PikaaChuu dan Park In Jung (dengan tidak tahu malunya) mempersembahkan:

WORLD OF MINE

.

Chapter 1


Start of Flashback

.

.

Croire.

Deskripsinya, sebuah negeri imaji di mana Dewa Langit dianggap sebagai Tuhan oleh penduduknya. Dunia di mana apa yang kita inginkan bisa tersaji. Sebuah tempat istimewa di mana tiap figurnya memiliki talent tertentu. Sesuatu seperti menciptakan besi-besian, memelihara flora-fauna unik sesuai khayalan, memainkan angin, terbang, dan apapun yang kau bayangkan. Imajiner tapi nyatanya terealisasikan.

Ada golongan khusus yang bersayap, banyak tinggal di dekat raja sebagai kelompok kepercayaan. Abdi Raja. Ketika ada bocah berumur tiga tahun ditumbuhi sayap, maka ia bisa saja tinggal di istana bersama keluarga raja. Terutama yang memiliki talent kuat atau menguasai sihir, bisa mengendalikan apapun elemen bumi.

Manusianya akan berumur panjang di sana. Selama kekuatan mereka masih bersarang di dalam tubuh, mereka bisa saja abadi.

Maka di sinilah terciptanya kekuatan yang berunsur keserakahan.

Dan manusia tetaplah sosok penuh nafsu. Hasrat ingin berkuasa tentu tetap tertanam dalam nurani. Jadilah muncul figur terlingkupi aura gelap yang pada dasarnya bisa menyerap keahlian milik sesamanya. Tentu saja, tidak ada yang namanya kenyamanan begitu sang penjahat muncul.

"Biar kukurung ia di bawah lautan terdalam."

Namjoon, pemimpin Croire yang pertama berhasil menyegel jauh dari hiruk-pikuk negerinya. Kembali, tentram dan aman didapatkan oleh penduduk Croire. Mereka semua menikmati hiudpnya dengan penuh tawa hingga banyak tahun ke depan.

Croire.

Hanya berbatas selapis langit dari bumi, yang jauhnya tak kentara. Cukup terjun turun dari ketinggian 3.600 meter dari langit seraya mengucap sebaris mantra, maka penghuni Croire sudah dapat memijak tanah bumi. Hanya dua sosok terkuat di negeri yang bisa melintas pulang-pergi dari dan ke bumi. Namjoon dan Yoongi, dua figur negeri yang dipandang sangat berpengaruh. Namjoon dengan kehebatannya mengurung Taehyung, serta Yoongi yang menjadi gudang untuk segala macam mantra.

Pada masanya, dua puluh enam tahun yang lalu, Dewa Langit menitipkan seorang putra pada Namjoon. Bayi yang segera diberkahi keahlian memainkan putaran waktu, sementara normalnya penduduk negeri tersebut baru akan mendapat talent setelah empat bulan lahir.

Istimewa, memang.

Dan hal menakjubkan itulah yang membuat kehancuran Croire makin mendekat.

Terlarut dalam kebahagiaan lahirnya sang pangeran pertama, tak ada yang tahu jika nun jauh di kelebatan hutan tak terjamah, seseorang ikut tersenyum mendengar beritanya.

Taehyung, narapidana negeri yang menjadi sumber kecemasan tiap orang. Sosok yang memiliki paras tampan sempurna diberkahi tubuh tinggi layaknya ksatria.

Warna manik matanya tergolong indah, hijau cerah sewarna rumput-rumput muda yang didapatinya setelah menyesap aura kehidupan tunas-tunas tersebut. Dengan warna itu ia bisa saja membawa kedamaian hati melalui mata jika saja pandangannya tidak menusuk tajam. Cukup sekali tatap maka tubuh lawan bisa meremang ngeri. Surai perak menyalanya tertutup jubah kulit yang membalut tubuh. Jubahmenjuntai itu berwarna gelap kelam, faktanya menggambarkan sosok yang mengenakannya. Entah hati dan juga aura yang melingkupi Taehyung, suram serta mengintimidasi.

Pria itu sedang duduk nyaman di ketinggian, bersandar pada satu batang pohon raksasa. Ia tersenyum kala mendengar desir udara yang berisik, membawa suara-suara penduduk Croire yang bersorak-sorai merayakan kelahiran pangeran.

Tiba-tiba seekor Gagak Raven seukuran burung elang menghampiri, bertengger di ujung kaki Taehyung. Kepala bergerak mengajak tuannya bicara dalam diam.

Satu alis Taehyung terangkat begitu mendapati kabar meyakinkan dari peliharaannya. Karena itulah kekehan senang menguar. "Ah, benar pengendali waktu rupanya."

