Naruto by. Masashi Kishimoto
Audisi Akatsuki by. IceQueen Rei-chan Yuki and Seiryuu
Rate T
Genre Humor/Friendship/Romance
Pairing AkatsukixDeidara
OOC, Sho-ai, Garing, Gaje, Aneh, Maksa, De El El.
-Thanks to Ara Shinju and Zura Tanpa Akun-
xXxXx
Gerutuan Konan makin terdengar jelas. Bahkan dengan sengaja Konan melirik sinis pada si pirang sementara anggota Akatsuki yang lain masih khusyu terkesima.
Si pirang memandangi anggota Akatsuki satu per satu sampai pandangannya berhenti pada Konan. Bukan jatuh cinta. Mana mungkin si pirang jatuh cinta pada wanita yang sejak tadi judes padanya. Tapi si pirang sudah pegal karena sejak masuk ruang audisi sampai sekarang suasananya tidak berubah. Dia sudah menunggu 3 jam 20 menit 10 detik dan belum berkata sepatah katapun. Jika waktu dilanjutkan maka menjadi 3 jam 20 menit 15 detik. Apa urusannya menghitung jam?
"Mau sampai kapan begini terus?" Tanya si pirang pada Konan. Berhubung wajah Konan masih lebih normal ketimbang anggota lain yang sudah mupeng.
"Hn." Sahut Konan sinis. Dengan malas dia mengambil kertas di tangan Pein, melirik sinis pada si pirang-
"Nama!" –dan bertanya dengan nada galak.
Si pirang manyun. Melihat sikap Konan yang judes, si pirang jadi enggan menjawab.
"Nama!" ulang Konan dengan nada yang lebih galak.
Si pirang memalingkan wajahnya dari Konan…
"Deidara!" …dan menjawab tak kalah galak dari Konan.
Konan terpancing emosi. Ingin rasanya dia menendang jauh-jauh si pirang menyebalkan ini agar popularitasnya di Akatsuki tidak terancam.
"Asal dari mana!" Konan menggebrak meja. Tak bisa dibedakan dia sedang bertanya atau membentak.
"Iwa!" Si pirang bernama Deidara itu tambah manyun. Masih untung dia mau ikut audisi. Coba pikir, mana ada yang mau ikut audisi kalau panitianya galak begitu.
Deidara dan Konan saling menatap sinis. Dalam hati masing-masing saling berkomentar.
"Uh, dasar sok kecakepan! Masih saja mau ikut audisi padahal sudah digalakin!" batin Konan.
"Pasti ini cewek naksir gue tapi gak mau ngaku. Makanya sok galak!" batin Deidara.
Aksi saling tatap sinis terus berlangsung beberapa menit hingga Konan yang tadinya mau bicara, didahului oleh Kisame.
"Suka ikan nggak? Kapan-kapan mancing bareng yuk!" ajak Kisame penuh harap.
"Tahu Dewa Jashin nggak? Masuk aliran Dewa Jashin ya~!" seru anggota Akatsuki yang berambut perak.
Deidara tampak bingung. Apa yang orang itu lakukan pada rambutnya. Kok bisa jadi warna perak begitu? Dan siapa itu Dewa Jashin? Setahunya Cuma ada Dewa Budjana, seorang pemain band beraliran Pop Rock.
Deidara memperhatikan tampang si rambut perak baik-baik sebelum pada akhirnya mengambil kesimpulan, tampangnya om-om. Dewa Jashin pasti seorang penyanyi beraliran dangdut!
Tak mau kalah dari yang lain. Itachi maju mendekati Deidara. Mengaktifkan sharingan. Lalu tangan kanannya digerakkan berputar-putar didepan wajah Deidara. Kemudian…
TRING…
Munculah sekuntum mawar merah ditangannya. Semua cengok. Lalu tepuk tangan. Hebat. Hebat. Mereka tidak tahu kalau sharingan juga bisa digunakan untuk sulap.
