BLACK BOX 2 (Full of Flashback)

PDA Presents

.

.

.

Part 2: The First Time We Met, As The Last Time You Were Here

2 Januari, 2012

"Kemana kita hari ini? Apa sebaiknya kita ke rumah Jun? Atau mengacau di kantor Seokmin? Atau ke kedai es krim?"

Jeonghan mengapit handphone diantara telinga dan bahu kanannya, sedangkan kedua tangannya sibuk bergelut dengan barang-barang yang siap ia masukkan kedalam tas.

"Ke kampus, sepertinya."

Seseorang lain menjawab di line sebrang.

Suara rendah Jonghyun yang terdengar ganjal membuat aktifitas Jeonghan seketika berhenti, dengan mata terbelalak dan handphone yang kini beralih kedalam genggamannya.

"Apa?"

Jeonghan berharap ada sesuatu yang salah dengan ucapan Jonghyun barusan, atau mungkin telinganya sendiri.

"Maksudku, kau. Kau harus ke kampus hari ini, Jeonghan."

Dahi pemuda bersurai blonde itu mengerut.

"Bisa kau beritahu aku tanggal berapa sekarang?"

"Tanggal 2. Dan sekarang jam 7, jika kau juga tidak tahu."

"Tu-tunggu-tunggu-tunggu. Tidak. Aku yang paling tahu tanggal berapa hari ini dan jam berapa sekarang. Maka dari itulah aku bertanya padamu, harus, hanya untuk memastikan jika kau tidak sedang bicara dalam keadaan setengah sadar. Seperti minggu lalu."

"Kau terlalu banyak bicara, Tae. Sudah cepat bersiaplah, 10 menit lagi aku akan sampai di mansionmu."

"Hyung..." Jeonghan mengeluh dengan nada panjang, membuat Jonghyun menjauhkan sejenak pusat suara itu dari telinganya.

"Apa kau lupa? Atau aku yang lupa memberitahumu? Liburan tahun baruku masih tersisa 2 minggu lagi. Tidak ada kuliah dan artinya aku tidak akan pergi ke kampus dihari liburku, Hyung!"

Terdengar suara desah malas dari bibir Jonghyun, membuat Jeonghan mengira jika cara penyampainnya telah gagal terhadap sang senior sekaligus teman baiknya itu.

"Kau harus membayar kompensasi."

"Apa?" Sekali lagi Jeonghan merasa dirinnya hampir tersedak oleh kata-kata Jonghyun dari sambungan telfon mereka.

"Kau pernah terlambat 4 kali, mendapat satu nilai C di kelas Matematika, dan kau pernah absen di kelas Professor Park. Jelas?"

"Ta-ta-tapi-..."

'Ding-dong'

Suara bell dari pintu luar apartemennya menginterupsi, membuat Jeonghan menunda pembicaraannya dan segera berlari keluar kamar menuju pintu depan.

"Ayo, berangkat."

Jonghyun segera memutus sambungan telponnya, tersenyum manis dan segera mengapit leher

Jeonghan yang seketika berontak karena Jonghyun yang tiba-tiba datang mengaggetkannya. Tanpa basa-basi Jonghyun langsung menggeretnya keluar dari apartemen hingga tak sempat lagi membawa tas bersamanya.

.

.

.

"Hari pertama sampai keempat, kau bereskan lorong ke 2 hingga ke 5 di perpustakaan utama dan susun beberapa judul buku baru yang masih disimpan di gudang besar. 3 hari sisanya kau bersihkan 2 ruang kelas di jurusan bahasa."

Suara-suara itu terus mengiang dikepalanya. Jeonghan mematut langkah meninggalkan ruang Student College President dengan tunggang langgang. Perkataan sang murid nomor satu di kampusnya itu membuat mulut Jeonghan tak berhenti mengumpat sambil sesekali mendesah malas. Jeonghan tersunggut lesu. Mulai hari ini setengah dari sisa liburannya akan musnah, digantikan oleh kerja suka rela membersihkan lingkungan Universitas bersama sekian belas-mungkin puluhan murid lain yang juga memiliki kewajiban membayar kompensasi pelanggaran seperti dirinya.

"Bagaimana?"

Jonghyun tiba-tiba sudah berjalan berdampingan dengan Jeonghan yang saat itu tak begitu menggubris keberadaan pria tanned berwajah dino itu. Mereka berdua kini tengah melangkahkan kaki beriringan menyusuri koridor.

