A/N : Halo Mina-san. Chapter 2 udah update nih. Uya update kilat nih...(Kilat kagak ya?).
Oh iya, sebelumnya Uya mau ngucapin terima kasih banyak buat yang udah reviews, juga buat silent reader, juga senpai-senpai.
Zoroutecchi, Megu-Megu-Chan, Gleeszure, Mistery, Misterius, Katrok(?), Hiru'Na' Fourthok'og', Arigatou, U-Know Maxiah, Venusflytrap, Tantand, terima kasih buaaanyaaaak sekali lagi yang udah review and yang udah ngasih Uya saran.
Ya udah. Langsung aja deh...
DISCLAIMER :
Naruto : © Masahi Kishimoto
The Plan : © Kaguya Hitsugaya
RATING: K+ T
GENRE : Romance/Hurt
PAIR : Naruto x Hinata
WARNING : AU, OOC, Typo's, gak jelas, bikin sakit telinga
Summary : Bagaimana kalau Naruto, seorang anggota geng Kaguya, geng yang urak-urakan dan membenci wanita disekolahnya, bertemu dengan Hinata. Seorang pindahan dari Sunagakure, yang selalu mengikuti kemana pun Naruto pergi. Apa yang akan terjadi selanjutnya?...
THE PLAN
CLECK
Pintu sebuah apartemen dibuka. Masuklah seorang pemuda berkulit tan, bermata biru saphire, berambut pirang jabrik dan mempunyai tiga buah goresan di kedua pipinya. Naruto.
Ia kelihatan agak lesu. Sepertinya, hari ini, hari yang paling melelahkan yang pernah ia lalui. Bagaimana tidak. Hari ini, dia bertemu dengan seorang anak baru yang sangat menyebalkan. Kemanapun dia pergi, anak baru itu selalu mengikutinya. Bahkan, anak baru itu, bisa membuat dia yang selalu kelihatan tenang, putus asa dihadapan anak baru itu. "Huh" Gumam Naruto. Ia melempar tasnya diatas sebuah meja. Kemudian ia berjalan menuju dapur. Membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air kemudian meminumnya.
Di apartemen itu, Naruto hanya tinggal sendirian. Kedua orang tuanya tinggal diluar negri. Mereka hanya setahun sekali datang menjenguk Naruto. Naruto adalah anak semata wayang dari pasangan Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki. Pebisnis yang sangat sukses sehingga mereka tak punya waktu untuk menemani anak mereka. Naruto yang sejak berumur sepuluh tahun, sudah hidup sendirian di apartemen itu, sudah tidak terlalu memikirkan orang tuanya lagi.
Setelah mengisi perutnya, Naruto beranjak menuju tempat tidurnya. Merebahkan dirinya diatas tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian, iapun terbuai ke alam mimpi.
Konoha, 07.13
Pagi-pagi sekali Naruto sudah bangun dari tidurnya dan bersiap ke sekolah. Ia ingin sekali membolos sekolah, tapi niat itu diurungkannya. Entah apa yang membuatnya rajin sekali ke sekolah hari itu. Apa karena Hinata?. Ah, tidak mungkin.
Naruto mengunci pintu apartemennya dan berangkat ke sekolah, bersiap menghadapi hidup barunya. Mungkin.
Sesampainya di sekolah, kejadian seperti kemarin terjadi lagi. Hinata lagi-lagi mengikuti kemanapun dia pergi. Naruto sudah berulang kali membentak Hinata agar berhenti mengikutinya. Tapi, itu sama sekali tidak membuat Hinata jera untuk mengikutinya. Anak-anak satu sekolah menjadi heran dengan kedua anak itu.
Hari demi hari telah berlalu. Sudah seminggu sejak Hinata pindah ke sekolah itu dan mulai mengikuti Naruto. Setiap hari, Naruto harus menjadi babysister(?)nya Hinata yang selalu mengantarnya pulang sekolah. Bagi siswa-siswi yang lain, itu sudah menjadi hal yang biasa. Begitupun dengan Naruto. Ia telah terbiasa dengan Hinata yang selalu mengikutinya terus. Perlahan-lahan, hati Naruto mulai luluh. Ia mulai senang dengan Hinata. Tapi ia tidak terlalu banyak bicara pada Hinata. Ia hanya membiarkan Hinata mengikutinya. Dibalik itu, Naruto selalu tersenyum tipis saat Hinata mengikuti.
