Minna-san, gomenasaaaaaai.. cerita saya yang kemarin itu berantakan, yang chapter 2 ini sudah saya ubah, saya tambahin satu scene full HiruMamo, nyaahaha~

Oh, ya Minna-san kalau bingung dengan jalan cerita saya, maaf maaf. Karena saya ambil cerita-cerita ini berdasarkan canon nya anime dan manga, jadi gabungan gitu.

Selamat membaca yang sudah saya edit lagi. kedepannya akan saya perbaiki, semoga kesalahan sepertri ini tidak terjadi :)

terimakasih sudah mau review sebelumnya :)


Deimon Devil Bats, tim amefuto yang bertekad mati-matian mencapai impian mereka, Christmas Bowl. Seiring waktu Devil Bats mengetahui Mamori mengidap penyakit yang tak pernah di duga siapapun, perasaan aneh di dalam diri Hiruma mulai tumbuh. Dapat 'kah Mamori mempertahankan hidupnya demi janjinya menuju Christmas Bowl bersama Devil Bats dan Hiruma?

THE PROMISES

Disclaimer : Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Story : Hiruma Yuuzu

Chapter 2

.

.

Sena P.O.V

Hari ini klub amefuto Deimon tidak mengadakan latihan, kenapa? Tentu saja karena hari ini kami akan menghadiri 'National High School Football Loterry'. Aku dan Monta berlari-lari mengejar waktu karena aku harus menunggu Monta yang tak kunjung bangun dari alam mimpinya, alhasil kami terlambat. Ku lihat dari kejauhan, semua anggota Devil Bats sudah berkumpul kecuali kami… aku melihat Hiruma-san sedang memperhatikan jam tangannya, lalu mulai menghitung mundur.

"3… 2… 1. Kalian berdua terlambat anak-anak sialan!" Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celana putihnya dan menyulutkan benda itu dengan api.

DUAR DUAR

Benda-benda yang di sulut Hiruma-san itu meledak-ledak di depan ku dan Monta hingga kami terpental dan terkapar di aspal jalanan, dia ini...

"HIEE, kan hanya satu detik!"

"MUKYA! Quarterback kita ini memang tak kenal ampun!"

"Hiruma-kun! Apa yang kau lakukan?! Sena dan Monta bisa terluka!"

Mamori-neechan mulai memarahi Hiruma-san, tapi yang dimarahi hanya diam dan mengacuhkan, hahaha mereka itu selalu saja seperti ini, kemudian Mamori-neechan berlari kecil menghampiriku dan Monta. Ada yang berbeda dengan Mamori-neechan, ia memotong rambutnya?

"Sena, Monta-kun, kalian tidak apa-apa?" tanya Mamori-neechan dengan wajah yang sangat cemas. Yah, dia masih tetap khawatir, sifat overprotective nya itu kumat.

"Cantik MAX!"

"Eh, ya aku tidak apa-apa, Mamori-neechan. Kau memotong rambutmu?"

"Hm, ya aku ingin sedikit merubah penampilan sebelum turnamen Kantou dimulai." katanya sambil memainkan poni rambutnya dengan jari telunjuk.

Lalu kami mulai berjalan berombongan memasuki gedung ini dan pengundian ternyata sudah dimulai, di depan sana Riku sedang mengambil undian, Seibu ada di blok-A, dilanjut dengan sekolah Hakushuu, kemudian giliran Deimon, tim kami mendapatkan nomor 5, blok-B, itu artinya kami akan berhadapan dengan Seibu Wild Gunmans di final nanti. Dilanjutkan dengan Ojou White Knight, tim mereka ada di blok yang sama dengan kami, itu artinya kami harus melawan Ojou sebelum melawan Seibu di final.

Tiba-tiba seorang dari sekolah Hakushuu menghampiri kami, ia memperkenalkan dirinya sebagai Marco, Quarterback Hakushuu Dinosaurs, sepertinya ia bukan orang jepang asli, perawakannya seperti orang asing. Lalu ia menawarkan kami untuk menukar angka undian, dengan begitu Deimon akan berhadapan dengan Seibu sebelum bertanding dengan Ojou.

