SIRIUS
MAIN CAST:
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
SUPPORT CAST:
- Kim Jongin
- Do Kyungsoo
OTHER CAST:
- Member of EXO
- Dan akan bertambah guna penyesuaian alur.
Rated M
Length: Chaptered
Summary:
Hanya menceritakan kisah cinta antara pesuruh bayaran dengan polisi yang memburunya, tapi di satu sisi membantunya untuk membersihkan namanya dari tuduhan pembunuhan. "Kita tidak bisa bersama, tidak perduli sekeras apapun kita berusaha."- / "Ya. Jika saja aku gagal melepas benda sialan ini pun, aku akan tetap di sampingmu." -
—
"Kita mendapatkan tugas baru, Sirius."
Yang dimaksud namanya baru saja datang dari dapur dengan membawa dua kaleng soda, sebelum kemudian mendudukkan dirinya disofa tunggal. "Tugas apa?"tanyanya sembari melemparkan kaleng soda pada rekannya, DK.
Tidak ada respon apapun yang diberikan DK sementara jemarinya sibuk di atas keyboard, melainkan hanya ada bunyi mesin printer yang bekerja mencetak selembar kertas berisikan data tugas yang mereka bicarakan. Sirius mengambil lembar itu dan membacanya. "Mengambil dokumen rancangan milik Shim Youngjae?"tanyanya memastikan sambil kembali menggulirkan pandangannya pada DK.
"Hmm, klien kita adalah Jung Daehyun. Kau masih mengingatnya?"DK melepas kesibukannya di depan komputer dan mengambil duduk di seberang Sirius.
Sirius membuka kaleng soda miliknya, mengurangi volume isinya dengan beberapa tegukan, sebelum menjawab. "Ya, aku masih ingat. Si pria licik yang menyuruhku mencuri data dari kantor Kejaksaan itu, kan?"
DK mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak akan melakukannya, DK."
Kerutan bingung tercetak jelas di wajah DK. Well, Sirius amat sangat jarang menolak tugas yang masuk ke mereka. Mencuri data, penyadapan ilegal, mengantarkan barang, atau apapun selain membunuh akan mereka lakukan. Sama halnya tugas kali ini, tugas Sirius hanya mengambil sebuah dokumen, tapi kenapa kali ini ia menolak? "Katakan padaku alasannya, Sirius."DK menghela nafasnya, mulai lelah menghadapi sikap keras kepala Sirius. "Kau biasanya tidak seperti ini, kau tahu itu, kan?"
Sirius menatap lekat teman seperjuangannya yang kini sibuk mengomelinya tentang pekerjaan yang baru saja ia tolak. Pemuda itu sungguh sangat cerewet, Sirius bahkan sudah sering kali berpikir untuk merobek bibir temannya satu itu, tapi ia masih enggan menerima resiko yang akan ia dapatkan setelah berani melakukan tindakan radikal tersebut. DK meledak dalam amarah adalah satu dari sekian dikitnya hal yang ia hindari, karena jujur saja pemuda itu bahkan bisa sangat brutal saat marah. Jadi lebih baik ia memilih untuk tidak melakukan sesuatu yang nantinya akan ia sesali.
Sirus berdecak sekali sebelum memajukan tubuhnya agar bisa memperhatikan ekspresi DK yang duduk di hadapannya lebih lekat. "Aneh sekali orang jenius sepertimu tidak menyadari keanehan dari pekerjaan ini."cibirnya sebelum melanjutkan. "Ini terlalu aneh, DK. Untuk apa mereka menyuruhku beraksi setelah mereka membereskan situasi terlebih dahulu? Kau sangat tahu kalau itu sama sekali bukan gayaku, dan mereka juga tahu mengenai hal itu."
DK menghela nafasnya panjang. "Bukankah pekerjaanmu menjadi lebih ringan jika mereka mau repot-repot membereskan situasi terlebih dahulu? Apa yang salah dari itu?"terangnya dengan emosi tertahan. "Apa yang sebenarnya kau takut—ah, tidak.. Bukan yang kau takutkan, tetapi apa yang sebenarnya kau hindari, Baekhyun-ah?"kali ini nada suara DK melunak.
"Ini jebakan, Kyungsoo! Tidakkah kau seharusnya sadar?"Sirius menggertakkan giginya, berusaha untuk tidak meledak detik itu juga.
Kyungsoo bergeming, dan Baekhyun membiarkan saja sahabat sekaligus rekan seperjuangannya itu larut dalam pemikirannya.
"Aku akan membatalkannya,"Kyungsoo bergumam pelan.
"Kau yakin?"
Kyungsoo menatap Baekhyun berang. "Apa maumu sebenarnya, sialan?"dengan nada suara yang terdengar datar, namun berbahaya.
Baekhyun terkekeh kegelian. "Batalkan itu dan setelahnya istirahat lah selama beberapa hari, Kyungsoo-ya. Kau terlihat lelah."
"Berhenti bersikap menjijikan, Byun. Aku sangat tahu bagaimana dirimu yang selalu mengacaukan hari liburku." Dengusan kesal Kyungsoo diam-diam berubah menjadi senyum tanpa sepengetahuan Baekhyun.
"Eiii, aku serius kali ini.. Berliburlah, dan aku tidak akan mengganggumu."