"Haduh. Toilet!. Toilet!" Hinata berlari dengan tergesa-gesa menuju arah toilet. BRAKKKK. Pintu toilet dibuka dengan paksa oleh Hinata yang sedang kebelet.
"Hah. Legaaaa!" kata Hinata setelah keluar dari toilet. Iapun berjalan kembali ke kelas dengan muka yang berseri-seri.
"Kau... Hinata Hyuuga?" kata seseorang yang tiba-tiba menghadang Hinata. Hinata terkejut dan melihat orang itu. Empat orang siswa berwajah dingin. Seorang siswa berambut emo dengan muka stoic-nya sedang menatap Hinata dingin bersama tiga orang temannya.
"Y-ya. A-ada apa?" tanya Hinata. Ia terlihat sedikit ketakutan. Keempat siswa itu tidak menjawab. Mereka mendekati Hinata. Hinata yang ketakutan, terus melangkah mundur saat orang-orang itu mendekatinya. Hingga ahkirnya, langkahnya terhenti karena tertahan tembok dibelakangnya.
"Ku sarankan kau. Jangan pernah mendekati Naruto lagi" kata seseorang dari mereka yang memakai kacamata hitam. Suaranya sangat menakutkan bagi Hinata. Hinata mulai berkeringkat dingin saat siswa berkacamata hitam itu mendekati wajahnya.
"Ke-kenapa?" tanya Hinata ketakutan.
"Jangan banyak tanya lagi. Jangan dekati Naruto lagi" siswa berambut emo itu berbicara dengan memberi penekanan disetiap kata-katanya. Hinata terdiam ketakutan. Ia membeku ditempatnya.
"Ayo pergi" kata siswa emo itu. Mereka berempat pun meninggalkan Hinata yang sedang membatu. Namun, belum sempat mereka melangkah jauh, Hinata berteriak.
"Tidak!. Tidak akan!" teriak Hinata tegas. Siswa berambut emo itu berhenti. Ia berbalik dan mendekati Hinata.
"Kau keras kepala ya!" kata siswa itu dingin. "Sepertinya kau harus diberi pelajaran" tambahnya lagi sambil terus mendekati Hinata. Ia mengepalkan tangannya. Hinata yang ketakutan, makin merapatkan dirinya ketembok. Siswa itu mengangkat tangannya dan bersiap memukul Hinata. Hinata hanya menutup mata, bersiap menerima pukulan dari anak itu.
"Jangan pernah kau menyentuhnya... Sasuke." Hinata mendengar suara seseorang. Suara yang sangat dikenalnya. Iapun membuka matanya. Ia terkejut. Dilihatnya Naruto sedang menahan kepalan tangan siswa yang bernama Sasuke itu.
"Kau..." kata Sasuke geram. Ia menatap tajam Naruto yang ada didepannya sedang menahan kepalan tangannya.
"Kalau kalian mau... pukullah aku." kata Naruto datar. Ia melepas tangan Sasuke dari gengamannya.
"Kau masih ingat peraturan geng kan?" tanya Sasuke dingin. Wajahnya seakan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Aku tahu. Maka dari itu, karena aku telah melanggarnya, hukumlah aku. Aku tidak pernah bisa menyuruhnya menjauh dariku. Aku lemah" kata Naruto. Tersirat kekecewaan dalam kata-katanya. Ia menunduk dan tak berani menatap mata Sasuke.
Sasuke diam. Ia menatap lama Naruto yang sedang tertunduk. "Cih" gumamnya. Ia berbalik dan meninggalkan Naruto dan Hinata. Ketiga siswa lainnya mengikuti Sasuke pergi.
Naruto terdiam. Hinata mencoba mendekatinya. Tapi, Naruto malah berjalan meninggalkan Hinata. Hinata memandang Naruto. Ia pikir Naruto akan kembali ke kelas. Tapi, Naruto malah melewati kelasnya dan berjalan menuju tangga ke atap sekolah.
Hinata segera mengikuti Naruto. Ia naik keatas atap dan menemukan Naruto sedang duduk sambil memandang langit.
"Naruto..." kata Hinata pelan. Ia mendekati Naruto. "Siapa mereka?" tanya Hinata saat ia sudah berada disamping Naruto. Ia duduk disamping Naruto.
