It's Okay
By : parasvana (FanFreaktion)
Disclaimer : This Story is mine, but the whole character isn't mine. (Pokoknya ide cerita ini murni punyaku dan hasil berhayalku di setiap pelajaran fisika di sekolah)
Main Cast : Do Kyungsoo & Kim Jongin.
Additional Cast : Amber (F(x)), Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Byun Baekhyun and etc.
Pairing : Kaisoo, Chanbaek, Sulay.
Genre : Romance
Warning : Boy x Boy (Yaoi), Typo(s)
If you don't like gay's story don't read this, just leave without judging. Because I'm Kaisoo, Chanbaek, HunHan, ChenMin, SuLay, and TaoRis Shipper.
.
.
.
Bel pulang berdering keras, sontak membuat seluruh murid di sekolah itu bersorak kesenangan seraya merapihkan buku mereka. Kyungsoo memasukkan pulpen ke dalam kotak pensilnya dengan rapih lalu menutup buku catatan di depannya dengan gerakan lambat.
"Kyungsoo-yah… aku pulang duluan ya." Baekhyun yang sudah membopong tas di punggunya menyempatkan diri untuk menoleh kearah Kyungsoo yang baru saja berniat memasukkan buku tulis itu kedalam ransel coklatnya.
"Ne Baekhyun-ah, kau hati-hati di jalan." Kyungsoo tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Pai-pai." Baekhyun melambaikan jemari lentiknya kearah Kyungsoo dan tidak lupa untuk melemparkan sebuah senyum manis pada namja itu, setelah itu Baekhyun berlari kecil untuk keluar dari dalam kelas itu hingga sebuah kaki panjang menjegal kakinya membuat namja itu terjungkal jatuh ke depan.
Kyungsoo menghentikan pergerakannya menutup zipper ranselnya itu lalu segera berlari kecil menolong Baekhyun yang terjatuh, suara gelak tawa yang berasal dari Sehun menyapa pendengaran orang-orang yang tinggal sedikit di dalam kelas itu.
"BERENGSEK?!" Maki Baekhyun ketika ia sudah berdiri, kedua tangannya terkepal kuat dengan matanya yang menatap Sehun dengan kilat amarah yang membara. Sehun hanya tersenyum miring menanggapinya lalu dengan santainya namja itu berlalu begitu saja meninggalkan Baekhyun dengan amarahnya yang membara.
Tidak tinggal diam Baekhyun mengejar Sehun lalu menghajar namja itu dari belakang sehingga Sehun jatuh tersungkur. Ini bukanlah pemandangan yang jarang terlihat tapi hampir setiap saat ketika pulang sekolah pertengkaran itu terus terjadi. Walaupun begitu tidak ada satupun yang berani untuk memisahkan mereka, karena jika kau berani memisahkan mereka maka kau sendiri juga akan terkena hantaman langsung dari tangan Sehun yang terkepal kuat.
Tapi di sinilah Kyungsoo, seorang murid baru yang tidak tahu apa-apa berdiri di tengah-tengah mereka seraya memerkan senyum canggungnya, "Sudah-sudah ya, kalian kan sudah satu sama ada baiknya pertengkaran ini di hentikan." Kyungsoo menggaruk pelipisnya lalu memandang Sehun dan Baekhyun bergantian.
"Kalau begitu tunggu aku mencetak skor dua satu. Aku tidak boleh kalah dari si berengsek dengan aura durja ini." Baekhyun masih berdiri di tempatnya seraya menatap Sehun dengan kilat-kilat membunuh.
"Siapa yang kau panggil si berengsek dengan aura durja eoh? Dasar kau manusia cebol."
"He-hey… su-sudah hentikan pertengkaran ini, tapi Sehun-ssi omong-omong merasa terhina juga mendengarnya." Kyungsoo terkekeh garing.
"Ah Kyungsoo-yah, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, mian Kyungsoo." Sehun menatap Kyungsoo dengan sorot menyesal.
"KAU JUGA HARUS MEMINTA MAAF PADAKU MANUSIA DURJA!?" Pekik Baekhyun yang mana terdengar seperti seorang Yeoja yang putus asa karena di putusi secara sepihak oleh kekasihnya.
"YA! AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MEMINTA MAAF PADAMU!?" Sehun balas berteriak.
"BERENG-"
"HENTIKAN!" Teriakan seorang wanita terdengar, membuat seluruh pasang mata yang berada di sana langsung menyorot kearah wanita yang memiliki potongan rambut cepak itu.
"Kenapa kalian bertengkar eoh?!" Tanya wanita itu galak seraya berkacak pinggang.
