Penulis : Ohdeerwillis

Disclaimer : Tuhan,keluarga mereka dan fans

Peringatan :Yaoi, boyxboy, kesalahan tata bahasa, dll

Cast : HunHan dan teman-temannya

Genre :Romance, Fluff (?)

Mari Berteman ~ ^^

Sebelum membaca, silahkan follow twitter author di De erwillis_Oh atau invite BBM author D923E145 ^^

NOTED : TOLONG BACA TULISAN TERAKHIR SETELAH CERITA THANKS !


"You have no idea how good it feels to wake up every morning, knowing that you are mine and I am yours."- Unknown


((PREV))

"Aku tidak peduli, apapun alasannya kau harus mendatangi acara itu. Lagipula semua perjalanmu aku tanggung." Sehun berdecih.

"Kau kira aku tidak mampu hyung?" Suho terkekeh lalu berdiri.

"Anggap saja sekarang seperti itu, jadi hargai kaka sepupumu ini." Sehun memutar matanya sebal.

"Terserah kau saja hyung." Suho mengangguk lalu merapikan dasi dan jasnya.

"Kalau begitu aku pergi dan ingat lusa kau harus pergi ke China."Ucap Suho sebelum meninggalkan ruang kerja Sehun.

"YAYAYA." Sehun menatap buku bersampul coklat itu dengan malas.

"Jadi sehebat apa dirimu rusa kecil?" Guman Sehun menatap buku itu.


-Warm You-

Sehun menarik masuk koper kecilnya kedalam sebuah kamar dengan perpaduan warna coklat dan merah yang menjadi satu. Pria pucat itu merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan nyaman, sesekali manik matanya menatap ornamen-ornamen yang terpanjang rapi disana.

"Entah apa yang harus aku katakan pada hyung itu nanti, berterimakasih kah? Atau kesal kah? Dia terlalu sengaja memesan kamar super besar ini hanya untuk satu orang, hyung yang menyebalkan!" Sehun sangat tahu jika kamar itu didesain untuk sebuah keluarga kecil atau setidaknya sepasang kekasih atau apalah, yang jelas bukan untuk satu orang saja seperti dirinya, dan entah mengapa ia cukup kesal karena hal tersebut.

Sehun menarik ponselnya dari saku celana lalu menekan beberapa angka.

"Hyung!" Terdengar kekehan dari ujung sambungan.

"Kau pasti sengaja memesankanku kamar terbesar di hotel ini." Ucap Sehun cepat lalu mengubah posisinya menjadi duduk.

"Tidak, aku tidak sengaja."Balas Suho masih dengan kekehannya.

"Alasan!"Pria pucat itu menggeleng dengan tidak percaya.

"Kenapa? Kau merasa terlalu sendirian? Kalau begitu cepat temukan pasanganmu, setidaknya kau tidak sendirian lagi." Sehun berdecih.

"Sialan! Kau kira pasanganku menghilang disuatu tempat sampai aku harus menemukannya." Sahut Sehun kesal.

"Terserah kau saja Sehun, yang jelas kehidupanmu yang membosankan itu akan berubah jika memiliki kekasih." Sehun memutar matanya malas. Ia terlalu bosan mendengar perkataan kakak sepupunya itu yang memang telah memiliki kekasih sejak enam bulan yang lalu.

"Aku curiga Lay Hyung terlalu banyak memberikanmu gula sehingga kakak sepupuku ini menjadi cukup idiot."Suho tertawa dengan keras ketika mendengar pernyataan Sehun.

"Kau benar Sehunna, bagaimana kau tahu jika Lay selalu memberikanku hal-hal manis?" Sehun memijit pangkal hidungnya.

"Terserah kau saja, aku tutup sekarang." Balas Sehun lalu menjauhkan ponselnya.

"TUNGGU!"

"Apa lagi hyung?" Ia mulai jengah.

"Jangan lupa acara meet and greet besok siang jam 2."Pria pucat itu mendesah pelan.

"Jika aku ingat." Balasnya singkat.

"Karena itu aku ingatkan lagi bodoh."

"YAYAYAYA, terserah."

"Jangan Lup-" Sehun memutus sambungannya sebelum Suho selesai berbicara, pria pucat itu terlalu malas mendengar ocehan sepupunya tentang acara besok yang bahkan ia tidak tahu akan datang atau sebaliknya.

"Aku bahkan tidak membaca satu halaman pun dari novel itu." Ucap Sehun lalu beranjak. Kakinya melangkah menuju pintu balkon dan membukanya. Balkon adalah salah satu tempat favoritnya karena itu ia selalu memiliki tempat tinggal yang memiliki balkon dengan pemandangan yang ia sukai. Pria pucat itu menyukai pemandangan malam yang terlihat dari atas balkon berpadu manis dengan tamparan halus angin malam di wajahnhya. Sesekali matanya terpejam lalu terbuka dan tersenyum, entah mengapa ia merasakan bebannya berkurang sedikit. Ia menyandarkan kedua tangannya di pembatas balkon dengan manik mata yang masih setia memandang ke segala arah. Namun di beberapa detik berikutnya pandangannya terhenti ketika kepalanya menoleh ke kanan, pria pucat itu sadar jika bukan hanya dia sendiri yang menikmati pemandangan malam Beijing dari atas balkon, ia menemukan sosok lain. Sosok dengan sweater abu-abu tua dan sebatang rokok menyala diantara jarinya. Sehun ingat jika ada dua kamar di lantai ini, walaupun balkon mereka terlihat bersebelahan tetapi memiliki jarak yang cukup jauh dan entah mengapa pria pucat itu cukup penasaran dengan sosok bersweater abu-abu di balkon samping. Sosok itu meniupkan dengan pelan kepulan asap rokok lalu menoleh ke arah Sehun dengan gerakan lambat bahkan sebelum pria pucat itu sempat bergerak dari tempatnya dan detik berikutnya Sehun mengunci pandangannya.

