A Baby Magic!

.

.

Huahahaha! Gomen! Ketrin telet update. Juga makasih buat Readers yang kasih reviews dan juga yang baca fic ketrin.

DracoKid: Gyaa! (O/O) T-Tidak kok! Aichi tidak hamil! / nanti kalau begitu, bisa-bisa Ketrin disangka pedofil. Tapi ide itu bisa ketrin pertimbangkan #dihajarKai. Bercanda kok, bercanda!

Kujo Kasuza: Ah, Aichi memang cowok yang paling cantik _ #KurapikaDikemanain?# Arigatou buat fave nya ya ^_^

Honami Fukushima: Ah, arigatou atas Reviewnya Fukushima-san ^^. Kalau endingnya.. Itu bakal jadi suprise ;)

.

.

Keesokan harinya, entah roh kuda jenis apa (?) yang merasuki Aichi sehingga tidak telat bangun. Pagi itu, akhirnya dia bisa jalani dengan santai saja tanpa perlu bergegas seperti dikejar setan. Sekarang hanya tinggal satu hal saja yang dia inginkan, yaitu Bertemu dengan Toshiki Kai.

'Aah, andai aku bisa ngobrol sama dia nanti.' Angan-angan Aichi mulai meraja di pikirannya hingga dirinya merasakan suatu sensasi nikmat(?) di jidatnya.

.

.

.

"A-Aichi.. Kau takapa?" Emi sweatdrop sambil membantu kakaknya yang sudah benjol.

"Ittai.. Sejak kapan ada tiang lampu disini?"

"Sejak dulu, Aichi." Emi makin sweatdrop. "Percaya atau tidak, kau dengan mulusnya menabrak besi ini. Sugoi, nee-san."

Aichi langsung membekap mulut Emi dan memastikan tidak ada yang mendengar panggilan tadi.

"Jeesh, Emi. Jangan panggil aku seperti itu. Bahaya kalau ada yang dengar." Keluh Aichi.

"Malahan, Aichi. Apa mereka semua percaya kalau kau ini cowo?"

"Errmm.. percaya sih iya. Cuman aku sering diejek juga gara-gara muka dan suaraku."

"Jangan lupa sifatmu, Aichi."

"Iya deh. Aku tahu aku ini memang low level amat." Aichi serasa kepingin pundung.

"Siapa yang low-level?"

"Itu aku, Toshiki-senpai... E-EH?! T-TOSHIKI-SENPAI?!" Jerit Aichi, nyaris membuat Emi budeq mengingat dia disampingnya.

Kai menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Aku hari ini tampaknya seperti setan ya?" (Author: betul sekali! #dihajar)

"B-Bukan, senpai. Aku terkejut saja Senpai lewat disini." Ujar Aichi malu-malu.

"Rumahku di sekitar sini. Wajar saja aku lewat." Balas Kai kalem.

'Ternyata rumah kita berdekatan yah?' Aichi nyaris berteriak kegirangan.

Emi berdehem menyadarkan keduanya untuk berhenti cipika cipiki dan langsung tembak ke sekolah masing-masing. Ketika sampai di persimpangan jalan, sekolah Emi di arah sebaliknya dari sekolah kakaknya sehingga dia harus pamit duluan.

"Nanti belajar ya Aichii! Jangan pacaraan!" seru Emi sambil berlari ke arah tujuannya.

'Emi.. Kau nggak membantu sama sekali..' Aichi udah mau nangis. Asalkan itu dipelukan sang malaikat rupawan. (Kai: hah?)

Akhirnya Aichi kembali berjalan bersama Kai disampingnya. Dirinya sudah seperti ketiban durian gede aja. (reader: itu disyukurin ato ditangisin yah? #sweatdrop)

Tapi ketiban durian itu ada untung dan sialnya. Aichi sudah mendapat untungnya, tapi ketika sampai di gerbang sekolah kesialan itu malah menghampiri sang Sendou.

"Kyaa! Toshiki-senpai lama banget~"

"K-Kalau Toshiki-senpai sampai telat.. A-Aku akan ikut dihukum bersama Toshiki-kun.."

