Our Story

Title: Our Story (2/3)

Disclaimer:

-Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

-Plot © Akashitetsuya3

Main Cast: -Kuroko Tetsuya –Akashi Seijuurou

Other Cast: -Generation of Miracle (for this chapter) –Haizaki Shougo

Genre: Supranatural, Friendship, Sci-Fi

Rating: K+

Type: Fanfiction

Length: Three chaptered

Warning: OOC, Typo(s), AU, 1000% flashback

Notes: Chapter ini khusus milik sudut pandang Kuroko, yang menceritakan masa lalunya.

Dedicated for #1stAnnivKfIndo^^

Happy reading . . .

Kuroko's POV

One Year ago . . .

Kubuka mataku. Kulihat beberapa orang (?) melihat ke arahku. Kucoba menggerakkan tanganku. Kaku, begitulah sebutannya.

"Ah, Kuroko-kun. Akhirnya kau hidup!", ucap seseorang dihadapanku. Ia berambut coklat. Sepertinya Ia wanita, tetapi potongan rambutnya seperti pria.

"Ano… Kau siapa?", tanyaku.

"Ah, kenalkan. Aku Riko Aida.", balas wanita mengulurkan tangannya ke arahku.

"Riko-san, desu ka?", tanyaku lagi. Aku terlihat kebingungan saat Ia mengulurkan tangannya. Apa maksudnya?

"Ah, gomen. Aku lupa memberitahumu. Ini disebut jabat tangan, saat dimana manusia saling berkenalan. Mereka biasa saling menjabat tangan", terangnya.

"Jadi Riko-san manusia?", tanyaku. Ia menggeleng.

"Bukan, Aku robot. Sama sepertimu." Jawabnya. Oh, jadi Aku robot? Pantas saaj tubuhku terasa kaku.

"Riko-san, apa kau yang meembuatku?", Tanyaku lagi. Lagi-lagi Ia menggeleng.

"Bukan, Kau dan Aku dibuat oleh satu orang. Namanya Haizaki Shougo. Nanti suatu hari kau akan bertemu dengannya", jawabnya.

"Sou desu ka", balasku.

"Oh Iya, bukan hanya kau dan aku saja yang diciptakan. Ada juga teman robot yang lain. Mari kukenalkan!", ajaknya. Ia menarik tanganku. Dingin. Tetapi itu wajar.

Akupun berkenalan dengan mereka semua. Ada yang namanya Hyuuga Junpei, Ia berkacamata. Ada yang namanya Kiyoshi Teppei, Ia merupakan robot yang paling tinggi. Ada yang namanya Izuki Shun, Ia katanya memiliki eagle eye, karena itulah Ia menjadi robot yang berperan sebagai pengatur kami. Ada juga yang namanya Kagami Taiga, rambutnya berwarna merah.

"Hyuuga-nii chan, apakah disini ada yang seumuran denganku?", tanyaku suatu hari saat bersama dengannya.

"Jangan panggil Aku Hyuuga-niichan, Kuroko. Walaupun Aku lebih besar darimu, tetapi kita tidak bisa disebut saudara. Panggil saja Aku 'senpai'.", perintahnya.

"Hai. Jja, Hyuuga-senpai, apakah ada robot yang seumuran denganku disini?", tanyaku lagi.

"Ada. Kagami. Ia dibuat satu hari lebih dulu darimu. Jadi bisa dibilang kau seumuran dengannya. Kalau Aku seumuran dengan Izuki, Riko, dan Kiyoshi. Kami dibuat satu bulan lebih dulu dari kalian berdua", jawabnya.

"Sou desu ka", balasku.

Hari-hariku kulalui bersama mereka. Mungkin tidak dengan canda tawa, karena kami semua adalah robot. Kami tidak memiliki hati. Kami hanya bisa memasang ekspresi datar. Tetapi aku cukup menikmatinya. Kami berkembang pesat. Walaupun baru satu tahun menjadi robot, kemampuan dan kerja ku sudah setara dengan manusia yang berusia 16 tahun, sama dengan Kagami. Sedangkan Hyuuga-senpai, Izuki-senpai, Kiyoshi-senpai, dan Riko-senpai, mereka kemampuannya setara dengan manusia yang berusia 17 tahun.

Sampai akhirnya aku sadar. Seharusnya aku tidak 'terlahir' ke dunia ini . . . . .

Tidak, bukannya aku tidak boleh lahir. Tetapi aku lahir ditempat yang salah. Semua itu terjadi ketika suatu hari, Aku berjalan-jalan mengelilingi tempat tinggalku. Saat itu, kulihat Para senpai bersama dengan Kagami-kun tengah berkumpul disuatu ruangan. Ia menghadap seorang manusia yang berambut gimbal. Mungkin Ia yang namanya Haizaki Shougo-sama. Aku mencoba menguping percakapan mereka.