"Terlalu manis." Dua kata yang entah mengapa keluar begitu saja dari bibir Sehun tanpa bisa ditahan dan sosok itu tersenyum. Sehun yakin seratus persen jika sosok didepannya tidak mendengar apapun yang ia ucapkan beberapa detik yang lalu jadi mengapa ia tersenyum? Selangkah dan sosok itu telah memutar tubuhnya lalu berjalan menjauhi balkon, pria pucat itu mendengar samar suara pintu tertutup.

"Terlambat,"

.

.

.

Pria tinggi itu melangkah dengan terburu-buru setelah pintu lift terbuka, sepatu keds biru dongkernya menimbulkan suara sedikit berdebum ketika bersentuhan dengan lantai berkarpet tebal. Sekitar 20 menit yang lalu Suho menghubunginya dan berakhir dengan ocehan panjang dari sepupunya itu. Sehun benar-benar melupakan acara meet and greet yang hyungnya suruh karena terlalu menikmati waktu berkumpul dengan teman-teman lamanya di Beijing. Beruntung acara itu dilaksanakan di salah satu ruangan yang ada di gedung hotelnya, dan karena hal tersebut ia bisa mengambil bukunya di kamar lalu turun untuk mendatangi acara yang bahkan Sehun tidak tahu untuk apa. Pria pucat itu benar-benar terlambat untuk acara meet and greet dengan si rusa kecil -menurut Sehun begitu- karena ketika ia berhasil mencapai ruangan itu, manik matanya hanya bisa menangkap antrian panjang tamu yang datang. Terlihat ekspresi ragu dari wajah tanpa celanya, ia memandang buku ditangannya dan antrian di depannya bergantian,

"Apa aku harus mengantri juga untuk hal seperti ini?" Ia menggeleng, berniat mengabaikan acara tersebut dan siap menerima segala kemarahan Suho sampai Sehun merasakan sebuah tepukan di bahunya, ia menoleh.

"Kau terlambat?" Sehun menatap wanita tiongkok berambut pendek didepannya lalu mengangguk.

"Tak apa, aku juga. Lebih baik kita mengantri sekarang untuk bertemu si penulis." Ucap wanita itu lalu menarik lengan Sehun tanpa sempat mendengar balasan dari pria yang ditariknya. Sehun menyerahkan tiketnya, mengikuti wanita itu untuk mengantri walaupun pria itu tak berminat sama sekali.

"Sejak kapan kau menyukai si rusa kecil?" Wanita itu menoleh menatap Sehun yang memasang wajah tak berminatnya. "Lihat? Bukan hanya aku yang memanggilnya rusa kecil hyung bodoh." Batin Sehun cukup senang dengan panggilannya.

"Hei." Sehun mengembalikan atensinya setelah merasakan sikutan pada perutnya.

"Ya?" Hanya itu yang bisa Sehun keluarkan.

"Kau mengabaikanku?" Wanita itu sedikit terkekeh.

"Aku sedang bertanya padamu,"Ia menunjuk dada Sehun.

"Apa?" Sehun bingung dengan situasinya.

"Sejak kapan kau menyukai si rusa kecil?" Ahh, wanita ini bertanya tentang si rusa.

"Aku tidak menyukainya." Balas Sehun singkat lalu maju selangkah, mengikuti antrian yang semakin berkurang.

"Tidak menyukainya?" Wanita itu mengernyit dan Sehun hanya mengangguk tanpa ekspresi.

"Lalu untuk apa kau disini sekarang?" Bukankah kita tidak saling mengenal nona?

"Entahlah, Gegeku menyuruhku kesini."Wanita itu mengangguk paham.

"Jadi yang menyukai si rusa itu gegemu? Bukan dirimu?" Kau terlalu penasaran untuk dua orang yang tidak saling mengenal sama sekali nona.

"Seperti itulah."Sehun dapat melihat wanita itu tersenyum lalu mengangguk sebelum ia kembali menghadap depan, dan menoleh lagi di menit ketiga.

"Aku yakin kau bukan orang asli sini." Sehun menaikkan satu alisnya.

"Jika kau bertanya, bagaimana aku tahu? Karena kau memegang buku edisi bahasa Korea, benarkan?" Ia terkekeh lagi lalu menghadap depan sedangkan Sehun hanya bisa menggeleng dan mulai tidak sabar dengan antriannya.

"Kau tahu, ku dengar akhir-akhir ini si rusa lebih sering menulis dalam bahasa Korea dan juga ada kabar yang menyatakan ia akan pindah ke Korea dalam waktu dekat, bukankah itu menakjubkan?" Sehun mengusap wajahnya, wanita ini tak ada bedanya dengan Suho, pikirnya.

"Karena itu juga ia akan mengadakan meet and greet di K-"

"Giliranmu maju." Potong Sehun cepat setelah melihat orang di depan wanita tersebut telah selesai.