"Toshiki-sama~ Aku membuatkan brownies ini untukmu~"

Segala macam FG dengan beragam panggilan kepada Kai membuat Aichi semakin ciut saja. dengan senyum lemah, dia hanya melambai ke arah Kai yang bahkan mungkin tak melihatnya karena sibuk dengan makhluk jejadian (?) yang mengerumuninya.

Seperti di hari-hari biasa. Berjalan di koridor, beberapa teman sekelasnya asik mengejeknya. Ada juga yang menyandungnya dengan sengaja. Sampai di kelas, Morikawa lagi-lagi merajalela. Sampai di tempat duduk pun, dia tak bisa tenang karena penuh sampah yang diselipkan dengan sengaja oleh sekelasnya yang usil.

'Aku tak ingin menahan ini lagi.. Tapi aku udah janji sama diriku sendiri..' batin Aichi miris.

Ketika bel berbunyi, bahkan lagi-lagi kesialannya tak henti-henti juga. Sang guru eksentrik, yakni Mark Whiting sudah berakting lebay seperti biasa.

"AICHI! AKHIRNYA KAU SUDAH MENYUDUTKAN SANG MUSUH! MEMEGANG PEDANG KEADILAN DI TANGANMU! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN TERHADAP MUSUH ITU?!"

Aichi tergagap ditempat sementara satu kelasnya mulai cekikikan. Aichi sangat amat teramat tidak menyukai pertanyaan konyol diluar pelajaran seperti ini.

"B-Bukannya kita harus belajar sejarah, sensei?" Aichi sweatdrop.

"Ah! Kita bisa lanjutin itu nanti! Sekarang jawab pertanyaan tadi!" inilah ciri-ciri guru bejad, permirsa.

"Y-Yah.. Karena tadi sensei bilang aku memegang pedang keadilan.. aku akan membiarkan musuh itu tetap hidup. Tak ada keadilan yang ingin pihak manapun mati."

Gelak tawa terdengar, apalagi yang meluncur mulus dari mulut bath-tub milik Morikawa. Mark, sang guru tak normal hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil membuat emoticon sedih di wajahnya.

"Oh mengapaaa! Muridku satu-satunya ini harus jadi penakut seperti iniii!" jerit sang guru dengan lebay tanpa modal.

'Kuakui inilah neraka yang bisa berjalan.' Batin Aichi.

Beberapa les pelajaran kemudian, sudah saatnya mata pelajaran olahraga. Kalau teori sih Aichi bolehan saja. tapi kalau menyangkut praktek, dia sangat tidak kuat. apalagi kali ini pelajarannya renang.

"Sendou, kamu tidak masuk lagi ya?" tanya gurunya.

"Ah, sensei masa lupa? Aku kan alergi klorin. Jadi aku tak boleh berenang." Sahut Aichi-bohong-

Guru olahraganya masih baik dan perhatian. Nggak kayak guru bejad yang diatas sana tadi. Buat guru-guru sedunia, jangan sampai ketularan guru yang diatas itu ya. Itu sih namanya guru sok jadi anak zaman tapi gagal pula. #ditendangMark

Aichi hanya senyum-senyum memperhatikan satu kelasnya asik berenang sana-sini dengan gaya favorit mereka. Bukannya Aichi tak bisa berenang tapi dia tidak mungkin berenang. Mengingat dia sedang 'menyamar'.

Selagi kelasnya berenang, mereka tidak menyadari kalau mereka kedatangan rombongan lainnya.

"Permisi John-sensei, bolehkah anak SMA numpang di kolam SMP sebentar? Kolam SMA sedang direnovasi." Seorang guru dengan training dan topi datang menghampiri guru olahraga tadi.

(Note: SMP dan SMA mereka digabungkan.)

"Ah! Tentu boleh, Yoshiki-sensei. Malah bagus mereka bisa bergabung dengan senior-senior mereka."

Yoshiki memberi aba-aba kepada muridnya dan segera saja mereka terjun seenak hati. Ada juga yang bergabung dengan junior yang mereka kenal. Kalau yang ceweknya sudah mengerubuti para playboy beken (?)