"Hebat. Aku juga harus menyelesaikan kerja kompen untuk semester lalu yang belum sempat kubayarkan. Mereka memotong 1 minggu liburanku yang berharga untuk semua pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh para staff kebersihan."

"Oh, begitu. Baguslah."

Jawab Jonghyun santai.

Jeonghan berhenti, berkacak pinggang seraya merengut dengan dahi mengernyit. Poni blondenya yang menjuntai lembut ia tiup pelan saat dirasa untainnya menghalangi pandangannya terhadap Jonghyun yang tetap melangkah mendahului dirinya.

"Hey, Sunbae-nim. Atau haruskah aku memanggilmu Mr. Vice President?"

Kini giliran Jonghyun yang berbalik badan. Jeonghan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera menyusul kakak seniornya yang menyebalkan itu dan bersiap untuk melontarkan beberapa keluhan dan protes.

"Hyung, kau kan Vice President mahasiswa disini. Kenapa kau tidak mau membantuku untuk urusan yang satu ini, huh?"

"President lebih punya hak."

"Tapi kan-..."

"Jeonghan, aku sudah membantumu tahun lalu. Kau saja yang masih terlena dan tetap melakukan banyak pelanggaran yang sama setiap tahunnya. Kau sudah memasuki semester 5. Sudah saatnya kau belajar untuk mebayar hutang-hutangmu sebelum lulus dari Universitas ini."

Jeonghan hanya bisa menunduk saat nada bicara Jonghyun sudah persis seperti menggurui. Jonghyun benar, hampir disetiap semester Jeonghan mendapat kerja kompen dari universitasnya dan hampir disetiap semester pula Jonghyun membantunya untuk 'menghindar' dari semua hukuman itu. Hal itu membuatnya lupa akan kewajiban dan terlena karena berada dibawah perlindungan kakak senior kesayangannya.

"Aku yakin, kau bisa melakukan semuanya dengan baik, Jeonghan."

Tangan kokoh Jonghyun mengusak lembut pucuk kepala Jeonghan dengan sayang, membuat pemuda bersurai panjang itu sedikit tersenyum ditengah rasa penyesalannya.

"Masuklah. Kita sudah didepan pintu perpustakaan."

Jeonghan yang baru menyadarinya segera menoleh dan benar, daun pintu kayu besar yang tertutup itu kini sudah ada disamping mereka.

Namun Jeonghan memiringkan sedikit kepalanya kekanan dan mengerutkan dahi.

"Dari mana kau tahu aku harus ke perpustakaan?"

"Kau lupa? Aku ini Vice President."

Jeonghan mendesis dan memicingkan mata melihat ekspresi Jonghyun yang kini bergaya seperti orang yang besar kepala. Hampir saja ia melayangkan jitakan di kepala Jonghyun kalau saja dirinya tak ingat jika orang disebelahnya ini adalah senior sekaligus teman terbaiknya.

Jeonghan menghela nafas pendek. "Jangan lupa, jemput aku disini pukul 3 sore."

Jonghyun menjawab dengan mengangguk sekali dan tersenyum.

Tangannya memutar satu knop dan terbukalah dahan pintu disisi kanan. Jeonghan melangkah pelan masuk kedalam perpustakaan dan satu-satunya hal yang dapat ia rasakan saat ini adalah sepi. Disini begitu senyap, dengan pencahayaan redup karena hanya bermodalkan sinar matahari yang masuk melalui pias cahaya dari balik kaca jendela. Pintu perpustakaan sudah ia tutup, dan sepertinya Jonghyun sudah melenggang jauh dari sini. Jeonghan memutuskan untuk segera memulai pekerjaannya dan menuju tepat ke lorong kedua di balik rak-rak besar buku.

"Apa hanya aku yang bertugas di perpustakaan sebesar ini?" Gumamnya pelan seraya menyapukan pandangan kesetiap sudut ruangan.

Setelah melihat-lihat, Jeonghan merasa jika tidak ada yang perlu dibereskan dengan perpustakaan ini. Seluruh lorong nampak rapi, bersih, dan sepertinya tidak ada orang yang begitu peduli jika ada beberapa buku yang tidak ditempatkan pada posisinya yang semula. Mungkin hal yang dapat ia lakukan hanyalah membersihkan sedikit debu dibeberapa titik dan menyusun beberapa judul buku baru di rak-rak yang masih menyisahkan space seperti yang diperintahkan oleh President.

