.

.

.

Devil

.

.

.

Pair: Haehyuk

Rate: M (untuk umpatan dan kekerasan)

Warning: BL/Crime/Fantasy/Humor(sedikit)

Summary: Donghae adalah seorang mafia yang kejam, sadis, dan berdarah dingin. Namun segalanya menjadi jungkir balik saat ia harus berhadapan dengan malaikat bodoh dan idiot bernama Hyukjae.

.

.

.

"Donghae."

Iris cokelat itu bertemu dengan iris hitam di depannya, dahi Donghae mengernyit. Ada seorang laki-laki bertubuh terlalu kurus, berkulit terlalu putih, dan berambut hitam legam memanggil namanya. Sebenarnya bukanlah hal mengherankan saat ada seorang yang tak ia kenal memanggil namanya. Oh ayolah, dia Lee Donghae dan semua mafia sudah pasti tahu tentang dirinya. Bahkan ia sering baku hantam dengan orang yang tak jelas, dari mafia yang tak jelas, dan permasalahan yang juga tak jelas. Begitu lawannya memulai maka Donghae akan membalas. Begitulah mafia, mereka tak akan meninggalkan medan pertempuran walau lawan mereka tak ada kejelasan. Terdengar sedikit bodoh memang tapi juga jantan bukan? Hanya sedikit orang yang bisa bertahan dalam kehidupan seperti itu, salah satunya adalah Donghae.

Tapi untuk yang satu ini sedikit berbeda. Donghae memang tak tahu siapa orang ini, tapi ia yakin pernah melihatnya entah dimana. Ingatannya tak mungkin salah ataupun keliru. Dengan pemikiran itu Donghae menjadi waspada. Ia tak tahu niatan orang ini dan apa tujuannya, bisa saja dia menyerangnya untuk balas dendam karena mungkin dulu pernah bermasalah dengannya.

Tapi yang aneh Donghae tak menembaknya tadi melainkan orang dibelakannya. Donghae terbiasa dengan pertempuran dan ia secara naluriah bisa merasakan bahaya dan ancaman disekitarnya, membuatnya dapat bertindak cepat tepat pada waktunya sebelum hal buruk terjadi.

Jadi bukankan kejadian barusan membuktikan bahwa nalurinya tidak merasakan bahaya ataupun ancaman pada orang ini tadi, tapi pada orang dibelakanya yang ia tembak. Dahi Donghae semakin dalam mengernyit pada kemungkinan yang semakin membingungkan itu.

Donghae dan sistem kerja otaknya yang merepotkan.

Sebenarnya ia akan mendapatkan jawabannya jika saja ia lebih menyederhanakannya, jika saja ia memutar kembali ingatannya sekitar dua jam yang lalu maka TARA! Ia memang sudah bertemu dengan Hyukjae secara tatap muka, di lapangan dengan ia yang bangun di pangkuan Hyukjae setelah sekarat dan hampir kehilangan nyawa. Tapi hal itu sepertinya terlalu sederhana untuk mafia Lee Donghae yang hidupnya sangat keras. Alhasil mahkluk lemah macam Hyukjae yang berjalan saja belum tegak itu sudah seperti singa lepas kandang di matanya, berbahaya dan perlu diwaspadai.

Sekali lagi, Donghae dan sistem kerja otaknya yang merepotkan.

Karena terlalu banyak berfikir Donghae sama sekali tak menyadari bahwa masih ada satu orang lagi diantara mereka. Satu orang yang terkapar penuh luka namun masih sadar sepenuhnya. Lee Joon melihat kesempatan itu dengan jeli, Donghae lengah dengan tangan membawa pistol yang kini terkulai turun dengan jarak tangkap yang begitu dekat dengannya. Yang perlu Lee Joon lakukan sekarang adalah mengumpulkan tenaga terakhirnya untuk membalik keadaan.

Dan hal tersebut terjadi begitu cepat tanpa sempat disadari oleh Donghae saat tiba-tiba saja pistol ditangannya direbut dan Lee joon sudah berada di belakang Hyukjae, menodong pistol itu tepat di pelipis Hyukjae yang ada dicengkramannya. Situasi yang benar-benar diluar dugaan dan mengejutkan keduanya.

"Diam ditempatmu Donghae, atau otak orang ini akan bececeran di depanmu!" Seru Lee Joon saat melihat Donghae yang akan melangkah mendekatinya.

Donghae memang berhenti tapi bukan karena takut dengan ancaman Lee joon tapi lebih pada kesadarannya akan keadaan yang aneh di depannya.

Tunggu, Lee Joon tidak sedang menyandera orang yang tak ia kenal itu untuk membalas dendam padanya kan?

Astaga, seperti Donghae akan peduli saja. Tapi memang pada kenyataannya seperti itu, lihat saja seringaian di bibir salah satu anak mafia itu terlihat penuh kemenangan. Ia tak akan membuat Donghae menginjak-injak harga dirinya lebih dari ini, dan orang yang ada dicengkramannya ini akan menjadi kunci untuk sekali lagi mempermalukan Donghae. Satu tangannya memengang dagu Hyukjae, memaksa mahkluk lemah itu untuk menatap lurus ke depan, tepat pada Donghae.