-
Baekhyun baru saja pulang dari markas—apartement Kyungsoo, saat tiba-tiba pemuda itu menghubunginya. Meskipun agak bingung, Baekhyun tetap saja menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Ada apa?"sambarnya tanpa salam pembuka.
Helaan nafas Kyungsoo di seberang sana, sudah cukup untuknya menebak kalau ada sesuatu yang tidak beres terjadi saat ini. "Katakan saja, Kyungsoo-ya.. Aku takkan marah."
"Mereka bilang kita tidak bisa membatalkan kontrak.."Kyungsoo mencicit pelan, berusaha keras untuk tidak membuat Baekhyun mengamuk dengan penjelasannya.
Baekhyun menggeram tertahan. "Lalu?"
"Kita harus tetap melakukannya, Baekhyun-ah."
"Sudah kukatakan kalau aku tidak akan melakukannya, bukan?"
Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Kyungsoo menghela nafas dan berujar. "Mereka berhasil melacak indentitasku, Baek."
Geraman amarah Baekhyun lolos begitu saja saat mendengar Kyungsoo berjuar demikian. "Bagaimana bisa itu terjadi?!"
Kyungsoo berujar ragu. "Kupikir itu adalah Yifan."
"Si keparat brengsek itu!!"Baekhyun benar-benar tidak bisa mengontrol mulutnya untuk tidak mengeluarkan sumpah serapah saat ini. Wu Yifan, nama lainnya adalah Kris. Dia adalah rekan—mantan rekan, yang memutuskan untuk berkhianat dan well, bahkan untuk menceritakan kembali apa yang terjadi diantara mereka saja Baekhyun merasa enggan, mungkin muak akan sosoknya. Poin terpentingnya adalah; mereka—Baekhyun, Kyungsoo dan Kris adalah satu kubu, itu dulu sebelum Kris memilih jalan kotor dalam bisnis pengantaran mereka dan pada akhirnya ia membunuh. Baiklah, mereka memang pesuruh dan kadang mencuri lalu mengantarkan barang tersebut kepada si Domba—istilah yang mereka pakai untuk menyebut seseorang yang memakai jasa mereka, tapi mereka tidak membunuh dan tidak akan pernah membunuh. Sejak awal saat mereka sepakat untuk bekerja sama pun, mereka setuju untuk tidak bermain dengan nyawa manusia. Tapi sepertinya Kris sangat tidak puas hanya dengan melihat korbannya ketakutan saat melihatnya beraksi, tanpa membunuhnya. Tidak cukup sampai disitu, si keparat itupun memilih bergabung dengan organisasi mafia besar dan mengkhianati mereka. Yah, begitulah. Si keparat licik itu.. Baekhyun hanya tidak menyangka kalau Kris bisa berbuat se-picik itu. Well, ingatkan Baekhyun untuk menghajarnya sampai babak belur ketika mereka bertemu nanti.
"Maafkan aku, Baek."Kyungsoo berujar kembali.
Sadar kalau amarah yang tersulut akan memperburuk keadaan, Baekhyun memilih menghembuskan nafasnya secara kasar dan berdehem, berusaha keras menekan amarahnya hingga tingkat aman. "Tak apa, Kyung. Ini bukan salahmu."
"Baekhyunaaa.."Kyungsoo merengek, terenyuh mungkin. Sangat jarang sekali Baekhyun bisa bersikap seperti sekarang, maka dari itu mungkin Kyungsoo benar-benar akan meneteskan air matanya jika Baekhyun tidak berujar menyebalkan setelahnya.
"Tapi aku tetap tidak akan melakukannya, Do Kyungsoo."ujarnya kelewat tenang.
"YAK BYUN BRENGSEK BAEKHYUN, BAGAIMANA DENGAN NASIBKU SETELAH INI?!"Kyungsoo benar-benar meneriaki Baekhyun dengan nyaring, oh bahkan dengan sangat baik hati sekali menambahkan nama tengahnya. Teman yang begitu sempurna.
Setelah melepaskan desisan penuh ancaman untuk membuat Kyungsoo bungkam barang sesaat, Baekhyun bergerak menuju kamarnya. Masih dengan sambungan yang terhubung, ia melepas jaket kulit yang ia kenakan dan menyelampirkannya di atas nakas, setelah itu berkata. "Sudah jangan banyak protes, ikuti saja kata-kataku dan kerjakan dengan segera. Harus selesai sebelum pukul sembilan malam, kau mengerti?"
"Apa mak—"ucapan Kyungsoo harus rela terputus karena Baekhyun langsung menyelanya.
"Hanya dengarkan aku, Kyungsoo-ya. Dan aku akan melakukan apapun agar bisa membuatmu aman. Kau percaya padaku, kan?"
Kyungsoo diam-diam tengah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum di seberang sambungan sana. "Ya, Baekhyun. Aku selalu percaya padamu."
"Bagus. Sekarang dengarkan aku.."
-
Kyungsoo melepas sejenak headphone sewarna putih susu yang sejak siang tadi menggantung di telinganya, hanya untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya sebelum kembali berkutat dengan komputer—memandu Baekhyun melakukan pekerjaannya di lapangan. Setelah menguap dan meminum kopinya, karena kali ini ia benar-benar sangat mengantuk, Kyungsoo memasang lagi sambungan komunikasinya dengan Baekhyun.