Taehyung meloncat turun, membuat gagak legam itu terbang kaget. Ia benarkan letak penutup kepala, lalu membawa dua tangannya ke belakang tubuh. Langkahnya santai tanpa beban, menelusuri setapak hutan dengan boot selutut melindungi telapak kaki.

"Bukankah Dewa Langit itu jelas-jelas memihakku? Ia menitipkan pangeran istimewa pada Namjoon sementara aku sudah berhasil keluar dari segelnya." Ia berucap riang walau sangat yakin gagaknya tak mengerti apapun.

Hewan-hewan tidak akan pernah mengerti apa yang manusia katakan baik tuannya sekalipun. Mereka hanya mau bicara jika gerbang telepati terbuka.

"Jadi, apa aku harus menyapa Namjoon malam ini?"


"Jadi, sudah kau beri nama?" Namjoon masih asik menggendong putra pertamanya sejak satu jam lalu.

Ia di kamar, mengacuhkan kursi takhta sejenak guna menemui istrinya, Seokjin.

"Panggil anakmu Jimin." Senyum tak kunjung hilang dari wajah Seokjin. Ia mendekati Namjoon yang berdiri di dekat jendela, menjulurkan dua tangan untuk meminta Jimin dari sang ayah.

Tapi Namjoon menggeleng, kemudian berucap. "Sebentar lagi."

Seokjin mendengus saja. "Sudah menemukan penggantiku, ya. Mulai lebih mencintai Jimin?"

Mendengarnya, Namjoon tergelak. "Umurnya baru sehari dan kau sudah cemburu? Lihat Jimin, seseorang cemburu karenamu~" Satu jari telunjuk Namjoon mengusap-usap pipi berisi anaknya.

Seokjin tidak pernah tahu Namjoon bisa semenakjubkan ini. Ia tahu suaminya memang sosok penyayang, peduli, penuh wibawa sebagai seorang pemimpin negeri. Namun rasa-rasanya aura-aura kasih sayang dan melindungi jadi tampak lebih kentara kala Jimin hadir semalam.

"Aku tidak boleh menggendong Jimin, hm?" Seokjin mengeluarkan nada merajuk. "Kau kembalilah ke ruang utama."

"Mengusirku?" Walau begitu, Namjoon mengalah. Pada akhirnya ia menyerahkan pangeran kecilnya juga.

Sebuah ketuk pintu terdengar, disusul suara seseorang yang sangat dikenalnya. "Tuan, bisa aku masuk?"

Dua sosok di kamar itu sempat beradu tatap sebentar. Begitu Seokjin mengangguk, Namjoon baru memberi respon. "Masuk saja." Dan ia menjulurkan satu tangan, membuat pintu berat itu terbuka dengan suara decit samar yang agak menggema.

Pria itulah yang biasa dipanggil Yoongi, sosok yang paling dipercaya Namjoon setelah Seokjin. Pria tangguh dengan wajah serta aura tenang itu adalah orang pertama yang mengajukan diri sebagai tameng raja. Maka Namjoon tanpa banyak pertimbangan akan selalu percaya dengan kata-kata Yoongi.

Tidak sedikit yang heran dengan pembawaan kalem tangan kanan sang raja ini. Dia terlalu tenang, hampir tidak pernah bicara juga. Gambar wajahnya sulit dibaca karena tatapan mata Yoongi sulit ditebak. Maniknya merah menyala, sewarna api yang dikuasai. Membara.

"Jadi, ada apa?"

"Taehyung di sini. Sudah sampai di perbatasan desa." To the point. Ini yang paling disukai Namjoon. Yoongi akan menyampaikan apapun padanya dengan singkat, padat, dan jelas ke intinya.

"Taehyung!?" Baik Namjoon maupun Seokjin, keudanya sama-sama terkejut. Sudah berapa lama terakhir nama itu didengungkan?

"Segel bisa terlepas?" Seokjin beralih meletakkan Jimin di tempat tidur.

Diam, Namjoon berpikir. Satu-satunya cara Taehyung lepas yaitu menghimpun kekuatan untuk mendobrak segelnya. Lalu dari mana?

"Taehyung bisa menyerap kekuatan dari manapun. Kecil kemungkinan untuk lepas jika hanya mengumpulkan energi dari ombak dan hewan laut. Tapi bukan tidak mungkin juga." Yoongi memaparkan.

Namjoon menghela nafasnya berat. Ia kalut. Tak ingin ada kehancuran lagi. Tak ingin sejarah suram itu terulang lagi.

