Abangku Siscon!

Yuuki Azusa present

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Rated : T

Genre : Romance, Family, Humor, Friendship.

Warningnya udah disampein di chapter sebelumnya, males nulis lagi :v

AkaKuro and MayuMomo, sibling!AkaMomo and sibling!MayuKuro

Selamat membaca~

ooo

Curahan Hati Seorang Adek—Satsuki Momoi ver.(Part 2)

All Satsuki's POV

Masih curhat masa SMP nih. Waktu pun berlalu cepat dan aku pun naik kelas tiga SMP. Sebentar lagi masa SMP-ku berakhir tanpa ada kenangan yang berarti bagiku. Masa SMP-ku terasa hambar. Ini semua salah abangku! Kalau aja dia gak jadi siscon, masa SMP-ku pasti akan lebih berwarna.

Aku menjalani hari-hariku di sekolah tanpa semangat. Saking gak semangatnya, aku sempat memutuskan untuk lanjut ke SMA biasa-biasa. Aku gak mau masuk SMA yang sama seperti abangku, yaitu SMAN Rakuzan. Masa SMA-ku akan berakhir mengenaskan seperti masa SMP-ku jika aku satu sekolah lagi dengan abangku.

Tentu saja, abangku menolaknya. Sebisa mungkin dia memaksaku untuk satu sekolah dengannya. Namun, aku mengabaikannya. Aku gak mau lagi nurut sama dia. Capek ngeladenin dia mulu. Emangnya aku ini apanya dia? Kacungnya? Sampai harus nurut mulu sama dia. Ih, ogah amat. Walau abangku itu sampai sujud dan cium jari-jari kakiku pun aku gak akan sudi satu sekolah lagi dengan dia.

Awalnya, aku berpikir begitu. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan seseorang yang mengubah jalan ninja—maksudku jalan berpikirku. Seorang pemuda biasa yang menjadi alasan kenapa aku kembali sudi untuk menginjakkan kaki di SMAN Rakuzan dan satu sekolah dengan rubah berstatus abangku itu. Seorang pemuda biasa yang menjadi alasanku untuk tetap hidup saat ini. Alah, lebay.

Langsung saja, aku perkenalkan. Nama pemuda biasa namun istimewa itu adalah Ryouta Kise. Anak kelas 2 di SMAN Rakuzan, seangkatan sama abangku. Seperti yang aku katakan tadi, dia orang biasa. Benar-benar sangat biasa. Penampilannya biasa, prestasinya biasa, tampangnya pun biasa. Ah, gak. Yang terakhir aku koreksi. Dia punya wajah yang lumayan ganteng kalo aja penampilannya gak culun—gak pake kacamata bulat besar yang bikin mukanya jadi kelihatan cupu. Rambutnya pirang dan poninya yang kelewat panjang sampe nutupin matanya itu bikin dia jadi tambah cupu. Tapi menurutku, dengan poni badainya yang seperti itu, dia jadi terkesan keren dan misterius.

Aku belom pernah ngelihat dia buka kacamata dan nyisir rambutnya jadi lebih rapi. Padahal, aku pengen banget ngelihat penampilan dia yang kayak gitu. Setiap kali aku ngebayangin dia buka kacamata dan memperlihatkan kedua mata emas indahnya, sekaligus menyisir rambutnya jadi lebih rapi, entah kenapa yang selalu ada dibayanganku adalah model favoritku di majalah Zunon Boy yang ganteng sangadh bernama Natsuhiro Kazuki. Semakin aku bayangin, mereka malah semakin mirip. Aku bahkan sempat curiga kalo Ryouta Kise itu orang yang sama dengan Natsuhiro Kazuki. Tapi, gak mungkin juga sih ya. Soalnya Bang Natsu itu kagak culun. Dia juga gak mungkin nyamar jadi cowok cupu hanya untuk bisa sekolah di SMA Rakuzan.

Bagi orang lain, Ryouta Kise terlihat biasa. Namun, bagiku Ryouta Kise itu istimewa. Dia adalah spesies cowok langka yang berhasil membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Terkesan alay memang, namun aku benar-benar jujur. Bagiku, dia berbeda. Sangat berbeda. Bahkan jauh berbeda dengan abangku.

Jatuh hati aku padanya bukan karena sekilas memangdangnya saja. Ya, memangnya ada cewek yang langsung naksir sama dia yang penampilannya aja ngebosenin banget buat dilihat? Gak mungkin ada kan? Di notice aja belum tentu. Bersyukur banget kalau ada yang mau ngenotice dia dalam sekali lihat.

Aku akan mengatkan alasanku naksir padanya. Singkat cerita, aku bangun kesingan di suatu pagi di hari Senin. Kalau gak salah, saat itu sedang musim UTS. Jadwal masuk dilambatkan tiga puluh menit. Karena salah pasang alarm, aku jadi bangun kesiangan. Sialnya, aku gak sempat sholat shubuh dan gak sempat berdoa. Akhirnya, aku sial sepanjang hari itu.