Tak lama, tim amefuto yang dijuluki 'Dewa' itu datang. Kongo Agon, dia menyerangku dengan bola undian berbentuk bola amefuto itu tepat di mataku. Kalau aku tidak menghindar beberapa inci, mungkin aku bisa buta, karena lemparannya yang ia bilang 'tergelincir' itu dapat merusak tembok di belakangku. Orang bernama Marco tadi mengurungkan niatnya untuk bertukar nomor, begitu melihat Agon tiba-tiba menyerang. Shinryuji Naga, mereka akan menjadi lawan tangguh kami di awal pertandingan.

"Mamori-neechan?"

"Ada apa Sena?"

"Kau terlihat…"

"… Cantik MAX!"

"Apa?! Kau bilang Anezaki-senpai apa Sena?!"

Jumonji, Kuroki, dan Toganou, tiba-tiba berteriak padaku, mereka kira aku bilang kalau Mamori-neechan itu terlihat cantik, itu bukan aku, tapi Monta!

"HIEE bu-bu-bukan aku! Aku belum selesai berbicara, itu tadi Monta!"

"Benarkah Sena?". Suzuna sepertinya tidak percaya dengan kata-kataku, ayolah Suzuna, kau juga tidak percaya padaku?

"Hoo, Cebol Sialan ini sepertinya tertarik denganmu ya Manajer Sialan."

Hiruma-san mulai membuka buku itu, ya buku laknat itu, ia mulai terkekeh senang sambil menulis-nuliskan sesuatu. Demi Tuhan itu bukan aku yang bilang Mamori-neechan cantik, tapi memang ku akui dia cantik tapi bukan itu maksud pembicaraan ku.

"Bukan, Hiruma-san, kau salah paham. Aku tadi mau bilang kalau Mamori-neechan itu…"

"… Cantik MAX!"

"Monta! Aku sedang bicara serius!" Aku tak sengaja membentak Monta yang kembali berulah.

"Eh, ya maaf Sena, dasar tidak seru, kau sedang tidak bisa dijahili." kata Monta memaju-majukan bibirnya itu. Lalu aku dan yang lainnya kembali menatap Mamori-neechan yang hanya diam saja.

"Mamori-neechan, kau terlihat…"

"Apa? Kenapa kalian semua melihatku? Aku tidak berkata apa-apa." kata Monta setengah kesal

"…pucat, kau baik-baik saja?" kata ku melanjutkan. Kulit putihnya memucat, terutama pada wajahnya, bibirnya juga terlihat agak kering, ku lihat sejak tadi dia melamun.

Ia sedikit terkejut dengan pertanyaan ku ini lalu ia mulai memegangi wajahnya dan berkata, "Benarkah? Ini karena aku belum sarapan, hehe."

Belum sarapan? Tidak seperti Mamori-neechan yang seperti biasa. Suzuna menghampirinya dengan wajah agak cemas, ehm, cemas.

"Mamo-nee, apa kau baik-baik saja?"

"Iya sungguh, aku baik-baik saja, Suzuna-chan, nanti aku akan makan." sahut Mamori-neechan tersenyum seperti biasanya.

"Tch, dasar Manajer Sialan merepotkan."

"Kau bilang apa Hiruma-kun?" Mamori-neechan berjalan menuju Hiruma-san yang sedari tadi memandangi kami, yaaah mereka akan mulai pertengkaran ini lagi…

"Kau merepotkan, Manajer Sialan."

"Maaf saja ya kalau aku ini merepotkan, Tuan Hiruma. Lagipula apa kau itu pernah blablablablabla…"

Yaah, keadaan ini tidak perlu kita amati, mereka itu tidak akan ada habisnya. Tapi aku sedikit khawatir, rasanya Mamori-neechan yang ini… berbeda.

~The Promises~

Suzuna P.O.V

Sehari setelah pengundian itu selesai, anggota Devil Bats mulai berlatih keras untuk melawan Shinryuji itu. Sena seperti biasa berlari-lari dengan kecepatan penuh karena kejaran Cerb-chan, Monmon berlatih pass dengan Yuki-chan dan kakak idiot itu, Ha-ha-pon bersaudara itu berlatih dengan Kuri-tan dan Komu-chan, Dobu-chan sedang melihat-lihat latihan mereka. Tapi aku tidak melihat Mamo-nee dan You-nii di mana-mana, apakah mereka sedang berduaan yaa~ kekeke sepatutnya aku cek ke dalam club house.