"A-ajusshi-"
"SIAPA YANG KAU PANGGIL AJUSSHI EOH?!" Pekik wanita itu menatap galak pada Baekhyun yang memanggilnya dengan sebutan paman.
"Astaga! Aku tidak kenal-aku tidak kenal." Kyungsoo bersuara sendiri seraya menutup wajahnya, lalu dengan gerakan hati-hati Kyungsoo bergerak tanpa meninggalkan suara untuk kembali ke dalam kelasnya untuk mengambil tasnya yang tertinggal di sana.
Kyungsoo menghela nafas lega ketika dengan selamat ia sampai di dalam kelasnya dan sudah memeluk tasnya yang tadi ia tinggalkan begitu saja di atas meja. "Astaga, apa-apaan Umma! Ia membuatku malu." Kyungsoo menghentak-hentakkan kakinya seraya mengintip ibunya yang kini terlihat tengah melakukan kekerasan fisik pada telinga Baekhyun dan Sehun.
Sayup-sayup ia mendengar omelan ibunya itu, "Jadi aku harus menunggu lama di halaman parkir karena anakku harus menghentikan pertengkaran kalian eoh?! Kalian pikir Kyungsoo tidak ada kerjaan lain selain mengurusi pertengkaran sepasang kekasih seperti kalian eoh?! Eh tapi tunggu, walaupun ku akui Kyungsoo ketika sampai di rumah ia memang tidak melakukan apa-apa tapi ketidak melakukan apa-apa itu adalah pekerjaannya sehari-hari tahu?! Jadi kalian harus menghargai waktu Kyungsoo!? Arraseo?!"
"Akh- Ajumma kami mengerti, tolong lepaskan… ini sakit sekali." Pekik Sehun.
"Bagus kalau kalian mengerti. Aku tidak ingin jika hari pertama Kyungsoo kembali ke sekolah buruk karena harus ternistai oleh pertengkaran sepasang kekasih seperti kalian." Amber melepaskan tangannya dari telinga Baekhyun dan Sehun, lalu ia menepuk-nepukkan tangannya seolah telinga kedua namja itu berdebu.
"KAMI BUKAN SEPASANG KEKASIH?!" Teriak Sehun dan Baekhyun bersamaan dengan wajah yang memerah karena kesal.
"YA! KALIAN MENERIAKI KU EOH?!" Ketika Amber bersiap untuk menarik telinga Sehun dan Baekhyun untuk ke dua kalinya akhirnya Kyungsoo datang dengan wajah yang memerah merata karena menahan malu.
"UMMA~" rengeknya.
"Ah, sayangku… kau sepertinya terlihat lelah ya? Kalau begitu ayo kita kembali ke rumah, Umma akan membuatkan mu coklat dingin." Ujar Amber tanpa memperdulikan kekesalan Kyungsoo yang sudah sangat mendidih itu. Dengan santainya Amber mengambil alih tas punggung Kyungsoo dan memakainya, ia mengusap dengan sayang kepala anak semata wayangnya itu sebelum memeluk lengan Kyungsoo dan mengajaknya untuk pergi dari sana dan lagi-lagi tanpa menghiraukan wajah Kyungsoo yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Sepeninggalnya dua orang itu Baekhyun menoleh dan menatap Sehun aneh, "Dia ibunya Kyungsoo? Astaga kenapa ibunya terlihat lebih manly dari pada anaknya sendiri?"
Sehun hanya mendelik lalu menatap penampilan Baekhyun sendiri dari atas hingga bawah lalu keatas lagi, "Setidaknya berkaca dulu sebelum kau berbicara, kau pikir dirimu lebih manly dari pada ibunya Kyungsoo eoh?"
"YA-"
"Sehun!" dari kejauhan terlihat Chanyeol yang tengah berlari kecil menghampiri mereka dengan tubuh Jongin yang menempel di belakangnya.
"Ya! Astaga ku pikir kau membawa orang utan dari mana Chanyeol." Sehun mengusap dadanya ketika melihat kepala Jongin menyembul dari balik punggung Chanyeol.
"YA! Siapa yang kau maksud orang utan!?" Jongin mengarahkan tongkat yang tengah ia genggam kearah perut Sehun sehingga namja itu mengaduh kesakitan.
"Walaupun aku membencimu, tapi aku ucapkan terima kasih karena telah menghajarnya." Baekhyun bersuara di sana lalu bergegas pergi dari hadapan mereka tanpa menyadari ada satu orang di sana yang sejak tadi tidak memutuskan kontak matanya hingga akhirnya Baekhyun menghilang di tikungan koridor.
