chapter 2
.
.
Pukul sembilan lebih lima, pemuda itu sudah telat.
Aliran listrik kasat mata menyengat seluruh tubuhnya untuk segera berlari menuju kamar mandi. Mulutnya mengeluarkan sumpah serapah untuk alarm yang seharusnya berbunyi 20 menit yang lalu. Lainkali dia akan mendengarkan ucapan temannya, mereka benar, setiap barang yang dia beli di toko paman Kang pasti akan berakhir menjadi sampah.
Selang beberapa menit berlalu, akhirnya pemuda itu keluar dengan pakaian yang rapih, dia berjalan keluar dari kamar, dan menuruni tangga dengan cepat.
"Jimin, kau bisa terjatuh." Pemuda itu tidak bergeming saat mendengar teguran sobatnya. Dia terlalu fokus memasang dasi di lehernya, berharap tutorial memakai dasi yang pernah diajarkan Yoongi –lima tahun yang lalu masih melekat pada otak cermelangnya.
"Jimin, makan makananmu." Pemuda itu tetap tidak bergeming, dia masih kesulitan menyimpulkan ikatan dasi di lehernya.
Dasi sialan.
"Hey! Kau mendengarku tidak?!" Pemuda itu menoleh tidak suka ke arah sumber suara, setelah Hoseok melemparkan beberapa piring –untungnya plastik kearahnya.
Hoseok sialan.
Jimin mendekati Hoseok dengan kaos kaki yang masih setengah terpasang dikaki kirinya, mulutnya mengeluarkan ringisan akibat rasa sakit yang disebabkan oleh kebrutalan dari –dia tidak sudi memanggilnya teman. "Aku datang."
Hoseok mencibir, "Cih, lambat." Jimin menggeram kesal, dia bersumpah ingin membunuh lelaki berwajah panjang itu sekarang.
"Apa bangs-"
"Menu hari ini roti bakar selai coklat." Hoseok meletakan makanan alternatif anak desa ke kota –selain ramen instan didepan sobatnya."Sebaiknya kau telan dulu sumpah serapahmu untuk hari ini."
Jimin menatap makanan didepannya tidak minat. Menatap roti bakar hangus khas Hoseok yang tertampang indah di depan manik hitam miliknya. Kulit hitam eksotis roti itu tidak cukup menggoda lambungnya.
Jimin tertawa, "Roti Hangus? Kau bercanda?" Lalu menghentikan tawanya, "Tidak, terima kasih sungguh." Ucapnya datar. Pikirannya menimbang-nimbang, sepertinya kelas masak Seokjin akan cukup membantu Hoseok membuat makanan yang 'sesungguhnya' nanti. Dia harus mendaftarkan Hoseok.
"Kau tidak mau memakannya?" Tanya Hoseok.
Jimin mendorong pelan piring berisikan roti malang itu, senyuman manis terukir diwajahnya. "Buat anjing tetangga saja Hyung."
"Sebelum itu, anjing didepanku ini harus mencobanya terlebih dahulu." Hoseok membalas dengan senyum tak kalah manis.
"Sialan, tidak minat."
Hoseok memukul kepala Jimin dengan spatula ditangannya, "Setidaknya aku berbaik hati mema –Terserah lah!" Bentak Hoseok. Tangannya mengambil roti bakar itu dan membuangnya.
See, bahkan Hoseok juga tidak ingin memakan roti malang itu.
Jimin bangkit, berjalan mengambil mantel di sofa. "Belajar masak Hyung, Jangan mau kalah sama Seokjin Hyung." Badannya semakin menjauhi dapur yang sudah mulai terisi aura kebencian dari Hoseok.
Jimin memutar kenop pintu dan berseru, "Masak yang benar biar lancar jodoh, hyung." Suara tawa sepihak terdengar menggelegar di apartemen kecil itu.
Untung saja, sang pemilik suara sudah berada di luar pintu.
Dan Yah, untung saja, tubuhnya masih bersih dari pisau lemparan Hoseok.
.
.
Jimin melangkahkan kakinya didepan sebuah pintu besar. Matanya melirik kearah jam yang melingkar di tangan.