Diposisi paling belakang dan sudut perpustakaan, terdapat satu pintu yang dibaliknya merupakan sebuah ruangan dimana buku-buku baru itu disimpan. Jeonghan masuk kedalamnya. Disana cukup terang dengan pencahayaan sebuah bohlam lampu kuning yang berpijar dari atas plafon. Mulut Jeonghan menganga kecil melihat pemandangan didepannya. Hamparan dus yang disusun tinggi hampir memenuhi seluruh ruangan, yang berakhir dengan dirinya yang mendesah panjang saat memikirkan betapa berat pekerjaannya seminggu ini karena harus berkutat dengan tumpukan buku-buku itu. "Gambare yo, Jeonghannie." Begitulah, Jeonghan menyemangati dirinya sendiri dengan tidak bersemangat. Ia memilih untuk mulai membuka satu dus dideretan tengah, yang didepannya bertuliskan "Ilustrasi Klasik" menggunakan spidol hitam.

"Lebih baik mulai menyusun dari Teori Sains."

Bruk!Jeonghan menjatuhkan tumpukkan buku yang sudah berada ditangannya tepat saat sebuah suara bernotasi rendah itu tiba-tiba muncul.

"Siapa disana?" Jeonghan memundurkan langkahnya kebelakang, dengan mata yang terus mengawasi ruangan yang nampak kosong kecuali yang ada hanyalah dirinya dan tumpukkan dus buku-buku itu.

"Teori Sains ditempatkan dideretan paling depan display perpustakaan." Sekali lagi orang asing itu kembali berbicara, membuat Jeonghan mendapat kesempatan untuk mencari sosok itu dengan mendekat kearah sumber suaranya.

"Kau-," Jeonghan menahan dirinya untuk tidak terlonjak melihat sesosok pemuda tengah duduk bersandar pada tumpukkan dus, dengan buku-buku dan benda asing lain (yang Jeonghan tidak tahu benda apa itu) berserakan mengelilinginya.

"Hai." Pemuda asing itu mengucapkan 'hai' tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari buku tebal yang tengah ia baca.

"Si-siapa kau?"

Jeonghan tidak bisa menahan suaranya yang kini terbata karena masih dibuat kebingungan oleh kehadiran sesosok pria yang tengah duduk dengan kaki panjangnya yang bersila.

"Choi Seungcheol." Jeonghan tertegun dengan mata membulat. Sosok bertubuh tegap dengan surai hitam itu tanpa basa-basi langsung menyebutkan namanya, berpaling dari buku yang ia baca dan...

Tersenyum manis didepan Jeonghan.

"Kemari, duduklah."

Seseorang bernama Seungcheol itu menepuk lantai kosong disebelahnya, memberi aba-aba kepada Jeonghan untuk segera duduk. Tanpa tahu alasannya Jeonghan yang saat itu masih betah membisu kini membiarkan tubuhnya bergerak mengambil posisi duduk tepat disebelah Seungcheol.

"Kau pasti Yoon Jeonghan."

Lagi-lagi Jeonghan membuka rahangnya hendak berucap, namun ragu. Seungcheol sudah kembali sibuk dengan bukunya yang membuat pemuda feminim disampingnya ini semakin bingung harus berbuat apa.

"Bagaimana kau bisa tahu namaku?"

"Jung Younghwa adalah temanku."

Seungcheol membalik satu halaman pada bukunya, sedangkan Jeonghan hanya bisa mendengung dan mengangguk kecil. Ternyata Seungcheol adalah teman si Mr. President mahasiswa dikampus ini.

"Dia bilang akan ada satu orang yang datang untuk membersihkan perpustakaan karena harus membayar kompensasinya dihari libur."

Terlihat jelas Seungcheol mengatakan hal itu sambil tersenyum menahan tawa. Jeonghan merasa sedikit tidak nyaman dibuatnya.

"Bukankah kau juga disini untuk membayar kompensasimu, huh? Tch, dasar. Jangan mengejekku, orang asing."