"Oh?" Wanita itu maju menuju meja si penulis dan dengan cepat menyelesaikan kegiatannya, menoleh ke arah Sehun sebentar untuk mengatakan "Sampai jumpa lagi." Sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan itu.

Sehun mendesah pelan sebelum ia diperbolehkan maju menuju meja si penulis, ia menyakukan tangan kirinya lalu memberikan buku bersampul coklat yang ia bawa dari Korea karena perintah sepupunya itu dengan tangan kanan.

"Wahh, kamu memiliki edisi terbatas, hanya ada dua orang sebelum dirimu yang memiliki ini." Ucap sosok yang duduk didepannya lalu membuka halaman pertama. Pria pucat itu tidak tahu jika Suho memberikannya edisi terbatas atau apalah itu, karena ia tidak peduli, Sehun hanya menginginkan acara itu cepat selesai. Manik mata pria pucat itu melihat gerakan si rusa yang membuka tutup bolpoinnya namun gerakan tangannya terhenti ketika ujung bolpoinnya nyaris menyentuh permukaan kertas novelnya.

"Bagian mana yang kamu sukai dari novel ini?" Skakmat! Ia tidak membaca satu halamanpun, bagaimana ia tahu bagian mana yang ia sukai, sialan.

"Hei." Si rusa mengangkat wajahnya lalu menatap orang yang berdiri diam di depannya. Sehun membulatkan matanya ketika manik matanya menangkap bentuk wajah si penulis. Tunggu ! dia? Sosok di balkon samping?

"Aku bertanya padamu, bagian mana kesukaanmu?" Ulangnya lagi masih menatap Sehun yang mulai merasa aneh dengan situasinya.

"E-em," Sialan! Kenapa kau jadi gagap Oh Sehun?

Penulis itu mendesah pelan lalu menutup kembali bolpoin dan buku milik Sehun.

"Aku tidak bisa menandatanganinya jika kau bahkan tidak tahu isi buku ini, maaf." Sehun menahan tangan si rusa yang ingin mengembalikan bukunya.

"T-tunggu!"Ayolah Oh Sehun, kenapa kau menahannya?

"Ya?" Sehun menatap sekilas si penulis sebelum melanjutkan perkataanya.

"Sejujurnya aku belum selesai membaca novel itu, jadi aku cukup bingung memilih bagian kesukaanku." Kau berbohong Oh Sehun, kau bahkan tidak membacanya.

"Oh ya?" Si penulis menarik kembali bukunya, nampak berpikir.

"Kau orang Korea?" Tanyanya setelah melihat isi dari buku itu yang dicetak dengan bahasa Korea dan Sehun mengangguk.

"Hmm, kalau begitu aku akan menandatanganinya setelah kau selesai membacanya." Sehun mengernyit bingung.

"Ahh, kau tidak tahu? Aku akan mengadakan meet and greet di Korea."Ucapnya setelah melihat ekspresi bingung pria yang berdiri di depannya.

"Kapan?" Kau ingin datang lagi Sehun?

"Minggu depan, kau boleh datang lagi jika selesai membacanya dan aku akan menandatanganinya, bagaimana?"Sehun mengangguk lalu tersenyum.

"Baiklah tuan minim ekspresi, sampai bertemu minggu depan." Sehun menerima kembali bukunya lalu tersenyum.

"Sampai bertemu lagi," rusa manis.

.

.

.

Suho menatap sepupunya dengan ekspresi yang berubah-ubah. Sudah 20 menit lamanya sejak pertama kali ia menduduki dirinya di salah satu kursi café yang berhadapan langsung dengan saudara sepupunya, Sehun. Bahkan cairan pekat di cangkirnya sudah berkurang setengah namun sosok yang menghubunginya beberapa puluh menit yang lalu itu belum menyapanya sama sekali.

"Jika kau menghubungiku hanya untuk mengabaikanku, lebih baik aku kembali ke kantorku Sehun sialan." Ucap Suho kemudian dengan penekanan di akhir kalimat. Dan pria bernama Sehun itu segera mengangkat kepalanya lalu tersenyum sekilas.

"Kau datang?" Ingin rasanya Suho menyiram muka tanpa cela Sehun setelah mendengar pertanyaan bodoh itu. Pria yang lebih tua itu menarik nafasnya kesal,

"Aku sangat memebuang-buang waktuku." Balas Suho lalu menyesap kopinya dan Sehun menahan tawanya, bukankah menyenangkan mengganggu sepupunya itu.

"Jadi kenapa kau menghubungiku lagi? Aku kira kau tidak akan kembali lagi ke Korea karena tidak mengabariku sama sekali." Sehun memutar matanya, hiperbol sekali.

"Maaf karena tidak mengabarimu Hyung, aku benar-benar lupa."Balas Sehun lalu mengeluarkan senyumnya dengan terpaksa.

"Dan sekarang kau mengingatku?"

"Tentu saja, karena itu aku menghubungimu." Suho benar-benar harus sabar.

"Jadi ada apa?" Sehun menegakkan badannya lalu meletakkan sesuatu yang ia baca sejak tadi.

"Aku ingin bertanya tentang ini." Balas Sehun lalu menunjukkan buku bersampul coklat kepada Suho yang langsung mengubah ekspresinya.

"Kau membaca itu?" Sehun mengangguk.

"Sejak kapan?"

"Sejak perjalanan pulang ke Korea." Suho mengernyit.