Pukul sepuluh kurang, syukurlah dia tidak telat.
Pandangannya dia edarkan mengitari halaman luas rumah besar ini. Jimin menarik salah satu ujung bibirnya, dia bertaruh, pemilik rumah ini pasti adalah sejenis orang kaya yang selalu dia lihat di drama kesukaan Seokjin.
Pemuda itu membayangkan betapa enaknya tinggal di rumah semegah puri –Jimin tidak berusaha melebih-lebihkan- seperti ini. Hingga tawa kecil keluar dari mulutnya, itu mustahil. Tinggal di apartemen kecil sewa an bersama sobatnya –hoseok sudah merupakan hal yang patut di syukuri bagi orang desa yang merantau ke kota besar seperti Jimin. Seharusnya dia menyadari hal itu dari awal, itu cuma angan-angannya yang tidak akan tercapai.
Suara dering yang bising berbunyi dari jam tangannya. Jimin mengalihkan pikirannya, dia mematikan dering tersebut dan kembali melihat jam.
Pukul sepuluh tepat, waktu janjian.
Jimin merapihkan jas yang dipakainnya. Dia tidak pernah merasa se-gugup ini sebelumnya, pemuda itu termasuk orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata. Perlahan tangannya terangkat dan mengetuk pintu besar itu berulang-ulang.
Ketukan terakhir berhenti, digantikan dengan suara pintu yang terbuka lebar.
Seorang wanita, wanita separuh baya namun cantik, berdiri di depan pemuda itu. Wanita itu sangat tinggi –ditambah dia memakai sepatu berhak dan itu yang membuat Jimin merasa terimidasi. Jimin sangat benci dengan keadaan dimana dia harus mengadahkan kepalanya untuk melihat orang lain. Mungkin dia masih mentolerir untuk sesama pria –dia mengakui tubuhnya yang cukup pendek untuk rata-rata tinggi pria dewasa. Dan mungkin dia hanya membenci lawan jenis yang melebihi kekurangan dirinya tersebut.
"Wawancara?" Tanya wanita itu, suaranya tegas layaknya seorang pemeran antagonis yang dia lihat -di pertunjukan drama Cinderella- kemarin.Pupil hitam Jimin membesar, semua hal dalam diri wanita itu sangat mengitimidasi.
"Iya." Wanita itu menaikan salah satu alisnya, sedikit terkejut. Jimin merutuki dirinya, seharusnya dia mengambil kelas tata krama Hoseok kemarin.
Kemudian Jimin mengulas senyum kepada wanita itu, "Iya Nyonya, saya ingin melakukan wawancara." Ralatnya dengan harapan bisa memperbaiki sikap maupun suasana, mungkin.
Mata wanita itu menyapu tubuh Jimin dari atas ke bawah. Jimin mengernyit samar merasa ditelanjangi. "Panggil saja Mrs. Kim." Wanita itu langsung membalikan badan dan meninggalkan Jimin yang masih setia di posisinya.
"Ah iya baik, Mrs. Kim."
Jimin melihat tubuh pemilik rumah yang semakin menjauh, dia bimbang untuk melangkahkan kakinya atau tidak. "Apa saya boleh masuk?" Seruan milik Jimin menggema di lorong panjang rumah itu. Pemuda itu kembali merutuki dirinya yang bersikap tidak sopan.
Tapi sepertinya sang pemilik rumah tidak menyadari seruan nyaring miliknya tadi, itu terlihat dari tubuh Mrs. Kim yang tetap –hampir lenyap dari pandangannya.
Tidak tahu harus melakukan apa, Jimin yang mempunyai jiwa nekat pun langsung masuk mengejar Mrs. Kim. Pemuda itu berusaha menyamakan langkahnya, hak tinggi wanita itu benar-benar memperlebar setiap langkah yang dia ambil.
Mrs. Kim memasuki ruangan besar berpintu kayu hitam. Ruangan besar itu tampak mirip seperti ruang keluarga dibandingkan ruang tamu untuk tamu seperti Jimin. Mrs. Kim mendudukan dirinya di sofa dekat perapian, matanya bergerak mengisyaratkan kepada pemuda yang sedari tadi mengikuti dirinya untuk duduk. Jimin menangkap isyarat itu, dan mulai mengambil posisi duduk di depan Wanita itu.