"Lihat dia, kau tak akan ingin melihatnya mati dengan lubang di kepalanyakan? Atau mungkin tepat di dadanya? Jantung yang bercucuran darah terlihat cocok untuknya."

Sadis, kata-kata tersebut terdengar begitu sadis membuat Hyukjae mematung karena tidak mengerti dengan rasa takut berlebihan yang ia alami. Ia tahu orang ini akan melukainya jika Donghae tak segera menolongnya. Lee Joon terkekeh saat merasakan tubuh sanderanya mulai gemetaran, oh ini akan menyenangkan. Dia akan segera melihat Donghae yang memohon padanya.

"Tembak saja."

Kalimat singkat dengan nada datar itu merusak segala kesenangan Lee Joon. Ia melihat kearah Donghae yang terlihat begitu santai, sama sekali tak merasa terancam atau khawatir. Ekepresinya bahkan terlihat seperti sedang melihat sesuatu yang begitu membosankan.

"A-apa?"

"Aku bilang tembak saja, aku bahkan tidak mengenalnya. Lakukan apa yang kau suka."

"Yah! Kau ingin membodohiku?! Kau pikir cara seperti itu bisa mengelebuiku, HAH!" Tentu saja Lee Joon langsung berteriak penuh emosi, Donghae sedang mencoba membodohinya dengan pura-pura tak mengenal orang ini. Ia merasa Donghae meremehkannya, semakin menginjak harga dirinya.

"Aku akan menembaknya Donghae! Kau dengar! Aku akan menembaknya!"

Donghae berdecak sambil memutar matanya kerena jengah saat melihat ujung pistol itu semakin ditekan pada kepala orang asing itu. Astaga, ia berkata jujur tapi Lee Joon terlalu bodoh untuk percaya.

"Donghae..." Panggilan Hyukjae sarat akan permintaan pertolongan namun yang ia dapat justru pelototan Donghae yang seperti mengatakan 'Memang kau siapa sampai aku harus repot-repot menolongmu!'. Tentu saja interaksi tak seberapa itu membuat Lee Joon semakin yakin bahwa Donghae sedang membodohinya, Donghae berpura-pura tak mengenalnya hanya untuk mengelabuinya.

Decakan kembali terdengar dari Donghae sebelum laki-laki itu berjalan mendekat dengan begitu santai.

"Jangan mendekat! Jangan mendekat atau aku benar-benar menembaknya!"

Lee Joon tiba-tiba saja merasa panik, tanganya bergantian menodong pistol kearah Donghae sebelum kembali menempel di pelipis Hyukjae. Kakinya tanpa sadar melangkah mudur saat Donghae semakin mendekatinya dengan matanya yang begitu tajam. Rasa takut mulai menguasahinya.

"Aku akan menembaknya!"

"Tembak saja."

"AKU AKAN MENEMBAKNYA DAN MENEMBAKMU!"

Saat pistol itu terarah padanya, Donghae dengan cepat meraihnya. Ia dengan paksa memutar pergelangan tangan Lee Joon hingga hampir patah menimbulkan teriakan kesakitan dari pemilik tangan. Setelah itu Donghae menendangnya begitu keras hingga tubuh penuh luka itu kembali terkapar dilantai, kali ini tak sadarkan diri.

Selesai.

Hening setalah itu sampai Donghae menyadari ada sepasang mata hitam yang sedang melihatnya. Hyukjae masih terduduk di lantai akibat dorongan Lee Joon padanya, sedari tadi ia hanya diam karena masih terkejut akan semua yang dia alami barusan. Donghae menghela nafas melihat mahkluk lemah itu. Donghae cabut semua pemikiran berbahaya serta kewaspadaanya pada orang ini. Lihat saja dia sekarang diam melihatnya dengan dengan wajah yang begitu pucat karena terlalu shock. Donghae ragu orang ini bisa membunuh semut sekalipun.

Iris cokelat dan hitam itu saling beradu.

"Pergi dan jangan kembali lagi ke tempat ini."

Setelah berkata seperti itu Donghae berjalan meninggalkan Hyukjae yang hanya diam melihat kepergiannya. Iris hitamnya terus melihat hingga punggung kokoh itu menghilang dari arah pandanganya. Lalu ia melihat sekitarnya, melihat hasil perbuatan Donghae yang memporak-porandakan tempat itu. Hyukjae mendongak ke atas.

"Senior kau benar, Donghae sangat kuat."

Tapi tunggu dulu. Donghae!

Hyukjae langsung berdiri dan kebingungan mencari Donghae yang sudah menghilang. Ia berjalan serampangan keluar club itu dengan celingukan melihat segala arah tapi nihil, Donghae sudah tak ada.

"Tidak tidak tidak! Kenapa dia sudah menghilang lagi?!" Seru Hyukjae sambil menghentak-hentakan kakinya panik lalu kembali menengadah melihat langit pagi. Tadi Donghae masih ada. Di depannya. Dan sekarang menghilang lagi. Lenyap. Tanpa jejak.

"Senior, bagaimana ini!"

Oh andai seniornya memang disitu sudah habis kepalanya terkena pukulan tak henti akibat kebodohannya, lagi.

.

.

.

