Jihoon mengerutkan dahinya. Ia selalu takjub dengan keadaan kulkas yang selalu kosong di bagian penyimpanan makanan ringan. Kali ini di bagian buah juga kosong, padahal ia butuh cuci mulut sehabis sarapannya dengan Soonyoung. Ini salah satu kesulitan saat memiliki member banyak disamping asrama juga sangat ramai, tapi enak untuk ditinggali.

Jihoon menutup kulkas lumayan keras. Ia menghembus napas, mencoba menahan emosi. Sayang gitarnya kalau harus dibuat senjata setiap hari untuk kelakuan absurd membernya yang tidak kenal waktu. Emosinya timbul ke permukaan karena es krim yang kemarin baru ia beli dan disimpan di bagian paling pojok freezer juga ikut raib ke—entah perut siapa.

Jihoon berjalan ke ruang tengah. Ada Soonyoung sedang duduk di sofa menghadap televisi. Enggan menghampiri, jadi ia tanya dari depan kusen dapur, "Soonyoung, buah di kulkas habis. Es krimku, kau tahu siapa yang makan?"

Soonyoung menoleh menghadap Jihoon di belakangnya. Posisinya jadi setengah berdiri dengan lutut yang menjadi tumpuan di atas sofa. "Aku tidak tahu siapa yang makan es krimmu. Kau sudah taruh di tempat persembunyianmu, belum?" tanya Soonyoung kemudian.

Jihoon mengangguk.

"Aku tidak tahu siapa yang makan.." jeda sejenak, "Kau ingin mengintrogasi adik-adikmu, atau langsung main tebas pakai gitarmu?" tanya Soonyoung.

Jihoon mendengus. "Bukankah sekarang malah terdengar kau yang sedang mengintrogasiku, Kwon Soonyoung?" tanyanya balik ke Soonyoung.

Soonyoung mengendikkan bahu. "Cuma tanya," katanya. Seperti teringat sesuatu, ia pun menjetikkan jarinya. "Buah di kulkas memang sudah habis dari kemarin. Jadwal untuk belanja juga masih diatur ulang mengikuti jadwal personal anggota," paparnya kemudian. "Kau ingin makan buah? Diet atau sekadar pencuci mulut untuk ramen?" tanyanya kembali.

"Pencuci mulut. Aku ingin pisang. Ah, smoothies pisang!" ujar Jihoon.

Soonyoung berdiri dari sofa. Ia melangkah pada destinasi Jihoon berada. Kemudian ia menggandeng salah satu tangan Jihoon. "Mungkin aku tidak bisa berikan smoothies pisang, tapi aku punya pisang. Kau ingin?" katanya dengan smirk di sudut bibirnya.

Jihoon menghempaskan gandengan Soonyoung, lalu menderap langkah ke dalam kamarnya. "Soonyoung, kau puasa berbicara denganku sepuluh hari!" katanya dengan debuman keras dari pintu di akhir kalimat.

"Lho, Jihoon, katanya ingin jadi Kwon Jihoon? Maaf, aku salah, Jihoon."

Sudah terlambat..

kkeut.

Terimakasih untuk apresiasinya di chapter satu. Aku ralat—bukan multichapter, tapi hanya kumpulan cerita ringan soonhoon, ya.. Aku masih merasa berat untuk bikin multichapter karena ceritanya harus nyambung—dan entah kenapa, kalau update yang berchapter seperti ini, aku selalu merasa cerita yang pertama lebih bagus dari yang selanjutnya. Semoga yang ini tidak mengecewakan ^^

Sudah kulebihi 132 words, lho. Hehe. Ehem, RnR? :3