"Ya, ready Sirius?"
Baekhyun menekan earpiece-nya, untuk mengaktifkan mode komunikasi. "Ready, DK."
"Selanjutnya, konfirmasi sambungan."Kyungsoo melanjutkan prosedur lapangan mereka setelah sebelumnya menguap lebar.
Dan respon Baekhyun adalah memutar bola matanya malas. "Aku benar-benar tidak tahu kita harus menjalankan prosedur sialan ini sampai kapan."
Dengusan kesal adalah apa yang menjadi respon Kyungsoo pertama kali. "Baiklah aku akan mematikan sambu—"ketusnya namun segera terpotong dengan konfirmasi dari Baekhyun.
"Earpiece connection, confirm."
Kyungsoo terkekeh geli sambil memainkan jemarinya di keyboard, lalu berujar. "Camera mode on, confirm."
"Camera on, confirm."kamera yang dimaksud adalah fitur yang ada di kacamata serba guna yang saat ini ia pakai, yang nantinya akan merekam seluruh kejadian dari pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Tersambung langsung di layar komputer Kyungsoo. Jadi secara tidak langsung, Kyungsoo juga turut melihat pelaksanaan tugas Baekhyun di lapangan. Namun kali ini tidak seperti biasanya, bukan pekerjaan pengantaran atau pencurian yang mereka lakukan. Melainkan seperti apa yang Baekhyun katakan sebelumnya, ia akan melakukan apapun untuk membuat identitas Kyungsoo tetap tersembunyi, sama sepertinya. Maka dari itu, Baekhyun berencana untuk melakukan sedikit perubahan profil pemuda itu. Yeah, liat saja nanti.
"Aku akan memulainya, DK."Baekhyun memasang topi dan masker hitamnya, lalu bergerak keluar dari persembunyiannya di gedung belakang.
"Ya, Sirius. Aku bersamamu."
-
"Berbelok ke kiri, setelah melewati ruangan itu, Sirius. Lalu kau akan menemukan pintu utama untuk menuju ruang kontrol."
Sirus menoleh kesana kemari, memastikan keadaan sekitarnya aman sebelum bergerak mengikuti instruksi DK. Begitu memasuki ruang kontrol, ia mendapati dua penjaga yang tadinya tengah bersantai menjadi begitu waspada setelah melihatnya. Kedua penjaga itu nampaknya begitu terkejut melihat kehadirannya, dan langsung menodongkan senjata mereka kearahnya. Sirius mendengus geli seraya bergerak cepat melumpuhkan senjata salah satu dari mereka terlebih dahulu dan segera melayangkan sikutan di punggungnya, hingga penjaga itu berakhir terkapar dalam keadaan pingsan.
Petugas satunya tak tinggal diam, merasa terancam ia segera melesatkan satu tembakan terarah langsung padanya, namun dengan cepat dapat ia hindari.
"Ck, hampir saja."Sirius bergumam diiringi elusan di dadanya.
"Yak, apanya yang hampir saja?! Jangan lengah!"
Sirius meringis geli saat DK berteriak padanya. Ia bergerak lebih cepat untuk bisa berada di belakang petugas itu, merampas senjatanya lalu melemparnya ke sembarang arah. Satu pukulan ia daratkan ke belakang tengkuk petugas tersebut dan detik berikutnya tubuhnya ambruk, kehilangan kesadaran.
"Mereka sudah kulumpuhkan!"Baekhyun memberi laporan singkat, sebelum beranjak meretas sistem keamanan ruang kontrol itu dengan cara menyambungkan kabel penghubung dengan ponselnya, untuk melakukan proses penyalinan data. Ia beralih ke banyak layar monitor CCTV di sana, memperhatikan sejenak layar itu lalu mengambil semacam flashdisk kecil—alat penyadap yang mempunyai fungsi merekam dan mengambil data, kemudian memasangnya di sana. "Aku meletakkan satu di monitor CCTV."ia memberitahu DK.
"Oke. Kau meletakkannya di tempat yang aman, kan?"
"Tentu saja, di belakang monitor ini ada satu colokan yang kosong. Aku meletakkannya disitu dan kurasa ini akan aman."Sirius menjawab demikan, ia kemudian beralih pada ponselnya dan mendapati bahwa penyalinan data sudah selesai. Setelah menghapus riwayat penyalinan, ia mematikan sambungan dan bergegas mengangkut dua penjaga tadi untuk duduk kembali di tempatnya.
"Sepertinya kalian kelelahan, aku sedang berbaik hati membantu kalian beristirahat."sembari menepuk-nepuk bahu petugas bergantian. Berbalik dan segera berlalu dari sana."Aku sudah mengirimkan data-data ruang kontrol ke markas."
"Ya, sudah kuterima. Sekarang pergilah ke ruang pusat. Lurus di depanmu lalu berbeloklah ke kanan, setelah itu kau akan menemukan ruang pusat."
Sirius mengikuti instruksi yang diberikan DK. Setibanya di ruang pusat, ia menilik keadaan ruangan tersebut dan mendapati sekitar lima orang berada di ruangan itu. Selagi memperhatikan, ia juga men-zoom kamera di kacamatanya agar DK di seberang sana bisa membaca situasi.