Tak cukup sampai disana, Itachi menyerahkan bunga itu pada Deidara. Dia juga berjongkok bak akan membuat scene beradegan melamar. Itachi meraih tangan Deidara lalu bernyanyi…
"Cause there somethin' in the way you look at me… it's as if myheart knows you're the missing piece…" Sayangnya modal Itachi hanya tampang dan tak didukung suara. Lihat saja Deidara yang sudah pasang tampang pengen boker gara-gara Itachi.
'lain kali dia lipsing aja. Sekalian divideo terus diupload ke youtube. Biar terkenal kayak Sinta dan Jojo!' Deidara membatin.
Kakuzu juga ikut beraksi. Melihat Itachi begitu PeDe-nya bernyanyi, Kakuzu mengambil sebagian uang dari sakunya dan diserahkan pada Deidara. Niatnya pengen pamer kalau dia adalah orang kaya sekaligus curi kesempatan pegang tangan Deidara. Tapi berhubung Kakuzu tidak tahu menahu tentang lagu cinta, akhirnya yang dia nyanyikan adalah…
"Aku punya teman sesat… Kuberi nama Hidan… Hidan guk guk… Kemari guk guk… Ayo lari lari guk guk…"
"Dasar mata duitan! Seenaknya aja lo ngatain gue sesat!" si rambut perak langsung menyahut. Dia mengacungkan sabit mata tiganya kearah Kakuzu.
Kakuzu lari menghindari Hidan, walau tetap isengnya dia melanjutkan bernyanyi, "Hidan guk guk… Kemari guk guk… Ayo lari lari guk guk…"
Deidara sweatdrop. Alangkah anehnya perkumpulan ini. apa pula maksud Kakuzu bernyanyi layaknya anak kecil kurang bahagia. Setidaknya lebih nyambung lagu Itachi.
Yang menjadi pertanyaan. Dimanakah anggota Akatsuki yang lain?
Konan kesal. Tiba-tiba popularitasnya diambil oleh anak baru yang bahkan belum resmi jadi anggota. Mau memukul seseorang tapi tidak tahu siapa yang harus dipukul. Pein? Tidak. Jangan Pein. Wajahnya sudah agak hancur gara-gara pierching. Kalau dipukul, nanti wajahnya tambah hancur.
Sasori? Tak boleh. Anak dibawah umur tak boleh menerima kekerasan. Sayang sekali kalau wajah imut itu dipukul. Semua orang akan menyalahkannya karena menghapus keimutan Sasori. Dan ngomong-ngomong, memangnya Sasori masih dibawah umur?
Zetsu? Kalau Zetsu… Zetsu… tak punya alasan untuk tidak memukul Zetsu, Konan memutuskan untuk menjadikan Zetsu pelampiasan. Zetsu-nya juga pasti tak akan melawan sebab sedang melakukan fotosintesis.
Tanpa ba bi bu, Konan langsung memukuli Zetsu. Sebal. Kesal. Iri. Cemburu. Seluruh perhatian telah berpindah pada Deidara. Awas saja kalau Pein juga ikut-ikutan merayu Deidara.
Pein menelan ludahnya. Hawa membunuh dari Konan sangat mengerikan. Selangkah lagi dia maju, dia tak yakin bisa selamat dari Konan. Maka Pein memilih tinggal di pojok ruangan, memeluk lutut dan menerima nasib kalau dia tak punya kesempatan mengeluarkan suara emasnya.
Sebenarnya Pein juga tak tahan dengan wajah imut Deidara. Dalam hati, Pein sudah menyiapkan lagu yang bagus untuk Deidara. "Boneka cantik, dari India. Boleh dilirik gak boleh dibawa…" dan seterusnya sambil membayangkan dia memberikan boneka pada Deidara. Tapi setelah diperiksa ulang, antara boneka dan lagu sama sekali tidak cocok. masa' lagunya boneka cantik dari India sementara tulisan di bonekanya Made In China!
Alasan lain adalah karena Konan yang terus menatapnya dengan hawa membunuh. Dia ingat bagaimana jatuh bangunnya mereka untuk bisa bersama. Kalau putus begitu saja malah timbul pertanyaan untuk apa selama ini mereka berjuang bersama-sama?