Kaki jenjang berbalut sepatu hak berwarna hitam itu melangkah dengan anggun. Tangan kurusnya membawa sebuah koper besi yang tertutup rapat dengan ukuran yang lumayan besar. Beberapa orang yang berjalan bersamanya terlihat meliriknya dengan waspada hingga mereka tiba di pintu besar di ujung lorong. Sedari awal orang-orang ini bukan untuk membantunya tapi untuk mengawasinya.

Tapi itu hanya pada awalnya, senyumannya terukir.

Salah satu orang yang bersamanya membukakan pintu untuknya. Kedatangannya membuat seorang laki-laki berumur setengah abad itu membalik posisi duduknya yang tadinya melihat pemandangan kota dari atas ketinggian itu. Semua orang yang bersamanya langsung membungkuk pada sosok salah satu ketua mafia yang begitu disegani itu. Dengan pandangan puas ia melihat wanita yang kini berjalan mendekatinya, berdiri tepat didepannya.

"Jadi kau berhasil membereskan Lee Donghae?"

Pertanyaan itu membuat senyum wanita itu terukir di bibir merahnya. Ia tanpa basa-basi mengangkat koper ditangannya dan menaruhnya di meja kaca antara dia dan orang tua ini. Keduanya terdiam setelahnya melihat koper yang mereka tahu apa isinya.

Emas dan berlian miliknya.

Yang seharusnya sudah ada ditangannya sejak lama kalau saja Lee Donghae keparat itu tidak ikut campur dalam bisnisnya, mengambil keuntungan dari kelengahannya. Sungguh sampai sekarang ia benar-benar menyesal pernah menjadikan orang itu salah satu kepercayaannya, salah satu yang terbaik dari anggotanya.

Tangan keriput itu menggeser koper itu agar berada tepat di depannya. Sebelum dengan perlahan membuka koper itu untuk melihat isinya yang ia idam-idamkan. Tapi saat koper itu terbuka hanya kekosongan yang ia lihat. Dengan cepat ia melihat kearah wanita di depannya yang sudah menodongkan pistol tepat kerahnya.

"Beraninya kau-"

Suara tembakan menggema diruangan itu karena peluru itu tepat mengenai dadanya meski tak tepat menghujam jantungnya. Namun hal itu cukup membuat orang tua itu rubuh dari posisi duduknya. Dengan susah payah ia bengkit dari posisinya.

"Apa yang kalian lakukan! Bunuh wanita itu!" Perintahnya keras namun seluruh anak buahnya yang ada di sana hanya diam saja tak melakukan apapun. Saat matanya melihat mata wanita didepannya ia bisa melihat seringaian itu terukir dengan cantik. Ia terdiam saat menyadari situasi yang ada disekitarnya.

Ia dikhiyanati.

Oleh para angotanya sendiri.

Orang-orang yang harusnya menjadi bawahannya dan hanya menurut padanya itu kini mulai mendekatinya memaksa berdiri. Wanita itu berjalan mendekat lalu mengerahkan pistolnya tepat di leher orang tua itu, wajahnya mendekati telinga orang tua itu.

"Now tell me, dimana sisanya?"

Tentu saja dengan mudah orang tua itu bisa menebak apa yang dimaksud wanita ini, sisa emas dan belian yang lainnya. Sisa lainnya yang aman ditangannya. Baru ia akan mengumpat karena sungguh ia tak akan sudi membuka mulutnya kecuali untuk hinaanya pada wanita ini, namun kata-katanya tenggelam entah dimana saat telinganya menangkap suara tarikan pelatuk pistol yang mengarah tepat di lehernya.

Wanita jalang ini tak main-main akan ancamannya.

"Just say it, dear. You know I never liked messing around."

Senyum kemenangannya terukir dengan kilat merah pada matanya sesaat.

.

.

.

BRUAK

Kursi itu hancur saat menghantam kerasnya dinding setelah ditendang oleh pemiliknya. Donghae terengah setelah meluapkan amarah yang serasa mendidihkan kepalanya. Ia menengadah lalu memejamkan matanya sebagai usaha merendam rasa panas di dadanya. Tapi hal itu justru membuatnya kembali teringat dengan apa yang membuatnya begitu marah.

Beberapa saat yang lalu ia menghubungi pihak bank tempat ia menyimpan semua emas dan berliannya hanya untuk mendengar pegawai bank bodoh itu mengatakan bahwa rekeningnya telah di tutup oleh istrinya sendiri.

Hell, sejak kapan ia punya istri!

Donghae sudah bisa menebak hal ini akan terjadi mengingat wanita itu mengambil scan sidik jarinya saat ia kesakitan menahan racun, namun ia tak menyangka bahwa mereka akan bertindak secepat itu. Dan sekarang mereka sudah mendapatkan semuanya.

Pak tua itu mendapatkan seluruh emas dan berliannya.

Oh tentu Donghae tahu dimana tepatnya emas dan berlian itu berada sekarang hanya saja Donghae tidak mungkin bisa mengambilnya kembali sekarang. Ayah Lee joon dan seluruh anak buahnya itu akan menembakinya jika ia berani datang ke sarang mereka secara terang-terangan. Bertindak gegabah tidak akan membuatnya mendapatkan semuanya kembali.

Ia perlu rencana, sebuah rencana yang matang.