"Namamu pria muda?" Pertanyaan Mrs. Kim memecahkan keheningan.
Jimin tersenyum, "Nama saya, Park Ji Min." Tangannya mengambil sebuah map dari tas dipunggungnya, dan menyerahkannya kepada Mrs. Kim.
Sementara Mrs. Kim membolak-balik map berisi dokumen-dokumen, diam-diam Jimin melayangkan pandangan di ruangan itu. Semula dia pikir bagian rumah ini akan seperti museum, semua serba antik dan berkelas. Tapi ternyata rumah ini lebih mirip rumah-rumah pada umum nya, bernuasa coklat dan hangat. Ada lukisan-lukisan yang dia yakini berharga seratus kali uang kiriman yang ibu kirimkan setiap bulan dari Busan. Sementara wanita itu memeriksa lembar-lembar tersebut, Jimin bergerak-gerak gelisah dikursinya.
"Berapa usia anda?" Jimin berbalik menghadap Mrs. Kim.
"Dua puluh dua."
Mrs. Kim mengangguk pelan, "Anda terlalu muda untuk seorang sarjana psikologi, Mr. Park." Raut wajahnya tergolong sangat datar untuk bisa ditebak, Jimin tidak bisa menebak-nebak apakah wanita itu tertarik dengan dirinya atau tidak.
"Kata mom dan dad, aku ini jenius sejak lahir." Terang Jimin, suaranya penuh dengan rasa percaya diri khas miliknya. Tetapi wajah Mrs. Kim tetap tidak menunjukan ekspresi apapun.
Hanya anggukan singkat yang didapatnya, "Tingkat kepercayaan dirimu cukup tinggi." dan Mrs. Kim menutup map ditangannya. Rasa percaya diri itu menguap cepat dan Jimin pun kehilangan rasa percaya dirinya, tingkahnya cukup berani sekaligus bodoh untuk sepantaran orang melamar kerja seperti dirinya. Dia menunduk, sepertinya dia tidak akan berhasil.
Mulutnya mengguman mengerti, "Baiklah Mrs. Kim." Pemuda itu sudah mulai bersiap untuk berdiri meninggalkan ruangan, sebelum Mrs. Kim kembali berkata, "Hobby?" Jimin melebarkan matanya. Wawancara ini belum berakhir?
"Ah, saya mempunyai banyak hobby." Jimin kembali duduk, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, "Sekarang saya sedang menggemari kegiatan memancing." Tangannya menggaruk tengkuknya gugup.
Mrs. Kim mengerutkan dahinya, "Memancing ikan? Di danau?"
Jimin menggelengkan kepalanya, "Bukan." Dia berpikir keras, bukankah di seoul tidak memiliki danau?
"Bukan?" Wanita itu masih mengerutkan dahinya.
"Iya, tapi di game." Kerutan itu memudar, "Game komputer." menghilang sempurna dari dahi mulus wanita itu.
"Yeah, begitulah." Jimin tersenyum mengiyakan ucapannya. Selanjutnya, pemuda itu merutuki dirinya sendiri, benar kata Hoseok, itu adalah hobby bodoh untuk orang bodoh.
"Anda menyukai olahraga?" Tanya Mrs. Kim, tatapannya makin mengitimidasi. Jimin bergidik ketakutan.
Pemuda itu berusaha membasahi tenggorokannya yang kering. "I-iya aku, aku menyukai olah-olahraga." Tatapan mrs. Kim berhasil memakan habis semua suaranya.
"Olahraga dalam game komputer, bukan?" Nadanya meremehkan dan cukup menohok Jimin. Bermain game komputer tidaklah begitu buruk, bukan?
Pemuda itu menggelengkan kepalanya, "Dilapangan lebih tepatnya." Jimin memikirkan jawabannya kembali, mungkin dengan sedikit berbohong dia akan menaikan kualitasnya dimata wanita berpupil menyeramkan itu.
Sorot tatapan Mrs. Kim juga menjelaskan hal itu.