"Aku akan membuat peralihan, sementara kau perlu menyelesaikan semuanya dalam waktu lima menit."suara DK terdengar, yang langsung dimengerti Sirius. Ia bergegas menjauhi pintu dan bersembunyi, sementara tak berapa lama kemudian alarm entah dimana berbunyi nyaring dan lima orang di dalam ruangan itu langsung bergegas menuju sumber suara. Sirius segera keluar dari tempat persembunyiannya, untuk kemudian masuk ke dalam ruang pusat. Sama seperti saat di ruang kontrol tadi, Sirius meretas sistem keamanan dan juga menanam sebuah alat penyadap data ke semua komputer yang ada di sana. Setelah selesai dengan itu, ia langsung keluar. Membiarkan sisa pekerjaannya dilakukan oleh DK.
"Aku sudah meretasnya. Sekarang kau sudah tahu bukan, apa yang harus kau lakukan?"Sirius berjalan santai meninggalkan gedung perusahaan Jung Company.
"Itulah sebabnya kau menyuruhku melakukan sedikit perubahan pada profilku, ya?"DK terkekeh geli saat akhirnya mengetahui maksud perintah Sirius siang tadi.
"Kau berpikir dengan lamban, Do Kyungsoo."Sirius mencibir main-main. "Mission complete, over."
"Yes, mission complete, accepted."
-
"Yak, brengsek! Kau tidak bisa membatalkan kontrak seperti ini, sialan!!"Jung Daehyun memekik tidak terima saat setelah Sirius mengatakan langsung untuk membatalkan kontrak, tidak lagi melalui rekannya, DK.
Di ujung sambungan sana, Sirius tengah terkekeh kegelian. "Aku bebas melakukan apapun jika batasku kalian sentuh, Sajangnim."ujarnya kemudian. "Kau tahu, kau melanggar dua batas, dan aku tidak pernah bisa memafkan itu."nada suaranya berubah mendingin.
"Sepertinya temanmu lupa memberitahumu, ya?"Daehyun mencoba memberi ancaman tersirat, namun Baekhyun sama sekali tidak terpengaruh. Ia malah tertawa meremehkan.
"Sepertinya temanku lupa memberitahumu kalau aku orangnya itu seperti apa, ya"Baekhyun menirukan ucapan mantan klien-nya dengan ringan, seolah sengaja memancing amarah CEO perusahaan Kontruksi itu.
"Aku akan benar-benar menghancurkanmu, Sirius!"Daehyun menggeram murka, dengan tangan yang sudah mengepal erat di sisi tubuh. Sepertinya kali ini ia sangat marah.
"Aku benar-benar menantikan saat dimana hari itu tiba, Sajangnim.."
"Secepatnya, Sirius. Kau harus diberi pelajaran karena sudah berurusan dengan orang yang salah."
"Oh, sebaiknya katakan itu pada seseorang yang lebih dulu bermain licik terhadapku."
Daehyun begitu murka, apalagi setelah mengatakan itu Sirius langsung mematikan sambungan. Semua benda-benda yang ada di atas meja berhamburan di lantai, bahkan vas bunga berharga ribuan dollar, tak luput dari amukan amarahnya. Pecahan kaca, dokumen berhamburan dan segalanya tidak lagi terusun dengan baik. Daehyun merasa sangat dihina, belum lagi kenyataan bahwa ia terancam kalah dengan musuh abadinya. Dokumen perencanaan dari perusahaan Shim yang seharusnya bisa ia pegang malam ini, juga nyawa lelaki itu yang seharusnya habis bahkan belum sempat matahari terlihat, menjadi berantakan. Penyebab utamanya karena Sirius membatalkan pekerjaannya. Ya, karena pesuruh sialan itu.
Lama larut dalam amarahnya, sambil berpikir untuk mancari cara membalas perbuatan Sirius, Daehyun akhirnya mendapatkan ide. Ia segera mencari ponselnya diantara kekacauan di dalam ruangan itu, setelahnya langsung menghubungi Sekertaris pribadinya.
"Lakukan saja seperti rencana sebelumnya."Daehyun langsung berkata demikian saat sambungan terhubung.
"Bagaimana dengan keterlibatan Sirius, Tuan? Bukankah ia masih belum menyetujuinya?"
"Dia tetap tidak akan melakukannya, jadi lakukan saja rencana pembunuhan Shim Youngjae secepatnya." Daehyun menjeda ucapannya dan menyeringai licik. "Dan kita perlu seseorang sebagai perlindungan. Gunakan Sirius untuk posisi itu, kau mengerti?"
Sekertaris Kim ikut tersenyum miring di seberang sana. "Aku sangat mengerti, Tuan. Kau akan segera menerima kabar baik lusa nanti."
Daehyun mengerutkan dahinya, merasa tidak puas dengan jawaban Sekertarisnya itu. "Aku ingin kabar baik itu sampai padaku besok malam, Kim Yoochul. Harga diriku hancur gara-gara bocah sialan itu! Tidak bisakah kau mengerti itu, huh?!"
Sekertaris Kim sempat dibuat terkekeh geli, namun ia tetap menyanggupi permintaan Bosnya itu. "Tentu, aku akan melakukan apapun perintahmu, Tuanku."