Bunyi ponsel menarik perhatiannya, membuatnya berjalan mendekat dan meraih benda persegi itu dari lantai tak jauh darinya. Layarnya retak akibat menjadi korban kekesalannya beberapa saat yang lalu, meski begitu masih menyala dengan benar.

Ia mengeram saat melihat hanya orang-orang pengedar yang menganggu waktunya. Jika kemarin ia tidak akan sudi meladeni mereka, tapi tidak kali ini. Ia membutuhkannya sekarang. Donghae menjawabnya tanpa pikir panjang.

"Apa yang kau inginkan?"

Pertenyaan itu terlontar dengan nada yang penuh intimidasi dan hanya dijawab dengan nada yang sama oleh orang dijalur telepon lain itu. Donghae berdecak mendengar kemauan mereka, ingin sekali ia berteriak dan mengumpat pada orang ini tapi kali ini ia tak punya pilihan.

"Baiklah, malam ini di pelabuhan. Aku hanya mau harga dua kali lipat atau kau tak akan mendapatkannya."

Donghae langsung menutupnya tanpa memberi kesempatan orang dijalur lain itu menjawab. Beradu argumen bukanlah sifatnya. Malam ini ia akan melakukan teransaksi. Sebuah pekerjaan yang paling malas ia lakukan, negosiasi antar mafia tak semudah negosiasi antar pembisnis. Mereka selalu melibatkan senjata dalam prosesnya. Tapi seperti yang Donghae katakan sebelumnya, ia tak punya pilihan sekarang. Ia harus merebut emas dan berlian itu kembali dari tangan Pak Tua itu, dan untuk merebutnya ia harus membangun kekuatan dan rencana dengan sistem kerjanya yang individual.

Sedangkan sebuah kekuatan yang besar dan rencana yang matang selalu membutuhkan banyak sekali uang.

.

.

.

Pernahkah kalian merasakan berada ditengah-tengah hal yang selama ini hanya bisa kalian lihat dari kejauhan? Berada langsung didalam hal yang selama ini tak pernah terpikirkan akan kau alami? Pernah kah?

Hyukjae pernah.

Dan sekarang ia sedang mengalaminya.

TIN TIN

"Yah! Minggir kau dari jalan!

Buk

"Kalau jalan pakai matamu!"

Bruak

"Apa yang kau lakukan! Itu barang jualan jangan merusaknya!"

Iris hitam Hyukjae hanya dapat melihat buah jeruk itu berserakan di aspal, sedangkan ia hanya dapat melihat manusia didepanya itu dengan bengong dan teriakan manusia ini yang semakin keras padanya justru membuatnya semakin tak tahu apa yang harus dilakukan.

Hyukjae kebingungan.

Sebelum kemari ia sudah membaca buku panduan tentang manusia, melihat dari jauh kehidupan mereka yang begitu rumit dan tak terkendali. Ia juga sudah menanyai seniornya perihal-hal-hal yang ganjil lalu mencatatnya di otak. Dia benar-benar siap, sangat amat siap! Sayangnya hanya dalam teorinya saja.

Iria hitamnya mengedar melihat lautan manusia di sekitarnya dengan dia sekarang tepat berada di tengah-tengahnya. Tangannya mengepal takut di dada saat melihat bahwa manusia lebih menakutkan dari dugaanya. Suara keras, raut wajah marah, serta kata-kata bernada tinggi itu sukses menciutkan nyalinya. Jangankan meminta bantuan mereka untuk mencari Donghae, mengajak mereka bicara saja Hyukjae tak berani.

Tubuh kurus itu hanya bisa berjalan kesana-kemari tak tahu tujuan dengan kepala yang menunduk takut-takut, Hyukjae terus bergerak terseret arus manusia di tengah kota itu tanpa bisa menemukan jalan keluar dari tempat dengan jutaan manusia itu. Tentu saja ramai, ia berada tepat ditengah-tengah pasar dengan orang-orang yeng begitu sibuk dengan jual beli ditambah lagi ini akhir pekan saatnya semua orang keluar dari rumah mereka.

Well butuh perjuangan dan mental yang sangat keras bagi Hyukjae sebelum akhirnya ia bisa keluar dari sana. Memisahkan diri dari kerumunan orang dan mencari tempat yang lebih sedikit manusia disana. Kini ia berjalan dipinggir jalan, sebagai informasi Hyukjae akhirnya paham bahwa ia harus berjalan di trotoar bukan di tengah jalan raya setelah dibentak oleh lebih dari tiga orang. Ia celingukan tak tahu arah dengan raut wajah kebingungan.

Kemana Donghae?

Kenapa Donghae meninggalkan lagi?

Bukankah seniornya bilang Donghae akan membantunya?

Kenyataan yang tak sesuai dengan apa yang dikatakan seniornya itu membuat rasa sesak di dadanya sebelum menjalar membuat matanya memanas, iris hitamnya mulai berkaca-kaca. Hyukjae sedang kecewa, saking kecewanya sampai ia ingin menangis. Belum sempat air matanya keluar tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang, membuatnya hampir tersungkur jatuh jika saja kakinya tak sempat menahan keseimbangan. Orang yang menabraknya itu tetap melesat pergi berlari begitu cepat.