"Satu lagi. Anda menyukai alam terbuka?" Mrs. Kim memicingkan matanya. Hah, pertanyaan yang gampang.
"Iya." Jimin mengeluarkan senyum lebar layak dirinya seorang petualang sejati, "Aku lebih menyukai tempat tidurku-" Gerakan mulut Jimin terhenti. Bagus, kebohongannya hanya dapat bertahan selama 10 detik, dia benar-benar panutan anak suci dari semua perbuatan buruk –jika kegiatan umpat mengumpatnya ditendang dari daftar itu.
Wanita itu menaikan kedua alisnya, meminta keterangan.
"Maafkan aku, tapi, aku berbohong." Jimin menyerah, "Menurutku bermain game komputer lebih menyenangkan dibandingkan terkena panas matahari. Karena aku tidak terlalu menyukai alam terbuka, bukannya aku tidak suka, aku suka tapi tidak suka." Jimin melirik takut, Mrs. Kim ingin lebih. Mulutnya mulai terbelit.
" Aku lebih suka berada didepan layar komputerku, atau tidak, aku lebih suka melakukan segala sesuatu didalam ruangan. Bukannya aku seorang pemalas, sumpah –aku rajin tapi aku memang tidak pernah berniat keluar dari ruangan." Dia menghentikan mulutnya sebelum mulai meracau tidak jelas. Dia masih memiliki rasa malu di depan calon atasannya ini.
Kedengarannya payah bagi Jimin. Orang macam apa yang datang untuk wawancara perkerjaan dengan jawaban seada ala kadar sepertinya tadi. Dari ekspresi wajah Mrs. Kim, sepertinya dia juga berpikiran begitu.
Jimin hanya pasrah, dia sudah siap menghadapi hal terburuk selanjutnya.
"Baiklah, kuharap anda termasuk orang yang menyenangkan," Mrs. Kim berdiri, dia mengakui kepayahan pemuda itu. "Kau bisa mulai sekarang."
Jimin melebarkan matanya, "Apa? Apa aku diterima?" tiba-tiba wajah Hoseok menangis berenang-renang di otaknya. Membayangkan pulang ke apartement milik mereka dengan wajah bahagia mendapatkan pekerjaan bernilai beratus-ratus ribu won rasanya menakjubkan. Sudah tentu Hoseok yang usianya berpaut satu tahun lebih tua darinya akan merasa terluka mendengar hal ini, mendengar dia dikalahkan oleh bocah ingusan yang tidak tahu arti kebersihan itu apa. Sebaiknya Jimin membantu Hoseok mencari pekerjaan nanti.
Mrs. Kim mulai berjalan dari tempatnya. "Jam-jam kerjanya cukup lama –jam tujuh pagi sampai jam lima sore, kadang bisa lebih lama. Ada istirahat, jika dokter pribadinya datang untuk memeriksanya." Dan akhirnya keluar dari pintu. Pergerakan Mrs. Kim yang tidak terduga, membuat Jimin kembali mengejarnya.
"Anda akan menjadi perawat pribadi anakku." Mrs. Kim memberikan Jimin sebuah map untuk dirinya, sebuah map besar dengan tulisan bertuliskan 'data pribadi' didepannya. "Dia memiliki penyakit yang cukup umum, tapi beberapa tahun terakhir penyakitnya kurang bisa meyakinkan -untuk hitungan penyakit yang umum."
"Anda harus menjaga dan mengurusi dia. Dia anak yang agak-" Mrs. Kim berbalik menghadap Jimin, "-susah diatur."
Pemuda itu mengangguk mengerti.
"Tenang, aku mempunyai sepupu nakal berumur tujuh tahun. Jadi aku juga yakin bisa mengatasi anak Mrs. Kim." Keringat dingin keluar saat Jimin mengingat, Chim, sepupunya. Anak itu memiliki tubuh kecil dan otak dewasa yang sempurna di badannya, semakin banyak kenakalan dan kejahilan yang dilakukan anak itu, Jimin semakin yakin bahwa masa depan anak itu akan dipastikan berkutat didunia kriminal dan tetek bengeknya –Jimin mendapat jeweran dari bibinya saat dia mengutarakan pendapatnya itu. Dia berdoa agar anak sang majikan tidak lebih buruk dibandingkan sepupunya.