-
Langkah yang tergesa itu mendatangi meja kerja sosok pemuda tinggi yang masih sibuk larut dalam mimpinya. Sebut saja lelaki yang tengah tertidur itu Chanyeol. Nama lengkapnya adalah Park Chanyeol. Dia adalah seorang polisi yang tergabung dalam divisi penyelidikan. Kata lain dari penjelasan itu adalah Chanyeol seorang detektif. Umurnya menginjak angka dua belakang akhir dari kepala dua, untuk lebih mudahnya itu adalah angka 28. Chanyeol memulai pekerjaan yang dulunya sangat ia anggap keren sampai sekarang sejak lulus sekolah menengah atas. Dia lebih memilih memasuki akademi kepolisian daripada harus melanjutkan jenjang pendidikannya hingga tahap Universitas. Padahal dia adalah sosok yang cerdas, sangat disayangkan untuk banyak hal mengenai alasan pemuda itu memilih kepolisian. Namun kini, setelah hampir lima tahun menggeluti pekerjaan itu, Chanyeol menjadi jenuh dengan semuanya. Pergi ke TKP untuk menyelidiki sebuah kasus, mencari bukti, mengintrogasi tersangka, menjamin perlindungan bagi saksi, dan menganalisis semua informasi menjadi sebuah jawaban untuk sebuah kasus. Begitu-begitu saja, ah ya, sesekali Chanyeol akan menggunakan pistolnya untuk menembak pelaku yang berusaha kabur.
Kembali lagi pada topik awal, sosok setengah baya yang tidak lain adalah atasan pemuda itu—sebut saja namanya Choi Siwon, melangkah dengan derap kaki yang cepat menghampiri Chanyeol dan tidak lupa untuknya mendaratkan sebuah geplakan menggelegar ketika ia sampai di kubikel milik bawahannya itu.
"Yak, appo!"Chanyeol bersungut ketika dia menemukan Siwon pertama kali saat membuka mata. Sebelah tangannya masih sibuk mengelus-elus kepala, meredakan rasa sakit yang membuat wadah untuk otaknya itu seakan tertimpa sekarung beras.
Siwon hanya menatapnya datar.
"Apa kau tahu kalau pada akhirnya Sirius membunuh seseorang, eh?"Siwon memiringkan wajahnya, menelisik wajah si idiot Chanyeol yang bahkan masih mengusapi kepalanya.
"Mana aku ta—Yak, hyung apa maksudmu?!"Chanyeol membesarkan diameter matanya, dengan pandangan yang menatap lurus pada Siwon.
Kepala divisi penyelidik itu hanya tersenyum miring sembari melempar sebuah dokumen di meja anak buahnya itu. "Yang namanya sebuah kejahatan, pasti akan berujung pembunuhan, Chanyeol. Aku meyakini itu. See, terbukti dengan kasus Sirius. Si pengantar tolol itu hanya menunda tindakannya, pada akhirnya ia tetap akan membunuh seseorang."
Chanyeol bergeming, ia lebih memilih membuka dokumen kasus pembunuhan CEO perusahaan Kontruksi yang sejak dua tahun terakhir ini mulai dicurigai melakukan tindakan protistusi dengan memanfaatkan saham yang ia tanam di Agensi Entertainment, lalu menyanggupi semua keinginan trainee yang ingin debut cepat, dengan satu syarat; mereka mau membuka lebar paha mereka untuk memuaskannya. Namun sepertinya banyak media yang memilih bungkam atas banyak alasan untuk kasus itu, entah karena banyak dana yang mengalir untuk menutup mulut mereka, atau juga banyak kesepakatan lain yang sama-sama menguntungkan. Seperti halnya Agensi yang membuat skandal baru yang diberikan ekslusif untuk awak media dengan syarat mereka mau menutup mata atas kecurigaan dugaan protistusi. Well, sederhananya masyarakat lebih menyukai kebohongan daripada hal yang masih berupa dugaan.
Chanyeol masih bergeming, sangat tidak masuk akal sekali, si Pesuruh Sirius itu melakukan pembunuhan, pikirnya.
Berdecak sekali sebelum akhirnya ia buka suara. "Hyung, rasanya tidak mungkin.."gumamnya pelan.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Chanyeol-ah."Siwon menukas ringan.
Chanyeol masih belum percaya, bahkan ketika di selembar akhir dokumen matanya terpaku pada simbol yang selalu ada jika Sirius mencuri sesuatu—dan kali ini pun simbol itu ada, ia masih merasa berat hati untuk percaya.
Apa benar akhirnya Sirius membunuh?
Tidak ada jawaban pasti untuk tanya itu..
-
Tayangan berita dari televisi di depan sana, mampu membuat seorang Byun Baekhyun menggeram marah dengan kepalan tangan yang mulai mengeluarkan darah segar— setelah sebelumnya ia meninju tembok untuk melampiaskan emosi. Kyungsoo yang berada tak jauh darinya, memekik kaget melihat aliran darah segar yang menetes dari tangan sahabatnya itu. Langsung saja ia mengambil kotak obat dan menarik Baekhyun untuk duduk tenang di sofa.
"Si brengsek itu!!"Baekhyun masih saja menggeram marah, bahkan kini mulutnya mengeluarkan bunyi gemeletuk dari gigi-giginya yang bergesekan karena menahan luapan amarahnya.
