona kan tunanganku." Sehun mengecup pucuk kepala Luhan.
Drrrttt Drrtttt Drrrtttt
From : Appa
Ya Sehun! Apa yang kau lakukan pada Luhan? Kau jangan berani menyentuhnya! Atau nanti akan segera appa nikahkan kalian! Kalian ini masih sekolah!
Sehun terkekeh melihat pesan singkat dari appanya.
To : Appa Appa tenang saja. Aku akan segera memberikan cucu untuk appa dan eomma hahahaha :D
Sehun tertawa saat pesan singkat itu terkirim. Luhan hanya menatap Sehun dengan tatapan tidak mengerti.
# END#
Yipyip FF ini selesai juga hehehe mian ya kalo ceritanya udah terlalu pasaran dan gaje banget :( dan gomawo buat para readers yang udah baca dan review FF kedua author ini :) author terharu banget tau :( oh iya author berencana mau buat FF lagi nih hehehe ada yang punya saran main cast untuk FF author selanjutnya? Kalo enggak ya pasti akan author buat terus HunHan hehehe Gomawo buat semua yang udah meluangkan waktu untuk baca FF abal-abal author ini sampe ngereview juga :) kritik dan saran serta dukungan dapat kalian berikan terus untuk author :) Byebye^^ .
Big Thanks to:
Hongkihanna, Oh Dhan Mi, younlaycious88, Hyun Ra Thanks udah menyempatkan waktu untuk ngereview FF ini. Author jadi bersemangat melanjutkan juga berkat dukungan dari kalian. Tanpa kalian mungkin FF ini gak akan selesai. Mian author tidak bisa membalas review kalian satu-satu tapi yang pasti author mau ngucapin Terima Kasih sebanyak-banyaknya pada kalian yang udah review ataupun yang belum sempat review dan yang udah follow dan favorite FF ini :) jeongmal gomawoyo^^ see you at my next FF^^
.
My Twitter :
Helloannyeongg (Mention for folback^^ Gomawo^^)