Aichi sweatdrop di tempat. Satu kelas saja sudah heboh minta ampun. Ini ditambah lagi. Seperti gempa bumi saja. Aichi kembali mengamati mereka sampai dia mendengar sahutan dari seorang senior.

"Eh? Kamu kan yang tadi jalan bareng Kai."

Aichi menengok ke sumber suara dan menemukan seorang pemuda pirang dengan iris abu-abu. Jikalau mengenal Toshiki Kai, maka otomatis juga akan mengenal sohibnya yang berbeda sifat dengannya itu. Taishi Miwa.

"Uhm..I-Iya senpai.."

"Hahaha, jangan formal gitu dong! Kawannya Kai juga kawanku kok."

"Err.. kami sih cuman sekedar berjalan sama saja, senpai. Belum sampai kenalan."

"Ha? Masa? Padahal seingatku Kai pernah bercerita tentangmu!"

Aichi membeku di tempat. Hanya terdengar degupan jantungnya yang jelas."B-Bisa Senpai jelasin maksudnya?"

"Aku gak ingat itu kapan. Tapi Kai pernah mencoba cari info tentangmu. Bahkan dia nekat masuk ruang arsip tapi dia kepergok dan dihukum. Aku sih lolos aja!" Miwa dengan bangganya menepuk dadanya.

Aichi nyaris jawdrop dengan mulusnya. "Taishi-senpai.. Beneran Toshiki-senpai dihukum guru?"

"Aku punya fotonya waktu dihukum lagi! Mau tengok?"

Sebelum Miwa pergi mengambil ponselnya, dirinya sudah dihentikan sang brunette dengan tatapan mata tajam.

" . .Dihukum. Miwa. ?" Kai sudah pakai aura horror.

"Huehehe, lumayan buat bisnis, Kai."

Alhasil Miwa ditendang kembali kedalam kolam dengan sadisnya. Lagi-lagi Aichi nyaris jawdrop. Toshiki yang dikiranya selama ini bersifat kalem, cuek dan tampak mengendalikan diri. Tau-taunya Miwa udah jadi samsak hidup.

"Kau tidak berenang?"

"A-Ah! Eh.. uhm.. T-T-Tidak, senpai... A-A-Aku alergi k-klorin kolam." Wajah Aichi memerah total.

"Oooh.. Aku juga gak berenang toh."

Itulah yang keluar dari mulut sang senior sebelum dia duduk dengan posisi santai disamping Aichi.

'Keajaiban itu memang NYATA!' jeritnya dalam hati. Sudah 2 hari berturut-turut dia berinteraksi dengan dream-boy nya itu.

Kemudian terdapat kesunyian yang mencekam diantara mereka. Kita tidak tahu Kai berniat ngomong atau nggak. Tapi kalau Aichi? Jelas dia tak terlalu berani.

"Buku milikmu itu.."

Mendengar ucapan Kai tiba-tiba, jantung Aichi kembali aktif.

"Itu diarymu yah?"

Aichi menelan ludahnya gugup lalu mengangguk pelan. Kai hanya ber-ooh ria pelan.

"Maaf ya tapi aku tak sengaja mengintip beberapa halaman." Ujar Kai sambil menggaruk pipinya yang tak gatal dan tersenyum tipis.

Tetapi Aichi sudah membuat wajah shock yang gak karuan. Melihat wajah malangnya, Kai langsung saja sweatdrop.

"T-Tapi hanya 2-3 halaman saja. itupun karena begitu jatuh memang sudah terbuka."

Aichi agak tidak rela menerima alasan Kai. Badannya lemas semua. Meskipun begitu, beberapa bagian dari dirinya sudah berpuji syukur karena halaman depan itu belum memuat Kai. Tapi untuk beberapa halaman kebelakang, bahkan Aichi mendapat selembar rambut Kai entah dari mana.

"Maaf ya. Kau kesal padaku."

"T-Tidak kok, senpai." Entah kenapa Aichi tampak sekali agak berbohong disini.

"Aku serius ini."

"I-Iya, senpai.."

Kai menaikkan sebelah alisnya dan bola matanya masih fokus ke cowok*aliascewek* bersurai biru itu. Tanpa menyadari sudah ada seseorang yang menatap mereka.

