Nasib baik sedang tidak menyertai pangeran muda ini saat ia berangkat. Sesaat setelah ia terbang meninggalkan istana, badai malah datang menyerang. Saat hendak kembali, ia malah kehilangan arah. Angin kencang yang bertiup juga menyusahkan perjalanannya sehingga beberapa kali pangeran angsa ini menabrak pohon. Akhirnya dengan sepasang kaki bebeknya yang kecil, pangeran ini berjalan beberapa meter hingga akhirnya menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mengetuk pintu rumah kecil itu dengan paruhnya.

Tidak ada jawaban, tidak mengherankan. Yurio juga tidak yakin kalau gubuk itu masih ditinggali oleh seseorang karena rumah itu nampak sangat tua dan tidak terurus. Yurio melihat ke atasnya hendak menarik gagang pintu di atasnya, namun kedua pasang sayapnya sudah tidak kuat lagi untuk meraihnya. Yurio yang sudah kelelahan akhirnya tidak peduli lagi dan kehilangan kesadaran di depan pintu gubuk tua di tengah hutan tersebut.


Saat Yurio tersadar, ia kaget karena ia sudah berada di atas sebuah bantal di sebuah ruang yang hangat. Perapian menyala di sebelah tempat tidurnya, dan juga selimut hangat menyelimuti dirinya. Di sebelahnya juga terdapat segelas air. Yurio yang kehausan segera keluar dari selimutnya dan meminum air di sebelahnya dengan semangat.

" Wah, sudah sadar rupanya..."

Pangeran angsa ini sangat kaget saat melihat seorang pemuda berambut hitam sedang duduk sambil memandang dirinya, sehingga tanpa sadar ia reflek melompat dan meluncurkan tendangan tapak angsa tepat di wajah pemuda itu hingga pemuda itu terpental ke tembok di belakangnya.

" Auw..." pemuda itu memegangi kepalanya yang terbentur ke tembok.

" ..." Yurio sadar kalau ia masih berada dalam wujud angsa mustahil baginya untuk bisa mengalahkan pemuda di depannya itu. Tunggu, kalau dilihat-lihat dari pakaian lusuh dan perawakan kurus dari pemuda di depannya, kelihatannya ia miskin dan kelaparan. Jika pemuda itu membawanya masuk... Yurio yakin sebentar lagi ia akan berakhir di panci masakan yang ada di perapian dekatnya! Pintu keluar dari ruangan itu dihalangi oleh pemuda itu, kalau begitu jalan satu-satunya untuk kabur adalah melalui jendela! Yurio melompat-lompat hendak membuka jendela di atasnya.

" Wah, benar-benar tenaga yang luar biasa. Syukurlah kalau sudah menjadi sehat kembali. Jangan takut, aku Otabek Altin..." Pemuda itu kembali mendekat dan membungkukan badannya sambil mendekati Yurio.

Gagal membuka jendela dengan paruhnya, pangeran angsa ini kembali berlari menjauh dari pemuda itu, tapi sialnya ia akhirnya malah terpojok sendiri. Dengan garang, angsa ini kembali melompat dan menggigit jari pemuda di depannya hingga ia berteriak kesakitan.

Saat pemuda itu kesakitan, Yurio segera berlari ke pintu keluar. Sayang ternyata pintu itu terlalu berat untuk ia dorong, dan tak lama Otabek dapat menyusulnya lagi.

Yurio memandang pemuda di depannya dengan tatapan kesal. " Minggir lu!Lu mau makan gw kan?! Ga akan bisa! Awas lu deket-deket, gw gigit lagi! Pergi! Pergi!" Yurio yang belum menyerah, menyerang pemuda di depannya dengan patukan, tendangan tapak angsa, atau sabetan sayap angsanya secara bertubi-tubi.

" Hei-hei, tenang... Aku tidak berniat memakanmu kok..." Otabek menangkap angsa yang mengamuk di depannya dan memeluknya sehingga angsa itu tak bisa bergerak. " Kau tersesat di sini dan hendak kembali ke pemilikmu bukan? Tapi di luar masih badai, jadi aku tak bisa membiarkanmu keluar dulu. Besok aku pasti akan membantumu mencari pemilikmu. Aku janji..."

Yurio sangat kaget saat dipeluk oleh pemuda yang baru saja ia sakiti bertubi-tubi ini. Ternyata dipeluk saat cuaca lagi dingin enak juga, pikirnya.

Setelah angsa itu agak tenang, Otabek menaruh angsa itu kembali ke bantalnya dan menyelimutinya kembali. " Istirahatlah... Aku tidak akan mengganggumu."