"Kaguya... Merekalah geng kaguya" kata Naruto pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari langit. Hinata mengikuti Naruto memandang langit. Ia hanya mengangguk kecil saat Naruto menjawab pertanyaannya.
"Lalu, mengapa mereka melarangmu untuk dekat denganku?" tanya Hinata lagi.
"Peraturan..." jawab Naruto singkat.
"Hmm... peraturan ya..." gumam Hinata pelan. Setelah itu, mereka berdua terdiam sambil terus menatap langit. Tiba-tiba, Hinata mengenggam tangan Naruto.
"Naruto.." kata Hinata memanggil Naruto. Naruto hanya mengumamkan 'Hn' sebagai jawaban.
"Meksi mereka akan terus melarangku mendekatimu, aku tidak akan berhenti. Tidak sampai tujuanku tercapai" kata Hinata. Itu sukses membuat Naruto terkejut. Ya, walaupun itu hanya berupa sebuah lirikan kecil Naruto pada Hinata kemudian kembali menatap langit.
"Apa... tujuanmu?" tanya Naruto pelan tapi bisa didengar oleh Hinata.
"Belum waktunya. Diahkir nanti, kau akan tahu" kata Hinata. Ia mengalihkan pandangannya pada Naruto sambil tersenyum manis. Naruto hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata Hinata.
Skip Time
Saat ini, siswa-siswi Konoha High School telah pulang sekolah. Ada yang diijemput oleh ayah mereka, pacar dan kakak mereka sendiri. Ada juga siswa yang bergerombol jalan kaki bersama-sama pulang kerumah mereka masing-masing.
Naruto dan Hinata sedang berjalan berdampingan. Naruto berjalan kearah rumah Hinata, maksudnya mau melaksanakan tugas wajibnya pada Hinata. Tapi ia dihentikan oleh Hinata.
"Naruto. Kamu mau kemana?" tanya Hinata saat melihat Naruto yang sudah jauh didepannya.
"Hn?" gumam Naruto bingung. Ia menaikkan sebelah alisnya bingung. Bukankah setiap hari, ia selalu mengantar Hinata pulang kerumahnya?.
"Aku ingin ke apartemenmu. Sebentar sore baru aku pulang saja" kata Hinata sambil memamerkan senyum andalannya itu. Naruto makin bingung. Tapi ahkirnya, ia mengiyakan perkataan Hinata itu. Mereka berdua pun berjalan menuju apartemen Naruto.
Sesampainya di apartemen, Naruto menyuruh Hinata masuk dan duduk disebuah sofa berwarna krem dengan motif bunga sakura.
"Berantakkan ya" kata Hinata saat melihat keadaan apartemen Naruto yang berantakan.
"Hn" balas Naruto sambil membuang tasnya diatas meja. Ia pergi kedapur dan menggambil dua gelas air kemudian kembali ketempat Hinata duduk.
"terima kasih" kata Hinata saat Naruto menyerahkannya segelas air. Kemudian langsung meminum air itu.
"Kamu... tunggu disini. Aku mau mandi" kata Naruto datar. Iapun langsung bergegas menuju kamar mandi meninggalkan Hinata sendiri. Hinata termenung sambul memandang keadaan apartemen yang berantakan.
"Kalau... dirapikan... dia marah tidak ya?" tanya Hinata pada dirinya sendiri. Setelah beberapa saat berpikir, iapun memutuskan untuk merapikan apartemen Naruto yang sangat berantakkan dan kotor. Hinata pun merapikan beberapa buku dilemari Naruto, ah, pokonya membersih apartemen Naruto aja, titik.
Setelah beberapa menit, Naruto keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Ia sedikit terkejut melihat apartemennya yang telah rapi dan bersih. Kepalanya celingak-celinguk mencari Hinata. Tapi Hinata tidak kelihatan. Iapun melangkahkan kakinya menuju depan. Matanya tertuju pada sosok Hinata yang sedang tertidur lelap diatas sofa. Senyuman yang jarang ia tunjukkan, ahkir keluar saat melihat wajah polos Hinata yang sedang tertidur.
"Dasar..." katanya pelan. Ia bergegas menuju kamarnya dan mengganti baju. Namun, setelah mengganti baju, ia merasakan kantuk yang begitu memaksa. Iapun terlelap diatas tempat tidurnya dan memasuki dunia lain.