"Baekhyun-ah, tenanglah! Kita harus berpikir jernih di saat seperti ini."Kyungsoo dengan telaten membersihkan luka lecet di sekitar punggung tangan Baekhyun sebelum membalutnya dengan perban.
"Tapi, Kyungsoo-ya.. SI KEPARAT BRENGSEK ITU MEMPERALATKU!!"Baekhyun berteriak keras. Mengabaikan sepenuhnya rasa sakit di tangannya, seolah itu tidak seberapa dengan perlakuan licik Daehyun untuk menghancurkannya.
Kyungsoo mendesah frustasi, ia menutup kotak obat dengan kasar sebelum manatap lurus kearah Baekhyun. "Aku tahu, Baek. Aku tahu kau sangat marah saat ini.. Tapi kau harus bisa mengendalikan emosimu, agar kau bisa berpikir jernih."
"Kyung, aku akan membalas mereka bagaimanapun caranya."Baekhyun mendesis berbahaya.
"Tentu saja, dan aku juga akan membantumu."Kyungsoo menyahut cepat untuk memaku perhatian Baekhyun padanya. "Sekarang hanya dengarkan aku baik-baik, Baekhyun-ah. Karena untuk saat ini yang harus kita lakukan adalah menyusun rencana dengan baik. Kematian Shim Youngjae begitu menarik perhatian publik, kita tidak bisa melakukan tindakan gegabah dan perlu rencana yang matang untuk membalas Daehyun. Kematian bajingan itu karena kau, setidaknya publik berpikiran begitu. Kita harus membersihkan namamu, dan itu tidaklah mudah. Semua orang di luar sana sedang mengutukmu karena sudah membunuh sosok malaikat mereka, kau tahu bukan bagaimana bagusnya image bajingan itu di luar sana?"
"Aku tidak membunuh siapapun, Kyungsoo-ya.."Baekhyun menyela tidak terima.
"Arra, Baekhyun-ah. Arra. "Kyungsoo menukas gemas. "Baiklah, ayo kita tambahkan kata 'dituduh' agar kau tidak protes lagi."sembari memberikan ralat dengan tambahan memberi gestur membentuk tanda kutip.
Baekhyun tersenyum tipis, ada sebentuk lega dalam benaknya saat terpikir olehnya— setidaknya ia tidak sendiri menghadapi masalah sialan ini. "Intinya kau dituduh melakukan pembunuhan. Meskipun identitasmu tersembunyi tapi tetap saja kita masih belum bisa tenang, karena akan ada banyak pihak yang tidak akan tinggal diam dengan kasus ini. Mereka akan berusaha sangat keras untuk mengungkap identitas pembunuh Shim Youngjae bagaimanapun caranya."
"Kau benar, terutama sekali Choi Siwon dari kepolisan pusat yang pastinya akan sangat bergembira dengan adanya kasus ini. Dia akan semakin gencar mencariku, hingga mungkin akan melakukan apapun demi bisa membalas perbuatanku waktu itu."Baekhyun kembali mengingat kejadian dua tahun lalu, dimana saat itu Choi Siwon dari kepolisian pusat yang tergabung dalam divisi penyelidikan nyaris menangkapnya namun harus rela gagal karena Baekhyun lebih tangkas untuk kabur dari penangkapan. Mereka sempat terlibat perkelahian, dan Choi Siwon berakhir babak belur dan ditemukan oleh anak buahnya dalam keadaan pingsan. Ia tertawa kecil saat mengingatnya.
"Harga dirinya pasti hancur lebur saat itu, Baek."Kyungsoo menambahkan dengan kekehan geli.
Baekhyun mengedik bahunya, dan mengalihkan topik pembicaraan ke tempat seharusnya. "Yang harus kita lakukan lebih dulu adalah mencari pembunuh sebenarnya, setelah itu memberi pelajaran untuk Jung Keparat Daehyun."
"Itu akan sulit,"Kyungsoo menyahut cepat.
Baekhyun mengernyit bingung, dan Kyungsoo tahu akan hal itu. Ia memutar laptop agar Baekhyun bisa melihat apa yang menjadi alasan kata sulit itu ia ucapkan.
"Aku tidak menyangka kalau ternyata mereka selicik ini."Baekhyun malah terkekeh kegelian saat mendapati foto TKP pembunuhan dan di sana terdapat simbol yang selalu ia tinggalkan saat beraksi, rasi bintang Sirius. Entah bagaiamana mereka melakukannya, yang jelas mereka sudah sangat membuat Baekhyun murka dengan sengaja memfitnahnya melakukan pembunuhan, terlebih lagi sudah menggunakan simbol kebanggaannya untuk melakukan tindakan pembunuhan— sesuatu yang amat dibencinya. Sirius, siapa yang tahu kalau rasi bintang itu sangat berati banyak untuknya? Tak hanya berupa sebuah simbol, apalagi nama rasi bintang itu ia pakai untuk nama lainnya. Arti dari Sirius sendiri lebih dari itu. Bagi Baekhyun yang sudah sejak lama terperosok dalam kegelapan, rasi bintang itu adalah harapan untuknya. Rasi bintang paling terang, paling jelas, juga merupakan yang paling indah diantara rasi bintang yang lain. Setidaknya meskipun hidupnya seperti malam yang sunyi; gelap dan sepi, ia tetap berharap suatu saat nanti diberi kesempatan untuk menjadi sosok yang menerangi. Well, ia tidak menampik jika kalian mengatainya sok naif, tapi terlepas dari apa yang menjadi pekerjaannya, Baekhyun benar-benar berharap dirinya bisa menjadi sosok seperti rasi bintang Sirius. Maka dari itu ia benar-benar akan marah jika ada orang yang mempergunakan simbol rasi bintang Sirius untuk sebuah tindakan tidak manusiawi, seperti halnya membunuh.