"Ciee Kai! Mesraan sama anak kelas 3 SMP nih!"

Lagi-lagi Miwa ditendang balik ke kolam. Juga lagi-lagi Aichi sweatdrop ditempat. 'Kowaii..' batinnya.

Sampai akhirnya pelajaran olahraga selesai, Kai dan Aichi tetap bisu melulu. Aichi agak kecewa juga ketika Kai berjalan pergi duluan tanpa mengucap sepatah kata apapun padanya. Bukannya Kai harus banget ngomong ke dia. hanya saja, seorang Aichi masih bisa berharap.

Tinggal 2 jam pelajaran lagi, tapi Aichi hanya menghela nafas berulang kali sambil membolak balik buku pelajarannya. Akhirnya karena tidak mengerti dan tidak niat, akhirnya dia mulai menulis lagi di diarynya.

2 hari berturut-turut!

Tak bisa kukatakan betapa senangnya aku!

Cuman perasaanku campur aduk saat ini.

Entah mau disamain ke gado-gado atau nano-nano, entah yang permen atau nougat.

Kenai..

Andai kau disini, pasti aku puas banget curhatnya.

Apalagi kamu ini gak mulut ember kayak morikawa

Aku gak perlu sport-jantung lagi.

Aichi tersenyum kecil sambil menuliskan tanggal di kanan atas halaman kertas lembut itu. Aichi juga membolak-balikkan halaman-halaman sebelumnya. Buku ini sudah penuh sekali, mengingat buku diarynya ini buku clip-on alias binder.

'Harus ganti kertas lagi dong.'batinnya agak malas. Tapi daripada dia menulis di halaman yang sudah ditulisi. Aichi itu masih bermodal. Gak kayak Morikawa tuh.

(Morikawa: KENAPA GUE DISINGGUNG MELULU?!)

Begitu pulang sekolah, Aichi sempat melambatkan langkahnya dan menengok sana-sini dan menemukan bahwa sepertinya Kai sudah pergi duluan. Perasaan kecewa meluap lagi tapi apa boleh buat. Bukan dia yang mengatur jam pulangnya toh.

Kakinya membawa dirinya tidak langsung pulang melainkan ke toko buku, kembali mengingat dia harus membeli kertas yang diperlukannya. Tapi lagi-lagi dirinya melihat sesuatu yang indah.

(Kai: Emangnya aku ini cewe, dibilangin indah melulu.

Author: Ge-er amat lo! Baca dulu ceritanya!

Kai: jyaah, kecewa abang, thor.

Author: permisi muntah dulu aku -_- )

Pen berwarna baby blue dengan hiasan bintang-bintang dan bulan yang diikat dengan benang berwarna biru tua. Aichi langsung mengambil pen itu tanpa ba-bi-bu. Bukan karena pen itu cantik. Tapi karena pen ini mirip sekali dengan pen yang pernah dipakai oleh temannya yang memberikannya diarynya saat ini.

"Hadiah untuk pacarnya ya, mas?"

Aichi membeku di tempat. "T-Tidak. Ini untuk aku. Aku belum punya pacar." Sahutnya sweatdrop.

Penjaga kasir itu salting di tempat dan langsung meminta maaf. Aichi selalu baik untuk memaafkan siapapun. Ketika dia melihat sekitar, dia cengok di tempat melihat sesuatu yang janggal.

Kai dan Miwa yang asik numpang baca komik.

Aichi memilih beranjak pergi saja karena tak berani memanggil senpainya. Tapi dia sudah facepalm dan berusaha mengenyahkan ingatannya yang tadi. Sangat janggal sekali menemukan cowok yang super cool dan ganteng tapi doyan numpang baca. Saking lemasnya dia, penjaga kasir langsung memanggil dia.

"P-Permisi! Kau meninggalkan tas milikmu, tuan!"

Aichi berbalik dan melihat penjaga kasir itu memegang tasnya. Sudah tak terhitung malunya, apalagi ketika seisi toko buku sudah menatapnya sambil cekikikan geli. Tanpa tunggu-menunggu, Aichi berlari kembali mengambil tasnya, berterimakasih lalu tancap pergi.