06.15 Pm.
"Hooaaaaaaaam" Naruto menguap. Ia sudah terbangun dari tidurnya. Saat mengucek-ngucekkan matanya, ia teringat akan Hinata yang tertidur disofa.
"Hn, apa dia sudah bangun?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Ia pun turun dari tempat tidurnya dan menuju ruang depan.
"Cih. Belum bangun" kata Naruto saat ia melihat Hinata masih tertidur dengan lelapnya. Iapun berjalan menuju jendela. "Sudah gelap" kata Naruto lagi melihat langit yang sudah berwarna hitam. Ia berbalik dan menatap Hinata cukup lama. "Bikin susah saja" desis Naruto saat melihat Hinata yang masih belum bangun. Ia pun berjalan mendekati Hinata, mencoba membangunkannya.
Tapi, sudah berulang kali Naruto membangunkan Hinata tapi hanya dijawab dengan gumaman 'Hn' tanpa membuka mata dari Hinata.
"Tidurpun... sama kerasnya dengan kepalanya" kata naruto. Iapun ahkirnya mengendong Hinata dengan gaya bridal style. Setelah mengatur posisi Hinata dipundaknya dengan benar, ia pun berjalan keluar apartemen.
Jalanan sudah gelap. Hanya diterangi dengan lampu jalan yang cukup terang. Terlihat, seorang pemuda berambut kuning, sedang berjalan sambil mengendong seorang wanita berambut hitam panjang.
"Cih.. aku bahkan sudah seperti kekasihnya" kata Naruto yang baru sadar kalau dia dan Hinata sudah sangat dekat. Tiba-tiba, Hinata bangun dari tidur. Sambil mengucek-ngucekkan mata dengan tangan kanannya, ia bertanya pada Naruto.
"Hoamm... kita dimana?" tanya Hinata, ia tahu kalau naruto sedang mengendongnnya.
"Di neraka" jawab Naruto asal. Ia kelihatan sedikit kesal.
"Haaaahh!" kata Hinata saat mendengar jawaban Naruto.
"Kau sudah bangunkan. Kalau begitu turun dan jalan sendiri" perintah Naruto sambil bersiap menurunkan Hinata.
"Ngg. Tidak. Aku masih ngantuk. Tidak bisa jalan" kata Hinata manja.
"Kau harus turun" Naruto pun menurunkan dengan paksa Hinata dari pungungnya sehingga Hinata terduduk dijalan.
"Jalan sendiri" kata Naruto lagi. Ia berjalan duluan meninggalkan Hinata yang masih duduk ditengah jalan.
"Huaaaaaa... Papa... Huaaaa " rengek Hinata ditengah jalan. Ia terlihat seperti anak kecil yang kehilangan ibunya ditengah mol.
"Ya ampun. BISA DIAM TIDAK! CEPAT JALAN!" bentak Naruto saat mendengar rengekan Hinata.
"Huaaaa...Papa... akau dibentak huaaaa..." Hinata makin menjadi-jadi. Ia bergelindingan ditengah jalan seperti anak kecil.
"ARRRRGGGH. SUDAH. SINI" teriak Naruto frustasi. Ia berjongkok dan menyuruh Hinata naik ke punggungnya. Tangis Hinata berhenti. Ia langsung berlari dan melompat ke punggung Naruto dan memeluk leher Naruto.
"Ugh.. woyy!. Pelan-pelan!" kata Naruto saat ia merasakan punggungnya terasa sakit.
"Iya maaf. Sudah. Cepat jalan" perintah Hinata sambil menyandarkan dagunya diatas bahu Naruto.
"Iya. Cerewet!" kata Naruto kesal. Iapun segera berjalan menuju rumah Hinata. Sepanjang jalan, Hinata mengoceh didekat telingga Naruto. Karena kesal, Naruto menjitak kepala Hinata. Tapi itu malah membuat Hinata semakin semangat untuk mengoceh.
Mereka telah sampai didepan pagar rumah Hinata. Naruto menyuruh Hinata turun. Tapi Hinata menyuruhnya mengantar sampai dalam. Dengan terpaksa, Naruto mengantarnya sampai depan pintu rumah.
"Sudah sampai depan pintu. Cepat turun" kata Naruto sedikit geram dengan perlakuan Hinata.
"Sampai dalam kamar" rengek Hinata manja. Ia tidak melepaskan pelukannya dari leher Naruto.