"Kenapa anak itu terlihat sangat membenci kita?" Jongin menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Chanyeol menghembuskan nafasnya gusar.
"Kajja, Junmyeon Hyung menunggu kita guys, palli."
.
.
.
Rumah Sakit
Sehun mengambil salah satu kursi roda di sana dan membantu Chanyeol untuk menaruh Jongin di kursi tersebut. Setelah Jongin duduk dengan aman di sana mereka bertiga bergegas masuk ke dalam lift yang membawa mereka menuju kamar yang berada di paling atas itu. Di mana Junmyeon berada.
"Hyuuung~" Teriak Sehun, Jongin dan Chanyeol bersamaan ketika melihat kondisi Junmyeon yang semakin lama sudah membaik.
"Hey-Hey-Hey, berisik sekali kalian." Tegur salah seorang namja yang duduk di kursi dekat ranjang Junmyeon berada.
"YIXING HYUNG?! KAPAN KAU TIBA DI KOREA?!" Teriak ketiganya bersamaan lagi dengan mata yang berbinar bahagia.
"YA?! BERHENTI BERTERIAK?!" Namja bernama Zhang Yixing itu menatap ketiganya tajam.
"Tapi kau sendiri bahkan berteriak Hyung." Sahut Sehun lalu segera melangkah mendekat untuk mendapatkan sebuah pelukan dari Yixing, di ikuti Chanyeol yang meninggalkan Jongin bersama kursi rodanya bergitu saja di depan pintu masuk.
"Chanyeol Hyung! Tega sekali kau." Jongin merengek seperti anak kecil melihat mereka bertiga berpelukan layaknya teletubies dan membiarkannya tersingkirkan seperti itu.
Junmyeon dari atas ranjangnya terkekeh melihat wajah Jongin. "Hyung." Rengek Jongin sekali lagi membuat Chanyeol terkekeh geli lalu segera melepaskan pelukan mereka bertiga lalu menghampiri Jongin dan mendorongnya hingga sampai berhadapan dengan Yixing.
"Aku juga mau dapat peluk Yixing Hyung." Jongin mengangkat tangannya ke atas dan menatap Yixing dengan tatapan puppy yang minta belas kasihan.
"Uh… dasar maknae." Yixing tertawa lalu membungkuk untuk memeluk Jongin yang duduk di atas kursi roda.
"Aku merindukanmu Hyung."
"Aku juga sangat-sangat merindukan kalian, terutama Junmyeon." Wajah Yixing memerah ketika mengatakannya tapi tidak ada yang dapat melihat rona itu karena wajah Yixing masih bersembunyi di bahu lebar milik Jongin.
Setelah mendengar Junmyeon terbatuk-batuk di buat-buat Jongin dan Yixing sama-sama melepaskan pelukan mereka lalu menatap Junmyeon yang mencebikkan bibirnya tidak suka, "Jangan berselinguh di depanku." Namja itu melipat kedua tangannya di depan dada membuat orang-orang yang ada di sana tertawa lucu melihat tingkah Junmyeon yang selalu kekanakan jika ada Yixing di sana padahal Junmyeon lebih tua dari pada namja itu.
"Jadi bagaimana kabarmu Junmyeon Hyung?" tanya Jongin seraya memberikan tongkatnya pada Sehun untuk di taruh di tempat yang aman.
"Seperti yang kau lihat, bagaimana dengan perkembangan kakimu? Sudah check up lagi?" tanya Junmyeon kini ia kembali bersikap paling dewasa di sana membuat Yixing tersenyum simpul melihatnya.
Jongin mendesah lalu menatap kaki kanannya yang berbalut gips, "Hantaman itu begitu keras Hyung, aku rasa akan membutuhkan waktu yang lama."
"Sudah aku bilang berhenti menjadi melankolis!" Chanyeol memukul pelan kepala Jongin.
"Bagaimana tidak melankolis?! Aku bahkan sudah tidak bisa menari lagi seperti dulu?! Aku bahkan sudah tidak bisa lagi bermain bola bersama kalian?!" kini air mata itu sudah mengembang di pelupuk mata onyx Jongin. "Bagaimana jika aku menjadi cacat selamanya?!" kini air mata itu benar-benar jatuh membasahi pipi Jongin.
"KAU TIDAK AKAN CACAT!?" Teriak Chanyeol lalu mengguncang bahu Jongin untuk menyadarinya. "DEMI TUHAN JONGIN! AKU BERSUMPAH KAU TIDAK AKAN CACAT!?" dada Chanyeol naik turun karena emosinya.