Karena sudah kesiangan, aku lari mengejar bus dengan perut keroncongan. Gak sempat sarapan dan sialnya semalam hanya makan mie instan. Sempat nyesel nolak ajakan Bang Sei untuk makan malam di restoran Padang.

Balik ke cerita, aku hampir aja ketinggalan bus dan nangis pasrah di halte. Kalau aku sampai telat semenit aja, Pak Satpam gak mungkin mau bukain pintu dan biarin aku masuk. Aku pasti bakal disuruh pulang. Itu artinya, aku gak bisa ikut UTS satu hari yang terdiri atas tiga ujian mata pelajaran sekaligus. Aku pasti bakal disuruh ikut ujian susulan dan rasanya males banget.

Saat itulah aku merasa. Kadang hidup sungguh nestapa… Namun asa tetap ada—eaa iklan Ramayana :v

Bukan, bukan itu. Saat aku merasa hampir putus asa karena mengejar bus namun akhirnya ditinggal juga—eaa baper :v— sosok malaikat berwujud cowok pirang kutu buku muncul untuk menyetop bus itu. Aku merasa sangat beruntung karena bisa ketinggalan bus barengan sama dia.

Saat bus itu berhenti tepat di depanku, saat itu si cowok pirang kutu buku itu bicara dengan gentle-nya.

"Kamu mau naik bus ini juga kan?"

Aku cuma bisa angguk-angguk.

"Kalo gitu, kamu masuk duluan gih. Hati-hati ya, jangan sampai jatuh."

Saat itu aku merasa dadaku memanas. Aku mengangguk cepat dan segera naik ke dalam bus. Sialnya, bus tiba-tiba bergerak dan membuatku oleng. Aku yakin aku jatuh saat itu. Tapi…

HAP!

"Kan kan… baru saya bilang jangan sampai jatuh."

Cowok itu menangkapku dari belakang sambil berbisik lembut di telingaku. Duh, rasanya seperti terbang.

"Bang, bisnya diberhentiin dulu sih, jangan main jalan gitu aja. Nanti kalau anak orang kenapa-kenapa, abang mau tanggung jawab?"

Cowok pirang itu segera memarahi sang supir bis yang seenak jidat tetap melajukan kendaraan disaat aku akan naik. Akhirnya, bus benar-benar berhenti dan aku bersama si cowok pirang segera naik.

Saat masuk ke dalam bis, ternyata busnya penuh. Terpaksa aku berdiri karena gak kebagian tempat duduk. Tapi, aku cukup bersyukur juga sih. Kalau berdiri begini kan, aku jadi bisa berdiri di dekat si cowok pirang itu. Untung-untung bisa modus-modusan, hehe.

"Anu, makasih ya Kak, udah nolongin aku dua kali," ujarku. Aku baru sadar kalau dia mengenakan seragam SMA yang sama seperti milik abangku. Ternyata, dia anak Rakuzan toh.

Cowok pirang itu tersenyum. Manis sekali.

"Sama-sama. Btw, kamu anak SMP Teikou ya? Adikku juga sekolah disana lho."

Mendengar itu, aku langsung tertarik. Aku gak nyangka bakal punya topik pembicaraan yang bisa dibicarakan dengannya.

"Beneran? Siapa namanya, Kak?"

"Um, adikku itu pendiem banget. Aku gak yakin kamu bakal kenal dia. Oh ya, nama kamu siapa?"

"Aku Satsuki Momoi, Kak. Kakak sendiri?"

"Ryouta Kise. Salam kenal ya."

Kami berdua saling mengulurkan tangan dan berjabatan. Jujur, aku ingin berada di dekatnya lebih lama. Aku ingin mengobrol banyak bersamanya. Kebaikkannya saat menolongku benar-benar berubah menjadi suatu rasa yang tidak biasa yang muncul di hatiku. Tanpa kusadari, aku naksir Ryouta Kise pada pandangan pertama.

Sayangnya, obrolan singkatku bersama Ryouta Kise harus dihentikan ketika bus berhenti tepat di halte sekolahku.

ooo

Sejak saat itu, aku mulai mencari tau segala hal tentang Ryouta Kise. Aku mencari semua informasi tentang dia lewat sosial media. Aku mendadak menjadi seorang stalker. Setelah berusaha mencari, akhirnya aku berhasil mendapatkan akun facebook dan instagram-nya. Aku menstalknya dan berhasil mendapatkan beberapa informasi, mulai dari tanggal lahir, golongan darah, zodiak, hobi, dan lain-lain. Sayanya, ia memprivasi alamat rumahnya sehingga aku gak bisa mengunjunginya. Ya, walau begitu aku cukup bersyukur karena telah mendapatkan satu informasi penting. Ryouta Kise belum pernah pacaran seumur hidupnya. Tertulis dengan huruf kapital ditambah bold di bagian bio instagram-nya. Agak ngenes juga sih ngelihatnya, tapi aku tetap senang. Seenggaknya, aku gak bakal punya saingan untuk merebut hatinya.