"Untuk apa?" Kali ini Sehun yang mengubah ekspresinya.

"Tentu saja untuk aku baca Hyung."

"Aku tahu, aku bertanya untuk apa kau membaca itu? Kau tidak datang meet and greet?"

"Aku datang."

"Lalu?" Suho menarik buku bersampul coklat itu dan membuka halaman pertamanya.

"Aku tahu kau tidak datang Sehun." Sehun menyandarkan tubuhnya.

"Aku datang Hyung." Suho menatap Sehun tidak percaya.

"Lalu kau tidak meminta tandatangannya?" Sehun menggeleng.

"Rusa itu yang tidak ingin menandatanganinya."

"Kenapa?" Sehun mengetuk pelan meja dengan jarinya.

"Karena aku tidak bisa menjawab pertanyaannya."

"Pertanyaan? Apa?"

"Ia bertanya bagian mana yang aku sukai,"

"Lalu?" Sehun mengedikkan bahunya.

"Aku tidak bisa menjawabnya karena aku bahkan tidak membaca satu katapun." Ucap Sehun menekuk bibirnya membuat Suho terkekeh lalu menutup buku itu.

"Kau ditolak dengan sangat cepat Oh Sehun."Balas Suho lalu menatap sepupunya itu.

"Aku bahkan belum melakukan apapun Hyung, lagipula kata "ditolak" itu terkesan buruk untukku. Jadi bukan ditolak tapi belum diterima."Sehun melipat tangannya di depan dada.

"Yayaya terserah saja, intinya kau tidak mendapatkan apapun." Sehun mendengus.

"Lalu?"

"Lalu apa?" Suho bingung dengan pertanyaan Sehun.

"Lalu aku harus bagaimana Hyung?"

"Apanya yang bagaimana, bukankah sudah selesai dan kau ditolak."

"Bukan DITOLAK Hyung, kau terlalu berlebihan."Suho menahan tawanya.

"Si rusa itu akan mengadakan meet and greet lagi di Korea."Lanjut Sehun.

"Oh ya? Kapan?"

"Kemungkinan dua atau tiga hari lagi."

"Dan kau akan datang?" Sehun mengangguk cepat.

"Wahh, kau serius? Sebelumnya kau menolak untuk datang ke acara itu di Beijing dan sekarang kau akan datang?"Suho memandang Sehun dengan takjub.

"Mmm, aku pikir tidak buruk juga."

"Apa yang tidak buruk?"

"Acaranya,"

"Oh ya? Bukan si penulisnya?" Suho menggoda Sehun.

"Kau berlebihan Hyung." Sehun menyedot americanonya.

"Kau menyukainya kan." Pria pucat itu tersedak.

"Aku pasti benar." Lanjut Suho lalu terkekeh setelah melihat ekspresi Sehun.

"Aku tidak."Sehun menggeleng.

"Lalu untuk apa kau membaca buku itu dan memanggilku kesini? Bukankah kau ingin bertanya tentang isi buku itu padaku."Suho melipat tangannya, menunggu jawaban Sehun.

"Ahh, aku pasti benar kan. Seorang Oh Sehun terjebak perangkap rusa."Sehun menatap kakak sepupunya dengan bingung.

"Jadi apa itu pandangan pertama?"Suho bersemangat untuk hal ini.

.

.

.

.

Manik mata Sehun mengunci sosok manis bersurai kecoklatan dengan highlight merah yang sedang fokus dengan sebuah buku yang terbuka didepannya, sesekali sosok manis itu memperbaiki letak kacamata bacanya yang terlalu turun. Entah sadar atau tidak pria pucat itu bertahan dengan senyumannya sejak pertama kali bertemu dengan sosok manis yang menyanggupi permintaannya untuk bertemu di salah satu café kesukaannya. Ini bukan kali pertama sosok yang lebih kecil itu menyanggupi permintaan Sehun untuk bertemu, dari enam permintaan hanya satu yang bisa ditolak sosok manis itu. Ya, Sehun dan pria manis di depannya sudah bertemu sebanyak lima kali sejak mereka berkenalan secara resmi setelah acara meet and greet di Korea beberapa waktu yang lalu. Berterimakasih lah pada Suho yang dengan senang hati mengenalkan mereka berdua, walaupun menyebalkan terkadang kakak sepupunya itu bisa diandalkan juga, pikir Sehun.

Dan sejak itu pula pria pucat itu mengganti nama panggilannya dari "si rusa kecil" menjadi "Luhan yang manis" -dan menggemaskan- menurutnya. Sehun mengerjap cepat ketika merasakan tepukan di bahunya, ia melamun.

"Hai, kamu masih disini Sehun?" Luhan melambai di depan wajah Sehun untuk mengembalikan atensi pria yang lebih tinggi itu.

"Ah, tentu saja." Sehun tersenyum lalu memperbaiki posisi duduknya.

"Aku berbicara padamu dan kamu melamun?" Sehun menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

"Maaf, aku akan fokus kali ini." Balas Sehun lalu menunjukkan deretan giginya dan Luhan hanya mendesah pelan lalu melepas kacamatanya.

"Sehun-ssi, ah maksudku Sehun." Luhan menopang dagunya.

"Kamu selalu meminta waktu untuk bertemu denganku agar bisa membahas novel-novelku yang entah dengan alasan apa kamu membeli semua judul novelku tapi selalu saja berakhir dengan aku yang berbicara sendiri, karena kamu hanya melamun." Luhan menarik nafasnya.