"Benarkah?" Sekarang mereka telah berdiri di depan pintu lain di dalam rumah ini, Mrs. Kim membuka pintu.
Jimin mengangguk setengah pasti setengah enggan. "Tentu saja, aku sangat berpengalaman. Aku ahli dalam segala macam hal yang berurusan dengan kata 'mengasuh'. Aku bisa menyuapi makanan, mengajak bermain, dan memandikan-" Pintu itu terbuka menampilkan dua orang lelaki dewasa yang menatap pintu terbuka dari ruangan, "-bayi." Jimin mengedarkan pandangannya sebentar, melenceng dari ekspetasinya, disana tidak ada satu orang pun anak-anak.
Jimin mencari keberadaan anak kecil yang mungkin sedang bermain hide and seek, atau luput dari matanya -lagi. "Yang disebelah dokter itu, anakku." Penjelasan Mrs. Kim memberikan jawaban untuk Jimin.
Pandangan Jimin tertuju kearah pemuda disamping pria yang err-cukup tampan menjadi dokter itu. "Kukira akan ada anak kecil berumur tujuh tahun yang meninjuku..." Cicit Jimin, sekali lagi ditegaskan, ini benar-benar melenceng dari ekspetasinya.
"Aku bisa meninjumu, kalau kau bersedia." Pemuda disamping dokter itu menyeringai ke arah Jimin. Jimin bersumpah, seringaian pemuda itu berkali-kali lipat menyeramkan dibandingkan seringaian sepupunya ketika otaknya berkerja sempurna menyusun rencana-rencana licik.
Seringaian itu menyadarkan sang pemuda. Ini sama saja seperti Jimin yang sukarela masuk kedalam mulut buaya.
Seringaian pemuda (merangkup atasannya) itu bertambah lebar, "Bagaimana dengan ciuman, hm?" Tanpa sadar Jimin memundurkan langkahnya.
"Bisa jaga ucapan didepan perawat barumu?" Tegur Mrs. Kim dan mendapatkan reaksi kaget yang terlihat sangat dibuat-buat dari sang anak.
"Wow, aku terkejut." Jimin mengiyakan ucapan pemuda itu, dia juga cukup terkejut mendapati dirinya yang harus mengurus pemuda berbadan dewasa dengan mental sepupunya itu. Pemuda itu beralih menatap Jimin, "Kau kuat minum alkohol?"
"Taehyung, kau mendengar mom?" Mrs. Kim menatap anaknya tajam, sebagai ganti Jimin yang ingin juga menatap tajam sang majikan barunya.
Pemuda itu mendecakkan lidahnya, Dia menunjukan daun telinganya dan berkata. "Aku masih punya telinga, belum tuli." Siulan kecil terdengar dari belah bibir tipis itu, "Aku hanya bercanda."
Mrs. Kim menghela nafas, "Okay Mr. Park, ini anakku, Kim Taehyung." Jimin menampilkan senyum sekadar untuk sopan santun, pemuda itu tak mengacuhkannya.
"Dan Taehyung, ini perawat barumu, Park Jimin." Pemuda itu tak mengacuhkannya, Jimin tetap menampilkan senyum manisnya.
"Semoga kalian bisa cepat akrab. Baiklah, sampai jumpa."
Mrs. Kim pergi. Mereka semua diam sambil mendengarkan bunyi langkah-langkah kakiknya yang menghilang di ujung koridor, menjauhi ruangan ini.
Jimin memecahkan keheningan, dia melambaikan tangan dan tersenyum riang kepada Taehyung. Reaksi biasa seperti dia menghadapi sepupu dan keponakan kecilnya saat natal tiba. "Hai Taehyung-ah, namaku-"
"Aku sudah tahu." Taehyung memotongnya cepat.
"-ah baiklah." Jimin mengakui, itu adalah sebuah kalimat bodoh untuk memulai percakapan.