"Ayo ke sana." Finalnya.

Namjoon memasang jubah ke punggung, lalu menatap Seokjin barang sebentar. Lagi, ia hela nafasnya. "Tunggu di sini. Jika keadaan makin parah, kau tahu apa yang harus dilakukan?"

Seokjin mengangguk, lalu menepuk dua bahu kokoh Namjoon. "Kau pernah menghadapi Taehyung. Singkirkan ia kali ini."

Sebuah anggukan mantap tercipta, dan Namjoon meninggalkan ciuman singkat di dahi Seokjin sebelum terbang keluar. Sempat Yoongi menatap satu tuannya yang diam menggigit kuku ibu jari.

"Tuan Namjoon kuat. Ia bisa melindungi kita semua." Setelahnya, tanpa menambahkan penenang apapun ia melebarkan sayap dan menyusul sang tuan.

Seokjin harap memang begitu.

Walau nyatanya harapan tinggal angan-angan.

Namjoon tidak pernah tau Taehyung bisa berubah segila dan secepat ini. Dalam rencananya, melewati jalan pintas akan lebih cepat untuk sampai ke perbatasan dan ia hanya perlu melawan Taehyung di sana, berdua dengan Yoongi. Pada intinya membentengi desa, jangan sampai Taehyung masuk.

Namun sesampainya di tempat, ia hanya disuguhi mayat-mayat prajurit istana. Tubuh mengering, mengeriput, seolah dihisap habis cairannya.

"Sialan!" Yoongi mengumpat.

Ia tahu Taehyung bisa membunuh orang dengan menyerap kekuatannya hingga habis. Namun sesingkat ini?

"Lihat, dia lebih dulu melukai mangsanya. Baru menyesap kekuatan. Itu lebih efektif dan cepat karena tak ada serangan berarti yang diterima Taehyung." Namjoon menunjuk luka sayat di leher pada tubuh mayat prajuritnya.

Yoongi salah perhitungan. Yang ia tahu, Taehyung hanya bisa mencuri talent orang lain sejauh-jauhnya dalam jangkauan satu kilometer. Itu sebabnya ia mengirimka orang dengan skill petarung jarak jauh. Ternyata berbeda.

Segesit mungkin mereka bergerak menyusul Taehyung. Namun suasana sepertinya lebih mendukung pria kejam itu. Di desa sedang ada perayaan lahirnya pangeran, tentu hampir semua orang berkumpul di lapangan pusat. Maka akan sangat mudah bagi Taehyung untuk menjatuhkan serangan dan perlawanan.

Namjoon bisa melihat bagaimana gerombolan warganya berteriak kacau. Ricuh. Kembali ia mendapati pemandangan tak mengenakkan, persis seperti waktu lampau.

Pemandangan bagaimana Taehyung membunuh seseorang disertai seringai kejam lagi-lagi terpampang nyata hadapan Namjoon. Tak peduli dengan aura gelap yang menguar dari tubuh sekarat di bawahnya, tanda kekuatan sang korban keluar dan masuk melalui telapak Taehyung. Taehyung menyukainya. Ia sangat suka merasa tubuhnya dipenuhi berbagai macam kekuatan, seolah baru diberi makanan.

Kalut. Namjoon tidak bisa melawan Taehyung sendirian jika seperempat penduduknya sudah terkapar menyedihkan akibat hilanganya kekuatan. Tapi ia juga harus membawa penduduk Croire ke suatu tempat yang aman sebelum semua dibunuh Taehyung.

Ia tahu rencana pria tersebut. Akan lebih baik bila merebut semua energi warga biasa, baru melawan pemimpinnya.

Dan ia terpaksa membiarkan Yoongi kembali menemui Seokjin. Seokjin pasti bisa mencari tempat perlindungan dan menggiring orang-orang pergi ke sana. Ia cukup mengalihkan Taehyung untuk diam di tempat ini.

Yoongi mencari-cari Seokjin yang ternyata masih berada di kamar. Berjalan bolak-balik di samping jendela dengan tirai tertutup.

"Astaga, sudah kuduga kau akan kembali. Desa sangat kacau, benar?" Seokjin berteriak lega.

Yoongi mengangguk, ia melipat sayapnya. "Tuan menyuruhku-"

"Membawa penduduk, aku tahu. Sudah kuutus orang lain untuk mengurusnya. Mereka akan dibawa ke ruang bawah tanah dekat kaki gunung. Aku ada tugas lain untukmu."

"Ya?" Satu alis Yoongi terangkat naik.