"BERHENTI!"

Terdengar seruan dari belakang membuat Hyukjae menengok melihat orang lain yang juga berlari melewatinya. Seseorang dengan pakaian yang begitu rapi dan atribut yang tidak biasa. Seseorang yang lebih dikenal kita kenal dengan sebutan polisi. Hyukjae hanya melongo saat orang berseragam itu berhasil menangkap seseorang yang ternyata merupakan pencopet itu. Membekukkannya dan memborgol tangannya sebagai antisipasi sebelum nanti akan ia seret ke kantor polisi. Di mata manusia hal itu memang sudah seharusnya, polisi memang bertugas untuk menangkap orang jahat bukan?

Tapi tidak di mata Hyukjae yang belum ada sehari menjadi manusia ini. Perlu diketahui dalam buku panduan yang pernah ia baca tidak pernah menyebukan apa itu 'Polisi'. Jadi saat ia melihat kejadian itu, otaknya langsung merespon bahwa orang berseragam itu adalah orang jahat yang mencoba menyakiti manusia yang lainnya.

Tidak tidak, Hyukjae tak mau bertemu orang jahat seperti yang dikalahan Donghae tadi pagi. Itu menakutkan.

Polisi itu terlihat kesusahan memegangi penjahat yang kini dibekuknya. Orang ini terus bergerak berusaha untuk melarikan diri sedangkan ia harus memberikan informasi pada rekannya bahwa penjahat yang mereka kejar telah tertangkap. Matanya lekas mengedar mancari bantuan dan tak sengaja menemukan Hyukjae yang terlihat begitu kaget saat ia melihatnya.

"Hei kau kemari, bantu aku memeganginya!"

Dengan takut-takut Hyukjae menggeleng, bahkan kakinya dengan perlahan mulai melangkah mundur. Dia sudah panik luar biasa.

"Tidak perlu takut, dia sudah tidak berbahaya. Ayo bantu akau memeganginya."

Ajakan itu justru membuat Hyukjae semakin takut dan dengan cepat berbalik. Ia memaksa kakinya untuk berlari dari polisi itu, membuat polisi itu terkejut dengan tingkahnya. Tentu saja tindak- tanduknya meninmbulkan kecurigaan polisi itu.

Hanya orang yang melakukan kesalahan atau kejahatan sajalah yang melarikan diri dari polisi.

"Yah kau! Jangan lari!" Serunya pada Hyukjae meski ia sendiri sibuk dengan pencopet di tangannya.

Mata Hyukjae membulat saat ia akan berbelok di tikungan justru bertemu orang yang memakai seragam yang sama dengan orang sebelumnya, polisi yang lainnya.

"TANGKAP DIA!"

Seruan dari rekannya itu membuat polisi itu tanpa pikir panjang menangkap Hyukjae, membekuknya selayaknya penjahat tanpa pandang bulu.

"Lepaskan aku, tolong! Lepas! SENIOR TOLONG!"

Percumah Hyukjae berteriak sekuat tenaga dan meronta-ronta minta dilepaskan, karena pada akhirnya ia juga diborgol, diseret ke kantor polisi lalu di masukan ke dalam sel sementara.

Poor Hyukjae.

.

.

.

Donghae mengabil pisau tangannya lalu dengan kasar membedah matras usang di sudut apartemennya hingga menghasilkan sobekan yang cukup besar. Terlihat di dalamnya bubuk-bubuk putih yang sudah terbungkus plastik dengan ukuran yang sama dan beberapa diantaranya berbentuk pil. Tangan besarnya segera memindahkan semua obat-batan terlarang itu kedalam tas hitam dengan cekatan. Setelah selesai ia menarik resleting tas itu supaya tertitup rapat. Donghae lekas memakai mantelnya, membawa tas besar itu dan keluar dari apartemennya. Ia turun ke baseman tempat mobilnya terparkir, membuka bagasi dan melempar tas hitam itu disana. Mafia satu ini terlihat terburu memasuki kemudi mobilnya dan sebelum menstater mobilnya Donghae sempat melihat jam tangannya.

Hampir waktunya, jadi dia harus bergegas.

Setelahnya mobil Audi itu meluncur keluar dari tempat itu dengan kecepatan penuh.

.

.

.

Dua polisi itu mengamati Hyukjae yang duduk di kursi tunggu di kantor polisi, mereka sedang bingung bagaimana memperlakukan anak ini. Pasalnya dia kelihatan begitu ketakutan sampai tak mengatakan sepatah katapun dengan tangan mengepal dan tubuh sedikit gemetaran. Yah, ini bisa mereka maklumi karena anak tak berdosa ini sempat dimasukan ke penjara sementara selama beberapa jam sebelum akhirnya para polisi itu menyadari anak ini tak melakukan kejahatan apapun.

"Bisa-bisanya kau menangkap anak polos seperti dia."

"Mana aku tahu! Dia berlari saat melihatku, jadi wajarkan aku jadi curiga padanya."

Satu pukulan mendarat di kepala polisi itu.

"Aish kau ini! Sudah salah masih mengelak!"

"Ne ne, mianhae Sunbae."

"Sudah kau hubungi keluarganya?"

"Dia diam saja saat ku tanya nomer keluarganya, Sunbae."