"Dan jangan bertingkah seperti itu lagi. Aku yakin mom membayarmu bukan untuk menjadi seorang babysister seorang lelaki dewasa sepertiku." Jimin langsung mengatupkan mulutnya, mentalnya terluka mendengar ucapan kejam majikannya itu. Berbeda dengan Jimin, dokter disebelah pemuda itu malah tertawa mendengar ucapan pasiennya.
"Hey Taehyung, sepertinya kau harus menjaga ucapan didepan perawat barumu." Dokter itu memasukan peralatan kedalam tas besarnya, "Mr. Park terlihat ketakutan." Dokter itu menoleh kearah Jimin, dan kembali tertawa.
"Perawat baru? Kau bercanda?" Mata Taehyung menyelusuri seluruh ruangan, "Aku hanya melihat kau dan diriku, dokter Kim." Sialan.
Tawa sang dokter tidak terbendung lagi. Jimin menggeram, bisa-bisanya Taehyung mempermalukan dirinya dipertemuan pertama mereka.
"Kalau begitu dia malaikat yang kasat mata." Jimin tersipu mendengar kata 'malaikat' yang terlontar dari sang dokter, perasaannya sedikit membaik.
Perasaan itu hanya bertahan sementara sebelum, "Dia hantu." Celetukan Taehyung membuat Jimin menggertakan giginya keras-keras.
Kalau begitu kau iblis!
"Cukup Taehyung, kau tidak mendengar suara gertakan gigi Mr. Park? Hahaha." Mendengar ucapan sang dokter membuat Jimin menghentikan gertakannya. Ini sebuah ujian.
"Saya duluan." Dokter berjalan mendekati Jimin –sebenarnya dia berjalan kearah pintu dibelakang Jimin, kalau saja Jimin tidak ke geer an-, dia menepuk pundaknya. "Semangat Mr. Park." Dan keluar dari ruangan.
Tinggal mereka –Jimin dan Taehyung yang terdiam menepati ruangan serba biru ini, Jimin tidak tahu harus berkata apa. Dia juga gugup saat mendapati pemuda didepannya terus menatap dirinya lekat, kepalanya menunduk dalam-dalam.
Beberapa menit berlalu, dan mereka masih nyaman di tengah-tengah kesunyian. Taehyung masih menatap Jimin lekat, dan Jimin masih menundukan kepalanya dalam-dalam. Imajinasi Jimin mulai berkeliaran.
"Hentikan pikiran bodohmu itu, aku tidak tertarik padamu." Jimin mendongakkan kepalanya, membalas tatapan Taehyung heran. Sebenarnya pikiran Jimin berisikan -apakah alasan Taehyung menatapnya karena mukanya yang mungkin terlihat kumel, atau apalah. Bukannya dia memikirkan hal yang barusan diucapkan olehTuan sok tau itu.
"Kau sok tau, Kim Taehyung."
"Jangan berbohong, Perawat baruku."
Jimin mendelik. Bohong? Bohong dari mananya? Yang tahu pikirannya juga cuma dia sendiri! "Aku tidak berbohong."
"Kau berbohong."
Sepertinya Taehyung benar-benar tuli, "Tidak Bohong."
"Bohong."
Dia memang tuli, "Tidak."
"B-O-H-O-N-G." Taehyung mengeja penuh ejekan.
Jimin menarik nafas panjang "A-K-U-T-I-D-A-K-B-E-R-B-O-H-O-N-G." Dan mengeluarkan nafas.
"Aku tidak berbohong, Kim sialan Taehyung. Aku tidak memikirkan kau, aku tertarik denganmu, aku hanya peduli terhadap diriku. Dan dengar yang punya pikiran itu aku, apa hakmu menebak pikiranku tuan?" Jimin merasa antara puas dan takut. Puas karena mengeluarkan semua amarahnya. Takut karena dia akan kehilangan pekerjaannya.
Taekhyung menatap Jimin dengan tatapan tidak terartikan, Jimin mengutuk mulutnya. Dia akan kembali menjadi pengangguran. Jimin membuka mulutnya kembali, "Maafkan aku, aku hanya terbawa suasana." Dia membungkukkan badannya dalam-dalam, lebih tepatnya agak bersujud. Jimin harus mengesampingkan harga diri demi tidak membuatnya dipecat dari pekerjaan yang baru super-singkat ini.