"Seandainya waktu itu-"
"Berhenti membicarakan seandainya waktu itu! Semua sudah berlalu!" Kini gantian Sehun yang bersuara, suaranya begitu kelam.
"Dia melupakanku." Air matanya mengalir lagi.
"Kalau begitu kita akan buat dia untuk mengingatnya." Junmyeon menyahut dari atas ranjangnya.
"Tidak! Jangan! Kau tahu sendiri jika kita memaksanya untuk mengingat kita, kepalanya akan sakit. Jika dia mengingat kita secara otomatis ia akan mengingat luka itu Hyung, jangan biarkan ia jatuh lagi." Air mata Jongin kembali menetes, Yixing hanya mampu diam karena sedari tadi air matanya tidak kalah banjir dengan milik Jongin.
"Kalau kau tidak ingin membuat dia untuk mengingat kita, buat dia untuk mengenal kita lagi, buat dia untuk jatuh cinta lagi padamu Jongin, buat Kyungsoo… jatuh lagi pada pesonamu." Yixing berlutut di hadapan Jongin menyamakan tinggi mereka. "Aku akan membantumu… Bukankah Nyonya Amber sudah setuju untuk menyekolahkan Kyungsoo di sekolah kalian? itu tandanya beliau memang sudah setuju untuk membantu Kyungsoo kembali pada kita."
"Benar apa yang di ucapkan Yixing Hyung, kalaupun Kyungsoo memang benar-benar melupakan kita, kita tidak perlu memaksanya untuk mengingat kita tapi tarik dia untuk mengenal kita semua dari nol. Mungkin otak Kyungsoo memang lupa, tapi bagaimana dengan hatinya?" Sehun menghembuskan nafasnya lalu duduk di atas kasur Junmyeon untuk menenangkan dirinya.
"Buat Kyungsoo jatuh cinta lagi padamu Jongin, jika secara tidak sengaja kepingan ingatan ia kembali, itu bonus untuk kita." Chanyeol meremas bahu Jongin untuk menguatkan.
Jongin mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dalam-dalam lalu menatap Chanyeol, Yixing, Sehun dan Junmyeon bergantian. Hati Jongin tersentuh melihat orang-orang yang sudah ia anggap keluarganya sendiri itu menatapnya dengan pandangan menguatkan, dan hal itu berhasil, karena kini Jongin dapat tersenyum.
.
.
.
Kyungsoo yang duduk di sofa ruang kerja ibunya itu mengorek kupingnya yang berdegung sedari tadi, melihat anaknya yang terus mengorek kupingnya sendiri membuat Amber mengernyit jijik, "Apa yang kau lakukan? Jika kotoran telinga mu sudah banyak seharusnya kau membersihkannya dengan cotton bud bukan dengan tanganmu Kyungsoo. Kalau begitu kau terlihat seperti monyet yang tidak memiliki bulu tahu."
"YA! UMMA~ Teganya kau berkata seperti itu, kalau aku ini monyet berarti umma itu gorilla, telingaku sedari tadi berdengung tahu bukannya gatal." Kyungsoo mencebikkan bibirnya lalu segera meneguk gelas coklat dinginnya sekali dan kembali mencoba fokus pada komik di genggamannya, mencoba meredakan rasa kesalnya pada sang ibu.
"Berarti kau sedang di gosipi." Amber mengedikkan bahunya acuh lalu segera kembali memfokuskan dirinya pada laptop di hadapannya itu.
"Mwo?" mata besar Kyungsoo membulat sempurna.
"Itu mitosnya."
"Umma percaya mitos? Aku pikir Umma ku yang gaul ini tidak percaya dengan tahayul, berarti Umma memang kolot yah."
"Aku memang tidak percaya!" Amber mengangkat kepalanya dan menatap Kyungsoo dengan pandangan tidak terima.
"Mengaku saja umma jika umma itu kolot." Kyungsoo menaik turunkan alisnya mencoba menggoda ibunya sendiri dengan ucapan jahilnya.
"YA?!" sebuah buku novel dengan halaman yang mencapai lima ratus itu melayang kearah Kyungsoo, untung saja gerak refleks namja itu bagus jadi Kyungsoo mampu menangkapnya sebelum buku itu menghantam wajah manisnya. Tapi satu barang lagi keburu melayang dan akhirnya menghantam wajah Kyungsoo. Untung saja barang kedua yang di lempar oleh sang ibu adalah sandal rumah berkepala kelinci itu jadi tidak sakit.
"Woah Umma, manly-manly begini senang juga ternyata memakai barang yang sangat girly seperti ini."