"Jadi aku ingin bertanya, apa tujuanmu sebenarnya Sehun-ssi?" Luhan menatap manik mata Sehun. Pria pucat itu mengernyit tak suka ketika Luhan memanggilnya dengan akhiran "ssi" yang membuat keduanya terkesan jauh.

"Bukankah kita memiliki kesepakatan sebelumnya? Jadi berhentilah memanggilku Sehun-ssi, Luhan." Luhan yang masih menopang dagunya hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Sehun.

"Dan jangan bertanya tujuanku jika kamu sudah mengetahuinya dengan jelas Luhan."Sehun balas menatap Luhan yang menunjukkan ekspresi bingung.

"Aku?" Luhan menunjuk dirinya, Sehun mengangguk.

"Aku tidak."Lanjutnya lalu mengambil gelas jusnya dan menyedot isinya

"Kamu tahu." Sehun melipat tangannya sebelum melanjutkan perkatannya.

"Kamu tahu tujuanku karena aku menyukaimu." Luhan tersedak.

.

.

.

.

Pria manis itu tidak tahu pasti kapan ia mulai membuka hati untuk pria yang lebih muda darinya itu, yang ia tahu Sehun memberikan kenyamanan tersendiri untuknya. Awalnya Luhan tidak terlalu merespon setiap perbuatan manis Sehun untuknya, selain karena ia pikir Sehun hanya bercanda, alasan lainnya karena Luhan tidak percaya jika pria seperti Sehun menyukai "jenis" yang sama dan itu dirinya. Namun, sekuat apapun Luhan menyangkal maka sekuat itu pula Sehun meyakinkan dirinya, bahkan pria pucat itu tidak pernah lelah untuk mendekatinya dengan berbagai cara, ya bahkan Luhan sendiri pun tak percaya pria ber ekspresi dingin itu bisa menjadi sosok yang sangat berbeda jika bersama Luhan. Dan puncak dari runtuhnya pertahanan Luhan ketika Sehun yang secara tiba-tiba muncul di depan pintu kamar rawat inapnya dengan ekspresi panik luar biasa. Pria pucat itu bahkan langsung kembali ke Korea dan meninggalkan segala pekerjaannya di Jepang ketika mendengar Luhan masuk rumah sakit karena tak sadarkan diri akibat kurang istirahat dan kelebihan kafein dan sejak saat itu pula Sehun mulai mengatur pola hidup Luhan agar lebih sehat. Walaupun itu bukan kali pertama Luhan masuk rumah sakit karena hal yang sama, namun entah mengapa saat itu rasanya berbeda, karena Sehun? Mungkin.

"Aku rasa kamu menyukai balkonku Lu," Luhan menoleh ketika mendengar suara Sehun yang telah berdiri di sampingnya dengan dua mug di tangannya. Pria yang lebih kecil tersenyum ketika menerima mug dari Sehun lalu sedikit terkekeh ketika melihat isinya, cairan berwarna coklat walaupun ia mengharapkan cairan pekat yang berada disana.

"Jatah kopimu sudah habis Lu." Ucap Sehun setelah melihat ekspresi Luhan.

"Aku tahu." Luhan menyesap coklat hangatnya.

"Aku rasa kita sama-sama penyuka balkon." Sehun menatap lurus ke arah luar balkon.

"Hm, sepertinya begitu." Luhan mengikuti gerakan Sehun, keduanya terdiam beberapa menit, menikmati angin yang berhembus pelan.

"Lu." Sehun memutar tubuhnya ke arah Luhan diikuti pria yang lebih kecil sehingga mereka saling berhadapan.

"Apa?" Sehun menatap mug ditangannya dan beralih menatap mata si rusa kecil.

"Jadilah kekasihku dan aku akan menyiapkan tempat tinggal dengan balkon dan pemandangan yang lebih bagus untuk kita berdua." Luhan mengerjapkan matanya, mencoba memahami perkataan Sehun.

"Ha?" Senyum tersenyum melihat ekspresi bingung dari Luhan. Pria tampan itu mencondongkan tubuhnya sehingga wajah mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat.

"Aku bilang jadilah kekasihku dan tinggal bersamaku." Ulang Sehun lalu tersenyum.

"Ta-"Sehun menarik cepat kaca mata baca Luhan membuat pria yang lebih kecil itu sedikit terkejut.

"Aku menyukaimu Luhan."Bisik pria pucat itu di depan wajah Luhan lalu menempelkan bibirnya di bibir Luhan.

.

.

.

"Aku pulang sayang." Luhan sedikit berlari ketika mendengar suara Sehun dari depan pintu.

"Aku pikir kamu akan pulang terlambat." Ucap Luhan lalu mengecup bibir Sehun.

"Aku menunda rapatnya karena ingin bertemu dengamu." Luhan memutar matanya lalu dengan sigap melepas simpul dasi Sehun.

"Sedang memasak?" Tanya Sehun ketika melihat apron bergambar rusa yang terpasang ditubuh pasangannya dan Luhan mengangguk.

"Cepatlah mandi dan bantu aku di dapur Hun-ah." Ucap Luhan lalu kembali menuju dapur diikuti Sehun yang mengabaikan ucapan Luhan.

"Kenapa banyak sekali yang kamu masak Lu?" Manik mata Sehun menatap beberapa bahan makanan siap masak.