Air matanya meleleh mengingat masa-masa sulit yang mereka hadapi. Demi cinta, mereka rela dituduh kawin lari. Demi cinta, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan memulai hidup baru yang sulit. Ini bukan dunia di mana mereka bisa mendapatkan semuanya. Jika ingin satu hal, maka mereka harus melepaskan yang lain. Dan itulah yang mereka lakukan. Meninggalkan kampung halaman demi mendapatkan hidup yang bahagia di mana kisahnya hanya akan ada mereka. Pein dan Konan. Takkan ada yang lain.
Air matanya meleleh lagi. dia merasa bodoh karena hampir akan menggantikan Konan dengan orang lain. Padahal Konan adalah wanita terbaik yang dia miliki. Satu hal lagi. apa tidak ada yang mau memberi Pein tissue?
"Payah! Berisik sekali!" Sasori protes. Sedari tadi aktifitasnya terganggu suara-suara aneh yang ditimbulkan semua anggota Akatsuki. Terlebih setelah Sasori melihat suasana audisi yang jauh dari kata rapi.
Konan memukuli Zetsu layaknya Zetsu adalah sandsack. Zetsu tak melawan Konan demi kelancaran fotosintesis. Dasar tanaman!
Pein menangis sendirian di pojok ruangan. Pasti terharu dengan kisah cintanya sendiri.
Yang lainnya mengerubungi si pirang calon anggota baru dengan tampang mupeng. Tak mereka sadari jika si pirang sudah pucat pasi menghadapi mereka.
Sasori menghela nafas. Mau tak mau, dia sendiri yang harus menghentikan keanehan ini.
"Hei! Bisa diam tidak!" Teriak Sasori lantang.
Hening. Semua langsung menoleh pada Sasori. Termasuk Deidara.
Pandangan mereka bertemu. Mata aquamarine Deidara menatap lekat pada mata hazel Sasori. Sedetik kemudian Deidara tersenyum lembut.
Terpesona ku pada pandangan pertama… dan tak kuasa menahan rinduku… senyumanmu selalu menghiasi mimpiku… ingin kupeluk dan kukecup keningmu…
Hei lagu dari mana itu!
Sasori terpaku. Pandangannya tak bisa dilepaskan dari Deidara. Terasa sesuatu mengalir dalam tubuhnya. Logikanya, dia adalah kugutsu. Tak akan bisa merasakan apapun. Tapi organ asli satu-satunya yang berada di dadanya berdetak lebih kencang.
Sasori bisa mendengar detakan jantungnya menciptakan irama yang tak wajar. Namun menyenangkan. Tatapannya melembut, dan dia tak bisa menahan dirinya untuk balas tersenyum pada deidara.
Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali dia tersenyum tulus. Dia merasa inilah senyum pertama yang dia berikan sejak meninggalkan Suna. Seharusnya dia tak bisa melakukan ini. dia kugutsu. Tak akan bisa merasakan apapun.
Sasori mengesampingkan logika dan menikmati aliran waktu yang serasa terhenti. Deidara masih tersenyum lembut padanya dan dia mulai menerima kenyataan bahwa sisi kemanusiaannya telah kembali.
Mungkin diwaktu yang lain dia bisa menemukan alasan mengapa sisi kemanusiaannya kembali. Tapi untuk sekarang dia hanya ingin sejenak berdiam diri dan membiarkan dirinya tenggelam dalam keindahan iris aquamarine yang menatapnya teduh.
"Terima kasih." Batin Sasori. Terima kasih karena Deidara telah membawa perasaan baru dalam dirinya dan membuat dia menyadari bahwa masih ada yang tersenyum tulus padanya. Lalu di wajah Sasori terkembang senyuman yang lebih lembut untuk Deidara.
-To Be Continued-
Beginilah jadinya . hah... maa ii... tolong tanggapannya *nunduk* arigatou *masih nunduk*