"Kau mengerti kan, Izuki? Kau harus bisa menyusun rencana ini." Ucap Haizaki-sama. Kulihat Izuki-senpai mengangguk.

"Kagami, Riko, Hyuuga, dan Kiyoshi. Kalian harus bisa menguasai cara menggunakan senjata itu", ucap Haizaki-sama lagi. Keempat orang itu ikut mengangguk.

"Kita harus bisa menghancurkan orang-orang FBI itu. Ia sudah banyak mengetahui rahasia organisasi kita", ucap Haizaki-sama. Tunggu, FBI? Apa itu?. Tetapi, Ia mengatakan 'menghancurkan'. Bukankah dalam dunia robot kita tidak boleh saling menghancurkan satu sama lain? Berarti… mereka jahat…

"Jangan lupa rahasiakan ini dari Tetsuya, Ia merupakan robot yang mampu mendeteksi perasaan negative. Ia pasti akan mencegah kita. Disamping itu, Ia sama sekali tidak memiliki kekuatan bertempur", sambung Haizaki-sama.

"Kuroko, kau jangan bersembunyi lagi. Aku tahu kau disitu", ucap Izuki-senpai tiba-tiba. Aku lupa! Ia memiliki eagle eye!

Aku segera berlari. Setelah lumayan jauh, Aku mengambil salah satu roket kecil milik mereka. Aku harus kabur. Harus! Akupun dengan iseng menekan tombol dengan tujuan Jepang. Aku kini tinggal di Jerman. Mereka memang berbeda bahasa. Tetapi, Aku adalah robot. Aku mungkin tidak memiliki daya tempur, tetapi aku menguasai banyak bahasa Asing. Roket itupun meluncur. Aku harus menyamar menjadi manusia! Akupun memakai wrist band untuk menutupi lilitan kabel-kabel ini.

Selama roket itu meluncur, Aku merenung. Ya, kasihan mereka. Mereka bukannya memiliki niat jahat. Tetapi, mereka dibuat oleh orang jahat. Dan satu lagi, mereka tidak memiliki hati. Mereka hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan oleh 'Tuan'nya. Maafkan Aku, minna-san. Maafkan Aku, Hyuuga-senpai, Riko-senpai, Kiyoshi-senpai, Izuki-senpai, Kagami-kun . . .

November

Saat itulah Aku pindah sekolah ke Teikou Koukou. Saat festival budaya, Aku bertemu dengan Akashi-kun. Ia mengajakku bermain basket. Tetapi apa daya, Aku ini robot. Aku tidak bisa olahraga. Tetapi untunglah, Akashi-kun menjadikanku sebagai shadow dengan Aomine-kun sebagai light nya. Jujur, aku tidak terlalu terpikat pada basket. Keinginanku hanya satu. Aku ingin mempunyai teman.

5th December

Cuaca hujan. Aku akhirnya memilih untuk berteduh. Tiba-tiba, kulihat Akashi-kun lewat mengajakku bermain hujan, tetapi Aku menolaknya. Ia mengeluarkan kata absolute nya, tetapi Aku benar-benar tidak bisa menurutinya sampai saat ini.

"Kumohon jangan paksa Aku, Akashi-kun. Aku ….takut basah", pintaku.

Akhirnya Ia mengalah. Iapun berlalu meninggalkanku. Sumimasen, Akashi-kun. Bukannya aku tidak mau bersama denganmu. Tetapi Aku ini robot. Aku tidak bisa kena air. Kalau kena, Aku bisa rusak.

20th December

Hari ini Akashi-kun ulang tahun. Ia mengundangku ke rumahnya. Sialnya, cuaca hujan. Akupun terpaksa menunggu hujan reda.

"FBI? Ma.. maksud Akashi-kun mata-mata yang bekerja menyelidiki organisasi jahat?", ucapku tiba-tiba. Ia terlihat curiga terhadapku. Orang tua Akashi-kun… FBI? Jangan bilang kalau orang tua Akashi-kun merupakan target dari teman-temanku…. Kumohon…. Jangan…

31th Janruary

Hari ini hari lahirku. Lebih tepatnya, hari ini merupakan hari terbetuknya Aku. Teman-teman sesame tim basketku merayakannya denganku di gym. Sebenarnya mereka maunya dirumahku, tetapi aku langsung menolak. Bisa kaget mereka kalau mereka tahu kalau isi kamarku tidak sama dengan isi aku senang mendengar ucapan selamat dari mereka. Mungkin tidak se-senang perasaan manusia yang pernah kubaca di novel-novel. Tetapi, akhirnya setelah sekian lama Aku bisa merasakan kembali bagaimana itu bersama.