Jeonghan melipat kedua tangannya didepan dada seraya ikut bersandar pada tumpukkan dus dibelakang mereka. Dari sudut matanya, Jeonghan melihat pemuda disampingnya itu tetap mengulum tawa dibalik senyumnya seolah-olah ada sesuatu yang menurutnya benar-benar lucu.

"Ya, aku memang orang asing. Aku bukan mahasiswa di universitas ini."

Plop. Suara buku tebal yang ditutup itu seolah membuat Jeonghan sadar kalau tidak ada yang salah dengan pendengarannya.

"Jadi... Mengapa kau bisa ada disini?"

"Mudah saja. Younghwa adalah temanku, dan aku bisa menggunakan perpustakaan ini kapan saja setiap kali liburan tiba."

"Kau penyusup." Jeonghan menjawab asal.

"Apa aku terlihat seperti itu?"

"Memangnya apalagi kalau bukan penyusup?" Dapat Jeonghan rasakan Seungcheol kini kembali tersenyum selagi menundukkan kepalanya. Kenapa pemuda ini suka sekali tersenyum? Batin Jeonghan bertanya.

"Kau benar. Mungkin aku ini semacam penyusup. Ditempatku berkuliah tidak ada perpustakaan sebesar dan selengkap ini."

Jeonghan akhirnya mengalihkan pandangannya lagi kearah Seungcheol.

"Kenapa? Apa ada yang berbeda?"

Sebelum menjawab, Seungcheol memutar tubuhnya mengahadap Jeonghan dan menautkan jari-jari panjangnya satu sama lain.

"Kau tahu Universitas Ginchou?"

"Sepertinya aku tidak pernah mendengar nama itu."

"Sudah kuduga."

Jeonghan mengernyit. Seungcheol kembali tersenyum.

"Itu adalah sebuah universitas swasta kecil di pinggir kota. Mahasiswa kaya raya sepertimu tidak akan menyadari keberadaan tempat terpencil seperti itu."

Seungcheol menjawabnya dengan tutur kata halus dan santai, namun berbeda dengan apa yang menjadi tanggapan Jeonghan saat ini. Ia merasa tidak enak, namun tak mau juga mengakui jika dirinya merasa sedikit kasihan pada Seungcheol.

"Maaf.."

Ucap Jeonghan pelan, hampir samar.

"Ini sama sekali bukan masalah."

Seungcheol megusak lembut rambut Jeonghan, membuat susana diantara mereka semakin menghangat. Jeonghan kembali tertegun dan mengangkat tundukan kepalanya. Baginya, sikap Seungcheol yang seperti ini sama sekali bukan seperti yang biasa orang asing lain lakukan terhadapnya. Seungcheol sedikit... Berbeda.

"Kau kutu buku?"

"Menurutmu?"

"Hm... Ya, kurasa begitu. Tapi penampilanmu tidak terlihat seperti itu. Maksudku, tidak ada kaca mata, pakaian kuno, atau semacamnya. Dan kau terlihat... Keren."

Jeonghan tak mengerti kenapa rasanya bisa begitu memalukan saat dirinya mencoba untuk sekedar memuji seorang pemuda lain dengan sebutan keren.

"Maksudku, sedikit." Jeonghan memanipulasi kegugupannya dengan sangkalan klasik.

"Apa menurutmu aku juga terlihat tampan?"

Blush!

Seungcheol bertanya sambil mencodongkan badannya, semakin mempersempit jarak diantara mereka berdua. Jeonghan merasakan kedua pipinya menghangat, begitu juga dengan aliran darahnya yang terasa mendesir.

"K-kau... sikapmu terlalu eksentrik."

"Mereka bilang aku ini introvert."

"Itu tandanya mereka tidak benar-benar mengenalmu."

Ada jeda, sedikit kesunyian menyertai sebelum Seungcheol kembali menjawab.

"Kau benar."

Seungcheol tersenyum, lagi. Kali ini Jeonghan memiringkan kepalanya dan menatap mendelik pada Seungcheol.

"Kenapa kau selalu berkata bahwa semua ucapanku ini selalu benar?"

"Karena kau memang benar. Tidak ada dari mereka yang benar-benar mengenali diriku. Kita baru pertama kali bertemu, namun rasanya kau seperti mengenal diriku sejak lama. Kau istimewa, Yoon Jeonghan."