"He? Kau gila?" tanya Naruto terkejut.
"Biarin. Mau aku nangis nih? Ha?" ancam Hinata didepan telinga Naruto.
"Hah? Ya sudah!" Naruto mengalah. Ia pun memencet bel beberapa kali. Beberapa menit kemudian, pintu dibuka oleh seorang anak perempuan kecil. Sekilas, ia hampir mirip dengan Hinata.
"Hai, Hanabi" sapa Hinata dari atas punggung Naruto pada anak kecil itu. Anak kecil itu terkejut melihat kakaknya di gendong oleh orang lain.
"Hah! Nee-chan kenapa? Dia siapa" tanya anak kecil bernama Hanabi itu.
"Nee-chan tidak apa-apa. Dia teman sekelas kakak" terang Hinata menunjukkan telunjuknya didepan wajah Naruto. Karena merasa risih, Naruto menepis telunjuk hinata dari Wajahnya.
"oh" kata Hanabi mengangguk mengerti.
"Adik kecil. Bisa biarkan kakak mengantarnya kekamarnya?" tanya Naruto sambil menunjuk wajah Hinata. Sekali lagi, karena merasa risih, Hinata menepis telunjuk Naruto dari wajahnya.
"Ah. Baik!" Hanabi mempersilahkan Naruto masuk kedalam rumah.
"Otou-san dimana Hanabi?" tanya Hinata yang masih dipunggung Naruto. Naruto pun massuk kedalam rumah.
"Belum pulang, Nee-chan" Jawab Hanabi dari depan pintu. Hinata hanya ber'oh' ria. Naruto menaiki tangga menuju kamar Hinata.
"Mau sampai dalam kamar juga?" tanya Naruto sinis saat mereka sudah sampai didepan kamar Hinata.
"Tidak usah" kata Hinata sambil turun dari punggung Naruto. "Terima kasih banyak Naruto!" sambung Hinata sambil tersenyum.
"Iya!. Aku pulang" kata Naruto sewot. Ia segera berbalik dan berjalan membelakangi Hinata.
"Iya. Hati-hati Naruto" kata Hinata. Naruto terus berjalan tanpa menghiraukan kata-kata Hinata. Setelah melihat Naruto menuruni tangga, Hinata pun masuk kedalam kamar.
Naruto menuruni tangga. Ditengah tangga, ia bertemu dengan Hanabi yang sedang menaiki tangga.
"Kakak sudah pulang?" tanya Hanabi saat berpas-pasan dengan Naruto.
"Iya. Kakak pulang dulu ya" jawab Naruto. Ia berjalan terus menuruni tangga.
"Eh. Nama kakak siapa?" tanya Hanabi dari atas tangga pada Naruto yang sudah mencapai lantai bawah.
"Naruto" jawab Naruto sambil terus berjalan. Ia pun membuka pintu dan menghilang dibalik pintu setelah menutupnya pasti.
"Naruto, ya" gumam Hanabi pelan. Ia kembali menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Hinata.
TOK TOK TOK...
"Ne-chan sudah tidur?" tanya Hanabi dari depan pintu kamar Hinata.
"Belum. Masuk saja Hanabi" jawab Hinata dari dalam kamar. Hanabi pun segera membuka pintu dan memasuki kamar. Hinata sedang menulis sesuatu diatas meja tulisnya.
"Apa dia orangnya nee-chan?" tanya Hanabi sambil menduduki kasur Hinata.
"Iya" jawab Hinata tanpa menoleh kearah Hanabi.
"apa sempat Nee-chan?" tanya Hanabi lagi. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Tenang saja. Pasti sempat kok. Tidak usah khawatir Hanabi" kata Hinata sambil berbalik memandang Hanabi. Ia nyengir memamerkan giginya kearah Hanabi. Hanabi hanya tersenyum miris memandang kakaknya itu.
!TBC!
Ah. Selesai juga Chapter duanya. Gimana? Apa makin jelek? Anchur ya? Ya tidak apa-apa.
Oh iya. Chapter depan adalah chapter terahkir. Uya sempat mikir, apa nggak langsung diselesein aja dichapter dua ini?. Tapi, karna uya ada urusan mendadak, jadi deh, uya memutuskan untuk selesein di chapter depan.
Ahkir kata.. apa ada yang mau memberikan Uya review?
REVIEW PLEASE!