Tinggal selangkah lagi menuju pintu club house yang tertutup rapat itu, kekeke. Tapi kenapa tidak ada suara? Biasanya dari kejauhan sudah terdengar suara mereka berdua yang tengah berdebat. Lebih baik aku intip dari jendela saja, mungkin aku akan melihat pemandangan yang menarik, ufufu~.

Ah, sungguh mengecewakan, tidak ada You-nii yang ada Mamo-nee sendirian sedang menyapu, sepertinya Mamo-nee menghayati acara bersih-bersihnya, pelan sekali ia menyapu, hahaha. Akan ku tanya You-nii padanya saja.

Dengan santai ku buka pintu geser club houseini, aku seperti merasa dihantam dengan beban yang sangat berat begitu melihat Mamo-nee terkapar di lantai. Tuhan… ini sungguh tidak baik. Aku segera meluncur dengan in-line skate-ku menuju Mamo-nee yang tidak bergerak dari tempatnya jatuh tadi, aku menyandarkan kepalanya di tangan kiriku. Dia sadar, tapi wajahnya sangat pucat, kantung matanya yang awalnya putih bersih kini menghitam.

"Mamo-nee! Hei, apa kau baik-baik saja?". Kata ku menepuk-nepuk pipinya. Ia mulai membuka mulutnya, mengatakan sesuatu, tapi apa?! Tidak keluar suara sepelan apapun. Nafasnya juga tersengal-sengal seperti orang yang habis berlari marathon. Bagaimana ini? Aku tidak tahu-menahu mengatasi orang yang jatuh pingsan, kalau aku keluar dari sini meminta pertolongan, siapa yang menjaga Mamo-nee? Tapi lebih baik aku memberitahu mereka semua.

"Su…zuna..". Ia bicara! Terima kasih Tuhan!

"Mamo-nee, kau kenapa bisa begini?". Aku mulai ketakutan melihat keadaan orang yang sudah seperti kakak perempuan sendiri ini, aku sungguh tidak tega melihat ia tersiksa seperti ini.

"Hanya…asma..bia...sa. Ambilkan.. a...ku..in-..inhaler.". Aku segera menarik tas sekolahnya yang terletak di meja tanpa melepaskan tangan kiriku yang menjadi bantal kepalanya, sehingga tasnya terjatuh dan semua isi tas itu keluar, begitu aku menemukan benda aneh yang sepertinya itu inhaler aku memberikan benda itu padanya. Ia mengambil nafas sebanyak-banyaknya dari alat itu. Tak lama kondisinya mulai membaik, nafasnya mulai teratur, tapi ia terlihat sangat tidak berdaya.

"Mamo-nee, biar aku panggilkan yang-"

"Tidak perlu Suzuna-chan, nanti aku merepotkan, aku baik-baik saja." katanya menahan tanganku, lalu mencoba untuk duduk dan ku bantu.

"Baik-baik saja? Tapi tadi kau jatuh pingsan Mamo-nee, aku sangat... khawatir… dan takut."

"Suzuna-chan, sungguh aku baik-baik saja, hal seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan." Mamo-nee mengelus kepalaku untuk menenangkan.

"Benarkah? Kau sudah ke dokter?"

"Belum, tapi ibu ku bilang kalau aku punya penyakit asma, jadi tidak apa-apa Suzuna-chan." katanya sambil tersenyum lagi, apa sungguh tidak apa-apa? Aku membantunya berdiri menuju sofa yang tak jauh dari tempat ia terjatuh tadi, di ruang ini. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya di sandaran sofa begitu saja.

"Baiklah kalau begitu. Kau harus istirahat sebentar ya Mamo-nee, sports drink dan handuknya biar aku yang bawa. Mamo-nee, You-nii mana? Aku kira ia bersamamu." kataku sambil mengambil baki berisikan sports drink dan handuk yang ada di atas meja diskusi.

"Tadi Hiruma sedang pergi, dia bilang mau ada interview." sahut Mamo-nee dengan suara yang pelan.

"Hmm, ya sudah, aku ke lapangan ya?" Aku segera menuju pintu keluar club house, tiba-tiba Mamo-nee memanggilku kembali, refleks aku menoleh dan menghampirinya.