"YA?! KYUNGSOO?!" Teriak Amber saat Kuyungsoo sudah berlari terbirit-birit keluar dari ruang kerjanya itu. Suara gelak tawa yang heboh dari Kyungsoo membuat Amber menggeram kesal. "Astaga, untung dia anakku satu-satunya, coba aku punya dua pasti sudah ku buang dia di pinggir jalan." Amber menggeleng-gelengkan kepalanya kesal.
.
Kyungsoo menatap buku novel tebal yang tadi sempat di lempar oleh sang ibu, ia meneliti sampul buku itu yang bewarna biru kehijauan. Terlalu sederhana untuk di jadikan sebuah sampul. Itu pemikirannya saat melihat sampul itu hanya terbuat dari kulit yang di warnai bewarna biru kehijauan dan sebuah judul yang di tuliskan dengan tinta emas.
Oceans
By : Do Min Joon
Kyungsoo terpaku di tempatnya ia beridiri.
Do Min Joon…
Appa…
Batinnya berbicara, lalu sebuah senyum terukir di wajah manisnya itu tanpa berfikir yang macam-macam pada ayahnya yang nun jauh di sana. Kondisi mereka yang berjarak sejak perceraian kedua orangnya membuat Kyungsoo harus memilih tinggal bersama dengan ummanya. Setidaknya itulah yang ia ingat.
Walaupun mereka sudah tidak pernah berkomunikasi lagi semenjak Kyungsoo operasi tapi tidak ada sedetikpun bagi Kyungsoo untuk melupakan rasa rindunya yang terus menyelinap.
Kyungsoo kembali melangkahkan kakinya kembali menuju ruang kerja ibunya di rumah, "Umma?" Amber mengalihkan pandangannya yang tadinya tengah menatapi layar laptopnya kini kearah kepala Kyungsoo yang menyembul dari pintu.
"Ada apa sayang?" tanya Amber lembut, lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Bagaimana kabar Appa?" pertanyaan Kyungsoo sukses membuat Amber menghentikkan gerakannya yang hendak mulai mengetik. Tatapan Amber memang terfokus pada layar laptopnya tapi siapa yang tahu jika itu kini hanyalah sebuah pandangan kosong?
"Umma~" Suara Kyungsoo merengek lagi.
"Dia baik-baik saja sayang, kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Aku hanya merindukannya, karena sejak operasi itu Appa tidak pernah menghubungiku lagi." Kyungsoo tersenyum tipis. Amber mengangkat kepalanya lalu menatap Kyungsoo dengan tidak lupa melemparkan senyum keibuannya.
"Ia sibuk sayang, kau tahu sendiri kan bagaimana Appamu itu." Amber akhirnya lebih memilih untuk menutup laptopnya dan mengajak Kyungsoo untuk duduk berdua di sofa yang tadi Kyungsoo duduki.
Kyungsoo menatap ibunya itu ketika melihat Amber menatapnya dengan wajah yang serius. "Umma lapar Kyungsoo, mau pergi keluar untuk makan siang bersama?"
Jika ini kartun Naruto pasti Kyungsoo sudah terjatuh dari duduknya karena pertanyaan Amber yang sulit untuk di tebak. Dasar berkepribadian ganda. Umpatnya dalam hati.
"Jangan menatapku seperti itu dan berhenti mengumpatiku dalam hatimu." Amber mendelik kearah Kyungsoo.
"Ya! Umma~ aku pikir kau ingin membicarakan hal penting."
"Semua hal yang aku lakukan padamu itu penting tahu, semua hal tanpa terkecuali." Amber masih mendelik kearah Kyungsoo, membuat namja berparas manis itu dengan berani balas mendelik kearah ibunya sendiri.
"Dasar kau anak durhaka." Maki Amber.
"Umma juga." Sahut Kyungsoo.
"Ya! Mana ada seorang ibu yang durhaka terhadap anaknya, coba beritahu aku siapa dia."
"Tentu saja Umma, siapa lagi?"
"Ya! Dasar kau anak kurang aja!" Amber berniat menjewer telinga Kyungsoo namun buru-buru saja namja itu berkelit.
"Ah Umma, jangan menjewerku, telingaku nanti terlepas dari tempat semestinya ia berada… Ayo kalau Umma ingin makan siang… kali ini biarkan aku yang membawa mobilnya." Ujar Kyungsoo seraya beranjak dari sana dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerja milik Amber.
"YA! AKU TIDAK INGIN MATI." Teriak Amber dari tempat ia duduk seraya menatap Kyungsoo tajam yang berjalan santai di depannya.
"Ayo Umma, nanti Maag mu kambuh."
.
.
.
TBC.
Wdyt? Review?