"Bawa Jimin pergi. Tidak hanya Namjoon yang Taehyung incar, anak ini juga."

"Pangeran tidak diikutsertakan dengan para penduduk? Tuan Seokjin juga akan pergi ke sana, bukan?"

Seokjin menggeleng. Tangannya saling meremas gelisah. Seberapa kalipun mencoba tenang, ia tak bisa. Rasa-rasanya kacau. "Dengar, aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk. Yah, semoga saja tidak akan terjadi. Seperti katamu, Namjoon memang kuat."

"Kalau begitu-"

"Sementara Taehyung sendiri juga makin bertambah kuat." Seokjin menyela. Sejenak ia diam untuk menelan ludah yang entah mengapa jadi terasa pahit, baru melanjutkan. "Aku tahu banyak penduduk yang sudah mati gara-gara Taehyung di sana. Ia kembali menyerang Croire karena Jimin, aku baru sadar. Jadi, Yoongi, kau cukup lindungi Jimin. Sementara aku yang akan kembali ke tempat Namjoon."

"Aku harus membawanya ke mana?"

"Bawa ia ke bumi. Jimin akan lebih aman di sana, aku yakin. Taehyung tidak tahu mantra untuk turun dari Croire karena dia tidak bisa menguasai sihir sama sekali."

Yoongi mengangguk paham. Ia harus cepat melindungi pangerannya untuk kemudian membantu sang tuan melawan Taehyung.

"Ah satu lagi." Seokjin mengusap wajah kasar, agak tersendat ia berucap. "Seandainya… jika aku… jika aku tidak bisa menjemput Jimin lagi, kau yang menjemputnya, paham? Bawa dia ketika umurnya kau kira sudah genap untuk melawan Taehyung. Berjanji padaku."

Yoongi diam menatap Seokjin. Ia tahu itu, hal buruk memang bisa saja terjadi.

"Yoongi…" Desir suara Seokjin seakan sudah amat putus asa.

Begitu kepala Yoongi terangguk, Seokjin segera menggendong Jimin. "Tumbuh dengan baik, hm? Kami akan menunggu hingga kau kembali lagi." Ia berikan kecup panjang di dahi dan dua pipi putranya. Selajutnya menyerahkan ke Yoongi yang dengan sigap menerima. "Kau tahu jalur hutan di sebelah barat akan membawamu ke tepi jurang? Ucapkan mantra dan masuk dalam portalnya begitu sampai sana. Fokus dengan tugasmu, jangan pikirkan aku dan Namjoon. Ia akan sangat berterima kasih untuk ini."

Segeralah Yoongi terbang rendah memasuki hutan. Bisa saja ia terbang di atas pepohonan, namun itu terlalu ambil resiko jika gagak peliharaan Taehyung melihat. Tak peduli beberapa sayapnya agak tergores, Yoongi tetap menerjang.

Begitu sampai pada tepi jurang yang dimaksud, Yoongi berhenti. Ia belum pernah turun ke bumi sama sekali. Tak tahu bagaimana bentuk dunia satu itu. Tapi tetap ia tahu bagaimana cara keluar-masuk dari Cloire ke bumi.

Yoongi menghirup kemudian menghembus nafas. Begitu mengambil ancang-ancang, ia segera terjun turun seraya mengucap sebaris mantra yang kemudian memunculkan portal biru terang. Sayap Yoongi mengibas kuat, membawa ia menembus langit, turun hingga kakinya benar-benar menapaki tanah bumi.

Ia memandang sekeliling, mencari-cari tempat yang cocok untuk meninggalkan Jimin. Mata melalang buana, hingga menangkap sebuah rumah dengan satu jungkat-jungkit dan sepsang ayunan. Yoongi pernah melihat satu ayunan di Cloire, tepatnya di halaman belakang istana. Seokjin senang sekali menempatinya seraya melukis atau membaca sesuatu.

Mengingat itu adalah kesukaan Seokjin, maka Yoongi melompati pagar dan meletakkan sang bayi di atasnya. Ada banner panjang terpasang di atas pintu bangunan tersebut. Begitu memcingkan mata, ia bisa membaca kata 'Panti Asuhan' tertulis di sana. Melongok lagi ke arah pagar, rupanya ada palang besi dengan isi tulisan yang sama. Walau tak yakin ini tempat yang tepat untuk Jimin atau bukan, tapi ia berharap instingnya benar.

Yoongi berjongkok, mengusap lembut pipi putih Jimin. Mematai sosok mungil yang mulai menggeliat itu barang sekejap. Sebuah lengkung senyum terbentuk di bibir pria tersebut.