Mereka kembali melihat Hyukjae yang sama sekali tidak menyentuh cokelat hangat yang mereka sediakan sebagai permintaan maaf.

"Kalau begitu antarkan dia pulang."

"Mwo! Ta-tapi Sunbae dia bahkan tak mau bicara, bagaimana...SUNBAE!"

Percumah Sunbaenya tak peduli dan justru meninggalkannya begitu saja. Menghela nafas, ia kemudian mendekari Hyukjae yang terlihat masih takut padanya. Polisi itu berdehem sejenak sebelum tersenyum semanis mungkin pada korban salah tangkapnya ini.

"Kuantarkan kau pulang saja ya?"

Tidak ada jawaban. Hyukjae malah semakin memundurkan tubuhnya hingga tenggelam di sofa, membuat petugas itu menjadi serba salah.

"Tenang saja, kalau rumahmu jauh aku akan mengatarkanmu dengan mobil."

Mobil?

Rasa takut Hyukjae buyar seketika saat mendengar kata 'Mobil'. Dia tahu apa itu mobil, itu adalah benda yang digunakan manusia untuk berpergian sesuai buku panduan yang sudah ia baca. Ia memang sempat melihatnya di kota tadi, namun karena terlalu sibuk memikirkan Donghae semuanya jadi terlewat. Tapi sekarang ada seorang manusia yang menawarkan dia naik mobil. Ia bisa mencari Donghae dengan mobil. Ya ya benar, Hyukjae pintar!

Untuk pertama kali setelah hampir satu hari ia menjadi manusia, ia tersenyum dengan begitu lebar.

.

.

.

Angin malam itu berhembus kencang di pelabuhan malam ini. Tempat itu jauh dari keramaian kota saat malam hari seperti ini, membuatnya sangat cocok untuk sebuah teransaksi ilegal bagi para mafia. Sebuah bangunan bekas pabrik ikan kaleng tepat di pinggir laut itu menjadi tempat pertemuan Donghae dan pemesan barangnya. Menjadi orang yang memilih tempat pertemuan membuat Donghae harus datang terlebih dahulu. Tas hitam berisi barang pesanan itu sudah siap sedia di atas meja tempat di tengah-tengah tempat itu. Donghae menyalakan rokoknya, menghisapnya dan mengepulkan asapnya ke udara.

Tak sampai ia menghabiskan setengah rokoknya suara pintu pabrik yang terbuka membuatnya segera mematikan rokoknya. Iris cokelatnya menangkap beberapa orang itu berjalan mendekatinya dengan pakaian serba hitam khas mafia. Donghae tersenyum meremehkan pada mereka. Lihat mereka, merasa seperti orang-orang terhormat meski sama-sama mafia.

Mobil polisi itu berjalan sesuai dengan instruksi yang Hyukjae paparkan. Perjalanan yang seperti tiada akhir itu membuat Polisi itu menyesal menawarkan diri mengantar Hyukjae. Lihat sekarang, mereka sudah berjalan begitu jauh hingga mencapai daerah pelabuhan namun anak ini belum juga menyuruhnya berhenti.

Berbeda dengan Polisi itu, Hyukjae justru semakin fokus pada instingnya. Mereka sudah dekat dengan Donghae, sangat dekat. Tak sampai dua ratus meter mereka memasuki pelabuhan Hyukjae langsung minta berhenti. Dengan sedikit kesusahan ia keluar dari mobil lalu berjalan cepat menjauh. Terang saja tindakan Hyukjae membuat Polisi itu ikut kalang kabut.

"Yah! Kau mau kemana?! Diisini berbahaya! Hei tunggu!" Karena takut Hyukjae akan melakukan hal-hal yang berbahaya seperti bunuh diri atau kerampokan akhirnya polisi itu mengikuti Hyukjae. Mereka berjalan hingga sampai di pinggir sebuah bekas pabrik. Dengan kesulitan Hyukjae melangkahkan kakinya diturunan berbasir, menerobos pagar kawat yang sudah rusak hingga mereka tepat di samping pabrik di bawah jenjela kaca yang sudah pecah.

Dari sana Hyukjae dapat melihat manusia yang ia cari setengah mati seharian ini. Donghae ada disana, tepat di dalam pabrik yang hanya di terangi lampu kuning di tengah ruangan. Mata Hyukjae langsung berbinar dan senyumnya semakin melebar melihat sosok kuat itu lagi disana. Dia berhasil menemukannya.

"Dong-hmp!"

Hyukjae terkejut saat sesorang membungkam mulutnya mencegahnya memanggil Donghae, dia melirik hanya untuk sadar bahwa orang yang mengatarnyalah yang kini sedang mencegahnya berteriak.

Polisi itu segera memaksa tubuh Hyukjae menunduk, menghindari para mafia itu memergoki mereka. Demi Tuhan ia begitu terkejut saat mengetahui kemana anak ini membawanya. Tempat yang benar-benar berbahaya. Mereka ada ditempat dimana sedang terjadi teransaksi ilegal antar mafia astaga, bahkan sekilas ia dapat melihat barang terlarang yang berada tepat ditengah-tengah mereka. Entah ini bisa disebut hari kesialan atau keberuntungannya. Dengan masih menahan tubuh Hyukjae di kungkungannya, ia mulai meminta bantuan dengan radio komunikasi yang selalu ia bawa. Mereka akan menangkap semua mafia itu.