"Akan ada tamu sayang, jadi cepatlah mandi dan bantu aku." Balas Luhan lalu kembali sibuk dengan peralatan dapurnya.

"Tamu? Siapa?" Sehun mendekati Luhan lalu melingkarkan kedua tangannya di bahu Luhan.

"Jungkook dan Wonu." Sehun melepas lingkaran tangannya.

"Apa? Jungkook dan Wonu?" Luhan mengangguk.

"Hanya mereka berdua?" Tanya Sehun lagi.

"Sejak kapan mereka tidak mengajak Tae dan Mingyu?" Sehun mendesah pelan.

"Kenapa dua orang kurang ajar itu ikut sih." Luhan menoleh.

"Kamu keberatan sayang?"

"Tentu saja Lu, kamu bahkan sangat tahu jika aku tidak menyukai dua orang itu." Luhan tertawa.

"Karena kamu iri." Balas Luhan lalu kembali memotong sayurannya.

"Aku tidak iri."

"Jangan berbohong Oh Sehun." Sehun berdecih.

"Aku bilang, aku tidak iri. Jadi jangan membahasnya." Luhan masih tertawa.

"Semakin jelas terlihat jika kamu iri karena me-"

"Jangan pernah membahasnya Oh Luhan."Potong Sehun cepat.

"Karena mereka semua sudah bertunangan." Lanjut Luhan lalu tertawa.

"Yaaaa! Aku sudah mengatakannya untuk tidak membahas hal itu." Dengan cepat Sehun memeluk Luhan dari belakang dan pria yang lebih kecil hanya tertawa.

"Aku memegang pisau Sehun." Sehun semakin mengeratkan pelukannya.

"Aku tidak peduli, aku kesal karena kamu membahasnya." Luhan melepas pisaunya lalu membalik tubuhnya menghadap Sehun.

"Tidak ada yang perlu dikesalkan tentang hal itu Sehun-ah."Sehun menggeleng.

"Aku kesal Lu, Taehyung dan Jungkook hanya berpacaran 2 tahun, lalu bertunangan sedangkan Mingyu dan Wonu bahkan masih muda tapi sudah bertunangan."Ucap Sehun lalu menatap Luhan.

"Lalu?" Luhan balik bertanya.

"Kita kapan Lu? Bukankah kita juga harus bertunangan?" Luhan terkekeh lalu menangkup pipi Sehun.

"Kamu sangat iri dengan mereka?" Sehun mengangguk.

"Karena mereka bertunangan?" Sehun kembali mengangguk.

"Lalu apa bedanya dengan kita?" Sehun menaikkan satu alisnya, bingung.

"Tentu saja beda Lu," Balas Sehun menatap Luhan.

"Apa bedanya?" Sehun terdiam beberapa saat.

"Karena hubungan mereka lebih jelas Lu, mereka memiliki pengikat secara tidak langsung untuk menjalani hubungan yang lebih serius dari sekedar sepasang kekasih." Luhan menahan senyumnya.

"Pengikat secara tidak langsung?"Sehun mengangguk.

"Mereka memiliki cincin atau gelang atau apapun itu yang mengikat secara tidak langsung Lu, seperti menegaskan "aku milikmu" dan "kamu milikku", seperti itu."

"Bukankah kita memiliki banyak barang pasangan seperti itu? Dan juga tanpa hal-hal itupun sudah jelas Hun-ah jika Luhan adalah milikmu dan Sehun adalah milikku tanpa terkecuali." Sehun mengenggam tangan Luhan yang berada di pipinya.

"Aku tahu, hanya saja aku ingin memiliki tanda yang lebih jelas agar tidak ada lagi pria ataupun wanita yang mendekatimu karena hanya aku dan cuma aku yang boleh bersamamu Luhan."Luhan tersenyum lalu menurunkan tangannya dari pipi Sehun. Pria manis itu mendorong pelan Sehun lalu melepas apron yang ia gunakan. Ia melangkah beberapa meter di depan Sehun yang masih menatap Luhan dengan bingung.

"Jadi seorang Oh Sehun membutuhkan tanda yang lebih jelas?" Tanya Luhan lalu membuka satu kancing kemejanya.

"Tentu saja," Balas Sehun masih memperhatikan gerakan tangan Luhan yang mulai membuka kancing kedua.

"Ini bukan waktu yang tepat untuk menggodaku Lu," Luhan tertawa.

"Aku tidak sedang menggodamu Sehun-ah."Kancing ke empat terbuka.

"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang?"

"Hanya ingin menunjukan tanda yang lebih jelas." Sehun mengernyit dan gerakan tangan Luhan terhenti.

"Tanda yang lebih jelas?" Luhan mengangguk lalu menarik turun kemeja bagian kirinya hingga menampilkan bahu putih mulusnya.

"Yaa! Ap-"Ucapan Sehun terhenti ketika manik matanya menangkap hal lain dari sekedar bahu mulus Luhan.

"Kamu tak perlu cincin atau sejenisnya untuk menjadikan pengikat secara tidak langsung ataupun sebagai tanda yang lebih jelas karena aku sudah memiliki satu disini sebagai tandaku." Ucap Luhan lalu menunjuk sebuah tattoo berbentuk tulisan latin berwarna hitam pekat yang sangat jelas terbaca, "Belong To Oh Sehun.-Luhan" di atas dada kirinya. Pria manis itu tersenyum melihat perubahan ekspresi Sehun yang menunjukan sejuta arti untuknya.