"Kau aman di sini, Jimin."

.

.

End of Flasback


-WORLD OF MINE-


Dua puluh enam tahun kemudian...

.

.

"Untuk kali ini, jangan membalikkan waktu lagi, Tuanku."

Pasang mata Jimin berkedip-kedip. Itu, apa maksudnya?

Yoongi menarik kembali kepalanya dari telinga Jimin guna menatap pria itu lebih jelas. Ia tangkup kedua pipi dari sosok yang dipanggilnya tuan dengan lembut, kembali bersuara. "Mari pulang, Tuanku."

Sejenak Jimin terhenyak ditatap manik merah terang sosok di hadapannya. Ada sepercik sengatan aneh yang mengagetkan. Dan itu cukup membuatnya kembali sadar hingga mendorong jauh tubuh tegap itu.

"Jangan meracau, aku juga ingin pulang jika bisa- oh astaga..."

Rasanya ia tersedak begitu melihat gambaran tak masuk akal. Di hadapannya, sama sekali tak ada yang bergerak. Jimin masih ingat berisik dan ramainya kepanikan tadi, namun kini semua sunyi. Layaknya patung, segalanya kaku. Seolah waktu diberhentikan.

Oh, dia jadi tak bisa membedakan ini bunga tidurnya lagi atau bukan.

"Kau bisa hidup jika pulang bersamaku." Pria asing itu mengalihkan atensi Jimin supaya kembali kepadanya.

Maka jika itu yang diinginkan, Jimin kini dengan berani beradu tatap lagi. "Siapa namamu?"

"Yoongi, Tuanku."

"Baik. Jadi, jelaskan mengapa aku harus ikut denganmu. Pulang? Ke pelukan Tuhan? Tidak perlu kau ajak, aku- ah tidak, kita semua juga akan segera pulang, Yoongi-ssi." Bibir Jimin bergerak cepat. Kembali ia panik. "Harusnya aku sudah bangun jika memang ini mimpi."

"Dengar, kau tidak akan mati di sini, Tuanku."

Dengan kasar Jimin mengusaik surainya, ada rasa emosi yang mulai muncul. "Ya, memang! Harusnya aku tidak mati sekarang jika ini benar mimpi."

"Sudah kubilang, kau tidak akan mati jika pulang denganku sekarang!" Yoongi menggertak, membuat pria bertubuh mungil di hadapannya mundur selangkah karena kaget.

Otak Jimin sedang kalut. Ditambah situasi konyol sekarang ini, rasa-rasanya ia tak bisa berpikir dengan benar.

"Lalu kau akan membawaku pulang ke mana!?"

"Kau bisa kembali lagi ke Croire. Banyak orang menantimu, Tuan." Yoongi lembutkan suaranya. Mungkin proses pembujukan Jimin tak akan sesukar perkiraannya.

"Apa lagi itu?" Ia berdecak.

"Croire membutuhkan kembali pangerannya. Kami harus mengakhiri penantiannya sekarang. Untuk itulah aku di sini."

Jimin bisa saja tergelak keras. Dongeng apa yang sedang dibeberkan oleh Yoongi saat ini? Namun diiming-iming dengan kata 'hidup' kala sedang dalam posisi di tengah-tengah kecelakaan layaknya sekarang ini, siapa yang tidak mau?

'Yah, setidaknya aku tidak akan mati dalam mimpiku sendiri.'

"Jadi, secara tidak langsung kau menyebutku pa-nge-ran? Dari Clorie? Chloe?" Dua tangan Jimin bertengger di dada, yang entah karena apa jantungnya berdetak dengan cepat.

"Croire. Aku bisa menceritakan banyak hal, tapi tidak sekarang. Tidak di sini."

Satu decakan lolos lagi dari lidah Jimin. "Kalaupun aku melawan bukankah kau tetap akan membawaku, Yoongi-ssi?"

Yang disebutkan namanya memiringkan kepala sebelum kemudian mengiyakan.

Jimin gigit ibu jarinya, kebiasaan jika ia memikirkan sesuatu. Membuat Yoongi gemas tak sabar. Tak dinyana juga, ia jadi terbayang sosok Seokjin. Kebiasaan mereka persis rupanya.

"Aku tak peduli kau mau atau tidak. Tuan, anda-" Titah itu terputus oleh ucapan Jimin.

"Oke. Aku bisa pulang ke sana, menyelamatkan negerimu. Dan aku… hidup." Sejujurnya itu lebih tepat disebut monolog daripada merespon kalimat Yoongi. Jimin tahu jika ada yang mendengar tuturannya barusan, ia bisa dipandang aneh, dianggap autis atau apa.