" ... " Yurio bingung dengan kelakuan pemuda di depannya. Padahal ia jelas telah menendang bahkan menggigit pemuda ini, namun pemuda ini tetap tersneyum lembut kepadanya. Ini benar-benar membingungkan baginya.

Otabek mengambil semangkuk kecil bubur hangat dan meletakannya di sebelah bantal Yurio, " Maaf, hanya tinggal makanan ini yang tersisa di rumahku... Harusnya ini menjadi makan malamku, tapi kurasa kau lebih membutuhkannya. Kau lapar bukan...?"

" ..." Yurio yang masih tidak percaya melangkah mundur lagi.

Otabek tertawa kecil melihat kelakuan angsa galak di depannya, " Baiklah, aku akan meninggalkanmu supaya kau bisa makan. Selamat istirahat..." Otabek tersenyum sebelum membalik badannya dan meninggalkan Yurio sendiri di ruangannya.

Yurio mendekati mangkuk bubur pemberian Otabek dan memakannya dengan lahap. Ia baru menyadari kalau ia sudah sangat lapar. Sambil makan, Yurio memikirkan Otabek, pria yang baru menolong dan memberinya makan. Padahal pemuda itu sudah kurus dan nampaknya juga lapar, namun ia malah memberikan makanannya kepadanya. Bubur itu memang terasa hambar, namun cukup untuk mengenyangkan perutnya dan memberikan rasa hangat kepada badannya yang lelah. Yurio jadi berpikir, mungkinkah kalau Otabek memang tidak berniat untuk memasaknya...? Otabek benar-benar aneh, tapi entah kenapa ia tak bisa berhenti memikirkan pemuda aneh ini.

" Namanya... Otabek ya... Beka... benar-benar pemuda yang aneh..." Selesai makan, Yurio memejamkan matanya dan kembali tertidur.


Hari sudah malam, Yurio terbangun oleh suara jendela kayu. Sayup-sayup ia melihat seseorang masuk ke ruangannya dan membuka jendela. Cuaca di luar sudah tidak hujan lagi, dan Yurio dapat melihat cahaya bulan masuk ke dalam ruangan.

Yurio menggosok matanya dengan kesal. " Uugh... padahal kan masih malam..." gumamnya dengan kesal. Yurio mengambil gelas di sampingnya dan melemparnya ke orang yang tadi membuka jendela.

" Auw!"

" Salahmu sendiri membangunkanku tengah malam begini..." Gumam Yurio yang masih setengah sadar. Sambil memejamkan matanya lagi ia berpikir... ia tadi memegang gelas itu dengan satu tangannya. Padahal sejak menjadi angsa, untuk memegang gelas ia perlu mengatupkan kedua sayapnya. Tunggu... Yurio kembali membuka matanya dan merentangkan tangannya. Di bawah cahaya bulan, ia dapat melihat tangannya dengan jelas. " Eh...?" Pangeran berambut emas ini segera memegang wajahnya dengan kedua tangannya. " Wujudku...?"

" Kau...?" Otabek terkejut dengan keberadaan pemuda asing yang tiba-tiba ada di ruangannya. Dengan rambut orang asing itu yang bersinar keemasan seperti sutera dan bola mata biru yang memantulkan warna langit malam, belum pernah dalam hidupnya Otabek menemukan orang secantik pemuda itu. Pakaiannya yang berwarna silver dengan hiasan bulu di bagian bahunya juga membuatnya terlihat semakin indah, seperti lukisan yang dikaguminya. " Jangan-jangan kamu... HANTU!"

" HAH?" Yurio segera berdiri dengan kesal dan menarik kerah kemeja Otabek, " Gw ini manusia, kaki gw masi napak, bego! Aku Yurio, pangeran dari negeri Agape."

" Pa-pangeran...?" Otabek makin takjub. " Tunggu, bagaimana bisa...?"

" Lu berani ga percaya?" tanya Yurio dengan muka jutek.

" Bukan begitu, Prince. Aku hanya... sedikit kaget..." Otabek memandang pangeran di depannya dengan takjub. " Kenapa kau bisa berada di sini tengah malam begini...? Dan angsa yang seharusnya ada di ruangan ini... aku tidak bisa menemukannya, padahal aku hendak memeriksa keadaannya... Apa Prince melihatnya?"

" Oke, aku akan menjelaskan..." Yurio duduk di kursi di ruang tengah dekat perapian itu dan menyuruh Otabek untuk duduk di depannya, " Jadi... singkat cerita seorang penyihir mengutukku menjadi seekor angsa putih seperti tadi. Kemudian aku pergi dari istana karena mendengar kabar mengenai sebuah bunga ajaib di desa Bella Stellata..."