"Well, tapi bagaimana caranya kau mendapatkan dokumen kasus ini?"keningnya berkerut bingung, bahkan kini netranya menyorot lurus pada sosok Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum penuh arti. "Dari seseorang yang berada di kepolisian."
"Informanmu, ya?"tebakan Baekhyun tidak sepenuhnya salah, sebab Kyungsoo akan menambah status orang itu setelah atau bahkan sebelum kata informan itu sendiri.
"Dan juga kekasihku."
Baekhyun melotot tidak percaya, ia bahkan sampai harus menggumam sumpah serapah sebagai bentuk ketidakpercayaannya.
"Kau berhutang penjelasan padaku, Do Kyungsoo.."
Kyungsoo mengibas tangannya, enggan perduli. Alih-alih segera memutar lagi laptopnya dan membuka sebuah profil seseorang dari kepolisian.
"Baiklah, ini hanya sebentuk informasi tambahan karena bukan hanya aku yang merasa kalau kasus ini adalah sebuah ketidakadilan. Terserah kau ingin mempergunakannya atau tidak."Kyungsoo kembali memutar laptop menghadap Baekhyun. "Orang ini bernama Park Chanyeol, kau bisa membaca sendiri profil datanya. Dia berada di Divisi penyelidikan, di bawah bimbingan Choi Siwon. Menurut informasi yang kudengar, ia begitu menyangkal tuduhan Siwon dan bersikeras kalau kau tidak akan membunuh seseorang."
Baekhyun membaca sebentar data pribadi orang yang bernama Park Chanyeol itu, sebelum menanggapi ucapan Kyungsoo. "Entah bagaimana mengatakannya, orang ini begitu konyol? Atas dasar apa ia meyakini, bahkan bersikeras kalau aku tidak akan membunuh?"
Kyungsoo mengedik bahunya, tanda ia juga tidak mengerti dasar pemikiran Chanyeol. "Katanya lagi, dia bahkan mengambil alih kasusmu demi bisa membuktikan kalau kau tidak bersalah dalam kasus ini."
"Aku tidak tahu harus berterima kasih atau mengatainya bodoh."Baekhyun bergumam dengan pikiran yang sudah menerawang akan sosok Chanyeol.
"Setidaknya itu akan berguna, menurutku. Kau bisa memanfaatkannya, bukan?"
Baekhyun mendelik karena perkataan sahabatnya itu. "Aku tidak pernah memanfaatkan orang lain hanya untuk kepentinganku, Kyungsoo-ya."
"Bukan yang seperti itu, Baekhyun-ah. Pikirkan saranku tadi seperti ini, kau mencari bukti untuk membuat kau terbebas dari tuduhan pembunuhan ini, dan kau tidak berpikir untuk memberitahukan bukti yang nantinya kau dapat kepada publik secara langsung, bukan? Atau mendatangi kantor polisi atau Kejaksaan untuk menyerahkannya? Secara tidak langsung ingin memberitahukan pada aparat yang memburumu, kalau kau adalah Sirius. Itu konyol, dan sangat tidak masuk akal!"
Baekhyun terdiam, larut dalam pikirannya.
"Katakanlah kalau kalian saling membantu, kau membantunya membuktikan kalau Sirius bukanlah pelakunya. Dan untukmu, identitasmu akan tetap aman."
Kepala Baekhyun terangkat, pandangannya lurus menatap Kyungsoo dengan senyuman penuh artinya. "Well, daripada saling membantu seperti seorang pengecut, kenapa tidak langsung saja bekerja sama dengan turun tangan?"ia bertanya, lebih kearah gumaman yang mengiyakan asumsi di pikirannya.
"Apa maksudmu?"Kyungsoo tahu—ah atau bisa disebut menebak, apa yang ada dipikiran Baekhyun adalah sesuatu yang pasti akan terdengar tidak masuk akal.
"Siapkan data pribadiku, Kyung. Aku akan masuk ke sarang musuh secara langsung."
Kyungsoo yang masih tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan sahabatnya itupun, menggeleng keras seraya bersedekap dada, juga mata yang memicing lekat menatap sosok yang duduk di seberangnya. "KAU GILA YA? APA MAKSUDMU SEBENARNYA, SIALAN?!!"
Baekhyun sempat terkesiap kecil karena teriakan yang tidak terduga itu. "Hei, kau mengatai temanmu sendiri gila, ya?!"protesnya tidak terima.
"Kau memang gila, dan juga sinting!"
Baekhyun menghela nafasnya, berusaha keras untuk tidak tersulut emosinya mendengar Kyungsoo meneriakinya dengan sumpah serapah. "Hanya bantu aku menyiapkan data pribadiku, Kyungsoo. Jangan membuatku marah dengan teriakan mengerikan, penuh kata umpatan darimu itu."