Orang berwajah keras itu dengan teliti memeriksa barang terlarang itu, merasakannya sedikit untuk memastikan Donghae tidak menipunya. Donghae hanya menunggunya dengan bosan. Setelah memeriksanya ia segera menutup tas itu namun saat ia akan mengangkatnya, Donghae menahanya.

"Serahkan uangnya, maka kau akan mendapatkan barangnya." Perkataan Donghae itu terlihat berbahaya, dia tak main-main. Donghae tak mau dicurangi.

Lee Donghae dan kewaspadaannya. Donghae merupakan mafia paling sulit untuk dicari celah agar mencuranginya meski ia bekerja sendiri, membuat beberapa mafia yang berteransaksi denganya harus pintar-pintar membaca situasi dan keadaan. Meski begitu kebanyakan dari mereka tidak memiliki pilihan, semakin ketatnya pengawasan pemerintah tentang penyelundupan barang membuat mereka hanya bisa mengendalkan Donghae untuk mendapatkan barang ini. Hanya Donghae yang cukup pintar mengelabui pemerintah dan sukses menyelundupkan barang-barang ilegal selama ini tanpa terdeteksi.

Mafia itu memberikan isyarat pada rekannya, segera satu orang membawa satu koper dihadapan Donghae. Membukanya dan memperlihatkan jutaan won di dalamnya.

"Diamlah, bantuan akan segera datang."

Bisik polisi itu mencoba menahan Hyukjae yang terus berontak namun entah memang dia sedang sial siku Hyukjae tiba-tiba saja menyodok ulu hatinya keras secara tidak sengaja, membuat kesakitan. Hyukjae segera melepaskan diri, ia berlari memutari tempat itu dan menemukan pintu lainnya disana. Kaki kurusnya menyusuri tumpukan balok kayu usang itu berliku-liku sebelum menemukan Donghae yang berdiri tak jauh darinya.

"Donghae!"

Semua orang disana lekas melihat kerah Hyukjae yang tersenyum lebar. Donghae? dia terkejut luar biasa. Namun belum sempat mereka merespon kehadiran Hyukjae di sana, suara sirine membuyarkan segalanya.

POLISI!

Dengan sigap kedua pihak mafia itu langsung menodongkan senjata, saling menuduh tentang siapa yang teledor hingga polisi sampai ada disana. Satu tembakan dari mafia itu membuat Donghae juga melayakan tembakan kearah mereka hingga mengenai dua orang lawanya. Keduanya mundur mencari tempat perlindungan sambil masih saling menembak. Meninggalkan uang dan barang itu tetap ditengah ruangan itu tanpa tersentuh.

"Brengsek kau Donghae!"

Umpatan itu terdengar saat Donghae menunduk di balik salah satu mesin pabrik yang usang itu. Donghae sangat terkejut saat mendapi Hyukjae yang bersembunyi tepat di sebelahnya.

Apa yang orang ini lakukan disini!

"Kalian sudah dikepung! Serahkan diri kalian!"

Sial, sekarang dia tak bisa keluar dari tempat ini tanpa berurusan dengan para polisi itu.

Donghae menganti isi pelurunya tepat saat pintu utama pabrik itu didobrak memperlihatkan para polisi yang bersenjata lengkap. Dan seperti sudah ada yang memberi aba-aba ketiga pihak itu saling menembak dengan brutal diwaktu bersamaan. Suara peluru, teriakan kesakitan, darah berceceran segra menjadi pemandangan lazim ditempat itu.

Benar-benar kacau.

Dor!

"AKH!"

Shit!

Donghae tertembak tepat di lengan kanannya membuat Hyukjae yang sedari tadi menunduk ketakutan terkejut dan berjalan mendekatinya.

"Donghae kau tak apa? Kau berdarah!" Serunya panik hampir menangis, namun bukannya mendapat jawaban malah sebuah benda besi tiba-tiba saja dilempar kearahnya.

Sebuah pistol.

Pistol yang berisi peluru asli dan siap digunakan.

Hyukjae terdiam melihat pistol di tangannya, Donghae baru saja memberika barang yang ia gunakan untuk menyakiti orang-orang itu padanya. Ia mendongak melihat Donghae yang sibuk mengisi peluri di pistol yang ia bawa, ia akan menembak dengan tangan kiri.

"Do-Donghae i-ni..."

Iris cokelat itu melihat Hyukjae kesal.

"Apa yang kau tunggu! Bantu aku menembaki mereka!" Serunya lalu menembak salah satu mafia itu tepat dikepalanya, tapi hal itu justru membuat pihak polisi giliran menembakinya sekarang.

Fuck!

Kembali menunduk karena ditembaki, Donghae kembali melihat Hyukjae yang masih terbengong-bengong dengan pistol dikedua telapak tangannya.

"YAH! Tembak mereka!"

"Tap-tapi aku tak tahu bagaimana menggunakannya."

Astaga, apa Donghae benar-benar harus mengajarinya disutuasi terjepit seperti ini?!