What kind of smile is this? Batin Jeonghan berseru, begitu juga dengan degup jantungnya yang kini bertalu-talu.

"Ehm... Eh... K-kau hanya terlalu... berlebihan."

Pemuda berparas feminim itu terbata, mengusap tengkuknya seperti orang kikuk.

"Seperti yang kau bilang, aku ini eksentrik."

Seungcheol hanya bisa mengulum senyum ketika satu-satunya hal yang dapat ia pikirkan saat ini adalah sosok Jeonghan yang menurutnya begitu manis.

Keheningan kemudian muncul membekukan setiap sendi udara yang melingkupi keduanya. Jeonghan mengalihkan perasaan aneh ini dengan memainkan jemarinya disela-sela memilin ujung kaus polo abu-abu yang ia kenakan. Berbeda dengan sosok Seungcheol yang selalu terlihat santai. Kali ini siluet bertubuh jangkung itu telah sibuk berkutat dengan benda-benda random yang sejak tadi berserakan disekitar mereka. Jeonghan melirik sekilas dari kegiatan memilin kausnya, melihat Seungcheol sudah begitu larut dengan aktifitasnya sendiri.

"Apa yang akan kau lakukan dengan benda-benda itu?"

"Menyusunnya."

"Menjadi apa?"

"Menurutmu?"

Jeonghan menunda jawabannya selagi mendengung dan mengetuk-ngetukkan telunjuknya didagu.

"Bagiku, mereka terlihat seperti komponen elektronik yang rusak. Tidak bisa digunakan lagi."

"Kau ini jujur sekali."

Seungcheol terkekeh kecil selagi tangannya tak berhenti bergelut mengutak-atik benda yang rata-rata berukuran mini itu. Suatu keuntungan, karena Jeonghan tidak ingin Seungcheol melihat wajahnya yang kini jelas tengah tersipu.

"Aku ingin memberimu hadiah."

Disuatu ketika Seungcheol kembali bersuara, membuat Jeonghan memiringkan kepalanya bingung.

"Aku akan berusaha membuat benda-benda rusak ini menjadi barang baru. Untukmu.."

Seungcheol akhirnya berpaling, mengunci tatapan Jeonghan kedalam telaga miliknya yang bening. Pemuda didepannya hanya bisa membisu, mengunci bibirnya dari ketegangan yang hampir membuat seluruh tubuhnya bergetar.

30 menit berjalan dengan wajar. Seungcheol tetap berjibaku dengan benda elektronik kecil yang tengah ia rangkai, sedangkan Jeonghan tetap menemaninya dengan sabar. Pemuda berkulit pucat itu memeluk lututnya selagi menunggu, sesekali melemparkan pertanyaan yang akan selalu berakhir dengan tawa Seungcheol dan usakan lembut pada rambutnya yang berwarna coklat madu.

"Nah, selesai..."

Seungcheol menepukkan kedua tangan diatas pahanya yang bersila. Sebuah benda kecil yang sejak tadi menyibukkan dirinya itu kini ia letakkan tepat diantara dirinya dan Jeonghan yang duduk saling berhadapan.

"Whooaa..."

Jeonghan akui dirinya terkesan. Tak sampai satu jam Seungcheol berhasil menyatukan benda-benda kecil tadi menjadi sebuah barang baru, meski ia sendiri tak paham benda apa sebenarnya yang telah Seungcheol buatkan untuknya. Bentuknya seperti pager. Atau mungkin benda ini memang pager, pikir Jeonghan.

"Kau tau bagaimana cara benda ini bekerja?"

Jeonghan menggeleng. Seungcheol meletakkan benda berbentuk persegi panjang itu diatas telapak tangannya, mendekatkannya pada Jeonghan.

"Memang kelihatannya sedikit berantakkan, tapi aku yakin ini bisa berfungsi."

Seungcheol menekan sebuah tombol disisi kiri, dan benar, benda itu menyala."Oh, Tuhan. Kau genius!"

Jeonghan semakin tertarik dengan benda yang tadinya tak lebih dari sekedar potongan-potongan rongsokan itu.

"Coba, ucapkan sesuatu."

Jeonghan mendelik bingung melihat Seungcheol semakin mendekatkan benda ciptaannya itu padanya.

"Katakan saja apapun yang ingin kau katakan. Kita akan membuktikan apa benda ini benar-benar bisa berfungsi atau tidak."

