Chapter 2


Sehun itu tidak pernah menangis, tidak pernah tertawa kecuali dengan Jongin atau bundanya. Sesekali dengan Chanyeol jika suasana hatinya sedang baik.

Pernah sekali dia menangis, tapi sendiri. Saat cintanya ditolak mentah-mentah sama teman sekelasnya semasa SMA. Namanya Sejeong.

.

.

"Se, mau ngga jadi pacar ku ?"

"Lurusin dulu deh muka lo pake setrika"

Sakit tapi tak berdarah.

"Tapi muka ku ga kenapa kenapa ?" itu Sehun ngomongnya polos

"Lu sadar ngga sih hun ? muka lu tuh lempeng banget kek jalan tol. Gue ga bisa pacaran sama yang beginian. Karena lo tahu, hidup gue ga seputar gue aja. Gue punya temen, punya keluarga. Dan pasti bakal hujat gue karena punya pacar yang kaku"

"Tapi gue tampan"

Bener kan ?

Sehun memang tampan

Tapi kenapa malah Sejeong ngelempar dia pakai plastik bekas teajus ?

.

Lalu Sehun sadar, dia sudah ditolak. Kenyataannya dia trauma, dan efeknya sampai sekarang. Dia jadi anti sosial, anti komitmen, kecuali dengan Jongin. Komitmen sebagai sahabat dari Sekolah Dasar. Jongin tidak pernah menghakimi apapun tentang Sehun. Dan Jongin tidak pernah menghianati komitmen mereka.

-oOo-

"Hun ?" Sehun menoleh dan mendapati Namjoon, ketua BEM berjalan ke arahnya. Membawa map berwarna biru.

"Apaan bang ?"

"Kasih ke divisi konsumsi, itu daftar menu buat hari ketujuh sama malam inagurasi"

"Kenapa ga lu aja sih ?" gini nih ga demennya Namjoon sama Sehun. Giliran marah-marah ke adek tingkat aja bisa nyambi jabatannya. Tapi pas disuruh handle job Namjoon beneran malah nolak.

"Tolongin, gue ada bimbingan"

Sebelum berbalik arah ke ruang Divisi konsumsi, sebelumnya Sehun membuka map yang baru saja berpindah tangan kepadanya. Sebentar, dia berkedip-kedip. Membaca dengan teliti. Tidak ada tulisan makanan sama sekali, yang ada malah kata-kata puitis dan ditujukan untuk….

"Bang ?"

"Apaan lagi sih"

"Lu suka Hoseok ya ?"

Dan seketika itu Namjoon tersandung tali sepatunya sendiri.

"Eh.. eh, siniin itu map!"

"G. ga bisa! Jawab dulu!" Sehun menyembunyikan map nya di belakang badan. Terus menghindari Namjoon yang menggapai-gapai dirinya.

"IYA! PUAS!"

Disini yang terkejut bukan Sehun, tapi malah Namjoon. Ternyata bocah muka datar itu bisa juga ketawa ?

"Akhirnya terciduk juga lu. Gitu selama ini lu ngatain gue sama Jongin pacaran. Sendirinya malah fans Hoseok diam-diam"

"Lu bisa ketawa juga ?" Sehun celingukan. Ini napa jadi dia yang diintrogasi ? kan ceritanya Namjoon yang keciduk.

"Out of topik banget sih anda. Jangan ngalihin pembicaraan"

"Oke itu map ketuker sama map pribadi gue. Sekarang lu tuker dulu. Map satunya ada di meja. Gue janji bakal cerita tapi sekarang gue ada bimbingan. Pak Park bisa murka kalo gue telat."

"Janji ya lu! Awas aja bohong" Namjoon mengangguk dan berbalik arah setelah mengikat kembali tali sepatunya.

-oOo-

Hari ini masih hari ketiga masa ospek untuk mahasiswa/i baru. Dan itu masih lama menuju malam inagurasi di hari kedelapan. Dan itu melelahkan banget, sumpah.

Untuk Sehun kegiatan semacam ini malesin banget sebenernya. Andai saja Jongin ngga nyeret dia, ditambah Jimin yang neror dia setiap hari karena komdis butuh banget sosok seperti Sehun. Kejamnya ngga setengah-setengah. Alias total.

"Heh kamu! Hari ini harusnya rambut dikuncir tiga buat yang cewe. Terus kenapa itu cuma dua?" maba yang sedang makan roti di tangga langsung tersedak karena suara Sehun yang datang tiba-tiba.

"Maaf kak" Sehun ngerampas roti yang masih tersisa di tangan gadis itu. Kemudian membuang dengan kejam ke dalam tong sampah.

"Lari enam kali dan jangan istirahat sebelum saya ngasih ijin"

Mahasiswi baru dengan badan yang mungil itu hanya menunduk dan berjalan ke arah lapangan. Lapangan kampus mereka sangat luas. Jadi Sehun hanya memberi hukuman enam kali putaran yang dihitung berdasarkan. 3x2 = 6. 3 untuk total hari ospek sekarang, dan 2 untuk jumlah kunciran di rambut anak itu. Memang aneh Sehun ini.

"Keterlaluan banget sih lo!" ini Jongin. Ngga tahu dia datang darimana dan sejak kapan. Yang pasti sekarang dia berdiri dengan murka di depan meja Sehun yang sibuk menyusun laporan untuk divisinya.

"Apanya ?"

"Ke ruang medis deh lo sekarang. Gue tunggu disana, itu juga kalo lo laki!"

"Kenapa sih Jong! HEH SIALAN!"

Sehun masih bingung dengan situasi macam apa ini. Melihat Jongin yang tidak memperdulikan panggilannya membuat dia ikut berlari ke ruang medis.


TBC