"Ada apa Mamo-nee? Apa kau merasa sesak lagi?" Aku segera meletakkan baki yang berisi sports drink dan handuk ini di meja dan menghampiri Mamo-nee yang masih bersandar di sofa.

"Tidak, haha kenapa kau jadi over protective begitu?"

"Ada apa, Mamo-nee?" tanya ku lagi dan duduk di sofa, di samping Mamo-nee duduk sekarang ini.

"Tolong di rahasiakan ya kalau aku punya asma, kalau mereka tahu nanti aku jadi merepotkan, oke?"

"Baik…" kataku bersiap keluar, lalu langkahku berhenti dan berbalik menghadapnya lagi.

"Apa… You-nii juga?" tanya ku tersenyum. Bukan senyum jahil.

"Hiruma-kun? Hm… Sepertinya kau harus merahasiakannya juga.". Begitu ia mengucapkan kalimat itu, entah ini mataku yang salah lihat atau bagaimana, tapi pandangannya melembut, juga senyumnya terlihat sangat tulus. Hei, Mamo-nee, mau sampai kapan kau menyembunyikan perasaanmu itu?

.

.

Mamori P.O.V

Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, latihan tanpa Hiruma berlangsung sampai pukul 5 sore. Hari ini sangat melelahkan, banyak sekali perabotan yang ku harus bereskan tadi di ruang club di tambah asma yang tadi. Lebih baik aku segera mandi, makan, dan tidur.

"Ibu, aku pulang." sapa ku begitu masuk ke dalam rumah, ibu menyambut kedatanganku dengan keramahannya, wajar, aku ini anak satu-satu nya di keluarga ini. Maka dari itu sepertinya ibu sangat menyayangiku, begitu pun denganku.

"Selamat datang, Mamo-chan. Pergilah mandi dulu, nanti kita makan bersama."

"Oh, Mamori, kau baru pulang?"

"Iya ayah, baru saja sampai. Ayah tumben ada di rumah?"

"Iya, tugasku hari ini sudah selesai dengan cepat, jadi aku pulang saja. Kau pergilah mandi dulu, nanti baru makan.". Aku langsung naik menuju kamarku untuk segera membersihkan diri, setelah selesai mandi aku segera turun untuk makan malam bersama dan langsung duduk di kursi yang telah disediakan.

Aku, ibu, dan ayah makan malam sambil berbincang-bincang tentang yang kami alami hari ini. Lalu aku teringat dengan kejadian tadi dan menceritakan semuanya pada mereka. Ayah segera menyelesaikan makan malamnya dan mengambil jaket. Aku dan ibu bingung melihat tingkahnya yang satu ini.

"Ayah, mau ke mana?" tanya ku melihat ayah yang terburu-buru.

"Kita ke rumah sakit, Mamori. Ibu, kau juga ikut."

"Ah- iya." Ibu segera bangkit dari kursinya lalu segera bersiap-siap di dalam kamarnya.

"Aku tidak apa-apa, ibu kan yang bilang kalau aku hanya terkena asma?"

"Tidak apa-apa Mamo-chan, kita hanya cek saja kok, ayo kau juga segera bersiap-siap." ajak ibu, aku hanya mengangguk setuju.

Tidak lama, kami sudah sampai di rumah sakit Jakomachi, tempat Torakichi dan Mizumachi di rawat. Ibu menyuruhku untuk menunggu di kursi yang telah disediakan pihak rumah sakit itu sementara mereka berdua sedang mengurusi registrasi dan sebagainya.

"Anezaki?"

Suara baritone ini, aku mengenalnya. Aku menoleh kebelakang, ke asal suara ini.

"Musashi-kun?" Aku agak terkejut dengan kehadirannya secara tiba-tiba di sini.

"Apa yang kau lakukan di sini?/Apa yang kau lakukan di sini?" tanya kami berdua bersamaan.

"Ah, kau duluan Musashi-kun, sedang apa di rumah sakit ini?" kataku memintanya untuk menjawab duluan.

"Ayahku di rawat di sini, apa kau tidak tahu?". Ya Tuhan, bagaimana aku bisa melupakan hal ini

"Jadi, sedang apa kau di sini, Anezaki? Kau sendirian?" tanya Musashi tanpa membiarkanku menjawab pertanyaannya.