"Tatto itu untukku?" Ucap Sehun setelah terdiam beberapa menit.

"Tentu saja, bukankah ini sudah sangat jelas."Balas Luhan lalu menatap Sehun.

"Kapan kamu membuatnya?" Luhan mengernyit mendengar pertanyaan Sehun yang terdengar tak suka.

"Tadi siang, aku mengunjungi Jongin dan memintanya untuk membuat tattoo ini."Ekspresi Sehun berubah menjadi datar.

"Kamu tak suka Hun-ah?" Tanya Luhan hati-hati setelah melihat perubahan ekspresi kekasihnya itu.

"Tentu saja aku tidak suka." Luhan mencelos, tiba-tiba saja dadanya sakit mendengar pernyataan Sehun tentang kejutannya. Pria manis itu merasa usahanya sia-sia sejauh ini, menahan sakit yang membuatnya menangis di depan Jongin untuk sebuah tattoo yang bahkan pasangannya tak suka. Dengan cepat ia menarik kembali kemejanya dan segera berlalu dari hadapan Sehun, namun belum dua langkah Luhan bergerak, pria pucat itu lebih cepat menarik tangan Luhan lalu memeluknya erat.

"Mau kemana? Hm?" Luhan bergerak tidak nyaman didalam pelukan Sehun.

"Hei, kamu menangis?" Sehun melonggarkan pelukannya ketika merasakan bahunya basah dan melihat Luhan yang menunduk.

"Hei, kenapa menangis?"Sehun mengangkat wajah Luhan dan menemukan wajah Luhan yang telah basah dengan hidung yang memerah.

"K-kamu mengatakan tak menyukai tattoo yang aku buat Hun-ah, a-aku menahan sakit untuk itu."Ucap Luhan dengan sesengukan.

"Kapan aku mengatakannya?"

"T-tadi,"Sehun tersenyum lalu mengusap air mata Luhan.

"Aku tak mengatakannya seperti itu."Luhan menatap Sehun bingung, tangisnya mulai reda.

"Ketika kamu bertanya "apa aku tak menyukainya?" tentu saja aku tak suka Luhan, tapi bukan tattoo itu."

"Lalu?" Mata Luhan masih terlihat berair.

"Aku tak menyukai kamu yang meminta Jongin membuatkan tattoo itu sayang,"

"Kenapa? Jongin temanmu juga."Sehun mendesah pelan lalu merapikan rambut Luhan dengan jarinya.

"Tapi aku tak suka jika orang lain melihat tubuhmu sayang, aku membenci kenyataan jika Jongin melihat tubuhmu ketika membuat tattoo itu." Luhan mengerjap bingung.

"Aku tidak telanjang Hun-ah, aku memakai bajuku ketika membuat tattoo itu."Protes Luhan.

"Aku tahu, tapi kamu membuka bagian dada kirimu sayang. Walaupun tidak telanjang tapi tetap saja bagian tubuhmu yang ini dilihat Jongin." Sehun menekuk bibirnya, membayangkan hal tersebut membuat pria tampan itu cukup kesal.

"Maafkan aku Hun-ah, aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Aku hanya memikirkan membuat kejutan kecil untukmu." Ucap Luhan lalu meremas ujung kemejanya dan Sehun tersenyum lalu memeluk Luhan kembali.

"Tidak apa-apa, aku hanya cukup kesal jika membayangkannya."Luhan tersenyum didalam pelukan Sehun.

"Jadi, kamu menyukai tattoo ku atau tidak? Atau aku harus menghapusnya?"

"Jangan!" Sehun melepas pelukannya lalu menahan bahu Luhan.

"Jangan coba untuk menghapusnya Lu, jangan pernah berpikiran untuk menghapusnya." Sehun menatap Luhan.

"Aku menyukainya, sangat." Ucap Sehun lalu meremas bahu Luhan.

"Aku benar-benar terkejut ketika kamu memperlihatkan tattoo itu, bahkan aku hampir menjerit karena tattoo mu Luhan. kamu berhasil membuatku nyaris memiliki penyakit jantung." Lanjut Sehun lalu menghembuskan nafasnya pelan.

"Aku tahu itu pasti menyakitimu tapi jika kamu mengira aku tidak menyukainya, maka kamu salah karena aku benar-benar menyukainya Lu, aku tidak menyangka kamu melakukan ini." Luhan tersenyum mendengar pernyataan Sehun tentang kejutan kecilnya.

"Aku menyukainya, sangat." Sehun mengecup bibir Luhan lalu menarik turun kemeja bagian kiri Luhan. Manik matanya menatap tattoo itu dengan perlahan lalu mengusapnya dengan jari telunjuk.

"Apakah sangat sakit?" Sehun menatap wajah Luhan yang tersenyum.

"Sudah tidak sakit lagi sayang." Balas Luhan lalu mengusak rambut Sehun. Pria manis itu terkesiap ketika merasakan bibir Sehun yang menempel di atas kulitnya.

"Terimakasih sudah melakukan sejauh ini." Bisik Sehun lalu memeluk Luhan erat dan pria yang lebih kecil itu mengangguk dan membalas pelukan Sehun.

"Tidak ada lagi alasanmu untuk iri dengan Taehyung atau Mingyu." Sehun mengangguk.