'Tidak ada mimpi yang masuk akal.' Terus saja ia meyakinkan diri. Mungkin berpetualang dalam bunga tidurnya sedikit lebih lama tak apa, bukan? Lagipula jika ia bangun nanti, maka semua selesai. Dan sungguh, dia tidak akan nekat menaiki pesawatnya lagi. Tuhan mungkin memberikan kesempatan kedua sekarang. Ya, pasti begitu. Tuhan memang baik, Tuhan menyayanginya.

"Kalau begitu, kita pergi sekarang."

Yoongi tarik satu tangan tuannya, namun ditahan.

"Sebentar, biar kuambil kameraku." Hendak berbalik, tapi Yoongi mencegah.

"Tidak. Benda kesayanganmu itu tidak akan ada gunanya di Croire, Tuan."

Jimin menepis tangan Yoongi yang menggenggam erat pergelangannya, menyipit menatap tajam sosok yang sudah melebarkan sayapnya itu. Ah iya, Jimin bahkan lupa sesaat jika Yoongi memiliki sayap. "Ibaratkan saja kamera itu juga hidupku. Sama saja aku mati jika tidak membawanya." Ia menyalak kesal, lalu berbalik ke kursinya. Mencari-cari ke mana benda kecintaannya itu jatuh.

Yoongi memijat sepanjang pangkal hidung.

Ia tahu jika Jimin menganggap semua ini mimpi. Tapi selama ia bisa membawa sang pangeran pulang, tak ada masalah. Hanya saja, agaknya berat mengurusi pria dua puluh enam tahun dengan sifat keras kepalanya itu kelak.

Begitu dilihat Jimin berhasil menarik sesuatu di bawah kursi, Yoongi dengan cepat menyambar tubuh kecilnya. Melingkarkan lengan di pinggan sang tuan, membawanya terbang untuk melewati lingkar portal setelah mengumandangkan mantra.

Jimin yang terkaget hanya menyembunyikan wajah di bahu kanan Yoongi serta menggaet erat leher pria itu. Tak peduli sedikitpun jika Yoongi merasa tercekik.

Begitu terpa kuat angin dirasanya berhenti menampar tubuh, Jimin baru berani mengalihkan paras. Ia mencoba lepas dari tubuh Yoongi dan berdiri tegak walau awalnya agak oleng.

Apa yang ditangkap matanya, membuat bibir membisu. Negeri yang dibilang Yoongi itu tak ada indahnya sama sekali. Gersang dan suram. Aura gelap rasanya berkeliaran di manapun, seolah berbaur bersama udara di sana, membuat tubuh Jimin meremang dan bergidik. Yang dilihatnya hanya warna-warna coklat rumput, pohon kering yang mungkin merintih, serta gumpal awan yang terkesan mendung. Dingin.

"Sudah berapa lama seperti ini?" Ia melirih. Ada rasa tak terima yang muncul dalam nurani ketika menatap kehancuran tersebut.

"Dua puluh enam tahun."

Dagu Jimin terangkat ketika matanya menelusuri puncak istana yang bisa dilihatnya. Dalam bayangan, Jimin kira ada satu atau dua penjaga yang berdiri di tiap balkonnya, seperti yang sering ditayangkan dalam film-film. Namun nyatanya kosong. Pengamatan Jimin lalu turun ke pemukiman yang sepi nyenyat. Tak ada orang satupun dan itu membuatnya mengernyit. "Di mana penghuni rumah-rumah itu?"

Yoongi menatap setapak bebatuan yang menjadi jalan desa. Sudah lama sekali daerah itu tak berpenghuni. Lalu apa yang Taehyung nikmati dari semua ini?

"Yoongi-ssi?"

Merasa dipanggil, ia menoleh. Bisa dilihat gurat prihatin di wajah manis pangerannya.

'Ah, kau benar-benar tumbuh dengan baik, Tuan.'

"Mereka semua tidak di sini."

Tepat setelah mengucapkannya, Yoongi mendengungkan sebaris kata-kata lagi. Membuat tanah di bawah pijakannya bergetar hingga bergerak turun. Jimin diam saja sembari merapatkan tubuh dengan Yoongi.

Tidak perlu waktu lama untuk tanah itu membawanya ke sebuah jalanan yang tampak panjang. Yoongi meloncat turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan dengan niatan membantu Jimin turun. Namun pria itu hanya memandangnya aneh dan menyusul turun sendiri. Yoongi kikuk.

Tanah tadi kembali naik, menutup lubang yang tercipta. Yang ada selanjutnya hanya kegelapan.