"Eh? Tadi itu.. Anak kelas IX-B itu kan?" Miwa meletakkan komik yang sudah habis dibacanya.

Kai bengong sebentar lalu meletakkan komiknya juga lalu mengambil tasnya. "Ayo, Miwa." Sahutnya sambil melengos duluan.

"Kai! Tunggu aku!"

Setelah cukup jauh dari toko buku, Aichi menunduk sambil mengusap-usap wajahnya yang memerah total. Dia merutuki dirinya yang tukang bikin malu diri sendiri. Ditengah saat rutuk-merutuk itu, dia mendengar tangisan dari dalam gang sempit disampingnya.

Penasaran akan suara tangisan itu, Aichi memberanikan dirinya masuk. Semakin dalam dia masuk, semakin gelap suasananya. Aichi ingin sekali pergi dan meninggalkan kegelapan yang dibencinya. Tapi dia tetap curiga akan suara tangisan itu.

Sampai akhirnya dia mencapai jalan buntu yang gelap sekali, sampai dia harus meraba-raba sekitarnya untuk menghindari barang-barang sekitar. Diarahkan tangannya ke sumber tangisan, kemudian dia merasakan dirinya meraba kulit yang hangat dan lembut.

Saat mencoba meraba bagian paling ujung, dia merasakan sesuatu yang bundar. Kemudian ada yang menyentuhnya, seperti telapak tangan yang mungil. Karena agak terkejut dengan sentuhan itu, dia mengangkat sesuatu yang disentuhnya itu.

Itu bukan sesuatu, tapi seseorang. Seorang bayi mungil dan imut lebih tepatnya. Memang gelap disana tapi entah kenapa Aichi bisa melihat jelas bayi imut itu. Daripada membiarkan bayi itu tetap di tempat yang menakutkan itu, Aichi segera berlari keluar membawa bayi mungil itu.

"Dimana orang tuamu..?"

Aichi tentu tahu berbicara dengan bayi takkan memberinya jawaban. Aichi memandang bayi mungil itu yang tersenyum sambil mengoceh ala bayi ketika Aichi tersenyum ke arahnya. Aichi melihat ada sebuah locket yang tergantung di leher lembut bayi itu. Di locket itu, terukir nama 'Yukkiro'

"Yukkiro namanya, yah?Aku harap ibu tidak keberatan." Gumam Aichi sambil membawa bayi itu.

Tapi bayi itu hanya memakai kain tipis dan udara juga dingin saat itu. Aichi bingung sekali harus apa. Tapi karena dirinya tak bisa memikirkan apapun, dia hanya bisa berjalan secepat mungkin sampai ke rumah tanpa menghiraukan orang-orang yang memandanginya.

Sesampai rumah, Emi dan Shizuka menanyai dirinya. Begitu Aichi menjelaskan semuanya, untunglah ibu dan kakaknya bisa maklum.

"Jadi.. Boleh kan, bu?" pinta Aichi dengan nada agak merayu.

"Tentu saja! Kita tak boleh membiarkan bayi kecil ini sendirian!" sahut Shizuka sambil menimang-nimang bayi mungil itu.

"Tapi kita harus menemukan orang tuanya selagi merawatnya." Tambah Emi yang disetujui kakak dan ibunya.

Bayi itu tampak lebih berseri-seri ketika bertemu keluarga Sendou. Emi juga langsung menawarkan dirinya untuk pergi ke toko untuk membeli susu dan biskuit bayi. Tidak mungkin bayi itu tidak dibuat kenyang.

"Aichi, besok kamu beli beberapa pasang bajunya ya." Pinta Shizuka. "Aku sepertinya masih menyimpan beberapa baju Emi sewaktu bayi tapi tak ada salahnya memberinya yang baru kan?"

Aichi tersenyum sambil menuruti kata ibunya. Ditatapnya lekat bayi mungil itu sambil memikirkan bagaimana hari-hari selanjutnya.

TBC

Author: Uaaah! Jelek amat!

Kai : Memang selalu jelek kok.

Author: Ingatkan aku biar kubuat kau jadi cewek..

Kai: HELL NOO!