"Tidak, aku bersama-"

"Mamo-chan… sedang apa?" Ibu dan ayah yang baru saja menyelesaikan registrasi dan lainnya menghampiriku yang tengah berbicara dengan Musashi.

"Ibu, ayah, ah perkenalkan, ini Musashi-kun, dia anggota di tim amefuto kami"

"Selamat malam, saya Takekura Gen." sapa Musashi-kun membungkukkan badannya.

"Oh, halo Takekura-kun, apa kabar?" sapa ayah, dasar, beliau memang cepat sekali akrab dengan orang lain.

"Baik, anda sendiri apa kabar?"

"Hahaha, baik. Baik. Sedang apa kau di sini?"

"Saya sedang menjenguk ayah saya, beliau di rawat di sini."

"Benarkah? Mamo-chan, kau harus menjenguknya kapan-kapan." kali ini ibu juga ikut masuk ke dalam pembicaraan ayah

"Iya, bu.". Haah ibu ini..

"Maaf kalau boleh bertanya, siapa yang sakit? Sepertinya anda berdua terlihat sehat.". Gawat, bagaimana kalau Musashi-kun tahu? Dia kan sahabat baik Hiruma, dia pasti akan memberitahu-

Anezaki Mamori… Anezaki Mamori, silahkan masuk ke ruang pemeriksaan, kami ulangi, Anezaki Mamori, silahkan masuk ke ruang pemeriksaan.

"Ah, sayang sekali Musashi-kun, kami harus masuk. Jadi sampai bertemu di latihan besok yaa." kata ku sambil mendorong-dorong punggung ayah dan ibu masuk ke ruangan.

"Mamo-chan, kenapa kami masuk juga?"

"Supaya ayah dan ibu tidak menceritakan yang aneh-aneh padanya"

"Memang kenapa?

"Ibu, dia itu kan sahabat baiknya Hiruma-kun, bagaimana kalau dia-"

"Jadi~ kau takut ya kalau quarterback kesayanganmu itu tahu kalau kau punya asma?"

"Ayah, apa-apaan sih! Tidak kok, hanya saja akan merepotkan kalau dia tahu. Sudahlah, ayo kita masuk."

"Ayah, lihat, anak perempuan mu sudah dewasa, hihi."

"Hm, ya, sepertinya dia sedang tertarik dengan orang itu. Seperti apa ya rupanya?"

.

"Hatchi! Sialan… orang sialan mana yang berani membicarakan aku…"

.

.

Normal P.O.V

Ruangan itu bersih, terdapat alat pengukur berat badan dan tinggi badan serta peralatan lainnya. Ketiga Anezaki itu duduk di kursi yang telah di sediakan dokter laki-laki tua itu. "Hm.. Anezaki Mamori, berapa usia mu?" kata dokter sambil menulis-nuliskan data Mamori di sebuah kertas.

"Hm, enam belas."

"Apa yang kau rasakan akhir-akhir ini?"

"Hanya sesak nafas biasa, tapi tadi siang sewaktu sesak nafas aku tidak bisa bicara, bahkan mengeluarkan suara sedikitpun untuk meminta temanku mengambilkan inhaler."

"Hm… apa di sini terasa sakit?" kata dokter menyentuh dada kirinya sendiri dan melihat Mamori.

"Tidak, dok." jawab Mamori menggelengkan kepalanya.

"Apa kau merasa mual?"

"Tidak."

"Keringat dingin?"

"Tidak juga."

"Cepat lelah?"

"Tidak, sejauh ini yang aku rasakan hanya sesak nafas. Juga kadang-kadang aku susah tidur." kata Mamori dengan nada final.

"Hm.. ini hanya asma…" kata dokter sambil kembali menulis.

"Benarkan apa yang ku bilang? Aku hanya sesak nafas biasa. Ayah, ibu, kalian terlalu berlebihan." Mamori menggembungkan kedua pipinya dan melihat kedua orangtua nya.

"Apa salahnya Mamori kalau hanya mengecek."

"Iya, Mamo-chan, mencegah itu lebih baik daripada mengobati."

"Baiklah..."