Belum juga Jimin menyuarakan protesan, Yoongi menggerakkan telapaknya. Satu per satu lentera yang digantung di dinding-dinding batu berkerlip. Jimin bisa menemui ukiran-ukiran abstrak di sana. Lalu aliran sungai sempit di kanan-kiri jalan juga bisa dilihatnya.

"Woah…" Jimin terkagum. Tanpa menunggu Yoongi, ia berinisatif mengambil langkah lebih dulu. Menyusuri jalan dari pahatan batu itu pelan-pelan. Di belakangnya, boot selututut Yoongi menggema tiap ia berjalan.

"Mengapa harus lewat bawah tanah?" Jimin mencoba memecah sunyi.

"Kau tidak boleh terlihat oleh gagak milik Taehyung. Lagipula semua orang ada di sana."

Jimin masih sibuk menikmati relief di dinding. Ia bisa menebak itu gambar hewan atau tumbuhan tertentu, tapi Jimin tak yakin. Pasalnya, bentuk mereka terlampau aneh. Dan itu memancing hasratnya untuk mengeluarkan kamera. Ia ingin abadikan itu walau hanya dalam lingkup mimpinya saja. Suara tangkapan foto berkali-kali didengar Yoongi, dan pria itu membiarkannya. Pada akhirnya seluruh benda yang ditemui tersimpan dalam memori kamera Jimin.

"Jadi, siapa Taehyung? Orang yang membuat kekacauan ini?"

"Hm." Hanya deheman yang Yoongi berikan.

"Tapi tampaknya dia tak cukup kuat untuk merebut takhta. Buktinya ia tak bisa menembus ke dalam tanah." Ada unsur nada mengejek dalam kalimat Jimin barusan.

Yoongi hanya tersenyum miring. "Kalau Taehyung tidak sekuat bayanganmu, maka Raja pasti bisa mengalahkannya, Tuan."

Hening.

Benar juga.

"Taehyung tidak bisa masuk menyerang kami di bawah tanah karena kubuat lapisan tamengnya. Aku tentu tidak semudah itu kalah di hadapannya." Yoongi menambahkan.

Jimin berhenti berjalan, lalu membalik badan. "Lalu? Kau ingin aku tepuk tangan?" Setelahnya kembali melangkah.

Yoongi terperangah. Sarkas sekali. Mampu membuatnya merasa agak malu. Ah, sial.

"Lupakan. Kau pasti hebat sekali, Yoongi-ssi." Suara Jimin kembali mengudara.

Yoongi mengusap leher belakang, rasanya justru makin aneh jika mendapat pujian.

Berikutnya hanya sepi yang mengiring langkah dua orang itu. Hingga akhirnya ada sebuah pintu baja menghadang. Jimin hanya diam di depannya. Mendadak, setitik gugup muncul lalu membengkak makin besar hingga tangannya mendingin.

"Di sini?"

Yoongi mengangguk. Ia sudah mengangkat tangan, hendak kembali mengucap mantra untuk membukanya. Hanya saja tangan Jimin menahan, membuat alis Yoongi bertaut. "Kenapa tanganmu berkeringat?"

"Aku harus apa begitu melewati pintu ini?"

"Cukup ikuti aku, Tuan." Dan tanpa melewatkan banyak waktu, Yoongi akhirnya membuka pintu tersebut. Dengan segera, Jimin memposisikan tubuhnya di belakang Yoongi.

Dari situ ia mengintip. Ada lapangan melingkar di tengah jajaran rumah. Itu terlihat seperti desa kecil. Bangunan yang ada didominasi dari kayu dan tanah. Jimin bisa melihat ada rumput atau tanaman yang tumbuh, tapi kurus sekali batang dan rantingnya. Udara di sana terbilang lembab walau lumayan hangat. Jelas tak ada cahaya matahari, mereka hanya mengandalkan pajangan api di tiap sudut.

Banyak pasang mata yang menilik dua orang di muka gerbang yang kini mulai tertutup dengan sendirinya. Ada jeda sejenak untuk semua orang berhenti beraktivitas.

"Aku membawa pulang Pangeran." Suara Yoongi dengan jelasnya menggema. Namun Jimin tak tahu apa artinya. Asing di telinga.

Gegap gempita memenuhi tempat tertutup itu. Sorak-sorai rendah tergabung, riuh. Seru-seru penduduk yang ada bercampur menjadi satu, membuat Jimin tak jelas mendengar apa yang mereka teriakkan.

'Aku harus apa? Melambai?'