Kuhempaskan tubuhku di kasurku. Aku tidak lelah, Aku hanya ingin berbaring. Aku hanya memikirkan bagaimana keadaan teman-teman robotku di Jerman sana. Jujur, Aku rindu mereka…

Tiba-tiba, kudengar bunyi sesuatu. Kupalingkan wajahku. Sepertinya sumber bunyi tersembut berasal dari wrist band ku. Kulihat ada semacam titik yang berkedip-kedip disana. ASTAGA! Tiba-tiba tanganku gemetar. Aku baru ingat perkataan Riko-san saat Aku sempat tersesat dulu . . .

"Jangan khawatir, Kuroko-kun. Saat kau berusia genap 1 tahun, alat pelacak ditanganmu akan bekerja sempurna, Kau tidak takut kalau tersesat, kami pasti bisa menemukanmu^^"

Cepat-cepat kulempar alat pelacak itu sejauhmungkin. Harus kabur. Aku harus kabur. Paling tidak ada bekas jejak keberadaanku disini. Aku harus melarikan diri. Benar juga, Aku bisa tinggal bersama Akashi-kun. Ia tinggal sendiri . . .

Akupun langsung pergi ke rumah Akashi-kun. Ia terlihat terkejut. Tetapi Aku tetap memohon padanya. Untunglah Ia mau. Tetapi Ia menyuruhku tersenyum. Tetapi Aku tidak bisa. Ini benar-benar diluar kemampuanku. Tidak ada robot yang bisa mengubah ekspresinya. Tiba-tiba, Ia menarik kedua pipiku. Memaksaku membentuk seulas senyum.

"Melihatmu tersenyum sekali saja Aku sudah bahagia, Tetsuya", ucapnya. "Dan juga…", Ia menggantung kalimatnya dan berbisik ke telingaku. "You are mine."

Aku terkejut. Tiba-tiba, tubuhku merasakan perasaan yang aneh. Kalau dalam istilah novel, ini bisa disebut Doki-doki. Keadaan dimana jantungmu berdegup dua kali lebih kencang saat kau bersama dengan orang yang kau sukai. Apa Aku suka Akashi-kun?. Seandainya Aku punya jantung, paling tidak Aku bisa tahu bagaimana 'versi full' dari Doki-doki itu. Seandainya . . . .

February

Kali ini, Akashi-kun mengajakku makan. Aku menolaknya. Aku tidak bisa, sungguh, Aku tidak boleh makan. Tetapi Aku bersyukur ini zaman canggih, Akashi-kun percaya ucapanku.

21th March

Situasi memburuk. Kututup mataku agar aku bisa mendengar lebih jelas suara itu.

"Kau dengar Aku, Tetsuya? Besok teman-temanmu akan menjemputmu. Dimanapun kau berada, kami pasti bisa mengetahuinya. Bersiap-siaplah, fufufufu. "

Itu suara Haizaki-sama. Aku yakin. Sampai-sampai, Aku tidak sadar Akashi-kun sudah pulang. Ia memaksaku untuk memberitahu apa yang terjadi,

"Aku akan memberitahu Akashi-kun. Tetapi besok. Aku janji",ucapku sambil berlalu meninggalkannya. Aku harus bersiap untuk besok.

22th March

Semua benar. Teman-temanku datang mencariku. Mereka memaksaku ikut. Hanya ada 3 pilihan yang bisa kupilih. 1. Mati, 2. Ikut bersama mereka tetapi aku akan ikut menjadi jahat, 3. Teman-temanku yang akan mati. Akhirnya kuputuskan untuk memilih pilihan pertama. Aku harus bertarung melawan mereka.

Tidak, ini susah. Aku tidak sama dengan mereka. Aku bukan diciptakan untuk bertempur, tetapi mereka diciptakan khusus untuk bertempur. Ditambah lagi, Ini satu melawan lima. Terlalu jelas bagaimana jatuh tersungkur, Izuki-senpai sudah siap membawaku.

Tiba-tiba, teman-teman tim basketku datang menantang mereka. Tidak, jangan! Kumohon! Mereka itu kuat. Ralat, sangat kuat. Akashi-kun segera menarikku. Ia menagih janjiku. Aku ingat, dulu aku sudah bersumpah untuk tidak mengingkari janji. Aku akan menceritakan semuanya. Lalu, setelah itu Aku akan kembali melawan mereka. Tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya . . .

-TBC-

Review please?