"Aku tidak akan iri lagi dengan mereka." Luhan tersenyum lalu mengusap punggung Sehun.

"Lu?"

"Hn?"

"Apa aku harus membuat satu juga yang sama denganmu?"Tanya Sehun masih memeluk Luhan.

"Maksudmu tattoo? Terserah kamu saja." Balas Luhan.

"Kita akan mengikat satu sama lain jika aku memilikinya juga." Luhan mengangguk menyetujui perkataa Sehun.

"Kamu akan membuatnya di Jongin juga?" Sehun menggeleng.

"Lalu?"

"Aku akan meminta Hyuna yang membuatnya." Luhan membulatkan matanya lalu melepas pelukannya.

"Ingin mati?" Sehun tertawa setelahnya.

"Aku mencintaimu Oh Luhan."

"Kamu sangat menyebalkan Oh Sehun."

.

.

.


" I would find you in any lifetime."-Kanye West


..

-END-

..

HOLAAAA~~~~

I AM BACCKKKK~~~~

First of all aku pengen say sorry :") karena FF ini lamaaa banget baru update lagi -_- sampe ditagih-tagih di BBM iya aku tau aku terlalu lama menggantung FF gajelas ini tapi ini karena emg aku yang terlalu banyak kegiatan dan juga faktor M a.k.a Males wkwkw. Dan juga setiap mau lanjutin ni FF ada ajaa penghambat kek cinta aku ke doi /eaak/

Ya pokonyaa BIG THANKS buat kalian yang masih stay nunggu ini FF :) dan mungkin sempet merasa terPHPkan karena aku malah update slot tiket MUBANK iya aku tau itu DOSA wkwkw tapi itu sangat mendesak dan beruntung ada yg beli itu slot yehaay \m/ dan SORRY kalo chap 2 ini tidak memuaskan kalian atau endingnya biasa aja I am so sorry GAES~~

oh ya sebenernya di FF chap ini aku pingin jelasin isi dari novel buatan Luhan itu, cuma di tengah penulisan aku dapet ide lain dan malah ide sebelumnya jadi mentok dan yaaa akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan ide baru dan tidak jadi menjelaskan isi dari novelnya Luhan :) tapi semoga kalian tetep sukaa ya sama chap yg ini :))

Dan lagiiiiii, buat kalian yang abis baca ini terus nanya "kok gak banyak problemnya sih" "kok cuma gini doing sih?" "udah ni segini aja ni?" yaa aku cuma mau bilang iyaa emang cuma segini aja wkwkw

Kenapa gak banyak problem di FF ini? Itu karena aku sengaja ngebuat HUNHAN manis-manis aja disini gitu, kan kasihan kalo dikasih banyak konflik trus kek FF2 aku sebelumnya :( jadi buat kalian yang nyari FF yang ada banyak konflik bisa cek di FF2 aku sebelumnyaa ataaauu kalian bisa nunggu FF aku selanjutnya karena rencana aku mau buat FF lagi (entah kapan) yang jelas pengen ada konflik dll gitu deh _- dan juga mulai FF selanjtnya aku mulai buat FF seperti requestan kalian karena aku udah noted beberapa permintaan FF dan mungkin akan aku mulai di FF selanjutnya. *DOAKAN AKU*

Jadi buat kalian yg pernah request FF atauuu pengen request bisaa nulis aja di kolom REVIEW atauuu bisa kirim ke BBM akuuu okay? Okay.

Terus kemarin ada beberapa yang nanya di BBM tentang songfict "kak/thor ide nulis songfict darimana? Lagunya darimana? Dll"

Aku jawab sekalian disini yah, ide songfict itu murni dari aku yang berasal dari pikiran gajelas aku ini :3 terus untuk ide lagu2nya semua itu dari daftar playlist harian aku -_- jadi suka dapet ide kalo lagi dengerin lagu karena emang aku hampir tiap hari full musik yow dan playlist aku itu random bgt dari lagu lawas sampe lagu baru mungkin ada :*

OH YA SATU LAGI !

BUTUH SARAN NIH.

Jadi aku rencana mau buat akun di wattpad kan yaaa, kira-kira kalo aku update FF disana pada mau baca gak? Wkwkw tapi tetep aktif kok di FFN :)

Aku rencana mau update FF baru dan mungkin juga ada FF dari sini yang AKAN AKU REVISI dan update ULANG di wattpad gitu :))

Ya pokoknya ini masih rencana, kalo memungkinkan aku mau buat akun disana dan kalo udah jadi JANGAN LUPA FOLLOW ya wkwk intinya sih aku butuh saran enaknya gimana

Ya segitu dulu lah ya udah kepanjangan kalian pasti bosyan..

jangan lupa untuk review FF ini ya dan jangan lupa follow twitter author (nyari temen) dan invite BBMnya

Di (et)Deerwillis_Oh dan D923E145

Kita bakal ngobrol2 syantikk disana ) okay? Okayin ajalah yaaa~

Sekali lagi Ditunggu reviews, Chat dan twit kalian yaaa~

karena aku sangat menghargainya , dan buat kalian yang ada ide atau mau ngasih saran buat FF selanjutnya, kalian bisa langsung tulis ya di Reviews atau bisa kirim email ke Ohdeerhunhan gmail (dot.) com. Karena aku bakal senang hati membalasnya ^^

Sekali lagi terimakasih Chingu ^^ See you on my next FF SARANGHAE~