Kemudian dokter laki-laki tua itu memberikan sebuah kertas yang tulisannya tidak dapat di baca. Seperti cacing yang meliuk-liuk.

"Ini saya berikan resep vitamin untuk Nona Anezaki. Kapan anda terakhir mengalami asma?"

"Sejak… aku lulus SMP."

~The Promises~

Hiruma P.O.V

Cebol Sialan dan Monyet Sialan itu, apa yang mereka lakukan di depan pintu club house. Hm? Aku ingat masih punya saus barbeque.

"MUKYAAA!/HIII!"

"Apa ini… saus?" kata Monyet Sialan itu sambil mengendus-ngendus saus yang kusiram di atas kepalanya tadi, kekeke, selamat menjadi makanan utama. Daging monyet, apa Cerberus akan suka? Kekeke.

"Kenapa kau menyembunyikan dari tim mu sendiri, Hiruma?" Pemabuk Sialan itu bertanya padaku setelah Monyet Sialan dan Cebol Sialan itu lari pontang-panting di kejar Cerberus.

"Monyet Sialan itu akan berisik. Aku yakin itu. Lebih baik tidak membiarkan dia tahu."

Mereka semua sudah berkumpul untuk latihan di sini, tapi satu yang tidak ku lihat. Di mana Gendut Sialan itu?

"Gendut Sialan itu pasti sedang bersembunyi di dalam kotak lagi. Akan ku bakar dia!" kata ku sambil mengangkat-angkat flame thrower di tanganku ini.

KLANG

Suara tabung fire extinguisher yang jatuh itu membuat kami yang disekitarnya menoleh. Manajer Sialan itu, apa yang dia lakukan dengan benda itu?

"Hoi, Manajer Sialan, apa yang sedang kau lakukan?"

"Tentu saja aku akan menghentikan aksimu membakar Kurita-kun itu dengan ini, tapi... ini berat sekali, padahal baru saja aku bisa mengangkatnya dengan satu tangan". Dasar Manajer Sialan bodoh, mana ada seorang perempuan bisa mengangkat tabung besi sebesar itu dengan satu tangan.

"Bodoh, aku tidak mungkin benar-benar membakar Gendut Sialan itu!"

.

.

Normal P.O.V

Berkali-kali Mamori mengelap keringat yang membanjiri wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa, meskipun cuaca tidak sepanas hari biasanya, tapi tubuh Mamori mengeluarkan keringat lebih banyak dari anggota Devil Bats lainnya.

"Mamori-san?"

"Ya, ada apa Monta-kun? Ada yang bisa ku bantu?" tanya Mamori tersenyum pada Monta yang mendekatinya.

"Apa kau sakit?"

"Tidak, aku hanya kepanasan, hahaha. Apa kau mau minum?" kata Mamori menyodorkan sebotol sports drink dan di terima oleh Monta, setelah ia mengucapkan terima kasih, ia segera menuju Suzuna yang sedang menyemangati Sena.

"Oi, Suzuna."

"Ya~ Ada apa Monmon? Ayo Sena! Lari lebih cepat lagi kalau tidak mau jadi santapan Cerberus!" kata Suzuna sambil menyemangati Sena.

"Mamori-san, sepertinya tidak sedang baik-baik ya?"

"Eh? Apa maksudmu Monmon?". Suzuna terkejut dengan pertanyaan Monta, lalu ia menoleh Monta untuk pembicaraan yang lebih jelas.

"Iya tadi aku menghampirinya minta minuman. Daritadi kalau ku lihat dia mengelap-elap wajahnya terus. Ia berkeringat seperti orang habis berlari, padahal dia kan hanya di situ mengamati kita. Apa kau tahu kenapa Suzuna?"

'Ya, aku tahu Monmon, tapi maaf aku sudah berjanji pada Mamo-nee kalau harus menyembunyikan penyakitnya, tapi apa penyakit asma bisa berkeringat seperti itu? Yah, paling hanya kepanasan'

"Oi, Suzuna, aku bertanya padamu." tegur Monta lagi karena tidak mendapat jawaban dari Suzuna.