"Pegang dengan kedua tanganmu, masukan jarimu kesini." Donghae mempraktekannya sambil mengarahkan pistolnya kesalah satu polisi.

"Bidik sasaranmu, tarik pelatuknya lalu tembak." Polisi itu rubuh dengan peluru yang bersarang dilengannya. Bidikan Donghae masih tepat meski dengan tangan kiri.

Hyukjae mengangguk-angguk mengerti meski ragu. Akhirnya dengan tangan gemetaran ia melakukan apa yang diajarkan Donghaae padanya.

Pegang pistolnya.

Masukan jarimu.

Bidik sasaran.

Tarik pelatuknya, lalu ...

"Yah! Yah! Jangan arahkan padaku!" Panik Donghae saat Hyukjae justru akan membidiknya.

Hyukjae juga terkejut saat menyadarinya. Dengan takut-takut ia mulai mengarahkan pistol kearah yang sama dengan Donghae dan menembakkannya.

Suara tembakan segera kembali bersautan. Donghae berhasil menembaki para polisi dan mafia itu tapi konsentrasinya buyar seketika saat ada yang menembaki kaca di langit-langit tempat musuh mereka berada, ia menengok kearah Hyukjae dan melihat anak itu menembak dengan mata tertutup.

"Apa yang kau tembak, BODOH?! Buka matamu saat menembak!"

Iris hitam itu segera terbuka dan dengan kemampuan seadanya menembak tembok, pintu kayu, kaca jendela atau jika ia beruntung pelurunya hampir mengenai musuh, lalu tong bahan bakar mesin yang langsung terbakar terkena tembakan Hyukjae.

Tunggu! Tong bahan bakar?

Semua orang seketika menghentikan tembakan, melihat bagaimana api itu merambat dari satu tong bahan bagar yang terbengkalai menuju ketumpukan puluhan tong bahan bakar mesin tak jauh dari sana.

Oh, Tidak!

Sekali lagi seperti sudah ada yang memberi aba-aba semua orang langsung beranjak dari sana. Berusaha menyelamatkan diri. Donghae segera merengkuh tubuh Hyukjae dan melompak kearah jendela.

PYAR!

BLUAR!

Tempat itu meledak tepat saat tubuh keduanya jatuh kedalam laut.

.

.

.

Dengan susah payah dan terbatuk-batuk keduanya mencoba merangkak diatas pasir pantai. Tubuh mereka basah kuyup, penuh luka dan satu tembakan khusus untuk Donghae. Iris cokelat Donghae hanya bisa melihat pabrik tua itu terbakar dari kejauhan, bahkan sekali lagi meledak sebelum benar-benar hancur.

Astaga, uangnya ada diasa.

Uangnya hangus tak bersisa.

Uang untuk segala rencanya melayang begitu saja.

"Uhuk-uhuk."

Donghae menengok kesumber suara hanya untuk melihat Hyukjae yang sudah lemas dan masih terbatuk-batuk. Maklumlah ini pertama kalinya ia tenggelam, hampir tenggelam sebenarnya karena beruntung Donghae memegangi tubuhnya tadi.

Tatapan Donghae menajam dan tanpa aba-aba menarik kaos putih Hyukjae dengan kasar, membuat wajah mereka berjarak begitu dekat.

"Brengsek! Semua gara-gara kau!"

Teriakan itu langsung meyadarkan Hyukjae sepenuhnya. Dapat ia rasakan cengkraman Donghae hampir mencekiknya.

"Katakan padaku siapa kau dan apa maumu sebenarnya!"

Teriakan serta raut wajah Donghae yang terlihat begitu marah mulai menakutinya. Meski begitu ia tetap menjawab pertanyaan itu dengan terbata.

"Hyu-Hyukjae... namaku Hyukjae."

"Apa?"

"Dan aku ... aku ..."

Donghae diam menunggu anak ini menyelesaikan kalimatnya.

"Aku adalah malaikat."

.

.

.

TBC

Wah aku gak nyangka sambutan kalian benar-benar hangat untuk ff ini, terima kasih semuanya aku sangat terharu hahaha.

Chapter selanjutnya aku akan mulai mengeluarkan member suju yang lain, jadi kalian minta siapa dulu yang keluar?

Karakter mereka semua sama persis seperti di MV dan yang pasti gak akan ada orang baik diantara mereka.

Maaf untuk typo, kesalahan penulisan serta keterlambat pos, semoga chapter ini gak mengecewakan buat kalian dan lumayan sebagai obet kangen hehehe

See u next chapter :D

Special Thanks: LeeDHKyu, Rinhyuk, eunhyukuke, isroie106, Arum Junnie, babyhyukee, Clou3elf, jaeji, Mios, FN, Jiae-haehyuk, nurul. p. putri, wnurutami, naehyuk6, Ciquelee, Panda Qingdao, leeda, cho. w. lee. 794, EunhyukJinyoung02, Xiao yueliang, ZyCho, Hyuk'smom, senavensta, gogoflo55, dalnimoon13, ha3lvettahyuk, lee eunhae, Haehyukkie, seira minkyu, Dochi Risma, elfishy09, ameliahyukee0404, kartikawaii, Nagyu331, wulandari. apple, munakyumin137, 143 is 137, diinaar. niizzer.