Pada akhirnya ia hanya tersenyum canggung, dengan tangan di depan, saling meremas gugup. Suara-suara penyambut suka cita itu terdengar berdengung di telinga Jimin. Orang-orang makin banyak berkumpul, menumbuhkan rasa tak nyaman. Ia kembali mendekati Yoongi, lantas membisik. "Bisa bawa aku pergi dari sini?"

Yoongi mengangguk, mengatakan sesuatu yang lagi-lagi tidak Jimin tahu apa artinya. Mungkin meminta jalan lewat karena setelah Yoongi berseru, semua warga memisah menjadi dua kelompuk guna mebiarkan ia dan sang pangeran lewat.

Ada rasa senang dielu-elukan seperti itu. Namun juga tak memungkiri dominasi takut, cemas, dan khawatir. Baginya, ini terlalu nyata untuk dibilang fana. Terlalu asli untuk sekedar dikatakan bunga tidur malamnya.

'Jika memang ini mimpi… aku hanya perlu menjalaninya hingga terbangun. Ya, begitu saja.'

'Nikmati apa yang ada. Ini benar-benar hanya mimpi. Aku tak apa-apa.'

'Tidak akan ada hal buruk yang terjadi…'

'Ini hanya mimpi…'

'Iya… 'kan?'


-WORLD OF MINE-

TBC


Author's corner~

PikaaChuu : Yosh! Update~ Hai semua. Menyambut liburan, aku dan Park In Jung akhirnya membagikan chapter 1. Jadi, selamat menikmati~

Park In Jung : Aku benar-benar kagum dengan diksi kak Pika. Woaahh… kuharap kalian merasakan yang sama. Dan kali ini, aku yang akan membalas review kalian, maaf readers PikaaChuu. Jika kalian berharap akan dibalas dengan PikaaChuu… huahahahaha kalian salah, karena aku telah membajak akunnya. Huahahaha *evil laugh*

Balasan review :

InfinitelyLove, Yo kak, emang diksi kak pika itu terbaek lah… hehehe. Aku juga pada kakak kok, aku kan selalu mencintai kakak /kiss/ hohoho jelas, kami akan membuat yoongi sekeren aku kak /minta dihajar/

Gantosci, huwaa! Aku juga suka ganto! Heheh, iya ganto, ini kami fast apdet~

Soyu567, well… nyatanya prolog memang gak menjelaskan segalanya sih. Ini udah dilanjut yah~^.^

Puterisyrfn, nope, ini bukan Demon!AU. yang jelas ini berbeda dari yang lain, dan tentunya lebih keren. /ditabok PikaaChuu, 'jangan sombong lu njung'/

Hanami96, wkwkwk, aku memang cantik kak /tebar bunga/ dan yah! Fighting!

Reina Of El Dorado, wahh… panjang sekali kak Reina(?) apakah aku harus memanggilmu itu? Maaf jika kali ini aku yang membalas review mu dan bukan kak Pika… tapi hei, setidaknya kita berkenalan. Haha XD dan iya, aku selalu terpana dengan seluruh diksi yang dibungkus rapi oleh kak Pika, itulah poin utama dari seluruh ff nya. Yaitu tulisan yang menyentuh, kurasa kita sekapal dalam urusan menakjubkannya diksi kak pika. Wah, kakak TaeGi? Aku juga dulu suka sekali sama Taegi… sekarang malah fokus kek Yoonmin. Dan tentu saja aku akan mendukung kakak walau beda kapal dalam hal pair. Terima kasih dengan reviewnya kak ^.^

Chevalo, bunda, reviewmu selalu aneh yah perasaan….. /titiknya kepanjangan woi/ ini adalah cerita misteri pesawat berapi 212 /heh/ kukira bunda butuh asupan cinta aku bund /woi/

Jihooneys, makasih yah udah muji ff kami, dan iyap~ ini sudah lanjut~~

Avis alfi, ini lanjut koks… dan ff ini mungkin akan fast apdet. Ditunggu selalu yah~

Gasuga, aihh jadi malu kalu dipuji /merona/ heheheh. Ini udah lanjut yah beb~

Cluekey6800, wahhh… makasih loh udah mau nunggu. Thank u!

Park RinHyun-Uchiha, ne, sebelumnya itu beneran. Jimin kemampuannya adalah pengendali waktu. Hehehe.

Sugarydelight, ini udah apdet….

Yongchan, secakep mas yungi gak nih ff? heheheh.

ChiminsCake, *geleng geleng

Terima kasih udah review~

Review selanjutnya akan dibalas oleh PikaaChuu! Yeay!

Love an peace.