Kyungsoo ikut-ikutan menghela nafasnya, meredam emosinya yang kian meledak karena ia merasa begitu buruk, sebab tidak bisa mengerti maksud pemikiran sahabatnya itu. "Katakan padaku rencanamu, Byun Baekhyun."katanya dengan suara yang lebih tenang.
"Aku akan masuk ke kepolisian, mungkin sebagai magang untuk membantu Chanyeol mencari bukti. Bagaimana menurutmu?"Baekhyun bertanya antusias.
"Terserah kau sajalah, Byun Baekhyun. Kubilang tidak setujupun kau pasti akan tetap melakukannya, bukan?"Kyungsoo menunduk, memijat keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
"Maafkan aku, dan juga terima kasih, Kyungsoo."Baekhyun tersenyum tulus.
Kyungsoo mengangkat kepalanya, sedikit merasa aneh dengan sikap Baekhyun. Tidak biasanya anak itu meminta maaf, apalagi sampai berterima kasih. "Aku tidak mengerti maksudmu."gumamnya pelan.
"Lakukan permintaanku tentang data pribadi, setelah itu aku akan melakukan semuanya sendiri. Pergilah berlibur dan kembalilah setelah masalah ini selesai."Baekhyun merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dua tiket menuju Paris. "Ambil ini, dan ajaklah Jongin sekalian. Aku merasa begitu buruk karena terus menjadi penyebab kalian gagal berlibur bersama ke Paris."
Kyungsoo benar-benar terkejut karena Baekhyun tahu mengenai Jongin. Kekasihnya yang bekerja sebagai polisi di bagian yang sama dengan Chanyeol, juga di bawah bimbingan Choi Siwon. Selama ini ia berusaha menutupi hubungannya yang sudah berlangsung tiga bulan, ia hanya takut Baekhyun akan marah karena ia mengencani seseorang dari kepolisan, terlebih anak buah Choi Siwon. Tapi menyaksikan sendiri Baekhyun meminta maaf dan menyodorkan dua lembar tiket pesawat padanya, membuatnya merasa begitu tersentuh. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca sekarang. "Baekhyunaa.."
Baekhyun tahu semuanya, dari alasan Kyungsoo menyembunyikan hubungannya sampai pada setiap malam sahabatnya itu selalu berteleponan ria dengan kekasihnya. Ia merasa senang karena Kyungsoo sekarang memiliki seseorang yang bisa membuatnya bahagia, terlepas dari pekerjaannya yang mengharuskannya banyak menghabiskan waktu berada di dalam ruangan. Biar bagaimana pun, di atas segalanya, kebahagiaan Kyungsoo lah yang paling penting.
Ia terkekeh geli saat lagi-lagi Kyungsoo memanggilnya dengan menggelikan. Itu tandanya pemuda yang duduk di seberangnya itu merasa tersentuh. "Hanya lakukan permintaanku, Kyungsoo-ya."katanya kemudian.
"Aku tidak akan pergi kemanapun, Baek. Aku akan bersamamu melewati masalah ini."Kyungsoo berujar serius.
"Tidak, aku akan meliburkanmu kali ini."Baekhyun buru-buru menyanggah Kyungsoo. Kesetiaan sahabatnya itu benar- benar patut diacungi jempol.
"Tapi—"
"Ambil itu, atau aku akan merobeknya sekarang juga."tidak ada cara lain, ancaman adalah pilihan terakhir untuk membuat Kyungsoo menuruti ucapannya.
"Fine, tapi selalu hubungi aku kapanpun kau butuh bantuan, setuju."Kyungsoo meyodorkan kepalan tangannya.
Baekhyun tersenyum sebelum mebawa kepalan tangannya—saling mengikat janji tak kasat mata, namun selalu lebih kuat dari perjanjian tertulis sekalipun, dengan kepalan tangan Kyungsoo. Itu merupakan satu dari sekian banyak cara mereka mengungkapkan bahwa ikatan yang terjalian diantara mereka itu sangat kuat, melebihi apapun. "Call."sambutnya.
"Aku akan menyelesaikan data penyamaranmu besok, Baek."
Baekhyun menggeleng tegas. "Tidak, bukan identitas samaran yang akan aku gunakan kali ini."
Kyungsoo tersedak air liurnya sendiri, merasa sangat tidak percaya. Dan untuk membuktikan asumsi pikirannya, Kyungsoo memilih bertanya. "Lalu?"
"Aku akan menjadi diriku sendiri, Byun Baekhyun."
Diameter mata Kyungsoo yang sudah lebar, menjadi tambah lebar mendengarnya. Baekhyun benar-benar sudah gila, pikirnya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan—karena menentangpun akan menjadi salah. Baekhyun itu keras kepala, ingat? Kyungsoo menghela nafasnya lalu mengangguk. "Kau akan mendapatkan apa yang kau mau besok siang."
—
Hdyt?
Hanya bisa berharap kalian suka dengan ini, hehew.
Action itu menyegarkan, you know?
Kalau ada kesalahan, baik dalam tulisan ataupun dialog, harap kasih tau aku yaa..
Review juseyo~