Dia tidak mau mendengar tawa mengejek hoseok nanti.
Taehyung membuka mulutnya, Jimin sudah menyiapkan mental. "Hah?" Ya, Jimin sudah siap.
"Kau bicara apa?"
Dang! Jimin berani bertaruh Taehyung memiliki masalah pada pendengaran.
"Heh, bodoh." Desis Jimin berani, dia yakin Taehyung tidak akan mendengar umpatannya."Kau mengumpat kepadaku?!" Dugaan Jimin meleset.
Jimin melambaikan kedua tangannya, "Bukan, bukan. Maksudku 'Heh, tampan' ya itu." Amit-amit.
Taehyung mengerjabkan matanya, "Oh ya? Terima kasih." Jimin menyesal, menyesal, menyesal. "Tapi kau juga," Sekarang giliran Jimin yang mengerjabkan matanya. Kau? Maksudnya Jimin? Taehyung mengakui dia tampan?
"Kau..." Jimin menangkap maksudnya, Taehyung ingin mengakui hal lain.
Imajinasi liar Jimin mulai berkeliaran kembali. "Kau..." Ulang Taehyung mengundang rasa penasarannya. Kau tampan? Kau ganteng? Kau menarik? Kau sexy? Uh?
"Kau..." Jimin semakin menjelaskan pendengarannya, barangkali ada satu dua kata yang dapat membuatnya senang keluar dari mulut Taehyung.
"Kau... Cie yang penasaran hahaha." Tawa Taehyung meledak.
"Bedebah!" Umpatan kembali mengalir dari bibir tebalnya, Jimin ingin memakan majikannya hidup-hidup. Dia sudah kenyang mendengar segala lolucon dan omong kosong pemuda didepannya itu. Dibilang dia terlalu terbawa suasana? Tidak peduli! Jimin tidak peduli. Dia disini untuk bekerja bukan untuk menjadi korban bully an majikannya.
Taehyung makin tertawa menjadi-jadi , "Sumpah lucu."
"Sumpah tidak lucu." Jimin menahan hasratnya untuk membunuh.
Taehyung tetap tertawa tidak memperdulikan ketidak sukaan yang tercetak jelas di wajah perawat pribadinya. Sampai tawa itu menghilang dan tergantikan dengan suara erangan keras yang keluar dari mulutnya. Taehyung memegang dadanya kuat-kuat, dan tubuhnya berguncang dengan hebatnya. Jimin menatap Taehyung jengah, lolucon macam apa yang sekarang dibuatkan khusus untuknya lagi, huh?
"Tolong, sakit, tolong!" Suara rintihan menyakitkan terdengar dikedua rungu Jimin, Taehyung berguncang dengan liar. Sepertinya ini bukan salah satu lolucon miliknya.
Jimin mendekati Taehyung yang bermandikan Keringat, dia bingung harus melakukan apa. "Apa, apa yang harus kulakukan?" Ekspresi kesakitan yang ditunjukan Taehyung membuat Jimin merasa semakin bersalah, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Jimin menghapus bulir-bulir keringat dari wajah Taehyung, "Ayolah apa yang harus kulakukan?" Dia ketakutan, Taehyung terus menerus mengerang. Jimin mengumpat, dia belum menyiapkan mentalnya untuk kehilangan sang majikan di hari pertamanya bekerja –jangan sampai ya tuhan.
Pikiran Jimin kosong sampai dia merasakan ada yang memegang pergelangan tangannya. Itu tangan Taehyung. "Panggil dok-dokter, argh!" Taehyung melepas pegangannya.
Sekali guncangan hebat pada tubuhnya, saat itu pula tubuhnya langsung berhenti bergerak.
Jimin panik,
dia langsung keluar, berlari mencari pertolongan.
tbc
RnR?
Spesial thanks buat yg dukung ff debut aku TT dukungan kalian bikin aku semangat loh makasih. maaf agak lama updatenya, soalnya file ini sempat kehapus, jadi maaf juga kalo setengahnya berisi cerita abal2 buatan mendadak lol. ini vmin kok taehyung sama jimin, tapi kayaknya ditengah tengah bakal ada penambahan tokoh