"Eh? A-Aku tidak tahu Monmon. Kau memperhatikan Mamo-nee ya!? Akan ku laporkan pada You-nii kau bengong saat latihan!" bentak Suzuna untuk mengalihkan pembicaraan dan berhasil, Monta teralihkan dari pembicaraan awal.

"MUKYAA! Apa maksudmu Suzuna? Kau mau bilang kalau Mamori-san itu cuma milik Hiruma-san seorang?!"

"Ya! Itu maksudku, aku ini kan penggemar mereka berdua. Mamo-nee itu lebih cocok dengan You-nii tahu!"

"MUKKIIII!"

.

.

Normal P.O.V

Hari sudah semakin sore, anggota Devil Bats yang baru saja menyelesaikan 'latihan neraka' mereka mulai berpergian keluar club house menuju rumah masing-masing hingga club house ini hanya tersisa Hiruma dan Mamori berdua.

Hiruma dengan seragam sekolah yang lengkap sedang bermain dengan laptop di meja diskusi dengan secangkir kopi yang menemaninya mencari-cari ratusan bahkan ribuan strategi untuk menjatuhkan Shinryuji.

Sedangkan Mamori, lengan panjang kemeja putihnya ia gulung sampai sikut, rambut pendek sebahu nya ia ikat, masih sibuk membersihkan ruang klub dengan sapu. Ia melirik jam dinding yang bertengger tak jauh dari tempat dia menyapu, pukul 7 sore, sudah waktunya seorang gadis pulang ke rumah.

Mamori segera meletakkan peralatan bersih-bersih itu pada tempatnya. Ia berjalan menuju meja diskusi tempat Hiruma sedang sibuk dengan laptop. Mamori berpikir untuk membantu pekerjaan laki-laki itu sebelum pulang, tapi jika di lihat dari ekspresi wajahnya, Hiruma sedang tidak bisa di ganggu. Mamori tahu dari kacamata berbingkai hitam yang Hiruma gunakan, dia hanya akan menggunakan kacamata kalau sedang amat sangat serius. Mamori tersenyum tipis melihat keseriusan laki-laki di hadapannya ini. Lain sisi, Mamori juga sedang malas untuk membantu pekerjaan Hiruma, ia merasa sangat lelah hari ini.

Mamori berlalu melewati Hiruma untuk mengambil tas sekolah yang dia letakkan di kursi dekat Hiruma duduk. Memasukkan barang keperluan sekolahnya, lalu beranjak menuju pintu keluar club house, segera pulang tanpa pamit.

"Mau ke mana kau, Manajer Sialan?"

Mamori berbalik, Hiruma kini sedang melihatnya serius di balik kacamata itu. 'Tampan...' pikir Mamori.

"Aku mau pulang, Hiruma-kun." Sahut Mamori pelan.

"Siapa yang mengizinkanmu pulang? Kau pikir untuk apa aku menunggumu bersih-bersih sampai jam segini?"

"Mou, kau itu kalau memang perlu bantuan, bilang saja! Tidak perlu marah-marah."

Keinginan Mamori untuk pulang cepat hari ini, naas. Mau tidak mau dia harus membantu Hiruma mengatur strategi untuk pertandingan besok. Dia juga tidak mau kalau tim nya kalah hanya karena dia tidak membantu Hiruma mengatur strategi.

Lalu Mamori menghampiri dan menarik kursi untuk duduk di samping Hiruma yang kembali sibuk dengan laptop. Menuruti perintah dan kemauannya.

Sekarang pukul 9, sudah dua jam mereka berdua mengatur strategi. Tak lama lagi dunia akan memasuki musim dingin, salju tepatnya. Ruangan ini tidak memiliki penghangat ruangan layaknya perumahan warga. Mamori mulai menggigil, ia mengusap-usap kedua telapak tangannya dengan cepat lalu meniup-niupkannya, berharap mendapatkan kehangatan.

"Di mana blazer ku, ya…"

Mamori berdiri dari posisinya meninggalkan tumpukan kertas yang ia hadapi sebelumnya di meja diskusi. Ia mulai mengitari ruangan itu, mencari-cari keberadaan blazer hijau sekolahnya yang ia lupa di mana meletakkannya. Dari sofa, dapur, loker, dan ketika Mamori ingin memasuki kamar mandi, ia mengurungkan niatnya, tidak mungkin ia masuk ke kamar mandi laki-laki. Mamori kembali ke meja diskusi, mengeluarkan isi tasnya demi mencari blazer hijau itu.