" Desa Bella Stellata? Ya, desa ini adalah Desa Bella Stellata, tapi bunga ajaib...?"

" Bunga ajaib itu kudengar bisa mematahkan segala tipe kutukan. Katanya di desa itu ada seorang peneliti yang pernah melakukan penelitian mengenai bunga ajaib ini..."

" Bunga ajaib ya... " Otabek mengajak Yurio melihat keluar jendela dan menunjuk ke sebuah bunga kecil berwarna biru ada di tamannya. Di taman itu ada sebuah tanaman kecil dengan sekuntum bunga kecil yang masih kuncup. Walaupun masih kuncup, namun di bawah cahaya bulan ia bersinar memantulkan warna seperti warna pelangi sehingga terlihat sangat indah, " Apakah... bunga yang kau cari itu... bunga ini...?"

Yurio melihat bunga itu dengan mata takjub bahagia, " Bunga dengan warna biru pelangi... tidak salah lagi, bunga ini adalah bunga yang kucari! Pantas saja aku bisa kembali ke wujud manusia lagi setelah sekian lama hidup sebagai angsa bodoh. Berikan bunga ini padaku, Beka!"

" Beka? Darimana kau tahu nama panggilan itu...?"

" Nama panggilanmu..."

" Sebelumnya, hanya Mila yang memanggilku begitu... tak kusangka yang mulia akan tahu nama ini. Apa yang mulia mengenalnya?"

" Mila?" tanya Yurio bingung.

" Ah, maaf, kelihatannya yang mulia tidak mengenalnya ya. Mila adalah tunanganku. Ia adalah gadis dari desa ini..."

" Ah, tidak kok. Aku hanya menyingkatnya soalnya namamu terlalu panjang~" Yurio melompat keluar dari jendela, " Bunga ajaib ini... tak kusangka akhirnya bisa kutemukan..."

" Tu-tunggu, Prince! Jangan sentuh bunga itu!"

" Hah? Ada apa Beka?"

" Bunga itu masih kuncup. Kita tidak boleh menyentuh bunga itu sama sekali hingga ia mekar, atau ia akan kehilangan kekuatannya sama sekali..."

" Ah begitu rupanya... Baiklah, aku akan mengambilnya saat sudah mekar nanti. Bunga ini pasti bisa menyembuhkanku bukan?"

" Mengenai itu... Maaf, tapi tidak bisa..." jawab Otabek.

" HAH? Jangan khawatir, aku akan membayar berapapun yang kau mau! Kau mau berapa? Atau kau mau kuberi pekerjaan saja di istana?"

" Bukan begitu, Prince... Aku tidak yakin kalau bunga ini dapat mematahkan kutukanmu..."

" Apa maksudmu? Aku bisa kembali dari wujud angsa adalah karena kekuatan bunga ini bukan?" tanya Yurio.

" Ya... kau benar. Tapi, bunga ini sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menyembuhkanmu dari kutukanmu..."

" Darimana kau tahu..."

" Aku... aku pernah membacanya..."

" Jadi di sini ada buku mengenai bunga ajaib ini?" tanya Yurio.

" Bukan buku... catatan penelitian tepatnya... Seseorang pernah melakukan sedikit penelitian mengenai bunga ini... dan beberapa bunga legendaris lainnya. Namun mengenai bunga ini, aku tidak yakin bunga ini mampu mematahkan kutukan baginda..."

" Kelihatannya menarik. Biarkan aku membacanya, Beka!" jawab Yurio.

" Buku ini tidak ada di sini, tapi aku bisa membawamu ke perpustakaan besok jika kau mau. Kebetulan aku bekerja di perpustakaan juga besok..."

" Ya, bawa aku ke sana besok, Beka!" Yurio merentangkan kedua tangannya dan menguap, " Apa boleh malam ini aku menginap di sini. Maksudku... hari sudah gelap, lalu aku tidak tahu sama sekali mengenai desa ini..."

" Tentu saja, Prince. Kebetulan di sini juga ada kamar yang bisa kau tempati, jadi kau bisa memakainya kapanpun kau mau."

" Terima kasih, Beka!" Yurio langsung masuk dan langsung meompat ke tempat tidur yang hangat. Yurio menarik selimutnya dengan bahagia. Sudah lama rasanya ia tidak berbaring dalam wujud manusia. Tanpa disadari ia pun tertidur nyenyak dan bermimpi indah.