Setelah puas menjelajah akun media sosialnya, aku mulai berburu mencari nomor teleponnya. Siapa tau dia punya WhatsApp, aku kan jadi bisa chatingan dengan dia setiap hari. Sayangnya, dia tidak pernah menuliskan nomor teleponnya di akun media sosialnya yang manapun. Aku kecewa sekali saat itu.

Namun, Tuhan masih sayang padaku. Tuhan telah mengabulkan doaku yang meminta agar diberi petunjuk untuk menemukan nomor telepon si doi. Ya, secara kebetulan sekali—atau mungkin takdir—Ryouta Kise datang ke rumahku. Usut punya usut, ternyata dia adalah teman sekelas kakakku yang akan belajar kelompok bersama kakakku. Aku sengaja sembunyi di kamar seharian saat itu. Bisa gawat kalau nanti Kak Ryouta melihatku. Aku pasti gak bisa mengatur diri untuk gak salting di dekat Kak Ryouta. Yang ada nanti abangku malah curiga sama Kak Ryouta.

Aku mencuri kesempatan di suatu hari untuk mencari kontak Kak Ryouta di hp abangku. Aku meminjam hp-nya dengan alibi ingin main game. Bang Sei itu baik. Apapun yang aku mau pasti akan dia berikan. Dan ya, aku berhasil mendapatkan kontak Kak Ryouta. Aku senang sekali saat itu.

Sejak saat itu, aku sering chattingan dengan Kak Ryouta. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh abangku.

ooo

Sekarang, aku sudah SMA. Aku memulai hari pertamaku di SMAN Rakuzan dengan penuh semangat. Ya, setelah belajar keras mati-matian untuk dapat diterima disini—tentunya dengan bantuan abangku juga sih—aku akhirnya berhasil masuk. Denga begini, aku bisa terus bertemu dengan Kak Ryouta. Walau aku harus memandangnya hanya dari jauh, aku tak masalah. Yang penting, aku masih tetap bisa bertemu dengannya walau jarang-jarang.

Sekarang sedang jam istirahat. Aku sedang makan siang bersama dengan teman dekatku sejak SMP, Tetsuna Kuroko. Dia anak yang baik dan kalem, makanya aku senang berteman dengannya. Aku tidak menyangkan dia akan masuk ke SMA ini juga dan satu kelas lagi denganku. Uh, dunia itu benar-benar sempit ya.

"Satsuki, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Tetsuna memandangku dengan muka polos dan bingungnya yang lucu. Duh, aku jadi gemes ingin mencubiti pipi chubby-nya itu.

"Gak papa kok. Lagi pengen senyum aja," jawabku ngasal. Sebenernya, aku senyum-senyum sendiri karena ngebayangin muka polosnya Kak Ryouta pas lagi tidur di bis. Aku pernah pulang bareng sama dia dan dia gak sengaja ketiduran di sebelahku. Iseng-iseng, aku foto aja dia dan kusimpan fotonya di folder yang tersembunyi. Kalau aku bayangin lagi, makin hari dia makin mirip aja sama Natsuhiro Kazuki.

"Satsuki, kamu lagi naksir sama seseorang ya? Aku penasaran siapa orangnya," ujar Tetsuna.

"Eh, kamu denger darimana?"

"Gak dari mana-mana. Kelihatan jelas aja dari gelagatmu."

Aku diam. Sejujurnya, aku gak mau ngasih tau hal ini ke siapapun karena takut sampai kedengeran ke telinga Bang Sei. Tapi, sejauh yang aku tau, Tetsuna itu orangnya gak bocor. Dia adalah sosok yang mudah dipercaya karena tidak pernah membocorkan rahasia orang lain.

"Aku cuma ngasih tau ini ke kamu ya, jangan sampai bocor, ok?"

"Ya elah, tenang aja sih sama aku mah."

Akhirnya, aku memutuskan untuk berbagi rahasiaku ini dengan Tetsuna.

"Iya, aku sedang naksir sama teman sekelas abangku. Namanya, Ryouta Kise."

Setelah itu, aku bersumpah melihat tawa yang gak pernah Tetsuna tunjukkan sama sekali. Tawa yang entah kenapa malah membuatku merinding.

TBC

Halo semua! Apa ada yang kangen denganku?! Pasti kangen kan! XD

Yap, setelah lama hiatus akibat kesibukan menjadi seorang maba, akhirnya aku bisa menulis lagi di fandom tercinta ini dengan sebuah fanfic yang super gaje. Tolong maklumkan tulisanku yang mungkin amburadul karena udah lama gk nulis cerita. Chapter ini ditulis hanya untuk menghilangkan kejenuhanku aja.

Makasih buat yang udah baca dan review. Seneng banget lihat respon kalian. Sampai jumpa di chapter depan, entah kapan. Bye!