Tanpa sempat menjawab apapun Jeonghan hanya bisa mengangguk. Ia tidak benar-benar sedang memikirkan satu kalimat yang ingin ia ucapkan, tapi sesuatu dari dalam dirinya memaksa untuk mengucapkan hal ini.

"Terima kasih untuk hadiahnya, Choi Seungcheol."

Untuk pertama kalinya, dari sekian jam yang telah mereka lalui, Jeonghan tersenyum. Ia mengatakan terima kasih sembari tersenyum, dan menatap tepat pada kukungan mata elang Seungcheol.

Dan pemuda dihadapannya itu nyaris kehilangan kesadarannya. Seungcheol terpaku, seakan raga dan jiwanya telah memisahkan diri satu sama lain. Tapi ia mendengar degupan itu, degupan dari jantung yang kini meronta didalam dadanya. Ia hanya tak bisa berhenti mengunci tatapannya dari hadapan Jeonghan, pemuda berparas feminim yang baru pertama kali ia temui pagi ini.

"Hey, Seungcheol? Kau tidak apa-apa?"

Jeonghan mengayunkan telapak tangannya didepan Seungcheol, yang membuat pemuda bertubuh tinggi itu menggeleng menyatukan kembali dirinya dengan kesadaran.

"Oh, em... Ya, aku baik-baik saja. Kajja, kita lihat hasilnya."

Jeonghan mengangguk bersemengat, dan tanpa ragu Seungcheol langsung menekan tombol lain yang ada disana.

"Terima kasih untuk hadiahnya, Choi Seungcheol."

"BERHASIL!"

Seungcheol dan Jeonghan berteriak bersamaan. Kedua telapak tangan mereka bertepuk satu sama lain, hingga berujung pada gelak tawa dan Jeonghan yang saat itu juga segera mengambil 'hadiahnya' dari tangan Seungcheol.

"Aku tidak pernah menyangka jika semua barang bekas tadi bisa menjadi sebuah alat perekam suara ditanganmu. Kau benar-benar genius. Kau bisa menjadi seorang ilmuwan ataupun penemu suatu saat nanti, aku yakin!"

Jeonghan menggenggam hadiah ditangannya dan menatap kagum pada Seungcheol. Pemuda tampan itu hanya membalasnya dengan senyum, membuat Jeonghan berpikir jika senyuman milik Seungcheol juga merupakan sebuah hadiah yang istimewa untuk dirinya.

"Tapi aku tidak ingin menjadi seorang ilmuwan."

Ucapan Seungcheol yang terdengar tiba-tiba itu lambat laun membuat senyuman dibibir Jeonghan berubah samar.

"Kenapa?"

Jeonghan melihat pandangan Seungcheol kini menerawang jauh kedalam dimensi yang secara realistis tak dapat ia jangkau. Seungcheol seolah tenggelam dalam sebuah pemikiran yang tidak akan bisa Jeonghan pahami.

"Menjadi seorang pebisnis kedengarannya lebih menjanjikan. Atau bekerja sebagai staff penting disebuah perusahaan besar, sepertinya akan menghasilkan banyak uang. Aku hanya menyukai saat membayangkan diriku dimasa depan, mengenakan jas mahal, mengendarai mobil mewah dan punya banyak uang. Aku akan bekerja keras demi sesuatu yang kusebut dengan kebahagiaan."

Seungcheol menceritakan mimpinya, dengan Jeonghan yang dengan seksama mendengarkan tanpa ada keingiinan sedikitpun untuk mencela. Jeonghan setia memangku pipinya diatas lutut yang ia tekuk, memandangi paras tampan pria yang kini duduk berdampingan dengannya. Ia melihat Seungcheol mengehela nafas, mengapit hidungnya, dan akhirnya berpaling menatap dirinya dengan sebuah senyum.

"Aku harap, kau bisa terus melihatku sampai cita-citaku ini terwujud. Kau mau kan, Yoon Jeonghan?"

Tatapan Seungcheol bagai sedang merajut harap. Jeonghan bersiap dengan sebuah senyum yang kini terpahat dibibir pinknya sebelum menjawab.

"Bukan hanya melihat. Tapi aku yang akan memastikan jika semua cita-cita dan keinginanmu itu bisa terwujud dimasa depan..."

.

.

.

End of Chapter 2