"Uh... Dingin sekali, di mana blazer ku itu. Ah, iya, tertinggal di kelas! Pukul 9 apa gedung sekolah sudah di kunci, ya? Lebih baik aku ke sana." Mamori segera berjalan cepat menuju pintu keluar.

"Manajer Sialan"

"Apa Hiru-"

SREK

"Hiruma-kun! Apa-apaan sih!"

Sebuah blazer hijau melayang cepat ke wajah gadis itu sehingga Mamori terkejut dan mulai emosi. Tapi emosi itu kembali meredam begitu melihat Hiruma tidak menggunakan blazer. Di mana blazer yang sebelumnya ia pakai?

Kemudian Mamori mencium bau permen karet mint yang menguar dari blazer yang sebelumnya Hiruma lempar ke wajah Mamori. Ia mengerti sekarang. Ini adalah blazer milik Hiruma.

"Hiruma-kun, apa maksudmu melempar blazer milikmu, TEPAT DI WAJAHKU ini?" kata Mamori emosi.

"Kekeke, jadi kau tidak mau pakai blazer ku itu? Baiklah kalau kau mau mati kedinginan, kembalikan padaku." Kata Hiruma mengulurkan tangan meminta blazernya kembali.

"Aku bisa kok pakai blazer milikku sendiri, aku akan ambil di kelas" kata Mamori mengakhiri pembicaraan dan kembali berbalik untuk keluar ruangan.

"Ya, terserah kau saja, Manajer Sialan. Kalau kau mau bertemu hantu-hantu sialan itu, itu urusanmu, kekeke"

Mamori menghentikan langkahnya begitu mendengar kata 'hantu'. Satu kata yang mampu membuat Mamori berbalik, mengurungkan niatnya untuk ke kelas sendirian. Lalu Mamori memakai blazer hijau yang ukurannya sangat besar di tubuhnya. Hangat. Itu yang Mamori rasakan.

Ia kembali duduk di dekat Hiruma, "Terima kasih, Hiruma-kun." Kata Mamori tersenyum manis pada laki-laki di sampingnya, lalu kembali berkutat dengan tumpukan kertas di depannya.

Hiruma menghentikan ketikan laptopnya, menatap Mamori sekilas, lalu melanjutkan pekerjaannya.

.

.

Pukul 10 malam, Mamori kini sudah berbaring di kasur kesayangannya. Akhirnya, sekarang ia dapat menikmati lembutnya kasur rumah setelah membersihkan diri. Mamori merasa sangat lelah hari ini, ia mulai menutup mata, mengakhiri malam.

Pikirannya terganggu oleh kejadian di club house tadi. Mamori tersenyum mengingat perlakuan Hiruma padanya, meskipun terlihat kasar, Mamori bisa merasakan kalau Hiruma itu orang yang sangat baik.

Mamori kembali menutup mata. Namun, bau itu kembali menghantui pikirannya, bau mint yang menguar dari blazer Hiruma yang beberapa saat lalu ia pakai masih menempel di bagian tubuhnya. Mamori kembali membuka mata, melihat blazer hijau yang dia gantung rapih di belakang pintu kamarnya.

Ia bangkit dari kasur empuk nya itu, mengambil blazer hijau yang tergantung dan kembali duduk di kasurnya, mengangkat dan memandangi blazer itu. Raut wajahnya berubah menjadi kesal.

SRAK

"Dasar Hiruma-kun bodoh!" jerit Mamori pelan sambil memukulkan blazer Hiruma ke dinding kamarnya.

"Dia pikir melempar blazer ke wajah itu tidak membuat orang terkejut!"

SRAK

"Dia juga tidak perlu menakut-nakuti ku kan!"

SRAK

"Dia-" Mamori menghentikan lemparan terakhirnya sebelum blazer itu memebentur dinding untuk yang ke sekian kalinya, bau mint dari blazer tercium oleh penciuman Mamori, membuatnya tenang untuk beberapa saat. Tidak lama, Mamori menjatuhkan badannya di kasur, ia mulai mengantuk, dan Mamori tertidur sambil memeluk blazer Hiruma.